Langsung ke konten utama

Makan Siang

Antrian pintu masuk museum baru saja dibuka. Pengunjung memenuhi lajur yang sudah disediakan. Kelompok tur terlihat satu gerombolan berisikan kurang lebih sepuluh orang. Dia dan aku pergi ke loket. Kita membeli tiket masing-masing untuk diri sendiri.


“Kamu menyukai tempat ini?” tanyaku, was-was dia bukan orang yang tepat yang kuajak kesini.


“Tentu, aku suka sekali bangunan bersejarah ini. Aku bahkan tidak tahu kalau disini ada peninggalan lain yang seperti ini. Aku malah wajib berterima kasih padamu.”


“Ah anytime. Lagian kenapa juga kamu tadi nanya aku mau kemana. Ya asal kuajak aja kesini.”


“Memang aslinya kamu mau kemana?”


“Aku mau nyari rumah makan, aku belum sarapan dan sedang kelaparan.” 


“Wah maaf aku jadi merubah tujuanmu dong.”


“Eh iya gapapa. Sudah tidak terasa lapar lagi ko semenjak ada teman ngobrolnya.”


Setelah petugas mengizinkan kita masuk, kita memutari koridor yang tertimpa bayangan pilar penyangga tribun bagian paling atas.


“Bisa kamu bayangkan bagaimana orang-orang dulu bisa mengangkat batu seukuran lemari pendingin itu dan memesangnya dengan tepat hingga kokoh berabad-abad.”


“Mungkin karena hal itulah mereka kemudian menjadi sosok-sosok agung yang didewakan, ya?”


“Mungkin, dan mereka pantas sekali mendapatkan gelar itu.”


“Lihat, berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuat satu patung Hermes ini? Setahun? Duatahun? Satu abad?”


“Yang jelas ini bukan mahakarya yang semalam jadi.”


“Setuju. Lihat saja bagaimana mereka memotong batu-batu besar itu dan menjadikannya pilar berukuran identik satusamalain tanpa celah. Bahkan meski beberapa pilar itu sudah tidak utuh sekarang, mereka nampak masih kuat menyanggah batu besar itu diatasnya.”


“Sungguh peradaban yang menganggumkan.”


“Bisa bantu ambil potretku lagi?” dia memberiku sebuah seringai gigi sedikit malu, pipi di raut wajahnya sedikit memerah. 


“Tentu bisa dong, mana sini gawaimu?”


“Sebenarnya malu aku, terlalu meminta banyak pada seorang yang baru saja kukenal. Tapi gimana lagi, mana mungkin bisa kubawa patung-patung besar ini ke rumah kalau bukan hanya potretnya saja. Mana tadi aku lancang main nanya kamu mau kemana segala. Jadinya gini kan, nyusahin aja. Maaf ya.”


“Aku bisa mengerti ko, santai saja. Aku yang harusnya berterima kasih. Aku jadi ada teman buat ngobrol nih sepanjang perjalanan. Kalau tadi kan cuma berdua saja sama angin.”


Dia tertawa mendengar kalimatku. Setelah itu mulailah sesi pemotretan bak model handal. Aku mengambil beberapa potretnya dari beberapa sudut museum yang tidak terlalu luas untuk berpose ini. Sesi itu berlangsung singkat. Dia menyukai hasil bidikanku. 


“Berapa harga untuk satu jepretan ini pak?” dia mengajakku bercanda. 


“500 euro saja bu, tidak mahal.”


Deal, aku akan membayarnya begitu tur hari ini kelar ya pak.”


Dia dan aku tertawa. Dia menatap ke arahku, aku tak melihatnya langsung, tapi aku bisa memastikannya kalau dia serang menatap ke arahku, terutama saat tertawa. Kita melanjutkan perjalanan. Menyusuri pahatan patung yang tidak utuh ke pahatan patung lainnya, yang juga sudah tidak utuh. 


