Baiklah. Sebernarnya aku tidak sedang baik-baik saja. Aku Mungki Rangkuti,
usia 27 tahun, belum tahu kapan akan menikah. Aku ngga tahu harus dimulai
darimana dan akan dibawa kemana. Jadi daripada kupaksa harus begini begitu,
maka biar saja cerita ini mengalir seperti air, entah itu di got, saluran bawah
tanah, sungai atau ke muara sekalian. Aku ngga bisa bedain rasa antara I feel so insecure atau I feel so lonely. Yang jelas aku ada
diantara tengah-tengah keduanya. Yang jelas aku hanya lelaki biasa yang juga sebenarnya
punya cerita biasa saja. Yang jelas sekarang adalah masa-masa dimana aku kadang
merasa tidak begitu nyaman dengan keadaan sekitar, terutama diriku sendiri. Aku
lelaki biasa kurang kerjaan yang di tahun serba modern dan canggih ini masih
saja sering menulis igauan semacam diary
di blog jadul seperti lelaki melankoli. Entahlah dunia akan menertawakan
kegiatanku ini atau tidak, aku tidak peduli. Sudah kubilang di awal, aku
sendiri sedang tidak baik-baik saja. Untuk apa mereptokan diri memikiri yang
bukan seharusnya kupikirkan. Dengan egoku, aku mulai berpikir hal-hal asing
lebih banyak daripada biasanya. Ada yang membuat hidup ini jadi tidak tenang
dan menyenangkan. Aku mulai merasa khawatir tidak tentu. Mulai merasa terganggu
oleh bayangan-bayangan yang datang sesaat sebelum tidur. Mulai galau berlebihan
layaknya remaja puber yang baru saja putus dengan pacarnya. Entahlah apakah
pantas seorang lelaki biasa ini ingin mengeluarkan sedikit kegalauan sialnya
ini. Aku tidak peduli, tapi jujur saja sebenarnya aku sangat peduli. Itulah kemudian
kenapa aku selalu suka tenggelam sendiri dalam pemikiran-pemikiran yang sulit
dimengerti ini. Menjadi dewasa memang sialan, apalagi hidup di keluarga yang pas-pasan.
Mungkin aku terlihat tidak begitu bersyukur dengan hidupku, itu tak mengapa. Mungkin
memang hanya itu yang kelihatan padamu. Presiden juga sudah bekerja keras untuk
rakyatnya sebaik mungkin, tapi masih ada saja kan yang bikin keresahan ini itu?
Apalagi aku yang hanya lelaki biasa saja dengan kegiatan hari-hari yang biasa
juga ini.
Beberapa tahun lalu aku lulus kuliah, mendapat beasiswa. Langsung bekerja? Kalau
dilihat dari cara berpakaian dan sistem gaji, tidak. Aku tidak bekerja dengan
sesuai standar kebanyakan orang di kampung aku. Di mata orang-orang aku
hanyalah pengangguran. Nongkrong. Ngopi. Jalan-jalan. Itulah yang kelihatan
oleh mereka. Sebenarnya begitu lulus aku bisa saja mengambil program kerjasama
pihak kampus dengan sebuah perusahaan perbankan, namun waktu itu aku masih
terlalu idealis dan melewatkan kesempatan itu begitu saja. Tapi... Aku
sebenarnya tidak begitu benar-benar menganggur. Aku punya kesibukan, cukup
banyak malah. Aku bisa menghasilkan uang jajan darisana dan bisa menabung. Aku
ikut seorang teman sebagai pekerja lapangan di sebuah Event Organizer.
Namun, balik lagi, mata orang hanya bisa melihat luarnya saja lalu memberi
penilaian bla bla bla. Apalagi tampilan aku yang serba acak-acakan, mulai dari rambut
panjang/gondrong, kemeja flanel yang dibuka kancingnya lalu dipadu kaos oblong
polos, celana jins robek dan sepatu but seperti petugas proyek bangunan.
Pekerjaan ini sudah aku lakukan semenjak memasuki semester tiga saat kuliah.
