Langsung ke konten utama

Dua Ikan Kecil Terdampar

Matahari belum benar-benar terbenam. Nampak jingganya masih berpadu biru cerah. Kain gordyn menari-nari dikibas angin genit di dekat daun jendela.

 

“Mau ikut aku ga?” ajaknya.

 

“Kemana?” balasku.

 

“Ke laut yuk, renang malam-malam, kapan lagi kita mandi di tempat dimana Aphrodit juga pernah mandi.”

 

“Sama saja asin ini rasanya, ga beda jauh dengan laut di rumahku. Nanti kamu coba berenang di tempatku saja. Ada cerita tersendiri juga disana..”

 

“Ayo sih! Aku maunya disini sekarang.” ajaknya seperti rengek anak kecil.

 

“Aku sudah cukup kenyang berenang di laut. Sudah kubilang kan kalau rumahku tidak sampai tiga kilo ke bibir pantai?”

 

Dia mendekatkan wajahnya ke arahku yang sedang duduk dekat jendela. Aku bisa mencium dengan jelas aroma tubuhnya yang dibaluri lotion delima. “Kapan lagi kamu bisa berenang sama aku!?”

 

Malam di musim panas tidak terlalu gelap disini. Matahari baru terbenam sekitar pukul delapan lebih. Masih bisa untuk dinikmati untuk berkegiatan di luar. Tapi untuk berenang, ini adalah waktu yang singkat. Gelap segera datang dengan cepat. 

 

“Harusnya kamu bilang kapan lagi aku bisa berenang sama kamu. Baru aku mau.”

 

“Huh kamu mah! Ayo sih!” dia membalas dengan sedikit gengsinya mencoba menghindari permintaanku.

 

“Aku ga begitu bisa berenang, jadi kalau tenggelam, kan ada yang nolongin.” imbuhnya sambil merayu.

 

“Kaya aku jago berenang aja, sotoy nih!”

 

“Ya kita cari tempat yang dangkal saja.”

 

“Sudah kubilang, aku ga jago berenang juga, apalagi di laut, yang ada ombaknya.”

 

Kita pergi ke bibir pantai, akhirnya aku menyetujuinya, menyusuri tapak pasir halus. Dari sudut ini, deret lampu restoran dan hotel menghiasi pemandangan. Tak luput, pelancong pun berjejalan memenuhi trotoar jalan, hitam kecil bak gerombolan semut. Suasana di kolam laut pun tidak kalah ramai. Masih banyak orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk sekadar berendam. Begitu pulalah yang kita lakukan. Dia begitu antusias begitu menemukan bangku sandar kosong, melepaskan kemeja, celana dan hanya menyisakan pakaian dalamnya, pakaian renang, lalu menarikku ke bagian laut agak buruburu sambil sedikit berlari. Ombak sore menjelang malam tidak begitu besar, namun cukup menghanyutkan tubuh manusia mungil seperti kita. Dia membenamkan dirinya bersama air seperti seekor ikan. Aku di belakangnya mengikuti aksinya. Dia membawaku semakin ke tengah, lalu berhenti dan berdiri, hingga ketinggian air sampai menyentuh lehernya. Dia cukup pandai berenang. Aku tertinggal beberapa kayuhan di belakangnya, dan ketika berhenti, kita baru menyadari bahwa kita sampai di tempat yang terlalu dalam untuk seukuran ombak malam ini. Sial. Inimah aku yang kelimpungan. Untung saja aku masih bisa mengatasi rasa panikku. 

 

“Hei, ini terlalu dalam, bisa kita menepi sedikit?” aku sedikit protes.

 

Cukup berbahaya berenang di petang hari dengan kedalaman seleher untuk perenang amatir. Matahari baru saja terbenam. Gelapnya hari membuatku sedikit was-was. Tidak lama, kita bergeser menepi, dia setuju padaku, hingga ke kedalaman sedadaku. Masih terlalu dalam untuknya, tapi dia kekeh untuk tetap disitu. Dia menghampiriku, dari jarak yang tidak begitu jauh, hanya satu kayuh tangan. 

 

“Disini nyaman sekali.”

