Ia penerjemah yang
hebat. Lelaki yang menguasai setidaknya tujuh
bahasa negara yang sulit untuk dipelajari bagi
orang biasa. Angka tujuh mungkin masih bisa dihitung dengan
jari. Tapi percayalah, pada kasus ini, kemahirannya
dalam bahasa hirografis, ia telah membawa ratusan tamu dari
berbagai belahan bumi yang menggunakan huruf-huruf
pagar aneh tiap satu minggu tanpa
banyak kendala. Beberapa diantaranya telah menjadi langgan tetap
ketika kembali berkunjung ke nusantara.
Kadang ia harus kerepotan dengan jadwal lain
bersinggungan, maka tidak jarang, ia meminta bantuanku jika masalah ini
terjadi. Begitu pula sebaliknya, begitu aku mendapatkan tamu dan membutuhkan
bantuan, ialah orang pertama yang menjadi rekomendasiku.
Tempat wisata di daerah kami cukup bagus,
pantai dan bukit yang berisi penuh benteng kuno serta bangunan peninggalan
kerajaan masa lampau yang dikelilingi pohon kelapa, ketapang hingga bakau yang
rimbun. Tidak ada kendaraan bermotor sehingga menyebabkan udara tidak
terjangkit polusi bahan kimia mana pun, selain mesin perahu dan asap tungku
dapur penduduk. Selain mengurangi penggunanaanya, penduduk di desa kami juga
selalu memanfaatkan limbah plastik untuk dijadikan souvenir yang bernilai jual.
Jadi kami tidak bermasalah dengan isu-isu lingkungan seperti yang terjadi di
pulau besar dan kecil lain di seberang lautan. Itu lah mengapa wisatawan selalu
mampir ke pulau kami, ada daya tarik besar tertentu yang tidak bisa ditolak,
kata beberapa wisatawan itu kepada kepala atau tetua desa adat kami dengan
kalimat yang berbeda-beda ketika mereka hendak kembali ke kampung halamannya.
Maklum, di desa kami, selalu ada penyambutan dan upacara kepulangan bagi tiap
turis yang sudah dilakukan sejak lama, meskipun turis yang datang hanya
satu-dua saja.
Para agen wisata di daerah kami tidak perlu
repot-repot untuk memasang iklan di koran, majalah onlen bahkan televisi
nasional supaya laku, hanya ada satu situs di laman maya dan itu pun dikelola
juga digunakan sebagai tempat menjual hasil daur ulang sampah di pulau ini,
bukan tentang wisatanya. Semua bekerja saling membutuhkan, antara penduduk
pulai kecil ini dengan penduduk pulau terdekat terdapat perraturan tak tertulis
yang selalu ditaati oleh satu sama lain. Antara pemilik perahu, sewa penginapan
yang bahkan milik bersama hingga kedai makan dan minuman bergandeng tangan
tanpa ada unsur saingan yang kurang menyehatkan. Seluruh desa memberlakukan
setiap turis asing yang datang ke tempat terpencil ini harus didampingi oleh
paling tidak satu penerjemah, jika tidak, mereka akan dikembalikan ke pulau
besar. Dan penerjemah yang mendampingi, harus lah dari dalam pulau kecil saja,
tidak boleh tidak. Itulah cara penduduk pulau kami agar tetap melanjutkan
hidup. Bahkan ketika membangun rumah berupa gubuk bambu bergaya panggung,
seluruh warga mengulurkan tangannya cuma-cuma. Gubuk beratapkan daun kelapa itu
lebih menyerupai rumah suku asing nan jauh tetapi mempunyai daya tarik tinggi
untuk ditinggali. Dengan kebijakan seperti ini, rasa gotong royong di pulau
kami secara alami sudah mendarah daging. Semua bekerja sesuai keahlian di
bidangnya masing-masing. Semua terikat menjadi satu rantai kuat yang tak nampak
oleh mata biasa. Semua belajar di sekolah dengan membayar semampunya pada yang
berpengalaman di bidangnya tanpa ruangan kelas berupa tembok, jendela dan daun
pintu layaknya di kota-kota besar di dekat ibukota, hanya di bawah pohon
beringin besar di dekat balai desa.
Masih tentang ia, yang seorang pekerja
keras. Begitulah adanya. Ia begitu terlatih untuk menjaga stamina tubuh dan mentalnya
selama mondar-mandir menjalani pekerjaan ini. Di pulau mungil nun jauh dari
gedung beton ini, disini matahari tidak pernah pelit memberikan pancarannya.