Tidak cukup besar memang penghasilannya, apalagi jam kerja kebanyakan hanya
saat weekend menjelang, tapi lumayan
lah, di tanganku, fee per event masih
bisa tersisa buat nyempil-nyempil tabungan. Saat-saat tertentu, aku menemui
titik jenuh dan ingin mengerjakan sesuatu yang lain. Dengan pertimbangan
menemani ibu di rumah yang sedang sakit, aku putuskan untuk pulang kampung,
sekarang giliran adik-adikku yang pergi merantau untuk menimbah ilmu. Setibanya
di rumah, ada saudara yang menawariku untuk menjalankan sebuah bisnis
kecil-kecilan. Aku tidak langsung mengiyakannya. Aku berpikir beberapa waktu.
Kemudian dengan berbagai perhitungan dan pertimbangan, aku menyetujui
rencananya.
Awal baru setelah merantau, aku merintis usaha kaos sablon dengan alat cutting dan bahan polyflex sebagai media gambar yang akan di pajang di muka kaos.
Sebulan awal, aku menemui kesulitan untuk memasarkan produk. Berhubung saudara aku
juga bekerja di sebuah instansi negara, akhirnya aku sendiri lah yang dipasrahi
menjalankan operasional dan tidak begitu menjadi masalah karena memang waktu
itu aku juga memiliki pengalaman di design
layouting. Sebetulnya tidak benar-benar sendiri si, ada salah serang teman
juga yang ikut belajar dan membantu produksi. Saudaraku hanya menyuplai modal
pas-pasanya sebagai bentuk kesepakatan, dengan keuntungan yang sudah kami atur
sedemikian rupa hingga bisnis ini kemudian bisa jalan. Di bulan kedua, aku
menemui hasil yang lumayan. Ada peningkatan dari bulan sebelumnya. Begitu juga
di bulan ketiga hingga kedelapan, grafik produksi dan penjualan terus meningkat
perlahan. Menjelang satu tahun pertama, gelombang masalah mulai muncul. Aku
sudah mencoba setransparan mungkin terkait pemasukan dan pengeluaran
operasional dengan membuat rekab di komputer dan mencetaknya tiap akhir bulan.
Namun pihak ketiga selalu saja bisa mengganjal usaha seseorang. Aku tidak
bermaksud menyalahkan siapa-siapa, akan tetapi memang karena faktor ketiga lah
yang pada akhirnya menumbangkan usaha kecil-kecilan aku dan saudaraku itu. Di
bulan sepuluh dan sebelas grafik penjualan menurun, tentu ini bukan kabar
bagus. Tapi bagaimana juga ini faktanya, orang berdagang ada waktu dimana barang
dagangannya laku keras dan ada juga dimana stagnan tidak bergerak. Karena hal
inilah, istri dari saudaraku mengira Aku memanipulasi pengeluaran dan pemasukan
operasional. Dia tidak bisa mempercayai fakta di lapangan. Padahal kalau mau
hitung-hitungan, sebenarnya tempat yang digunakan untuk produksi itu punya ibuku
yang bisa saja menambah pengeluaran lebih lagi dan ibu samasekali tidak meminta
uang sewa sama sekali sebagai bentuk dukungan usaha anaknya. Kalau penjualan
lagi dibawah standar ya harusnya bisa memaklumi bukan malah menuduh.
Begitu ibuku mengetahui tuduhan tersebut, langsung saja ia meminta untuk
merapikan semua alat-alat produksi dan membawanya keluar dari ruangan milik ibuku
itu. Ia tidak terima dengan perlakuan istri saudaraku. Akhirnya usaha ini bukan
hanya jalan di tempat, tapi juga gulung tikar dengan penyelesaian yang sama
sekali tidak ada unsur kekeluargaannya padahal sesama saudara. Entahlah. Jalan
pikiran orang, susah ditebak. Aku dan saudaraku sudah mencoba sebuah jalan
penyelesaian untuk menangani masalah ini dengan baik, tapi dasar ego bininya
itu memang sudah kalut kalah dengan gengsi, salah tapi tidak mau mengakui. Dan semua
benar-benar memburuk setelah itu. Bagiku tidak terlalu masalah, soalnya siapa
yang menyulut api ia yang bisa terkena jilatannya.
