Langsung ke konten utama

Pantai Payangan - Jember


Di warung Pak Ali, malam Jum’at, seusai jadwal kelas sore hari. Setelah bel tanda kelas berakhir, seluruh mahasiswa meninggalkan ruangan di gedung baru yang masih belum sepenuhnya rampung. Kebetulan saya dan Ilham satu kelas di mata kuliah sosial yang diajarkan oleh dosen lintas jurusan. Kami berbincang-bincang tentang gowes, atau berolahraga menggunakan sepeda.
Pantai Payangan dari atas puncak bukit kecil Samboja
Ini bukan yang pertama kami pergi ke suatu tempat menggunakan sepeda. Sebelumnya kami sudah ke Air Terjun Tancak Kembar di Situbondo. Berhubung agenda kuliah sehari ini cukup padat, perut kami sepertinya sudah saatnya perlu di gotong menuju tempat pengisian energi, kami pergi ke warung yang berlokasi di dekat pintu masuk jalan Jawa 7. Disana kami bisa mengisi perut kami dengan nasi bungkus isi telor dan ikan tongkol (ingat tongkol ya bukan yang belakangnya tol itu) dengan harga sangat mahasiwai. Terutama bagi anak perantauan dan indekos seperti saya, tempat ini cukup membantu menghemat pengeluaran dompet. Jangan salah, biar harganya hanya Rp. 4.500 (empatribu limaratus rupiah) satu bungkus, kebersihan dan kadar gizinya tidaklah mengecewakan.
Disana, saya juga sering bertemu dengan teman satu kampus, entah itu kakak angkatan atau adik angkatan (saya angkatan 2011). Sudah hampir setahun kurang lebih Ilham bergabung dengan organisasi pecinta alam. Kesungguhannya tidak diragukan lagi. Dia beberapa kali mengikuti kegiatan tentang pencegahan kerusakan lingkungan bukan hanya menggunakan jargon saja seperti politisi basi itu.
Kami bertiga berjalan kaki meninggalkan kampus lewat pintu belakang yang hanya cukup bagi satu orang sekali dilewati. Satu orang lagi itu rekan organisasi Ilham. Sepanjang perjalanan yang kami bicarakan hanya tentang gunung. Sebagai orang yang tidak mengetahui banyak tentang “pecinta alam” saya tidak banyak bicara.
Kami tiba di warung berbilik bambu, duduk di bangku yang juga terbuat dari bambu dipaku. Di depan warung, ada sebuah kedai kecil yang menjual es jus berbagai macam buah. Masing-masing dari kami mengambil sebungkus nasi yang telah tersedia di meja dan menanyakan mana yang berisi telur dan tongkol. Jam Isya yang sedikit lebih cepat di Jember membuat saya merasakan waktu berlari sangat kencang.
Di tengah kami menikmati santap malam, Ilham mengajak saya gowes ke suatu tempat. Hal itu meluncur ketika kami membicarakan jadwal kuliah di hari Jum’at yang sama-sama kosong. Ilham dan saya juga kebetulan tidak memiliki agenda akan kemana esok hari. Didukung oleh tugas kuliah dan presentasi yang telah membuat isi kepala kami seperti benang terurai, jadilah kami berencana ke suatu tempat.
Pantai Payangan, Ilham mengetahui nama itu dari seorang temannya di organisasi. Dia tidak mengetahui lokasi tersebut dengan pasti. Tapi dia memiliki beberapa qlue yang patut dicoba. Saat itu sepeda fixie saya baru saja laku. Sepeda yang saya beli dari Hernik teman satu angkatan satu jurusan itu dibeli oleh Dika, teman yang juga seangkatan beda jurusan.
Ham, pedaku sek tas payu, lah yaopo terus?
Ilham ngekos di Jawa 4, saya di Jawa 6. Jalan pulang kami searah. Setelah selesai mengisi ulang perut, kami bergegas meninggalkan warung. Kami berjalan kaki menyebrangi derasnya hilir mudik kendaraan Jalan Jawa malam hari, dari Jawa 7 ke Jawa 6. Udara yang kami hirup kebanyakan kentut bau kuda besi dengan lampu sorot merkuri. Kami masih melanjutkan percakapan tentang gowes ke Pantai Payangan.
