Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi pada diriku hari ini, apalagi besok-besok. Yang kutahu, hari ini adalah pernikahan seorang teman dekatku. Hari ini juga, ketika baru bangun tidur, aku mendengar kabar salah satu temanku yang lain kehilangan salah satu orang tuanya. Temanku tidak banyak. Jadi, begitu mendengar kabar-kabar seperti itu, aku bisa senang sekali atau sedih sekali. Bukan aku tidak bisa bersosialisasi, hanya saja memang aku menjaga pertemanan yang minim itu biar tetap berkualitas. Soal teman kerja, aku punya banyak. Tapi ya sebatas teman kerja, tentu porsi treatmentnya beda. Disana aku hanya berteman sebatas kadar kemampuan dan kontribusiku saja. Walau tidak menutup kemungkinan ada yang sampai seperti keluarga juga, hanya satu dua paling, bisa dihitung dengan jari. Sebenarnya hari ini aneh sekali.
Malam yang hangat. Setelah seharian keliling ke beberapa tempat. Hari yang melelahkan namun tetap indah namun sedikit aneh. Dua kabar serupa koin. Bersebelahan dan kontras sekali. Di trotoar pejalan, masih ramai dikkerubungi orang-orang. Aku dapat melihatnya dari kaca jendela penginapan. Ya, kita tinggal di lantai atas, jadi bisa mendapat sedikit lebih banyak sudut pemandangan dari sini. Aku memegang secangkir kopi yang tinggal tandas beberapa sesap lagi. Beberapa seri film drama juga baru saja kita tanggalkan. Sebuah rangkaian alur yang melelahkan. Drama, romansa dan aksi sikopat. Adrenalinku belum beranjak dari suasana latarnya. Angin dari arah laut menerobos masuk daun jendela yang tidak sepenuhnya terbuka dan membuat kain penutupnya menari-nari liar.
“Ah cukup menguras tenaga ya?”
“Apanya? Orang cuma rebahan aja juga.”
“Tadi kamu sampe teriak gitu, huh.”
“Eh, ngomong-ngomong, bantu beri tahu aku jenis manusia yang seperti apa? Paling tidak menurut sudut pandangmu selama mengenalku sejauh ini.” Aku sempat memberi sedikit jeda ketika menyelesaikan kalimat ini.
“Buat apa?” dia terlihat sedikit bingung.
“Entahlah, aku hanya ingin mencoba mengenal diriku sendiri.”
“Dengan cara seperti itu?”
“Ayolah beri tahu saja aku ini seperti apa, please!”
“Kamu tuuh..” dia berhenti untuk beberapa saat. Diam, mukanya menjadi sedikit lebih serius dari sebelumnya. Aku pun diam, menunggu dan memperhatikan geriknya. Menanti kalimat selanjutnya. Diksi-diksi mana lagi yang akan dia ungkapkan mengenaiku. Lampu utama sengaja dimatikan semenjak dari kita mulai sepakat nonton seri malam ini. Kubuatkan dia secangkir teh hangat diberi seiris potongan lemon. Aku dengan kopi andalanku. Kita berdua ditemani kudapan kering rasa cokelat dipadu kacang almon.
“Kamu tuh.. nyebelin.” Dia melanjutkan kalimat sebelumnya hanya dengan satu kata. Satu diksi saja. Padahal kuharap lebih. Aku menutup sedikit kekecewaanku dengan menjawab seadanya.
“Emang.” aku menjawab dengan cepat dengan melontarkan ungkapan menyetujui.
“Yee dia ngambek.”
“Dih enak aja.”
“Kamu tuh.. ngelinduran orangnya, suka panggil-panggil mamamu kalau tidur, suka banget sama kopi gapake gula, kadang suka terlalu sok ngatur, masih kekanak-kanakan, keras kepala tapi pendengar yang tidak jelek lah, mudah akrab dengan orang asing, serius mulu, cukup ambisius, malas mandi.. apalagi ya..”
“Humm.. jadi buka aib nih.”
“Lah katanya pengen tahu siiii…”
“Tapi itu kebanyakaaaan. Tadi aja pas nyebelin itu sudah cukup.”
“Emang bener kamu nyebelin, super nyebelin tapi…” dia memberi jeda beberapa detik untuk kalimat selanjutnya “kamu soft sweet but hot dan sialnya aku menyukainya.”
