Langsung ke konten utama

RUMI

Laboratorium Kimia sebuah sekolah menengah atas. 
Seorang dengan jas putih berukuran setengah lebih besar dari badannya, sedang mencampurkan beberapa zat dalam satu tabung reaksi. Lampu utama ruangan dibiarkan padam, hanya ada penerangan seadanya menggunakan senter kecil di dekat racikan-racikan cairan kimia. Cahaya yang dihasilkan memantulkan warna-warna zat buatan itu ke beberapa sudut ruangan. Seorang lelaki berbadan sedang itu kelihatan panik dan terburu-buru. Cuaca di luar hujan sedang turun dengan derasnya. Suara petir dan pendar kilat sekali duakali menyambar membelah angkasa.

***
Malam Natal. Hampir dua bulan intensitas hujan cukup tinggi. Banjir di beberapa daerah pun tak terhindarkan. Tidak terkecuali Jakarta, Ibukota negara Indonesia sering menjadi langganan banjir, terutama daerah pinggiran dekat kanal atau sungai.
Malam ini hening sekali bagi penganut Kristen. Mereka sedang hikmat merayakan kebahagiaan di gereja. Berbeda sekali dengan suasana ruas jalanan yang masih penuh dengan hilir mudik kendaraan bermotor roda dua maupun empat. Ya, begitulah Jakarta, hanya sedikit lebih sepi disaat musim lebaran datang.
Sedangkan di jok belakang, sebuah telepon genggam menerima panggilan. Tidak ada yang menjawab.
Pukul 09.30 malam, Rumi dan Goro sedang dalam perjalanan menuju bandara untuk menjemput adik sepupu ibu mereka.
“Kota macam apa ini? Macet kok setiap hari, mulai pagi siang sore bahkan sampai malam begini. Budaya yang menggelikan.”
“Jaga ucapanmu Goro, kau sedang tak berada dirumahmu.”
“Pantas saja negara ini memiliki banyak pejabat yang korup, orang-orang kritis langsung dibungkam.”
“Apa maksudmu? Meski aku sudah tinggal di negara ini sejak kecil, bukan berarti sepenuhnya aku menjadi warga negara ini, Goro. Kau paham?!” ucap Rumi dengan nada sedikit berang.
“Baiklah. Aku tidak mau ada perdebatan lebih banyak lagi diantara kita.”
Suara dari dalam mobil sedan keluaran tahun delapan puluh itu pun kembali hening. Kemudian sesaat setelah itu Rumi menyalakan radio di dasboard berwarna krem itu.  Ia mengotak atik saluran frekuensi. Tidak ada siaran yang melegakkan telinga Rumi. Semua isi saluran pada jam-jam saat itu adalah lagu-lagu pop kemayu yang kebanyakan sudah tercampur musik melayu. Bukan selera Rumi maupun Goro. Akhirnya Rumi memutuskan menyalakan DVD player. Ia memilah-milah kaset yang baru saja dibawa Goro dari Jepang seminggu yang lalu. Ia menemukan CD milik Mayumi Itsuwa dengan tembang hitsnya Ko Ko Ro No Tomo. Langsung saja goro memberi komen sarkastik kepada Rumi.
“Kukira kau sudah lupa lagu tanah kelahiranmu, Rumi.”
“Hanya kebetulan aku menemukannya disana.” Jawab Rumi dengan sangat santai.
Sedangkan suara klakson kendaraan saling memaki mulai dari belakang hingga depan mobil yang sedang dinaiki Rumi dan Goro. Baru dua minggu Goro menghirup udara Indonesia, udara Jakarta khususnya. Goro membuka kaca jendela mobil dan mengambil sebungkus rokok dari saku kaos polo berwarna birunya. Tidak lama setelah itu dia mengambil sebatang lalu menyumpalkan ke dalam mulutnya. Jari-jarinya masih mencari-cari korek di saku celananya. Rumi diam ridak memedulikannya. Jalanan sudah mulai terbuka saat Goro menemukan korek di sakunya. Mobil pun bisa melaju kembali. Goro kemudian menyalakan rokok yang sudah siap dia hisap.

