“Hei, kenapa kita masih saling berhubungan seperti ini, bagaimana bila suamimu tahu?”
“Lalu kamu sendiri? Bagaimana kalau istrimu tahu?”
“Kapan aku pernah bilang aku sudah punya istri? Sudah kubilang, hidupku yang sial ini tak pantas mendapatkan hati seorang perempuan mana pun.”
“Tapi kamu sudah mengambil hatiku. Berani-beraninya kamu tinggalkan aku begitu saja waktu itu.”
Hening
“Bisa bantu aku kasih pengertian kenapa?”
“Hei, suamimu menunggumu di rumah. Sebaiknya kita sudahi pertemuan ini. Sebaiknya kembali lah saja ke rumah. Atau bagaimana kalau aku saja yang pulang?”
“Tidak baik meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban. Tunggu dulu, jangan kabur lagi. Seenaknya saja kamu ini. Apa kau memang sepecundang itu?”
Kembali Hening
Lelaki yang duduk saling berhadapan dengan seorang perempuan itu menyesap cairan yang tertuang di sebuah cangkir yang sedari tadi luput dan tak digubris.
Siang itu lengang. Pengunjung restoran bisa dihitung dengan jari. Selain belum masuk jam makan siang, sebuah wabah di kota ini juga membuat aktifitas warga di luar rumah terbatas.
“Kamu ini lelaki macam apa sih? Dengan cepat bisa membuat orang menyukaimu dan dengan cepat juga orang menjadi sangat benci padamu?”
“Jadi kamu sekarang membenciku? Baguslah.”
“Baguslah katamu? Makin menyebalkan saja. Kamu pikir aku sudi ketemu hari ini hanya untuk membahas ini?”
“Memang apa lagi yang kamu harapkan dari lelaki pecundang sialan ini?”
“Bisa tidak sekali saja kamu berlaku manis lagi seperti dulu saat kita pacaran. Bisa tidak kamu hormati perempuan yang pernah berjuang bersamamu dulu itu?”
Tidak ada kata-kata yang menyambut ucapan terakhir itu. Pelayan datang membawa seporsi makanan kecil dan menawarkan sesuatu hal yang mungkin ia bisa bantu. Keduanya melewatkannya begitu saja, karena mereka sadar si pelayan itu tak akan bisa membantu apa-apa tentang kejadian kacau masa lalu yang belum tuntas betul dan masih membekas pada keduanya.
“Mungkin kamu memang sudah berubah betul. Baiklah aku tidak akan memaksa.”
“Bisakah kita hari ini kita tidak membahas masa lalu?”
“Lalu kamu ingin aku membahas apa? Kamu takut?”
“Apa yang perlu kutakuti? Bahkan suamimu yang kerjanya pakai bedil itupun tak akan mampu meruntuhkan nyaliku.”
“Masih berani ngomong nyali? Meninggalkan gadis duapuluhsatu tahun yang sedang dimabuk asmara karena tindakanmu namun ditinggal menghilang tanpa kabar berita tanpa jelas kamu berada dimana secara mendadak menurutmu itu tindakan bernyali hei tuan sialan?”
“Masih ada berapa banyak lagi pertanyaan yang kamu punya dalam pertemuan ini?”
“Kenapa? Kamu butuh mengakses mesin pencari lebih dulu untuk mendapat jawabannya?”
Kembali hening. Namun terdengar si lelaki mengambil helaan nafas agak panjang dan berat, dengan pelan.
“Sepertinya kita tidak bisa lebih jauh lagi.”
“Kamu sudah sangat jauh meninggalkan aku. Lagipula, kamu juga bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku, bukan begitu kan yang ingin aku sampaikan padamu dan obrolan ini berakhir dengan kita saling pamit saling melupakan masa lalu. Lalu semua selesai, impas sudah. Begitu kan kurang lebih maksudmu?”
“Kamu masih saja banyak bicara seperti dulu.”
“Lalu kalau aku diam juga, apa kamu juga akan peduli?”
“Suamimu pasti sedikit kerepotan ya mengahdapi sikapmu ini?”
“Bisa tidak berhenti membicarakan suamiku? Apa kamu tidak bisa sedikit saja menghargai kehadiran seseoarang yang sedang berbicara dihadapanmu?”
Suasana kembali menjadi hening untuk kesekian kalinya untuk beberapa saat. Keduanya saling bertatapan muka. Si perempuan dengan muka kesal yang tidak bisa ditutup-tutupi meski ia mengenakan bedak tipis dan gincu merah hatinya. Si lelaki hanya membalas dengan muka datar dan bengong saja. Tapi sorot mata dari kedua wajah saling beradu tajam. Si perempuan menyantap makanan ringan di meja menggunakan garpu, tapi pandangannya masih tertuju pada lelaki di depannya.
“Baiklah, aku mengalah kali ini. Aku akan berhenti membahas secuil pun tentang suamimu, tapi bisakah kita juga berhenti membahas dan mempertanyakan masa-masa silam kita?”
Setelah sengaja menyudahi satu suapan kecil yang belum tandas, si perempuan meletakkan garpu itu kembali disamping kanan dekat dengan asal makanan dan mudah dijangkau bila ia ingin kembali menyantapnya.
