Postingan asli (spontan) sebelum disunting ada di link dibawah
2016. Setelah mengakhiri (sesaat) masa perantauan di negeri
ujung timur pulau Jawa, Marno Bebal kembali pulang ke rumah. Rumah disini, ia
diartikan sebagai tempat darimana lahir secara fisik dan dibesarkan hingga pada
usia yang benar-benar menyadari dimana ia kelak akan mengabdi. Indonesia itu
terlalu luas dan ia bukanlah dewa yang bisa sekali tunjuk jadi apa yang
dipinta. Dan kalau pun Marno Bebal hanya memusatkan fokus pada kampung halaman
sendiri, bukan berarti ia tidak peduli dengan Indonesia. Toh, Marno Bebal juga
tidak mengingkari tanah yang ia injak ini masih dalam ruang lingkup Nusantara
Raya.
Hmmm... Lelaki kurus berambut gondrong itu merasa, bagaimana ia
bisa fokus membenahi atau paling tidak memberi concern pada
daerah lain sedang rumahnya sendiri masih acakadul. Marno Bebal perlu pergi
keluar rumah supaya bisa melihat dari jauh bagaimana halaman dan latar
rumahnya. Bila bagus, ia pikir, hanya perlu terus menjaganya dari jauh. Namun
bila kurang bagus, tidak lantas ia akan pergi meninggalkannya begitu saja lalu
berlabuh di rumah orang lain yang bukan menjadi haknya. Orang seperti Marno
Bebal tau betul apa itu sikap patriotis. Justru disini ia sadar memiliki
kewajiban untuk membenahi hal-hal yang tidak elok itu.
Bila bunga butuh air, tanah dan matahari untuk terus tumbuh dan
berkembang. Manusia butuh kritikan untuk tetap hidup. Bila hidup hanya berisi
pujian, mungkin anda harus bangun dari mimpi atau jangan-jangan hidup anda
bukan lagi di dunia yang fana ini, ucapnya sembari ngopi tempo malam bersama kawan-kawan
futsalnya di warung Pak Edi Bongsor, pak tua Madura dengan kumis tebal serem
tapi selalu ramah kepada pelanggan.
Hingga,
Ketika itu...
Hari mulai merayap senja. Kendaraan lalu lalang saling sambut
saling susul. Ketika pulang kampung ke Indramayu, kota penghasil janda muda
(kata orang-orang), tidak banyak perubahan yang Marno Bebal lihat. Satu
setengah dekade, kepala daerahnya masih saja dari satu keluarga yang sama.
Bedanya, satu dekade suaminya berkuasa. Sekarang, hampir setengah dekade,
tinggal istrinya. Menurut kabar kerbau, di pemilihan berikutnya, si anak juga
akan mencalonkan diri. Si bapak sih sudah ketangkep kering menggerogoti dana
proyek sebuah PLTU. Si ibu juga sudah mulai tercium bau busuknya berkat kasus
penyanyi dangdut tukang cabul. Mungkin hanya pa Kades yang berganti lebih
atletis karena telah disuntik dana desa oleh Pak Dek. Atau barangkali soal
anak-anak kecil dulu sepermainan, sekarang sudah hampir tidak ada.
Mereka telah tumbuh dewasa (secara umur dan pemikiran), bahkan
diantaranya sudah punya anak kecil. Beberapa lain dari mereka ada yang bekerja
sebagai Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri, seperti Arab, Taiwan dan di
negara yang paling menghasilkan dan gampang buat cari bojo, Korea. Atau beberapa lainnya masih menyelesaikan tugas akhir
di perguruan tinggi dengan jurusan yang sebenarnya bukan pilihan jiwa mereka.
Banyak teman-teman sekolah menengah Marno Bebal yang salah ambil jurusan saat
kuliah gara-gara ikutan teman, kuliah di FKIP begitu lulus masuk bank biar jadi
menantu idaman mertua jaman sekarang, daridulu juga ding. Atau ada juga, teman
Marno Bebal yang banting tulang sebagai buruh di kawasan industri sekitar
ibukota. Atau juga ada beberapa yang menghabiskan waktu bekerja di tengah
lautan melawan deru ombak sebagai buruh nelayan mengarungi samudra. Beberapa
lainnya ada juga yang bekerja di tengah persawahan sebagai buruh tani musiman.
