Langsung ke konten utama

Bersepeda

Aku meneguk air di gelas yang diletakan di meja, yang memang sudah kusiapkan dari semalam di dekat kasur. Aku masih dalam posisi bangun tidur. Sedangkan dia sudah segar dan siap menaklukan dunia seisinya.


“Nyari sewaan sepeda yuk.” ajaknya.


“Ah? Apa?”


“Nyari sewaan sepeda. Aku pengen gowes nih keliling tepian laut. Kamu mau nemenin ga?”


“Boleh, tapi belum mandi nih.”


“Udah ayo ah, kaya sama siapa aja.”


Pagi itu matahari baru nampak betul. Namun cahayanya sudah terangi jagat. Kita berhasil menemukan sewaan sepeda yang sudah buka. Niatnya hanya sewa satu saja, kita berboncengan tapi rencana itu urung dilakukan. Jadi dia menyewa satu untuknya, aku menyewa satu untuk diriku sendiri. Lokasinya tidak jauh dari tempat kita menginap. Ketika sepeda sudah dikayuh hampir seratus meter dari tempat awalnya, sepeda yang dia kendarai hilang kendali. Hal itu terjadi sesaat setelah dia menyalipku dengan kecepatan tinggi. Alhasil, hampir membuatnya terjatuh. Untung saja dia lumayan cekatan. Jalanan trotoar masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang sudah berjemur di tepi pantai. Beberapa menyaksikan kejadian itu dari jauh. Aku yang di belakangnya langsung aja menjatuhkan sepedaku dan berlari ke arahnya. Topi yang dia kenakan hampir lepas diterpa deru angin dan dia mencoba menjangkaunya supaya tidak lepas. Sayangnya justru dia kehilangan keseimbangan. Syukurlah, dia baik-baik saja. 


“Aku gapapa ko.”


“Bikin khawatir saja.”


Pagi itu dia terlihat manis sekali. Kemeja putih, celana pendek berwarna jeruk kuning tuabuatan Itali dipadu sneaker krim, topi anyaman dan tas jinjing kecil rajutan etnis ikut menemani harinya. 


“Hei, bisakah kita sedikit berjarak? Kurasa, aku mulai menyukai apa yang ada padamu. Musik yang kamu putar, aku juga menyukainya. Aroma yang kamu semprotkan di pakaianmu, aku juga mulai nyaman dengannya. Dan obrolan yang kita lakukan, sepertinya sudah membawaku ke titik lebih jauh lagi. Aku juga ga ngerti kenapa bisa begini. Hanya saja, memang tetap harus ada jarak diantara kita.” Dia menoleh sesaat kepadaku, sembari terus mengayuh dan fokus dengan kayuhan sepedanya yang lain setelah insiden kecil barusan.


“Ini sungguh menyebalkan dan aku mulai takut.” tambahnya lagi.


“Maksudmu?” aku penasaran dengan apa yang sedang dia bahas.


“Ya begini, aku barusan belajar satu hal kecil.”


“Hmm sepertinya serius nih.”


Dia mengayuh sepeda dengan pelan dan hati-hati kali ini. Ketika jalanan sepi, dia berada disampingku. Berjarak tiga sampai empat jengkal jari. Begitu trotoar jalanan sedikit lebih ramai, dia berada di depanku. Aku sengaja mengalah. Dan mendapat kesempatan memperhatikannya dari belakang. 


“Tadi kamu lihat sendiri kan, saat aku mencoba mengayuh sepeda mendekatimu, aku hampir jatuh?”


“Iya, apa hubungannya?”


“Aku jadi mikir gini, kalau aku semakin dekat denganmu, aku takut salah satu diantara kita bakal saling menyenggol hingga terjatuh dan terluka, atau bahkan kita berdua bisa sama-smaa terluka.”


“Jatuh dari sepeda saja mah tidak apa-apa, paling luka kecil. Aku sudah mengalaminya beberapa kali ko, tenang aja. Tapi kalau kamu yang jatuh, baru aku bisa kerepotan.” ucapku dengan nada datar dan belum nengerti apa yang dia bicarakan sebenarnya.


“Kamu belum mengerti juga rupanya ya.”


“Ya makanya jelasin dong biar aku ngerti.”