Di sebuah perempatan, Ilham berbelok ke kanan dan saya ke kiri. Di akhir obrolan kami malam itu, Ilham memberi sedikit solusi. Ilham berencana meminjam sepeda teman satu kosnya yang juga bernama Ilham demi terealisasinya rencana kami. Sambil, saya juga memikirkan sesuatu tentang rencana dadakan ini. Sialnya, teman satu kos saya tidak satu pun yang memiliki sepeda. Dengan tenggat waktu yang sangat singkat, otomatis saya tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya saya pun mengamini saja apa yang akan dilakukan Ilham.
Tiba, di kosan yang saat itu merangkap sebagai sekretariat sebuah organisasi ekstra kampus, saya langsung meluncur menuju ruang pribadi, meletakan tas dan mengeluarkan isinya. Saya merebahkan badan di karpet, mengeringkan keringat sambil membaca buku yang saya pinjam dari seorang teman kampus. Buku dengan dominan warna merah dan gambar kepala tokoh wayang yang sedang melahap bola bergambar kepulauan nusantara itu tertulis jelas dengan judul Membunuh Indonesia, karya trio Abhisam, Hasriadi dan Miranda.
Di dalam buku diceritakan tentang progres tembakau dan hasil olahannya terhadap lingkungan sosial budaya di Indonesia. Meskipun saya bukan perokok aktif, saya merasa perlu mengetahui apa-apa yang saya tidak ketahui, termasuk rokok kretek, cengkeh dan tembakau. Hasil pertanian ini adalah komoditas yang mudah sekali di propagandakan oleh pemegang kendali otoritas dengan dalih-dalih yang kadang hanya karangan. Sampai di bagian cerita H. Djamari, saya letakan buku itu di meja dan menuju kamar mandi.
Lima belas menit setelah kembali dari kamar mandi dicat biru langit di tembok bekas terbakar, saya menemukan layar telepon genggam pabrikan Korea sedang menyala namun tidak bersuara, hanya getar. Sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal. Saya tidak menerima panggilan itu dengan sengaja dan lebih memilih untuk memilah kaos di lemari triplek.
Tidak berselang lama setelah mengenakan pakaian, sebuah pesan singkat masuk ke kotak obrolan.
Ron, besok jadi. Ba’da subuh ktmu di Indom*** Jawa 6 ya. Peda e temenku siap.”
“Ok siap. Ham.”
****
Adzan subuh berkumandang dari sebuah langgar yang tidak jauh dari kosan. Dingin menyeruak ke segala penjuru kamar. Janji adalah janji. Seberapapun dingin menggeroti kulit tidak jadi soal. Isi kepala sudah waktunya di program ulang biar tidak ngaco. Saya bergegas ke kamar mandi, membasuh seluruh badan dengan air di suhu udara yang sedang dingin-dingin sialan. Tidak lama, tidak sampai dua menitan. Sambil gemetar, saya ganti pakaian dan mengenakan jaket dengan garis putih yang tidak terlalu tebal.
Beberapa teman kos sudah terbangun untuk subuhan.
“Kate nang ndi, kon Ron?” kata mas Wawan “Beben” yang spertinya tidak pernah kelewatan bangun pagi.
“Gowes, mas.”
“Lah pedamu? Jare wes payuh.”
“Pedae konco. Yowes aku miang dilut mas.” Saya menutup perbincangan basa-basi sambil pamit pergi.
Bangunan yang saya tinggali sebenarnya bukan kosan, tapi kontrakan. Mas Wawan ini yang bayar tunai ke sang juragan. Terus, mas Wawan berbagi kamar dengan teman-teman lainnya termasuk saya dengan sistem bayar per bulan dan jadi kosan. Bahkan saat pertama kali saya sampai di Jember dan ditemui oleh mas Amir, saya juga sempat menginap disini tak berbayar, sebelumnya saya menginap di masjid Kampus, hehe.