***
30 menit kemudian.
Goro dan Rumi hampir sampai di dekat bandara. Belum sempat dia memasuki area parkir bandara, beberapa polisi menghadang laju mobilnya.
    “Selamat malam, maaf mengganggu perjalanan anda, nyonya dan tuan. Namun demi keselamatan, sebaiknya anda berdua segera kembali ke rumah, saat ini sedang ada masalah di bandara.”
“Maaf, pak. Kita berdua tidak akan melakukan penerbangan. Kita kemari hanya untuk menjemput saudara kita, pak.”
“Oh, baiklah. Kalau begitu anda bisa menunggu setelah proses evakuasi selesai. Silahkan kembali setelah ada pemberitahuan dari pihak penerbangan yang saudara anda tumpangi.”
“Loh, pak. Saya hanya ingin menjemput saudara saya, setelah itu kita akan langsung balik. Saya sudah terlambat datang, sudah satu jam saudara saya terlantar di dalam. Jadi tolong beri kami aksesnya.”
“Maaf, tuan tapi prosedurnya memang begitu. Anda-anda untuk saat ini tidak diperbolehkan mengakses menuju bagian dalam bandara. Silahkan menunggu pemberitahuan dari pihak maskapai, lalu anda baru diperbolehkan kembali kesini.”
Karena sudah malas meladeni aparat yang berjaga, Rumi mencoba menghubungi keluarganya di rumah. Beberapa kali tak ada panggilan yang menjawab. Goro yang masih kesal dengan kejadian yang baru mereka alami, hanya diam dan menyalakan rokok untuk kesekiankalinya. Mobil Goro dan Rumi memutar kembali menuju rumah.
Ponsel Goro kembali menyala tanda menerima panggilan, namun tetap saja sang tuan tidak mengangkatnya. Akhirnya, beberapa pesan pendek masuk.

***
Pukul 08.45. Di bandara.
Suara gemuruh pesawat mendarat terdengar saat gerimis baru saja reda. Di ruang tunggu, Yumi sedang menyantap roti gandum dan secangkir plastik kopi latte. Dia mencoba menghubungi Goro, namun beberapa kali panggilan itu tidak menerima jawaban sama sekali. Akhirnya Yumi memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke arah gerai batik yang masih berada sekitar koridor bandara. Pandangan Yumi sedikit terfokus pada kain syal hasil sulaman bercorak perempuan yang sedang mengangkat sesajen dikepalanya.
Tiba-tiba suara riuh ledakan menghempas bagian ruang tunggu dan sekitar gerai butik. Moncong pesawat menghantam dinding pembatas dan menembus ruangan yang ada didalamnya. Ledakan besar pun tak terelakan.

****
1943.
Kosasih sedang asyik bermain dengan ayahnya di halaman rumah. Beruntung Kosasih masih bisa tersenyum disaat serangan Jepang dengan tipu daya Tentara Asia Timur Raya itu sedang gencar-gencarnya menerka rakyat Indonesia. Ayah Kosasih hanya berpangkat kopral, namun kesetiaannya pada negara tidak perlu diragukan. Saat melawan koloni Belanda, Kopral Karni berdiri paling depan dengan hanya menggunakan laras panjang hasil jarahan dicamp senjata Jendral Willem, seorang jendral yang sangat ditakuti oleh penduduk Batavia. Dan Kopral Karni beserta rekan-rekannya pun berhasil menghabisi separuh prajurit jendral tersebut.
Saat dinas di Yogyakarta, Kopral Karni pun berhasil memberi serangan kepada prajurit dan petinggi-petinggi militer Inggris kala itu hingga pasukan berkulit putih pun berlarian kalang kabut.