 

“Nyaman apanya, deg-degan iya.”

 

Ombak cukup besar menggulung kita berdua. Dia sempat terbenam sebentar dan saat keluar dari air, dia batuk-batuk. Dia tak sengaja tersedak air yang datang tiba-tiba. Adegan itu hanya berlangsung sebentar. 

 

“Seru sekali!” dia menyibakkan air ke wajahku dengan cerianya.

 

Air laut terasa hangat. Benar, seru dan seru sekali. Dari jarak sedekat itu, aku membalas menyibakkan air ke mukanya. 

 

“Aww… perih sekali.” Dia menutup mata menggunakan tangannya. 

 

Sepertinya cipratan air mengenai kelopak matanya. Sial. Gelombang kepanikan lain menghampiriku. Aku bergegas mendekat dan mencoba melihat apa yang terjadi pada kelopak matanya. 

 

“Aku ga papa ko. Cuma kena air saja dikit. Tahu sendiri air garam kan, jadi perih.”

 

Untunglah, benar katanya, semua baik-baik saja. Tidak lama setelah itu dia sudah bisa tertawa kembali. Aku merasa seperti habis dikerjai. 

 

Satu ikan kotor tidak bisa merusak semua ekosistem di laut, kamu setuju ga dengan pernyataan itu?”

 

“Memang ikan kotor yang sedang kamu bicarakan itu seperti apa?” 

 

“Bantu jawab saja dulu.”

 

“Hmmm.. baiklah baiklah. Gini, kalau menurutku, ikan bangkai saja masih bisa berguna bagi ikan lainnya. Apalagi cuma kotor, mana mungkin merusak, iya kan?”

 

Aku dan dia berendam berdiri berhadapan. Berpelukan. Di pinggir laut hangat Mediterania. Membuat kedekatan kita juga menjadi semakin hangat. Aku meraih pinggulnya dan memegangnya. Tanganya merengkuh pinggulku. Aku bisa mendengar dengan jelas pembicaraan kita berdua di sore itu.

 

“Kenapa kamu nanya seperti itu?” tanyaku pelan.

 

“Ga ada, cuma sempat kepikiran saja, kalau kita ini, manusia, ga beda jauh sama ikan-ikan di laut, ada yang juga memakan sesamanya sesukanya, bahkan ketika belum benar menjadi bangkai. Iya kan?”

 

“Iya sama seperti ikan, berenang mengarungi kedalaman yang kadang ternyata tidak dalam dan kuharap kita berdua cukup dengan hanya menjadi ikan kecil yang tak saling memangsa satu sama lain, setuju?

 

“Kuharap! Jadi ikan yang menggemaskan saja cukup ya?”

 

“Jadi ikan kecil kan ga buruk-buruk amat, ga sedikit kan yang jadi penghias kehidupan orang lain kan?”

 

“Eh tapi ikan kecil juga ga sedikit yang buas loh. Di pedalaman Amazon kan banyak tuh.”

 

“Ya, benar. Kan ukuran ga jadi soal. Yang jadi soal ya gimana cara kita berpikir terbuka dan luas di dunia yang kecil dan sempit ini.”

 

“Setuju, itu kayanya yang bikin aku bisa bertahan selama ini sama kamu deh. Meski hanya sekali ketemu. Makanya sudah kubilang, jangan sampai bikin aku kagum. Nanti repot sendiri aku. Entah semesta ada maksud apa mempertemukan kita dari sekian banyak orang disana waktu itu ya?”

 

“Mana kutahu, lagian kamu si mau aja baru ketemu langsung ngajakin tinggal bareng.”

 

“Ya itu, aku sendiri juga ga habis pikir, kenapa bisa, kenapa kamu. Selalu muncul pertanyaan itu pas aku bangun tidur. Dan sepertinya aku mulai takut kalau aku bangun, kamu ga ada disisiku. Hal itu akan jadi pertanyaan sulit lain yang gabisa kujawab.”

 

“Kamu ngomong apa sih?”

 

“Ngomongin kamu lah.”

 

“Dulu Aphrodit sama Ares pernah diam-diam berendam bareng disini ga ya?” aku mencoba mengalihkan obrolan.


