Ada masanya seseorang terjatuh dalam lubang terdalam di dirinya. Entah itu dibuatnya sendiri maupun tak sengaja lubang itu terpampang disana. Jalan manusia berliku, panjang dan tak tentu. Tak ada yang mengajari untuk berbuat atau menjadi makhluk yang buruk, tapi hal buruk selalu terjadi. Ada yang dikejar, ada yang mengejar. Ada yang terjatuh, ada yang terbangun.
Awan, tidakkah kau lelah bergelantung di atas langit sana. Terombang-ambing terbawa angin
merubah-rubah bentukmu setiap saat sudah tentu. Atau ada arah pasti yang kau tuju
dan aku tidak tahu yang kulihat, kau hanya membawa mendung suatu waktu, di pagi siang petang malam, kemanakah kau menuju?
bolehkah aku ikut?
“Kenapa kamu selalu berada di kepalaku? Tidakkah kamu juga lelah berlama-lama disana sendiri? Bisakah kita pergi ke suatu tempat bersama?” sebuah baris kalimat pertanyaan nyaring terdengar di kepalaku, seolah seorang berbicara kepadaku. Atau aku sedang berbicara dengan seseorang. Tapi tidak ada siapa-siapa disana. Hanya aku berdua bersama kesendirianku.
Beberapa malam ini aku susah tidur. Entah apa sebabnya. Masa iya gara-gara ditinggal dia balik ke negaranya aku jadi kehilangan waktu istirahat. Apa hubungannya. Aku terus bertanya-tanya. Aku menghabiskan waktuku seperti biasa. Menulis beberapa cerita pendek di blog, pergi ke pantai di sore hari ditemani sekaleng bir, melihat keramaian pelancong, kembali ke kamar mengecek milis surel. Aku membuka laptopku, terpampang jelas latar mukaku dan mukanya berbagi senyum dengan memamerkan gigi serta memegang satu kon eskrim masing-masing di tangan. Kurang lebih momen itu adalah hari pertama kita berjumpa. Aku ingat sekali. Entah apa dia juga. Aku tetap melalui hari-hariku walaupun dia tak mengingatnya.
Sore itu, seperti biasanya selama sebulan terakhir, kita selalu menghabiskan waktu sore menjelang malam di tepi pantai. Kadang sekedar melihat keramaian trotoar pejalan, kadang menceburkan diri ke laut dengan ombak tenangnya. Kadang hanya duduk di tepian dan membicarakan banyak hal. Angin selalu berhembus dari selatan di saat-saat itu.
“Mau nyoba makan seafood ga?”
“Kan sudah kubilang, aku sudah ga bisa makan daging beberapa tahun belakangan ini.”
“Yah sayang sekali, padahal ikan bagus sekali buat kesehatan.”
“Jadi maksudmu sekarang aku ga sehat?”
“Eh eh, bukan gitu.”
“Jangan mencoba-coba menggodaku.”
“Tidak, aku hanya mengajakmu. Kamu ga bosan makan sayur, buah sama kacang-kacangan mulu? Kamu kemaren kan sudah bikin aku hampir kena asam urat tuh karena ikut kebiasaanmu.”
“Siapa juga ikut-ikutan gaya hidup orang.”
“Iya iya, aku yang salah sih.”
“Nah tuh ngaku.”
“Tapi please, kali ini aja. Sekali aja mau ya?”
“Mau apa? Ih!”
“Makan ikan sama aku, kan bukan daging merah tuh.”
“No way! Kamu ingat kan waktu kita habis jalan di selat dan lihat orang mancing itu? Aku hanya memesan salad buah dan jus delima.” Ia kemudian memperlihatkan lidahnya ke arahku, meledek.
“Yah sayang sekali. Apa aku harus ngajak perempuan di sebelah sana aja ya.”
“Ide bagus tuh, perlu kubantu bilang ga?”
“Diih kamu mah.”
“Loh ga konsisten kan.”
“Please, sekali ini aja sebelum kamu balik ke negaramu. Aku punya rekomendasi tempat yang bagus juga.”
“Aku bisa dimana saja. Tapi maaf aku ga bisa makan daging apapun, bahkan telorpun gabisa.”
