Langsung ke konten utama

Hadiah Tante


Di sebuah kampung, di pinggiran garis kehidupan kota, seorang anak kecil sedang tumbuh dan mulai mekar sedari bocah ingusan menjadi remaja menjelang dewasa. Seorang anak dusun tak pernah kenal akar rumpun.  Usianya saat ini adalah waktu liar-liarnya bagi jiwa muda, jiwa berontak.  Semasa ia dilahirkan, semasa itu juga ibunya pergi meninggalkan.
Lambat laun, ia mampu bertahan menghadapi berbagai tempaan. Keadaan membuatnya semakin tumbuh menjadi lelaki tahan gebukan. Ia yang sering membantu bapaknya kesana kemari kerja serabutan. Jadi tukang angkut barang di pasar setiap pagi dan sore ia kerjakan. Jadi pembelah batu selalu ia jadwalkan sepulang sekolah. Bahkan jika ada tetangga yang sedang membangun rumah, ia sudi membantu mengangkat-angkat batu bata sampai mengaduk adonan semen dan menyerahkannya ke tukang  teplok. Hampir tak ada waktu ia sempatkan untuk bermain-main dengan teman sebayanya.  Dan, pekerjaan itu semua membuat tubuhnya kekar  seperti binaragawan.  
Seusianya. Yang tak kalah hebatnya adalah, ia juga merupakan murid yang cerdas dan mampu mengikuti setiap mata pelajaran di sekolah. Mungkin panas terik saat ia mengaduk semen telah membuat isi kepalanya jadi encer. Hingga setelah ia lulus sekolah menengah atas, ia mendapat beasiswa sarjana ke kota atas rekomendasi seorang guru yang begitu prihatin melihat keadaanya. Siapapun juga pasti senang sekali menerimanya. Termasuk ia.
Namun, awal sebelum keberangkatan, ia mendapat penolakan dari bapaknya yang kolot dan hanya peduli dengan uang. Ia terus mencoba meyakinkan. Meyakinkan tidak akan merepotkan bapaknya itu. Ia berjanji akan mencari uang jajan sendiri untuk hidupnya di kota. Seluruh isi kepalanya sudah dipenuhi bayangan tentang keagungan tempat yang sebentar lagi ia jabani. Akhirnya bapaknya menyerah, lebih tepatnya mengalah. Bapaknya merelakan ia pergi ke hidup di kota.
Di hari keberangkatannya, ia mendapatkan berbagai macam wejangan dari  bapaknya. Juga beberapa lembar uang untuk tinggal beberapa hari pertama di kota. Sebagai anak kampung yang baru saja lepas di kota, ia banyak sekali menemukan ketakjuban. Dari gedung-gedung pencakar langit disana-sini hingga jembatan penyebrangan, yang kalau di dusunnya, paling-paling bakal diletakkan di sungai Cilamaya. Sungai tempat ia sering mandi atau berenang-renang kala panas siang tak lagi tertahankan.
Hari berganti. Bulan berganti. Masalah mulai bermunculan. Dari yang kecil hingga sampai membuatnya harus mengaduk-aduk isi kepalanya. Kebanyakan masalah keuangan. Masalah layaknya orang kampung hidup menantang belantara kota.
Ia menemukan sedikit ampunan dari tatapan dingin gedung-gedung beton tak berperasaan. Dengan sedikit nekat, ia pun menjajahkan diri sebagai pelayan kafe dan restoran.  Cukup mewah tempat ia bekerja sekarang. Hanya saja, kesibukan barunya membuat beberapa kali ia membolos kuliah. Majikannya tidak memberinya begitu banyak kebebasan. Tak peduli sedikitpun, meski ia adalah seorang mahasiswa. Namun, bagaimanapun ia tetap butuh pekerjaannya sekarang.
