Pagi. Siang. Sore. Malam. Pagi lagi. Gerimis terus saja turun.
Sudah beberapa hari ini. Bukannya bikin sejuk malah bikin gerah iya. Rintik-rintiknya
membuat perasaan tambah suntuk. Setiap sudut bagian ruangan terasa menjemukan.
Hanya gambar-gambar organ tubuh yang tertampang hampir di semua punggung
dinding yang keseluruhannya berwarna putih. Ditambah lagi bau obat-obatan yang
tak pernah berhenti berhembus menyiksa dua lubang hidungku ini.
Sekali-kali perawat datang membawakan sepaket kemasan saat jam
makan datang. Atau kadang juga dokter yang singgah untuk melihat perkembangan
detak jantung di layar monitor yang sama sekali tidak membuatku merasa
terhibur. Keadaan bukan lagi hanya terasa hambar. Tapi juga kecut dan parau.
Seharian
ini tak ada sinar matahari. Sama sekali. Bila bukan redup, ya gelap yang ada.
Semuanya. Dahulu, saat masih bocah ingusan, senang rasanya kala hujan tiba. Aku
bisa bermain dengannya dengan sebebas-bebasnya. Juga dengan teman-temanku yang
sebaya. Bahkan sesaat sepulang sekolah. Tak peduli tas dan seisinya kuyup
basah. Biar saja. Paling juga mama dan bapa cuma ngomel marah-marah kemudian
menyuruhku pergi mandi kemudian menyuruhku makan.
“Kamu
ini kalau sakit siapa lagi yang ngurusin kalau bukan mama kamu, Ndi!! Susah
sekali si dibilangin berkali-kali masih saja”
Begitulah
celetuk bapa pada anak tunggalnya yang masih kuingat sampai sekarang.
***
Namun
beda. Tidak seperti sekarang. Beberapa tahun kemudian. Hari ini.
Jum’at. 24 Desember 2001. Tepatnya sudah dua bulan delapan belas hari secara
rutin aku terus mendatangi tempat ini. Hujan kian hari kian menderu
menjadi-jadi. Layak rengek keluh anak kecil yang sedang meminta sesuatu pada
orang tuanya. Memaksa. Memelas. Sambil menangis jika sekali tak diberi. Jujur
saja, sebenarnya suasana seperti ini sangat memuakan. Entah sudah berapa kali
aku sudah mencoba memutus-mutus aliran nafasku sendiri. Dengan sengaja ataupun
tidak. Tapi mau bagaimana lagi. Kerongkonganku terasa kering tandus penuh duri.
Berdecak saja tak kuat. Layaknya ada pisau belati yang tertancap disana.
Ditambah lagi, jarum jam dinding di ruang tunggu perlahan tapi pasti terus saja
memaksaku untuk menikmati sayatan waktu yang semakin lama semakin berlalu kelam.
Apalagi
lorong koridor, pasti sungguh bosan melihatku mondar-mandir berulang-ulang.
Bahkan ditengah malam ketika aku sedang resah kebingungan. Pengunjung lain
sampai terbangun gara-gara sol sepatuku yang susah berhenti memaki-maki
dinginnya lantai di malam hari. Dan mereka tak tanggung tanggung melemparkan
tatapan sinis. Dengan cuek dan seenaknya, aku berlalu begitu saja sambil terus
menghisap sisa-sisa rokok di tangan. Aku hanya menganggap mereka tak ada. Aku
sendiri sudah bosan dengan hidupku.
Beberapa
kali melintas dibenakku saat dalam perjalanan sepulang kerja. Ada kala aku
ingin bertanya pada mereka yang duduk menikmati matahari senja dari balik
jendela restoran. Duduk manis dengan secangkir kopi, atau bahkan jus blewah ala
eropa. Sepanjang hidup ini. Apakah pernah kamu menunggui seseorang yang
benar-benar kamu sayangi sedang sekarat lalu mengerang menahan sakit tiada
henti? Dan kamu. Merasa semakin menjadi gila bila terus berada
disampingnya. Menemaninya. Seisi dunia mengucilkanmu dan tak lagi
memedulikanmu. Kemudian bagimu, seluruh udara disekitarmu menjadi pengap dan
nafasmu semakin sesak. Detik demi detik hatimu semakin hancur menjadi beberapa
ribuan keping melihat keadaanya yang juga tak kunjung membaik. Malah memburuk.
