Langsung ke konten utama

Arah


Baiklah. Sebernarnya aku tidak sedang baik-baik saja. Aku Mungki Rangkuti, usia 27 tahun, belum tahu kapan akan menikah. Aku ngga tahu harus dimulai darimana dan akan dibawa kemana. Jadi daripada kupaksa harus begini begitu, maka biar saja cerita ini mengalir seperti air, entah itu di got, saluran bawah tanah, sungai atau ke muara sekalian. Aku ngga bisa bedain rasa antara I feel so insecure atau I feel so lonely. Yang jelas aku ada diantara tengah-tengah keduanya. Yang jelas aku hanya lelaki biasa yang juga sebenarnya punya cerita biasa saja. Yang jelas sekarang adalah masa-masa dimana aku kadang merasa tidak begitu nyaman dengan keadaan sekitar, terutama diriku sendiri. Aku lelaki biasa kurang kerjaan yang di tahun serba modern dan canggih ini masih saja sering menulis igauan semacam diary di blog jadul seperti lelaki melankoli. Entahlah dunia akan menertawakan kegiatanku ini atau tidak, aku tidak peduli. Sudah kubilang di awal, aku sendiri sedang tidak baik-baik saja. Untuk apa mereptokan diri memikiri yang bukan seharusnya kupikirkan. Dengan egoku, aku mulai berpikir hal-hal asing lebih banyak daripada biasanya. Ada yang membuat hidup ini jadi tidak tenang dan menyenangkan. Aku mulai merasa khawatir tidak tentu. Mulai merasa terganggu oleh bayangan-bayangan yang datang sesaat sebelum tidur. Mulai galau berlebihan layaknya remaja puber yang baru saja putus dengan pacarnya. Entahlah apakah pantas seorang lelaki biasa ini ingin mengeluarkan sedikit kegalauan sialnya ini. Aku tidak peduli, tapi jujur saja sebenarnya aku sangat peduli. Itulah kemudian kenapa aku selalu suka tenggelam sendiri dalam pemikiran-pemikiran yang sulit dimengerti ini. Menjadi dewasa memang sialan, apalagi hidup di keluarga yang pas-pasan. Mungkin aku terlihat tidak begitu bersyukur dengan hidupku, itu tak mengapa. Mungkin memang hanya itu yang kelihatan padamu. Presiden juga sudah bekerja keras untuk rakyatnya sebaik mungkin, tapi masih ada saja kan yang bikin keresahan ini itu? Apalagi aku yang hanya lelaki biasa saja dengan kegiatan hari-hari yang biasa juga ini.
Beberapa tahun lalu aku lulus kuliah, mendapat beasiswa. Langsung bekerja? Kalau dilihat dari cara berpakaian dan sistem gaji, tidak. Aku tidak bekerja dengan sesuai standar kebanyakan orang di kampung aku. Di mata orang-orang aku hanyalah pengangguran. Nongkrong. Ngopi. Jalan-jalan. Itulah yang kelihatan oleh mereka. Sebenarnya begitu lulus aku bisa saja mengambil program kerjasama pihak kampus dengan sebuah perusahaan perbankan, namun waktu itu aku masih terlalu idealis dan melewatkan kesempatan itu begitu saja. Tapi... Aku sebenarnya tidak begitu benar-benar menganggur. Aku punya kesibukan, cukup banyak malah. Aku bisa menghasilkan uang jajan darisana dan bisa menabung. Aku ikut seorang teman sebagai pekerja lapangan di sebuah Event Organizer.