“Itu sangat tidak adil. Keputusanmu hanya menguntungkan dirimu sendiri. Lalu bagaimana dengan perasaan yang bertanya-tanya selama sekian tahun setelah kamu tinggal pergi begitu saja. Apa menurutmu dengan tidak mempertanyakan kemana kamu pergi dan tidak membahasnya adalah sebuah keadilan? Mungkin bagimu, iya. Karena kamu memang tidak ingin bertanggung jawab atas hal-hal yang pernah kamu lakukan itu. Sangat mudah itu kamu lakukan, karena kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan. Kamu ini sadar tidak sih?”
Kembali hening, namun tidak begitu lama seperti sebelum-sebelumnya.
“Sejak hari pertama, aku ingat betul, bahkan siang itu samasekali aku belum mengenal siapa kamu. Aku hanya melihatmu dari jauh. Aku sudah kehilangan seluruh kesadaranku. Aku bahkan sudah lebih dulu cemburu pada angin yang dengan lancangnya membelai rambutmu dengan seenak jidatnya.”
Kali ini si perempuan kembali meraih gagang garpu menggunakan tangan kanannya, namun tidak mengambil makanan di piring kecil di hadapannya. Suara derak benda di meja terdengar. Ia hanya memegang gagangnya dengan kesal, ia meremasnya seperti ingin menusukan ujungnya ke sesuatu, mungkin ia ingin menusuk salah satu bagian tubuh si lelaki karena saking kesalnya. Si lelaki menelan ludahnya. Ia merasa sedikit lega karenanya.
“Lalu mengapa kamu meninggalkanku begitu saja seperti memperlakukan seorang pelacur sehabis melayani pria hidung belang?”
“Lalu mengapa kamu masih mempertanyakan hal yang sudah kamu tahu jawabannya?”
“Maksudmu?”
“Bisa tidak kamu berhenti bertanya dan jelaskan mengapa waktu itu kamu sudah bertukar cincin dengan lelaki lain di sebuah sore lalu masih saja meladeni lelaki sialan sepertiku ini?”
Si perempuan kehilangan kata-kata. Suasana kembali hening. Kali ini si lelaki yang kelihatannya kesal. Ia kembali menyesap isi cangkir di hadapannya. Setelah itu ia menggigit bibir bawahnya sendiri. Si perempuan masih menggenggam garpu. Kali ini melunak dan meletakan alat bantu makan itu sekenanya. Pikirannya seketika melayang entah kemana. Ia menyadari sesuatu. Ia menyadari apa yang telah ia perbuat.
“Sebaiknya kita sudahi saja pembicaraan ini. Kita tak bisa lebih jauh lagi bagaimanapun juga.”
“Sebaiknya kamu pulang saja, suamimu menunggumu di rumah.”
“Tapi aku masih ingin bersamamu barang sebentar saja.” Aku rindu kamu, aku rindu memelukmu kata hatinya.
“Percuma, kita sudah tak bisa apa-apa. Kamu selalu saja menagih tentang masa lalu kita yang tak pernah akan mengubah secuil apapun kedepan. Dan seharusnya aku lah yang lebih pantas menagihnya.”
Tangan si perempuan menjangkau tangan lelaki. Ia menggenggamnya pelan. Mungkin hangat terasa ketika keduanya berjumpa. Kedua wajah itu masih saling tatap, kali ini sedikit lebih santai dan terlihat dengan perlahan mendekati satu sama lain. Keduanya terlihat seperti pejalan yang sedang kehausan di padang gurun, kehausan sesuatu, sesuatu yang membasahi jiwa mereka yang kering. Ada sesuatu yang kembali tumbuh, bermekaran.
“Kita masih bisa melakukan apasaja, percayalah. Asal kau tahu saja, aku belum benar-benar menikah. Hanya tunangan saja. Kau tahu kan, sebelum janur melengkung di halaman rumahku, itu berarti aku masih terbuka untuk siapa saja. Lagian bedil pelurunya tak mampu menembus hatiku. Hanya bedilmu yang mampu meluluhlantakan segalaku."
Hening kembali menemani keduanya. Si lelaki belum bernyali menjawab kalimat yang terlontar dari mulut si perempuan.
Pertemuan ini terjadi setelah mereka melakukan panggilan terakhir dalam sebuah sambungan telepon karena si lelaki sudah enggan meladeni dan memiliki urursan yang perlu diselesaikan hari itu, mereka membuat janji dan terjadilah sebuah kesepakatan. Pagi itu terjadi begitu saja. Setelah beberapa jam sebelumnya si lelaki baru saja keluar dari burung besi dari Mumbai, sedang si perempuan waktu itu memang tinggal di Surabaya. Mereka bertemu di sebuah restoran hotel yang lengang dan mewah, sepi dan gagah.
"Ayolah, semalam lagi saja. Aku masih ingin bicara banyak denganmu. Kita menginap di hotel ini seharian. Lalu akan kubuktikan aku lebih hebat dari malam terakhir pertemuan kita. Akan aku berikan segalaku sekali lagi padamu, ledakanlah sesukamu padaku."
Komentar
Posting Komentar