Entah ia jenis makhluk ajaib macam apa, yang tidak terpengaruh suasana panas seperti
dalam tungku yang menyala akhir-akhir ini. Cuaca musim kemarau memang mampu
membakar segalanya, termasuk semangatnya, mungkin, pikirku. Ia tidak pernah
sekolah atau berkuliah jurusan bahasa manapun, tapi kemampuan di bidang
komunikasi bahasa asing, ia lah jawaranya, setidaknya itu menurutku dan
pengakuan orang-orang yang ada di sekitarku. Ia hanya belajar melalui kamus
secara mandiri dan sepertinya beberapa majalah wisata berbahasa asing, juga
kadang bersama ibunya, kata temanku yang jauh lebih mengenalnya. Umumnya
penduduk di desa kami ini hanya bisa menggunakan satu bahasa asing, tentulah
bahasa internasional kulit putih pemakan gandum dan babi itu.
Berbeda dengannya, ia
paling suka segala hal tentang Jepang. Mulai dari
musik, novel, film hingga dunia sepak
bolanya juga film birunya, yang terakhir kuketahui dari teman
dekatnya yang pernah menemukan beberapa kaset jalang itu di kamarnya, katanya, tapi
aku tidak begitu mempercayainya. Aku tak mengerti mengapa
ia sebegitu gila dengan negeri matahari terbit. Apakah mungkin karena disana sakura bisa mekar
dengan indahnya. Entahlah. Satu hal yang kutahu pasti, ia jarang sekali dekat dengan
perempuan. Itu bukan berarti ia tidak memiliki teman lawan jenis. Ia punya banyak
sekali malah dan selalu kelihatan dekat, akrab ketika berbincang membahas
apasaja. Mulai dari pelayan di kedai kopi Mang Iwang, tukang bersih-bersih
ruangan di penginapan Nirwana di ujung jalan, Deswita teman sesama
penerjemahnya yang juga temanku, bahkan beberapa turis langganannya dari
Australia seperti Natali dan Jordy yang selalu kesini tak pernah sendiri.
Entahlah apa yang ada di benaknya tentang masalah asmaranya. Aku tidak pernah
betul-betul mengetahuinya. Ia juga jarang menceritakan satu hal pribadinya itu.
Meski sering menghabiskan waktu luang bersamanya, aku sendiri kurang berani
bertanya berkaitan soal ketertarikannya pada perempuan. Kami menghabiskan waktu
untuk minum-minum bir sambil memanggang iga sapi, pergi ke bioskop mini yang
filmnya cuma satu dan diganti dengan yang paling baru ketika sudah tiga bulan
yang lalu tayang di bioskop kota-kota, atau mampir ke taman bacaan, bisa
dibilang buku-buku disini paling lengkap di seluruh penjuru desa, beberapa
karya Charles Dickens, Mark Twain, Jane Austen dan masih banyak lagi tulisan
dari tangan orang-orang barat lainnya ada disini.
Buku-buku hasil hibah dari turis yang
mampir ke desa itu masih dalam kondisi seperti masih baru sekali tanpa cacat
dan coretan atau tulisan menggunakan pena yang menandakan kepemilikan tuannya.
Para wisatawan itu berbaik hati dan mendermakannya setelah melihat keberadaan
taman baca yang menarik dan dibuat senyaman mungkin dengan beberapa ayunan di
gantung di batang rumah pohon yang kokoh, lukisan-lukisan manusia dan hewan
dengan bermacam-macam corak yang aneh hasil seniman setempat, gemerincing aksesoris
yang terbuat dari berbagai kulit kerang di pintu dan jendela bila terkena
goyangan angin hingga kursi terbuat akar pohon tua yang mati ditata tak
beraturan tapi memiliki nilai estetis yang tidak kalah dengan restoran mahal di
negri seberang, rak bukunya sendiri dibuat dari batang pohon mati yang diukir, dibuat
berundak rapi, hanya diplistur memamerkan warna aslinya.
