Langsung ke konten utama

Tamasya Kerja



Tulisan ini cuma sekelebat cerita yang saya dapat saat menjadi seorang kru acara gathering sebuah perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Waktu itu di akhir tanggal bulan November. Hujan lagi sering banget turun. Dapat tawaran dari seorang rekan yang biasa dipercaya menggarap acara. Rezeki dalam bentuk apapun tidak boleh ditolak, kan? Lumayan buat ongkos wisuda, hehe.
Seminggu, lima kali piknik. Mungkin kalimat ini cocok menggambarkan suasana perasaan saya saat bekerja di acara seremoni ini. Selama seminggu itu juga, sedetik pun saya tidak pernah menggunakan jaringan telekomunikasi dengan dunia luar. Dari kawasan Kawah Wurung, tepatnya di rumah singgah Jampit. Di area ini bebas dari jaringan koneksi seluler manapun, yang mana biasanya selalu menghasilkan dering atau getar di telepon genggam di tengah malam hingga pagi hari sampai siang lagi, yang kadang cukup menggangu ketika datang di waktu yang tidak tepat. Tanpa ada kabar berita atau mengabari berita ke luar itu rasanya antara adem banget dan ganjil.
Hampir keseluruhan rundown yang sudah tercantum di jadwal, berisi kegiatan alam. Tidak sedikit diantaranya menguji keberanian para peserta, tetapi tetap cocok untuk have fun. Misalnya, ketika rombongan baru tiba di daerah Banyuwangi, ya mereka dari Surabaya diarahkan mengambil jalur Banyuwangi karena akses yang lebih mudah baik jalur udara maupun darat, mereka singgah di Paltuding Kawah Ijen untuk sarapan dan menikmati sajian air terjun Banyupait. Kemudian, di rute inilah, dalam melanjutkan perjalanan ke tujuan utama, mereka dibawa melewati kebun kopi sepanjang perjalanan ke arah Kawah Wurung, dalam bahasa Jawa "kawah tidak jadi", yang lajurnya menanjak dan sangat tidak semulus paha milik Luna Maya. Tentu bagi peserta wanita ini menjadi perjalanan yang sedikit mengerikan dan meneganggangkan. Hardtop dan trooper yang mereka tumpangi melenggak-lenggok bergoyang mengikuti tekstur tanah mengocok perut.
Meski ritme perjalanan juga diatur dengan tempo yang tidak begitu cepat, hal ini tidak mengurangi sedikit pun esensi perjalanan outdoornya. Hal ini tentunya ditujukan bagi para peserta supaya dapat menikmati pemandangan luas kiri kanan. Bukit dan hamparan savana hijau menyumpal kelopak mata. Dan ketika tiba di beberapa gundukan bukit kecil, yang kata para supir asli daerah setempat bilang, bukit-bukit kutil ini dinamai sebagai Bukit Teletabis. Namun ada yang bilang juga, bukit ini ialah bukit Roti. Entahlah mana yang paling benar, sampai coretan ini dibuat, belum ada sumber kuat yang dapat dipercaya. Bukit-bukit kecil ini juga dapat dijumpai di dataran tinggi Dieng Plateau atau juga mirip bukit-bukit mungil di Taman Nasional Bromo. Teman saya yang bertanggung jawab sebagai pengendali acara pun menghentikan perjalanan disini. Para peserta diberi waktu untuk menikmati sajian alam ini dengan cuma-cuma. Hari memang menjelang siang saat itu, meski awan seperti enggan menggelantungdi langit tapi udara masih tetap saja terasa dingin-dingin sejuk.
Rumah kayu. Ya, yang kami gunakan sebagai tempat singgah selama beberapa hari ke depan adalah sebuah rumah yang terbuat dari bahan hampir seratus persen berbahan dasar kayu. Rumah ini, konon katanya dibuat oleh orang Belanda, Londo. Di kiri kanan halaman rumahnya, ditanami banyak bebungaan. Kalau di perumahan warga yang mayoritas bertani, ditandur kalau tidak bunga lavender di depan halaman rumah warga, ya stroberi dan berbagai jenis sayuran, seperti sawi dan kol. Setibanya disana, bangunan berbahan dasar kayu ulin, yang biasa digunakan untuk membuat perahu, langsung menarik perhatian mata setiap orang yang ada di dalam kendaraan, terutama para peserta. Termasuk saya juga sih. Heh.
