Langsung ke konten utama

Lelaki itu Mati di tengah Kerumunan


Perahu kayu bersandar di pelabuhan kecil, lalu seorang anak buah kapal mengikatnya di bantalan kayu di ujung dermaga. Perahu kayu berukuran sedang dan hanya muat diisi empat sampai lima orang saja. Perahu nelayan dan perahu wisata memiliki tempat berlabuh masing-masing, begitu pula dengan perahu barang. Siang itu matahari sungguh sedang cerah. Anak buah kapal lain menurunkan kotak-kotak yang diangkut kapal barang itu. Sang juru mudi dan si tuan ikut pula mengangkat satu persatu kotak dari lambung perahu. Pelabuhan kecil tertata rapi terletak di utara kota. Beberapa perahu pinisi berukuran besar bersandar di ujung lain pelabuhan. Belum lagi, bangunan-bangunan tua memanjakan turis yang baru pertama kali singgah di pulau terpencil ini. Namun biar begitu kenyataanya, kehidupan di kota ini sungguh makmur dan jauh dari kesusahan. Kebun dan ladang di sisi lain pulau selalu memberi hasil panen sebagai bahan makanan berkualitas utama. Laut yang luas menyediakan banyak sumber gizi yang berlimpah. Semua hasil kerjaan penduduk tidak dijual keluar pulau. Burung camar dan merpati berterbangan di segala sudut kota. Seekor elang melayang mengintai buruannya di langit sebelah tenggara. Bukit-bukit kecil terhampar menghadap laut, rumah dan jalan yang meliuk mirip sekali dengan lukisan surealisme di pameran. Benar-benar negeri impian seperti dalam dongeng.
Suatu ketika, pesona kota ini sedikit tercabik karena sebuah geger suatu peristiwa di sebuah malam, satu-satunya kesusahan yang terus membekas dalam ingatan, kata si juru mudi kepada tamu yang ia bawa.
Lelaki itu mati di tengah kerumunan. Sebelumnya ia terlihat berjalan layaknya dijerat rantai menyerupai pasung besar di kedua kakinya, mirip dengan seorang maling yang tertangkap lalu putus asa dijebloskan ke sel bawah tanah untuk diadili dalam waktu lama. Wajahnya nampak seperti orang yang sedang tersesat. Air mukanya kusut tidak bisa menutupi kalau ia sedang terbelenggu kebingungan tertentu, seperti seorang nelayan baru yang terbawa ombak besar samudra ke tengah laut hingga berlabuh di pulau jauh tak berpenghuni. Sayangnya tidak banyak orang menaruh perhatian padanya. Lagipula ia bukan orang penting di kota ini. Ia hanya lelaki biasa yang mengenakan pakaian biasa dan menjalani hidup juga biasa. Ia bukan siapa-siapa selain seorang warga negara yang namanya terdaftar di dinas kependudukan. Ia juga melakukan tindakan membayar pajak sesuai tanggungan seperti kebanyakan orang yang tercatat di kolom pemerintahan pada umumnya. Beberapa kali pun ia berpapasan dengan pengunjung pasar, meski satu negara, satu kota dan satu bahasa, orang-orang itu dianggap orang asing di matanya. Tidak satu pun ia mengenalnya, sebaliknya juga. Ia terlihat sendirian menyisir pasar malam yang selalu ramai pengunjung itu. Mondar-mandir. Sudah beberapa kali ia melewati jalan memutar yang sama, melintasi lajur pejalan kaki. Pasar ini letaknya di sisi utara alun-alun kota, menghadap timur.
Bila hari cerah, banyak muda-mudi datang berpasangan, tidak kalah lajang pula, atau anak kecil bersama orang tua mereka singgah. Lelaki itu hanyut di tengah keramaian. Kelip bintang terkalahkan oleh lampu sorot warna-warni sebuah wahana permainan dan tenggelam oleh sorot lampu tanda yang diarahkan ke angkasa. Malam terlihat begitu pekat, tidak ada satupun sekat, suara orang berlalu lalang memadati jalan sepanjang pasar. Pendar merkuri merajalela dengan remangnya seiring padat keramaian orang. Sore tadi kota di guyur hujan deras. Lelaki itu terus saja mengangkat kakinya secara teratur bergantian. Jalannya lambat, seperti anjing yang terperosok di dalam kubangan lumpur mencoba menyelamatkan tubuhnya. Seorang diri melangkahkan kaki, tanpa disadari siapapun kecuali dirinya sendiri, padahal ia sendiri pun sudah setengah kehilangan kesadaran. Tatapannya kosong.
