Untukmu yang manis, Meilan.
Bersama surat ini aku titipkan
rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar
kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu.
Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di
depan halaman rumahmu itu.
Apa kabar kau disana? Tentu
baik saja, bukan?
Benar katamu, rumah adalah
tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin
terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang
belakangan.
Aku berjalan meninggalkan
tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini.
Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh
isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya
kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba
melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak
lagi pada keadaan sebelum hari ini. Aku mencoba tidak lagi peduli pada
kesakitan silam. Aku mencoba mengabaikan. Apapun itu. Meninggalkan diriku dalam
kenangan hanya akan terus membuat semuanya tidak berjalan kemana-mana.
Akhirnya aku pergi ke tempat
yang jauh. Ke tempat asing. Lebih tepatnya menjauhi tempatku yang dulu. Tempat
yang baru. Mesti biar tidak selalu berlari, hanya sekedar berjalan ringan. Aku
tetap pada keputusan awalku. Menghapuskan bayang-bayang kelam yang mengganggu
isi hati dan pikiran. Semakin jauh aku semakin merasa akan tenang. Semakin
asing semakin mendamaikan, pikirku singkat. Dengan berbekal seransel persediaan
seadanya, aku akan mengengelilingi semesta, menyebrangi tujuh samudra, mendaki
limabelas gunung, keluar-masuk hutan, mengarungi sungai yang lebih panjang dari
Amazon, tinggal di dalam goa-goa kalau sempat, menikmati pagi-siang-sore-malam
di atas bukit, atau hanya sekedar singgah di sebuah istana kerajaan seperti
dalam dongeng-dongeng tentang pangeran.
Kamu pasti mengira aku sedang
mabuk setelah makan jamur di Bali kemarin, ya?
Ah mungkin iya. Aku jadi tambah
sering mengeluh padamu ya akhir-akhir ini? Beberapa suratku sebelum ini mungkin
sudah bikin mata kamu sakit. Maafkan ya. Percayalah. Aku hanya bercerita tiada
seorang pun selain kamu, Meilan, yang manis.
Banyak yang menghampiri dalam
setiap perjalanan. Aroma asin air garam di negeri pelangi Dewi Artemis,
misalnya. Jalanan kumuh penuh batu kerikil dan perempuan-perempuan dengan kain
batik yang menutupi buah dada mereka. Pak Tua bersama gerobak kecil pengangkut
belerangnya yang berbau menyengat. Ibu-ibu dengan nampan berisi sayur dan diletakan
di atas kepala mereka kemudian mengangkutnya ke pasar di pagi buta.
Pemuda-pemudi yang sedang asik menghabiskan waktu sore mereka dengan bermain
adu pacu kuda. Pelukis jalanan yang sedang menggambar kanal di tengah kota.
Burung-burung merpati yang memenuhi taman buatan. Anak kecil yang menawarkan
roti tawar. Pengamen yang menyayat biola dengan kor-kor mayor. Tukang sol yang
sedang menyemir sepatu majikan sementaranya di muka pintu bandara. Namun
setelah senyum mereka yang aneh dan tak kukenal, hanya sepi dalam diri ini yang
lagi-lagi kutemui. Tak peduli ketika aku sedang berada di tengah keramaian
tawar-menawar pasar pagi hari maupun di terik siang saat nelayan bergegas
menepi ke dermaga sambil mengangkut cepon-cepon hasil tangkapan. Sepi yang aku
coba sembunyikan selalu menghantui kapan saja ia mau. Se[i mungkin senang jadi
kawan baikku. Hingga ia menemaniku kemanapun pergi.
Meilanku, yang manis. Maafkan aku yang tak tahu diri ini. Menulis surat
payah berisi banyak keluh kesah.
Seandainya saja kamu tahu.