Marno Bebal sedikit gembira ketika beberapa kawan bermain layang-layang saat
kecil bekerja di instansi pemerintahan, ia berharap sedikit, paling tidak,
ditangan mereka akan ada perubahan ekosistem birokrasi yang baik dalam melayani
masayarakat, guna mengurangi intrik-intrik nepotisme, eh justru malah
menjadi-jadi. Lambat laun, harapan itu sia-sia belaka.
Benar kata Ali bin Abi Thalib, pikirnya, buang-buang waktu
berharap pada sesama manusia. Ia kembali kecewa dan semakin mengukuhkan diri
bahwa birokrasi di lingkungannya sangat tidak sehat dan bukan tempat yang baik
untuk berkembang sebagai manusia yang berpikir, itulah mengapa kemudian ia sangat
ogah masuk ke lembaga dan instansi negara, bayarannya kecil, banyak nipu
rakyatnya. Apalagi omong kosong tentang pengangkatan sebagai abdi negara tetap,
Marno Bebal tidak begitu tertarik dengan hal-hal seperti itu. Ia lebih memilih sesuatu
yang tanpa keterikatan, fleksibel dan mobile.
Sudah dasarnya, Marno memang bebal, ia lebih memilih bekerja sebagai kuli
bangunan meski gelar sarjana sudah di tangannya sambil melakukan sesuatu di
dunia yang ia sukai, fotografi. Tidak peduli panas perihnya omongan tetangga
mengoyak telinganya. Tapi darisana justru ia semakin hidup dan hidup. Ia
mengekor di beberapa perusahaan penyedia jasa penyelenggara acara. Ia
lampiaskan gagasan dan karyanya disana dan dibayar dengan sangat layak, Marno
puas bukan kepalang malah. Tanpa seragam dan tanpa intrik birokrasi yang
kerjanya cuma mentingin perut sendiri, di Event Organizer itulah Marno Bebal
banyak belajar tentang ilmu bekerjasama secara fair & clear. Meskipun tetap saja ketika bersenggolan dengan
iklim birokrasi, tidak bisa dihindari , Marno Bebal pasti bertemu dengan orang-orang
yang bekerja dengan seragam dinas namun lebih nampak seperti tukang palak di
perempatan jalan, alasannya biar inilah itulah.
Jalanan dusun masih tetap sama. Aspal masih tetap berlubang
dengan paduan kerikil bercampur tanah sehingga saat hujan tiba menyerupai
genangan kolam ikan, bahkan lebih parah. Tidak jarang yang sempat melalui jalur
ini terkena sial sudah jatuh menimpa badan jalan yang bolong sampai berdarah.
Di kiri kanan jalan, hijau sawah terhampar luas tidak sedikit sudah berubah
menjadi bangunan perumahan. Perumahan itu diisi oleh muda-mudi yang baru
menikah dan sudah bekerja di instansi pemerintahan berkat “dititipkan” oleh
orang tua mereka. Daerah yang katanya penghasil padi terbanyak di tingkat
provinsi ini perlahan berubah tidak lagi merawat ladang sawahnya. Petani
dipaksa menjual tanahnya untuk perumahan sedikit elit bagi pendatang atau
pengantin muda, atua mereka yang baru balik merantau di luar negeri. Sudah gitu
harga beras sama sekali tidak bersahabat bagi petaninya sendiri. Apalagi yang
bekerja hanya sebagai buruh serabut harian, sudah malang ditambah ngenes bukan
kepalang dengan keadaan timpang ini. Ironi betul. Beruntung udara masih terasa
segar untuk dihirup. Biru laut saling menyambung dengan biru langit
menghantarkan aroma amis segar ikan hasil tangkapan nelayan bersama angin timur
sore hari.
Di bibir pantai, erosi tak terbendung. Bakau, mangrove dan
ketapang yang ditanam oleh badan usaha milik negara dan perusahaan besar lain hanya
digunakan sebagai simbol bahwa mereka telah berbuat sesuatu, setelah ditusuk ke
perut pantai, tanaman-tanaman itu dibiarkan begitu saja tanpa ada pengawasan. Hanya
dijadikan “simbol” dan formalitas saja kalau mereka masih peduli dengan
lingkungan. Sebenarnya, kalau korporasi itu sungguh-sungguh peduli terhadap
ekosistem, ya mereka bikin produk yang ramah lingkungan dong. Sudah ditanam
ditinggalkan begitu saja tanpa perawatan berkelanjutan. Asu banget memang. Semisal
bikin plastik ya beri tanggung jawab atas edukasi penggunaan plastik oleh
konsumennya dan cara mengolahnya hingga bisa didaur ulang, bukankah sudah
sepatutnya perusahaan lah yang harus bertanggung jawab akan hal ini, bukannya
hanya mencari untung saja tapi tak peduli lingkungan.
