Langsung ke konten utama

Jagung Bakar dan Sedikit Garam

Harus kuakui, aku mulai bosan menjadi seorang pelancong yang kadang dengan sengaja tersesat kesana kemari. Aku bosan menjadi turis yang bisa ke tempat indah manapun yang mungkin tidak bisa semua orang rasakan. Hal-hal semacam itu sekarang merubah pandangan hidupku. Sebagus dan secantik apapun tempat yang kukunjungi, aku tak dapat menetap disana. Aku tak dapat banyak hak atas apapun. Aku hanya bisa memandangnya, setelah itu merenung lagi berdua bersama sepi yang hadir di tengah keramaian kursi bis atau kereta menuju tempat berikutnya atau penuh sesak pasar yang menjajakan pernak pernik souvenir yang dipoles cantik. Namun benda tetaplah benda, bagaimanapun bentuk rupanya. Hari berganti. Cuaca berganti. Kesunyian tetap hadir tak sudi pergi. Menjelma ruang hampa yang ditumpuk segudang pertanyaan. Hal yang membosankan. Sepertinya progres hidupku dihabiskan dengan ruang kosong tanpa sudut.


Hari ini, perjalanan kesekian. Entahlah, bosan sudah rasanya berhitung. Sepertinya memang matematika bukanlah hal yang kuminati sedari dulu, bahkan hingga ke perhitungan dasar sekalipun. Mungkin aku terlampau rumit untuk angka-angka. Musim panas telah tiba. Sesuai ramalan cuaca, itulah hebatnya mereka, para pakar yang bisa memperhitungkan secara matang tentang prakiraan cuaca. Sungguh pun aku tidak mengerti bagaimana caranya. 


Banyak hal yang harus dipikirkan. Bahkan ketika sedang dipikirkan, seperti susunan bata tua yang siap ambruk ditumpuk dengan bata tua lainnya. Dan aku yakin semua manusia harihari belakangan ini mengalami hal yang tidak jauh beda denganku. Finansial lah. Merasa krisis di seperempat abad lah. Ditinggalkan oleh salah satu bahkan lebih anggota keluarga di waktu berdekatan lah. Menyebalkan memang. Gerak terbatas. Harihari yang berat bagi siapapun. Episode kehidupan terus bersambung bersamaan dengan cerita hebat maupun laknat. 


You deserve better than it, keep looking forward on it no matter what!!!” katanya.


Hei, bagaimana bisa kamu bilang begitu, kamu saja baru mengenalku beberapa hari yang lalu, ucapku dalam hati, bahkan belum sebulan. That’s not fair! Seorang asing, bagiku. Sama sepertiku, aku asing baginya. Belum tahu banyak satu sama lain. Deru angin musim panas berhembus menggoyangkan rambut pirangnya. Kerumunan orang berlalu lalang. Begitu juga burung merpati yang tercecer di halaman luas pusat kota. Aku hanya berani menatapnya dari samping seusai mendengar perkataannya. Aku masih belum paham apa maksud dari kalimat terakhir yang begitu jelas kudengar itu. Sementara dia hanya meneguk air mineral dalam botol kecil di tangannya tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. 


You look so tired. Let’s take some rest.” Ajakku.


“Tidak, tidak apa-apa denganku. Kau yang seharusnya istirahat. Harimu lebih buruk dariku. Jangan mengelak. Sekarang musim panas baru saja tiba, tapi ada badai besar di dadamu.” 


Ucapannya benar. Tapi aku tidak ingin mengakui keadaanku yang sedang payah ini. Aku selalu berpura-pura tidak ada apa-apa. Banyak hal yang kututupi. Tapi di dekatnya, aku kalah telak, bahkan tanpa bercerita pun, dia bisa tahu semua keadaanku hingga begitu dalam. Apalagi di depan seorang perempuan, gengsiku terlalu tinggi untuk terlihat lemah maupun lelah. Sama seperti saat di depan mamaku, bagaimanapun keadaanku, aku hanya ingin terlihat sebagai anak manis tanpa masalah hingga tidak membuatnya khawatir dan berpikir lebih padaku. Kalau sampai hal itu terjadi, bisa merepotkan. Dan aku akan sangat kecewa pada diriku sendiri. 


