Langsung ke konten utama

Hari Pertama


Jalanan terlihat cukup ramai. Riuh kendaraan memadati dua lajur yang saling berlawanan. Lalu lalang bis kota. Kuda-kuda besi kapitalis. Mobil-mobil pribadi dengan penumpang egois. Kepulan asap nampak keluar dari beberapa mesin-mesin jalang kendaraan tua lalu menguap ke udara, membaur bersama laknat panas matahari yang jatuh dan tumpah ruah di Jakarta. Bising suara klakson terdengar beberapa kali saling sambung saling susul berurutan seperti terompet perayaan sebuah parade musiman yang selalu direncanakan dengan berbagai latihan. Dan semua keramaian artifisial itu belum kelihatan akan berakhir dalam waktu dekat.
“Gimana, sudah yakin bor?”
“Ya, harus yakin lah. Eman bor. Bukan perusahaan sembarangan ni. Perusahaan besar.”
“Jangan lihat dari besar ngga perusahaannya bor, lihat kinerja orang-orang di dalamnya.”
“Makanya nih kesempatan ga boleh kelewatan bor. Biar bisa belajar langsung dari mereka.”
Angin siang itu enggan berhembus, pengab dibiarkan jagat menjadi beringas menghajar sekujur tubuh manusia yang sedang beraktifitas. Dua orang pengamen sedang asik menghisap sebatang gulungan tembakau bergantian.
“Coba kesono yok.” Ucap salah seorang dari mereka. Keduanya mengenakan kaos hitam bergambar band beraliran punk.
“Bentar dulu lah, habisin ini dulu nih, nanggung tau.” Tawar salah seorang lainnya sambil memegang gitar buluk dengan kertas produksi yang masih menempel di gembung bagian dalam, tertulis buatan negeri tirai bambu.
“Yaudah cepetan dikit, napa. Kita belum muter-muter dari tadi nih.” Ucapnya dengan nada tidak sabar.
“Yaudah buru, biji. Gak sabaran amat si.” Sambil menjatuhkan puntung rokok yang masih tinggal seperempat itu ke tanah lalu menginjaknya menggunakan sepatu but kumel.
Di tengah obrolan dua orang kawan di sebuah warung kopi, dua orang pengamen dengan muka kusut dan bertato di lengan hingga wajah mereka datang menghampiri.
“Permisi bang.” Lalu salah seorang memainkan gitar cemprengnya sambil menyanyikan lagu milik band lokal tahun 2000an diikuti salah seorang temannya.
“Bentar ya, lanjutin dulu nyanyinya.” Kata Mungki sambil mulai menandaskan secangkir kopi hitam yang tadi ia pesan lalu setelah itu ia menaruh gelas transparan yang menyisakan ampas dan sedikit cairan hitam pekat itu di meja, kemudian ia mengarahkan jari-jari tangannya merogoh isi dalam saku celana jins yang bagian dengkulnya sudah robek seperti dicabik macan alas. Ia mencari uang receh disana, tapi sial, jarinya tidak menemukan uang pecahan kecil itu. Yang ada hanyalah gocengan. Tapi dasarnya hari itu mood Mungki lagi bagus, ia kasih cuma-cuma uang itu kepada salah seorang pengamen yang mendekat dan menengadahkan tangannya.
“Makasih banyak bang.” Ucapnya dengan nada serak layaknya seorang yang sedang sakit tenggorokan, lalu pergi sebelum menyelesaikan lagu yang sedang dinyanyikan dan pindah ke tempat lain.
“Tumben, baik amat kamu Ki. Pakai ngasih pengamen segala.”
“Itung-itung syukuran bor. Siapa tahu dengan memberi rezeki kita kedepan tambah dilancarkan bor.”
“Mantap juga nih quotenya. Berjiwa filantropi banget. Ha ha.” Ucap Ilham dengan nada sedikit mengejek.
“Ah cuma goceng aja. Gak perlu dibesar-besarin bor.” Mungki mencoba merendah pada apa yang baru saja terjadi.
“Ya habis, biasanya orang ngasih pengamen kan paling seceng doang.”
Mungki hanya membalas senyum seringai dari air mukanya.
“Eh, ngomong-ngomong, gimana di kampung? Ada kemajuan ga? Ada perubahan apa aja?”
“Ya ada lah, selain perutnya Aisyah idolamu yang maju, perutnya Pak Kades juga makin kedepan noh. Makanya balik sekali-kali bor, jangan merantau mulu.”
Sekarang giliran Ilham yang tertawa mendengar jawaban spontan dari karibnya itu sampai batang rokok yang sedang diapit jarinya menjatuhkan abu ke tanah. Tidak lama berselang, kedua pengamen yang persis sama dengan sebelumnya datang lagi. Padahal waktu itu Ilham baru menghabiskan dua batang rokok secara urut tanpa jeda, yang mana tidak sampai duapuluh menitan.
“Loh ini kan sama kaya yang tadi, yang udah dikasih goceng itu.” Kata Ilham.
“Maaf ni bang, tadi kan sudah saya kasih tuh..” Kata Mungki langsung kepada si duo pengamen di depannya.
“Iya bang maaf, kita orang yang sama kaya yang tadi, tapi lagunya yang sekarang kita bawain kan beda.”
