Langsung ke konten utama

Tentang Pejalan


Untuk kali ini, aku harus menyerah dengan nasib. Atau takdir. Entah apalah. Semua daya sudah ditunaikan. Dan memeang dari awal segalanya bukanlah hal yang mudah untuk dijalani bersama. Apalagi dengan dua kepala yang juga memiliki porsi pemikiran berbeda. Mungkin beberapa kali saja kesamaan hadir menengahi. Dan beruntungnya saat itu kepala kedua insan ini sedang dingin. Diplomasi ecek-ecek berhasil terjadi. Dan tidak berselang lama, konflik-konflik minor membuat gejolak permasalahan kembali menggangu cerita yang hampir manis ini. Beberapa kali kumintai pendapat teman, tentu temannya, juga temanku sendiri. Guna mendapat hasil yang memuaskan.  
Perlu diakui, bahwa memang sudah sedari awal kita tak pernah benar-benar menjatuhkan diri atau mengalah demi satu sama lain. Orang bilang mungkin ini gengsi. Lebih dari itu, aku tidak dapat menemukan kata yang pas sebagai pengganti. Dan mungkin memang iya, kita berdua memang saling memiliki gengsi yang tinggi. Tapi untuk apa sentimen ini timbul? Biar kami yang menjaga baik-baik saja sebagai rahasia dan pelajaran kami sendiri. Aib? Kalian boleh bilang seperti itu kalau kalian mau.
Kami menjalani waktu membunuh kesepian-kesepian yang tercecer di tengah perjalanan, bersama. Jadi biar kami yang terus mengurus perjalanan ini meski masih harus berhadapan dengan sisa-sisa kesepian yang ada.
Perbedaan bukanlah jurang pemisah. Dan perlu disadari juga, perbedaan bahkan telah ada sebelum kita benar-benar terlahir di bunia kosmik mungil ini. Begitulah adanya, tidak perlu lah bertele-tele dengan lebih dulu meminjam istilah pujangga tua maupun ilmuhan hebat sejagat.
Tidak terasa.
Cepat sekali ya waktu berlalu. Maaf, sepanjang hidup, aku belum sedikitpun pernah dipercaya untuk memiliki sebuah hati, bahkan untuk jiwaku sendiri. Mungkin karena sudah terbiasa kehilangan lalu membuatku seperti sekarang ini. Mungkin juga sudah terbiasa menikmati sepi menghabiskan sunyi sendirian tanpa ada siapa-siapa sudi temani hingga berkawan biar hanya sekedar mengisi basa-basi garing nan ringan. Maaf, bila rusuk ini begitu mudah mematahkan aliran perasaanmu. Wajar bila selalu sering bisanya hanya mengabaikan senyum maupun tangismu, mengabaikan sekelilingku sekelilingmu, nona. Mengabaikan orang-orang di sekitarku sekitarmu. Maka aku pergi. Semoga ini tak melukaimu lebih dalam lagi.
Percayalah.
Jalanmu masih panjang. Begitu pula jalanku. Sebelum aku benar-benar pergi. Jika kamu kesal dan sangat ingin teriak, aku masih punya telinga untuk mendengar. Jika kamu bersedih dan sangat butuh menangis, menangislah! Tanganku masih sudi mengusap air matamu. Jika kamu lelah, tenanglah, aku masih punya bahu biar kamu bisa bersandar. Jika kamu marah, silahkan, aku siap kamu apakan. Jika kamu merasa takut, aku masih punya tubuh untuk kamu peluk.
Namun ingat baik-baik, jika masih yakin kita akan menuju ke satu titik arah tujuan, kenapa kamu harus menyerah begitu saja melalui semua keadaan? Bukankah kelak kan berujung sama. Bukankah kamu seorang luar biasa. Bukankah kamu menakjubkan. Bukan memuji. Tapi itu kamu, yang kukenal. Aku yakin dunia kan takluk hanya dengan satu lekuk senyummu itu, nona.
Meski.
Meski aku sendiri belum cukup mampu merasakannya. Mungkin aku masih terlalu mati rasa. Baiklah. Selamat tinggal, puan. Berjumpa lagi nanti di lain kesempatan. Kemudian jangan lupa mengajakku bermain ke kebun dan tamanmu. Oya, ajari juga aku cara menyiram dan memupuk bunga serta buah dengan bijak, kelak. Beberapa hal, aku butuh belajar darimu langsung.