Tidak ketinggalan, budaya konsumerisme jelas terlihat semakin
menggila. Anak-anak sekolah lebih rela menghabiskan uang jajannya untuk membeli
kuota internet ketimbang buku bacaan. Atau orang tuanya, lebih baik menunggak
biaya bulanan untuk mencicil kredit sepeda motor, daripada sang anak harus
berangkat ke sekolah jalan kaki maupun kendaraan umum atau malah malas
berangkat sekalian. Ya, biaya sekolah menengah semakin hari semakin mahal.
Mungkin ini perubahan yang sangat jelas mencolok. Padahal secara umum,
Indramayu tidak banyak berubah. Paling tidak lima belas tahun terakhir. Masa
dimana Marno Bebal mulai benar-benar “sadar” peta politik besar di kota ini.
Maaf ralat, KERAJAAN bukan kota.
Ya, dipikiran Marno Bebal, Indramayu adalah sebuah kerajaan.
Jalan-jalan dan tinggalah di Indramayu beberapa saat, lalu simpulkan, katanya.
Ketika lelaki jangkung berambut gondrong itu pulang, justru ia lah yang merasa
tertinggal. Muda-mudi di dusun sudah lebih pandai dan lebih dulu tahu, dan
mengagungkan kepala negara yang jauh di benua biru bagian tenggara sana.
Alasannya sederhana, si bapak itu “relijius” sungguh, bukan pada kinerjanya.
Padahal blio tetaplah politikus, yang pandai membuat-buat sesuatu, termasuk
berita terbaru, yaitu kudeta palsu. Itulah peran citra media. Padahal tindakan
mereka pun yang menggilai sosok tersebut jauh sangat dari ideologi sang idola
kesayangannya itu. Aneh betul memang.
Marno Bebal kira tidak ada kata paling pas mewakili Indramayu.
Kabupaten yang serba tertinggal dalam segala hal ini memang tak memiliki ciri
khas. Prestasi paling banter yang bikin kota ini terkenal ya saat masuk tivi,
itu juga pas musim mudik lebaran saja, karena sebagian jalur pemudik melalui
lajur Indramayu. Atau polisi cilik yang mendapat undangan dari Istana, adalah
bukti nyata betapa kekuatan militer masih di puja-puji di kampung halaman Marno
Bebal ini. Entah halaman ke berapa. Tempat wisata? Kalau warga tidak cukup
berkreatifitas dan mandiri, sebuah lokasi bisa diambil alih oleh tangan-tangan
berseragam ormas kampungan yang sukanya memalak daripada merangkul warga
sekitar. Lain hal misalnya, benarkah Indramayu memiliki kilang minyak terbesar
se-Asia Tenggara? Apa untungnya buat masyarakat setempat? Berapa banyak dampak
positif dari kilang itu? Apa masayarakat di sekitarnya sejahtera?
Apa yang bisa diandalkan dari nama besarnya itu kalau tidak bisa
merangkul orang-orang kecil yang hidup disekelilingnya? Lebih-lebih malah
mencekiknya. Kalau pekerjanya saja lebih banyak berasal dari luar daerah, atau
kalau bukan atas pesanan “orang dalam” dengan mahar rupiah nol sekian, atau
paling bagus, masyarakat sekitar ditempatkan di bagian buruh kasar seperti
dijadikan petugas jaga mirip anjing di halaman rumah sendiri. Bahkan kadang
hanya sebagai penjaga malam sepanjang jalur pipa yang ditanam. Kalau memang
warga sekitar kurang memiliki kemampuan untuk bekerja disana, paling tidak
perusahaan menyediakan pelatihan sesuai dengan standar suapaya warga juga
mendapat tolak ukur layak. Minyak memang licin. Segala persoalan bisa
diotak-atik. Ada (banyak) yang aneh memang, lagi-lagi pikir Marno Bebal.
Dengan logika sederhana, seharusnya pendapatan daerah dari hasil
sektor minyak ini bisa membangun banyak infrastruktur teritorinya, renung Marno
Bebal. Tapi ia tidak mau menghabiskan seluruh energi di dalam tubuhnya yang
gering itu untuk terus memikirkan masalah yang bukan urusannya itu.
