Langsung ke konten utama

Ngigo


Hmmm... Pernah berpikir, ngapain sih harus susah payah manjat gunung, ngontel sampai ke tempat yang gak mungkin kalau cuma pakai sepeda apalagi sampai nge"gembel" ke daerah orang cuma dengan budget yang sangat ringan dalam arti segala-galanya, wahaha. Entah sekedar gaya-gayaan atau bukan, tapi pas dilakuin hal-hal konyol semacam ini justru bisa bikin jadi ketagihan. Ada sesuatu yang secara tidak langsung sangat tidak ingin saya tahu malah jadi kenal betulan, sesuatu yang kita benci malah bisa jadi teman yang sangat bisa memberi timbal balik sumbangsih paling tinggi, atau hal-hal baru yang ngeluyur begitu aja ke dalam kehidupan saya. Misalnya, memaki diri sendiri saat tiba di ujung rasa lelah dan memang harusnya istirahat bukan malah dipaksain, kok bisa selemah ini ya rasanya.
Tahu nggak?? Ke gunung itu jalannya terjal, ke pantai bisa ketemu ombak besar, ke danau bisa kena dingin terus badan gemetar, ke sungai apalagi arusnya gempar, ke goa gelapnya kekar, ke bukit terik panas memancar. Sebaiknya sudahlah sayangi dirimu, diam saja di rumah, itu lebih baik buat perawatan kulitmu, buat kesehatan rambutmu. Di pagi, kau bisa seenakmu menikmati secangkir susu, teh atau kopi di meja ruang depan dengan beberapa potong cireng dan gorengan pisang tidak lupa cabe rawit sambil membaca koran harian atau sarapan nasi goreng sosis ayam tanpa harus bersusah payah mencari peralatan dapur dan kawan-kawan. Setelah itu pergi ke kantor mengerjakan tugas-tugas pesanan pelanggan bukannya jalan kaki menenteng ransel berkapasitas 70 liter memutari lereng-lereng melelahkan. Sederet kalimat itu yang saat diucapkan tidak dapat menemukan bunyi-bunyi vonemnya. Akhirnya hanya bergaung di dalam tempurung kepala, seolah ada orang lain yang sedang menasihati. Dan kadang-kadang suara-suara itu mucul dengan begitu deras seenaknya saja seperti sedang mengadili sebuah kesalahan yang sangat besar.
Apa yang kau sedang akan cari sebenarnya, Tuan? Di siang hari, kau bisa makan di warteg atau restoran tanpa harus bingung dan perlu bersusah payah membongkar tetek bengek nesting dan kompor dan wajan, tinggal merogoh saku lalu membuka dompet, perkara perut langsung terselesaikan. Maaf bukan maksud meremehkan, kalau kau, paling-paling bertahan berapa lama si di tempat yang bukan biasa kau. Di kafe. Di mall. Di supermarket. Kuakui kau adalah ahlinya. Kau bisa bertahan berbulan-bulan tanpa pulang dengan kartu sakti warisan bapak pejabatmu itu. Menghamburkan waktu dengan bermain Counter Strike, Point Blank atau Dota menggunakan jaringan nirkabel tanpa kenal lelah.
Kalimat itu terus saja muncul dan muncul lagi tanpa peduli titik koma atau tanda baca yang lain.
Tanpa kenal waktu. Atau mungkin berselancar bebas di papan seluncur Google mencari film-film masakini. Atau mungkin berbelanja lepas di sudut toko-toko aksesoris penjual gelang, kalung, tas atau boneka sekalian. Buat pacarmu. Kesayangan. Ayolah teman, segala tempat biasamu berpendingin yang bisa kau atur sesukamu. Sedang di luar disini, sekali-kali kau mencoba mengatur semesta, aku yakin, seyakin-yakinnya bukan bidangmu yang menghendakinya. Atau kau akan... Ah sudahlah. Percuma menasihati orang (sok) bijak sepertimu. Buang-buang waktu. Tak membuat aku menjadi seperti manusia. Biar saja ayunan ini melelapkanku tentang tempat-tempat yang akan berikutnya berlalu. Sambil berkicau pada daun bugenvil yang sedang meracau tentang datang musim hujan. Ayolah, hidup tak semulus paha Luna Maya, Tuan. Kau habisi dulu ngayalmu itu. Biar aku tersenyum saja melihatmu sambil terus berjalan di atas ribuan kerikil dan bebatuan. Tempat yang indah selalu tak mudah disinggah.
Ngapain sih mesti ngeluangin waktu buat riweuh tidur di tenda di tengah hutan? Kan enak tidur dikasur di hotel atau di rumah. Di hutan kan, banyak nyamuk, kadang ada babi numpang lewat depan pintu tenda pas lagi enak-enaknya mau tiduran malah jadi panik ngga karuan, susah-susah bikin api unggun sampai badan bau asap, aroma minyak wangi mahal jadi hilang, pas lagi asik cerita ini itu tiba-tiba ada beberapa Binturung berjaga-jaga seperti siap menyerang, jantung jadi gila-gilaan deg-degan, ngambil air ke sumbernya yang tiap perjalanannya butuh waktu lebih dari satu jam pergi pulang, lagi susah payah nyari jejak setapak buat jalan di gelap tengah malam pake senter kecil eh malah nongol macan kumbang anakan akhirnya diem ngga bisa gerak kaya patung pancoran padahal pikiran udah kemana-mana ngga tenang.