Dan terus saja semakin memburuk. Pernahkah kamu merasakannya?
Ahh. Ya. Aku pernah.
Sekali. Pernah sekali. Cukup sekali saja!!! Aku sudah melakukan segala hal
untuk membuatnya tetap bertahan. Membuatnya agar mampu kembali berdiri tegak
melawan dunia yang mulai berasa menyebalkan. Sudah kulakukan semua untuknya,
peri manis yang rela menjadi bagian dari hidupku hampir satu dekade belakangan.
Meluangkan beberapa potong kepingan kehidupan yang mungkin tak dapat aku temui
bersama orang lain. Mulai dari menertawakan masakanku yang selalu gosong dan
kita tetap saja menikmatinya sebagai sarapan yang tak ada duanya, pergi
berangkat kerja bersama, hingga waktu malam tiba kadang kita seperti orang yang
baru saja beranjak muda, menikmati pasar malam di alun-alun lalu membeli arum
manis dan oleh pedagangnya dikira untuk anak kita. Sayang sekarang semua
hanya sekadar ingatan.
***
Pada
suatu waktu. Aku selalu mendambakan seorang anak pertama laki-laki darinya.
Diapun sama. Kami saling bahagia mendambakan waktu-waktu itu tiba.
Setelah beberapa bulan kami menikah, ibu bidan di dekat rumah menyatakan
istriku, Nadila Puteri Rahmaningtyas, positif mengandung putra pertama. Kami
sangat senang bukan kepalang. Mimpi yang sebentar lagi akan menjadi kenyataan.
Aku antusias sekali mendengarnya. Aku sampai begitu memperhatikan setiap gerak
tutur ucapan di bibirnya. Saking semangatnya, tepat setelah usai pemeriksaan,
aku langsung saja mengajak istriku pergi ke pasar untuk membeli segala
pernak-pernik kebutuhan yang berkaitan dengan keperluan selama ia mengandung
sampai melahirkan kelak. Dari susu ibu hingga tetek bengeknya.
Setiap
hari sepulang kerja aku selalu membawakan hadiah untuknya. Untuk istriku
tercinta dan putra pertama kami. Saat aku pergi bekerja, mama dan bapa dan
mertuaku kadang sudah ada dirumah saat aku pulang. Mereka juga ikut bahagia
saat mendengar berita bahwa aku akan mempunyai momongan. Dan mereka
khawatir jika tahu bahwa istriku hanya sendirian saja dirumah. Mereka lalu
sering berkunjung ke rumah.
Sampai
saat usia kandungan istriku mendekati tujuh bulan. Mama dan ibu kompak
menyiapkan ritual nujubulanan. Ritual yang sering dilakukan
oleh perempuan Jawa yang sedang hamil. Istriku diwajibkan untuk bermandi
kembang yang disiramkan oleh orang-orang terdekatnya. Inilah momen-momen yang
membuatku tak sabar menunggu sang penerus tahta kehidupan. Sang putra dambaan.
***
Namun
selang beberapa hari setelah itu, ketika aku sedang di tempat kerja, aku
mendapat kabar dari seorang teman di rumah. Katanya istriku kecelakaan.
Seseorang menabraknya saat istriku sedang menyebrang jalan. Tentu
saja aku tak bisa langsung mempercayai kabar ini. Aku bahkan tak merasakan
firasat buruk sebelumnya. Sama sekali tidak. Kemudian aku langsung saja
bergegas memastikannya. Sesudah meminta ijin pada rekan dan atasanku di tempat
kerja, aku langsung saja menuju rumah sakit yang dimaksudkan oleh temanku tadi.