****
“Manusia di negara ini sudah tidak manusiawi. Mereka menyalahkan pemerintah karena jalanan macet, sementara mereka sendiri masih saja menggunakan kendaraan pribadi kayak orang nggak berdosa. Padahal pemerintah sudah banyak menggunakan anggaran untuk menambah fasilitas transportasi publik.”
“Dasar manusia-manusia bodoh.”
“Tapi bukan berarti kau seenaknya saja ingin memusnahkan mereka. Memang kau siapa?”
“Haha.. Haha..” ketus
“Ada apa dengan isi kepalamu itu? Apa kau sudah benar-benar tidak waras?”
“Kepala mereka yang terlalu waras. Mereka hidup untuk bekerja mati-matian seperti orang gila mencari uang dan membangun gedung-gedung julang tinggi. Mereka pikir itu akan membuat nilai dan harga diri mereka tinggi? Tidak, sama sekali tidak.”
“Lalu kau mau apa?”
“Semesta pantas menang!”
“Kau benar-benar sudah gila.! Jika kau terus melanjutkan rencana genosid ini. Kau tidak akan bisa bersembunyi dariku, Goro. Ingat itu!”
“Apa katamu? Genosid? Yang benar saja. Ayolah kurangi menonton film horor. Kau mirip seorang dukun yang sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa saja. Lihat tampangmu itu, sangat menggemaskan.”
“Apa??? Kau masih sempat-sempatnya menghinaku. Tapi bukankah kau ingin menghancurkan seluruh umat manusia dengan hasil penelitianmu itu?”
“Ya, benar. Mereka manusia barbar pantas mendapatkan protein lebih, agar hidup mereka juga lebih sehat. Semesta sudah muak dengan tingkah laku mereka. Kalau bukan aku yang melakukan semua ini, aku tidak yakin akan berhasil. Jadi sebaiknya kau bantu aku untuk menyelesaikan apa yang sudah kita mulai. Bagaimana, Rumi?”
“Aku tidak akan membantumu lagi, Goro. Sudah cukup kau menjebakku sampai sini. Kau bukan tuhan untuk dunia ini, jadi sebaiknya kau batalkan saja rencanamu itu.”
“Mudah sekali kau bilang batalkan saja. Kau pikir kita sedang merencanakan sebuah kencan?”
“Tapi, Goro?!”
“Tenang saja Rumi, dulu semesta pernah menjatuhkan meteor sebagai bentuk genosid terhadap dino-dino besar yang rakus itu. Dan meteor itu, kau tahu kan? Dia tidak pandang bulu. Karena apa? Dia tahu bahwa kehidupan akan selalu ada terus meskipun di awal akan menyebabkan kehancuran maha dahsyat.”
“Tapi kau bukan meteor Goro, camkan itu.”
“Baiklah. Baiklah... Aku memang bukan ingin menjadi meteor, kawan. Aku yang menciptakan meteor itu.”
“Kau akan membatalkan rencana ini, Goro? Sungguh?”
“Yang benar saja. Lihat dirimu, cara berpikirmu sudah berkurang, kau mungkin juga butuh protein ini.”
“Jadi kau akan tetap melanjutkannya?!”
“Aku harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai, Rumi. Aku tidak bisa membiarkan manusia terus menerus menyakiti semesta ini. Kau lihat, semenjak gedung-gedung tinggi itu dibangun, banyak pepohonan di tebang, tambang semen dikuras, rumah kaca mengoven bumi, lalu kendaraan yang kau tumpangi itu. Yang katanya mempermudah perjalananmu itu. Dia juga ikut andil menghancurkan bumi ini. Semesta ini! Manusia makin kesini makin pintar, Rumi! Pintar merusak!”
“Bagaimana denganmu? Apa kau bukan manusia, Goro?”

“Apa kau masih ingin manusia lebih banyak lagi merusak bumi ini, Rumi?! Kau lihat pabrik-pabrik membuang limbah mereka ke sungai, ke laut tanpa merasa berdosa sama sekali. Hutan-hutan di tebang. Hewan-hewan di krangkeng lalu menjadi bahan tontonan, ada juga yang dijadikan bahan sirkus, dan..”



Jember, 2013



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...