Namun pada nyatanya, sejauh mata Marno Bebal memandang, hampir
tidak ada perbaikan sama sekali, kalaupun ada, hanya yang memiliki skala
urgensi rendah, hanya tempat yang akan dijadikan sebagai kampanye saja. Sisanya
tanda tanya besar. Soal kuliner? Kerajinan tangan? Objek Pariwisata?
Perekonomian? Kebudayaan? Tata kota? Tidak ada satupun hal yang bisa dibanggakan.
Menunggu diakui kabupaten sebelah, baru teriak seperti kebakaran jembut. Tiap
mengadakan pesta hari jadi, yang penting ramai ada pasar malam dan tontonan,
sudah perayaan itu begitu-begitu saja tiap tahun, muda-mudi sudah senang dan
puas tanpa mau tahu berapa biaya anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah
daerah. Mirisnya, dengan anggaran besar yang tidak banyak diketahui mata
masyarakat umum, orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan juga senang dan
puas. Mereka hadir di acara hari-H mengenakan seragam senyam-senyum mirip
kepala domba yang direbus.
Untuk masalah sarana dan prasarana, di kabupaten yang terkenal
dengan mangga ini pembangunannya sangat lambat. Atau baru menunggu ajang
olahraga tingkat nasional, baru sarana dan prasarana diperbaiki. Selain janda
muda sekali, yang paling terkenal dari Indramayu adalah wanita malam di tempat
hiburan warung remang-remang sepanjang jalan pantura dan tenaga kerja buruh
kasarnya, kuli harian. Mungkin buah mangga adalah cara tuhan sedikit menghibur
warga Indramayu agar memiliki secuil kebanggan.
Kabar beruk soal kebobrokan aparatur pemerintahan tetap sama.
Tidak ada banyak perubahan. Alih-alih peningkatan, yang ada malah kabar
mengenai dana BOS di beberapa sekolah dasar yang dimanipulasi sebagai bancakan
para guru, katanya buat bayar tenaga honorer. Revolusi mental yang dicanangkan
pemerintah pusat hanyalah sebuah slogan omong kosong di kota kelahiran Marno
Bebal ini. Tidak sedikit guru-guru tua yang memuja dan mendoktrin seluruh
anggota keluarganya untuk terus mendukung pemerintah yang ada hingga di
pemilihan umum berikutnya dengan iming-iming biar dapat inilah itulah. Manis sekali
mulut mereka memang.
Untuk sektor pelayanan masyaralat, Marno Bebal cuma bisa godeg-godeg kepala. Pelayanan e-ktp dan
akta kelahiran masih saja ada yang berbayar dan prosesnya bertele-tele,
menunggu wahyu tuhan baru dikerjakan. Hampir di tiap kantor kecamatan,
wajah-wajah petugas berseragam cokelat itu telihat geram dan tegang dalam
menangani pelayanan terhadap warganya sendiri, seperti tidak senang atau
bahagia dengan pekerjaannya, tapi mereka tetap tidak mau diganti atau dipindah
ke tempat lain. Seperti menanam kecurigaan kepada warganya sendiri. Sedang
petugas-petugas itu tidak paham bahwa yang datang kesana memohon bantuan mereka
bukanlah orang yang terpelajar seperti dirinya, melainkan orang awam. Seharusnya
mereka memberi pelayanan sepenuh hati bukannya seenak jidatnya sendiri, lupa
apa gaji mereka berasal dari pajak rakyat. Tidak adanya instansi yang menangani
pengaduan masayarakat seperti ini menyebabkan pungli masih marak terjadi
disana-sini.
Bupati perempuan terpilih kali ini juga tak mampu berbuat
apa-apa selain tersenyum dan melambaikan tangan saat kamera wartawan menyoroti
wajah muslimah yang dibalut bedak dan gincu merah itu. Atau kampanye riang saat
diadakan lomba keagamaan. Yang paling menyebalkan adalah ketika belio memberi
pidato atau menyampaikan pesan secara lisan di hadapan muka masyarakat, nada
suaranya palsu dan terlalu memaksakan diri, sungguh sangat dibuat-buat, inilah
hal jijik yang dirasakan oleh Marno Bebal.
