“Ngopi sek jeh, ben ga goblok awakmu.” Nada suara seorang
pemuda memprovokasi temannya, membelah pagi yang cukup hening.
“Koen pisan jeh!” Si pemuda lainnya menimpali.
Jarum jam di tangan menunjukan angka enam lebih tiga
puluh menit. Setelah perjalanan kurang lebih satu jam, kami berhenti di sebuah
warung tepat di trotoar jalan. Saya sudah menghabiskan sarapan sepiring nasi
pecel dengan lauk telur balado, sedangkan empat orang lainnya sibuk dengan
sendok mereka masing-masing.
“Bu, teh hangat satu, ya?” pesan saya kepada seorang ibu
pemilik warung.
“Jeh, lek misal wong-wong iku digawe soko lemah, mosok
iyo aku wingi tekok bapakku piye nggawe e, aku malah dikapruk ambe penjalin.”
“Yo koen makane ngopi sek jeh, ben rodok cerdas sitik
tha.”
Dingin masih terasa menyelimuti kulit. Tidak berselang, jalanan
ramai lalu lalang anak sekolah yang pergi ke tempat mereka belajar. Tidak lama
kemudian pesanan saya datang.
“Aku ya goblok, mas. Tapi ngeteh ae ki. Lapo ngopi?”
“La ya kuwi, Ron. Bener awakmu. Ra kudu ngopi ben pinter,
Bo.”
Eko Portable, namanya. Selalu riuh dengan candaan tak
terduga. Ia adalah seorang lelaki yang membaptiskan diri sebagai tuhan bagi
dirinya sendiri, begitu sih awal kenal. Nama baptisnya Eko “Yohanes” Portable.
Agak aneh memang dengan nama belakangnya. Konon berdasarkan kabar yang beredar
di sekitaran halaman kampus, hal itu disebabkan karena keahliannya
mengotak-atik segala gadget terbaru. Saya memanggilnya Mas Eko, tetapi dia
lebih suka dipanggil Mas Yo. Well, saya pun akhirnya menuruti permintaannya.
Saya dan Mas Yo kenal saat semester awal masuk kuliah.
Di sebuah acara yang diadakan oleh himpunan mahasiswa
jurusan. Saya sempat sebal pertama kali kenal dia. Orangnya banyak omong. Saya
yakin yang lain juga akan beranggapan demikian. Tapi percayalah, setelah anda
mengenalnya, dia adalah orang baik. Ia suka dagelan. Biasanya diselipi dengan
pertanyaan absurb tentang tuhan dan
firman-firmannya. Namun bukan tentang S.A.R.A loh ya, apalagi Sarah Ardhelia.
Saya mengetahui kalau dia juga memiliki organisasi diluar kegiatan kampus.
Organisasi semacam pecinta alam. Beberapa selentingan kabar, organisasi itu
dinamai Extremist. Entahlah, extremis
macam teroris di timur tengah atau bukan. Saya penasaran. Di sebuah pertemuan,
Mas Yo mengajak saya untuk ikut bertemu dengan kawan-kawannya di organisasi
tersebut. Saya tidak bisa tidak menolak. Maklum saya kebelet penasaran waktu
itu.
Saka “Weasley”, Eko “Bobo”, dan Daniar “Kebo” adalah tiga
nama lain setelah Mas Yo yang saya kenal. Dikampus, mereka semua angkatan 2009,
boleh dibilang, angkatan tua lah. Agak ndablek ya saya ini, hehe. Kebo
mempunyai nama asli Daniar siapa gitu, asli dari “Ndarjo”, katanya, untuk
sebutan kota Sidoarjo. Saya sebenarnya sudah lebih dulu mengenalnya saat
mengikuti latihan rutin tim futsal kampus beberapa hari sebelumnya. Jadi sudah
tidak asing lagi bagi saya.
Setelah itu, Saka, dengan atas pengakuannya sendiri, ia
memberi embel-embel nama belakang “Weasley”. Ya, jelas. Dia adalah seorang
penggila kisah-kisah sihiryang ditulis oleh J.K Rowling itu. Orangnya pendiam,
kesan awal si. Hmm.. apa ya, antara agak idealis dan sok idealis orangnya.
Kayaknya si gitu. Tapi bagusnya, dia punya pendirian, kata lainnya mungkin
ngeyelan. Sepurane yo mas.
