Langsung ke konten utama

Bonus


Beberapa menit jarum jam telah melewati angka satu, dini hari. Suara musik digital dengan volume tinggi memenuhi seluruh sudut ruangan. Lampu utama dibiarkan padam hanya diganti kelap-kelip bintik cahaya kecil yang diatur sedemikian rupa memantul kesana-sini. Seorang perempuan berbadan sintal aduhai mengenakan setelan rok pendek dan bau parfum menyengat menghampiri Eko. Eko duduk di kursi menghadap juru racik minuman. Ia terlihat sedikit kelelahan, juga agak mabuk.
“Ada lighter, mas?”
“Apa??..” Eko membalas dengan sautan agak teriak.
“Lighter, mas? Mantis?” si perempuan sambil menyodorkan sebatang rokok putih.
“Oh.. Ini ada.” Eko memantik Zippo lalu memberi api kecil itu ke arah ujung batang rokok yang sudah bertengger di bibir bergincu merah hati milik si perempuan.
“Terima kasih, mas.”
Eko tidak membalas ucapan si perempuan setelah merogoh saku celananya, menaruh kembali mantisnya.
“Sendirian saja, mas?” lanjut si perempuan.
“Ah.. Kenapa?” Eko tidak mendengar sura si perempuan dengan jelas.
Mungkin karena sudah dua kali tidak diladeni, si perempuan mengambil gelas milik Eko yang isinya tersisa tinggal beberapa tetes saja. “Tambah, mas?”
“Oh boleh. Kamu mau traktir saya?”
“Kalau mas mau.”
“Bercanda.” Eko menerangkan gurauannya sambil tersenyum.
Keduanya duduk di kursi yang sama-sama menghadap si juru racik minuman melakukan percakapan namun lebih terlihat seperti sedang saling berteriak, berharap bisa mengalahkan suara musik, dengan diselingi gelak tawa yang keras.
“Nggak usah panggil saya “mas”. Nama saya Eko. Panggil saja “Eko””.
“Saya Puspa, Mas. Eh.. Eko.”
Percakapan terus berlanjut, si perempuan diam-diam terus memperhatikan gerak tubuh Eko yang tampak sedang gelisah. Sesaat kemudian dua sloki Martini terhidang di depan mereka.
“Cheeers!..”
***
Pagi datang. Tidak ada cahaya matahari. Pagi disambut dengan kaca jendela terbuka dengan kain tirai yang basah terkena hujan. Gedung-gedung pencakar langit tegak berdiri sudah dipenuhi kesibukan penghuninya. Cahaya mendung meneduhkan isi ruangan. Sebuah telepon genggam bergetar dan berdering di atas meja lampu kamar tidur. Eko menerima panggilan di telepon genggam, disampingnya seorang perempuan menarik selimut untuk menutup bagian dadanya yang terlihat tidak mengenakan apa-apa. Arloji di tangan Eko sudah beberapa langkah angka sepuluh kelebihan belasan menit.
“Siap, Ndan. 20 menit lagi saya meluncur.”
Eko menutup telepon genggamnya, bergegas menuju kamar mandi.
“Kamu sibuk sekali, honey. Ini kan hari Minggu.”
“Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, sayang. Kamu ngga apa-apa kan aku tinggal sebentar?”.
***
Eko berwajah tirus, berkulit kuning langsat,  berambut rapi seperti penyanyi pop yang sedang naik daun. Seorang kepala kantor cabang kepolisian ibukota. Ia mengenakan kemeja cokelat motif kotak-kotak dipadu jelana jins berwarna biru dengan sedikit lipatan di bagian mata kaki. Kakinya dibungkus sepatu but kulit delapan lubang. Ia mengenakan arloji hitam metalik dengan diameter separuh pergelangan tangan kirinya, bau parfum berhamburan dari tubuhnya. Ia tinggal di apartemen mewah hasil kerjanya di bilangan kota.
Jati berperawakan gemuk sedang, tidak begitu tinggi, bermata sipit. Ia adalah pengusaha properti kelas atas. Raut wajahnya polos, berkacamata tebal dan mengenakan jas berwarna hitam berdasi merah dipadu celana kain dan sepatu kantoran. Rambutnya ditata belah pinggir ke arah kanan, lumayan klimis. Tangan kirinya menenteng sebuah tas kopor berwarna hitam.
Keduanya bertemu di sebuah ruang pertemuan terbuka sebuah hotel ternama ibukota. Keduanya duduk di sebuah sofa yang langsung menghadap kolam renang.
“Apa kabar, kamu Ko?”
Pembicaraan dimulai.
“Baik, Ndan.”
“Bagus. Baiklah, langsung saja to the point. Minggu depan saya minta kamu kawal anak-anak nganter barang, tarif seperti biasanya, kamu tinggal tulis saja nominal nolnya berapa. Siap?”
“Biar saya urus persiapannya, Ndan.”
“Masalah itu. Nanti biar saya kabari lagi.”
***
Siang menjelang sore. Eko menuju tempat meeting yang sudah ia janjikan bersama Jati setelah mengantar paketan barang bersama kurir ke penerima pesanan Jati. Semua berjalan lancar. Panas khas ibukota baru muncul ketika hari menjelang petang. Tibalah di tempat yang dimaksud. Mereka berdua kembali bertemu. Sambil basa-basi dan menyerahkan sebuah amplop coklat tebal sebagai tanda terima kasih kepada Eko, Jati mengajak lelaki berpenampilan rapih itu untuk menikmati santap sore. Eko tanpa ragu menerima tawarannya.
“Aku ada bonus buat kamu Ko.” nada Jati yang tenang memberi sebuah kejutan bagi Eko di tengah meja makan.
“Loh ini kan nggak ada di perjanjian kita, Jat?” Eko membalas sambil keheranan dan penasaran apa yang akan diberi Jati dengan nada khas saat mereka masih duduk di bangku sekolah.
“Udah, Bapak terima saja.” nada Jati memaksa.
Eko hanya diam saat Jati sedang menyodorkan sebuah kunci kamar. Jati memaksa Eko menggunakan fasilitas yang telah ia berikan. Akhirnya Eko tidak bisa menolak. Eko menuju ruangan nomor kunci yang ada di gengamannya. Setelah ia sampai di depan daun pintu sesuai nomor kunci, ia membukanya. Eko mendapati seorang perempuan yang sangat ia kenali mengenakan pakaian minimalis sudah siap tempur di atas ranjang. Namun ada yang ganjil saat Eko mengetahui bahwa perempuan itu adalah ibu dari kedua putrinya.





Jember, 2013



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...