Namun, balik lagi, mata orang hanya bisa melihat luarnya saja lalu memberi penilaian bla bla bla. Apalagi tampilan aku yang serba acak-acakan, mulai dari rambut panjang/gondrong, kemeja flanel yang dibuka kancingnya lalu dipadu kaos oblong polos, celana jins robek dan sepatu but seperti petugas proyek bangunan. Pekerjaan ini sudah aku lakukan semenjak memasuki semester tiga saat kuliah. Tidak cukup besar memang penghasilannya, apalagi jam kerja kebanyakan hanya saat weekend menjelang, tapi lumayan lah, di tanganku, fee per event masih bisa tersisa buat nyempil-nyempil tabungan. Saat-saat tertentu, aku menemui titik jenuh dan ingin mengerjakan sesuatu yang lain. Dengan pertimbangan menemani ibu di rumah yang sedang sakit, aku putuskan untuk pulang kampung, sekarang giliran adik-adikku yang pergi merantau untuk menimbah ilmu. Setibanya di rumah, ada saudara yang menawariku untuk menjalankan sebuah bisnis kecil-kecilan. Aku tidak langsung mengiyakannya. Aku berpikir beberapa waktu. Kemudian dengan berbagai perhitungan dan pertimbangan, aku menyetujui rencananya.
Awal baru setelah merantau, aku merintis usaha kaos sablon dengan alat cutting dan bahan polyflex sebagai media gambar yang akan di pajang di muka kaos. Sebulan awal, aku menemui kesulitan untuk memasarkan produk. Berhubung saudara aku juga bekerja di sebuah instansi negara, akhirnya aku sendiri lah yang dipasrahi menjalankan operasional dan tidak begitu menjadi masalah karena memang waktu itu aku juga memiliki pengalaman di design layouting. Sebetulnya tidak benar-benar sendiri si, ada salah serang teman juga yang ikut belajar dan membantu produksi. Saudaraku hanya menyuplai modal pas-pasanya sebagai bentuk kesepakatan, dengan keuntungan yang sudah kami atur sedemikian rupa hingga bisnis ini kemudian bisa jalan. Di bulan kedua, aku menemui hasil yang lumayan. Ada peningkatan dari bulan sebelumnya. Begitu juga di bulan ketiga hingga kedelapan, grafik produksi dan penjualan terus meningkat perlahan. Menjelang satu tahun pertama, gelombang masalah mulai muncul. Aku sudah mencoba setransparan mungkin terkait pemasukan dan pengeluaran operasional dengan membuat rekab di komputer dan mencetaknya tiap akhir bulan. Namun pihak ketiga selalu saja bisa mengganjal usaha seseorang. Aku tidak bermaksud menyalahkan siapa-siapa, akan tetapi memang karena faktor ketiga lah yang pada akhirnya menumbangkan usaha kecil-kecilan aku dan saudaraku itu. Di bulan sepuluh dan sebelas grafik penjualan menurun, tentu ini bukan kabar bagus. Tapi bagaimana juga ini faktanya, orang berdagang ada waktu dimana barang dagangannya laku keras dan ada juga dimana stagnan tidak bergerak. Karena hal inilah, istri dari saudaraku mengira Aku memanipulasi pengeluaran dan pemasukan operasional. Dia tidak bisa mempercayai fakta di lapangan. Padahal kalau mau hitung-hitungan, sebenarnya tempat yang digunakan untuk produksi itu punya ibuku yang bisa saja menambah pengeluaran lebih lagi dan ibu samasekali tidak meminta uang sewa sama sekali sebagai bentuk dukungan usaha anaknya. Kalau penjualan lagi dibawah standar ya harusnya bisa memaklumi bukan malah menuduh.
Begitu ibuku mengetahui tuduhan tersebut, langsung saja ia meminta untuk merapikan semua alat-alat produksi dan membawanya keluar dari ruangan milik ibuku itu. Ia tidak terima dengan perlakuan istri saudaraku. Akhirnya usaha ini bukan hanya jalan di tempat, tapi juga gulung tikar dengan penyelesaian yang sama sekali tidak ada unsur kekeluargaannya padahal sesama saudara. Entahlah. Jalan pikiran orang, susah ditebak. Aku dan saudaraku sudah mencoba sebuah jalan penyelesaian untuk menangani masalah ini dengan baik, tapi dasar ego bininya itu memang sudah kalut kalah dengan gengsi, salah tapi tidak mau mengakui. Dan semua benar-benar memburuk setelah itu. Bagiku tidak terlalu masalah, soalnya siapa yang menyulut api ia yang bisa terkena jilatannya.
