“Hei kamu ga boleh memetiknya sembarangan gitu. Itu kejahatan! Kaya orang ga berpendidikan aja nih. Gimana kalau yang punya tahu dan marah padamu.”
Entah disenggol setan apa, aku lancang mengambil setangkai mawar putih di tepi jalan, yang sedikit didekap debu. Lalu menyerahkan kepada perempuan yang sedang berjalan di sampingku. Dan dia malah mengoceh, bukannya senang. Sialan memang perempuan. Sukar di tebak. Padahal bunga yang kupetik indah betul, biar salah satu jariku jadi korban durinya. Bukankah tumbuhan cantik ini ciptaan tuhan dan aku perlu berbagi kepada sesama biar guna bahagia. Ketika aku melakukannya malah aku kena semprot ocehan. Sungguh memang aneh kehidupan. Niatku hanya ingin membuatnya senang. Mana siang ini panasnya kurang ajar sekali.
“Hanya dimarahi? Sepertinya itu lebih baik daripada aku membiarkan perempuan di sampingku murung sepanjang waktu dari pagi ini.”
Sedikit senyum pelit keluar dari wajah yang dengan sengaja dia palingkan dariku. Aku tahu dia menyembunyikan senyuman itu. Tidak lama setelah itu dia memukul bahuku pelan. Kemejaku sedikit ketarik jarinya cerahnya.
“Tolong jangan katakan kamu menyukaiku, atau aku akan membencimu seumur hidupku.”
“Tidak. Aku tidak akan menyukaimu sama sekali. Enak saja. Bagaimana bisa aku menyukai orang sepertimu. Tidak akan mungkin. Lagian ini mawar putih. Ingat itu. Aku hanya.. aku hanya benar-benar mulai menyukaimu.” Sebagian kalimat terakhir hanya mampu terucap di dalam hati pengecutku setelah bibirku secara otomatis berhenti tanpa diminta. Hei, aku diam-diam mulai menyukai perangai dan sikapnya.
“Hanya apa?” Dia melemparkan tatapan mata penuh intimidasi setelah mengajukan pertanyaan di kalimatnya.
“Hanya lapar saja.” Sedikit tertawa dibuat-buat sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
“Jangan alasan! Aku takut kamu nanti menyesal.” Dengan nada percaya diri tinggi.
“Kok bisa?”
“Kalau aku pergi dan ngilang dari hidup kamu. Kamu pasti bakal menyesal sudah pernah mengenal perempuan macam aku. Aku ga mau bikin orang susah.”
“Sok tahu. Kenal aku aja belum, sok bisa baca pikiranku!”
Angin pantai berhembus. Beberapa pelancong dengan pakaian musim panas berjalan kaki berombongan. Ada yang mengenakan topi anyaman dengan kain syal, ada yang mengenakan kolor pendek dipadu sandal. Dia dan aku menemukan ruang untuk duduk di tepi pantai ketika jalan gang benar-benar habis. Kita memilih berteduh pada bayangan sebuah pohon besar. Dia dan aku duduk seadanya. Kita berempat, di tangannya dan tanganku masing-masing memegang sekaleng jus buah tropis. Cocok untuk disandingkan saat musim panas hadir.
“Kamu ga cape jalan jauh terus gini tiap hari nemenin aku?” ucapnya.
“Kamu ga cape lari dari kenyataan terus?” balasku.
“Kamu tahu kan aku bukan pintu otomatis hotel atau pusat perbelanjaan.”
“Iya iya. Ya biar sedikit, aku sudah paham tentang itu.”
