Bulan sabit sisa semalam terdampar di sebuah pagi yang cerah. Nampak jelas telat pergi.
“Can I help you?”
“Oh tentu. If you don’t mind, please.”
Aku mengambil potret gadis bertubuh ramping yang datang sendiri ke tempat di tepi pantai. Suasana cerah. Belum banyak pengunjung. Matahari sudah mulai mengeluarkan sengatan musim panas. Debut ombak menggoyang biru laut. Terdengar juga beberapa suara burung kecil berkicau. Di tepi labuhan yang disulam batu, beberapa pemancing duduk dan menanti sambaran ikan pada seperangkat kail dan jorannya.
Aku mengambil potret gadis bertubuh ramping beberapa kali menggunakan gawainya. Dia berganti pose sekian kali, bak model mahir. Mengenakan topi bucket dan menjinjing tas anyaman.
“Sudah cukup, kamu mau kemana setelah ini? Bisa kita pergi bersama?” begitu ucapnya setelah mengambil potret terakhir di peninggalan Yunani kuno di pagi hari yang masih sangat sepi.
Ada alasan bagi kita berdua untuk bertemu disini. Kamu dari bagian belahan bumi lain, begitu juga aku. Entahlah, semesta ingin menjadikan momen ini akan seperti apa selanjutnya.
“Where do you come from my friend?” seseorang dari dalam sebuah toko ramuan memanggilku. Kukira dia memanggil orang lain, ternyata semakin aku mendekati melewati tokonya, dia menghampiriku dan mengula g kembali pertanyaannya.
“Aku datang dari Indonesia.”
“Wah jauh sekali, kardes kardes. Dan kamu?” Dia melemparkan pertanyaan yang sama ke arah gadis disampingku.
“Aku dari Rusia, pak.”
“Wah kalian terlihat serasi sekali. Bisa masuk sebentar, aku punya hadiah untuk kalian.”
“Tidak pak, terima kasih.” Aku mencoba menolak tawarannya.
Namun dia bergegas mengajakku masuk. Di dalam toko terpampang banyak sekali bubuk-bubuk herbal dengan berbagai warna dan aroma. Tumbukan rempah yang di pisah sesuai jenis. Beberapa juga sudah ada yang dikemas sedemikian rupa. Lelaki tua yang mengajak kita masuk, meracik sebuah minuman hangat. Aku bisa melihatnya saat dia menuangkan air panas dari ketel yang dijerang hingga mendidih. Dia menuangkan seperempat air panas lalu menambahkannya dengan air dingin. Aku tidak tahu apa saja bahan dan isi yang tercampur dalam gelas. Dia memintaku menunggu 2 menit supaya semua racikannya larut.
“Coba cium dulu aromanya.”
Aku menuruti permintaannya. Gila. Aromanya kuat sekali. Seperti hantaman 2 kilo mentol yang menusuk hidung. Aku bisa merasakan aroma ginseng. Sisanya, aku tidak tahu. Air dalam gelas berearna merah muda bening.
“Coba kamu cium aromanya.” Aku menyodorkan secangkir gelas tabung yang biasa dipakai untuk sajian teh ke arah hidungnya.
“Weew, kuat sekali aromanya.”
“Ya, kalian akan menyukai manfaatnya. Di dalam gelas ini, terdapat bubuk safron asli, beberapa rempah dapur ditambah ginseng. Bisa kalian bayangkan betapa sehatnya kalau meminunnya secara rutin.”
“Ah safron ya, aku pernah mendengarnya. Ini dari Yunani kan?”
“Bukan, ini asli dari perkebunan petani sini saja.”
“Aku juga pernah mendengarnya kalau safron berasal dari Kashmir, dan terdengar sangat mahal.”
“Tidak, ini untukmu gratis, free, teman.” Dia menyajikan satu gelas lagi berisi perasan jeruk ditambah air, lalu menyerahkannya pada gadis di sebelahku yang sedikit agak kebingungan.