Oya, selama setahun merintis usaha kecil itu, aku masih aktif di EO juga. Kontakku dengan kawan-kawan lama sewaktu merantau terjaga aman. Jadi kalau ada event yang dekat dengan kotaku, mereka selalu mempercayakanku sebagai PIC nya. Itulah kenapa aku tidak bisa jauh-jauh dari dunia EO, aku sudah mempunyai rekanan yang saling mempercayai satu sama lain meski saat kerja kita terpaut jarak. Setidaknya di EO, masing-masing dari kita sudah tahu apa saja yang akan dikekerjakan dan apa yang tidak dan tahu bagaimana cara memberi laporan hingga saling pantau satu sama lain tiap daerah.
Tapi, kelamaan di EO juga membuatku sedikit bosan. Aku menemui titik jenuh dimana aku merasa apa yang kulakukan hanya itu-itu saja. Aku merasa perlu hal baru dalam hidup. Begitu juga ibu, meski blio tidak begitu banyak meminta sesuatu kepada anaknya untuk menjadi ini-itu seperti tetangga di kampung, Aku merasa ada hal yang bisa kulakukan lebih dari ini. Waktu terus bergerak, aku tidak menyesali apa yang telah terjadi di waktu lampau.
Hanya saja, aku perlu berdamai dengan diri sendiri yang kukira sangat kacau ini, entah sejak kapan aku membuat keadaan menjadi seperti ini. Sungguh bodoh aku tak menyadarinya. Awalnya, aku tidak peduli dengan keadaan teman seumuranku yang pergi ke pelaminan bersama kekasihnya, aku tidak peduli seorang kawan sudah berhasil membeli kendaraan dengan uang tabungannya sendiri, aku merasa tidak terancam ketika seorang seangkatan telah mampu membangun rumahnya sendiri hingga aku juga tidak perlu khawatir hanya karena teman seangkatan aku sudah berhasil bekerja di instansi negara impian semua kebanyakan orang karena bisa jadi idaman bagi calon mertua apalagi dengan seragam kebesarannya, eh tapi ternyata kinerja mereka justru malah jauh dari ekspektasiku, itulah kenapa seorang alim pernah bilang, jangan terlalu berharap pada manusia. Aku bisa mengandalkan tabungan Aku untuk terus membeli buku bacaan kesukaan dan pergi berlibur kemana saja itu sudah menjadi hal yang paling bisa dianggap membanggakan, terutama jika dibanding dengan sebaya di kampung yang hanya mentok menghabiskan uang hanya untuk membeli barang, barang dan barang. Aku masih bisa makan dan pergi ke warung kopi dengan uang hasil keringatku sendiri. Tapi entah kenapa, bayangan-bayangan aneh mulai muncul sesaat aku akan tidur di malam hari. Aku merasa tidak perlu membandingkan diri aku dahulu dan sekarang hingga entah kenapa perbandingan-perbandingan itu muncul dengan seenaknya sendiri hingga berani-beraninya nyelonong membandingkan diri aku dengan orang lain yang kukenal. Tindakan sia-sia dan buang waktu saja, tapi aku tak bisa menghentikannya begitu saja. Hingga. Pertanyaan-pertanyaan kecil muncul. Sudah ngapain saja kamu? Sudah bikin apa? Mau kemana? Kamu ini siapa? Kepalaku dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan dari sesuatu yang asing yang sama sekali tidak kukenal.