“Terus gimana kalau musim dingin tiba? Gimana kamu ngisi kebutuhan konsumsi vitamin D mu itu?”
“Dari vitamin lah.”
“Baiklah, aku bodoh sekali ya, sampe ga kepikiran kalau sekarang semua sudah bisa dikemas praktis gitu.”
“Baiklah juga, aku ikut sama idemu.”
“Ide yang mana?”
“Pergi ke tempat seafood rekomendasimulah.”
“Ah seriusss?” Aku memegang bahunya dan memandang ke arahnya, ia sama sekali tak menoleh ke arahku.
“Aku ikut ke tempat yang kamu maksud, tapi tetap aku tak akan makan daging seiris pun, inget yang di dekat selat itu kan?” Akhirnya ia menerima ajakanku.
“Tidak ada negosiasi, atau tidak sama sekali.” imbuhnya dengan tegas.”
“Deal!” aku menyepakatinya.
Pantai ini hanya sedikit sepi di pagi hari. Ketika siang hingga malam menjelang, jalanan selalu dipenuhi pelancong dari berbagai kota. Ketika dia dan aku menuju tempat yang sudah kupilih, benar saja jalanan ramai dan sedikit sesak. Dia menggandeng tanganku. Sudah hampir pukul delapan malam, matahari masih bertengger di sudut barat dengan warna jingga sempurna. Lampu-lampu juga sudah dinyalakan siap mengganti cahaya alam. Dia mengenakan atasan musim panas, aku bisa melihat tulang selangkanya. Dipadu celana bergaris biru putih, dia terlihat manis sekali. Sangat cocok.
Aku melihat sepasang suami istri berjalan, si suami menggendong putranya di pundaknya. Seru sekali, sebuah gambaran keluarga mini yang sangat bahagia. Meski aku tidak tahu bagaimana mereka melalui hari-harinya. Beberapa hotel megah berdiri tegak. Ada yang menyerupai bangunan peradaban luar angaksa, bak pesawat alien terdampar di sebuah pulau. Ada yang memiliki taman yang luas dipadu dengan tanaman tropis membuat pengunjung seolah-olah berada di pulau hijau. Ada beberap juga yang meletakkan ruang barnya di muka hotel sehingga siapapun yang mengadakan pesta bisa langsung memandang bibir pantai. Suara musik barat dari bar itu terdengar ketika kita melewatinya. Tempat yang kutuju tidak lah jauh dari sana. Hanya beberapa ratus meter saja.
“Masih jauh?”
“Engga, deket ko, kamu cape?”
“Mana bisa aku cape kalau ga diapa-apain.”
Nadanya genit. Seolah aku melakukan sesuatu yang membuatnya kelelahan.
“Lihat, orang-orang yang berpapasan dengan kita. Mereka nampak bahagia semua. Menikmati libur musim panas yang baru saja tiba.”
“Emang aku engga keliatan bahagia ya?”
“Kalau kamu keliatan keringetan banget malah. Kaya orang abis angkat jangkar kapal.”
“Ya karena memang suhunya panas banget.”
“Tahu ga, di negaraku, orang yang bisa berlibur ke pantai itu termasuk orang kaya tahu, mereka perlu menghabiskan beberapa ribu dollar untuk melewati langit ribuan kilo meter untuk bisa menikmati sengatan panas matahari di lautan.”
“Yaudah kamu ikut ke negaraku aja, rumahku tidak sampai tiga kilo dengan laut. Aku bantu kamu jadi orang super kaya di negaramu.”
“Ahaha, itumah beda kasus, ngaco.”
“Itu tempatnya sudah kelihatan.”
“Yang mana?”
Ada sebuah restoran yang bangunannya dibuat alami. Kayu-kayu disusun rapi dan hanya dipoles plistur sehingga warna aslinya nampak jelas. Ada lampu neon biru dalam box akrilik putih yang sudah dinyalakan, nada tulisannya disusun dengan abjad Neptun Resto. Tempat duduknya dibuat berjarak satu meja dengan meja lainnya. Di tembok bagian muka ditanami bugenvil merah jambu. Beberapa batu besar ditata sedemikian rupa membuat sebuah tangga. Pendingin ruangan terasa dinyalakan di suhu cukup rendah sehingga dingin bisa langsung dirasakan oleh kulitku. Tanpa melihat menu yang dipampang di depan muka resto, dia dan aku masuk ke dalam. Cukup ramai pengunjung, hanya karena dibuat jarak, jadi tempatnya terasa nyaman sekali. Aku memilih lantai atas dan meja yang menghadap ke arah laut. Matahari masih nongol sedikit, hampir tenggelam di kedalaman laut. Pelayan menyodorkan pilihan menu.