Setibanya
di tempat, istriku terbaring di tempat tidur tak berdaya. Dengan jarum infus
yang menancap di lengannya. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku kaget melihatnya.
Kepalanya diikat perban. Masih ada bekas darah segar yang menggenang disana.
Aku duduk disampingnya sambil memegangi tangannya yang dingin. Kemudian,
seorang perawat bersama dokter memasuki ruangan. Kemudian dengan halus, mereka
memintaku untuk menunggu diluar ruangan.
Diluar
ruangan, mama, bapa, mertua, dan beberapa kerabat dekatku duduk
beriring dan berhadapan di kursi baja ringan seperti di stasiun kereta.
Bersama-sama mereka memasang raut wajah yang sedikitpun tak ada senangnya.
Mereka semua panik dan tegang. Begitu juga aku. Dan disaat-saat seperti
semuanya diam membisu. Tak ada seorangpun yang ingin memulai percakapan. Bukan
tak ada yang berani, tapi memang bahasa yang paling tepat saat ini adalah air
mata disana-sini. Mulut hanya pantas untuk digunakan untuk berdoa dan meminta
kepada-Nya.
Hening.
Hari beranjak sore. Hari yang beranjak sesak dengan seribu perasaan tak keruan.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka. Dokter dan seorang perawat tadi
keluar ruangan. Dokter langsung saja menanyakan siapa suami dari
perempuan tak berdaya yang sedang terbaring di dalam. Aku bergegas
menghampirinya.
”Dengan
bapak Dandy Utama? Maaf sebelumnya, istri anda membutuhkan penanganan serius.
Dan tindakan ini harus segera dilakukan, pak.”
Entah apa yang perlu aku katakan
saat itu. Aku tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas pertanyaan
dokter yang menggunakan jas putih dan masih mengenakan masker di wajahnya.
“Kandungan
istri bapak harus secepatnya diangkat dari rahim, jika tidak maka tubuhnya akan
menjadi jasad yang mengganggu organ tubuh istri anda kelak, Pak.” Suara dokter itu berbisik
namun tetap dengan nada yang mantap.
Aku
diam. Dan semakin diam. Marah bukan marah. Kesal bukan kesal. Muram. Kehabisan
kata-kata. Entahlah apa yang sedang aku rasakan. Semakin lama
telingaku rasanya sedang diiris-iris menggunakan pisau karatan. Sakit tiada
tandingan mendengarnya. Dokter terus saja melanjutkan ucapannya sambil
menguatkan keadaanku yang sebenarnya.
“Sekali
lagi saya ucapkan maaf, Pak. Bagaimanapun juga anda harus bersabar dan kuat
dengan semua ini.”
“Bayi
yang dikandung istri anda telah tiada, dan jalan terakhir untuk
menyelamatkannya adalah dengan melakukan operasi sesegera mungkin. Oleh karena
itu saya dengan ini meminta izin kepada anda pak Dandy Utama untuk...”
Sebelum
dokter selesai melanjutkan kalimatnya. Aku dengan nada keras, histeris, marah
dan tak sabar. Langsung saja beberapa potong kalimat perintah meluncur deras
dari mulutku. Tak peduli siapa disekelilingku.
“Lakukan
saja yang terbaik dok!! Tolong cepat selamatkan istri saya dan putra saya
dok!!! ”
***
Orang-orang
melihatku. Masih diruang yang sama. Entah sudah berapa jam berlalu. Hari
semakin gelap. Aku bahkan tak peduli dengan tawaran makan mama. Aku merasa sama
sekali tak lapar. Udara semakin dingin. Ternyata malam sudah sampai separuh
waktunya.