Suasana menjadi hening seketika. Aku bingung harus merespon dengan cara apa. Aku sempat penasaran saat dia mengucapkan kata “tapi” dengan jeda beberapa detik mendebarkannya. Dan benar saja, hening meledak sekeras-kerasnya, sampai saking kerasnya, yang terdengar hanyalah suara kain di daun jendela yang terus menari liar diiringi angin genit setelah kalimat berikutnya terlontar. Dia meletakkan laptopnya di meja. Lalu menghampiriku.
“Jangan pergi ya?” pintanya padaku sambil mendadak memelukku, untung saja kopi di cangkir sudah habis. Kedua tangannya meraih punggungku penuh. Baru kusadari, di luar bulan nampak bersinar dengan teduhnya malam. Sendirian tanpa seonggok pun nampak bintang. Tak pula ada awan. Aku memberinya pelukan yang sama kuatnya. Tak terlalu kuat, namun hangat. Kenapa bersamanya dunia seperti tak ada masalah. Terasa ringan dan nyaman. Tubuhku mendadak seperti sekumpulan kapas.
“Memang aku mau pergi kemana? Kamu tuh sotoy terus ya sama aku.”
Dia tertawa dan menarikku ke kasur. Untung saja cangkir di tangan sudah kuletakan di meja sebelum dia melakukan tarikan kencang dan cepat. Aku persis menindihnya. Masih dalam pelukan, saling tatap. Dua pasang mata beradu dalam temaram.
“Sudah kubilang kan, ngapain kalau cuma semalam kalau bisa lebih?”
Aku mendekatkan ujung hidungku ke arah hidungnya. Aku tak akan pergi tuhan, ucapku dalam hati. Mana tega aku lewatkan kesempatan bersama peri manis ini. Aku ingin hidup dan terus hidup bersamanya selama apapun yang kubisa. Aku ingin selalu menggenggam tangannya saat dia ketakutan dan meyakinkan kalau semua baik-baik saja. Apa aku bisa,dalam hatiku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Yang jelas aku bersyukur, hari ini tahu aku masih bersamanya. Meski hari ini terasa cukup aneh sekali.
Dia masih bisa terlelap pulas disampingku saat kuterbangun. Meski rambutnya acak-acakan, dia masih terlihat anggun dari tidur nyenyaknya. Ketika cahaya matahari menembus kaca memasuki ruangan, wajahnya nampak menyalakan sebuah sinar dari sebuah tempat yang jauh, dari tempat indah lain. Aku tidak tahu akan berap lama terbangun dengan keadaan seperti ini. Bersamanya. Dalam hening yang hikmat. Aku meresapi semua ingatanku. Merenung. Aku bisa sejauh ini. Aku bisa dengan orang asing selama ini. Tanpa menuntut apapun.
“Aku tak akan pergi, tuhan.” Aku menuntut diriku sendiri. Sudah sejauh ini, harusnya rumah yang kutuju sudah dekat. Rumah untukku bernaung dari panas dan badai. Rumah yang bukan hanya sebuah bangunan. Entah aku harus menyebutnya sebuah pelarian atau tersesat, yang jelas aku keluar dari rumah agar bisa merasakan seperti apa itu wujud rindu. Entah mengapa juga aku sedikit ada rasa benci pada diriku sendiri. Kenapa aku harus membiarkan diriku mengenal orang asing. Lagi. Tanpa kusadari, ini melibatkan percikan perasaan. Diluar jendela, satu pot tanaman kaktus disinari cahaya bulan dlam kesendiriannya.
“Iya ya, ngapain semalam kalau bisa lebih. Aku mau selamanya sama kamu..” kalimat kedua urung terucap dari bibirku.
Aku mendekatkan bibirku ke arah bibirnya. Dia pun melakukan hal yang sama. Aku bisa meraskaan betapa hangat nafasnya. Tanganku mendekap kepalanya. Tangannya di punggungku. Tidak lama setelah itu, aku merebahkan diri di sebelahnya. Menatap langit-langit ruangan. Detak jantungku berirama lebih cepat dari biasanya. Bahkan sepertinya lebih cepat dari saat aku berolahraga.
Hari yang aneh, tapi aku menyukainya. Mungkin aku akan menyesal seumur hidupku kalau aku melewatkan kesempatan ini dari awal. Sungguh aneh memang jalan semesta, berliku, naik turun, berlubang, panjang pendek hingga penuh misteri. Hari itu berakhir dengan kehangatan peluknya.
Komentar
Posting Komentar