Selanjutnya, Bobo, dia sekampung dengan Kebo. Memiliki
nama asli Eko Suryo Nugroho. Perawakannya khas. Dia memiliki rambut kriwil
gondrong yang gampang sekali dikenali. Selalu kalem dan tenang. Sejak saat itu
kami sering bertemu intens meski untuk sekedar ngobrol sebentar seusai mata
kuliah selesai maupun ngopi tipis-tipis. Sharing antara yang lama dan yang baru
lah intinya. Apalagi kami ada di dalam satu kelas yang sama, kalau tidak salah
si kelas perbendaharaan kata, Vocabulary,
dengan dosen pengampuh Pak Hari. Bobo, Kebo dan Saka tinggal satu kontrakan.
Jadi tidaklah susah untuk menemukan mereka.
Suaru hari, di sebuah warung makan di samping kampus,
warung Mc No (dibaca: Mak No), kami membicarakan tentang pendakian gunung. Saya
sendiri saat itu tidak tergabung dalam anggota pecinta alam manapun. Hanya saja
saya memang punya hobi untuk berkegiatan outdoor, entah itu ke gunung atau pun
ke pantai sekalipun. Atas dasar-dasar itulah pertemuan kami semakin intens.
Intinya, kami menenmukan kesesuaian satu sama lain lah. Sampai pada suatu
ketika di tahun 2012, kami menjadi satu tim di sebuah acara reuni yang diadakan
oleh pihak kampus, yang hanya untuk alumni fakultas sastra saja. Sebenarnya
tidak benar-benar satu tim si. Beberapa dari kami bergerak di beberapa divisi. Kebetulan
sebagai penanggung jawab tata panggung waktu itu saya, yang juga beranggotakan
mas Bobo, walhasil saya berkordinasilah dengan dia.
Karena sudah agak cukup lama mengenal mereka, secara
pribadi dan budaya ke-Jawa Timuran-nya, semua berjalan dengan baik. Komunikasi
pun tidak menemui kendala sama sekali. Kami bisa bekerja sama dengan baik
hingga acara reuni untuk para sepuh benar-benar usai.
Kopi. Adalah salah satu cara tuhan mendekatkan satu umat
dengan umat lain. Begitulah dengan saya dan rekan-rekan anggota extremist ini.
Saya jadi kenal dengan mas Gani, lelaki puitis asal Lombok dan Roni Kasmo, pria
melankoli yang santai sekali, asal kota penghasil pisang, Lumajang ini. Saya
waktu itu diajak ke sebuah gang di sekitaran fakultas pertanian. Disana ada
sebuah warung kopi sederhana yang menyajikan kehangatan untuk meluangkan waktu
sambil berdikusi atau hanya sekedar berbincang-bincang.
Hingga pada suatu siang, dikampus, seusai jam mata kuliah
selesai, mas Bobo, mengajak saya untuk ikut mendaki Mahameru, gunung tertinggi
di pulau Jawa. Saya tidak langsung mengiyakannya masa itu. Masalahnya, saya
diajak hari ini, dan berangkat hari besoknya. Apa tidak gila? Belum ada
persiapan sama sekali bor. Namun mas Bobo meyakinkan saya, bahwa alat-alat
untuk tempur sudah siap dan dalam keadaan fit. Hanya tinggal keperluan pribadi
dan logistik saja yang masih dalam proses pemetaan. Bincang-bincang itu pun
dilanjut di kontrakannya. Dan setelah benar-benar melihat sendiri kelengkapan
pendakian memang sudah siap adanya, barulah tanpa pikir panjang saya menyetujui
untuk ikut dalam ekspedisi dadakan ini. Sore itu dilanjutkan dengan membeli
semua kebutuhan logistik dan peralatan yang memang masih belum ada di dalam
daftar. Saat itu saya hanya membutuhkan matras sebagai perlengkapan, karena
ransel dan keperluan pendakian lain seperti jaket sudah siap. Meskipun ya ga
siap-siap banget si.
**
Pagi ini, kami, tanpa Saka akan melakukan pendakian ke
Gunung Semeru, gunung tertinggi di pulau Jawa. Pendakian yang dijadwalkan
dengan sangat mendadak. Saya baru diberi tahu sehari sebelum keberangkatan.