Selain meneruskan program suaminya, bupati kali ini juga
meneruskan budaya leluhur babad Dermayu. Tidak hanya menjadi seorang kepala
daerah, Marno Bebal pikir, bupati sekarang hebat bukan kepalang main,
mengokohkan sistem pemerintahan Indramayu sebagai sebuah kerajaan absolut,
tirani. Dan memang cocok, sesuai anggapan di kepala Marno bebal, si ibu bupati
yang “katanya” sholeh itu pantas dianggap sebagai ratu agungnya. Cuma sedihnya,
saat momentum pemilu berlangsung, berapa kakek-nenek jompo di sudut dusun,
dihibahi beberapa kilo beras, bungkus mi instan dan amplop yang mereka terima
saat pilbup kemarin. Kenapa hanya saat pemilu, pikir Marno Bebal, coba
sehari-hari ibu bupati yang terhormat itu peduli dengan warganya yang kurang
mampu, bukan memanjakan anaknya dengan berbagai fasilitas yang mewah, sungguh
mulia. Demokrasi serangan fajar memasang muka alim sungguh mengesankan.
Branding image yang sempurna, Marno Bebal terkekeh.
Atau ada hal lain, masalah birokrasi. Tentang ketersediaan
pekerjaan di instansi daerah, tanya saja pada calon PNS atau tenaga honorer di
sebuah instansi besar, berapa banyak biaya masuk yang harus disiapkan? 5 juta?
100 juta? Bla bla juta? Ah hanya tuhan dan calo orang dalam yang tahu, tidak
lupa juga si penggila jabatan. Kabar kecut seperti ini of the record sifatnya.
Mengusut kasus suap-menyuap di Indramayu, bahkan di daerah lain, dengan muka
datar Marno bebal pikir, perlu membuat penjara baru. Karena jika BENAR-BENAR
hendak diungkap semua, penjara tidak akan muat. Banyak sekali oknum di segala
lini, termasuk aparat keparat berpenampilan rapi dan kinyis-kinyis yang digaji juga
dengan uang pajak rakyat. Meskipun sudah menggunakan sistem online sekalipun,
akal-akalan jabatan masih bisa saja dilakukan, wong onlen itu masih bikinan manusia kok, ya bisa sekali untuk diakali.
Mau bilang oknum, tapi yang jadi oknumnya lebih dari satu, jadi kata yang pas
untuk menyebutnya adalah komplotan bangsat dan brengsek-brengsek berseragam,
begitu kata Marno Bebal tentang orang-orang yang bekerja di instansi daerah.
Apalagi ada beberapa pakar hukum yang kadang dengan gamblang di mata umum
membela mereka yang lebih punya lembaran duit tenimbang orang benar secara
hukum tapi kere. Kalau manusia, Indramayu itu sudah seperti mayat hidup. Marno
Bebal sedikit menyimpulkan bahwa cerita babad Dermayu tentang Taksaka
menyebrangi kali Cimanuk yang sering ia dengar dari moyangnya tidak lebih
penting daripada urusan perut bagi manusia-manusia yang memegang jabatan amanah
rakyatnya itu.
Ya, urusan perut kosong memang bisa mengalahkan segalanya. Ah,
siapa yang bilang perutnya kosong, ibu bupati kan selalu makan tepat waktu. Marno
Bebal rupanya lupa, ia sadar bukan siapa-siapa, selain hanya pemuda bedebah
pancasilit, beraninya sodok belakang. Sore sudah semakin gelap. Jingga kian
samar menatap. Malam sudah siap melahap. Hembusan angin semakin keras
menghantam wajah, kicauan camar semakin jelas terdengar. Dari saku celana,
suara telepon genggam berdering.
“Woittt...”
“Ngopi
yu gah?” ajaknya dari batang seluler jadul.
“Ning
endi, bosku?” balas Marno.
“Glayem”
jawabnya.
“Cangkingan
bae, gelem bli?” ia menawar.
“Meluncuuurrrrrr,
ndan!!!.” nadanya penuh semangat mengakhiri panggilan singkat sore itu.
Ah, Indramayu. Angka 489 bilang, katanya dikau berulang tahun.
Tapi mereka sibuk dan berisik sekali melakukan seremoni ketimbang
merealisasikan substansi. Mungkin mereka kurang ngopi dan piknik. Atau mungkin
ijasah mereka dapat beli kredit di pasar Pronggol. Asuuudahlah, tanya saja pada
rumput telanjang yang bergoyang.
INDRAMAYU,
KOTA atau KERAJAAN?
Indramayu,
2016
Komentar
Posting Komentar