Oya, selama setahun merintis usaha kecil itu, aku masih aktif di EO juga.
Kontakku dengan kawan-kawan lama sewaktu merantau terjaga aman. Jadi kalau ada event yang dekat dengan kotaku, mereka
selalu mempercayakanku sebagai PIC nya. Itulah kenapa aku tidak bisa jauh-jauh
dari dunia EO, aku sudah mempunyai rekanan yang saling mempercayai satu sama
lain meski saat kerja kita terpaut jarak. Setidaknya di EO, masing-masing dari
kita sudah tahu apa saja yang akan dikekerjakan dan apa yang tidak dan tahu
bagaimana cara memberi laporan hingga saling pantau satu sama lain tiap daerah.
Tapi, kelamaan di EO juga membuatku sedikit bosan. Aku menemui titik jenuh
dimana aku merasa apa yang kulakukan hanya itu-itu saja. Aku merasa perlu hal
baru dalam hidup. Begitu juga ibu, meski blio tidak begitu banyak meminta
sesuatu kepada anaknya untuk menjadi ini-itu seperti tetangga di kampung, Aku
merasa ada hal yang bisa kulakukan lebih dari ini. Waktu terus bergerak, aku
tidak menyesali apa yang telah terjadi di waktu lampau.
Hanya saja, aku perlu berdamai dengan diri sendiri yang kukira sangat kacau
ini, entah sejak kapan aku membuat keadaan menjadi seperti ini. Sungguh bodoh aku
tak menyadarinya. Awalnya, aku tidak peduli dengan keadaan teman seumuranku yang
pergi ke pelaminan bersama kekasihnya, aku tidak peduli seorang kawan sudah
berhasil membeli kendaraan dengan uang tabungannya sendiri, aku merasa tidak
terancam ketika seorang seangkatan telah mampu membangun rumahnya sendiri
hingga aku juga tidak perlu khawatir hanya karena teman seangkatan aku sudah
berhasil bekerja di instansi negara impian semua kebanyakan orang karena
bisa jadi idaman bagi calon mertua apalagi dengan seragam kebesarannya, eh tapi
ternyata kinerja mereka justru malah jauh dari ekspektasiku, itulah kenapa
seorang alim pernah bilang, jangan terlalu berharap pada manusia. Aku
bisa mengandalkan tabungan Aku untuk terus membeli buku bacaan kesukaan dan
pergi berlibur kemana saja itu sudah menjadi hal yang paling bisa dianggap
membanggakan, terutama jika dibanding dengan sebaya di kampung yang hanya
mentok menghabiskan uang hanya untuk membeli barang, barang dan barang. Aku
masih bisa makan dan pergi ke warung kopi dengan uang hasil keringatku sendiri.
Tapi entah kenapa, bayangan-bayangan aneh mulai muncul sesaat aku akan tidur di
malam hari. Aku merasa tidak perlu membandingkan diri aku dahulu dan sekarang
hingga entah kenapa perbandingan-perbandingan itu muncul dengan seenaknya sendiri
hingga berani-beraninya nyelonong membandingkan diri aku dengan orang lain yang
kukenal. Tindakan sia-sia dan buang waktu saja, tapi aku tak bisa
menghentikannya begitu saja. Hingga. Pertanyaan-pertanyaan kecil muncul. Sudah ngapain saja kamu? Sudah bikin apa?
Mau kemana? Kamu ini siapa? Kepalaku
dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan dari sesuatu yang asing yang sama sekali tidak
kukenal.