Ia menerimanya dengan tangan terbuka. Aku mencicipi air yang dibuat untukku. Rasanya sungguh mengagetkan. Hangat dan dingin mentol yang kuat melewati saluran kerongkonganku dengan sempurna. Bahkan hidungku bisa merasakan ada udara dingin yang kabur melalui lubangnya. Aku menyereputnya seperti biasa aku menyesap secangkir kopi hangat di pagi hari. Rasanya pahit dedaunan. Aromanya harum dan kuat sekali seperti minyak wangi perempuan bordil.
“Mau mencobanya juga?”
“Aku tidak yakin.”
“Aku akan membuatkannya satu lagi untukmu nona.”
“Tidak, terima kasih, pak. Ini terlalu banyak. Anda baik sekali. Tapi terima kasih, biar aku mencoba yang ada di gelasnya saja.”
Ia kemudian meraih gelas tabung di tanganku. Ia menyeruputnya di sudut lain yang bukan bekas bibirku.
“Sepertinya racun dalam tubuhku akan segera luntur dan keluar semua beberapa saat mendatang.” katanya dengan ekspresi muka yang ditekuk kepahitan.
“Percayalah, malam kalian akan menyenangkan setelah meneguk minuman ini.” Si pak tua itu terlihat sedang menggiring kita ke obrolan lain.
“Terima kasih banyak pak, teman kami sudah menunggu di tempat lain. Temanku dan aku izin pergi ya? Terima kasih banyak sekali lagi atas jamuannya. Aku sangat menyukainya.”
“Ah iya, tidak masalah. Aku senang berbagi. Semoga liburan kalian menyenangkan ya, oya jangan lupa, habiskan dulu minumannya.”
“Tentu, punyaku sudah habis. Ini enak sekali.” kata gadis disampingku.
Begitu ia dan aku keluar dari toko obat herbal itu, aku cerita tentang pengalamanku sering sekali mendapat jamuan teh gratis secara mendadak ketika orang bertanya aku berasal dari mana.
“That’s such a privilege.”
“Tapi aku benci mereka.”
“Loh ko malah membenci orang baik.”
“Bukan begitu, aku benci momen ketika aku diajak ngobrol dan aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Dan satu hal lagi, kalaupun aku mengerti, mereka selalu membicarakan perempuan dari negaraku.”
“Serius?”
“Ya, totally serious. Dan itu membuatku malas dan sedikit benci berbicara berbincang dengan mereka.”
“Mau coba eskrim di sebelah sana ga?”
“Why not?”
“Aku tahu lidahmu masih kepahitan karena ramuan ajaib tadi.”
Kita berdua tertawa lepas. Dan sedikit saling tatap. Aku ingat sekali kalimat dari si pak tua tadi. Percayalah, malam kalian akan menyenangkan setelah meneguk minuman ini. Aku paham sekali kemana arah kalimat itu. Aku yakin ia pun paham.
“Yang ini Gelato ala Italia, sebelahnya eskrim asli sini. Kalian bisa mencoba keduanya dalam satu kon.” si mamang pedagang mencoba memberi kemudahan bagi kita dalam
memilih rasa.
Sedang ia, terlihat sedikit bingung memilih yang akan dipesan. Aku langsung menunjuk rasa karamel buatan lokal. Biasanya dengan cepat kupilih gelato rasa vanila ala Italia, tapi sepertinya hal baru perlu kucoba hari ini. Hari cukup panas dan sangat cerah. Beberapa bus tur berdatangan saling sambung menyerupai rangkaian gerbong kereta, didalamnya berisi puluhan pelancong. Toko-toko cinderamata pun terdengar sibuk sekali meladeni tawar menawar pembeli. Tiga ekor unta terlihat menunggu penunggangnya sedang diberi makan oleh tuannya.
“Aku mau yang stoberi saja deh.”
“Tolong jangan ada atraksi saat melayani ya mang.”