Balik lagi tentangnya, kuketahui, ia juga
seorang yang menyayangi keluarganya. Pernah beberapa kali sepulang mengantar
tamu yang kebanyakan tiap sore mereka dibiarkan dengan agenda masing-masing,
kami (baru kusadari ternyata terlalu sering) menghabiskan sedikit waktu
menjelang senja di kedai kopi untuk membicarakan kejadian hari itu juga. Kedai
itu terletak di sisi barat pulau dengan dermaga kecil yang menjorok ke arah
laut dan beberapa perahu nelayan, jadi panorama matahari tenggelam
perlahan-lahan mengecup dahi ombak hingga terbenam ke dasar samudra menjadi
latar yang mengagumkan dan bagus sekali bila dipotret lalu dicetak dan dipajang
di kamar atau sebagai referensi majalah wisata, kadang bayangan hitam sepasang
camar dan gumpalan awan tertangkap jelas berada diantaranya.
Sebagai hiburan dan obat rasa lelah,
begitulah celotehnya kepadaku, yang masih suka bingung sendiri ketika hendak
memesan minuman apa yang enak dinikmati waktu senja. Ia selalu memesan segelas
Mujito segar dengan balok es kecil dan menghabiskan beberapa batang Marlboro
merah. Kadang sesuatu berjalan dengan
sangat mulus, kadang juga salah satu dari turis itu pergi kemana seenaknya
sendiri hingga lepas dari jangkauan dan membuat jadwal kunjungan berantakan, ceritanya.
Sama seperti yang kadang kualami juga, batinku. Selepas itu, kami juga sering
berhenti di depan penjual makanan di pinggir jalan untuk menikmati cumi bakar
atau sate udang segar yang didapat langsung dari para nelayan setempat, tidak
peduli asap mengepul mengepung tubuh kami. Tidak peduli keramaian orang berlalu
lalang memadati jalan atau suara turis-tursi di toko seberang jalan yang
menawar suvenir dengan sangat berisiknya, aku dan ia hanya fokus mengamati hewan-hewan
kecil dari laut yang dibakar itu agar tidak terlalu kematangan.
Kejadian kecil makan malam sederhana ini
selalu menjadi waktu yang mengagumkan bagiku, selain mengagumi caranya memperlakukan
masakan dengan perhitungan yang detil, disaat itu juga aku mulai menyukai sisi
hidupnya yang lain, yang tidak pernah atau jarang ia perlihatkan ketika sedang
bersama para tamu. Tiap membeli jajanan dan kudapan ringan, ia tidak hanya
memikirkan dirinya sendiri. Ia selalu memesan porsi lain yang lebih besar dan
membawa beberapa bungkus untuk orang yang ada di rumahnya. Hal itu tidak
terjadi hanya sekali duakali. Makanya berani kutulis pernyataan demikian.
Ia juga peduli terhadap sesama. Aktifitas
sebagai pendaki gunung saat hari libur pribadinya mungkin salah satu yang
memberi dampak demikian. Ia menentukan kapan ia harus memberi liburan kepada
dirinya sendiri, jadi turis yang hendak menggunakan jasanya harus bersabar bila
ingin mendapat servisnya. Ia bukan satu-satunya turis hebat di pulai kecil ini,
tapi percayalah, sekali lagi, ia membuat turis-turis itu mengikuti jadwalnya,
bukan malah sebaliknya. Ia aktif di kegiatan sosial, menjadi seorang sukarelawan.
Sering membantu aliran sungai yang mulai dipenuhi tumbuhan eceng gondok dan
tanaman pengganggu lain dan menggantinya dengan bunga teratai yang dibeli dari
pulau seberang. Ia juga sering mendampingi aktifis lingkungan yang melakukan
studi banding ke pulau kecil ini secara suka-suka tanpa dibayar. Satu hal yang
aku sedikit kecewa darinya, sayang, ia tidak punya cukup perasaan yang mampu
menerjemahkan sikapku padanya. Baiklah, di bagian akhir ini aku sedikit
mengaku, sedikit saja. Aku ternyata tanpa sadar telah jatuh hati padanya. Entah
sejak kapan dan entah apa yang membuatnya demikian, yang jelas aku hanya merasa
tenang ketika berada disampingnya dan tak ingin jauh darinya, sudah itu saja. Tapi
entahlah, sebagai seorang perempuan, kemampuan terhebatku ialah cuma bisa
menjaga perasaan ini dengan baik tapi sedikitpun tidak punya keberanian untuk
menyatakan atau mengungkapkannya kepadanya.
Keluarganya sudah menjadi penduduk pulai
ini sudah lebih dari seperempat abad berlalu. Jadi ia bukan asli warga sini
sepeti kebanyakan yang lain. Karena pembawaan sikapnya yang baik kepada seluruh
penduduk, akhirnya ia juga mendapat balasan perlakuan baik pula tanpa cela.