Saya bergegas jalan kaki dengan agak cepat soalnya Ilham sudah stanby dengan dua sepeda di tempat yang kami sepakati. Di sepanjang jalan, banyak kosan putera-puteri yang menjulang tinggi hingga dua lantai. Benar saja, setelah keluar dari gang kecil, Ilham sudah bediri menunggu tepat di bawah lampu tiang sebuah minimarket waralaba. Jalan Jawa utama yang setiap sehabis maghrib selalu ramai, kini di subuh buta, sangat sepi.
Penampakan di bibir pantai Payangan-Watu Ulo

Kami melakukan perbincangan kecil sebelum akhirnya kami putuskan membawa bekal air mineral yang kami beli di minimarket 24 jam itu. Masing-masing dari kami membawa satu botol berukukan cukup besar. Tepat pukul 04.48 kami melancarkan pedal ke arah bunderan DPRD lalu mengambil arah kiri melintasi jalan Sumatra. Jalan tanjakan di sekitar gladak kembar sedikit membuat saya menghela nafas panjang meski perjalanan baru saja dimulai. Dimana saja, jalan tanjakan selalu saja menyebalkan.
Angin pagi itu terasa segar sekali. Aroma pagi buta sepanjang jalan Jawa-Sumatra begitu perawan. Menembus jalan MH. Thamrin. Jos tancap terus hingga ke daerah Ajung. Udara yang segar membuat stamina kami tetap terjaga dan bersemangat meski sudah hampir setengah jam lebih kami menggowes.
Matahari baru menampakkan batang hidungnya saat kami tiba di daerah kantor PTP, saya lupa nama jalan di daerah ini, yang jelas, di sebuah tempat dekat dengan pertigaan, stadion beasr dan megah konon sedang dibangun. Entah sayanya yang baru menyadari keberadaan matahari terbit atau memang benar-benar baru terbit saat saya melihatnya.
Kami memutuskan beristirahat sejenak di derah ini untuk beberapa saat. Tidak sampai dua tiga menit, kami melajutkan perjalanan. Setengah jam berlalu, saat kami sampai di Jenggawah. Hal itu ditandai dengan sebuah tanah lapang di pinggir jalan dan tembok tinggi sedang dengan tulisan cukup besar menamai daerah itu. Selama perjalanan, kiri-kanan banyak lahan pertanian yang sudah siap panen. Sekali duakali kami juga melewati gudang produksi tembakau yang di depannya di penuhi sepeda ontel terparkir sekenanya.
Sinar matahari semakin terasa panas membara. Beruntungnya, udara dingin masih sangat segar untuk di hirup. Langit menampakan warna biru yang gagah. Sedikit kerumunan awan di pagi itu. Lalu lalang jalanan sudah mulai ramai dengan kesibukan orang-orang yang pergi ke pasar atau berangkat mengolah ladang mereka.
Saat kami melewati sebuah pasar tradisional, kami juga melihat seorang tukang becak yang masih tertidur di kursi penumpang. Tidak jarang kami berpapasan dengan siswa-siswi yang hendak berangkat ke sekolah. Maklum hari itu bukan hari libur.
Kami melalui satu persatu rute yang kami lewati hanya menggunakan informasi seadanya dari teman seorganisasi Ilham. Saat tiba di alun-alun Ambulu, Ilham mengajak untuk melahap sarapan terlebih dahulu. Namun, sikap keras saya mengurungkan niat ajakan Ilham.
“Sarapan ndek kono ae, Ham ben menikmati pemandangan.” Tawar saya.
Kami berhenti lagi, sejenak setelah melewati pasar Ambulu yang sedang ramai-ramainya. Lalu lalang orang bergantian berhamburan menyebrangi badan jalan dari satu sisi ke sisi yang lainnya. Kendaraan bermotor pun mengurangi kecepatannya. Saya lupa mengecek jam di ponsel saat kami meluruskan duduk dan meluruskan kaki di depan sebuah toko yang belum buka. Hal ini sering kami lakukan saat melakukan gowes yang cukup jauh, seperti saat ke Tancak Kembar, Bromo dan Papuma. Ini sangat berguna untuk melemaskan urat-urat otot yang mulai kaku.