Kata sang penjaga empunya, kayu-kayu ini dibawa langsung dari Kalimantan. Saat rombongan kami tiba disana, gerimis dan kabut turun dari puncak gunung Meranti, menyambut. Hari sudah mulai gelap. Seusai di persilahkan masuk, oleh sang penjaga kami para kru yang sengaja memisahkan diri dari rombongan peserta langsung diseduhkan arabika lokal. Sumber energi listrik utama di daerah Sempol ini masih menggunakan mesin generator. Jadi, aliran listrik baru ada ketika hari menjlang petang. Informasi ini didapat setelah kami melakukan obrolan hangat persis di depan api unggun dalam ruangan tamu, dan dipenuhi tawa akrab yang aneh, karena semua perbincangan sebenarnya dilakukan dengan menggunakan bahasa Madura kental, dan saya hanya paham beberapa saja.
Setelah malam semakin larut, setelah mengatur ruangan rombongan peserta untuk beristirahat, satu-persatu sang penjaga mulai ke tempat mereka ngaso. Pak Wayan, seorang kepala di bidang, apa ya? *garuk-garuk kepala*, ah lupa, belio memilih untuk membangun sebuah tenda pribadi berkapasitas empat orang di halaman belakang. Di sebuah ruangan tengah lantai atas, saya membaca buku tamu di meja di dekat televisi sambil menandaskan secangkir kopi yang tersisa. Didalamnya ada beberapa catatan turis mancanegara yang berasal Aucckland, Perancis, hingga Jerman pada tahun sembilanpuluhan. Mereka, para tamu mancanegara ini menulis kesan tentang suasana hijau sekitar dan kesederhanaan masyarakat setempat. Misalnya, Boutelop Yves yang senang lari pagi ringan hingga air terjun Tancak di belakang pemukiman warga, tempat ini juga menjadi rute tracking peserta di keesokan hari.
Kemudian, Evelyn Wilknitz yang betah tinggal disana dan sebenarnya tak ingin pulang kalau bukan karena putrinya yang mengalami kecelakaan berat di kampung halamannya sana. Serta Miss Karn J. Nadin yang seorang petualang, yang sepulang dari Flores langsung jatuh hati tanpa sebab pada bunga-bunga di halaman depan. Ada si ungu Anyelir, ada si biru Hidrangea dan Petonia, ada si merah dan kuning Anemone, si putih Lely, aqapanthus dan antirrhinum, tidak ketinggalan pohon pinus besar pun menghampar seolah menunjukan keagungan alam disana, beberapa dibangun rumah pohon di batangnya.
Pagi hari seusai makan pagi, para kru dibagi tugas untuk bertanggung jawab di beberapa tempat terpisah. Agenda hari ini, lokasi acara tidak hanya berfokus di satu tempat. Mas Banser dan saya, menjadi wali ke Air Terjun Tancak, yang lain ke beberapa tempat di sekitar rumah warga, bahkan ada yang dibawa menuju Kawah Wurung dan Kawah Ijen. Acaranya hanya hiking saja sambil mengamati ekosistem sekitar. Dan ketika hari sedah beranjak separuh, kami sudah kembali ke titik utama di halaman belakang Guest House  untuk bersiap menuju acara berikutnya.
Setelah menghabiskan santap siang, destinasi selanjutnya para peserta diajak ke bukit Lingker Patek, yang dalam bahasa Madura berarti "Anjing Melingkar". Ya benar sekali, bentuk bukitnnya memang seperti seekor anjing yang sedang melingkar manja pada tuannya. Disekitarnya, gunung Raung dan Ijen dengan tegas menunjukan puncaknya yang sedang diselimuti kabut khas dataran tinggi. Oya, saya dan hampir seluruh rekan kru selama acara ini tidak mandi. Kenyataan yang miris, wkwkkw. Berbagai alasan muncul. Misalnya, suhu airnya sangaaaat dingin. Namun karena petualangannya, kami hanya merasa tetap segar. Warna hijau berbagai tanaman tidak pernah habis di pandang, membuat mata selalu menyampaikan kebugaran ke dalam pikiran. Ilalang musim hujan, rumput liar hingga pohon sengon kompak seragam.
Beberapa hari selama para peserta menunaikan program peregangan kantornya ini, mereka juga diberi kesempatan untuk berbaur dan menikmati kegiatan sosial di lingkungan perumahan warga dengan memetik pohon berri, baik berri hitam maupun stroberi. Selain permainan yang membagi para peserta ke dalam beberapa kelompok yang beroposisi, di sela acara utama, peserta juga difasilitasi kendaraan dirty-race. Dan ada diantara mereka yang mencoba memberanikan diri mengadu nyali dengan menunggangi sepeda motor trail/offroad mengelilingi Kawah Wurung, sampai kami, para kru, sempat kerepotan karena ada seorang peserta yang “hampir” tersesat dan tidak tahu arah jalan pulang dan tenggelam di lautan, eaaa.