Atau ketemu pejalan lain yang lagi kehabisan air minum terus akhirnya bagi-bagi, atau pas lagi ngobrol sembarang sama penjaga hutan tiba-tiba diselipi kisah horor sekitar, atau wajah sampe ngga berbentuk jelas lagi gara-gara cuaca yang tiba-tiba panas mendadak duingin lalu panas lagi, atau malah pas udah tidur di dalem tenda tiba-tiba kebangun gara-gara hujan dan flexit bocor alhasil yang ada di dalemnya jadi kuyup semua berharap ada tukang jual baso atau sekoteng gerobak lewat biar badan bisa tetep hangat, atau jalan kaki nglewati savana yang banyak kebo dan banteng main lumpur dan pemandangan serba coklat panas memusingkan musim kering bawaanya bikin pengen nenggak degan langsung dari pucuk batangnya, pohon-pohon yang tiap helai daunnya pada meranggas dan cuma tersisa tinggal juntai-juntai tangkai aja.
Daunnya sudah pada gugur disapu angin, atau jalan nglaluin tebing bukit hingga jurang lembah terus di pohonnya ada Maleo atau Wangkong yang sedang sibuk bersantai di dahan berteduh dari siang yang pongah, atau berenang di pantai sampai ngga kerasa udah berapa kali di sengat ubur-ubur kecil tapi ngga kapok-kapok ngga peduli kulit hitam badan perih banyak bintik-bintik merah, atau juga yang cuma main pasir di pinggiran sambil bikin istana ngga jelas, haha,, atau main kano di danau yang tenang karena takut renang karena airnya saking dingin jadi cuma bisa nongkrong kaya kucing sambil nikmati kabut yang sedang kehausan mulai menunduk ke bibir permukaan air sedangkan di sebelah sisinya ada yang sedang menjala ikan, atau ada yang pacaran di dermaga kayu yang cuma dihiasi lampu minyak seadanya.
Atau nikmatin Elang jawa bahkan Elang Bondol santap siang di sekitaran hutan mangrove, atau awalnya cuma ngopi malah ditawari nginep di rumah orang dusun udah gitu kadang ada yang nyuguhi sepaket duren segar baru panen dan jajanan-jajanan lain ibarat harta karun terpendam, atau cuma masak tempe sama sosis setengah mateng di shelter saat badai menyerang, atau cuma duduk-duduk di pojokan dermaga pulau terpencil nungguin matahari tenggelam ke laut, atau mandi di air terjun kembar terus kejatohan kayu semak-semak, atau malah jatoh dari ketinggian hingga orang-orang pada panik sekujur badan jadi lebam dan sisa perjalanan jadi bertambah beban, atau kadang bela-belain ngga ada yang tidur cuma biar bisa nyaksiin fenomena alam yang biasanya cuma bisa ditonton di tipi, atau kadang bareng-bareng ngitungin ekor bintang dan konstelasinya yang ngga pernah ada yang tau jumlah pastinya ada berapa, atau tidur cuma pake selimut kepompong yang di beberapa tempat dingin lebih tebel ama kain polarnya.
Atau tali sendal putus pas nyebrang sungai yang banyak bebatuan, atau seisi ransel habis saat perjalan pulang alhasil ngga ada yang bisa jadi cemilan kalau bukan buah berri kecil yang kadang rasanya masih asam lau berharap di depan perjalanan ada toko swalayan atau ibu-ibu jual gorengan, atau ada yang kesasar salah jalan jadinya iktu bantuin tim sar nyusuri tiap bagian hutan, atau kadang bangun pagi ngga ngliat sunrise gara-gara kabut tebal datang duluan, atau tahan ngga mandi berhari-hari cuma karena ngga mau buka baju karena badan bisa menggigil hebat, atau senja yang dibarengi gerimis tak bertuan, atau kehabisan topik pembicaraan saat perjalanan akhirnya saling diam kaya orang baru aja kenalan, ah sialan!!!! Ah ngapain? Buat apa sih??
Ah, yang penting sampah sisa bekal ngga dibuang sembarangan. Biar semesta juga ngga ikut riweuh. Itulah hidup, kadang ada hal yang menybalkan justru menjadi kesukaan.
Akhir pekan. Sore. Gerimis. Meja ruang halaman depan. Secangkir kopi hitam. Anyelir yang sedang membiru haru. Ah, nikmat mana lagi yang kau dustakan, Tuan!

Suara kenari mencibir. "krkrkrkkkrrrrrrr...."



Di Rumah Ilham di Situbondo, 2016




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...