Ya, kali ini kedua pengamen itu menyanyikan sebuah lagu dari band yang sama dengan judul lagu yang berbeda. Mungki geleng-geleng kepala kecil. Hadeh Jakarta, pikirnya. Tapi sudah dibilang, hari ini moodnya sedang baik dan untung jiwa dermawannya belum bergegas kabur kemana-mana. Jadi hal itu tidak jadi masalah buatnya, paling tidak untuk hari ini, tidak tahu kalau besok-besok kejadian identik seperti ini menimpanya lagi. Ia kembali merogoh saku kanan celananya, ia mendapati uang duapuluhribu rupiah. Kali ini ia memilih melunasi pembayaran di warung yang ia pesan dengan si Ilham barusan. Berharap si pengamen menyanyi lebih panjang sedikit daripada sebelumnya. Kedua pengamen itu terus saja bernyanyi dan bersabar menunggu transaksi di warung itu selesai. Seorang ibu menjelang lima puluh memberi kembalian pada Mungki, lalu Mungki menyerahkan uang kembalian itu ke salah seorang pengamen yang masih saja bernyanyi. Tidak buruk lah untuk suara pengamen jalanan siang itu. Tidak sampai hati merusak mood baik Mungki. Mungki juga cukup suka dengan lagu yang mereka nyanyikan. Meski terdengar melankoli dan cupu, tapi lagu ini ia tahu betul pernah memberi kenangan indah saat duduk di bangku sekolah menengah. Uang kembalian itu berjumlah duaribu rupiah. Mungki menyerahkannya dengan penuh hikmat.
“Nih bang, sekarang adanya segini, semoga berkah, terima kasih ya sudah menghibur.” Ucap Mungki menyindir keduanya.
“Loh bang, tadi kita nyanyi pendek dikasih goceng, masa sekarang cuma segini.” Protes si salah satu pengamen, tentu yang menerima selembar uang kertas itu di tangannya.
“Maaf nih bang, coba abang-abang ngamennya pakai lagunya yang sama kaya tadi. Lain cerita.”
“Hehe...” Akhirnya si pengamen dengan muka tembok itu masih merasa memiliki sedikit rasa malu. Mereka hanya bisa membalas cengengesan dan berangsur pelan bergegas meninggalkan dua karib yang baru ketemu lagi itu.
“Iya bang, kita yang makasih nih.” Salah seorang pengamen lain menyadari posisinya yang kurang ajar itu sambil menarik lengan kawannya.
Kedua pengamen itu pun menerima dengan lapang dada, selapang si pemberinya. Sambil berlalu mereka terus mengucapkan terima kasih pada Mungki dan Ilham yang masih duduk di bangku warung.
“Jangan balik lagi ya.” Ucap Ilham.
“Hehe iya bang.” Ucap kedua pengamen itu bebarengan, sambil rada cengengesan.
Saat tengah menjauhi warung, suara keduanya masih jelas terdengar. Mereka ribut beradu argumen satu sama lain.
“Ah, lo sih. Coba pakai lagu yang pertama tadi. Dapet goceng lagi kan lumayan kita. Bisa buat beli barang yang agak mahalan.”
“Mana tau gue. Lo si tadi ngasih pil apaan noh ke gue sampe parah gini efeknya.”
“Ya tapi gara-gara pil baru itu juga kita berani balik lagi kesono, goblok.”
“Bukan berani balik, lo aja yang maen nyelonong, ngga sadar kalau kita balik ke tempat yang sama. Malu-maluin tau.”
“Emang masih kerasa malu ya? Berarti kurang banyak nih tadi.”
“Bangke lu. Mau racunin gue apa. Kepala gue mau lepas nih, biji.”
Tak ada seseorang yang meminta orang lain untuk datang dan tinggal di Jakarta. Tapi entah mengapa kota ini selalu saja memiliki daya tarik mirip magnet bagi orang-orang dari berbagai penjuru nusantara untuk kemari. Tujuannya jelas, berharap bisa memperbaiki kehidupan mereka dalam hal mata pencaharian, sumber penghasilan. Mereka berani mencoba mengadu-ngadu nasib, menggantung harapan. Yang bertahan akan semakin kuat dan yang tak mampu bertahan, akan menyerahkan diri kepada jalanan, kepada apasaja. Hari sudah mulai sore. Matahari mulai meringkuk menunduk diantara punggung gedung-gedung beton pencakar langit. Hari ini cukup cerah dan lumayan bikin badan siapapun yang beraktifitas di luar ruangan gerah. Siang berlalu begitu saja. Waktu dengan cepatnya menggilas peradaban, layaknya sebuah ban yang mengguling liar tak terbendung dari atas perbukitan. Seorang empatpuluhan mendorong gerobak dagangannya yang sudah habis di atas bahu trotoar. Beberapa pengemudi ojek berkumpul menunggu penumpang mereka. Lorong sebuah jembatan penyebrangan jalan orang dari kejauhan terlihat menyerupai mainan lego yang bergerak otomatis seperti dikendalikan oleh rotor mekanik. Pengamen ondel-ondel terlihat seperti patung bergerak karena kerasukan musik yang dibawa oleh temannya dalam sebuah kotak. Kerumunan orang-orang di sudut lain di depan sebuah gedung perkantoran sibuk berlalu lalang dan masih belum terlihat akan berkurang menjadi lengang.
Ya wis, balik meng kosan yuh, wis sore kih.” Ajak Ilham.
Dan tanpa perlu pikir panjang Mungki menyetujui ajakan karibnya itu. Sore itu roda dua buatan Jepang menggilas aspal ke arah Kebayoran, hingga menyusuri lika-liku gang kecil penuh pengkolan, dipenuhi pemandangan bocah bermain keliaran. Hari itu juga, setelah beberapa lama meninggalkan Jakarta, Mungki akhirnya merasakan kembali udara pengab sialan kota ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...