Untuk kali ini, aku harus menyerah dengan nasib. Atau takdir.
Entah apalah. Semua daya sudah ditunaikan. Dan memeang dari awal segalanya bukanlah
hal yang mudah untuk dijalani bersama. Apalagi dengan dua kepala yang juga
memiliki porsi pemikiran berbeda. Mungkin beberapa kali saja kesamaan hadir
menengahi. Dan beruntungnya saat itu kepala kedua insan ini sedang dingin.
Diplomasi ecek-ecek berhasil terjadi. Dan tidak berselang lama, konflik-konflik
minor membuat gejolak permasalahan kembali menggangu cerita yang hampir manis
ini. Beberapa kali kumintai pendapat teman, tentu temannya, juga temanku
sendiri. Guna mendapat hasil yang memuaskan.
Perlu diakui, bahwa memang sudah sedari awal kita tak pernah
benar-benar menjatuhkan diri atau mengalah demi satu sama lain. Orang bilang
mungkin ini gengsi. Lebih dari itu, aku tidak dapat menemukan kata yang pas
sebagai pengganti. Dan mungkin memang iya, kita berdua memang saling memiliki
gengsi yang tinggi. Tapi untuk apa sentimen ini timbul? Biar kami yang menjaga
baik-baik saja sebagai rahasia dan pelajaran kami sendiri. Aib? Kalian boleh
bilang seperti itu kalau kalian mau.
Kami menjalani waktu membunuh kesepian-kesepian yang tercecer di
tengah perjalanan, bersama. Jadi biar kami yang terus mengurus perjalanan ini
meski masih harus berhadapan dengan sisa-sisa kesepian yang ada.
Perbedaan bukanlah jurang pemisah. Dan perlu disadari juga,
perbedaan bahkan telah ada sebelum kita benar-benar terlahir di bunia kosmik
mungil ini. Begitulah adanya, tidak perlu lah bertele-tele dengan lebih dulu
meminjam istilah pujangga tua maupun ilmuhan hebat sejagat.
Tidak terasa.
Cepat sekali ya waktu berlalu. Maaf, sepanjang hidup, aku belum
sedikitpun pernah dipercaya untuk memiliki sebuah hati, bahkan untuk jiwaku
sendiri. Mungkin karena sudah terbiasa kehilangan lalu membuatku seperti
sekarang ini. Mungkin juga sudah terbiasa menikmati sepi menghabiskan sunyi
sendirian tanpa ada siapa-siapa sudi temani hingga berkawan biar hanya sekedar
mengisi basa-basi garing nan ringan. Maaf, bila rusuk ini begitu mudah
mematahkan aliran perasaanmu. Wajar bila selalu sering bisanya hanya
mengabaikan senyum maupun tangismu, mengabaikan sekelilingku sekelilingmu,
nona. Mengabaikan orang-orang di sekitarku sekitarmu. Maka aku pergi. Semoga
ini tak melukaimu lebih dalam lagi.
Percayalah.
Jalanmu masih panjang. Begitu pula jalanku. Sebelum aku
benar-benar pergi. Jika kamu kesal dan sangat ingin teriak, aku masih punya
telinga untuk mendengar. Jika kamu bersedih dan sangat butuh menangis,
menangislah! Tanganku masih sudi mengusap air matamu. Jika kamu lelah,
tenanglah, aku masih punya bahu biar kamu bisa bersandar. Jika kamu marah,
silahkan, aku siap kamu apakan. Jika kamu merasa takut, aku masih punya tubuh
untuk kamu peluk.
Namun ingat baik-baik, jika masih yakin kita akan menuju ke satu
titik arah tujuan, kenapa kamu harus menyerah begitu saja melalui semua keadaan?
Bukankah kelak kan berujung sama. Bukankah kamu seorang luar biasa. Bukankah
kamu menakjubkan. Bukan memuji. Tapi itu kamu, yang kukenal. Aku yakin dunia
kan takluk hanya dengan satu lekuk senyummu itu, nona.
Meski.
Meski aku sendiri belum cukup mampu merasakannya. Mungkin aku
masih terlalu mati rasa. Baiklah. Selamat tinggal, puan. Berjumpa lagi nanti di
lain kesempatan. Kemudian jangan lupa mengajakku bermain ke kebun dan tamanmu.
Oya, ajari juga aku cara menyiram dan memupuk bunga serta buah dengan bijak,
kelak. Beberapa hal, aku butuh belajar darimu langsung.