Selang sekian menit, kami mulai mengatur ulang keseimbangan ritme nafas kami dengan perputaran rotasi pedal. Beberapa kendaraan yang dikendarai pelajar sekolah menengah melaju kencang melewati kami. Kami mengira demikian berdasarkan seragam yang mereka kenakan. Suara bising dari saluran pembuangan kuda besi itu cukup menganggu. Kami terus saja melanjutkan perjalanan.
Kami menyadari kami tiba di sekitar jalan Watu Ulo saat dua kendaraan di sebuah perempatan mengalami laka lantas. Kami menyempatkan diri membantu kedua orang itu. Salah satu dari mereka seorang ibu-ibu. Kami tidak tahu persis bagaimana kronologi kejadian. Jadi kami memastikan terlebih dahulu kepada dua orang yang mengalami luka lecet ringan tersebut. Ilham yang fasih bahasa Madura maju paling depan. Setelah keduanya sepakat saling mengganti rugi, dan dibantu beberapa warga sekitar, kami meninggalkan masalah tersebut.
Dan saat kami benar-benar sadar kami telah sampai di daerah Watu Ulo, semangat kami memutar kendali pedal semakin cepat, terutama saya.
Sudah dekat, Ham.”
Ilham yang mengenakan jaket biru langit berada tepat di samping saya. Sudah hampir dua jam kami memedal sepeda gunung sejauh ini. Sayangnya, rasa semangat saya membuat saya salah dalam mengambil keputusan saat melewati sebuah pertigaan. Arah yang seharusnya lurus saja, saya mengambil arah kanan, akhirnya menyasar ke Pantai Watu Ulo, bukannya Payangan. Padahal, kata Ilham, papan reklame besar jelas-jelas tertulis saat saya membelokan arah ke kanan. Teledor. Itulah saya saat terlalu bersemangat.
Benar saja kami tiba di Pantai Watu Ulo, bukannya Payangan. Petugas loket yang menjual karcis langsung saja memberhentikan kami. Beruntung, kemampuan bahasa Madura Ilham sangat membantu, sehingga kami tak perlu mengeluarkan sepeser pun uang untuk menikmati pemandangan pantai.
Ilham di muka halaman bukit Samboja

Saat tiba di bibir pantai, di seberang sisi, Pantai Payangan terlihat dengan jelas bersama bukit-bukit kecil yang hijau. Alhasil, kami menyusuri tepian pantai supaya tetap pada tujuan utama kami. Sekali menggowes dua tiga pantai terlampaui, hehe ngawur. Panas seketika melebur oleh sejuknya angin pantai yang berhembus cukup kencang.
Konon, belakangan bukit yang kami lewati itu bernama bukit Seruni. Ilham memutuskan untuk mendaki bukit kecil itu, saya lebih memilih berjalan di tepian pantai. Di atas bukit terdapat sebuah gubuk yang dapat dilihat dari kejauhan. Ilham berjalan di di sebelah lain bukit itu sehingga mulai tak nampak dari jangkauan pandangan mata.
Pasir di pantai ini berwarna gelap. Tentu berbeda dengan pantai pasir putih Malikan yang terletak sedikit condong ke sebelah barat laut pantai Watu Ulo. Di pantai ini masih sepi pengunjung. Masih belum ada pihak yang tahu akan potensi nilai wisatanya. Jadi, saat kami datang kemari, hanya nelayan yang seliweran entah pulang atau datang dari menjaring ikan di laut. Gelombang di pantai cukup keras dan sedikit menakutkan. Matahari belum benar-benar menjulang tinggi. Pantulan cahayanya seperti kristal yang mengambang diterjang gulungan ombak. Saya memberanikan diri untuk berbincang dengan salah satu nelayan disana. Belio membawa beberapa ikan hasil tangkapan di dalam sebuah anyaman bambu.
Sayangnya, obrolan itu tak berlangsung lama. Sang bapak yang mengenakan kaos lengan panjang dengan logo partai dan calon anggota legislatif itu kurang bisa berbahasa Indonesia. Ditambah dengan saya yang kurang ngeh sama bahasa Madura jadilah rasanya saya seperti orang yang sedang tersesat rimbanya dan tak tahu arah jalan pulang, eaaaa. Dia pun meninggalkan saya sendiri, hook ah.