Pertanyaanya sebenarnya sederhana saja, tapi entah mengapa serasa seluruh
isi ruangan kepala dihantam oleh sesuatu yang keras dan menyakitkan. Hal ini
berbuah pikiran-pikiran yang berlebihan. Dan pikiran itu mulai mengganggu
aktifitas sehari-hari. Mulai kehilangan fokus. Mulai kehilangan daya
produktifitas. Mulai merasa melakukan apa saja tidak ada gunanya. Menganggap
apa yang terjadi padaku sebagai bentuk kutukan penuh kesialan. Ada perasaan aneh
terhadap sesuatu yang mengganjal dan tertinggal di dalam diri ini. Ya kalau
ngomong buka-bukaan, tabunganku mulai menipis dan hal ini awal dimulainya
memikirkan hal-hal lain kedepan, dimana di titik ini aku juga mulai mengahbiskan
energi overthinking terhadap apapun.
Itulah sebenarnya masalah utamanya yang belum kusadari sampai sekarang sehingga
tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Pemasukan dari EO bisa dibilang
cukup untuk kebutuhan sehari-hari ngopi dan lain sebagainya, namun manusia,
kadang siapa yang tahu bedanya kebutuhan dan keinginan pada saat tertentu. Ada
saja hasrat untuk memiliki sesuatu yang juga kadang telah dimiliki oleh orang
lain. Padahal, itu hanya tipu muslihat yang akhirnya malah menyusahkan diri sendiri.
Entahlah, aku bisa berkata sedikit bijak, tapi tindakanku sungguh jauh dari
kata itu.
Aku coba melamar pekerjaan melalui surel, kotak milis hingga langsung
daftar di situs perusahaan terkait. Berharap nasib baik menghampiri. Beberapa
mendapat balasan dan memintaku untuk datang mengikuti tes seleksi di tempat
yang sudah disesuaikan. Beberapa tanpa jawaban. Beberapa langsung mendapat
jawaban penolakan. Aku terus lakukan saja. Satu persatu. Sekali aku pernah
mendapat panggilan dari sebuah instansi pemerintahan, begitu tes tulisku lolos,
aku dipanggil untuk melakukan wawancara, dan pada saat inilah aku mulai muak
dengan sistem di negeri tercinta ini, masa mau kerja dimintai uang terlebih
dahulu sebagai jaminan pengaman posisi yang aku minati. Persetan. Aku tidak
jadi mengambil kerjaan itu. Aku kira aku akan ditanyai kemampauan apa saja yang
aku punya untuk mengembangkan sistem instansi disana. Aku terlalu ketinggian.
Beberapa hanya selesai sampe tes tulis lalu tidak ada kabar berita lagi. Begitu
terus sampe tiga tahun setelah lulus. Aku masih tetap mengerjakan beberapa
pesanan event dari kawan-kawanku di beberapa
kota. Hanya mengandalkan inilah pemasukanku waktu itu. Jika ditotal, sudah
hampir enam tahun aku menggeluti dunia silat event ini. Dan terbukti bertahan oleh betapa, kata orang, kerasnya
kehidupan. Justru, beberapa kemampuanku meningkat karena pekerjaan ini, misalnya
kemampuan berbicara dengan orang asing yang kedudukannya (secara jabatan) kadang jauh diatasku, aku bisa membantu memasarkan
produk klien dengan tidak canggung lagi, hingga kemampuan editting poster, baliho dan pamflet, meski masih belum terlalu mahir
tapi percayalah aku cukup menguasai beberapa software design. Hal yang tidak aku
temui saat di bangku kuliah.
Aku merasa buntu. Merasa dulu waktu yang aku habiskan untuk belajar di
bangku kuliah tak ada hasilnya. Banyak hal yang telah terbuang sia-sia. Aku
merasa diri ini tak berguna. Dan tersesat entah di dunia mana yang tidak kukenal.
