Menemukan jam tangan seseorang di sebuah tempat yang tali pengaitnya
terputus tak akan membuat waktumu yang hilang ataupun hal-hal yang ternyata kau
harapkan akan kembali. Waktu merupakan sebuah remot kontrol yang tak mau diatur
dan bergerak maju sesukanya sendiri, kita lah yang harusnya mengatur kendali
atas diri kita sendiri untuk tindakan dan sikap apa yang harusnya diperbuat.
Waktu selalu tersedia secara gratis bagi siapapun, tapi ia nampak akan sangat
mahal jika kita membuangnya sia-sia tanpa menghasilkan makna apa-apa. Sejauh
ini belum ada seorang ilmuwan pun yang mampu memutar balik waktu meski hanya
untuk satu detik ke belakang. Dunia memang semakin canggih, tapi waktu jauh
lebih canggih lagi. Kita hanya bisa mempelajari kejadian atau rentetan
peristiwa masa lalu lewat arsip atau benda-benda yang memang mewakili waktu
dimana ia hidup dulu, sekalipun benda itu benda mati atau dari cerita di teks
orang-orang yang tinggal di masa waktu yang kunjung.
Setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Setiap orang memiliki masa
lalunya masing-masing. Ada yang hanya diketahui oleh diri sendiri. Ada yang
diketahui oleh banyak orang. Singkatnya, setiap orang punya sejarahnya masing-masing.
Seperti orang tua yang melahirkan seorang anak, ia akan selalu ingat darimana
proses awal dari kelahiran itu, tetapi tidak dengan seorang anak, ia hanya
mengetahui kembang tumbuhnya begitu bisa menggunakan ingatan di kepalanya
dengan baik. Seorang anak baru dapat mengetahui proses lahirnya sendiri setelah
ia belajar biologi di kelas atau cerita dari orang tuanya sendiri yang
berpikiran terbuka.
Tak ada yang kalah. Waktu selalu memberikan sebuah kemenangan setiap
detiknya, kemenangan ego misalnya. Namun berapa banyak yang sadar akan hal itu?
Mungkin tidak ada, manusia selalu merasa dirinya kalah oleh sesuatu yang tak
mereka lihat di badan mereka sendiri. Itulah kenapa, hal yang tak nampak selalu
lebih berbahaya daripada yang terlihat. Kita tak pernah melihat ego di diri
kita ini dan bahkan dengan pongahnya tak mau melihatnya sama sekali, kadang
terlalu ceroboh menganggung-agungkannya hanya untuk sesuatu yang pada akhirnya
merugikan diri sendiri. Manusia sebenarnya bagian dari ekosistem hewan yang
sederhana, tapi kemudian ego yang dimilikinya lah yang membuat ia menjadi
kompleks dan menelan dirinya sendiri. Pikiran yang awalnya diberikan sebagai
sebuah anugrah malah jadi bumerang yang bisa menghancurkan diri sendiri hingga sekelilingnya.
Sore itu aku sepulang kuliah hendak mencari makanan sekitar kosan. Tempat
tinggal sementaraku dekat dengan sebuah taman yang selalu ramai ketika sore
hari cerah menjelang. Aku duduk di bangku kayu dan menikmati semangkuk ketoprak
andalan di salah satu sudut taman. Tak sampai lama pesananku datang. Tak sampai
lama juga aku melahap semua isi di piring. Kerupuk, sayur tauge, kuah kental
sambal kacang, tahu dan teman-temannya. Aku menyerahkan piring itu kepada si
mamang yang dagang, mengambil secangkir teh tawar hangat kemudian menenggaknya
tak berapa lama hingga hanya tersisa beberapa ampas kecil batang teh. Aku masih
duduk disana untuk beberapa menit guna memastikan semua yang kulahap telah
sampai tandas di dasar lubang lambung biar bisa dicerna secara maksimal.
Barulah setelah itu kutanggalkan gelas itu di meja tempat si mamang biasa
mengiris tahu dan mentimun dan menanyai berapa seporsi tadi dihargai dengan
alat pembayaran yang sesuai. Ia menyebutkan nominal, aku menyerahkan uang yang
sedikit lebih besar dari angka yang disebutkan si mamang, ia memberiku dua
lembar pecahan kecil sebagai kembalian. Aku mengucapkan terima kasih padanya.
Gedung-gedung di kota ini tidak setinggi di ibukota. Transisi indah langit biru
menuju jingga dan matahari sore yang menunduk di barat terlihat jelas di mata.
Ketika semua orang berlalu lalang sibuk dengan pikiran mereka sendiri, semesta
punya cara sendiri menyajikan sesuatu.
Sore itu, hidupku masih terasa kosong, seperti belum melakukan apa-apa.
Tidak menghasilkan apa-apa. Atau memberi kepada sekelilingku apa-apa. Ini
adalah titik terendah dalam perenungan hidupku. Aku yakin aku baik-baik saja.