***
Beberapa
hari berlalu. Istriku sudah kembali dalam kondisi normal. Ia sudah melakukan
segala sesuatu yang biasa ia lakukan di rumah. Tapi tidak dengan pekerjaannya
sebagai pengajar. Bukan aku melarangnya menjadi guru. Hanya saja aku ingin
sekarang ia memiliki banyak waktu untuk beristirahat di dalam rumah. Apalagi
dengan kondisi yang sekarang. Masih belum stabil secara sepenuhnya.
Emosionalnya masih terguncang. Mama dan ibu mertua selalu menemaninya di rumah
saat aku sedang berangkat kerja. Untuk menyiapkan makan atau hanya sekedar
menjadi teman obrolannya.
***
Keadaan
istriku sekarang butuh perhatian lebih. Selain secara psikologi dia setengah
gila. Dia juga sudah tidak bisa mengandung lagi. Ditambah lagi ia juga di
diagnosa terkena kanker yang mematikan. Aku tak begitu paham bahasa
medisnya apa. Aku hanya tercekat seusai operasi itu selesai dilakukan. Dokter
hanya bilang bahwa istriku sudah tidak akan bisa lagi memiliki keturunan.
Hari-hari
menjadi murung. Aku mulai tak semangat lagi menjalani aktifitasku. Aku mulai
tak semangat lagi mengerjakan tugas-tugas kantor. Aku mulai malas dengan
keadaanku sekarang ini. Dilain sisi, aku selalu mencoba melalui jejak kehidupan
ini dengan mencoba membuat istriku tertawa lagi. Membuat keadaan dimana kami
bisa berbagi seprti sedia kala lagi. Susah memang. Sangat tidak mudah. Kadang
aku merasa lelah dan ingin mengakhirinya begitu saja. Tapi akhir yang
bagaimana? Meninggalkan istriku dan mencari yang lain? Ahhh, itu aku yang gila
namanya. Sudahlah. Aku terus saja mencobanya.
***
Berbulan-bulan
telah berlalu. Lagi. Istriku sudah lumayan lama dirawat di rumah sakit. Mama,
bapa, dan keluarga dekat yang lain secara bergantian menjaganya. Istriku koma.
Sudah hampir dua bulan lebih. Ia hanya terbaring dengan rambut
dikepalanya yang makin lama makin kelihatan botak. Kulitnya pucat. Bibirnya
sudah terlihat agak kebiruan. Kadang aku bahkan hampir sudah tak mengenalinya
lagi. Akan tetapi, ketika aku raih tangannya dan coba menggenggamnya, baru aku
bisa merasakan dia istriku. Tangannya juga dingin. Tak hangat seperti saat dia
membawakanku secangkir teh di pagi hari sesaat sebelum aku berangkat kerja.
Kerabatku selalu menghiburku. Walaupun aku tahu dia juga sangat terpukul.
Disaat
seperti itu, kadangkala pikiranku membawaku pada ide-ide yang gila. Bayangkan
saja, aku pernah berpikir untuk meninggalkannya begitu saja. Pergi sejauh-jauhnya.
Meninggalkan tubuhnya yang tergolak tak berdaya. Melupakannya. Melupakan semua
tentangnya. Bagaimana lagi. Menurutmu apalagi yang masih bisa kuharapkan
darinya? Harapan? Harapan macam apa? Tuhan saja membiarakanku menangis darah
meski aku sudah ribuan kali bersujud memohon mengemis padanya.
Tetap saja, nihil hasilnya. Dia
tetap membunuhnya. Dia mengambilnya dariku tepat disaat malam sedang
dingin-dinginnya. Lebih dari itu, Dia juga mengikatku dengan kesepian.
Merantaiku dengan kegelisahan. Di jelang pagi dan hari-hari kemudian. Padahal
jauh di dalam hatiku, aku masih ingin meneruskan hidup bersamanya hingga di
ujung waktu menjelang. Tapi ya, maut kadang bisa datang kapanpun
tanpa memberi sedikit alasan apapun. Begitulah mungkin hobi Tuhan, membunuh
orang yang kita sayang disaat kita benar-benar menyayanginya.
Jember, 2012
Komentar
Posting Komentar