Setelah beberapa saat, puluhan orang yang tengah berlalu lalang kemudian berhenti dan sibuk mengerumuni seorang lelaki terkapar tak sadarkan diri di pinggir trotoar. Mereka menyerupai satu kompi prajurit lebah menyungut sarang ketika menyaksikan adegan seorang pemuda roboh di tengah lajur pejalan kaki, dibuat heran sekaligus penasaran. Beberapa mengambil gambar menggunakan ponsel genggam, beberapa lain saling menebak-nebak apa penyebab peristiwa itu. Lelaki dengan potongan rambut lurus di belah dua di bagian dahi itu mengenakan celana jins terkoyak di bagian dengkul, kaso oblong abu-abu, jaket denim biru muda yang dipadu sepatu sniker Converse butut. Ia tergeletak tanpa tenaga tersisa, dengan dua buah lubang luka tembak. Tapi tidak ada yang mampu melihat bekas peluru, kecuali ia sendiri yang merasakannya. Seorang petugas berwajib perempuan tiba beberapa saat setelahnya, mengenakan seragam tugas dan rompi lengkap dengan atribut dan pin nama di dada, juga mengenakan topi biru tengah malam diberi bordiran bintang emas. Tapi entah mengapa, ia bisa menemukan penyebab kematian lelaki itu dengan mudah. Ia menemukan bekas-bekas tembakan besar bersarang di tubuh lelaki yang sudah terkulai seperti kalkun potong. Luka itu satu di dahi, memuntahkan seluruh isi otaknya berwarna merah segar, satu lain lagi di dada kiri hingga urat-urat jantung menyembul diantaranya, juga tidak kalah koyak dengan celana jins yang ia pakai. Saking besar bekas tembakan itu, hingga ususnya sedikit terurai seperti dicabik hewan buas. Entah jenis peluru berapa mili yang digunakan sang pelaku. Tetapi petugas perempuan itu tahu siapa yang menjadi dalang utama aksi ini.
Lelaki itu mati di tengah kerumunan. Tidak lagi akan sadarkan diri. Petugas perempuan yang mengenakan seragam sedang menggoyang-goyangkan lengannya berharap ia masih hidup sambil menatap ke arah wajahnya, tidak peduli dengan etika kedinasan yang seharusnya tidak memperbolehkan siapapun termasuk dirinya menyentuh korban hingga bantuan datang. Air mata mengalir dari kelopak pelupuk hingga basah ke pipi halusnya seperti irigasi sawah saat musim hujan. Ia menyesal atas semua yang pernah ia lakukan terhadap orang dihadapannya itu. Ia sungguh mengenalnya dengan baik, namun perlakuannya seperti orang asing sebelum peristiwa ini terjadi adalah sebabnya, pikirnya dalam-dalam. Ingatannya mulai terbang ke masa-masa ia pertama bertemu dengan lelaki yang bagian kepalanya sekarang ia dekap di dadanya. Pasar itu. Terasa dingin dan hangat secara sekaligus bersamaan baginya. Lembab. Basah terkena air mata, dan ingus bening cair bersinggungan di rambut,  laki-laki itu masih tak sadarkan diri.
Lelaki itu mati di tengah kerumunan. Ia sengaja berniat mati disana dan barangkali ada yang menawar harga untuk tubuh beku tak bergunanya itu di sesaat kemudian. Barangkali untuk pakan ternak atau hewan buas di kebun binatang, tidak apa-apa kalau harus dicincang lebih dulu, tapi ia lebih suka dilemparkan waktu masih utuh, pikirnya selagi masih memiliki tiga atau detik oksigen tersisa untuk hidup. Ia sangat berniat dan berencana menjual mayatnya di tengah pasar, selayak daging jagal sapi atau domba, lebih baik begitu berkali-kali ia meyakinkan diri. Lagipula tubuhku punya cukup banyak daging, gumaman terakhir merasa puas ketika langkah kakinya begitu terasa sungguh berat betul malam itu. Barangkali, begitulah kegunaan terakhir yang ia miliki sebagai makhluk yang pernah hidup dan satu-satunya yang terakhir yang bisa ia berikan agar jiwanya tenang setelah menemui kematian. Tapi seorang perempuan berseragam petugas sudah lebih dulu membuat seluruh lelucon transaksi itu berhasil batal terjadi, yang ia gagal hanyalah mencegah lelaki itu mati, itu saja. Tidak akan ada satu orang pun yang membeli bangkai manusia di pasar, sekalipun untuk pakan singa. Perempuan itu menjatuhkan topi bintang emasnya ke aspal jalan begitu meraih punggung si lelaki,ia merengkuhnya sambil sesegukan. Belakangan diketahui, ia merupakan pemilik salah satu kenangan yang selamat dan masih memiliki nyawa di tubuh si lelaki. Kenangan itu hanya bisa dirasakan oleh si petugas perempuan, dan kalau orang lain bisa mengetahui rasa kenangan itu, mereka tetap tidak akan mampu berbuat banyak. Disana ia meminta segera membawanya pulang. Suara dan lampu sirine datang membelah kerumunan. Gemericis gerimis pun tak tahan ikut menyaksikan adegan malam itu.
