Langsung ke konten utama

Siang di Mumbai


Sial. Gara-gara tidak ada suara pengumuman aku jadi tertinggal jadwal penerbangan ke New Delhi sore ini. Bandara macam apa ini, kumaki dalam hati. Belum lagi, banyak petugas yang kurang mampu berkomunikasi bahasa Inggris. Sial. Aku terjebak dalam peristiwa menyebalkan. Bandar udara dengan pengumuman senyap tanpa pengeras suara sedang orang-orang didalamnya riuh dalam percakapan masing, ada yang berbicara dengan nada keras seperti sedang menumpahkan amarah, ada yang duduk dalam diam termangu menanti jadwal, ada yang ribut membicarakan pertandingan softball. Aku terjebak di Mumbai, sore itu.
Seminggu di New Delhi, untuk persinggahan kedua kali ke India, aku sungguh berlatih arti sabar dengan kerasnya. Suara bising klakson mobil yang tiada henti siang-malam-sore-pagi, panas neraka jahanam di luar ruangan dan makanan yang kelewat pedas yang membuat perut gampang panas dalam. Belum lagi, tidak ada minimarket ala barat di negeri ini.
November tahun lalu, aku datang ke Mumbai untuk pertama kali. Menginjakan kaki di kota penghasil film pesaing Hollywood ternyata membuat seluruh pandangan berubah haluan. Aku belajar banyak dari masyarakat dan gaya berpakaian mereka. Jeleknya, orang-orang sini pelit sekali untuk memberikan senyum. Juga cara bicara mereka yang agak keras, kalau di Indonesia, mungkin lebih mirip orang Medan atau Madura, bicara mereka lantang, sehingga bagi yang belum kenal dikiranya sedang beradu emosi. Akhir bulan itu aku berkeliling ke beberapa tempat. Tujuan utamanya adalah tempat dimana dulu guru besar Mahatma Gandhi melakukan pergerakan politiknya dan bisa mengorganisir orang-orang India untuk bersatu melawan penjajahan. Aku tidak menyukai sejarah. Tapi begitu aku bisa berkunjung ke tempat yang mengandung unsur sejarah tinggi, aku jadi dibuat kagum melihat peninggalan-peninggalan yang ada. Apalagi kalau barang-barang kenangan itu asli adanya. Aku merasa begitu bersyukur bisa menyaksikan langsung suatu jejak peristiwa dengan kepalaku sendiri. Aku seolah sedang berada disana, menyaksikan satu persatu kepingan mozaik kejadian yang bisa merubah haluan suatu bangsa.
Dari Gandhi pulalah, aku menjadi kagum pada orang-orang India yang begitu bangga mengenakan sesuatu yang berasal dari negara mereka sendiri, produk dalam negri. Aku melihat beberapa muda-muda di tengah kota Delhi mencium kaki seorang ibu, mungkin lebih pantas kusebut nenek-nenek. Mereka begitu menghormati orang yang lebih tua, kupikir. Tentu hal ini juga terjadi di negaraku dengan cara yang berbeda. Aku bukan bermaksud meninggikan atau merendahkan salah satu diantaranya. Aku hanya kagum. Hal semacam itu jarang terjadi di kampung halamanku. Cara penghormatan kepada orang tua di desaku cukup jauh berbeda betul dengan apa yang terjadi disini.
Aku tiba di museum Gandhi. Lebih tepatnya adalah sebuah rumah yang ia dulu gunakan sebagai tempat merenungkan segala macam buah pemikirannya. Aku berjalan mengelilingi setiap sudutnya, menaiki anak tangga demi anak tangga. Menyaksikan potret kecil Gandhi yang disusun demikian rupa hingga ia beranjak dewasa. Dari koleksi buku, foto hingga miniatur yang menjelaskan Gandhi kecil hingga saat ia berbicara tentang pergerakannya melawan kaum penjajahan. Disini aku bertemu dengannya. Ia seorang Jerman, Elli namanya, paling tidak begitulah ia kupanggil nantinya. Ia memiliki beberapa tato kecil di lengannya bergambar burung camar. Di kakinya, terdapat sebuah tato satu kesatuan guratan titik-titik menyerupai suku Indian.