Begitu juga kata mereka, “Iki aku yo dadakan, Ron.”. Akhirnya saya menyetujui
keberangkatan esok harinya. Sore sebelum keberangkatan, kami ke Pasar Tanjung,
menyiapkan logistik dan keperluan yang akan dibawa ke medan laga. Kami membagi
tugas, sebagian mengurusi persiapan alat masak, sebagian lagi membeli
bahan-bahan untuk dimasak. Kami membeli beras secukupnya, sayur, tempe, sarden,
tidak ketinggalan kopi. Setelah semua perbekalan sudah siap, kami mulai
menyusunnya ke dalam ransel. Kami sepakat perjalanan akan menggunakan kendaraan
pribadi, sepeda motor melalui jalur Senduro-Ranupane.
Pagi sudah benar-benar menjelang. Bobo menjemput saya di
kos-kosan di jalan Bangka III untuk menuju tempat titik kumpul di kontrakannya.
Hari masih gelap. Kebo dan Portabel sedang melakukan pengecekan terakhir
sebelum keberangkatan. Saya dan Bobo. Kebo dan Amzi, teman kampus angkatan 2010
yang saya kenal di sebuah organisasi perkumpulan penerima beasiswa. Portabel
dengan sepeda motor merk garputala sendirian. Ransel sudah terisi penuh.
Perjalanan siap dimulai. Kalau boleh jujur, ini adalah pendakian paling
mendadak yang pernah saya lakukan seumur hidup. Degup jantung saya berdetak
tidak biasa. Kali ini denyut nadi pun benar-benar terasa lebih kencang daripada
biasanya. Impuls adrenalin sudah bisa dirasakan saat menaiki kendaraan sepeda
motor. Selain rasa penasaran yang meningkat di luar batas, juga ada rasa khawatir.
Entah apa yang dikhawatirkan. Kami menenggak sisa kopi yang masih hangat di
dalam gelas secara bergantian. Kemudain kami saat kami benar-benar siap. Kami
berdoa. Dingin masih lumayan menusuk kulit.
Perjalanan sempat terhenti ketika baru memasuki perbatasan
kota Lumajang. Di perhentian ini kami membeli bahan bakar cair untuk cadangan
bila kehabisan bahan bakar gas. Kami membeli secukupnya. Kami lalu melanjutkan
perjalanan. Semua berjalan lancar. Sesuai dengan doa kami sebelum berangkat.
Tepat di pertigaan pintu masuk kawasan Senduro, kami
berhenti untuk kedua kali. Kami berhenti di sebuah warung tepat di trotoar
jalan. Kami berhenti untuk sekedar mengisi bekal di perut kami yang sudah mulai
keruyukan. Setelah menepi dan meninggalkan kendaraan di dekat pohon, kami
menanggalkan ransel dari punggung. Satu per satu kami mulai memesan seseuai
selera lidah kami. Kami semua memesan pecel. Dengan lauk yang berbeda-beda.
Saya dengan telur balado. Bobo dengan telur dadar. Kebo dengan dada ayam. Amzi
dengan telur dadar dan tempe. Dan Portabel dengan dada ayam dan tahu tempe.
Sambil menunggu racikan si ibu pemilik warung, kami melakukan obrolan
sekenanya. Berselang 20 menitan, seusai menadaskan isi piring sambil diselingi
obrolan guyonan, kami melanjutkan perjalanan.
Sudah pukul tujuh lebih empat puluh lima, perjalanan
menuju pos Ranupane dimulai. Setelah melewati jalanan Senduro yang masih
beraspal, kami disuguhi trek offroad. Batu
kerikil bercampur pasir dan tanah membuat tingkat kehati-hatian kami meningkat.
Kami saling memberi tahu bila ada halangan atau batu di depan kami. Bobo membonceng
saya. Kebo membonceng Amzi. Sementara Portabel masih meliuk sendiri di depan
kami seperti dari awal keberangkatan. Motor Kebo sempat menghantam gundukan
batu namun masih bisa melanjutkan perjalanan. Kiri kanan kami mulai berubah.
Semula ladang persawahan milik warga, kini berganti hutan lindung taman
nasional. Udara dingin menyeruak menyergap kami.