Segala hal ia lampaui dari waktu ke waktu. Ia di hujat dan sengaja di fitnah oleh pelanggannya. Terutama saat teman kampusnya yang singgah. Tetapi ia tetap teguh menghadapinya. Bagaimana pun ia harus tahan. Atas tindakannya, beberapa kali  ia mendapat tegur dari atasan dan teman senasibnya. Beruntung, secara tak sengaja, ketika ia mulai bosan dan sampai pada ke titik kebosanan atas pekerjaannya yang sekarang, ia semakin akrab dengan pelanggan yang sering ia bawakan kopi dan sepiring kecil kentang goreng lengkap dengan saus mayones dan saus tomatnya.
Ia banyak bicara dengannya. Tentang keluh kesah sebagai orang kampung. Keluh kesah sebagai mahasiswa. Keluh kesah sebagai pelayan. Dan beberapa lagi sisi hidupnya, yang orang lain pun bahkan tak sudi peduli mendengarkan.
Aneh entah mengapa dengan teman yang ini ia merasakan kenyamanan.
Hingga pada suatu hari ia memutuskan berhenti sebagai pelayan kafe. Ia lebih memilih ikut dengan ajakan teman yang biasa menikmati secangkir kopi sambil menyelesaikan pekerjaannya di kafe itu. Hari pertama memasuki dunia baru. Pekerjaan baru. Pekerjaan dimana ia belum mengenalnya sama sekali. Dunia yang sangat asing. Dunia itu bernama Event Organizer & Advertising.
Saban waktu ia mulai beradaptasi dengan segala hal yang berhubungan dengan event rundown, PIC, stage, talent, raging, set sound, claim, vendor, venue atau HOP, top 40 artist, PVC, dan masih banyak lagi. Satupersatu nama-nama tersebut masuk ke dalam jiwa si pemuda. Dengan semangatnya, ia langsung menguasai panggung arena. Komunikasi  antar anggota yang nyaman membuatnya betah. Meskipun ia masih mendapatkan fee seadanya sesuai dengan kemampuannya, ia merasa segala-galanya terpuaskan.
Bulan demi bulan tak terasa, setengah tahun sudah ia menggeluti dunia barunya. Diawali hanya sebagai tukang antar document sender ke pihak investor dan vendor, sebagai kurir data klien hingga designer dan event photographer.
Sebagai mahasiswa, ia juga tidak mengecewakan. Terbukti dari nilai semesternya yang tidak begitu buruk. Untuk seorang yang sudah masuk ke dunia semi-profesional, ia tetap konsisten dengan pendidikannya. Karena pekerjaannya juga, dikampus ia dikenal sebagai seorang yang istimewa. Bisa menjalani dua kehidupan sekaligus, sebagai mahasiswa juga seorang pekerja dalam waktu hampir selalu bersamaan.
Biarpun event selalu diadakan rata-rata akhir pekan, karena ia seorang data auditor, ia bekerja hampir 12 jam sehari tanpa jedah. Belum lagi jika ia harus mengurusi pertemuan dengan kliennya. Dengan sepenuh hati, ia tetap menyukai pekerjaannya yang sekarang. Ia sampai lupa mengabari bapaknya di kampung halaman. Kegiatan yang biasanya ia lakukan dua kali dalam sebulan. Ambisi dan tekad untuk menjadi seperti anak gedongan membuat ia bekerja dan mengumpulkan pundi-pundi uang semakin giat dan keras.