Aku memilih paket Afrodit Fortune untuk kita berdua. Sebuah sajian besar yang berisi kakap putih dengan saus mangga, potongan salmon gibsi, lobster dan udang. Sambil menunggu hidangan utama, pelayan memberi kami segelas air kelapa dengan garnis lemon yang menyegarkan juga kacang-kacang kecil khas Mediterania.
“Tempatnya boleh juga. Kok bisa tahu tempat ini? Tahu darimana?”
“Kemarin pas kita sepulang dari museum, aku melihatnya. Lalu terpikir, gimana kalau aku coba ngajak kamu kesini.”
“Humm gitu ya. Percobaan yang bagus.”
“Terus kamu milih kerang, emang nanti kamu makan?”
“Jujur. Orang tuaku saja tidak pernah berhasil menggodaku untuk memakan sesuatu yang berbau daging selama beberapa tahun ini. Dan kamu, begitu mudahnya mengajakku kesini.”
“Terdengar seperti ada yang baru saja menggoyahkan idealisnya dong nih?”
Dia memesan sepiring kerang segar tanpa dimasak yang dibalur saus lemon. Kita duduk menghadap laut. Ombaknya tenang sekali. Angin berhembus menyibak rambutnya. Dia duduk di sebelah kananku. Entahlah, sepertinya posisi dudukku dengannya sudah disetel otomatis oleh semesta. Selalu begitu. Aku pun selalu bertanya-tanya pada diri sendiri soal ini. Tapi belum juga menemukan satu pun jawabannya.
“Aku suka laut dan kamu mengajakku menelan sesuatu yang hidup dan tumbuh disana. Sebenarnya ide buruk, tapi apa salahnya jika aku mencobanya sesekali saja. Iya kan?”
“Memakan beberapa saja tidak akan membuat laut akan mati seketika ko, tenang aja.”
“Iya ngerti, tapi kamu sudah sedikit mematikan prinsipku tahu.”
“Gausah terlalu serius ah sama hidup. Nanti kamu ga bisa nikmatin setiap momen yang datang.”
Lalu lalang pelancong di trotoar meski ramai hanya terdengar samar. Dia dan aku bisa ngobrol dengan jelas, bahkan tidak mengganggu pengunjung restoran yang lain. Pendingin ruangan membuat kita semakin nyaman berada di tempat ini. Kita disuguhi salad buah sebagai pembuka. Dia lahap sekali ketika menu ini tiba. Salad buah itu dilumuri fermentasi susu, asam sekali rasanya. Dalam sebuah piring kecil, aku juga bisa melahapnya dengan segera dalam beberapa kali tusukan garpu dan sendok.
“Sebegitunya ya kamu suka banget ama laut?”
“Ya gimana ya, bosan si dingin terus di kampung halamanku. Dan kalau sudah begitu tidak banyak aktifitas yang bisa kulakukan. Sebenarnya aku bukan menyukai lautnya, aku menyukai udara hangatnya lebih tepatnya. Laut, aku menyukainya karena memang terlalu kenyang melihat bukit dan gunung saja.” ia mengakhiri kalimatnya dengan sedikit tertawa.
“Aku malah kenyang sama sengatan matahari dekat daerah pantai.” tanpa diminta, aku dengan lancang membandingkan diri dengannya.
“Maka dari itu, bersyukurlah. Ada banyak orang sepertiku diluar sana.”
“Tidak sedikit juga orang sepertiku.”
“Ah kamumah, mesti kan suka balikin keadaan aja.”
Menu utama tiba di tengah obrolanku dengannya. Pelayan meminta izin untuk meletakan beberapa piring di meja. Dengan hati-hati, satu per satu sajian itu mendarat dengan diletakan sedemikian rupa. Begitu paham siapa yang memesan suatu menu. Tidak ketinggalan, anggur Moody Good menemani santap malam.