Disini juga, secara tidak sengaja, saya kadang memiliki sedikit kesempatan untuk berkunjung ke rumah warga. Dan beberapa kali, di tengah obrolan yang masih tetap saya kurang pahami seratus persen karena kendala bahasa, saya malah disuguhi nasi goreng gratis dan secangkir kopi hitam. Dan nggak munafik, sekalian sambil cuci mata, bhuahaha. Irit pengeluaran, sebenarnya sih sudah alokasi anggaran sendiri dari kepala kru, tapi kata orang tua, tidak baik menolak rezeki.
Di hari terakhir, agenda kami, para kru, akan memberi trip tambahan diluar rundown acara, yaitu menuju ke Air Terjun Busa. Di tempat ini, air terjunnya masih mengandung belerang yang cukup kuat, sehingga berbahaya ketika kita menyentuhnya. Hal ini disebabkan karena sumbernya berasal dari danau yang ada di  Kawah Ijen sana. Tempat ini jadi persinggahan penutup yang lezat, karena di dekat air terjun ini, kami telah menyiapkan barbeque party dengan daging ikan laut segar. Semua peserta sumringah berswafoto, ada yang sendirian dan ada yang bersama-sama, semua tidak ingin kelewat ambil bagian.
Ketika acara benar-benar berakhir, kami para kru masih harus menyelesaikan pekerjaan untuk membersihkan tempat yang baru saja digunakan sebagai pesta penutup ini, guna menjaga lingkungan agar tetap bersih dan hijau. Sampah-sampah kecil dari duri ikan hingga bekas arang dan plastik sisa makanan ringan tidak luput dari jangkauan. Kami membawa sebuah karung dan menempatkan semua sampah buruan kami disana lalu membuangnya ke tempat yang memang berfungsi sebagai tempat pembuangan sampah.
Sialnya, hari itu setelah bebersih rampung, saya dan Mas Banser, lagi-lagi, mendapatkan sedikit kerepotan, ketika di barisan akhir, sebuah rombongan sedang berkumpul seperti sedang ada “kejadian”. Kami berdua bergegas menghampiri orang-orang itu. Dan benar saja, ketika tiba di muka segerombol orang itu, seorang peserta wanita, yang karena kelelahan, pingsan. Kami sempat kebingungan. Kru yang lain sudah sampai di tempat parkir kendaraan. Di bagian belakang cuma tinggal Mas Banser dan saya.
Dengan niat yang menggebu, saya meminta seorang peserta untuk membantu saya memanggulkan karung sampah itu, bhuahha enak. Kemudian Mas Banser yang memiliki tubuh besar dan kekar sedang saya kurus, mencoba untuk mengangkat dan memapah si ibu di dalam dekapan kami. Maklum, jalan dari air terjun itu lumayan curam, selain berpasir halus, sudut kemiringan treknya juga memang sangat berat. Beruntunglah, ketika sampai pada langkah kaki yang ketiga puluhan, seorang dokter khusus yang menangani para peserta tiba. Ternyata sudah ada seorang peserta lain yang jalan lebih dulu dan melaporkan saat kejadian ini terjadi. Baguslah. Humanity does exist. Jujur saja, saya sempat membuat tebakan konyol yang membawa-bawa nama agama waktu itu. Dan memang benar, peserta yang pingsan dan yang melapor ke dokter khusus memiliki latar belakang kepercayaan berbeda. Disinilah kita, terutama saya sih, harus belajar menerima perbedaan. Sayangnya, setelah mendapatkan sedikit penanganan dari sang dokter, wanita pingsan itu masih harus ditandu sampai ke tempat datar, yang mana ya cuma di tempat parkir itu yang datar.    
Kurang lebih setengah jam kami baru bisa menggapai tempat yang dituju. Dan setengah jam kemudian, peserta itu siuman. Berselang beberapa jam kemudian, beberapa tim kru ditugaskan untuk mengawasi kelancaran para peserta hingga stasiun dan bandar udara di kota Banyuwangi. Kru yang tersisa, termasuk saya, ditugaskan untuk kembali ke Jampit Guest House dan melakukan beres-beres kelengkapan yang masih ada disana.
Acara selesai, karena peserta tidak ada yang menyukai bir dan minuman alkohol lainnya, akhirnya jatah ini jatuh ke tangan kami, para kru, dengan bantuan para setan. Sekitar enam dus, yang masing-masing berisi dua belas botol bir Bintang, berhasil kami amankan, HAHAHA.
Dan saat di perjalanan pulang, saya jadi merasa, ketika tadi membersihkan bantaran kali di sekitar air terjun, bahwa bebatuan disana sedang berbisik.
 Katanya "Saat terjatuh, segalaku lebam membiru."



Jember, 2015



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...