Langsung ke konten utama

Secangkir


Ada hal unik yang pernah terjadi sekali saat saya masih berusia sekitar 3-5 tahunan. Saya tidak bisa mengingat angka berapa pastinya. Kejadian itu adalah saat saya sedang panas dingin demam tinggi. Dari sore hari, Ibu terlihat sibuk meracik ramuan jamu untuk menurunkan suhu badan saya. Di dalam gelas kaca seukuran cangkir, ibu membuatkan saya campuran merah telur ayam kampung, obat peredam sakit kepala dengan minuman bersoda bening secukupnya. Cara ini ia lakukan supaya kondisi bisa lebih baik dan saya tidak merasa kepahitan saat meneguknya. Dibalik selimut sarung tebal yang kucel, untuk beberapa jam saya sempat membaik. Tubuh saya mengeluarkan keringat dan kepala terasa agak ringan. Waktu itu cuaca sedang tidak bersahabat. Setelah Isya, hujan turun lebat disertai angin kencang. Petir juga ikut bergemuruh berkumandang.
Rumah petak kami yang beratapkan asbes mengalami kebocoran akibat tertimpa ranting-ranting pohon yang patah dan jatuh tepat diatasnya. Ranting-ranting itu meninggalkan bekas sayatan kecil hingga lubang. Raut muka ibu sungguh penuh kecemasan. Saat hari berlanjut semakin malam, kilat bergantian melancarkan cahaya hebatnya ke seluruh penjuru semesta, kondisi tubuh saya kembali memburuk. Saya mengeram kesakitan. Seluruh badan terasa sangat menggigil. Diluar masih ada beberapa teman bapak, tetangga kami. Mereka sering singgah dan melakukan obrolan ngalor-ngidul dengan bapak. Ketika bapak menawari mereka untuk masuk ke dalam, ke ruang tamu, mereka dengan halus menolak.
Beberapa saat kemudian, hujan mulai reda, namun terang kilat kadang tak diundang masih berkali-kali menerangi malam. Lalu bapak meminta izin untuk membuatkan mereka kopi. Bapak masuk menuju dapur. Ruang tamu kami adalah juga ruang tidur untuk kami bertiga. Disana ada sebuah lemari kecil yang cukup untuk memuat tiga kodi pakaian. Radio tua merk pabrikan Jepang yang masih menggunakan tenaga utama baterai bertengger gagah didekat sebuah foto keluarga berukuran postcard. Foto dalam figura kayu itu berisikan potret wajah Ibu ketika masih gadis, kakak perempuannya juga seorang lelaki yang kini menjadi pendamping hidupnya.
Dalam langkah bapak menuju dapur, bapak melihat kondisi ibu yang terus berusaha menjaga saya supaya lekas tidur pulas. Bapak terlihat payah menyaksikan perjuangan ibu. Ia menghampiri ibu dan mencoba memperkirakan suhu tubuh saya dengan menggunakan belaian jemarinya yang terasa sekali bagaimana ia bekerja untuk keluarganya.
“Jagoan bapak sudah minum obat belum?” bisiknya.
Saya hanya membalas dengan eraman dan badan yang menggigil. Seluruh badan saya diselimuti sarung beberapa lapisan.
“Badanmu panas sekali.” Ucap bapak.
Kemudian ia kembali melanjutkan rencananya membuatkan kopi untuk para tamu. Sebenarnya bukan tamu istimewa dari jauh atau tamu penting misalnya pejabat negara. Mereka adalah tetangga keluarga kami dan teman-teman bapak mulai saat masih kecil dulu. Bapak melangkah ke dapur. Ibu tetap duduk di sebelahku. Jelas sekali muka ibu terlihat lelah. Ia menguap beberapa kali. Namun ibu selalu mencoba menutupinya dengan memalingkan wajahnya. Rambut ibu panjang dan halus, sedikit ikal dan tetap cantik di usianya. Ia mengenakan baju kain dengan motif melati dengan latar utama berwarna coklat dan hijau daun di musim semi. Ia menutup kelambu di tempat tidur dan meninggalkan saya sendirian. Ibu menyusul bapa di dapur.
Bapak mengambil 4 buah cangkir di rak besi buatan tangan bapak sendiri. Masing-masing cangkir memiliki gambar kelopak bunga. Lalu ia memeriksa air yang tersisa di termos. Ketika bapak membuka tuutpnya, termos itu mengeluarkan uap lembab yang mengepul tanda suhu air yang tersimpan di dalamnya masih dalam keadaan yang cukup panas. Bapak menutupnya kembali. Ia mengambil toples di dekat meja tempat kami makan bersama. Satu toples berisi gula kristal berwarna bening seperti pecahan berlian. Satu toples lagi berisi kopi hitam oleh-oleh dari salah seorang saudara.
Proses membuat kopi telah sampai pada tahap akhir. Setelah bubuk-bubuk kecil itu ditakar dan ditambahkan gula, suara benturan antara kepala sendok dan badan gelas lentik bersinggungan. Bapak meminta bantuan kepada ibu untuk membawanya di atas nampan. Ibu bersedia dan menghampiri bapak di ruang belakang. Ibu sedikit terkejut. Cuma ada dua tamu, namun bapak membuat kopi sebanyak 4 cangkir. Kalau bapak dihitung, harusnya hanya 3 cangkir kopi saja sudah cukup.
“Ini buat siapa pak, kok kelebihan satu cangkir?“ tanya ibu penasaran.