Tapi ada sesuatu yang perlu diperbaiki, entah di bagian mana. Aku pikir semua
berjalan dengan semestinya, tapi ternyata pikiranku keliru. Ibarat badan, semua
sehat-sehat saja, tapi terasa seperti ada sesuatu yang mengganjal jiwa. Yang
jadi masalah adalah, aku tidak tahu dimana bagian yang salah itu. Payah memang.
Badan sendiri sampai tidak kukenali dengan baik.
Cuaca mendung di awal Januari. Tahun baru yang menyebalkan. Hari-hari jadi
begitu pengab. Udara suntuk dimana-mana. Kopi terasa semakin pahit begitu
disesap, lebih pahit dari biasanya. Tapi aku tetap menyukainya. Aku
menghabiskan pagi dan sore, hingga satu waktu di malam hari untuk meluangkan
beberapa menit untuk duduk dan menikmati secangkir kopi. Kadang dengan kudapan
kue kering seperti kukis cokelat, kadang dengan gorengan tepung yang penuh
dengan minyak.
Hidupku berlalu biasa-biasa saja. Meski standar normal tiap orang-orang
berbeda, aku yakin aku juga masih pada lajur yang semestinya. Yang agak aneh
mungkin, sebagai lelaki, aku tidak merokok. Maaf, aku perokok juga sih, tapi
pasif. Sisanya sama dengan kebanyakan. Minum-minum sampai mabuk kadang kalau
lagi banyak uang atau ada teman yang sedang kecewa pada realita, aku ikut
membantunya sampai lupa daratan, pergi ke tempat wisata sekali duakali tiap
bulan, mengantar teman kencan ke mol untuk berbelanja kedok gaya hidupnya yang
memuakkan, bekerja sebagai tenaga lepas banting tulang. Ya semuanya mirip
dengan kebanyakan manusia lain kan, hingga pada suatu ketika, semua yang pernah
kuraih terasa tak ada artinya. Hampa. Kosong. Nihil. Ketiganya cocok sekali
untuk menggambarkan apa yang kurasakan. Aku kesepian. Sebagai lelaki, aku benci
untuk mengakuinya. Tapi itulah realita yang menggantung di depan mukaku
sekarang dan aku tidak bisa menghindari atau menutup-nutupinya, meski sudah
kucoba dan hasilnya gagal. Entah kenapa kesepian terlalu ingin sekali akrab
denganku. Kadang kita selalu bisa mendapat apa yang pantas kita dapat. Sial memang.
Mungkin akan terdengar payah saat seorang lelaki mengeluh akan hidupnya. Mungkin
karena di banyak literatur, lelaki selalu diidentikan dengan maskulinitas yang
tergambar pada dongeng-dongeng lama, bahwa kaum Adam selalu digambarkan sebagai
sosok yang mengandalkan ototnya, jarang dengan perasaan. Di kisah-kisah perang,
lelaki selalu mendominasi sebagai tokoh pahlawan kebajikan.
Hariku runtuh seketika. Tidak jelas mengapa. Kadang mencoba untuk
menuliskannya dalam beberapa kalimat saja supaya bisa dijelaskan, tapi tidak
bisa dan aku sudah lebih dulu menyerah tanpa menemukan padanan yang tepat.
Tidak menemukan kata-kata yang cocok untuk merangkainya. Aku menganggap diriku
telah sampai di titik akhir yang tak akan ada satupun orang yang dapat
menolong, bahkan diriku sendiri. Aku mengerjakan sesuatu yang sia-sia. Tidak ada
hasilnya. Menyedihkan memang. Beberapa teman ingin membantu, namun egoku
lagi-lagi menghentikannya. Aku semakin jauh dan dalam tenggelam kepada sesuatu
yang tak jelas. Aku gelap dan kelam. Di antah brantah yang tidak kukenal. Oh
tuhan, sebenarnya aku tak mempercayainya, bisakah
aku menolong diriku sendiri? Kemanakah harus kubawa hidupku ini? Apa yang harus
kuperbuat untuk hari-hariku ini? Kenapa gelombang waktu itu begitu cepat
menggulungku tanpa ampun lalu menghantamkan seluruhku ke karang keras
penyesalan ini.
Setiap orang melakukan kesalahan. Melewatkan kesempatan. Jatuh dalam
kegagalan. Kemudian terpuruk. Mendapat satu dua kesempatan lagi. Melewatkannya
lagi. Dan terpuruk lagi. Lagi, lagi dan lagi. Sebaik-baik manusia, kesalahan
pasti pernah dibuatnya. Direncanakan atau tidak, hal-hal buruk sesekali pasti
terjadi pada diri manusia, begitu juga dengan hal baik.