Melamar kesana-kemari tidak menemui hasil. Tuhan
kenapa aku begini? Namun sayang, aku tidak begitu mempercayai tuhan setelah
ayah dan kakakku berpulang di waktu yang berdekatan. Tapi masih aku coba kirim
lamaran sana-sini hingga hari ini. Meskipun tetap belum ada hasil. Sebenarnya
terlalu drama kalau aku menyebutnya sebagai jebakan, tapi nyatanya aku memang
terjebak di dunia EO. Tapi aku sadar disana aku telah belajar banyak, aku kira
tak ada yang terbuang dari proses yang sudah berlalu itu. Tapi, aku juga mulai
berpikir untuk bekerja di bidang lain. Saat itu yang terlintas di kepala aku
adalah bagaimana aku bisa bekerja di kapal pesiar. Alasannya simpel, aku pengen
kerja sambil jalan-jalan. Lagian kemampuan bahasa asingku tidak begitu mengecewakan,
kebetulan aku juga masih sering menerjemahkan teks-teks jurnal untuk skripsi
dari beberapa adik angkatan dan kawan. Aku mencoba memberanikan diri mendatangi
sebuah agen kapal pesiar di ibukota. Hasilnya? Nihil juga. Aku tidak memiliki
kemampuan apa-apa di bidang hospitality
meski kemampuan bahasa asingku diatas rata-rata saat ikut melakukan tes disana.
Entah apa pantas disebut gagal atau hanya mungkin tertunda saja. Semesta belum
meberi restunya. Aku pulang dengan tangan hampa dan menyaksikan orang-orang
dari muda hingga tua sepulang kerja dan sekolah di bis dalam kota yang penuh
dan sesak.
Berbulan-bulan berikutnya, aku masih coba melamar ke perusahaan-perusahaan
ini itu. Masih nihil hasil yang aku dapat. Hingga saat seorang teman mengabari
sebuah informasi lowongan di tempatnya. Aku menanggapainya cukup antusias
hingga tidak menyadari apa yang sedang ia tawarkan. Begitu kucoba askes situs
yang ia maksud, aku langsung terkejut, ternyata perusahaan tempatnya bekerja
sedang mencari karyawan magang, bukan karyawan kontrak. Well, baiklah, aku
pikir-pikir dulu waktu itu.
Mungkin orang lain akan menggapku sebagai makhluk yang terlambat. Terlambat
bekerja, terlambat menikah, terlambat ini, terlambat itu dengan tolak ukur dan
pertimbangan teman-teman seumuranku yang sudah lebih dulu melakoni ini dan itu
sesuai dengan yang mereka maksud. Terlambat segalanya. Aku tidak
mempedulikannya. Sebenarnya, jujur saja, ini adalah sebuah pilihan yang agak
berat. Tapi, pada saat aku mendapat sebuah panggilan wawancara, entah ada angin
apa diri ini merasa tertarik ingin mencoba. Ya, aku mengirim sebuah pesan surel
ke sebuah email dari situs yang diberi oleh kawanku itu dan mengajukan
pendaftaran sebagai salah satu peserta di perusahaan yang bergerak di bidang
jasa ini. Aku pikir usaha konyol ini sedikit akan membantu portofolioku kedepan
jika aku jadi ingin mendaftar kerja di kapal pesiar. Dengan perasaan mantap, aku
datang ke ruang wawancara. Hari itu panas sekali, matahari di Jakarta memang
laknat. Jalanan dipenuhi lalat-lalat besi merayap.
Waw, sungguh mengejutkan, sebagai kandidat karyawan magang, aku sangat
terkejut. Pada sesi wawancara yang baru saja terjadi, aku kaget sungguh, dimana
pewawancara menggunakan hampir sepenuhnya bahasa asing dalam sesi tanya jawab,
menarik, sungguh ini membuat alasanku semakin mantap untuk bisa bergabung
disini. Aku bisa mengatasinya dengan mudah tanpa kendala. Mungkin karena
perusahaan ini berlabel bintang lima kali ya, pikir rasionalku sepintas, dimana
saat itu aku juga baru menyadari propertinya memang menyandang label bintang
lima. Meski ada yang sedikit aneh, dari ketiga pewawancara, salah satunya, si
Manager, malah lebih memberiku kuliah singkat dan bukanlah sebuah wawancara. Ia
memperkenalkan bidang yang aku ingin tuju, that’s
good, tapi ketika ada anjuran untuk berbuat ini itu, aku mulai merasa agak
janggal. Seusai wawancara selesai, aku diminta meninggalkan ruangan dengan
hasil sudah dalam genggaman tangan. Lalu, aku bergegas ke B3, sebuah tempat
ngopi dan ngerokok karyawan dari berbagai bidang.