Bapak dengan watak khasnya, hanya diam saja. Ia terus melanjutkan cangkir lainnya yang belum sempat diaduk.
“Aku ngantuk si pak, tapi kan bisa minta sama bapak aja nanti kayak biasanya gitu lho.” Gumam ibu belum habis rasa penasarannya.
Beruntung malam itu, persediaan kopi di dapur kami sedang melimpah. Salah satu sodara kami membawa beberapa kilo dari pulau Sumatra langsung dan membaginya kepada kami. Dan bapak selalu senang ketika bisa menyajikan kopi-kopi itu kepada kawan-kawannya yang singgah atau kadang ikut membantu pekerjaanya saat siang. Ya, malam itu bapak membuat satu cangkir lebih untuk saya. Ibu kaget tentunya. Loh masih anak-anak sudah dikasih kopi pahit gitu, pak. Apa tidak apa-apa? Tanya ibu kepada bapak. Bapak menjawab seadanya mengiyakan apa yang ia percayai. Ibu tidak bisa apa-apa. Tiga cangkir lain diberi gula, hanya bagian saya saja yang tidak. Bapak membawa tiga cangkir itu keluar dan menyajikannya ke meja dimana tamu-tamu itu sedang asik ngobrol ngalor-ngidul mengenai sawah pa lurah. Begitu juga cangkir bagian bapak sendiri, ia letakan di meja bersama yang lainnya. Namun bapak pamit sebentar kepada mereka, ia kembali masuk ke dalam rumah. Satu cangkir terakhir sudah dipegang tangan ibu. Ia membawanya ke kamar saya. Asap masih mengepul betul dari dalam cangkir. Ketika mendekat, bapak bilang, tunggu agak dingin sebentar lagi baru kasihkan. Ibu mengangguk. Saya waktu itu masih kedinginan ngilu di dalam bungkusan selimut sarung. Selang beberapa saat, saya diminta ibu bangun. Saya belum sadar di tangan ibu ada sebuah cangkir. Ia memgangnya menggunakan tangan kiri. Sebelum memberikan cangkir itu, ibu memeriksa suhu tubuh saya dengan meletakan punggung jari tangan kanannya ke arah jidat saya. Tangan ibu dingin begitu kulitnya menyentuh bagian wajah saya. Sekali duakali kilat masih terlihat melintasi langit malam itu, cahayanya menyerupai lampu pijar yang terang yang menerobos jendela bilik bambu rumah kami. Saya dapat melihatnya dengan jelas. Dan suara gerimis sisa-sisa juga masih terdengar jatuh di sekeliling halaman rumah kami. Bapak bertanya kepada ibu apa kopinya sudah hangat apa belum. Ibu memastikan juga suhu cairan di cangkir.
Begitu sudah layak untuk diminum, ibu memberikannya ke saya. Saya tidak meminumnya, lebih ke menyesapnya. Di dalam cangkir itu, bagian atasnya dipenuhi ampas hitam seperti pasri mengambang. Hangat dan pahit. Sungguh pahit. Semua bisa saya rasakan begitu ampas-ampas itu mengenai bibir, lidah hingga ke tenggorokan. Lajur pencernaan saya mendadak terasa kering dan haus sekali. Tambah-tambah, tidak begitu lama, rongga perut saya terasa ditonjok sesuatu dan serasa mules sekali. Saya tetap meminumnya, menyesapnya. Hingga tersisa tigaseperempat saja. Saya menyudahinya terlebih dahulu. Meminta kepada ibu untuk menaruhnya di meja. Dan saya juga meminta diambilkan air putih. Bapak yang pergi ke dapur lagi, sesaat setelah memperhatikan ekspresi wajah saya meminum cairan di dalam cangkir yang ia bikin. Tidak perlu waktu lama bapak kembali membawa satu cangkir lain berisi air putih. Ia menyerahkannya kepada ibu, lalu ibu memeganginya saat saya hendak meminumnya. Air putih hangat, jadi saya meminumnya pelan-pelan. Tenggorokan berasa begitu lega setelahnya. Suara katak  malam itu juga terdengar nyaring sekali, seperti gaung alat musik yang bergantian teriak.
Ya, malam itu secangkir kopi hitam yang dibawa salah seorang saudara dari Lampung berhasil membantu suhu tubuh saya mulai kembali normal. Keringat keluar dari pori-pori kulit sekujur tubuh, terlihat jelas di dahi. Ibu yang awalnya sudah ngantuk berat terlihat segar kembali begitu melihat keadaan saya. Kejadian itu selang beberapa menit setelah saya pertama kali menyesap cairan hitam pekat berasa pahit itu. Dan sejak saat itu saya secara sadar tidak sadar mengakui kegunaan lain kopi hitam. Waktu itu mana bisa keluarga saya menjelaskan secara medis tentang kejadian itu. Tapi kami bersyukur. Saya bersyukur. Ibu terutama. Ia terlihat kembali bahagia meski di awal seolah tak percaya apa yang bapak racik. Namun setelah itu, efek sampingnya saya kesulitan untuk bergegas tidur. Jantung berasa dipompa oleh sesuatu, yang baru saya sadari ketika dewasa nama unsur itu adalah kafein. Bapak hanya membagikan pengalaman pribadinya saja saat demam, ia tidak kelihatan sedang sakit oleh ibu, makanya ia menenggak kopi hitam dan memang ampuh, hingga bapak percaya saat saya sedang tidak baik-baik saja waktu itu, maka dengan segala kepercayaan dirinya, bapak meraciknya satu untuk saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...