“Mungkin saja, kasihan dia. Harus berburu pasangan ideal yang tak pernah mampu dia dapatkan sepanjang hidupnya. Dia terlalu sombong dengan kecantikannya, kurasa.”

 

“Bisa jadi, aku sedikit setuju soal itu.”

 

“Semua orang bisa memproduksi buah hati, tapi tak semua orang bisa memelihara akar pohonnya.”

 

“Termasuk kamu?”

 

“Termasuk kamu juga lah.”

 

Berdua kita tertawa berhadapan. Susunan gigi serupa biji mentimun ditata rapi juga seringai manisnya tepat mengenai fokus pandanganku. Merusak semua yang kupikirkan seketika itu juga. Tak ada apapun di kepalaku, selain senyumannya. Seperti ribuan bulir kafein meledak tepat di arteri jantung. Aku membelai rambutnya yang basah. 

 

“Tak diragukan lagi. Memang begitu. Bayi yang lahir dari kasih sayang saja begitu tumbuh menjadi manusia dengan fisik besar bisa saling mengokang senjata kan untuk menghabisi bayi lain.” ucapku sedikit serius.


Ya, meski ikan kecil, tak semestinya kita takut untuk hidup di kedalaman yang besar. Bukankah ukuran harusnya tidak menjadi suatu penghalang. Bukankah si mungil menggemaskan Nemo juga bisa bertahan. Tak perlu menjadi si gigi besar seperti Hiu, harmoni tetaplah harmoni seberapapun ukurannya. Terberkatilah kalian para penghias dunia. Lalu beranikah kita aku, si ikan kecil itu, berenang lebih dalam lagi lebih jauh lagi ke paling hatimu. Mengarungi samudra menghadapi berbagai hantaman batu karang. Sial. Gelombang besar lainnya di dalam dadaku menghantam dengan keras dan tiba-tiba. Aku masih sulit untuk mengakuinya. Sejauh ini, yang kutahu, aku menikmati setiap momen bersamanya. Dan hal sulit lainnya ialah, aku takut ketika terbangun dari tidur tanpa ada hadirnya disampingku. Aku akan sangat didera kerinduan kalau hal itu terjadi. Kita berpelukan seperti dua orang yang sedang akan berpisah untuk waktu yang sangat lama, seperti dua orang di lobbi bandara. Agak lama. Layaknya ditemani musik pelan sebuah pesta pernikahan. Tapi justru yang teringat dan melintas dipikiranku malah sebuah lirik lagu Avril dengan versi akustik.

 

Won’t you take me by the hand? 

Take me somewhere new

I don’t know you are

But 

I’m with you…

 

Malam itu kita terhanyut oleh gelombang lain. Gelombang yang entah darimana datangnya. Gelombang yang mungkin hanya kita berdua yang mampu merasakannya. Dua ikan kecil di tepian pantai bersama dekapan senja. Hari benar-benar sudah petang tanpa terasa. Entah juga akan ke samudra mana setelah ini dua ikan kecil itu berenang. Mereka sepertinya menikmati menjadi makhluk yang hanyut terbawa arus kemanapun.

 

Kita menghabiskan kurang lebih satu jam berendam di tempat dimana dulu Aphrodit dan dewadewi Yunani lain pernah berendam. Pulangnya, ada kejadian seorang pelancong lokal yang mabok berat. Terjadi sebuah keributan di tengah trotoar pejalan. Kita berhenti sejenak. Mau tidak mau menyaksikan adegan menyebalkan. Salah seorang kawannya mencoba membawanya kembali ke penginapan mereka. Hanya saja yang mabuk menolak. Seseorang lain mencoba berbicara dengan keduanya, untuk segera menepi ke bahu jalan. Keadaan mereka yang kacau membuat pejalan lain terganggu. Hanya saja, seseorang yang mencoba menengahi tersebut membuat suasana semakin gaduh. Adu mulut semakin membesar. Cekcok membahana. Begitu ada kesempatan untuk melewati jalan yang sesak itu, kita bergegas mengambil celah itu.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...