**

Hujan belum sungguh-sungguh menandakan ingin reda. Jalanan sampai tergenang air beriringan berebut tempat menuju aliran kecil menuju kali. Cahaya lampu trotoar memandang sendu di selayar aspal yang terbaring kaku. Masih sempat terlihat beberapa kendaraan melaju kesana-kemari dengan angkuh. Yudha memegang payung berwarna putih sedikit kehijauan sambil menenteng kamera DSLR mengamati setiap sudut peletakan umbul-umbul acara. Tepat selesai acara, seorang perempuan dengan dandanan super tebal menghampiri Yudha. Usianya sekitar menjelang empatpuluhan. Tubuh rampingnya dibalut  vest bercorak bunga lili dengan paduan warna biru gelap. Sedang bagian bawahnya, jeans pendek dengan penuh robekan rapih  ala rocker.
Sesaat setelah basa-basi dengan klien selesai. Telepon Yudha berdering. Beberapa deret angka muncul di layar ponsel Yudha. Nomor baru. Sebagai seorang diplomator kantor, ia terbiasa menerima panggilan masuk dengan nomor asing. Seusai beberapa bentar ia mengamati layar ponselnya, Yudha menerima panggilan tersebut.
“Ya, Hallo, dengan Yudha Guntara disini, ada yang bisa saya bantu?” Yudha selalu mengawali kalimatnya dengan singkat sambil menwarkan sesuatu layaknya seorang sales marketing ulung.
“Hei, Yudha, ini tante Lita, orang yang tempo hari kamu antar pulang seusai pesta Pak Astro, masih ingat?” suara perempuan itu terdengar seperti mahasiswi semester tiga di sebuah universitas.
Sambil sedikit mengingat Yudha pun membalasnya “Oh ya tante, tentu saja saya ingat, ngomong-ngomong apa ada sesuatu yang bisa saya bantu tante?”
“Oh ngga Yud, tante cuma mau bilang terima kasih sama kamu. Kemarin kata Mas Rachmat, bosmu, kamu yang sudah mengantarkan aku pulang. Maaf ya tante merepotkan kamu.” Kemudian perempuan sedikit sok akrab itu melanjutkan “tante kalau sudah mabuk ya gitu deh jadinya, parah banget, semuanya jadi kelupaan.”
“Tidak apa-apa tante, lagipula rumah tante searah sama kosanku. Sama sekali tidak ada yang merepotkan kok tante.” Nadanya tegas dan meyakinkan dan seolah ketika Yudha mengucap kalimat tersebut ada senyum yang terlempar dari dunia yang tak terjabat kata-kata.
“Oh ya, besok malam kamu ada acara ngga?”
“Aku ada meeting sampai jam setengah enam tante, setelah itu kosong. Mungkin ada yang bisa saya bantu tante? Atau mungkin tante ada keperluan dengan saya?” dengan polos dan tanpa curiga Yudha untuk kesekian kalinya menawarkan diri.
“Emm, begini Yud, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, personal banget, kamu ada waktu?”
“Tentang apa tante?”
“Kalau kamu masih sibuk tante ngga maksa kok, Yud..”
Merasa bersalah telah menyinggung lawan bicaranya, Yudha langsung saja menghadiahinya dengan kata setuju. “Oya tante, tentu saja bisa, dimana? Jam berapa?”
“Di kafe Dandellion, lantai dua Hotel Flamboyan, besok malam jam setengah delapan, bisa kan?”
“Siap,..” tante.”
“Sampai ketemu besok ya Yud..”
 perempuan itu pun langsung menutup panggilannya sesaat sebelum Yudha membalaskan kata-katanya.