Di lantai itu, koleksi alat tenun Gandhi saat membuat pakaian untuk masyarakat India dipajang. Saat itu ia sedang menekan tombol shutter kameranya dan mengarahkan mocong lensa ke sudut dimana semua alat dapat ditangkap. Ketika aku tiba di ruangan itu, aku tidak sengaja ternyata telah mengganggunya. Aku menghalangi bidikannya. Tapi ia tidak marah, malah memberikan senyum. Begitu kusadari ia sedang memotret benda tua itu, langsung ke bergegas ke sudut lainnya. Masih di ruangan itu. Aku melihat-lihat sebuah rangkaian alat yang digunakan untuk memintal benang. Satu menyerupai baling-baling, namun ukurannya kecil. Semilir angin berhembus ke dalam ruangan. Ventilasi dari arah jendela rupanya, ia cukup besar untuk menghasilkan hembusan angin dari luar. Aku kembali mengarahkan tatapan ke tempat dimana ia memotret. Kali ini ia sedang mengambil potret wajahnya sendiri, dengan latar alat-alat pemintal benang di belakangnya. Entah ada angin apa, aku memberanikan diri untuk membantunya. Aku menawarkan diri memegang dan memencet tombol shutter lalu kuambil potret dirinya setengah badan. Ia menyetujui. Waw, terima kasih, katanya. Anggap saja sebagai permohonan maafku karena tadi mengganggu aktifitasmu, kataku. Tidak begitu masalah bagiku, timpalnya. Aku mengambil beberapa jepretan dari berbagai sudut. Ia puas dengan hasilnya. Ia menanyakan namaku. Kujawab nama panggilanku. Lalu kami naik satu lantai lagi, dimana miniatur pergerakan Gandhi dipajang, dihiasi dengan kata-kata mutiara yang menggugah api semangat seseorang terhadap perjuangan. Tanpa disengaja, ia dan aku akhirnya menjalani tur bersama dengan obrolan kecil yang kadang mengganggu pengunjung lain. Tur yang kami buat sendiri. Tanpa persetujuan tertulis, kami mengatur agenda kami berikutnya. Aku menceritakan kemana aku akan pergi sehabis ini, begitu juga ia.
Sebelum melanjutkan ke India Gate yang berada di Mumbai, aku mengajak Elli untuk menikmati santap siang. Tidak ada warung makan atau restoran terdekat. Jadi kami harus berjalan agak sedikit jauh untuk menggapainya. Sore itu sejuk sekali, sambil membicarakan tempat asalku, ia terus bertanya tentang Bali dan Pulau Komodo. Aku hanya sedikit tahu tentang Bali, jadi kujawab sebisaku. Kalau pulau Komodo, sama sekali aku tidak mengetahui tentangnya, hanya nama dan lokasinya saja. Ini membuatku sedikit malu di hadapannya. Tapi ia mengerti kalau negaraku bukan negara kecil seperti negaranya, jadi ia memakluminya. Ia tidak mengetahui tentang Jawa. Ah payah sekali, Jawa merupakan jantung kehidupan, kubilang. Di Jawa juga banyak tempat bagus dan makanan enak, kau harus mencobanya kesana suatu saat, ejekku. Kami menemukan sebuah kedai makan di pinggir jalan. Buka makanan jalanan, menunya cukup higienis. Akhirnya tempat ini kami pilih. Aku memakan dua roti bulat tipis yang digulung dan memiliki rasa bawang putih yang kemudian lebih nikmat bila disantap sambil dicocol kuah kare daging kambing. Ia makan nasi biryani ayam dan salad sayur. Ia merasa aneh ketika menyaksikan beberapa orang di meja lain memakan nasi hanya menggunakan tangan kosong.
Aku sedikit memberi tahu kalau hal itu terjadi juga di negaraku. Alasannya, karena memang kadang ada beberapa jenis makanan yang lebih nikmat bila disantap menggunakan jemari tangan telanjang. Ia tidak begitu peduli, katanya aneh sekali makan dengan cara seperti itu. Seperti suku pedalaman saja, katanya. Kubilang saja, kamu akan mengerti ketika kamu mencobanya sendiri. Baiklah, kapan-kapan akan kucoba, katanya.
Setelah menandaskan semua isi di piring alumunium, kami bergegas melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Kami bayar sendiri-sendiri untuk sajian siang itu. Lalu ketika kulihat peta digital, tempat yang akan dituju tidaklah begitu jauh dan masih mudah dijangkau, kami tidak menemui masalah ketika memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kesana dengan berjalan kaki.