Pertanyaanya sebenarnya sederhana saja, tapi entah mengapa serasa seluruh isi ruangan kepala dihantam oleh sesuatu yang keras dan menyakitkan. Hal ini berbuah pikiran-pikiran yang berlebihan. Dan pikiran itu mulai mengganggu aktifitas sehari-hari. Mulai kehilangan fokus. Mulai kehilangan daya produktifitas. Mulai merasa melakukan apa saja tidak ada gunanya. Menganggap apa yang terjadi padaku sebagai bentuk kutukan penuh kesialan. Ada perasaan aneh terhadap sesuatu yang mengganjal dan tertinggal di dalam diri ini. Ya kalau ngomong buka-bukaan, tabunganku mulai menipis dan hal ini awal dimulainya memikirkan hal-hal lain kedepan, dimana di titik ini aku juga mulai mengahbiskan energi overthinking terhadap apapun. Itulah sebenarnya masalah utamanya yang belum kusadari sampai sekarang sehingga tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Pemasukan dari EO bisa dibilang cukup untuk kebutuhan sehari-hari ngopi dan lain sebagainya, namun manusia, kadang siapa yang tahu bedanya kebutuhan dan keinginan pada saat tertentu. Ada saja hasrat untuk memiliki sesuatu yang juga kadang telah dimiliki oleh orang lain. Padahal, itu hanya tipu muslihat yang akhirnya malah menyusahkan diri sendiri. Entahlah, aku bisa berkata sedikit bijak, tapi tindakanku sungguh jauh dari kata itu.
Aku coba melamar pekerjaan melalui surel, kotak milis hingga langsung daftar di situs perusahaan terkait. Berharap nasib baik menghampiri. Beberapa mendapat balasan dan memintaku untuk datang mengikuti tes seleksi di tempat yang sudah disesuaikan. Beberapa tanpa jawaban. Beberapa langsung mendapat jawaban penolakan. Aku terus lakukan saja. Satu persatu. Sekali aku pernah mendapat panggilan dari sebuah instansi pemerintahan, begitu tes tulisku lolos, aku dipanggil untuk melakukan wawancara, dan pada saat inilah aku mulai muak dengan sistem di negeri tercinta ini, masa mau kerja dimintai uang terlebih dahulu sebagai jaminan pengaman posisi yang aku minati. Persetan. Aku tidak jadi mengambil kerjaan itu. Aku kira aku akan ditanyai kemampauan apa saja yang aku punya untuk mengembangkan sistem instansi disana. Aku terlalu ketinggian. Beberapa hanya selesai sampe tes tulis lalu tidak ada kabar berita lagi. Begitu terus sampe tiga tahun setelah lulus. Aku masih tetap mengerjakan beberapa pesanan event dari kawan-kawanku di beberapa kota. Hanya mengandalkan inilah pemasukanku waktu itu. Jika ditotal, sudah hampir enam tahun aku menggeluti dunia silat event ini. Dan terbukti bertahan oleh betapa, kata orang, kerasnya kehidupan. Justru, beberapa kemampuanku meningkat karena pekerjaan ini, misalnya kemampuan berbicara dengan orang asing yang kedudukannya (secara jabatan) kadang jauh diatasku, aku bisa membantu memasarkan produk klien dengan tidak canggung lagi, hingga kemampuan editting poster, baliho dan pamflet, meski masih belum terlalu mahir tapi percayalah aku cukup menguasai beberapa software design. Hal yang tidak aku temui saat di bangku kuliah.