Bila saat hujan turun dengan
derasnya, perasaan sepi yang kualami justru malah sepertinya senang dan
menari-nari dalam diri ini. Sepi itu menjelma menjadi buas yang tenang. Sepi
itu menjadi liar yang hening tapi tetap susah sekali untuk dijinakkan. Sepi itu
menjadi bisu yang banyak tanya. Sepi itu menjelma lugu yang menyebalkan.
Matrikulasi ruang dan waktu bahkan terasa lengang saat gerimis datang
menyisakan tiap sisi tetesnya di daun jendela pondokan yang kusinggahi saat
tiga hari di sebuah desa kecil di Bali. Hingga suara kodok di musim kawin
samar-samar terdengar dingin. Aku duduk di dipan yang berisikan satu kasur
kecil dengan kain putih satu set dengan guling dan bantalnya, menyamping
menatap jendela, sambil merenung. Sambil berkata-kata pada diri sendiri.
Seberapa jauh lagi aku akan pergi. Seberapa lama lagi berada disini. Seberapa
banyak lagi yang akan kujumpai. Seberapa banyak lagi yang akan kulupakan.
Seberepa banyak lagi luruh yang harus kubagi dengan perih ini. Apalagi yang
harus kubawa di ranselku. Apa lagi yang harus kubawa dengan bebanku yang
seperti sekarang ini. Apalagi. Apalagi, seberapa lagi. Seberapa. Lagi. Sehingga
aku terhenyak hanya karena beberapa tetes kecil dari talang air yang menghentak
alas bambu menyerupai nada pletok yang merdu dan rapi.
Kemudian. Di hari yang lain. Di
tempat yang lain. Di hari yang cerah. Di tempat yang benar-benar asing. Aku
sedang berada di sebuah persimpangan jalan dengan garis hitam putih zebra cross yang lumayan panjang di
sebuah distrik di dekat Tokyo. Tidak begitu panas, meskipun matahari jelas
sedang berada hampir di atas ubun-ubun. Mungkin karena sekarang masih baru
masuk awal musim gugur. Untuk seukuran negeri matahari terbit, suhu
delapanbelas derajat mungkin terasa hangat. Tapi, tidak bagiku. Lampu simpang
jalan menunjukan gambar pejalan kaki dengan warna hijau. Beberapa mobil
berjalan pelan lalu berhenti di batas garis luar zebra cross. Beberapa juga ada sepeda motor ukuran gede yang sudah
lebih dulu berhenti dan memenuhi garis sebelum garis hitam putih pembatas lajur
jalan tadi. Gedung-gedung di sisi lain jalan seolah sedang tidak doyan makan
lalu menumpahkan segala isinya ke tiap penjuru simpang jalan. Perempatan
mendadak tumpah berhamburan. Berisikan orang-orang lalu lalang. Remaja dengan berbagai
tatanan dan dandanan. Ibu-ibu dengan tas belanjaan. Pekerja kantor yang
menenteng tas koper kecil. Semua acuh dan hanya sibuk dengan keheningan mereka.
Aku selalu menduga aku telah
melakukan perjalanan yang jauh dan semua kesepian yang telah kualami itu akan
hilang dan tak lagi berlabuh. Tapi nyatanya tidak. Ragaku yang kemana-mana ini
hanyalah hasil dari jiwa seonggok perasaan yang terkurung dalam jeruji tak
kasat mata dan bahkan entah masih akan bertahan berapa lagi ia menajdi seperti
ini. Aku berani melawan sepuluh harimau bengal di depan mata sekaligus, tapi
aku kusut begitu sepi kembali menyerangku kalut. Aku terlalu semangat
berpergian kemana saja tapi tak pernah tahu kemana tujuan yang hendak aku
capai. Aku selalu siap menempuh perjalanan panjang tanpa tahu dimana aku akan
beristirahat di kemudian. Aku selalu siap tersesat kapan saja tapi aku sendiri
tidak sadar aku sedang tersesat dalam kesendirianku. Aku pergi jauh dari
rumahku meninggalkan kampung halaman. Mencari jawaban. Menemukan ketidaksepian.
