Langsung ke konten utama

Mendaki Mahameru


“Ngopi sek jeh, ben ga goblok awakmu.” Nada suara seorang pemuda memprovokasi temannya, membelah pagi yang cukup hening.
“Koen pisan jeh!” Si pemuda lainnya menimpali.
Jarum jam di tangan menunjukan angka enam lebih tiga puluh menit. Setelah perjalanan kurang lebih satu jam, kami berhenti di sebuah warung tepat di trotoar jalan. Saya sudah menghabiskan sarapan sepiring nasi pecel dengan lauk telur balado, sedangkan empat orang lainnya sibuk dengan sendok mereka masing-masing.
“Bu, teh hangat satu, ya?” pesan saya kepada seorang ibu pemilik warung.
“Jeh, lek misal wong-wong iku digawe soko lemah, mosok iyo aku wingi tekok bapakku piye nggawe e, aku malah dikapruk ambe penjalin.”
“Yo koen makane ngopi sek jeh, ben rodok cerdas sitik tha.”
Dingin masih terasa menyelimuti kulit. Tidak berselang, jalanan ramai lalu lalang anak sekolah yang pergi ke tempat mereka belajar. Tidak lama kemudian pesanan saya datang.
“Aku ya goblok, mas. Tapi ngeteh ae ki. Lapo ngopi?”
“La ya kuwi, Ron. Bener awakmu. Ra kudu ngopi ben pinter, Bo.”
Eko Portable, namanya. Selalu riuh dengan candaan tak terduga. Ia adalah seorang lelaki yang membaptiskan diri sebagai tuhan bagi dirinya sendiri, begitu sih awal kenal. Nama baptisnya Eko “Yohanes” Portable. Agak aneh memang dengan nama belakangnya. Konon berdasarkan kabar yang beredar di sekitaran halaman kampus, hal itu disebabkan karena keahliannya mengotak-atik segala gadget terbaru. Saya memanggilnya Mas Eko, tetapi dia lebih suka dipanggil Mas Yo. Well, saya pun akhirnya menuruti permintaannya. Saya dan Mas Yo kenal saat semester awal masuk kuliah.
Di sebuah acara yang diadakan oleh himpunan mahasiswa jurusan. Saya sempat sebal pertama kali kenal dia. Orangnya banyak omong. Saya yakin yang lain juga akan beranggapan demikian. Tapi percayalah, setelah anda mengenalnya, dia adalah orang baik. Ia suka dagelan. Biasanya diselipi dengan pertanyaan absurb tentang tuhan dan firman-firmannya. Namun bukan tentang S.A.R.A loh ya, apalagi Sarah Ardhelia. Saya mengetahui kalau dia juga memiliki organisasi diluar kegiatan kampus. Organisasi semacam pecinta alam. Beberapa selentingan kabar, organisasi itu dinamai Extremist. Entahlah, extremis macam teroris di timur tengah atau bukan. Saya penasaran. Di sebuah pertemuan, Mas Yo mengajak saya untuk ikut bertemu dengan kawan-kawannya di organisasi tersebut. Saya tidak bisa tidak menolak. Maklum saya kebelet penasaran waktu itu.
Saka “Weasley”, Eko “Bobo”, dan Daniar “Kebo” adalah tiga nama lain setelah Mas Yo yang saya kenal. Dikampus, mereka semua angkatan 2009, boleh dibilang, angkatan tua lah. Agak ndablek ya saya ini, hehe. Kebo mempunyai nama asli Daniar siapa gitu, asli dari “Ndarjo”, katanya, untuk sebutan kota Sidoarjo. Saya sebenarnya sudah lebih dulu mengenalnya saat mengikuti latihan rutin tim futsal kampus beberapa hari sebelumnya. Jadi sudah tidak asing lagi bagi saya.
Setelah itu, Saka, dengan atas pengakuannya sendiri, ia memberi embel-embel nama belakang “Weasley”. Ya, jelas. Dia adalah seorang penggila kisah-kisah sihiryang ditulis oleh J.K Rowling itu. Orangnya pendiam, kesan awal si. Hmm.. apa ya, antara agak idealis dan sok idealis orangnya. Kayaknya si gitu. Tapi bagusnya, dia punya pendirian, kata lainnya mungkin ngeyelan. Sepurane yo mas.