Dia duduk di sebelah kananku, menatap laut. Aku disebelah lainnya, juga memandang laut. Gradasi biru langit dan perairan membentuk sebuah garis hubung yang agung. Kilau cahaya matahari menyerupai bongkahan berlian kecil yang mengapung. Meski cuaca sangat panas, udara terasa segar ketika kita berdua sampai disana. Tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku menatap ke arahnya sebentar. Kubenahi rambutnya yang mengganggu pipi dan telingaku. Dia mengenakan kain piyama putih transparan dengan daleman pakaian renang musim panas berwarna hijau pelepah pisang muda. Kulit cerahnya nampak nyala meski terkena bayangan pohon besar. Kedua ujung jari kaki kita telanjang dan saling beradu. Suasana pantai ramai sekali. Tak ada orang bermain papan selancar, hanya beberapa perahu kecil beserta tuannya dan anak-anak berenang di tepian. Sebuah perahu berkecepatan tinggi menarik sebuah tali yang diatasnya terdapat parasut besar dan dua pasang manusia. Beberapa lainnya sibuk berjemur sambil mengobrol dengan rekannya. Suara ombak berdebur berirama pelan. Sesekali diselingi suara camar dan burung-burung kecil.
“Masalahmu pasti berat sekali ya.” setelah berselang beberapa saat kita saling diam menikmati pemandangan sekeliling.
“Berat sekali. Apalagi sekarang.”
“Jangan gitu dong, kan aku bukan dugong.”
“Heh, kepedean. Siapa juga yang bilang kamu dugong. Segitu slimnya juga.” Aku keceplosan memberinya sedikit pujian pada bentuk fisiknya.
“Mulai deh.”
Tangannya meraih pinggangku.
“Sebenarnya kerjaanmu apa sih?”
Aku masih diam menikmati keadaan yang sedang terjadi.
“Eh aku boleh nanya gitu ga sih ke kamu?”
“Nanya apa?”
“Kaaan.. kamu ni lagi ada temennya juga melamun terus. Kenapa si?”
“Aku lagi fokus nikmatin pemandangan barusan. Lihat tuh, anak kecil yang tadi lari lewat depan kita jatuh, untung ibunya sigap, jadi ga sempet nangis.” Sial ini aku ngarang bebas secara instan.
“Masa iya?”
“Tuh kan kamu ga merhatiin keadaan sekitar si.”
“Iya, daritadi aku cuma merhatiin kamu aja si.”
“Halaah.”
Aku mencoba menarik bagian pipinya yang menggemaskan itu dengan jari, namun gagal. Aku malah meraih sedikit rambut di dahinya, kemudian langsung kulepas sebelum kutarik terus membuatnya kesakitan. Dia meledekku dengan mencubit bagian perut yang sedari tadi dalam dekapan tangannya. Sontak membuatku kaget. Malah-malah tak sengaja aku menandaskan bibirku di dahinya ketika mencoba menggagalkan rencana awalku mencubit pipinya. Dan entahlah. Waktu seperti berhenti sesaat. Aku merasa tangannya sengaja kembali mendekapku. Seperti sebuah pelukan. Dan ya, sebuah pelukan. Aku ingin menarik diri saat itu juga tapi sepertinya sudah terlambat. Aku tidak bisa menolak. Dia malah mendekapku lebih kencang. Payudaranya yang kenyal menekan dadaku. Aku bisa merasakan hangatnya dengan jelas. Aku sudah melepas ciuman tak sengajaku itu beberapa detik lalu. Tapi aku justru malah mendekatkan diri dengan memeluknya kembali. Aku sedikit bergerak, membuat posisi duduk yang agak nyaman. Eh sial. Aku bisa merasakan detak jantungnya. Atau ini detak jantungku sendiri. Cepat sekali. Ya, aroma parfum tubuhnya jelas sekali menusuk indera penciumanku. Sungguh nyaman sekali. Jarum jam seolah benar-benar berhenti. Aku tidak bisa mendengar lalu lalang orang maupun suasana sekitar. Padahal angin berhembus sedikit lebih kencang. Beberapa burung juga masih sibuk berkicau. Suara-suara itu seolah dipelankan sesuatu sehingga telingaku mati rasa. Tangannya mengusap punggungku. Menepukku. Aku mundurkan wajahku. Dia melonggarkan dekapannya. Aku berhenti tepat memandang bulat ke arah wajahnya. Kita bertatapan mata. Dan saling tersenyum. Kedua tangannya masih memegang sekitar area pinggangku.
“Apa hari ini akan ada pertanyaan aneh lagi?” tanyaku.
“Misalnya?”
“Kenapa orang-orang selalu meributkan tuhan dibalik agama?”