“Kita masih bisa kan jalan ke beberapa tempat lagi di sekitar sini?” ucapnya.


“Tentu saja bisa, aku tidak keberatan.”


“Aku ingin lihat selat yang ada di sebelah timur sana. Aku penasaran dengan orang-orang yang suka sekali menghabiskan waktunya untuk memancing. Padahal ikan yang mereka dapat tidak lebih besar dari seukuran penis yang belum ereksi.”


Kita berdua berdiri. Bergegas ke tempat yang dimaksud. Dan sepakat untuk berjalan kaki menyusuri jalanan yang dipenuhi pelancong dari berbagai sudut negara. Hari benar-benar cerah. Langit biru tanpa celah terhampar luas. 


“Menurutmu apa yang membuat Einsten terus berimajinasi hingga tercipta segala penemuannya?” pertanyaan aneh muncul dari bibir tipisnya.


“Kupikir dia terlalu serakah menelan seluruh kesabarannya.” Kujawab sekenanya tanpa berpikir panjang.


“Kok begitu? Kenapa kamu bisa tahu?”


“Sepertinya hanya kesabaran yang dia miliki selama mewujudkan imajinasi-imajinasi liarnya. Bayangkan kalau dia tidak sabar dan mengutamakan egonya dengan pergi ke tempat-tempat dukun. Apa yang dia hasilkan sekarang? Mungkin beda lagi kan?”


“Kamu terlalu mistis ya rupanya.”


“Bukan begitu, bukannya Einsten selalu mengutamakan diksi imajinasi? Aku sedang mengikuti petunjuknya. Apa aku berlebihan?”


“Langsung dipraktikan ya, haha.” ada tawa kecil di raut wajahnya saat kalimat ini terlontar.


Aku pun ikut tertawa pelit. Hari ini cuaca benar-benar bagus. Awal musim panas yang baik, walaupun tidak benar-benar baik. 


“Kenapa tidak kepikiran Bieber?” tanyaku.


“Justin? Maksudmu? Ah dia membosankan. Biar orang-orang saja yang membicarakannya. Aku tidak mau ikut-ikut. Sudah terlalu banyak kan yang tahu kehidupannya padahal mereka tidak mengenalnya sama sekali.”


“Benar juga, tapi kenapa Einsten? Bukannya kamu juga tidak mengenalnya langsung kan?”


“Kamu terlalu penasaran dengan hidup orang ah, kamu tuh lagi kacau, beresin dulu hidupmu tuh.”


Sial. Kena lagi. Padahal aku tidak bermaksud membawa obrolanku kesana. Aku ingin sembuh tuhan, itu juga kalau aku memang sedang dalam keadaan sakit. Aku baik-baik saja, meski pun betul sedang tidak baik-baik saja. 


“Aku mau jagung bakar, bagaimana denganmu?” sambil menunjuk sebuah gerobak merah dengan payung di dekat taman.


“Boleh juga. Aku mau satu.”


Sebuah rangkaian gerbong kereta trem muncul melewati jalurnya. Dia dan aku berhenti menunggu gerbong terakhirnya menjauh. Suaranya cukup bising sehingga aku tidak bisa mendengar beberapa kalimat yang baru saja dia ucapkan. Menunggu si ular besi leewat, beberapa orang berdesakan denganku. Dia meraih tanganku dan menggenggamnya saat gerbong terakhir trem benar-benar menjauh. Dia menggandeng tanganku for real. Sebuah hari yang mengagetkan, seperti mendengar gelegar petir di tengah musim panas yang kering. Sungguh kulit di tangannya halus sekali. Juga dingin dan lembut. Seperti guguran salju yang jatuh di bulan Oktober. 


“Tidak apa-apa. Ayo!” 


Dia melirikku sebentar. Lalu menganggukan kepala. Aku sempat mematung beberapa saat, masih tidak bisa mempercayai apa yang sedang terjadi. Bagaimana bisa. Mungkin terlihat sebagai hal sederhana. Tapi, bergandengan tangan dengan lawan jenis di tempat asing bersama orang yang juga benar-benar asing itu bukan hal sederhana. Oh tuhan! 