**

Hari beranjak sore, jalanan masih ramai sekali dipenuhi kendaraan orang-orang kantoran yang baru saja mengakhiri kesibukannya di gedung-gedung bisu tengah kota. Suara-suara bising mondar-mandir saling salip sana salip sini. Diperempatan lampu merah, bunyi-buyi klakson memancing amarah satu dengan yang lainnya. Setelah memarkir mobil inventaris kantor, Yudha bergegas menuju lift meraih lantai dua.
“Hallo, tante, maaf terlambat, tadi ada sedikit macet diperjalanan..”
“Oh iya ngga apa-apa Yud, santai aja”
Disela-sela perjumpaan, si perempuan tadi melambaikan tangannya memanggil pelayan kafe. Si pelayan pun mendekat, kemudian menyodorkan buku katalog lumayan besar berwarna coklat berisi penuh menu-menu andalan kafe tersebut. Dari Green Tea hingga Jasmine Tea. Dari Wamena Coffee  hingga Irish Coffee yang bercampur whiski. Dari Mie Pangsit hingga Pasta Itali. Dari White Wine hingga red Whine. Semua tersusun secara rapi. Mulai dari makanan oriental asia hingga eropa tak terlewat satu pun dalam catatan.
“Kamu mau pesan apa Yud?” tante bergincu merah nyalak menawarkan.
**
Semua jenis makanan dan minuman habis dilahap keduanya. Hari menjelang semakin malam. Angin semilir menyentuh kulit menembus tulang persendian. Lampu hias dengan ranum temani kesenyapan suasana. Disana, sedari tadi hanya duduk dua orang sedang intim membicarakan sesuatu.
“ Oh iya Yud, kamu tau alasan tante ngajak kamu ketemu malam ini?”
“Ngga tante. Kenapa emang?” jawaban polos dan blak-blakan Yudha langsung saja mengurat senyum di wajah perempuan itu.
“Emmm, tante cuma ngucapin terima kasih secara langsung sama kamu Yud.”
“Oh itu tante, kan aku sudah bilang ngga ada masalah kan?”
“Aku juga terima kasih tante sudah diajak makam malam disini.”
Kalimat Yudha hanya dibalas seikat senyum penuh godaan.
“Ayo kita pulang?”
Lalu mereka bergegas beranjak menyudahi pertemuan. Perempuan tadi berdiri dengan tubuh rampingnya. Tangan kirinya menjinjit tas kecil berkerlipan. Seperti dihiasi semacam permata intan atau berlian. Yudha pun beranjak. Karena alasan ucapan terima kasih, perempuan itu mengajukan diri sebagai orang yang membayar semua hidangan malam ini. Yudha tak meimliki alasan apapun untuk menolak.  Lagipula juga bukan ia yang mengajaknya. Ia malah senang kalau ada orang yang yang mengajaknya menikmati dunia dan ia tidak perlu membayar apapun atasnya.
Setelah perempuan itu selesai melakukan pembayaran, ia menghampiri Yudha dan memberi tanda mengisyaratka ajakan segera keluar ruangan. Tiba-tiba, diperjalanan keluar hotel, di dalam lift, sambil basa-basi perempuan tadi mencoba sedikit memberi tanda-tanda meminta tumpangan pada Yudha. Karena hari sudah hampir larut malam, Yudha mengiyakan.
Beberapa menit setelah meninggalkan hotel, pagar besar putih susu, alamat yang tadi disebut tante Lita menghentikan laju mobil Pajero Sport inventaris kantor Yudha. Saking kekenyangannya atau memang karena suasana mobil yang sejuk, tante Lita sampai terlelap di kursi. Yudha menocba membangunkannya meski agak sedikit sungkan-sungkan.
“Tante, maaf, sudah sampai.” Yudha mengingatkan.
“Habis ini kamu ada acara?”
“Ngga ada, paling ya langsung balik ke kosan tante, besok aku harus keluar kota ngurusin laporan Mas Rachmat..”
“Tante mau kasih kamu hadiah sebagai tanda terima kasih, mari ikut ke dalam sebentar.”


**

Memasuki ruangan tante Lita, Yudha seperti orang terhipnotis. Ia tak mampu menolak gerak langkahnya untuk mengikuti laju jalannya. Menuju ruang tengah. Melewati ruang tamu setelah itu berbelok ke arah kanan menuju ruang keluarga. Pintu tertutup. Sejauh pandangan mata, barang-barang mewah terpapar hampir disetiap sudut ruang. Sepasang lemari dengan cermin dan berbagai jenis peralatan make-up berbaris diatas meja kecil didekatnya. Kasur elegan yang baru sebentar saja dipandang sudah mampu membuat yang melihatnya terasa nyaman. Ada beberpa pakaian kotor bekas dipakai yang tergantung  di kastoks.

Baru sebentar setelah pintu tertutup, nanar nyala lampu merkuri, sebuah figura kayu oak dan sketsa dua manusia sedang bercumbu di pelataran senja tergurat samar-samar di kanvas berwarna putih. 



Probolinggo, Pertengahan 2013



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...