“Gimana tadi hasil wawancaranya?”
“Tidak mengecewakanlah, malah kaget pisan bor.”
“Kaget kenapa?”
“Hasilnya langsung keluar.”
“Terus? Diterima?”
“Gagal bor, di housekeeping sama event sudah ada yang ngisi.”
“Ya parah, katanya wawancaranya ngga mengecewakan, masa si ngelamar magang
aja sampe ditolak. Badanmu apek bener bor.”
“Iya nih. Gatau kenapa. Banyak dosa kali ya.”
“Terus habis ini gimana? Langsung balik ke kampung?”
“Iya bor, disuruh nunggu kontraknya dibuatin dulu.”
“Kontrak apaan emang?”
“Kontrak magang juga si, tapi ini di HRD.”
“Yang bener?”
“Nih liat aja di email sudah keluar notifikasinya.” Nyodorin hape.
“Kereeeenn dah. Kok bisa belok jauh gitu ya bor?”
“Iya nih gatau, tadi ditawarinnya gitu jeh, dua posisi yang ditawarin di
awal sudah keisi, akhirnya ditawarin di HR sama Banquet, terus diminta kasih jawaban cuma sepersekian detik, jadi
ya sudah lah ambil aja, mayan kan buat nambah-nambah pengalaman.”
“Ya baguslah ambil yang HR mah bor. Eh reang
munggah dikit ya. Lanjut kerja.”
“Siappp.”
Aku rasa gorengan dan secangkir kopi di tempat ini terasa biasa saja,
tetapi di kemudian hari bisa menjadi sungguh ajaib entah kenapa. Di sudut meja
lain, beberapa orang larut dengan obrolan mereka. Beberapa tenggelam dalam buaian
gawai. Salah seorang yang masih mengenakan seragam dan helm pengaman sedang
sibuk melakukan panggilan video dengan putri kecilnya, kukira. Tak lupa
sebatang dengan moncong penuh kepulan asap hampir di masing-masing tangan tak
luput dari penglihatan. Hari itu masih baru tuntas setengah lebih beberapa
menit saja.
Pada akhirnya, diwaktu menyaksikan pemandangan yang sedang terjadi di depan
mata, aku tanpa sengaja kembali merenungi diri. Ruangan pengab langsung
mendadak tak terasa. Keriuhan suara obrolan menuju sore itu berubah menjadi seketika
hening. Telingaku tak dapat mendengar bunyi-bunyi selain apa yang ada di dalam
kepala. Aku mulai memikirkan kelahiran dan kematian, pernikahan dan perceraian,
kejayaan dan kebangkrutan, kebahagiaan dan kepedihan, sebuah kelanggengan dan
sebuah pertikaian, kedamaian dan peperangan, sesuatu yang terisi dan yang
kosong, sampai sebuah dialog lama terlintas dalam bayangan,
“Sebenarnya kamu tuh lagi ngejar-ngejar siapa
si atau apa si, sampe segitunya. Siang malam kamu ga pernah peduliin diri kamu
sendiri. Kamu buang waktu produktif kamu buat ngelakuin hal ga berguna. Kamu masih
bisa mikir ga sih? Kamu kan punya tujuan. Masih ingat ngga sama tujuan kamu? Kamu
akan menyesal nanti dan disaat hari itu tiba, aku ga yakin masih menjadi orang
yang sekarang masih ada disamping kamu seperti saat ini.” suara seorang
perempuan dengan nada kesal sesegukan.
“Aku hidup buat hari ini. Aku ga pernah tahu
akan gimana kedepannya. Dari kemarin, aku ga tahu masa depan itu seperti apa. Aku
hidup ya saat ini. Oya, asal kamu tahu, aku juga ga lagi ngejar apa-apa. Karena memang ga ada
yang perlu dikejar. Kamu jangan sok tahu hidupku, memang kamu siapa? Memang aku
akan mati kalau kamu ga ada disini.” Balas suara seorang lelaki yang penuh ego
dan amarah kepada si perempuan.
