Langsung ke konten utama

Sepucuk Bara buat Meilan


Untukmu yang manis, Meilan.
Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu.
Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan?
Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan.
Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini. Aku mencoba tidak lagi peduli pada kesakitan silam. Aku mencoba mengabaikan. Apapun itu. Meninggalkan diriku dalam kenangan hanya akan terus membuat semuanya tidak berjalan kemana-mana.
Akhirnya aku pergi ke tempat yang jauh. Ke tempat asing. Lebih tepatnya menjauhi tempatku yang dulu. Tempat yang baru. Mesti biar tidak selalu berlari, hanya sekedar berjalan ringan. Aku tetap pada keputusan awalku. Menghapuskan bayang-bayang kelam yang mengganggu isi hati dan pikiran. Semakin jauh aku semakin merasa akan tenang. Semakin asing semakin mendamaikan, pikirku singkat. Dengan berbekal seransel persediaan seadanya, aku akan mengengelilingi semesta, menyebrangi tujuh samudra, mendaki limabelas gunung, keluar-masuk hutan, mengarungi sungai yang lebih panjang dari Amazon, tinggal di dalam goa-goa kalau sempat, menikmati pagi-siang-sore-malam di atas bukit, atau hanya sekedar singgah di sebuah istana kerajaan seperti dalam dongeng-dongeng tentang pangeran.
Kamu pasti mengira aku sedang mabuk setelah makan jamur di Bali kemarin, ya?
Ah mungkin iya. Aku jadi tambah sering mengeluh padamu ya akhir-akhir ini? Beberapa suratku sebelum ini mungkin sudah bikin mata kamu sakit. Maafkan ya. Percayalah. Aku hanya bercerita tiada seorang pun selain kamu, Meilan, yang manis.
Banyak yang menghampiri dalam setiap perjalanan. Aroma asin air garam di negeri pelangi Dewi Artemis, misalnya. Jalanan kumuh penuh batu kerikil dan perempuan-perempuan dengan kain batik yang menutupi buah dada mereka. Pak Tua bersama gerobak kecil pengangkut belerangnya yang berbau menyengat. Ibu-ibu dengan nampan berisi sayur dan diletakan di atas kepala mereka kemudian mengangkutnya ke pasar di pagi buta. Pemuda-pemudi yang sedang asik menghabiskan waktu sore mereka dengan bermain adu pacu kuda. Pelukis jalanan yang sedang menggambar kanal di tengah kota. Burung-burung merpati yang memenuhi taman buatan. Anak kecil yang menawarkan roti tawar. Pengamen yang menyayat biola dengan kor-kor mayor. Tukang sol yang sedang menyemir sepatu majikan sementaranya di muka pintu bandara. Namun setelah senyum mereka yang aneh dan tak kukenal, hanya sepi dalam diri ini yang lagi-lagi kutemui. Tak peduli ketika aku sedang berada di tengah keramaian tawar-menawar pasar pagi hari maupun di terik siang saat nelayan bergegas menepi ke dermaga sambil mengangkut cepon-cepon hasil tangkapan. Sepi yang aku coba sembunyikan selalu menghantui kapan saja ia mau. Se[i mungkin senang jadi kawan baikku. Hingga ia menemaniku kemanapun pergi.
Meilanku, yang manis. Maafkan aku yang tak tahu diri ini. Menulis surat payah berisi banyak keluh kesah.
Seandainya saja kamu tahu.
Bila saat hujan turun dengan derasnya, perasaan sepi yang kualami justru malah sepertinya senang dan menari-nari dalam diri ini. Sepi itu menjelma menjadi buas yang tenang. Sepi itu menjadi liar yang hening tapi tetap susah sekali untuk dijinakkan. Sepi itu menjadi bisu yang banyak tanya. Sepi itu menjelma lugu yang menyebalkan. Matrikulasi ruang dan waktu bahkan terasa lengang saat gerimis datang menyisakan tiap sisi tetesnya di daun jendela pondokan yang kusinggahi saat tiga hari di sebuah desa kecil di Bali. Hingga suara kodok di musim kawin samar-samar terdengar dingin. Aku duduk di dipan yang berisikan satu kasur kecil dengan kain putih satu set dengan guling dan bantalnya, menyamping menatap jendela, sambil merenung. Sambil berkata-kata pada diri sendiri. Seberapa jauh lagi aku akan pergi. Seberapa lama lagi berada disini. Seberapa banyak lagi yang akan kujumpai. Seberapa banyak lagi yang akan kulupakan. Seberepa banyak lagi luruh yang harus kubagi dengan perih ini. Apalagi yang harus kubawa di ranselku. Apa lagi yang harus kubawa dengan bebanku yang seperti sekarang ini. Apalagi. Apalagi, seberapa lagi. Seberapa. Lagi. Sehingga aku terhenyak hanya karena beberapa tetes kecil dari talang air yang menghentak alas bambu menyerupai nada pletok yang merdu dan rapi.