“Di dalam tulisan ini dijelaskan “Perpaduan majestik antara Yunani, Romawi dan Anatolia.” Sebuah mahakarya agung dari abad kedua. Tapi aku tidak begitu paham dimana itu Anatolia.”


“Aku juga tidak paham, tapi sepertinya daerah ini sendirilah yang disebut teritori Anatolia itu.”


“Sepertinya kamu benar.”


“Sepertinya kita perlu membaca buku sejarah lebih banyak lagi.”


Setelah selesai mengitari bagian dalam, di baguan luar, sebuah taman dengan tatanan ornamen peninggalan kuno lainnya dipajang. Sebuah pertunjukan lain dari tempat ini. Entah, ini menu utamanya atau bukan. Yang jelas, terdapat beberapa kuburan Romawi dan nisan bertuliskan aksara Arab juga beberapa patung kuno lain yang sudah menyedihkan kondisinya. Patung manusia kepala ular Medusa nampak sedikit mendominasi tiap sudutnya. Rombongan tur lain berisikan empat orang berpapasan dengan kita saat berdiri di depan patung Nike yang agung. Mereka menyapa kita, kita pun membalas sapaannya. Pengunjung yang ramah. Di dekat patung Nike juga terdapat tembok dengan ukiran bayi gembul yang sedang mengacungkan anak panah pada busurnya. 


“Hei ini Aphrodite si dewi kecantikan yang mahsyur itu.”


Tidak jauh dari sana, beberapa patung dewa dewi juga dipajang. Bak sebuah pameran, ornamen-ornamen yang lepas dari tempat asalnya juga dipertontonkan. Angin dari laut berhembus. Birunya samudra juga kelihatan dari sudut barat taman di dalam museum yang sedang kita kunjungi ini.


“Kalau cape, duduk dulu disana tuh yuk.” ajakku.


Ada sebuah bangku taman yang kosong. Di bawah pohon rindang, kita duduk menghadap arah laut. Pemandangannya tidak begitu bagus karena terhalang pagar beso bagian museum. Namun kita cukup menikmati angin yang datang berhembus menghampiri arah kita. Seperti adegan dewa dewi yang sedang dikipasi dayang-dayangnya.


“Sejarah mereka panjang sekali ya?”


“Dan kita baru saja mengawali sejarah kita sendiri hari ini ya?”


Dia mengurungkan meminum air mineral dalam botol kecil. Dia menyempatkan diri untuk tertawa. 


“Iya ya, tadi entah bagaimana bisa aku kepikiran nanya kamu mau kemana setelah di tempat tadi.” 


Semesta punya caranya sendiri untuk bergerak. Misteri yang sukar untuk dipecahkan. Justru semakin dicari malah semakin kabur pergi. 


“Penginapanku tidak jauh dari sini. Sebagai ganti karena kamu sudah menemaniku, istirahatlah dulu disana sebelum kamu balik ke tempatmu.” Dia memberiku sebuah tawaran yang sangat gila.


“Tempatku juga tidak begitu jauh ko. Gampang, tenang aja.”


“Yaudah kalau gitu aku saja mampir ke tempatmu, gimana? Boleh ga?”


“Ah apa?”


“Kamu keberatan ya?”


“Tidak, apa aku tadi ga salah dengar?


“Aku yakin kamu bukan orang jahat. Jadi terserah, mau mampir ke tempatku atau bawa aku ke tempatmu? Soalnya, aku belum siap untuk bepergian sendiri lagi setelah ini.”


“Tapi..”


“Atau kamu bakal nyesel seumur hidup nih?”


“Tapi aku lapar..”


“Ah itu mah gampang, ayo kita cari makan dan cemilan dulu.”


Tengah hari baru saja lepas landas. Terik siang itu makin kurang ajar bagiku. Bisa kurasakkan tengkuk leherku terpanggang. Kulitku terasa bocor dari berbagai arah. Banjir keringat tak terbendung. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...