Tahukah kamu?
Badanku yang kemana-mana adalah hasil dari hati yang terpenjara sekian lama entah berapa waktu lagi yang dibutuhkan untuk sampai pada ujung pembebebasannya. Jiwaku terpasung dalam keadaan yang tak pernah jelas dimana ia berada. Rindu pada kehampaan. Jatuh pada kekosongan. Segala yang kulihat hanya hitam tak ada satupun benderang. Jeruji-jeruji itu mengurungku hingga kedasar ketiadaan. Rasa sakit sudah jadi makanan keseharian.
Garis horison membelah semesta menjadi kepingan debu-debu tak bertuan. Dan tidak ada orang lain menyaksikan. Mereka hanya menertawai tanpa mau tahu sedikit sebab alasan. Sampai aku sendiripun menertawai ketelanjanganku. Berapa kali aku sudah menjadi seperti demikian. Tidak ada jumlah yang pantas untuk diperhitungkan. Tuhan tahu aku lelah. Tetapi dia juga tidak mau tahu apa yang kurasa. Dia bilang berserahlah kepadaku. Aku pun berlutut. Namun saat kutengah bersujud, dia malah bilang "Aku tak bisa mengubahmu apa-apa kalau bukan kau sendiri yang merubahnya. Lalu kutegakkan kepala. Berdiri kesetanan. Kemudian tersadar. Lalu apa masih harus aku percaya pada kehadirannya. Jika memang perkataannya demikian, bukankah Tuhan hanya sebuah hanyalan? Dimana yang katanya dia ada dimana-mana itu? Sebenar-benarnya tak ada dimana-mana.
Dia yang maha segalanya tetap saja hanya diam. Apalagi dia melanjutkan, tak ada "cobaan" yang tidak mampu kau selesaikan hey manusia. Kau bercanda terus tuhan! Lalu untuk apa aku berserah menengadah pada sesuatu yang tidak pernah berhenti mengabaikan? Mengapa hanya dia yang menikmati cumbuannya sedang aku tidak. Aku terluka diperkosa olehnya. Dia hanya menikmatinya. Melanjutkan setiap sentuh yang membuatku malah semakin perih tak tertahankan. Surga dan neraka? Hanya bualan. Jika memang kau ada, aku hanya ingin sekali saja melihat rupamu. Dan berhentilah ada di hidupku. Ambil saja nyawa ini. Sudah tidak berharga lagi ia bersemayam pada jasad yang mengenaskan ini. Kasihan dia.
Selalu menerima pesakitan yang tiada henti. Kasihan dia lelah belum berbuat apa-apa. Ketika rumah tempatku lahir sudah tak mampu lagi memberikan hidup, lalu kemana aku harus pulang. Jika sudah tak ada lagi seorang pun atau sesuatu apa-apa lagi yang masih dapat memberikan sedikit saja alasan pijar harapan untuk hidup, mati mungkin layak jadi pilihan.
Begitulah cerita seorang kawan yang sedang putus asa. Tuna Asmara. Tuna Jiwa. Kami berjumpa di pelabuhan penyebrangan Ketapang-Gilimanuk di akhir tahun 2013. Dari perbincangan yang kami lakukan sejak pertma kali bertemu di Terminal Arjosari, Malang, saya kira ia memanglah seorang lelaki melankolis kronis. Asal kalian tahu saja, nama gadis yang ia ceritakan adalah Arini, sebenarnya ia meminta untuk tidak perlu disebutkan. Namun saat menulis coretan ini, saya sebagai penulis sedang kesurupan kopi saset, jadi apa boleh buat. Yang penting, si tokoh lanangnya tidak saya panggil kesini. Lagian mana tahu juga dia. HAHAHA. Kami akrab karena, entah kenapa saya juga bisa akrab dengannya, pas ketemu di sebuah warung kopi, kami berbincang mau pergi kemana, kemudian kami langsung saja berkenalan tanpa panjang lebar hanya karena kami sama-sama hendak melancong ke tanah pulau dewata. Yang jelas sampai sekarang, kami masih berkawan dan saling berkabar. Namun, saya enggan untuk bertanya kehidupan asmaranya, takut jadi zombie lagi, wkwkwk.




Denpasar, 2013


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...