Kami sengaja, perjalanan ini dilakukan tidak
terburu-buru, mengingat jalur yang memang kurang memadai. Ibarat kata, kami telah
mendaki sebelum mendaki. Kami sempat terhenti karena kendala yang dialami noleh
sepeda motor Portabel. Motornya berhenti mendadak. Kami berhenti sambil mencoba
mencari dimana letak masalahnya, sambil beristirahat. Setelah beberapakali
diamati, mesin mengalami panas berlebih sehingga menuntut kami menunggunya
hingga adem dan memungkinkan dapat dilajutkannya kembali perjalanan.
Disinilah letak seni sebagai manusia yang tersesat, atau
terlantarkan muncul. Tanpa disadari, seekor elang Jawa melintas di atas pandangan
kami. Meski cakrawala langit tertutupi oleh dedaunan pohon besar, kami semua
masih bisa melihatnya. Memperhatikan gerak sayapnya yang elok dan menawan.
Untunglah, ditengah kendalan yang kami hadapi, kami mendapat hiburan dari alam.
Selang beberapa waktu, motor Portabel sudah bisa berfungsi normal kembali.
Tidak sampai setengah jam, motor Portable sudah bisa
diajak bekerja sama lagi. Perjalanan dilanjutkan. Kali ini kami memasuki area
yang cukup menegangkan. Sebelah kiri dan kanan semuanya jurang yang diselimuti
semak belukar dan beberapa pohon bambu. Beruntung, jalan sudah dibeton. Tapi
itu tidak bisa mengurangi rasa kekhawatiran kami. Justru saat memasuki jalan
yang disemen ini, kami semakin waspada akan lumut yang menutupi jalur, supaya
ban sepeda motor tidak tergelincir dan kehilangan keseimbangan. Akibatnya tentu
sangat beresiko. Kami tetap mengendalikan perjalanan dengan sangat pelan.
Barulah saat waktu hampir menjelang dzuhur, kami tiba di
pintu masuk Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru, hal itu ditandai dengan
sebuah gapura bertulisakan nama daerah tersebut. Dan saat dzuhur benar-benar
tiba, kami pun baru benar-benar sampai di pos utama untuk menunaikan pendakian
ke puncak Mahameru . kami semua istirahat. Saya mencoba membasuh wajah yang
agak kusam karena perjalanan awal yang cukup melelah. Sebagai pembonceng yang
membawa ransel penuh berisi sembako dan logistik, rasanya lumayan yah, sesuatu.
Bobo, Portabel, Daniar dan Amzi pun tidak ketinggalan
ikut meregangkan otot-otot mereka yang cukup tegang. Saya dan Bobo kemudian
pergi ke loket pendaftaran. Petugas memberi kami sebuah kertas cetakan formulir
untuk di isi dengan data yang valid. Sementara saya menulis satu per satu nama
rombongan yang ada di dalam satu tim, Daniar, Portabel dan Bobo meninggalkan
saya dan Amzi, untuk menitipkan kuda besi mereka di sebuah rumah warga di dekat
danau Ranupane, lumayan agak jauh si. Ya, di daerah sekitar danau Ranupane,
tidak sedikit warga yang menjadikan rumahnya sebagai tempat penitipan kendaraan
para pendaki.
Ada alternatif lain untuk mendapat akses ke daerah taman
nasional ini, yaitu menggunakan hardtop atau jip atau bisa nyarter angkot,
rutenya bisa dari Malang maupun Bromo-Probolinggo. Kalau jalur dari Senduro-Lumajang
memang kurang populer dari jalur lainnya itu karena belum adanya objek wisata
penunjang yang bisa diandalkan dan memang konstruksi jalannya masih belum bisa
benar-benar dikatakan layak. Bagi yang suka atau hobi memacu kendaraan grasstrack, dirty race dan offroad, mungkin sangat cocok untuk
diajak adu tanding di tempat yang banyak disuguhi pemandangan hijau persawahan
warga ini.