Kemudian. Di hari yang lain. Di tempat yang lain. Di hari yang cerah. Di tempat yang benar-benar asing. Aku sedang berada di sebuah persimpangan jalan dengan garis hitam putih zebra cross yang lumayan panjang di sebuah distrik di dekat Tokyo. Tidak begitu panas, meskipun matahari jelas sedang berada hampir di atas ubun-ubun. Mungkin karena sekarang masih baru masuk awal musim gugur. Untuk seukuran negeri matahari terbit, suhu delapanbelas derajat mungkin terasa hangat. Tapi, tidak bagiku. Lampu simpang jalan menunjukan gambar pejalan kaki dengan warna hijau. Beberapa mobil berjalan pelan lalu berhenti di batas garis luar zebra cross. Beberapa juga ada sepeda motor ukuran gede yang sudah lebih dulu berhenti dan memenuhi garis sebelum garis hitam putih pembatas lajur jalan tadi. Gedung-gedung di sisi lain jalan seolah sedang tidak doyan makan lalu menumpahkan segala isinya ke tiap penjuru simpang jalan. Perempatan mendadak tumpah berhamburan. Berisikan orang-orang lalu lalang. Remaja dengan berbagai tatanan dan dandanan. Ibu-ibu dengan tas belanjaan. Pekerja kantor yang menenteng tas koper kecil. Semua acuh dan hanya sibuk dengan keheningan mereka.
Aku selalu menduga aku telah melakukan perjalanan yang jauh dan semua kesepian yang telah kualami itu akan hilang dan tak lagi berlabuh. Tapi nyatanya tidak. Ragaku yang kemana-mana ini hanyalah hasil dari jiwa seonggok perasaan yang terkurung dalam jeruji tak kasat mata dan bahkan entah masih akan bertahan berapa lagi ia menajdi seperti ini. Aku berani melawan sepuluh harimau bengal di depan mata sekaligus, tapi aku kusut begitu sepi kembali menyerangku kalut. Aku terlalu semangat berpergian kemana saja tapi tak pernah tahu kemana tujuan yang hendak aku capai. Aku selalu siap menempuh perjalanan panjang tanpa tahu dimana aku akan beristirahat di kemudian. Aku selalu siap tersesat kapan saja tapi aku sendiri tidak sadar aku sedang tersesat dalam kesendirianku. Aku pergi jauh dari rumahku meninggalkan kampung halaman. Mencari jawaban. Menemukan ketidaksepian. Menggapai sesuatu yang damai. Kemudian kembali pulang, membawa kedamaian itu dengan memasukannya ke dalam ransel sambil dibungkus kain putih rapat-rapat agar tetap bersih. Supaya hatiku yang sepi ini tak terisi hal kotor dan tetap suci. Aku menyembunyikan diriku dalam keterasingan. Sampai-sampai aku lupa bila aku sedang dalam persembunyian. Sampai aku sendiri tidak sadar telah menjadi sesuatu yang asing bagi diriku sendiri. Seperti seorang pendekar yang lupa rumah kelahirannya setelah sekian lama bertapa dalam goa. Aku bahkan telah menganggap setiap jengkal persinggahan dari perjalanan ini adalah rumahku. Tidak peduli hanya dengan berteduh sebuah pohon palem di tengah padang gurun. Tidak peduli dengan sebuah sampan di tengah lautan. Tidak peduli dengan sebuah gubuk di tengah persawahan penduduk. Tidak peduli. Itu rumahku. Dimana saja. Dimana saja aku merasa aman dan tenang. Tidak ada seorang pun merajuk.
Aku kemudian mengira bila aku pergi jauh maka kesepian yang selama ini hinggap akan hilang begitu saja tertimbun bulir-bulir kayu jati di rumahku yang mulai lapuk dimakan rayap-rayap penyusup. Aku selalu mengira kesedihan yang ada padaku akan terperangkap jaring laba-laba di jendela rumahku dan tidak bisa lagi mengikutiku kemanapun yang aku tuju. Aku selalu mengira kesenduanku akan terkikis seiring berjalan waktu menggerogoti tiap sudut adonan tembok dinding rumahku. Aku selalu mengira kekosongan itu aku mengeropos layaknya kayu-kayu di daun pintu. Namun semuanya tidak seperti yang kukira. Segalanya hanya mendorongku untuk pergi lebih jauh lagi tanpa jelas dimana kemudian aku akan berhenti dan menetap lagi. Bahkan sama sekali tidak akan pernah mengarahkanku kembali ke rumah yang usang dan hampir roboh dengan berbagai jenis kesepiannya itu.
Sekian lama. Bertahun-tahun. Entah seberapa lama pastinya. Aku bahkan tidak tahu hari ini sedang hari apa. Yang terlihat hanya deretan bukit yang menghampar yang langsung terhubung ke sebuah dermaga dan laut yang menghampar.
Udara kering berhembus memasuki ruang kerongkonganku. Lalu aku teringat, saat aku memandangmu dari jauh, saat belum benar aku mengenalmu, aku cemburu, cemburu pada hembusan angin yang bisa seenaknya, sesukanya membelai rambutmu tanpa tahu malu. Aku juga selalu iri pada air di bak mandimu, yang selalu bisa menyentuh seluruh bagian tubuhmu tanpa sehelai pun benang setiap kamu baru saja bangun pagi atau sore-malam sebelum tidur. Cemburu itu yang kemudian menjadikan tiap udara yang kuhela serupa duri yang menusuk saluran tenggorokanku. Iri itu yang kemudian menjadikan seluruh isi kepalaku berpikir tak keruan. Padahal aku ingin sekali menjadi seorang yang membelai rambutmu saat ia mulai menutupi keningmu yang manis itu.
Semoga pak pos yang mengirim surat ini tidak tersesat lalu salah alamat. Aku rindu kamu, Meilan. Kamu tak perlu membalas surat tak tahu diri ini, membacanya saja sudah membuatku serasa mendapat aib buruk, malu sungguh, tapi aku ingin menyampaikan semua ini padamu dengan cara apapun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...