Selanjutnya, Bobo, dia sekampung dengan Kebo. Memiliki nama asli Eko Suryo Nugroho. Perawakannya khas. Dia memiliki rambut kriwil gondrong yang gampang sekali dikenali. Selalu kalem dan tenang. Sejak saat itu kami sering bertemu intens meski untuk sekedar ngobrol sebentar seusai mata kuliah selesai maupun ngopi tipis-tipis. Sharing antara yang lama dan yang baru lah intinya. Apalagi kami ada di dalam satu kelas yang sama, kalau tidak salah si kelas perbendaharaan kata, Vocabulary, dengan dosen pengampuh Pak Hari. Bobo, Kebo dan Saka tinggal satu kontrakan. Jadi tidaklah susah untuk menemukan mereka.
Suaru hari, di sebuah warung makan di samping kampus, warung Mc No (dibaca: Mak No), kami membicarakan tentang pendakian gunung. Saya sendiri saat itu tidak tergabung dalam anggota pecinta alam manapun. Hanya saja saya memang punya hobi untuk berkegiatan outdoor, entah itu ke gunung atau pun ke pantai sekalipun. Atas dasar-dasar itulah pertemuan kami semakin intens. Intinya, kami menenmukan kesesuaian satu sama lain lah. Sampai pada suatu ketika di tahun 2012, kami menjadi satu tim di sebuah acara reuni yang diadakan oleh pihak kampus, yang hanya untuk alumni fakultas sastra saja. Sebenarnya tidak benar-benar satu tim si. Beberapa dari kami bergerak di beberapa divisi. Kebetulan sebagai penanggung jawab tata panggung waktu itu saya, yang juga beranggotakan mas Bobo, walhasil saya berkordinasilah dengan dia.
Karena sudah agak cukup lama mengenal mereka, secara pribadi dan budaya ke-Jawa Timuran-nya, semua berjalan dengan baik. Komunikasi pun tidak menemui kendala sama sekali. Kami bisa bekerja sama dengan baik hingga acara reuni untuk para sepuh benar-benar usai.
Kopi. Adalah salah satu cara tuhan mendekatkan satu umat dengan umat lain. Begitulah dengan saya dan rekan-rekan anggota extremist ini. Saya jadi kenal dengan mas Gani, lelaki puitis asal Lombok dan Roni Kasmo, pria melankoli yang santai sekali, asal kota penghasil pisang, Lumajang ini. Saya waktu itu diajak ke sebuah gang di sekitaran fakultas pertanian. Disana ada sebuah warung kopi sederhana yang menyajikan kehangatan untuk meluangkan waktu sambil berdikusi atau hanya sekedar berbincang-bincang.
Hingga pada suatu siang, dikampus, seusai jam mata kuliah selesai, mas Bobo, mengajak saya untuk ikut mendaki Mahameru, gunung tertinggi di pulau Jawa. Saya tidak langsung mengiyakannya masa itu. Masalahnya, saya diajak hari ini, dan berangkat hari besoknya. Apa tidak gila? Belum ada persiapan sama sekali bor. Namun mas Bobo meyakinkan saya, bahwa alat-alat untuk tempur sudah siap dan dalam keadaan fit. Hanya tinggal keperluan pribadi dan logistik saja yang masih dalam proses pemetaan. Bincang-bincang itu pun dilanjut di kontrakannya. Dan setelah benar-benar melihat sendiri kelengkapan pendakian memang sudah siap adanya, barulah tanpa pikir panjang saya menyetujui untuk ikut dalam ekspedisi dadakan ini. Sore itu dilanjutkan dengan membeli semua kebutuhan logistik dan peralatan yang memang masih belum ada di dalam daftar. Saat itu saya hanya membutuhkan matras sebagai perlengkapan, karena ransel dan keperluan pendakian lain seperti jaket sudah siap. Meskipun ya ga siap-siap banget si.