Sampai hari itu, aku tidak begitu benar mengetahui alasan kepindahan orang tua
tunggalnya itu ke pulau ini dan tak berniat ingin mengetahuinya juga, tidak ada
keuntungan apapun yang akan kuterima pikirku. Baru kuketahui ketika aku diajak
untuk main ke rumahnya setelah bersepeda mengitari keliling pulau selama
beberapa jam. Hari itu pagi sangat cerah. Udara pagi yang begitu menyegarkan.
Daun kelapa melambai pada suatu ketinggian ketika kami melalui jalan kecil
menembus hutan bakau.
Tidak lama, kami tiba di rumahnya melalui
jalan yang dibuat padat menggunakan batu kerikil sisa koral yang sengaja
dihancurkan. Semua penduduk memiliki ukuran rumah yang hampir sama dan bentuk
yang hampir sama pula, meski rumahnya ini agak sedikit mengenaskan karena beberapa
atapnya terlihat sudah hancur dan ketika hujan aku berani bertaruh, air bisa
menembus masuk menggenangi bagian dalam rumahnya. Tapi sampai sini, aku tidak
mendapat masalah apapun. Ketika aku menyandarkan sepedaku di sebuah kayu
penyanggah jemuran baju, tiba tepat selisih dua langkah di belakangku, ia sengaja
mendorong sepedaku hingga terjatuh, kami tertawa menyaksikan kejadian konyol
itu walaupun aku jengkel juga dengan candaannya yang agak kurang tepat.
Beberapa saat kemudian, aku bertemu dengan ibunya. Ia seorang perempuan yang
baik dengan rambut panjang lurus dan hitam legam dengan tubuh semampai dan
cukup tinggi untuk ukuran seorang perempuan, paduan sempurna idaman semua wanita,
cuma agak tidak menyenangkan dalam membuat kesan pertama pertemuan. Membuat
sedikit tendensi angkuh yang mengintimidasi. Yang tidak kalah kaget, ialah, saat
aku dikenalkannya sebagai pacarnya. Aku tidak marah
maupun senang seketika itu,
aku hanya kaget betul, sungguh. Lebih-lebih ketika mengetahui reaksi sang ibu, engan melontarkan sederet kalimat bagai sebilah katana
milik ksatria jepun.
"Sudah
berani bawa
perempuan ke rumah sekarang.
Ingat tanggungan ibumu, bayar hutang sekian
ratusjuta, adikmu masih kuliah, rumah hampir roboh.... bla bla bla..."
Dengan mendengar seribu keluhan sang ibu kepada putranya itu, mulutku terasa dibungkam sesuatu hingga kaku, begitu juga seluruh badanku. Kalimatnya terdengar seperti bongkahan es dingin yang diambil langsung dari belahan kutub hanya untuk mengurungku dalam suasana yang begitu beku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu jua, hanya berdiri di bagian dalam pintu masuk. Angin aneh dari arah luar membentur badanku, membelai rambutku seenaknya dan suara gesek dedaunan mangrove membuat lenganku mendadak merinding tanpa sebab yang pasti. Yang terakhir kuingat, ia menggenggam tangan kananku dengan sedikit keringat peluh di dahi dan diam saja seperti ingin menerjemahkan setiap kata-kata dalam bahasa yang ibunya katakan supaya dapat dimengerti.
Dengan mendengar seribu keluhan sang ibu kepada putranya itu, mulutku terasa dibungkam sesuatu hingga kaku, begitu juga seluruh badanku. Kalimatnya terdengar seperti bongkahan es dingin yang diambil langsung dari belahan kutub hanya untuk mengurungku dalam suasana yang begitu beku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu jua, hanya berdiri di bagian dalam pintu masuk. Angin aneh dari arah luar membentur badanku, membelai rambutku seenaknya dan suara gesek dedaunan mangrove membuat lenganku mendadak merinding tanpa sebab yang pasti. Yang terakhir kuingat, ia menggenggam tangan kananku dengan sedikit keringat peluh di dahi dan diam saja seperti ingin menerjemahkan setiap kata-kata dalam bahasa yang ibunya katakan supaya dapat dimengerti.
Hari baru itu masih pagi, beberapa pemilik
perahu tiba di dermaga membawa turis baru. Di sisi timur, matahari masih
seperempat memanjat pohon kelapa yang menjangkau angkasa.
Komentar
Posting Komentar