Aku merasa buntu. Merasa dulu waktu yang aku habiskan untuk belajar di bangku kuliah tak ada hasilnya. Banyak hal yang telah terbuang sia-sia. Aku merasa diri ini tak berguna. Dan tersesat entah di dunia mana yang tidak kukenal. Melamar kesana-kemari tidak menemui hasil. Tuhan kenapa aku begini? Namun sayang, aku tidak begitu mempercayai tuhan setelah ayah dan kakakku berpulang di waktu yang berdekatan. Tapi masih aku coba kirim lamaran sana-sini hingga hari ini. Meskipun tetap belum ada hasil. Sebenarnya terlalu drama kalau aku menyebutnya sebagai jebakan, tapi nyatanya aku memang terjebak di dunia EO. Tapi aku sadar disana aku telah belajar banyak, aku kira tak ada yang terbuang dari proses yang sudah berlalu itu. Tapi, aku juga mulai berpikir untuk bekerja di bidang lain. Saat itu yang terlintas di kepala aku adalah bagaimana aku bisa bekerja di kapal pesiar. Alasannya simpel, aku pengen kerja sambil jalan-jalan. Lagian kemampuan bahasa asingku tidak begitu mengecewakan, kebetulan aku juga masih sering menerjemahkan teks-teks jurnal untuk skripsi dari beberapa adik angkatan dan kawan. Aku mencoba memberanikan diri mendatangi sebuah agen kapal pesiar di ibukota. Hasilnya? Nihil juga. Aku tidak memiliki kemampuan apa-apa di bidang hospitality meski kemampuan bahasa asingku diatas rata-rata saat ikut melakukan tes disana. Entah apa pantas disebut gagal atau hanya mungkin tertunda saja. Semesta belum meberi restunya. Aku pulang dengan tangan hampa dan menyaksikan orang-orang dari muda hingga tua sepulang kerja dan sekolah di bis dalam kota yang penuh dan sesak.
Berbulan-bulan berikutnya, aku masih coba melamar ke perusahaan-perusahaan ini itu. Masih nihil hasil yang aku dapat. Hingga saat seorang teman mengabari sebuah informasi lowongan di tempatnya. Aku menanggapainya cukup antusias hingga tidak menyadari apa yang sedang ia tawarkan. Begitu kucoba askes situs yang ia maksud, aku langsung terkejut, ternyata perusahaan tempatnya bekerja sedang mencari karyawan magang, bukan karyawan kontrak. Well, baiklah, aku pikir-pikir dulu waktu itu.
Mungkin orang lain akan menggapku sebagai makhluk yang terlambat. Terlambat bekerja, terlambat menikah, terlambat ini, terlambat itu dengan tolak ukur dan pertimbangan teman-teman seumuranku yang sudah lebih dulu melakoni ini dan itu sesuai dengan yang mereka maksud. Terlambat segalanya. Aku tidak mempedulikannya. Sebenarnya, jujur saja, ini adalah sebuah pilihan yang agak berat. Tapi, pada saat aku mendapat sebuah panggilan wawancara, entah ada angin apa diri ini merasa tertarik ingin mencoba. Ya, aku mengirim sebuah pesan surel ke sebuah email dari situs yang diberi oleh kawanku itu dan mengajukan pendaftaran sebagai salah satu peserta di perusahaan yang bergerak di bidang jasa ini. Aku pikir usaha konyol ini sedikit akan membantu portofolioku kedepan jika aku jadi ingin mendaftar kerja di kapal pesiar. Dengan perasaan mantap, aku datang ke ruang wawancara. Hari itu panas sekali, matahari di Jakarta memang laknat. Jalanan dipenuhi lalat-lalat besi merayap.  
Waw, sungguh mengejutkan, sebagai kandidat karyawan magang, aku sangat terkejut. Pada sesi wawancara yang baru saja terjadi, aku kaget sungguh, dimana pewawancara menggunakan hampir sepenuhnya bahasa asing dalam sesi tanya jawab, menarik, sungguh ini membuat alasanku semakin mantap untuk bisa bergabung disini. Aku bisa mengatasinya dengan mudah tanpa kendala. Mungkin karena perusahaan ini berlabel bintang lima kali ya, pikir rasionalku sepintas, dimana saat itu aku juga baru menyadari propertinya memang menyandang label bintang lima. Meski ada yang sedikit aneh, dari ketiga pewawancara, salah satunya, si Manager, malah lebih memberiku kuliah singkat dan bukanlah sebuah wawancara. Ia memperkenalkan bidang yang aku ingin tuju, that’s good, tapi ketika ada anjuran untuk berbuat ini itu, aku mulai merasa agak janggal. Seusai wawancara selesai, aku diminta meninggalkan ruangan dengan hasil sudah dalam genggaman tangan. Lalu, aku bergegas ke B3, sebuah tempat ngopi dan ngerokok karyawan dari berbagai bidang.