“Ah terlalu serius, sepertinya aku tak minat bertanya dengan kalimat seperti itu. Aku tadi sempat penasaran dengan pekerjaanmu, itu juga kalau kamu mau cerita soal kesibukanmu.”
“Hmmm… Aku,” aku seperti menemukan sedikit hambatan untuk menjawab pertanyaannya. Mukaku mendadak terlihat serius, meski aku membuatnya tetap santai juga.
“Kamu tidak perlu menjawabnya kalau itu membuatmu tidak nyaman. Tidak apa, aku hanya penasaran ingin bertanya, tidak perlu jawaban juga ko.”
“Kerjaanku banyak, salah satunya aku jadi cleaning service.” Aku sedikit memberanikan diri
“Bukan pekerjaan yang buruk.”
“Tunggu dulu. Bukan pekerjaan itu yang aku maksud.”
“Lalu???”
“Sedikit rumit untuk diceritakan. Tapi akan kuberi tahu detailnya saja ya.”
“Kalau itu privasimu, sebaiknya tidak usah diteruskan.”
“Ngga apa-apa.”
Jari kakinya menggoda jari kakiku. Kini dia menaruh kepalanya di dekat perutku, melepas dekapan tangannya lalu mengambil posisi tidur. Dia memindahkan kakinya ke arah lain. Sehingga kepalanya tepat direbahkan di paha kiriku. Kuletakkan tangan kiriku di lehernya dan tangan lainnya di rambutnya. Dia menaruh tatapannya ke arah mukaku. Aku tidak mempedulikannya. Sungguh dia terlihat manis sekali dari jarak sekian senti ini. Sepertinya satu mili pun sangat berharga untuk dilewatkan. Tapi aku tidak peduli. Sok tidak peduli lebih tepatnya.
“Intinya..” aku memberi jeda agar tak terlalu tenggelam dalam suasana asing yang “intim” ini. Sebenarnya aku pernah mengalaminya, tapi tak pernah di situasi-situasi belakangan ini.
“Intinya apa?”
“Jadi, kerjaanku itu membantu orang, khususnya perempuan yang kurang lebih dalam posisi sepertimu ini, supaya beranjak dari kenangan yang baru saja dialaminya. Aku tidak mengajaknya untuk melupakan kenangan itu. Karena kupikir dia bisa belajar banyak darisana.”
“Maksudmu kamu membantu seseorang lepas dari masa lalunya.”
“Tidak seperti itu juga. Masa lalu tetap bersamanya sampai kapanpun. Tak ada yang bisa melepasnya. Aku hanya membantu memberinya sedikit tumpukan kenangan baru, yang sebenarnya juga belum tentu baik baginya sebenernya.”
“Apa yang kamu lakukan?”
“Mendengar lebih banyak dari biasanya, sudah itu saja. Menjadi teman terdekatnya. Pura-pura menjadi teman terdekatnya. Paling banter aku traktir ngopi.”
“Terdengar seperti pekerjaan yang rumit.”
“Sangat rumit.”
“Ya, hari-hari belakangan susah sekali bisa menemukan orang yang bisa mendengar lebih banyak. Bahkan keluarga sendiri. Gimana kamu bisa melakukan hal itu?”
“Aku… gimana ya.. hmmm.”
“Ada semacam kursus? belajar psikologi?”
“Itu terlalu rumit, aku sudah malas belajar. Kurang lebih, aku meniru Einsten, menelan lebih banyak kesabaran. Mungkin itu si kuncinya.”
Dia tertawa lepas sekali sambil menutup mukanya. Kakinya ditekuk membentuk segitiga.
“Ada yang lucu ya?”
“Ga ada, cuma kamu barusan menggemaskan sekali sih.”
Kuraih kaleng jus di sebelah kananku, lalu kuberi hadiah bibirku cairan di dalamnya. Mulutku yang kering berasa kembali diguyur sejuk. Tenggorokan kembali segar. Tegukan suaranya begitu nyaring terdengar.
“Kamu banyak ngoceh si jadi haus banget kan.”
“Aku selalu haus sekalipun minum banyak.”
“Ya kamu kan ga pernah puas orangnya.”
Komentar
Posting Komentar