**
Pagi ini, kami, tanpa Saka akan melakukan pendakian ke Gunung Semeru, gunung tertinggi di pulau Jawa. Pendakian yang dijadwalkan dengan sangat mendadak. Saya baru diberi tahu sehari sebelum keberangkatan. Begitu juga kata mereka, “Iki aku yo dadakan, Ron.”. Akhirnya saya menyetujui keberangkatan esok harinya. Sore sebelum keberangkatan, kami ke Pasar Tanjung, menyiapkan logistik dan keperluan yang akan dibawa ke medan laga. Kami membagi tugas, sebagian mengurusi persiapan alat masak, sebagian lagi membeli bahan-bahan untuk dimasak. Kami membeli beras secukupnya, sayur, tempe, sarden, tidak ketinggalan kopi. Setelah semua perbekalan sudah siap, kami mulai menyusunnya ke dalam ransel. Kami sepakat perjalanan akan menggunakan kendaraan pribadi, sepeda motor melalui jalur Senduro-Ranupane.
Pagi sudah benar-benar menjelang. Bobo menjemput saya di kos-kosan di jalan Bangka III untuk menuju tempat titik kumpul di kontrakannya. Hari masih gelap. Kebo dan Portabel sedang melakukan pengecekan terakhir sebelum keberangkatan. Saya dan Bobo. Kebo dan Amzi, teman kampus angkatan 2010 yang saya kenal di sebuah organisasi perkumpulan penerima beasiswa. Portabel dengan sepeda motor merk garputala sendirian. Ransel sudah terisi penuh. Perjalanan siap dimulai. Kalau boleh jujur, ini adalah pendakian paling mendadak yang pernah saya lakukan seumur hidup. Degup jantung saya berdetak tidak biasa. Kali ini denyut nadi pun benar-benar terasa lebih kencang daripada biasanya. Impuls adrenalin sudah bisa dirasakan saat menaiki kendaraan sepeda motor. Selain rasa penasaran yang meningkat di luar batas, juga ada rasa khawatir. Entah apa yang dikhawatirkan. Kami menenggak sisa kopi yang masih hangat di dalam gelas secara bergantian. Kemudain kami saat kami benar-benar siap. Kami berdoa. Dingin masih lumayan menusuk kulit.
Perjalanan sempat terhenti ketika baru memasuki perbatasan kota Lumajang. Di perhentian ini kami membeli bahan bakar cair untuk cadangan bila kehabisan bahan bakar gas. Kami membeli secukupnya. Kami lalu melanjutkan perjalanan. Semua berjalan lancar. Sesuai dengan doa kami sebelum berangkat.
Tepat di pertigaan pintu masuk kawasan Senduro, kami berhenti untuk kedua kali. Kami berhenti di sebuah warung tepat di trotoar jalan. Kami berhenti untuk sekedar mengisi bekal di perut kami yang sudah mulai keruyukan. Setelah menepi dan meninggalkan kendaraan di dekat pohon, kami menanggalkan ransel dari punggung. Satu per satu kami mulai memesan seseuai selera lidah kami. Kami semua memesan pecel. Dengan lauk yang berbeda-beda. Saya dengan telur balado. Bobo dengan telur dadar. Kebo dengan dada ayam. Amzi dengan telur dadar dan tempe. Dan Portabel dengan dada ayam dan tahu tempe. Sambil menunggu racikan si ibu pemilik warung, kami melakukan obrolan sekenanya. Berselang 20 menitan, seusai menadaskan isi piring sambil diselingi obrolan guyonan, kami melanjutkan perjalanan.
Sudah pukul tujuh lebih empat puluh lima, perjalanan menuju pos Ranupane dimulai. Setelah melewati jalanan Senduro yang masih beraspal, kami disuguhi trek offroad. Batu kerikil bercampur pasir dan tanah membuat tingkat kehati-hatian kami meningkat. Kami saling memberi tahu bila ada halangan atau batu di depan kami. Bobo membonceng saya. Kebo membonceng Amzi. Sementara Portabel masih meliuk sendiri di depan kami seperti dari awal keberangkatan. Motor Kebo sempat menghantam gundukan batu namun masih bisa melanjutkan perjalanan. Kiri kanan kami mulai berubah. Semula ladang persawahan milik warga, kini berganti hutan lindung taman nasional. Udara dingin menyeruak menyergap kami.