Setelah membeli dua jagung bakar, dia dan aku kembali melanjutkan perjalanan. Menyusuri trotoar kecil, tidak jarang aku berpapasan dan berbagi ruang dengan orang-orang. Begitu juga dengannya. Lagi. Jarinya meraih tanganku. Menggenggamnya. Utuh. Dan tanpa penolakan, aku dengan sukarela menerima tawaran tanpa perjanjian tertulis itu. Meskipun saat berpapasan dengan orang, dia tidak melepas barang sejengkal genggamannya. Sebuah bis berhenti di halte yang disediakan untuknya. Manusia-manusia kecil berhamburan keluar masuk boks besi jumbo berwarna kuning lemon. Dia dan aku tidak mempedulikannya, meski kadang tak sengaja aku menoleh ke wajah-wajah asing itu. 


“Menurutmu berapa kali orang bahagia dalam sehari?”


“Ah, apa?” Aku tidak begitu jelas mendengar apa yang baru saja diucapkannya. Seolah aku tidak disana seperaekian detik itu. Entah aku berada di ruang mana.


“Kamu terlalu sibuk memperhatikan orang lain si, coba kamu perhatikan diri kamu sendiri dulu kenapa.”


Seketika, dia terlihat jengkel padaku. Tapi jemari tangannya masih menggenggam jemariku. Aku bisa melihat urat biru di kulit cerahnya, juga beberapa titik hitam kecil sengatan matahari disana. 


“Eh maaf, tadi aku fokus melihat jalan. Nanti kalau aku tersandung kan bisa merepotkanmu.” Sial aku bohong padanya, padahal benar katanya. Aku terlalu sibuk memperhatikan lalu lalang orang. Sibuk dengan kesepianku sendiri meski di tengah keramaian. Entah apa yang sedang aku pikirkan saat itu.


“Kukira kamu melihat orang-orang itu.” Beruntungnya dia mempercayai apa yang aku katakan.


Setalah melewati trotoar yang panjang dan dipenuhi toko kecil yang berdagang souvenir, akhirnya dia dan aku hampir tiba ditempat tujuan. Air selat sudah nampak. Biru dan teduh. Perahu besar kecil pun ikut nampak. Riuh dan penuh pengunjung. Di punggung jembatan, tidak sedikit orang-orang melempar kail dari jorannya. Dia dan aku mendapati sebuah kursi kosong lalu duduk disana. Menyantap jagung bakar di tepi selat di siang hari ternyata bukan hal yang buruk juga ternyata. Kukira kegiatan ini hanya cocok saat berkemah atau di musim hujan saja. Hari mulai sore, angin berhembus kencang dari berbagai sisi secara bergantian. Sekali duakali aku bisa mencium aroma khas parfum yang menempel di tubuhnya dengan jelas. 


“Oya, tadi aku nanya, menurutmu, berapa kali orang bisa bahagia dalam sehari?”


“Ah, kamu salah nanya orang kalau soal hitung-hitungan. Matematikaku sudah buruk sejak dalam kandungan.”


“Serius! Ayo bantu aku jawab, aku penasaran.” Dia melempar tatapannya ke arahku. Dua bola mata bening kecoklatannya tepat seperti ujung busur beracun yang sedang mengancam targetnya tepat sasaran. Aku tidak berkutik ditatap seperti itu. Rambutnya berkali-kali diacak angin. Dia tidak peduli, masih mendelik ke penglihatanku. Aku mencoba sok kuat menatap balik padanya. Hingga ada sebuah garis lurus transparan diantara kedua bola mata kita.


“Baiklah, baiklah. Kamu boleh tidak setuju denganku. Tapi menurutku, tidak ada yang bahagia lebih dari sekali dalam sehari. Bahkan ada yang setahun lebih hidupnya tidak berjumpa dengan kebahagiaan.”


“Kenapa emang?” 


Dia mengejarku dengan pertanyaan lain, sialan.


“Entahlah, aku tidak tahu rumus pasti cara menghitung kebahagiaan seseorang. Memang kamu tahu?” Yes, giliranku menyerangnya. Akhirnya. 


“Aku menyukai Eisnten, tapi tidak dengan rumus-rumus. Kamu paham kan?”