Tahukah kamu?
Badanku yang kemana-mana adalah hasil dari hati yang terpenjara
sekian lama entah berapa waktu lagi yang dibutuhkan untuk sampai pada ujung
pembebebasannya. Jiwaku terpasung dalam keadaan yang tak pernah jelas dimana ia
berada. Rindu pada kehampaan. Jatuh pada kekosongan. Segala yang kulihat hanya
hitam tak ada satupun benderang. Jeruji-jeruji itu mengurungku hingga kedasar
ketiadaan. Rasa sakit sudah jadi makanan keseharian.
Garis horison membelah semesta menjadi kepingan debu-debu tak
bertuan. Dan tidak ada orang lain menyaksikan. Mereka hanya menertawai tanpa
mau tahu sedikit sebab alasan. Sampai aku sendiripun menertawai
ketelanjanganku. Berapa kali aku sudah menjadi seperti demikian. Tidak ada
jumlah yang pantas untuk diperhitungkan. Tuhan tahu aku lelah. Tetapi dia juga
tidak mau tahu apa yang kurasa. Dia bilang berserahlah kepadaku. Aku pun
berlutut. Namun saat kutengah bersujud, dia malah bilang "Aku tak bisa
mengubahmu apa-apa kalau bukan kau sendiri yang merubahnya. Lalu kutegakkan
kepala. Berdiri kesetanan. Kemudian tersadar. Lalu apa masih harus aku percaya
pada kehadirannya. Jika memang perkataannya demikian, bukankah Tuhan hanya
sebuah hanyalan? Dimana yang katanya dia ada dimana-mana itu? Sebenar-benarnya
tak ada dimana-mana.
Dia yang maha segalanya tetap saja hanya diam. Apalagi dia
melanjutkan, tak ada "cobaan" yang tidak mampu kau selesaikan hey
manusia. Kau bercanda terus tuhan! Lalu untuk apa aku berserah menengadah pada
sesuatu yang tidak pernah berhenti mengabaikan? Mengapa hanya dia yang
menikmati cumbuannya sedang aku tidak. Aku terluka diperkosa olehnya. Dia hanya
menikmatinya. Melanjutkan setiap sentuh yang membuatku malah semakin perih tak
tertahankan. Surga dan neraka? Hanya bualan. Jika memang kau ada, aku hanya
ingin sekali saja melihat rupamu. Dan berhentilah ada di hidupku. Ambil saja
nyawa ini. Sudah tidak berharga lagi ia bersemayam pada jasad yang mengenaskan
ini. Kasihan dia.
Selalu menerima pesakitan yang tiada henti. Kasihan dia lelah
belum berbuat apa-apa. Ketika rumah tempatku lahir sudah tak mampu lagi
memberikan hidup, lalu kemana aku harus pulang. Jika sudah tak ada lagi seorang
pun atau sesuatu apa-apa lagi yang masih dapat memberikan sedikit saja alasan
pijar harapan untuk hidup, mati mungkin layak jadi pilihan.
Begitulah cerita seorang kawan yang sedang putus asa. Tuna Asmara.
Tuna Jiwa. Kami berjumpa di pelabuhan penyebrangan Ketapang-Gilimanuk di akhir
tahun 2013. Dari perbincangan yang kami lakukan sejak pertma kali bertemu di
Terminal Arjosari, Malang, saya kira ia memanglah seorang lelaki melankolis
kronis. Asal kalian tahu saja, nama gadis yang ia ceritakan adalah Arini,
sebenarnya ia meminta untuk tidak perlu disebutkan. Namun saat menulis coretan
ini, saya sebagai penulis sedang kesurupan kopi saset, jadi apa boleh buat.
Yang penting, si tokoh lanangnya tidak saya panggil kesini. Lagian mana tahu
juga dia. HAHAHA. Kami akrab karena, entah kenapa saya juga bisa akrab
dengannya, pas ketemu di sebuah warung kopi, kami berbincang mau pergi kemana,
kemudian kami langsung saja berkenalan tanpa panjang lebar hanya karena kami
sama-sama hendak melancong ke tanah pulau dewata. Yang jelas sampai sekarang,
kami masih berkawan dan saling berkabar. Namun, saya enggan untuk bertanya
kehidupan asmaranya, takut jadi zombie lagi,
wkwkwk.
Denpasar,
2013
Komentar
Posting Komentar