Menggapai sesuatu yang damai. Kemudian kembali pulang, membawa kedamaian itu
dengan memasukannya ke dalam ransel sambil dibungkus kain putih rapat-rapat
agar tetap bersih. Supaya hatiku yang sepi ini tak terisi hal kotor dan tetap
suci. Aku menyembunyikan diriku dalam keterasingan. Sampai-sampai aku lupa bila
aku sedang dalam persembunyian. Sampai aku sendiri tidak sadar telah menjadi
sesuatu yang asing bagi diriku sendiri. Seperti seorang pendekar yang lupa rumah
kelahirannya setelah sekian lama bertapa dalam goa. Aku bahkan telah menganggap
setiap jengkal persinggahan dari perjalanan ini adalah rumahku. Tidak peduli
hanya dengan berteduh sebuah pohon palem di tengah padang gurun. Tidak peduli
dengan sebuah sampan di tengah lautan. Tidak peduli dengan sebuah gubuk di
tengah persawahan penduduk. Tidak peduli. Itu rumahku. Dimana saja. Dimana saja
aku merasa aman dan tenang. Tidak ada seorang pun merajuk.
Aku kemudian mengira bila aku
pergi jauh maka kesepian yang selama ini hinggap akan hilang begitu saja
tertimbun bulir-bulir kayu jati di rumahku yang mulai lapuk dimakan rayap-rayap
penyusup. Aku selalu mengira kesedihan yang ada padaku akan terperangkap jaring
laba-laba di jendela rumahku dan tidak bisa lagi mengikutiku kemanapun yang aku
tuju. Aku selalu mengira kesenduanku akan terkikis seiring berjalan waktu
menggerogoti tiap sudut adonan tembok dinding rumahku. Aku selalu mengira
kekosongan itu aku mengeropos layaknya kayu-kayu di daun pintu. Namun semuanya tidak
seperti yang kukira. Segalanya hanya mendorongku untuk pergi lebih jauh lagi
tanpa jelas dimana kemudian aku akan berhenti dan menetap lagi. Bahkan sama
sekali tidak akan pernah mengarahkanku kembali ke rumah yang usang dan hampir
roboh dengan berbagai jenis kesepiannya itu.
Sekian lama. Bertahun-tahun.
Entah seberapa lama pastinya. Aku bahkan tidak tahu hari ini sedang hari apa.
Yang terlihat hanya deretan bukit yang menghampar yang langsung terhubung ke
sebuah dermaga dan laut yang menghampar.
Udara kering berhembus memasuki
ruang kerongkonganku. Lalu aku teringat, saat aku memandangmu dari jauh, saat
belum benar aku mengenalmu, aku cemburu, cemburu pada hembusan angin yang bisa
seenaknya, sesukanya membelai rambutmu tanpa tahu malu. Aku juga selalu iri
pada air di bak mandimu, yang selalu bisa menyentuh seluruh bagian tubuhmu
tanpa sehelai pun benang setiap kamu baru saja bangun pagi atau sore-malam
sebelum tidur. Cemburu itu yang kemudian menjadikan tiap udara yang kuhela
serupa duri yang menusuk saluran tenggorokanku. Iri itu yang kemudian menjadikan
seluruh isi kepalaku berpikir tak keruan. Padahal aku ingin sekali menjadi
seorang yang membelai rambutmu saat ia mulai menutupi keningmu yang manis itu.
Semoga pak pos yang mengirim
surat ini tidak tersesat lalu salah alamat. Aku rindu kamu, Meilan. Kamu tak
perlu membalas surat tak tahu diri ini, membacanya saja sudah membuatku serasa
mendapat aib buruk, malu sungguh, tapi aku ingin menyampaikan semua ini padamu
dengan cara apapun.
Komentar
Posting Komentar