Langsung ke konten utama

Kulit Lupa Kacangnya


Imah, perempuan paruh baya, sedang kesal sekali dengan anak lelaki semata wayangnya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas kelas tiga. Di dalam hati, ia maki-maki terus putera kesayangannya dengan penuh kebencian. Begitu mendengar desas-desus samar dari tetangga, juga saat membeli sayuran di gerobak dorong di dekat perempatan di pagi hari, seperti hari-hari sebelumnya, ibu-ibu lain yang sudah berada disana lebih dulu, sedang membicarakan anak lanang Imah yang menghamili Desi, putri tiri kepala desa. Tentu berita murahan seperti ini di manapun akan hanyut kemana saja dan mengalir lebih cepat daripada banjir bandang saat musim hujan. Mulut ibu-ibu kalau sudah ketemu satu sama lain, bisa pecah bumi dibuat mendengar ocehannya. Apalagi di kampung kecil, mendengar atau menyebarkan aib orang lain tentu kadang dianggap suatu prestasi dan kebanggan tersendiri bagi mereka, lebih-lebih berita yang belum jelas juntrungannya itu terkait dengan nasib buruk orang yang tidak begitu mereka suka.
Begitu Imah tiba di tempat pedagang sayur biasa mangkal, semua diam, namun Imah sudah mendengar sedikit tanpa sengaja saat ia melangkah mendekat ke gerobak kayu segi empat yang diberi warna putih tulang itu. Ibu-ibu yang mengenakan kaos hijau terang langsung diam seribu bahasa sedang ibu-ibu lain yang mengenakan daster hitam dengan manik-manik keemasan dan bordir bunga di bagian dada mengganti topik pembicaraan ke hal lain secara spontan dan tangkas, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Bagaimana arisan Rabu besok Bu Kasmi, bakal bikin masakan apa nih buat kita-kita?” katanya dengan suara agak keras yang dibuat-buat.
Orang yang dimaksud hanya menjawab, rahasia dong. Biar jadi kejutan buat ibu-ibu semua. Semua orang disana pun dibuat kecewa mendengar jawaban tersebut. Yang penting nanti belanjanya ke sini ya bu, ucap pedagang sayur, lelaki satu-satunya di perempatan gang kecil itu. Tenang saja, makanan yang dihidangkan pasti enak disantap, Bu Kasmi mencoba menghibur mereka semua, disaat bersamaan, Imah sudah hadir diantara kerumunan empat orang ibu-ibu sambil memilah sayuran bahan dapurnya, setelah menyapa seadanya. Meskipun sekawan ibu-ibu mencoba mengelabui, Imah paham dengan topik yang mendadak dialihkan. Air mukanya kusut tanpa banyak bicara. Ia hanya mengeluarkan suara ketika menawar harga kentang dan wortel kepada si penjual. Selesai membeli sayur bahan membuat sup, tempe, tahu dan beberapa ons daging ayam, Imah pergi meninggalkan ibu-ibu itu dengan basa-basi biasa dan pamit seolah tidak mengetahui apa-apa sama seperti ketika datang tadi. Imah memang selalu berlaku demikian, ia bukan perempuan bermulut besar, walau sedang dalam pertemuan mingguan pun hanya ngobrol seperlunya saja dengan lawan bicaranya.
Pagi itu jalanan basah. Di beberapa titik terdapat kubangan kecil berisi air berwarna coklat mirip baju pramuka tergenang di cekungan aspal rompal. Semalam hujan mengguyur seluruh kampung. Sambil melangkahkan kaki dan menenteng barang belanjaannya di tas yang terbuat dari kerajinan batang tumbuhan air eceng gondok, kuping Imah terasa begitu panas untuk kesekian kalinya mendengar kabar tersebut. Begitu tiba di rumah, di kamar depan, sambil mengintip tirai yang dibuat sebagai pintu, ia temukan putranya masih pulas di kasurnya. Sayangnya, setelah berdiri untuk beberapa saat di mulut kamar putranya, akibat Imah terlalu sering memanjakan putra semata wayangnya, jadi begitu ia melihat wajah lugu yang masih tertidur lelap, ia urungkan amarahnya. Sebagai seorang ibu, Imah mempunyai tingkat kesabaran lebih tinggi tenimbang emosi lain yang dimilikinya. Lagipula kalau memang kabar itu benar, seseorang sudah menjemput putranya dan meminta pertanggungjawaban atas perbuatannya itu jauh-jauh hari. Tapi tetap saja ia kesal, namun hanya bisa membatin.
Dasar bocah bajingan, sempak masih dicuci orang tua saja sudah berani-beraninya buntingin anak orang! Tak tahu diuntung!!” sambil menatap bocah harapannya itu lalu berjalan ke arah dapur.
Hanya itu yang bisa ia lakukan, meski seluruh dadanya disesaki rasa panas air mendidih, uapnya berlalu begitu saja menjadi dingin secara cepat. Ketika Imah meninggalkan anak itu dan membiarkan masih dalam dekapan mimpi, dengkuran ringan terdengar di tiap hirupan nafasnya. Hari itu Minggu pagi di musim hujan akhir tahun. Udara terasa begitu lembab. Burung gereja hinggap di dahan pohon mangga yang terdapat di halaman rumah.