Angin dari arah laut berhembus makin kencang. Sengatan matahari juga lumayan bikin gosong kulit meski masih pagi benar. Beberapa karyawan hotel sedang sibuk membersihkan jalanan ke arah ruang privat tamunya. Mereka menyapa kita. Kita membalas seadanya sembari terus melanjutkan perjalanan ke arah pelabuhan. 


“Aku merasa semakin hari kita semakin dekat. Maksudku, ada sesuatu yang sedikit sulit dijelaskan namun aku tidak bisa menghindar darinya. Semacam perasaan suka, kagum dan sebagainya. Aku sulit sekali menyebutkannya. Aku mencoba menemukan kata yang tepat, tapi sepertinya perbendaharaan kataku soal ini payah sekali. Jadi, bila dirangkum dengan sederhana, singkatnya, aku mulai menyukaimu tapi aku tak yakin kamu juga menyukaiku. Kita sama-sama orang asing, dan tak tahu banyak satu sama lain. Bahkan akan tetap akan menjadi orang asing setelah kita kembali ke tempat asal kita.”


Aku tidak bisa menangkap semua perkataannya. Aku terlalu fokus dengan kendaraan yang sedang kukayuh. Dimana jalanan juga terlihat sedikit ramai, jadi aku menjaga jarak saat dia berbicara. Seperti sebelumnya, aku mengalah berada di belakangnya. Pelabuhan sudah nampak. Beberapa pohon palem berdiri berjejer do salah satu sudutnya.


“Aku masih belum mengerti apa yang sedang kamu bicarakan, bisakah kita istirahat dan duduk dulu disana.” telunjuk tangan kiriku memberi sebuah petunjuk arah dimana aku ingin istirahat.


“Ayo kita kesana.” dia menyetujuiku.


Kapal-kapal wisata milik nelayan setempat berjejer di sandar dermaga. Beberapa di modifikasi menjadi restoran apung nan mewah, beberapa dibuat menjadi tempat pesta dan hiburan malam, beberapa lagi dibuat untuk tur pribadi. Dia dan aku duduk di bawah jatuhnya bayangan pohon palem. Aku mengambil sebotol kecil air mineral di saku celanaku. Aku benar-benar tak ingat apa saja yang baru dibicarakan dia saat mengayuh sepeda beberapa saat yang lalu. Aku melihat keringat menetes di pipi sebelah kirinya sesaat setelah kembali menutup botol mungil ditanganku. Dia juga sedang meneguk air mineral dari botol yang ukuran yang sama denganku. Kita berdua duduk menghadap laut. Angin yang berhembus membuat hawa sedikit sejuk meskipun suhu udara masih jelas terasa panas sekali. 


“Jadi menurutmu gimana?” Dia seolah menagih sesuatu padaku.


“Apanya?”


“Ah sudah, lupakan saja lah. Nanti kita bicara soal ini lagi saat momennya pas.”


“Segini momennya bagusnya juga.” Jariku sambil berusaha mencoba mengacak-acak rambutnya, malah kulakuian yang sebaliknya.


Sebuah kapal besar menyerupai kapal bajak laut memberi suguhan pandangan yang tak biasa. Duduk di rerumputan yang meranggas kecoklatan, kita menyaksikan puluhan orang memenuhi kapal berwarna hitam itu. Satu dua orang melakukan percobaan lompatan ke laut, dan berhasil. 


“Yang jelas, aku sangat berterima kasih padamu.” ucapnya.


“Ah untuk apa lagi nih? Kayanya aku ga melakukan apa-apa yang membantumu deh.” aku tidak paham lagi apa yang sedang dia bicarakan.


“Pokoknya terima kasih saja.” Dia menarik telapak tanganku dan menaruh jemarinya pda sela-sela jemariku. 


Aku menyukaimu.”


Aku mendengar sebuah kalimat, tapi entah darimana datangnya kalimat itu. Kulihat gadis disampingku tak berucap apapun. Kupikir tadi aku salah mendengarnya, hanya angin laut saja yang menghampiri pendengaranku. Beberapa orang juga duduk tidak jauh dari tempat kita berdua, jadi kukira mungkin itu salah satu suara dari mereka. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...