Aku mengenalnya saat masih duduk di bangku semester tiga sebuah perguruan
tinggi di sebuah kota di Jawa. Mungkin terdengar klise dan serupa adegan drama
dalam sinema televisi elektronik. Tapi percayalah, ini yang sebenar-benarnya
terjadi. Gara-gara sebuah buku, awal aku mengenalnya karena ketidaksengajaan.
Aku mendapat nilai menyedihkan dan mengulangnya di semester ketiga ini dengan
penuh pertimbangan, aku akan satu kelas dengan adik angkatan. Aku harus berani
mengambil resiko mendapat imej sebagai mahasiswa yang tanda kutip, bodoh
kurang pintar. Aku meski berhadapan dengan egoku sendiri bahwa apa yang akan
kulakukan akan membuat mentalku sedikit turun atau tebal sekalian.
Aku tetap memilih kelas itu. Aku mengulangnya. Sialnya, satu angkatan hanya
aku sendiri yang mengambil ulang mata kuliah itu. Aku terjebak dalam ruang
kelas yang aneh. Aku merasa seperti murid baru. Aku merasa menjadi orang asing yang
sedang tersesat di tempat asing. Tatapan mata dosen yang mengampu mata kuliah
itu pun begitu terasa lebih tajam dari biasanya. Namun semua itu kurasakan
hanya di hari-hari awal saja.
Hari demi hari berlalu, satu persatu aku berkawan dengan adik angkatan itu.
Mereka kira aku juga mahasiswa baru. Ya cukup melegakan, walaupun akhirnya
kuberi tahu kalau sebenarnya aku sudah dua semester diatas mereka. Tidak banyak
sih, terutama hanya mereka yang duduk di sekitarku saja. Paling banyak lima
orang, itu juga laki-laki semua. Juga karena kami sama-sama hobi bermain bola
futsal. Yang akhirnya, aku mengundang mereka bergabung bersama tim dan menjadi
teman ngopi sampai lulus nanti.
Seorang mahasiswi menghampiriku di jam selesai mata kuliah yang kuulang. Ia
berambut panjang, memiliki mata sipit, kulit langsat dan cukup tinggi untuk
seorang perempuan sebayanya. Ia menanyakan namaku. Ya, itu aku, jawabku. Ada
buku tentang tata bahasa tidak mas, katanya. Ya, selain menjadi mahasiswa, aku
juga menjadi penjual buku, terutama buku materi kuliah jurusanku. Seorang kakak
angkatan satu daerah menawariku bisnis kecil-kecilan ini beberapa waktu
sebelumnya. Aku menyetujuinya. Begitulah kemudian bisnis ini kami jalankan. Ia
punya rekanan di kota yang mendistribusikan buku-buku ini. Jadilah harga yang
kami jual juga sesuai dengan yang ada di toko buku sehingga terjangkau bagi
semua mahasiswa. Bahkan kadang kami beri harga lebih rendah. Ia menanyakan buku
tata bahasa untuk mahasiswa tingkat awal. Kebetulan stoknya masih lumayan
banyak. Tapi tidak kubawa semua. Hanya ada satu di tas, dan itu pesanan
seseorang. Akhirnya hanya kutunjukan cover
buku itu sebagai contoh, dan ia mengiyakannya. Lalu kubilang saja, maaf, kalau
buku yang kubawa sekarang sudah ada yang memesan, mungkin baru besok bisa
kubawa satu lagi buatmu, kataku padanya. Ia bilang tidak apa-apa, tidak sedang
buru-buru kok. Baiklah, ucapku. Kalau begitu, biar kuminta nomor teleponmu
saja, biar besok mudah kuhubungi kamu, spontan ucapku. Dan ia memberikan nomor
teleponnya. Kami berpisah setelahnya. Di sebuah lorong koridor pintu utama
kampus.
Tidak ada yang terjadi setelahnya. Maksudku, aku masih belum merasakan
apa-apa padanya dan masih menjalani hari-hari seperti biasa. Siang itu aku
masih ada jam kuliah. Untuk menunggu jam berikutnya dimulai, aku menghabiskan
waktu di kantin bersama teman-teman seangkatanku. Menghabiskan secangkir kopi
dan beberapa gorengan di tengah hari bukanlah hal buruk, apalagi ditemani
dengan obrolan ngalor-ngidul berisi candaan hingga lupa waktu. Sampai tak
terasa jadwal kuliah sebentar lagi dimulai, aku bergegas ke kamar kecil lalu
pergi ke ruang kelas dimana mata kuliah itu akan diadakan. Kuliah memang selalu
membosankan, bagiku, sebenarnya. Tapi bagaimana lagi. Kuakhiri hari itu dengan
secangkir kopi di malam hari setelah berlatih futsal di lapangan bersama.
Sehabis mandi, kurebahkan badanku di kasur kosan yang kubiarkan lesehan
tanpa dipan. Menatap langit-langit yang lampunya sudah kupadamkan, terus
ketiduran.
Komentar
Posting Komentar