Yang kutahu, pedagang eskrim disini selalu menunjukan keahlian mereka untuk membuat pelanggan menjadi kesal. Tangan mereka lihai bak pesulap memutar-mutar pesanan yang sudah jadi. Aku menikmati ketika hal itu terjadi pada orang lain atau anak-anak. Tapi sungguh menyebalkan saat aku sendiri yang mengalaminya. Dan benar saja, ketika aku hendak mengambil kon pesananku, si pedagang iseng membuatnya seolah terjatuh dan membuat aku tidak bisa memegangnya juga sedikit kaget. Sialan. Aku mengumpat dalam hati. Ia tertawa. Aku bisa melihat gigi biji mentimunnya yang rapih itu. Oh manis sekali. Sial lagi. Mata lelakiku tidak terkontrol.
“Terima kasih, selamat menikmati hari kalian.”
suara si mamang ketika aku berhasil menerima eskrimku.
“Kita ke taman disitu yuk?” ajaknya.
“Boleh.”
Sebuah taman yang disediakan untuk menghiasi tempat parkir para pelancong terhampar. Beberapa pohon palem berdiri kokoh tinggi menjulang. Ia dan aku duduk di bangku kosong. Beberapa jenis bebungaan juga nampak mewarnai area luas itu. Sepasang suami istri yang telah berumur separuh abad melewati bangku dimana aku dan ia duduk. Mereka terlihat mesra sekali. Ditambah dengan kemeja musim panas yang serasi dengan daster yang masing-masing mereka kenakan.
“Aneh ya.”
“Apanya nih?”
“Kenapa tadi kamu sok berani nawarin buat motoin aku?”
“Gatau. Aku lihat kamu kaya kesusahan gitu ambil pose dengan pengatur waktu.”
“Oh, kasihan ya. Padahal aku tidak butuh dikasihani.”
“Hmmm.. Bukan gitu.”
“Terus gimana emang?”
“Aku juga bisa rasain apa yang kamu rasain. Aku sering bepergian sendirian. Tidak ada hal lain yang kubawa pulang selain berpose di tempat yang aku kunjungi. Yang mana itu kadang menyusahkan diriku sendiri.”
“Aku setuju denganmu.”
“Nah, itu dia maksudku. Bukan kasihan yang gimana gitu.”
“Anyway, makasih banyak ya. Sepertinya aku beruntung ketemu kamu.”
“Aku yang beruntung. Tidak dikira mau maling atau semacamnya.”
“Oh, jauh juga ya pikiranmu.”
“Itu pikiran terburukku. Seperti aku menaruh investasi pada perusahaan, aku selalu memantau resiko terburuknya terlebih dulu. Jangan salah, bukannya aku selalu berpikir negativ tentang orang, tentu tidak. Aku hanya sedang mencoba menghargai privasi orang.”
“Baguslah kalau begitu. Aku menyukai orang seperti itu. Jangan terlalu percaya diri ya, maksudku aku menyukai orang dengan tindakan sepertimu itu. Itu bagus sekali.”
“Tidak, menurutku hal semacam itu bukanlah masalah besar, hanya semakin hari mungkin semakin berkurang saja yang melakukannya, tahu sendiri hari-hari semakin susah, orang-orang hanya sibuk menjadi pahlawan bagi diri mereka sendiri belakangan.”
“Termasuk kamu juga ya?”
“Mungkin saja, tidak menutup kemungkinan. Aku juga manusia biasa ini.”
“Apa aku juga termasuk ya?”
“Secara tidak sadar semua manusia berada di titik itu kadang.”
“Iya, bener juga.”
“Hei, daritadi aku mengambil posemu sendirian dan sebaliknya, boleh ga kalo kita berpose berdua? Mumpung eskrim ini masih dingin.”
“Boleh dong.”