Benar saja setelah kurang lebih duapuluh menit melintasi gedung tinggi dengan gaya klasik peninggalan Inggris, kami melihat sebuah antrian panjang. Disanalah tempat yang kami tuju. Di pinggir sebuah pesisir, bangunan memorial itu berdiri. Burung-burung merpati terbang liar dan bebas di atasnya. Sebuah hotel megah juga berdiri kokoh di sisi lainnya. Antrian itu mengular beberapa ekor. Beberapa orang asia timur dengan mata sipitnya dan seorang setempat berjalan melewati kami berdua. Langit sungguh cerah, siang itu kami diguyur panasnya semesta. Ubun-ubun berasa sedang dipanggang. Bagi Elli, panas seperti ini adalah anugrah. Kami ngobrol sepanjang jalan meski kadang kami tak mengerti apa yang sedang kami bicarakan, Elli lebih banyak tertawa mendengar tiap kata yang kuucapkan. Terutama saat aku secara terbuka membicarakan seorang perempuan yang meninggalkan kekasihnya dan menikah dengan orang lain yang lebih mapan.  Kami berjalan memasuki bilik pemeriksaan. Tas dan anggota tubuh kami diperiksa. Aku di bilik khusus lelaki, Elli di bilik khusus perempuan. Elli beebrapa langkah lebih dulu pada antrian. Jadi ia menungguku begitu lebih dulu usai melakukan pemeriksaan. Ia melihat pemandangan sekeliling yang dipenuhi ribuan orang. Sebuah panggung perayaan sedang dirancang oleh ahlinya. Aku melirik sekilas tulisan pada selarit kain besar yang dijadikan layar belakang begitu keluar dari bilik pemeriksaan dan mengajak Elli kembali melanjutkan perjalanan ke bagian dalam.
Kami mengelilingi bangungan tua yang di berbagai sudut tertulis ratusan nama pejuang, melihat perahu-perahu yang mengangkut penumpang untuk berwisata bahari, hotel megah di seberang jalan dan matahari yang mulai terbenam. Kami duduk menyender di sebuah tembok dan berhenti untuk istirahat disana untuk beberapa saat. Beberapa merpati sibuk mengais makanan kecil yang telah disediakan oleh petugas pengurus tempat wisata. Hari itu berakhir setelah secara bergantian saling mengabadikan foto menggunakan ponsel masing-masing, lalu aku meminta satu pose selfi bersama, Elli menyetujuinya. Kemudian kami bertukar kontak dan berpisah ke arah tempat tinggal sementara kami masing-masing. Aku masih punya jatah satu hari lagi untuk tinggal disana dan beberapa rencana kecil kegiatan keesokan hariku kuceritakan melalui saluran telepon pada Elli saat kami tiba di tempat masing-masing. Malam jatuh, langit dipenuhi polusi kendaraan, dari ketinggian aku melihat lampu-lampu kecil di rumah warga nyala menyerupai bintang di langit, tapi di langit hanya ada awan hitam yang sedang diasapi. Obrolan itu berakhir tak sampai dua jam, lalu kami istirahat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Tamasya Kerja

Tulisan ini cuma sekelebat cerita yang saya dapat saat menjadi seorang kru acara  gathering  sebuah perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Waktu itu di akhir tanggal bulan November. Hujan lagi sering banget turun. Dapat tawaran dari seorang rekan yang biasa dipercaya menggarap acara. Rezeki dalam bentuk apapun tidak boleh ditolak, kan? Lumayan buat ongkos wisuda, hehe. Seminggu, lima kali piknik. Mungkin kalimat ini cocok menggambarkan suasana perasaan saya saat bekerja di acara seremoni ini. Selama seminggu itu juga, sedetik pun saya tidak pernah menggunakan jaringan telekomunikasi dengan dunia luar. Dari kawasan Kawah Wurung, tepatnya di rumah singgah Jampit. Di area ini bebas dari jaringan koneksi seluler manapun, yang mana biasanya selalu menghasilkan dering atau getar di telepon genggam di tengah malam hingga pagi hari sampai siang lagi, yang kadang cukup menggangu ketika datang di waktu yang tidak tepat. Tanpa ada kabar berita atau mengabari berita ke luar itu ra...