 “Gimana tadi hasil wawancaranya?”
“Tidak mengecewakanlah, malah kaget pisan bor.”
“Kaget kenapa?”
“Hasilnya langsung keluar.”
“Terus? Diterima?”
“Gagal bor, di housekeeping sama event sudah ada yang ngisi.”
“Ya parah, katanya wawancaranya ngga mengecewakan, masa si ngelamar magang aja sampe ditolak. Badanmu apek bener bor.”
“Iya nih. Gatau kenapa. Banyak dosa kali ya.”
“Terus habis ini gimana? Langsung balik ke kampung?”
“Iya bor, disuruh nunggu kontraknya dibuatin dulu.”
“Kontrak apaan emang?”
“Kontrak magang juga si, tapi ini di HRD.”
“Yang bener?”
“Nih liat aja di email sudah keluar notifikasinya.” Nyodorin hape.
“Kereeeenn dah. Kok bisa belok jauh gitu ya bor?”
“Iya nih gatau, tadi ditawarinnya gitu jeh, dua posisi yang ditawarin di awal sudah keisi, akhirnya ditawarin di HR sama Banquet, terus diminta kasih jawaban cuma sepersekian detik, jadi ya sudah lah ambil aja, mayan kan buat nambah-nambah pengalaman.”
“Ya baguslah ambil yang HR mah bor. Eh reang munggah dikit ya. Lanjut kerja.”
“Siappp.”
Aku rasa gorengan dan secangkir kopi di tempat ini terasa biasa saja, tetapi di kemudian hari bisa menjadi sungguh ajaib entah kenapa. Di sudut meja lain, beberapa orang larut dengan obrolan mereka. Beberapa tenggelam dalam buaian gawai. Salah seorang yang masih mengenakan seragam dan helm pengaman sedang sibuk melakukan panggilan video dengan putri kecilnya, kukira. Tak lupa sebatang dengan moncong penuh kepulan asap hampir di masing-masing tangan tak luput dari penglihatan. Hari itu masih baru tuntas setengah lebih beberapa menit saja.
Pada akhirnya, diwaktu menyaksikan pemandangan yang sedang terjadi di depan mata, aku tanpa sengaja kembali merenungi diri. Ruangan pengab langsung mendadak tak terasa. Keriuhan suara obrolan menuju sore itu berubah menjadi seketika hening. Telingaku tak dapat mendengar bunyi-bunyi selain apa yang ada di dalam kepala. Aku mulai memikirkan kelahiran dan kematian, pernikahan dan perceraian, kejayaan dan kebangkrutan, kebahagiaan dan kepedihan, sebuah kelanggengan dan sebuah pertikaian, kedamaian dan peperangan, sesuatu yang terisi dan yang kosong, sampai sebuah dialog lama terlintas dalam bayangan,
“Sebenarnya kamu tuh lagi ngejar-ngejar siapa si atau apa si, sampe segitunya. Siang malam kamu ga pernah peduliin diri kamu sendiri. Kamu buang waktu produktif kamu buat ngelakuin hal ga berguna. Kamu masih bisa mikir ga sih? Kamu kan punya tujuan. Masih ingat ngga sama tujuan kamu? Kamu akan menyesal nanti dan disaat hari itu tiba, aku ga yakin masih menjadi orang yang sekarang masih ada disamping kamu seperti saat ini.” suara seorang perempuan dengan nada kesal sesegukan.
“Aku hidup buat hari ini. Aku ga pernah tahu akan gimana kedepannya. Dari kemarin, aku ga tahu masa depan itu seperti apa. Aku hidup ya saat ini. Oya, asal kamu tahu, aku juga  ga lagi ngejar apa-apa. Karena memang ga ada yang perlu dikejar. Kamu jangan sok tahu hidupku, memang kamu siapa? Memang aku akan mati kalau kamu ga ada disini.” Balas suara seorang lelaki yang penuh ego dan amarah kepada si perempuan.