Lelaki itu mati di tengah kerumunan. Tidak ada yang mengetahui sebabnya bahkan ketika pihak rumah sakit sudah mencoba beberapa kali melakukan pemeriksaan. Tubuhnya sudah tak bernyawa. Jantungnya sudah lebur. Hanya perempuan itu yang tahu. Karena satu hal, kenangan, sesuatu yang pernah hadir bersamanya beberapa waktu di hari-hari sebelumnya. Perempuan berseragam petugas yang datang terlambat mengetahui bahwa peristiwa itu akan benar-benar terjadi di malam itu juga, hanya saja, ia menganggapnya sebagai ancaman belaka dan tidak mungkin akan benar terjadi.
“Lelaki itu sudah mati sejak di tengah kerumunan.” Begitu ucap seorang dokter begitu keluar dari sebuah ruangan, dengan masker yang menempel di bagian dagu dan setelan putih baju kebesaran. “Ia tak tertolong.”
Tibalah si juru mudi di muka hotel mengantar tamu beserta barang-barangnya di siang yang cerah dengan aroma asin segar samudra yang dikibas angin tumpah ruah ke setiap sudut kota. Hotel itu terletak di sisi utara alun-alun kota. Bangunan putih berlantai lima itu sudah mulai berubah menjadi coklat kekuningan, seperti bekas noda kopi pada kemeja kerja. Semua kotak bawaan sudah diturunkan. Sebelum memasuki lobi hotel, si juru mudi menggunakan jari telunjuk tangan sebelah kanannya mengarahkan sesuatu kepada si turis, seolah menunjukan tempat dimana lokasi peristiwa itu terjadi. Disana, lelaki itu mati di tengah kerumunan, sorot matanya seolah berbicara demikian, namun tak ada sepotong kalimat pun keluar dari mulutnya. Barulah ia sedikit kesal menjelaskan ketika seorang pelayan hotel datang menghampiri delman, tidak pernah ada orang bunuh diri sebelumnya, ia menggerutu, hal tersebut merupakan suatu tindak kejahatan tak termaafkan di negeri sesubur ini, karena semua orang yang hidup di kota ini akan menanggung beban tak terkira oleh perbuatannya dan semua penduduk bisa dianggap jadi pelaku. Meski bisa menghindari penjara di bumi, sang pelaku tidak bisa lari dari tuntunan di liang paling dasar di kerak neraka, imbuhnya, jadi mungkin seluruh warga di kota ini sedang bersiap menghadapi segala hal buruk itu terjadi, seperti kutukan. Entah apa yang ada di kepala ayah si gadis petugas itu, hingga sang lelaki berhasil punya banyak keberanian penuh untuk menghabisi dirinya sendiri.
Ya, malam itu, si juru mudi menyaksikan sendiri, lelaki itu mati di tengah kerumunan. Sang juru mudi dan penduduk kota sampai hari ini tidak mengetahui bagaimana cara lelaki itu mengakhiri hidupnya sendiri, tidak ditemukan tanda-tanda sisa racun di lambungnya ataupun bekas jerat tali yang mencekik, yang pasti jantungnya tidak fungsi, yang jelas beredar di tempat umum ialah pembicaraan mengenai ayah si kekasih bahwa ia tidak merestui hubungan mereka, katanya. Tubuhnya utuh tetapi ada yang terkoyak-koyak parah seperti dicabik hewan buas, semuanya berserakan mengenaskan, darah segarnya tumpah ruah, dagingnya seperti dicincang sembarangan, ia mengakhiri ceritanya. Begitu pelayan hotel mengambil alih tugasnya mengangkat barang terakhir dari atas delman, si tamu berkulit kuning langsat menggunakan kacamata hitam memberi uang sisa pembayaran dan tip beberapa lembar sekaligus kepada si juru mudi.
Air mukanya terlihat biasa saja, tak memperlihatkan ketertarikan pada apa yang baru saja diceritakan oleh si juru mudi. Ketika semua transaksi berlangsung mulus, hari sudah beranjak sore dengan lincahnya, pelana kuda mulai ditarik oleh sang kusir, kuda memekik dan berjingkrak. Si juru mudi meletakan sebuah pipa diantara bibirnya dengan bangga, kemudian menyulut tembakau yang asapnya segera berlarian berhambur ke arah belakang. Matahari mulai berbaring di atas pepohonan di atas bukit, warnanya yang cerah sudah mulai redup dan semakin gelap. Jalanan kota dipenuhi warga yang sedang beraktifitas. Beberapa camar terbang dan seperti sedang bernyanyi beriringan membentuk sketsa hitam di arah barat kota. Semua nampak tak ada masalah. Namun, orang mati bunuh diri di pulau ini masih diyakini sebagai kutukan sial bersama oleh warganya. Riak air yang dihasilkan gelombang kecil membentur bibir dermaga, ada perahu yang teronggok diparkir tuannya, ada perahu yang baru saja berlabuh dikemudikan nahkodanya, ada perahu yang baru saja melesat menjauh menuju tengah samudra.

Komentar