“Kamu boleh mencoba ikan juga. Ambil saja sesukamu.”
“Ah kamu ini. Cukup ah, kerang saja. Gaboleh serakah.”
“Ikan di tempatmu pasti harganya selangit ya?”
“Ngga juga. Masih terjangkau ko. Paling tidak lebih segar saja kadang, karena kelamaan diletakkan di pendingin.”
“Jadi, cobalah yang ini. Aku yakin kamu akan menyesal kalau ga nyobain sama sekali.”
“Sialan. Bisa aja ya kamu.” nadanya senang dan sedikit tergoda oleh tawaranku.
“Ini ikan segar sekali. Dagingnya begitu masih segar beraroma laut.”
“Baiklah, baiklah.”
Sejak saat itu dia kembali makan daging. Kali ini dia benar-benar mengakuinya setelah bertahan sekian tahun hidup tanpa memakan daging jenis apapun. Aku berhasil membuatnya bercerita soal kehidupan vegannya. Sampai tanganku latah dan lancang mengarahkan satu sendok berisi sepotong kakap segar dan hangat ke arah mulutnya. Dan seperti ada sebuah magnet, wajahnya mengejar arah sendok yang kupegang. Dia melahapnya. Seperti sebuah kejadian tak nyata.
“Enak kan?”
“Lezat sekali. Aku melewatkan kenikmatan ini selama beberapa tahun. Tapi aku merasa berdosa pada diriku sendiri.”
“Tenang aja, semua orang melakukan kesalahan dalam hidupnya. Dan sesuatu yang nikmat memang selalu dekat dengan dosa.”
“Teori dari mana tuh? Bisa aja jawabnya, dasar.”
Hari baru benar-benar petang. Aku menyukai hari itu. Meski panas sekali. Setelah menghabiskan waktu ke beberapa tempat, tapi lelah sunggguh tak berasa. Tiga hari lagi dia akan pulang ke negaranya. Aku diminta menemaninya hingga ke kota yang ada bandaranya. Dia juga ingin ditemani melihat sebuah bangunan bersejarah di kota itu.
“Sepertinya memakan ikan membuatku sedikit lebih cerdas dari biasanya.”
Dia sontak tertawa lepas. Lalu meraih anggur yang disuguhkan dalam gelas. Semua sajian dilahap berdua beneran pada akhirnya hingga tandas. Aku mencicipi menu yang dia pesan. Dia juga memeberiku sesekali suapan. Dan saat aku coba meraihnya sendiri, ia melarangnya. Dia mengambil beberapa kerang itu dengan garpu ditangannya lalu menyodorkannya ke arah mulutku. Kerangnya gurih sekali, tidak amis, hanya saja terlalu banyak air lemon jadi terasa masam sekali. Mukaku sempat dibuat mengkerut sekian detik.
“Makasih ya.”
“Ah? Untuk apa?”
“Sudah membawaku ke tempat berdosa ini.”
“Harusnya aku dong yang bilang gitu, susah payah aku mengajakmu kesini, dan akhirnya kamu mau. Dengan sukarela lagi.”
“Hari yang indah sekali.” ucapnya pelan. Aku bisa mendengarnya. Padahal dia terdengar seperti ingin bersyukur pada dirinya sendiri tanpa ingin aku mengetahuinya. Aku juga bersyukur dalam hatiku tidak membuatnya kecewa hari ini. Dia menoleh, lalu aku bisa melihat senyum dan tawanya. Betapa rumitnya ketika perasaan sudah ikut terlibat. Susah sekali dikontrol. Sepertinya aku mulai menyukainya, tapi egoku masih menjadi benteng tebal dan masih lebih memilih memendamnya. Entah butuh waktu berapa lama lagi aku harus berada dalam posisi ini.
“Habis ini mau kemana lagi nih?”
“Kita balik ke penginapan saja ya, aku kekenyangan nih. Atau ada ide lain?”
“Yaudah kita nonton film kalau gitu. Kita balik ke penginapan aja.”
Sepertinya semenjak hari itu tanpa kusadari, dia mulai bernaung di salah satu sudut kepalaku, pun di salah satu sudut di sela dadaku.
Komentar
Posting Komentar