Dari jauh, Ilham sedang menuruni bukit ketika saya memeungut bunga suatu pohon yang penuh duri. Buah-buah itu menggelinding di bibir pantai tersapu tiupan angin. Entah salah atau tidak saya menyebutnya buah, karena ketika Ilham datang menghampiri saya, dia menjelaskan bahwa itu adalah bunga tumbuhan dan di dalamnya mengandung biji untuk berkembang biak.
Ilham dan saya berjalan mengelilingi perahu-perahu nelayan yang sedang menepi. Beberapa nelayan masih ada di perahu. Ada yang sedang memperbaiki mesin. Ada yang sedang merapikan jaring. Ada yang sedang menambal lubang di badan kayu perahu. Ilham mendekati salah seorang dan mengajaknya bicara. Lagi-lagi, dengan kemampuan bahasa Madura yang sangat tidak mumpuni, saya hanya mendengar percakapan mereka seperti dua turis asing asal negeri Tiongkok yang sedang tersesat.
Pantai Payangan dari sudut lain.

Namun, tidak berselang lama, Ilham dengan bangganya memberi tahu saya bahwa di atas bukit yang baru saja dia kunjungi ternyata ada sebuah goa peninggalan bangsa Jepang saat menjajah nusantara. Informasi ini didapat setelah Ilham berbasa-basi dengan seorang nelayan. Pak tua yang kulitnya terbakar matahari itu pun menjelaskan bahwa goa tersebut tempat persembunyian Jepang saat itu. Belio juga memberi tahu nama beberapa bukit lainnya di sekitar tempat kami berjalan kaki sambil menuntun sepeda. Bukit itu diantaranya Bukit Samboja dan Bukit Domba. Di sekitar dua bukit yang baru saja disebutkan tersebut katanya ada sebuah makam keramat milik orang sakti pada zamannya, namun karena kurangnya kemampuan saya dalam mengingat, saya lupa siapa nama petuah tersebut. 
Kemudian kami bermalas-malasan di sepanjang pantai. Ilham dan saya ternyata narsis juga saat kamera poket milik Ilham mulai keluar tandang. Kami bergantian berfoto dan bergaya.  Selama saya mengenalnya di kampus mulai awal semester, Ilham adalah orang yang kalem dan tak banyak bicara. Dan saya sebaliknya. 
Perjalanan kami dari Jalan Jawa 6 menuju Pantai Payangan menggunakan sepeda pedal memakan waktu kurang lebih 3 jam. Perjalanan pulang memakan waktu sekitar 6 jam, itu karena kami kelelahan dan suhu udara siang yang panasnya minta es cendol. Saat pulang kami sering berhenti, mulai di warteg untuk mengisi perut dengan jadwal makan siang, kami berhenti di pedagang es kelapa yang dicampur madu dan harganya sangat murah, cuma 3500 rupiah, kami berhenti di warung klontong untuk membeli air mineral yang sudah tandas. Terus, saat di perempatan Jalan Manggar-Watu Ulo kami mengambil rute Kota Blatter yang sama sekali belum kami ketahui medannya. Alhasil kami menjadi seperti orang buta yang sedang berjalan di tengah hutan. Kami menikmati setiap perjalanan dengan ketidaktahuan, karena saya percaya bahwa kami memang butuh tahu lebih banyak dari sedikit yang telah kita ketahui bahkan sama sekali tidak kami ketahui.
Perjalanan-perjalanan kecil yang kami lakukan mungkin tidak begitu berguna. Namun dari perjalanan ini kami tahu seberapa banyak energi yang kami miliki untuk tetap bersama tanpa saling meninggalkan teman. Ini adalah perjalan gowes saya dengan Ilham untuk yang kesekian kalinya. 
Bukit Samboja di sekitar Pantai Payangan



Catatan:
Sepeda by Wimcycle
Kamera by Canon IXUS Pocket Digital


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...