Tepat melewati waktu dzuhur, kami berlima telah resmi
terdaftar di bagian pos pantau. Masing-masing dari kami saat itu dikenakan
biaya Rp.12500. Membawa kamera kena charge
lagi, dan kami sedikit nakal di bagian ini, kami tidak berterus terang
waktu itu. Jangan ditiru ya! Hehe
Untuk tahapan awal menuju pos satu, lajur pendakian masih
terasa ringan. Alur jalan yang landai membuat perjalanan tidak menguras cukup
banyak tenaga. Dan saat di tengah perjalanan, kami berkali-kali berpapasan
dengan banyak pendaki lain, baik yang akan mendaki dan sedang beristirahat juga
ada yang akan kembali ke pos pantau. Inilah seni dari pendakian. Kita bisa
bertemu dengan banyak orang yang memiliki asal dan latar yang totally berbeda. Hal ini juga kesempatan
kita untuk belajar mengenal orang lain. Bahkan disini kita akan diajarkan untuk
berempati dengan orang lain. Semisal, saat ada pendaki yang hendak pulang,
sedangkan mereka kehabisan air di perjalanan, kami sebagai pendaki lain dan
memiliki bekal air lebih, ya gimana pun harus kita bantu. Tanpa pamrih.
Bukannya mengharap ya, tapi sebagai balasannya, nanti jika kita, atau salah
satu dari rombongan kita menemui kesulitan yang kurang lebih hampir sama,
pendaki lain juga akan bersuka rela untuk berbagi dengan ikhlas. Inilah poin
penting yang didapat dari pelajaran di tengah hutan dan alam liar.
Seratus langkah pertama, pemandangan masih dihiasi oleh
ladang sayur yang ditanami oleh warga setempat. Sawi dan wortel waktu itu
menjadi sajian utama. Beberapa lahan bahkan sedang memperoleh sentuhan halus
tangan sang empunya. Kami pun sempat berpapasan dengan petani yang hendak
pulang dari ladang.
Menuju pos satu.
Jalan memang terbilang cukup landai, meski beberapa kali
kami menemui tikungan yang meliuk dan menukik tajam. Waktu itu di bulan Juni.
Perjalanan kami ditemani oleh suhu udara musim kemarau dan aroma khas hutan
tropis nusantara yang lembab. Sepanjang jalur, tanaman rambat dan beberapa pohon tumbang menghiasi pijakan kaki kami. Tidak
jarang, kaki dan tangan lecet karena tergores tumbuhan-tumbuhan liar yang
menghampar.
Di Semeru hanya ada empat pos resmi. Maksudnya, pos yang
telah disediakan oleh penanggung jawab dan pihak berwajib, hanya ada empat pos.
Pos ini ditandai dengan bangunan gazebo yang berguna sebagai tempat berteduh
dan peristirahatan para pendaki. Selebihnya, ada Ranu Kumbolo dan Kalimati yang
menyediakan shelter resmi dalam
bentuk bangunan di tengah hutan. Itu pun terbatas, bila hanya ada sedikit
pendaki, tempat ini masih bisa digunakan sebagai alternatif pelindung diri dari
kejamnya dingin di malam hari, selain tenda yang kita bawa sendiri.
Masih dalam perjalanan pos satu. Beban di punggung yang
perlahan mulai semakin terasa berat, menganggu konsentrasi kami. Disini
kebersamaan kami juga mulai diuji. Tidak mudah untuk berjalan bersama rombongan
dengan orang-orang yang memiliki karakter berbeda. Ketika kondisi fisik mulai
menurun, disini kesolidan rombongan sedang di tes. Emosi yang mulai tidak
terkontrol, sekecil apapun bisa menjadi percika api yang berbahaya bagi yang
lain. Itu karena, saat kita kemampuan manajemen diri kita menurun, daya juang
kita juga akan berkurang, akibatnya bisa memuncukan sifat egois yang tentu
tidak baik jika dilakukan di tengah hutan.
Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di pinggir
jalan setapak dengan ruas yang luas. Hal ini kami lakukan guna tidak mengganggu
perjalanan pendaki lain. Diantara kami berlima, mas Kebo lah yang memiliki
keunggulan bobot tubuh lebih, sehingga, beban yang dia bawa dalam daypack tentulah berbeda, lebih ringan
pastinya. Ini yang namanya adil. Hehe. Kami bergantian meneguk jerigen berisi
air yang kami ambil saat di pos pantau Ranupane tadi. Meskipun tidak dimasak
terlebih dahulu, air yang diambil langsung diambil dari sumbernya jelas terasa
sangat menyegarkan. Ada energi baru yang bergerak ke dalam otot dan sendi di
seluruh komponen fisik. Kami mengatur posisi duduk masing-masing sesuai dengan
standar kenyamanan kami sendiri. Amzi yang duduk sambil menekuk lututnya
menyerupai gunungan, mas Portabel dengan sandaran mesranya pada ransel, mas Kebo
masih berdiri menenteng kayu tongkat, mas Bobo duduk sekenanya.