Adegan lain,
“Nak, kali ini bapak harus bicara sama kamu. Apa
kamu yakin dengan putri saya? Apa mata pencaharianmu cukup membuat putri semata
wayang saya hidup kecukupan?” seorang pak tua duduk di sebuah kursi menghadap
teras berbicara pada seorang lelaki muda di kursi di sebelahnya, dipisahkan
oleh meja lingkar. Lelaki muda itu tertunduk diam, seperti meratapi nasib dan
keadaan. Ia tak mampu menjawab pertanyaan itu.
Hingga aku terbawa memikirikan apa saja yang telah dilakukan dan apa yang
belum dan waktu-waktu yang telah berlalu, semua terlihat amat serius dan
mendalam. Perenungan itu perlan-pelan mulai memudar. Semua berhenti di sebuah
titik. Sebuah ruang hampa. Perjalanan itu seperti sedang terhenti. Lalu,
beberapa saat aku mulai kembali berpikir, mungkin aku akan terlihat terlambat
di mata orang lain hanya karena aku belum berbuat sesuatu yang menurut mereka
sudah waktunya dan satu-satunya yang mereka hanya bisa lakukan adalah memberi
sebuah penghakiman sial ini itu atas tindakan orang lain tanpa mau mengetahui
bagaimana prosesnya terlebih dahulu. Aku harap akan baik-baik saja, padahal
sedikit mulai terganggu juga.
Orang-orang macam ini biasanya selalu mencari pembenaran ataas apa yang ia
lakukan dan jarang memberi solusi. Biasanya juga, acuan mereka dari semua itu
adalah pemuka agama yang baru nongol di tivi atau media sosial lalu mendadak
terkenal kalau tidak ya artis sinetron yang suka dagang sensasi tenimbang
prestasi. Seluruh isi kepalaku serasa ditarik sesuatu yang menghubungkannya
dengan sebuah pandangan dimana orang lain kadang tak pernah menyadari
benar-benar terlahir menjadi beda. Ya berbeda adalah sejatinya semesta bersama
seluruh isinya. Aku percaya, ada yang terlahir lebih dulu, ada yang mati lebih
dulu, tak peduli lebih tua atau lebih muda. Begitu juga berlaku bijak. Siapa
mereka menghakimi seenak udelnya. Siapa mereka kadang kenal saja tidak. Tapi semakin
aku mencoba menghindar, pemikiran asing dan aneh itu kembali muncul. Si A pergi
bekerja di Korea dengan penghasilan sekian, begitu juga si B yang merantau ke
Taiwan, si C yang berlabuh dari pelabuhan ke pelabuhan karena ia bekerja di
sebuah kapal pesiar, si D yang adik kelas saat sekolah baru saja menikah, si E
yang telah diangkat menjadi karyawan tetap sebuah peruhaan swasta terkemuka, si
F yang dengan bajingannya telah menjadi pengusaha gila di penjuru kota, semua
itu muncul begitu saja. Aku mencoba merasa beruntung memiliki kawan seperti
mereka yang berjuang terus-terusan dengan caranya. Aku hanya tidak menyukai
ketika ada seseorang atau bahkan diriku sendiri yang dengan lancangnya
membanding-bandingkan hidupku dengan mereka. Aku tahu dimana aku berada
sekarang. Aku masih di tempat yang tidak begitu jelas. Aku merasa memiliki
keyakinan sebagai seorang anak pertama yang harus bertanggung jawab atas roda hidup
keluargaku. Aku masih tidak jelas. Itu mungkin ungkapan yang sangat tepat
dimana aku berada sekarang.
Lamunan itu berlalu menguap entah sembunyi kemana bersama kembalinya suara
ramai guyonan dari meja sebelah. Saya menyesap cangkir plastik berisi kopi
hitam yang sudah tidak panas lagi.
Komentar
Posting Komentar