Langsung ke konten utama

Melankoli Lambat


Hampir seharian aku memaki diriku sendiri. Mencaci. Marah. Berteriak. Kesal, tetapi juga diam. Seperti orang waras yang sedang mencicipi rasanya menjadi gila. Seperti artis yang sedang berperan sebagai penjahat kawakan tertangkap basah sedang telanjang di tempat persembunyian. Bagaimana tidak. Semalaman aku menghabiskan waktuku untuk mengerjakan deadline ini. Semalaman aku sendirian menjebak diriku sendiri dalam ruangan kantor  yang sangat kaku dan menjemukan. Semalaman aku saling pandang saling tatap dengan layar monitor tua bergaris hitam dan sedikit pecah seperti habis terjatuh kemudian terkoyak. Semalaman aku juga mencumbui bibir cangkir berisi tumbukan biji kopi yang dipadu air mendidih juga sedikit krimer. Aku bahkan belum sempat terlelap. Sedetikpun. Sedari semalaman.
Aku terus terbangun menyelesaikan semua berkas laporan. Beberapa kali kepulan asap rokok putih merek lokal menemaniku saat resah gelisah singgah. Jarum jam yang terpampang tepat di atas pintu ruangan seolah-olah berdetak perlahan menyeret seluruh isi kepalaku keluar. Mulutku ingin berteriak meronta, namun sulit sekali mengeluarkan suara, yang ada malah dengkuran suara gemericis rintik hujan yang jelas terdengar dari luar jendela.
Seolah-olah seluruh isi ruangan ini menghakimiku atas sesuatu. Lampu-lampu yang sengaja kumatikan menatapku seperti menuduhku sedang mencuri. Meja rekan kerjaku berbaris mengantri  di depan sebelah kanan-kiri rapih menagih semua dokumen tersusun secara sistematis. Hingga mentari pagi benar-benar menjelang dan hadir hangatkan bumi. Semua sudah mendekati akhir. Nyatanya memang sudah berakhir. Semua terselesaikan sampai ke detil paling kecil. Aku menyempatkan mandi meski tak membawa satupun pakaian ganti.
Ada beberapa agenda yang harus aku tuntaskan hari ini. Mulai dari pagi sampai malam hari nanti. Sedangkan sekarang baru saja jam delapan, diluar sudah turun hujan. Aku tak bisa hanya diam duduk bermalas-malasan. Semuanya sudah diselesaikan. Hanya tinggal penyerahan dan penandatangan.
Siang ini aku bertemu dengan klienku di sebuah kafe di dekat tempat kerjaku. Sebenarnya ia kawan lama. Teman semasa aku masih mengenakan seragam putih abu-abu SMA. Tidak begitu dekat memang. Yang pasti jelas aku ingat darinya adalah ketika bermain voli bersama saat jam olahraga.  Kalau sekarang entahlah, aku sedikitpun tidak mengenalinya.   
Ya beginilah Desember. Hujan terus saja mengguyur. Hampir setiap hari. Begitu juga yang terjadi pada petang sore ini. Sejenakpun tak nampak redup senja bersama matahari. Hanya mendung yang setia mengelilingi seperti selimut berwarna abu-abu gelap bergaris putih luas. Dimana-mana jalanan tergenang air. Semilir angin antara sejuk dan dingin juga hadir. Di depanku simpang lima tengah kota. Selalu ramai siang ataupun malam. Kadang sampai macet tak terbantahkan. Aku sedang berdiri dimuka tepi sudut ujung jalan. Berdiri tepat di bawah payung besi halte bis dalam kota berwarna hijau kuning cerah. Sorot lampu-lampu kendaraan lalu lalang menabrak bayangan gelap gedung-gedung yang hanya diam ditinggalkan para karyawan.
Bangku tempat tunggu sudah terisi penuh. Aku masih berdiri. Menenteng tas laptop berisi dokumen penting. Sebenarnya terpaksa berdiri. Menunggu rintik hujan reda. Menunggu bis kota berwarna merah biru tua tiba. Menunggu angkutan berkarat beraroma besi sekarat yang membawaku pulang, seperti biasanya. Di sebelah kiriku, ada seorang ibu paruh baya menggendong putranya yang sedang menangis. Seorang ibu yang kulihat sedang resah. Entah karena terlalu lama menanti-nanti kendaraan atau memang sedang ada masalah dengan dunianya. Aku tak bisa memastikannya. Bukan urusanku pula.
Disisi sebelah kananku, ada seorang wanita karir yang masih lengkap dengan seragam batik biru kerjanya dipadu rok mini hitam. Wajahnya cukup kusam dan sepertinya kelelahan. Tapi tetap anggun dan menawan. Aku akhirnya tertarik memperhatikannya. Aku akhirnya lebih tertarik memperhatikannya. Setidaknya mampu mengurangi rasa jenuh dan bosan yang singgah. Dia memergokiku ketika aku sedang memandangnya. Aku masih saja terus memandanginya dengan wajah tak berdosa. Aku malah memberinya sebuah senyum tanggung tanpa salah agak menggoda. Dia membalasnya. Tidak terlalu lama. Dia kembali dengan gayanya. Menyilangkan kedua tangannya sambil mendekap tas di bahu kirinya.
Tiba-tiba, dua bola lampu terang menyerupai mata mendekat datang.  Menepi. Sejenak kulihat arloji di tangan kananku, ternyata hampir dua puluh menit aku telah berdiri disini menyerupai patung pancoran. Sebelum aku melangkah menaiki tangga pintu masuk, perempuan tadi lebih dulu berada di depanku. Dengan cepat dia terlihat sudah hampir duduk di kursi besi berdesal-desalan. Masih bersama suara keras mesin, bis pun kembali melaju menjauhi tempat dimana aku masih berdiri. Sial. Ketinggalan bis. Padahal sudah di depan mata. Ah sial. Ini pasti gara-gara si perempuan  itu.




Halte Harmoni, 2015




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...