Aku mengeluarkan gawaiku dari saku celana, ia juga mengeluarkan gawainya dari tas kecil anyaman. Pertama menggunakan gawaiku, kita berpose tidak lebih dari empat kali, lalu ia meminta menggunakan gawainya. Setelah beberapa bidikan dan terasa sudah cukup, kita kembali menaruh gawai masing-masing ke tempat awal tanpa melihat hasil jepretan barusan. Yang jelas potret kita berdua terlihat segar dengan sebuah eskrim masing-masing di tangan kita.
“Sudah pergi kemana aja nih sejauh ini?”
“Siapa? Aku?”
“Memang aku lagi ngobrol sama orang lain selain kamu ya?”
“Eh engga sih.” Aku kehilangan fokus saat beberapa saat yang lalu melihatnya senyuman lain di raut wajahnya.
“Jadi sudah kemana aja, cerita dong.”
“Kemana ya, ke India, Hong Kong, Singapur dan sekarang disini.”
“Kereen.!!!” suaranya bernada penuh kekaguman.
“Ah tidak juga. Semua orang bisa melakukannya.”
“Selalu ketemu stranger?”
“Pasti! Di setiap tempat baru, aku selalu bertemu orang asing.”
“Maksudku, yang sepertiku ini, kita ngobrol hingga sekian lama dalam sekali perjumpaan gitu.”
“Oh, tidak. Saat ke negara-negara tadi aku pergi berdua dengan seorang Jerman. Jadi aku menghabiskan seluruh waktuku bersamanya.”
“Apa dia semacam pacarmu?”
“Bukan. Kami teman dekat. Dekat sekali hingga beberapa temanku mempunyai gagasan sepertimu barusan.”
“Pasti seru sekali ya bisa bepergian dengan orang terdekat.”
“Paling tidak saat kamu kena diare, kamu ada yang ngurusin.”
“Aku berani bertaruh, pasti hal itu terjadi saat kalian di India kan?”
“Yap betul. Tapi bukan berarti makanan mereka tidak higienis dan buruk ya, ini hanya soal perutku saja yang kaget, mungkin. Bagaimana denganmu, sudah kemana saja?”
“Aku?”
“Iya, mau ngobrol sama mamang eskrim disana juga sudah males.”
“Ahaha. Aku baru ke kota kecil di sudut lain Amerika yang penuh sesak itu, lalu ke beberapa negara Eropa.”
“Pasti menyenangkan sekali ya.” balasku dengan sedikit nada iri.
“Tidak juga. Aku melalui 5 tahunku di negeri paman Sam dengan penuh stres. Setiap jam setiap harinya aku harus membuka buku dan kamus. Bayangkan saja, seorang gadis kecil beranjak remaja di lempar ke sebuah negeri antah berantah dengan bermodalkan kemampuan bahasa tidak sampai 10 persen.”
“Tapi kamu bisa melewatinya kan, buktinya hari ini bisa sampai disini.”
“Iya, setelah itu aku menyadari bahwa hal berat yang kita lalui bukanlah sesuatu yang bisa membunuh, justru menguatkan.”
“Kamu sedang menikmati buah hasil usaha kerasmu itu sekarang.”
“Buktinya?”
“Ya buktinya, kita berdua sama-sama orang asing, tapi bisa bicara dalam satu bahasa dan saling mengerti satu sama lain tanpa kendala, benar kan?”
“Segitunya ya pemikiranmu. Salut!”
“Ah biasa saja, tidak perlu melebihkan seperti itu. Mau lanjut jalan bareng ke tempat lain ga?”
“Sure, sudah tentu! Bukan ide yang buruk.”
“Tidak masalah kan kalau sedikit tersesat?”
“Tersesat ke Venus pun aku siap.”
“Ngawur.”
Kita berdiri beranjak dari bangku taman. Trotoar pejalan ramai sekali dipenuhi pelancong dari berbagai negeri. Wabah yang sedang merebak dimana-mana sepertinya tidak hadir disini.
Komentar
Posting Komentar