Kami sengaja, perjalanan ini dilakukan tidak terburu-buru, mengingat jalur yang memang kurang memadai. Ibarat kata, kami telah mendaki sebelum mendaki. Kami sempat terhenti karena kendala yang dialami noleh sepeda motor Portabel. Motornya berhenti mendadak. Kami berhenti sambil mencoba mencari dimana letak masalahnya, sambil beristirahat. Setelah beberapakali diamati, mesin mengalami panas berlebih sehingga menuntut kami menunggunya hingga adem dan memungkinkan dapat dilajutkannya kembali perjalanan.
Disinilah letak seni sebagai manusia yang tersesat, atau terlantarkan muncul. Tanpa disadari, seekor elang Jawa melintas di atas pandangan kami. Meski cakrawala langit tertutupi oleh dedaunan pohon besar, kami semua masih bisa melihatnya. Memperhatikan gerak sayapnya yang elok dan menawan. Untunglah, ditengah kendalan yang kami hadapi, kami mendapat hiburan dari alam. Selang beberapa waktu, motor Portabel sudah bisa berfungsi normal kembali.
Tidak sampai setengah jam, motor Portable sudah bisa diajak bekerja sama lagi. Perjalanan dilanjutkan. Kali ini kami memasuki area yang cukup menegangkan. Sebelah kiri dan kanan semuanya jurang yang diselimuti semak belukar dan beberapa pohon bambu. Beruntung, jalan sudah dibeton. Tapi itu tidak bisa mengurangi rasa kekhawatiran kami. Justru saat memasuki jalan yang disemen ini, kami semakin waspada akan lumut yang menutupi jalur, supaya ban sepeda motor tidak tergelincir dan kehilangan keseimbangan. Akibatnya tentu sangat beresiko. Kami tetap mengendalikan perjalanan dengan sangat pelan.
Barulah saat waktu hampir menjelang dzuhur, kami tiba di pintu masuk Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru, hal itu ditandai dengan sebuah gapura bertulisakan nama daerah tersebut. Dan saat dzuhur benar-benar tiba, kami pun baru benar-benar sampai di pos utama untuk menunaikan pendakian ke puncak Mahameru . kami semua istirahat. Saya mencoba membasuh wajah yang agak kusam karena perjalanan awal yang cukup melelah. Sebagai pembonceng yang membawa ransel penuh berisi sembako dan logistik, rasanya lumayan yah, sesuatu.
Bobo, Portabel, Daniar dan Amzi pun tidak ketinggalan ikut meregangkan otot-otot mereka yang cukup tegang. Saya dan Bobo kemudian pergi ke loket pendaftaran. Petugas memberi kami sebuah kertas cetakan formulir untuk di isi dengan data yang valid. Sementara saya menulis satu per satu nama rombongan yang ada di dalam satu tim, Daniar, Portabel dan Bobo meninggalkan saya dan Amzi, untuk menitipkan kuda besi mereka di sebuah rumah warga di dekat danau Ranupane, lumayan agak jauh si. Ya, di daerah sekitar danau Ranupane, tidak sedikit warga yang menjadikan rumahnya sebagai tempat penitipan kendaraan para pendaki.
Ada alternatif lain untuk mendapat akses ke daerah taman nasional ini, yaitu menggunakan hardtop atau jip atau bisa nyarter angkot, rutenya bisa dari Malang maupun Bromo-Probolinggo. Kalau jalur dari Senduro-Lumajang memang kurang populer dari jalur lainnya itu karena belum adanya objek wisata penunjang yang bisa diandalkan dan memang konstruksi jalannya masih belum bisa benar-benar dikatakan layak. Bagi yang suka atau hobi memacu kendaraan grasstrack, dirty race dan offroad, mungkin sangat cocok untuk diajak adu tanding di tempat yang banyak disuguhi pemandangan hijau persawahan warga ini.