Ah, jawaban macam apa itu. Enteng sekali. Tidak adil. Mana aku tidak mengerti, tapi malas sekali untuk mengajukan protes dan bertanya balik. 


“Ngomong-ngomong, kamu tadi ingin tahu kenapa orang-orang itu pergi memancing padahal hasilnya tidak seberapa, iya kan?” Aku mencoba mengalihkan bahasan barusan.


“Betul, kenapa mereka harus bersusah payah seperti itu. Bukankah buang waktu saja. Bukankah mereka bisa pergi ke pasar dan membelinya dari pedagang bahkan bisa memilih ukuran yang mereka butuhkan tanpa harus repot melamun memegang joran.”


“Itu mungkin yang kamu lihat luarnya saja.”


“Maksudmu?”


“Begini, menurutmu mereka sedang membuang waktu. Sebagian tuduhanmu itu tidak salah, mungkin mereka sedang tak ada aktifitas lain. Lalu soal seberapa banyak orang bahagia dalam sehari, bagaimana kalau dengan pergi memancing orang-orang itu juga bisa mendapatkan beribu-ribu kebahagiaan dari getaran joran saat seekor ikan sial nyangkut kailnya? Bukan dari berapa banyak atau ukuran ikan yang mereka dapatkan. Kamu bisa membeli ikan di pasar dan memlilih berbagai macam ukuran. Itu betul. Tapi kamu tahu memang ada toko yang menjual sensasi sambaran ikan? Kita tidak pernah tahu kan kalau tidak melempar seperangkat alat memancing itu sendiri?”


“Kenapa kamu bisa begitu cepat membuatku setuju dengan argumenmu si, kurang seru ah. Ingat, aturannya kamu tidak boleh membuatku kagum sama kamu ya. Awas aja.”


“Lalu, mau gimana? Sepertinya jagung bakar yang kumakan kurang terlalu banyak garam jadi tidak menghasilkan perdebatan panjang ya.”


“Hari sudah petang, mau langsung balik ke penginapan apa kita cari makan malam dulu nih enaknya?”


“Resto seafood diujung jalan sepertinya boleh kita coba sebagai tiket pengantar tidur malam ini, gimana?”


“Siapa takut! Sekarang gantian, on me! No debat!!!”


Hari mulai benar-benar petang. Layar jam dijital di tangan memperlihatkan angka sembilan lebih lima. Sketsa burung menghiasi langit. Gedung tinggi, bangunan tua, tempat ibadah mulai terlihat menyalakan sinar merkuri. Tangannya meraih tas totebag dan meletakkan lingkar talinya di bahu, sementara telapak tangan lain dan jemarinya kembali meraih tanganku. 


“Kamu lumayan seru juga untuk perjumpaan hari pertama dengan orang asing. Mari kita lihat malam ini, siapa yang bisa bertahan lebih lama.” kata-kata provokativ meluncur deras dari bibir tipisnya yang juga tidak kalah provokativ.


Dia dan aku kembali menyusuri trotoar pejalan menuju resto dengan cat utama warna hijau dan hiasan kerang yang dibuat lukisan. Aku memesan satu ekor ikan tuna kecil rebus tanpa kepala, udang bakar beserta cumi dan dia hanya memesan salad buah dan jus delima. Sejak saat itu aku sedikit tahu beberapa rahasia kecilnya, misalnya, dia ternyata seorang vegan.


“Sebaiknya kita banyak beristirahat malam ini. Besok masih panjang.” ucapku.


“Akan kubuat istirahatmu sangat berkualitas malam ini.” dia memberiku kalimat penutup hidangan yang menantang.


Uh, malam musim panas yang benar-benar memanas. Matahari baru saja redup dan surut dibalik gedung. Lalu lalang manusia masih memenuhi jalanan. Deru kuda besi masih terlihat sibuk mengantar tuannya kesana-kemari. Halte bis juga masih terlihat dirayapi manusia.


“Sepertinya perlu kamu buktikan ucapanmu itu, akan jadi apa semesta malam ini.” tanpa berpikir panjang aku memberinya penawaran.


“Tenang saja. Ada garansinya kok, kujamin itu!”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...