Bandung,
28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan
gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna
biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana.
***
"Dulu,
pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan
terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan
mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa
mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan
sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa
setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak
dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.
Dia
adalah seorang gadis petualang yang manis yang tengah beranjak dewasa. Dia
lebih dari kawan maupun lawan. Dalam sekejap, dia mampu membuat orang
disekelilingnya menjadi segan. Aku berjumpa dan berpisah dengannya secara tak
sengaja di Bali dua tahun lalu saat perjalanan liburan pribadi ala
"solo-backpacker"ku. Pertemuan kita sangat singkat. Bahkan untuk
berfoto bersama pun tak sempat. Namun kita berdua berbicara cukup banyak.
Tentunya tentang perjalananku, juga tentang perjalanannya. Satu hal yang
menarik darinya adalah ketika berbincang tentang patriotisme dan nasionalisme.
Yang ada dikepalanya sungguh menarik. Katanya, seorang pejuang tidak harus
membawa pedang saat berperang.
Apapun
itu selagi bisa melindungi teman dan menghancurkan lawan, ia pantas digunakan.
Begitu juga nasionalisme, kita tidak harus selalu melulu mengenakan pakaian
resmi kenegaraan suatu adat suku tertentu setiap hari maupun membela atlit
olahraga sampai mati-matian. Menurutnya, cukup buang sampah pada tempatnya
saja, itu sudah berarti ikut andil dalam menjaga suatu negri tetap tegak
berdiri.
Kami sempat menghabiskan beberapa
gelas bir, udang dan potongan ikan tenggiri di sebuah restoran. Dia memiliki
seorang teman di kota ini. Akhirnya ia mengajakaku juga menginap di tempat
kawannya itu. Tentu kutolak awalnya, hanya saja dia memaksa. Akhirnya setelah
hidangan di seluruh piring di meja restoran di dekat pantai itu tandas, kami
segera bergegas. Hari sudah sore. Seetiap memandang ke arah barat, segalanya
terlihat ibarat sketsa lukisan dengan latar hitam mendominasi. Jalanan dipenuhi
kendaraan dan wisatawan berjalan kaki. Diantara mereka hanya mengenakan celana
pantai dan setelan bikini. Kami menyewa mobil di restoran beserta supirnya
untuk menuju daerah sekitar Imam Bonjol.
***
Dan
hari ini, kuterima berita tentangnya dari sebuah e-mail tak dikenal, sangat
tidak menyenangkan pikiran. Layaknya pemuda patah hati ditinggal kekasihnya
karena perselingkuhan. Kecewa. Kecut. Tak percaya. Terluka. Tenggorokanku
terasa kering kerontang seperti gurun tak bermandikan hujan. Lidahku mengecap
payah. Berkali-kali aku meyakinkan penglihatanku. Itu memang dia. Perasaanku
turut ikut membenarkan. Ya, itu memang dia. Perempuan dalam foto-foto itu
memang dia.
***
Nilam
ternyata sudah mendahuluiku melakukan perjalanan menikmati keindahan surga
setelah peluru tentara pembasmi pembentorak di Papua bersarang tepat di daun
telinga sebelah kirinya.
Jember,
10 Mei 2014
Komentar
Posting Komentar