Tepat melewati waktu dzuhur, kami berlima telah resmi terdaftar di bagian pos pantau. Masing-masing dari kami saat itu dikenakan biaya Rp.12500. Membawa kamera kena charge lagi, dan kami sedikit nakal di bagian ini, kami tidak berterus terang waktu itu. Jangan ditiru ya! Hehe
Untuk tahapan awal menuju pos satu, lajur pendakian masih terasa ringan. Alur jalan yang landai membuat perjalanan tidak menguras cukup banyak tenaga. Dan saat di tengah perjalanan, kami berkali-kali berpapasan dengan banyak pendaki lain, baik yang akan mendaki dan sedang beristirahat juga ada yang akan kembali ke pos pantau. Inilah seni dari pendakian. Kita bisa bertemu dengan banyak orang yang memiliki asal dan latar yang totally berbeda. Hal ini juga kesempatan kita untuk belajar mengenal orang lain. Bahkan disini kita akan diajarkan untuk berempati dengan orang lain. Semisal, saat ada pendaki yang hendak pulang, sedangkan mereka kehabisan air di perjalanan, kami sebagai pendaki lain dan memiliki bekal air lebih, ya gimana pun harus kita bantu. Tanpa pamrih. Bukannya mengharap ya, tapi sebagai balasannya, nanti jika kita, atau salah satu dari rombongan kita menemui kesulitan yang kurang lebih hampir sama, pendaki lain juga akan bersuka rela untuk berbagi dengan ikhlas. Inilah poin penting yang didapat dari pelajaran di tengah hutan dan alam liar.
Seratus langkah pertama, pemandangan masih dihiasi oleh ladang sayur yang ditanami oleh warga setempat. Sawi dan wortel waktu itu menjadi sajian utama. Beberapa lahan bahkan sedang memperoleh sentuhan halus tangan sang empunya. Kami pun sempat berpapasan dengan petani yang hendak pulang dari ladang.
Menuju pos satu.
Jalan memang terbilang cukup landai, meski beberapa kali kami menemui tikungan yang meliuk dan menukik tajam. Waktu itu di bulan Juni. Perjalanan kami ditemani oleh suhu udara musim kemarau dan aroma khas hutan tropis nusantara yang lembab. Sepanjang jalur, tanaman rambat dan beberapa  pohon tumbang menghiasi pijakan kaki kami. Tidak jarang, kaki dan tangan lecet karena tergores tumbuhan-tumbuhan liar yang menghampar.
Di Semeru hanya ada empat pos resmi. Maksudnya, pos yang telah disediakan oleh penanggung jawab dan pihak berwajib, hanya ada empat pos. Pos ini ditandai dengan bangunan gazebo yang berguna sebagai tempat berteduh dan peristirahatan para pendaki. Selebihnya, ada Ranu Kumbolo dan Kalimati yang menyediakan shelter resmi dalam bentuk bangunan di tengah hutan. Itu pun terbatas, bila hanya ada sedikit pendaki, tempat ini masih bisa digunakan sebagai alternatif pelindung diri dari kejamnya dingin di malam hari, selain tenda yang kita bawa sendiri.
Masih dalam perjalanan pos satu. Beban di punggung yang perlahan mulai semakin terasa berat, menganggu konsentrasi kami. Disini kebersamaan kami juga mulai diuji. Tidak mudah untuk berjalan bersama rombongan dengan orang-orang yang memiliki karakter berbeda. Ketika kondisi fisik mulai menurun, disini kesolidan rombongan sedang di tes. Emosi yang mulai tidak terkontrol, sekecil apapun bisa menjadi percika api yang berbahaya bagi yang lain. Itu karena, saat kita kemampuan manajemen diri kita menurun, daya juang kita juga akan berkurang, akibatnya bisa memuncukan sifat egois yang tentu tidak baik jika dilakukan di tengah hutan.
Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di pinggir jalan setapak dengan ruas yang luas. Hal ini kami lakukan guna tidak mengganggu perjalanan pendaki lain. Diantara kami berlima, mas Kebo lah yang memiliki keunggulan bobot tubuh lebih, sehingga, beban yang dia bawa dalam daypack tentulah berbeda, lebih ringan pastinya. Ini yang namanya adil. Hehe. Kami bergantian meneguk jerigen berisi air yang kami ambil saat di pos pantau Ranupane tadi. Meskipun tidak dimasak terlebih dahulu, air yang diambil langsung diambil dari sumbernya jelas terasa sangat menyegarkan. Ada energi baru yang bergerak ke dalam otot dan sendi di seluruh komponen fisik. Kami mengatur posisi duduk masing-masing sesuai dengan standar kenyamanan kami sendiri. Amzi yang duduk sambil menekuk lututnya menyerupai gunungan, mas Portabel dengan sandaran mesranya pada ransel, mas Kebo masih berdiri menenteng kayu tongkat, mas Bobo duduk sekenanya.
