Langsung ke konten utama

Melamun

"Gimana harimu hari ini?"

"Hmmm.. Baik"

"Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?"

"Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien."

"Pasti keliling tata surya melulu ya?"

"Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya."

"Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?"

"Hmmm.. mungkin aja."

"Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?"

"Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam."

"Haha.. iya juga ya."

"Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?"

"Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi."

"Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri."

"Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya."

"Ah? Apaan?"

"Ya barusan si tuh, ngeselin tau."

"Kamu aja paling lagi badmood nih atau lagi ga baikbaik aja kayanya."

"Emang."


Aku gamau bahas ini denganmu sebenernya. Tapi tibatiba aja muncul dan melintas dibenakku. Aku bisa dengan jelas melihat garis wajahmu dari sebelah kirimu. Perihal hubungan pernikahan yang sakral itu, aku tahu kamu selalu resah ketika ada pembicaraan tentangnya, apalagi untuk perempuan seumuranmu. Banyak kekhawatiran yang kamu telan tanpa sadar. Orangorang merasa paling dekat denganmu sehingga ia berhak bertanya apa saja seolah punya segala kuasa, tapi mereka suka lupa atau tidak pernah mendapat didikan menghargai privasi orang lain. Oh bukan tidak pernah mendapat hal itu, aku kira mereka lebih merasa superior atas pencapainnya sehingga membusungkan dada dan berhak bertanya atau melakukan intimidasi tanpa sadar dalam hal apa saja terhadap orang lain. Tapiiii sebentar, seseorang pernah berkata padaku di saat perjalanan menuju laut timur. Katanya, yang samasama kaya punya kemungkinan cerai. Yang samasama cakep juga sangat punya kemungkinan untuk cerai, begitu pula dengan yang samasama "baik"

semua punya kemungkinan berjodoh dan berceraiTidak sedikit kan agamawan yang berujung pada perceraian? Satusatunya jalan yang memiliki resiko tidak bercerai ya dengan tidak menikah, tapi apakah kamu akan mampu? Lahir sendiri, hidup sendiri hingga matipun sendiri? Kalau kau sudah cukup kuat dengan idealismemu, itu bagus, itu yang kau butuhkan untuk tetap hidup. Bukankah bekerja saja semut pun bisa. Idealisme yang membuatmu sedikit lebih berkualitas dan memiliki nilai tawar, tak apa sedikit, setidaknya kau masih punya, bagaimanapun juga kau sedang di tengah pasar komoditas. 

Entah mengapa, dia sepertinya cukup paham bahwa orangorang diluar sana sudah terlalu banyak kesepian yang tertelan sejak kecil. Tapi ada satu cara untuk mempertahankan orang yang kamu anggap dia jodohmu, pasanganmu atau whatever, bersyukurlah dengan apa yang ada di dirinya, sikapnya juga fisiknya. Belajarlah dari keduanya. Redamlah egomu ketika mendidih panas. Karena menikah adalah menempuh hidup baru, entah itu menyenangkan maupun menyedihkan harusnya kamu sudah menyadari dari awal untuk tetap bersama bagaimanapun keadaannya. Hidup selalu berjalan seperti sebuah buku yang kamu baca. Suka tidak suka kamu dipaksa untuk membaca tiap bagiannya, kamu tidak bisa melewati bahkan satu kata dari tiap lembarnya, mungkin kamu akan dipaksa marah atau menangis berbulan-bulan, tapi itulah realita. Tapi ingat, pasti ada hari dimana kamu juga tidak ingin beranjak darisana karena terlalu nyaman dan bahagia. Menikah hari ini atau nanti, dengan siapapun juga, kamu harus mengetahui dirimu sendiri, jiwamu sendiri. Saat ini banyak referensi hidup muncul dari berbagai sisi, media digital bahkan gosip abal-abal yang bikin kepalamu tibatiba tanpa sebab bisa gatalgatal. Kamu hanya perlu idealismemu sendiri untuk menyaringnya. Kamu tak perlu kecewa bila pencapaianmu belum seperti yang ada di laman orangorang di Instagram. Kamu tak perlu mengeluh berlarut bila beberapa mimpimu masih menjadi angan semu. Beruntunglah kamu yang mampu bertahan hingga hari ini, karena ternyata kamu akan lebih kuat lagi. 


"Lagian, di umur segini, ngapain harus ngiri kalo ada temen nikah, punya anak atau punya mobil baru si..Kalau boleh jujur, yang bikin hati ga tenang itu ketika gabisa ngajakin kedua orang tua jalan jalan kemana gitu.. liat ketawanya mereka.. ngabisin waktu buat sekedar makan bareng ga peduli tempatnya dimana."


Ah untung semua pikiran liarku itu tak sempat keluar menjadi obrolan dan hanya terkungkung dalam benak. Aku tak sadar barusan melamun. Sebentar saja sudah sebanyak itu yang kupikirkan. Kupikir tidak sampai satu menit, tapi sebanyak dan secepat itu yang bergerak dalam isi kepalaku. Ah sial, ngelamun.



"Nanti sore jogging yu? Temenin aku. Mumpung lagi semangat nih."

"Siapa takuttt!... Temenin doang kan? Traktir baso tapi ya sebagai bayaran nemeninnya?"

"Gampaang itumah."



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...