Adegan lain,
“Nak, kali ini bapak harus bicara sama kamu. Apa kamu yakin dengan putri saya? Apa mata pencaharianmu cukup membuat putri semata wayang saya hidup kecukupan?” seorang pak tua duduk di sebuah kursi menghadap teras berbicara pada seorang lelaki muda di kursi di sebelahnya, dipisahkan oleh meja lingkar. Lelaki muda itu tertunduk diam, seperti meratapi nasib dan keadaan. Ia tak mampu menjawab pertanyaan itu.
Hingga aku terbawa memikirikan apa saja yang telah dilakukan dan apa yang belum dan waktu-waktu yang telah berlalu, semua terlihat amat serius dan mendalam. Perenungan itu perlan-pelan mulai memudar. Semua berhenti di sebuah titik. Sebuah ruang hampa. Perjalanan itu seperti sedang terhenti. Lalu, beberapa saat aku mulai kembali berpikir, mungkin aku akan terlihat terlambat di mata orang lain hanya karena aku belum berbuat sesuatu yang menurut mereka sudah waktunya dan satu-satunya yang mereka hanya bisa lakukan adalah memberi sebuah penghakiman sial ini itu atas tindakan orang lain tanpa mau mengetahui bagaimana prosesnya terlebih dahulu. Aku harap akan baik-baik saja, padahal sedikit mulai terganggu juga.
Orang-orang macam ini biasanya selalu mencari pembenaran ataas apa yang ia lakukan dan jarang memberi solusi. Biasanya juga, acuan mereka dari semua itu adalah pemuka agama yang baru nongol di tivi atau media sosial lalu mendadak terkenal kalau tidak ya artis sinetron yang suka dagang sensasi tenimbang prestasi. Seluruh isi kepalaku serasa ditarik sesuatu yang menghubungkannya dengan sebuah pandangan dimana orang lain kadang tak pernah menyadari benar-benar terlahir menjadi beda. Ya berbeda adalah sejatinya semesta bersama seluruh isinya. Aku percaya, ada yang terlahir lebih dulu, ada yang mati lebih dulu, tak peduli lebih tua atau lebih muda. Begitu juga berlaku bijak. Siapa mereka menghakimi seenak udelnya. Siapa mereka kadang kenal saja tidak. Tapi semakin aku mencoba menghindar, pemikiran asing dan aneh itu kembali muncul. Si A pergi bekerja di Korea dengan penghasilan sekian, begitu juga si B yang merantau ke Taiwan, si C yang berlabuh dari pelabuhan ke pelabuhan karena ia bekerja di sebuah kapal pesiar, si D yang adik kelas saat sekolah baru saja menikah, si E yang telah diangkat menjadi karyawan tetap sebuah peruhaan swasta terkemuka, si F yang dengan bajingannya telah menjadi pengusaha gila di penjuru kota, semua itu muncul begitu saja. Aku mencoba merasa beruntung memiliki kawan seperti mereka yang berjuang terus-terusan dengan caranya. Aku hanya tidak menyukai ketika ada seseorang atau bahkan diriku sendiri yang dengan lancangnya membanding-bandingkan hidupku dengan mereka. Aku tahu dimana aku berada sekarang. Aku masih di tempat yang tidak begitu jelas. Aku merasa memiliki keyakinan sebagai seorang anak pertama yang harus bertanggung jawab atas roda hidup keluargaku. Aku masih tidak jelas. Itu mungkin ungkapan yang sangat tepat dimana aku berada sekarang.
Lamunan itu berlalu menguap entah sembunyi kemana bersama kembalinya suara ramai guyonan dari meja sebelah. Saya menyesap cangkir plastik berisi kopi hitam yang sudah tidak panas lagi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...