Mas Bobo dan Mas Yo yang sudah pernah melakukan perjalanan ke Semeru sebelumnya, bilang, bahwa pos satu sudah dekat. Jaraknya kira-kira sudah kurang dari seperempat perjalanan yang sudah ditempuh ini. Tidak sampai lima menit kami beristirahat, pendakian dilanjutkan. Meski pun di siang dan tengah hari dengan pancaran matahari yang tegak lurus diatas tengkorak kepala kami, dan meski kami berkeringat, udara khas dataran tinggi menyeruak seolah mengajak kami untuk terus melanjutkan perjalanan. Teduh. Sejuk. Menghipnotis hingga ke ujung paru-paru.
Benar saja, baru berapa puluh tindakan, pos satu yang dimaksud oleh para sepuh tadi langsung terlihat dengan jelas oleh pandangan mata. Beberapa pendaki sudah lebih dulu sampai disana. Jalur yang berkelok dan menanjak membuat perjalanan dekat itu terasa sangat jauh. Kami harus memutari jurang terlebih dahulu untuk bisa sampai disana. Dan jarak dalam bentuk meteran tidak berlaku saat kami mendaki gunung. Jika dalam jalur datar 10 KM bisa ditempuh dengan waktu satu jam, disini tidak berlaku lagi. Sudut kemiringan dan beban pada bawaan pendaki sangat mempengaruhi kecepatan dan tingkat kelelahan. Belum lagi kekurangan-kekurangan yang dimiliki inividunya, tentu akan semakin banyak waktu yang dibutuhkan.
Tibalah kami di pos satu, setelah mengalahkan trek agak tajam menanjak. Yang membuat seru di lajur ini adalah, sebelah kiri dari pandangan kami terhampar jurang yang sangat dalam. Bayangkan bila salah satu dari kami terjatuh nyungsep dan tak tahu arah jalan pulang, bisa-bisa jadi mirip adonan kue. Sebenarnya kami tidak ingin berhenti di pos satu, namun mas Daniar sepertinya membutuhkan isi ulang tenaga, jadi kami putuskan untuk ngaso di tempat yang sudah beratap genteng ini. Kami bergabung bersama pendaki dari Jakarta yang hendak pulang dan berbincang-bincang tentang trek yang sudah mereka lalui. Kami bertukar sedikit informasi. Dan ya, inilah basa-basi. Bahkan dengan yang sekalipun tidak kita kenal, kita bisa menjai dengan sangat akrab hanya dalam waktu yang cukup singkat.
Jam digital yang terpampang pada layar telepon genggam sudah menunjukan angka tigabelas lebih limabelas. Lagi-lagi, di pos ini kami tidak menghabiskan begitu banyak waktu untuk beristirahat. Bukannya buru-buru, tapi kami mencoba memanfaatkan tenggat waktu agar digunakan dengan sebijak-bijaknya. Soalnya, kalau berpaku pada asumsi waktu, kira-kira kami akan sampai di Ranu Kumbolo, kami akan tiba disana sekitar ashar. Perjalanan kembali dilanjutkan. Masih menapakai jalur yang dipenuhi batang pohon yang roboh dan dipenuhi tanaman rambat. Rerumputan berbunga, yang bila batangnya mengenai kulit bisa menyebabkan gatal-gatal ringan.
Keringat terlihat jelas membasahi dahi kami. Berjalan semakin jauh memasuki kawasan hutan tropis, membuat helaan nafas mulai tersengal-sengal. Ini karena memang faktor sudut kemiringan bukit yang semakin menanjak dan berat beban yang dipikul. Namun tak terasa, di depan kami pos kedua telah menyambut. Lagi-lagi, disana sudah stand by beberpa pendaki lain yang sedang melakukan peristirahatan.
Kali ini, kami berbagi bekal air dengan mereka, pendaki yang hendak turun dan kehabisan bekal air. Setelah berbincang-bincang pendek, mengetahui asal mereka dari Bandung, kami kemudian melanjutkan perjalanan kami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...