Mas Bobo dan Mas Yo yang sudah pernah melakukan
perjalanan ke Semeru sebelumnya, bilang, bahwa pos satu sudah dekat. Jaraknya
kira-kira sudah kurang dari seperempat perjalanan yang sudah ditempuh ini.
Tidak sampai lima menit kami beristirahat, pendakian dilanjutkan. Meski pun di
siang dan tengah hari dengan pancaran matahari yang tegak lurus diatas
tengkorak kepala kami, dan meski kami berkeringat, udara khas dataran tinggi
menyeruak seolah mengajak kami untuk terus melanjutkan perjalanan. Teduh.
Sejuk. Menghipnotis hingga ke ujung paru-paru.
Benar saja, baru berapa puluh tindakan, pos satu yang
dimaksud oleh para sepuh tadi langsung terlihat dengan jelas oleh pandangan
mata. Beberapa pendaki sudah lebih dulu sampai disana. Jalur yang berkelok dan
menanjak membuat perjalanan dekat itu terasa sangat jauh. Kami harus memutari
jurang terlebih dahulu untuk bisa sampai disana. Dan jarak dalam bentuk meteran
tidak berlaku saat kami mendaki gunung. Jika dalam jalur datar 10 KM bisa
ditempuh dengan waktu satu jam, disini tidak berlaku lagi. Sudut kemiringan dan
beban pada bawaan pendaki sangat mempengaruhi kecepatan dan tingkat kelelahan.
Belum lagi kekurangan-kekurangan yang dimiliki inividunya, tentu akan semakin
banyak waktu yang dibutuhkan.
Tibalah kami di pos satu, setelah mengalahkan trek agak
tajam menanjak. Yang membuat seru di lajur ini adalah, sebelah kiri dari
pandangan kami terhampar jurang yang sangat dalam. Bayangkan bila salah satu
dari kami terjatuh nyungsep dan tak tahu arah jalan pulang, bisa-bisa jadi
mirip adonan kue. Sebenarnya kami tidak ingin berhenti di pos satu, namun mas
Daniar sepertinya membutuhkan isi ulang tenaga, jadi kami putuskan untuk ngaso
di tempat yang sudah beratap genteng ini. Kami bergabung bersama pendaki dari
Jakarta yang hendak pulang dan berbincang-bincang tentang trek yang sudah
mereka lalui. Kami bertukar sedikit informasi. Dan ya, inilah basa-basi. Bahkan
dengan yang sekalipun tidak kita kenal, kita bisa menjai dengan sangat akrab
hanya dalam waktu yang cukup singkat.
Jam digital yang terpampang pada layar telepon genggam
sudah menunjukan angka tigabelas lebih limabelas. Lagi-lagi, di pos ini kami
tidak menghabiskan begitu banyak waktu untuk beristirahat. Bukannya buru-buru,
tapi kami mencoba memanfaatkan tenggat waktu agar digunakan dengan
sebijak-bijaknya. Soalnya, kalau berpaku pada asumsi waktu, kira-kira kami akan
sampai di Ranu Kumbolo, kami akan tiba disana sekitar ashar. Perjalanan kembali
dilanjutkan. Masih menapakai jalur yang dipenuhi batang pohon yang roboh dan
dipenuhi tanaman rambat. Rerumputan berbunga, yang bila batangnya mengenai
kulit bisa menyebabkan gatal-gatal ringan.
Keringat terlihat jelas membasahi dahi kami. Berjalan
semakin jauh memasuki kawasan hutan tropis, membuat helaan nafas mulai
tersengal-sengal. Ini karena memang faktor sudut kemiringan bukit yang semakin
menanjak dan berat beban yang dipikul. Namun tak terasa, di depan kami pos
kedua telah menyambut. Lagi-lagi, disana sudah stand by beberpa pendaki lain yang sedang melakukan peristirahatan.
Kali ini, kami berbagi bekal air dengan mereka, pendaki
yang hendak turun dan kehabisan bekal air. Setelah berbincang-bincang pendek,
mengetahui asal mereka dari Bandung, kami kemudian melanjutkan perjalanan kami.
Komentar
Posting Komentar