*

Awan mendung menggantung di langit dari arah selatan kampung. Matahari di sebelah timur sudah menampakan sinarnya dengan benderang. Udara cukup lembab pagi itu. Angin mungkin sedang malas menyibakkan tiupannya. Rifki berjalan kaki mendatangi rumah Jati yang tidak jauh dari rumahnya sendiri.
“Woy bangun woy, sudah siang!” teriak seorang sebaya di telinganya.
Penyakit akut Jati adalah bangun kesiangan, kalau boleh disebut penyakit. Umpat Rifki dalam hatinya ketika melihat sepupunya masih terbujur di ranjang besi dengan kasur yang dibalut sprei warna putih. Tidak hanya hari Minggu, tetapi di hari lain juga sama saja. Tak kelihatan ada maksud mau menyombongkan diri, meski sering begadang bersama teman-teman sampai larut, sepupu Jati ini memang lebih tahu diri dan selalu bangun pagi, kecuali dalam kondisi mabuk berat sisa malam sebelumnya. Imah, bibinya, sebelum masuk ke kamar Jati, dengan cemas menanyakan perihal kehamilan Desi ke sepupunya, apa benar itu ulah puteranya seperti yang digosipkan oleh orang-orang. Rifki pura-pura belum mengetahui hal itu dengan jelas dan memohon untuk tidak mempercayai omongan orang dan memintanya untuk menanyakan langsung ke Jati saat waktunya tepat. Jawaban Rifki membuat sedikit lega Imah. Hal ini ia lakukan untuk menjaga martabat sang sepupu di mata ibunya. Rifki tahu Jati memang berpacaran dengan Desi semenjak tiga bulan belakangan dan mereka sering menghabiskan hari demi berduaan, di sekolah maupun setelahnya. Jati juga mengakui bahwa ia sudah melakukan hubungan badan berkali-kali dengan putri pa kades yang menawan itu kepada Rifki. Hanya kepada sepupunya lah ia berani berbagi pengalaman biologisnya.
Meski tidak sering menebar godaan seperti gadis kampung lain, pesona Desi memang menggairahkan, dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis remaja lelaki yang penasaran tentang anatomi tubuh lawan jenisnya. Untuk seusianya, buah dadanya berbentuk bulat dan kencang seukuran semangka plonco, pinggulnya berisi padat cembung bila dilihat dari sudut samping manapun dan sedap dipandang, di lengannya terdapat bulu rambut yang kata orang merupakan simbol gairah sensualisme, serta keindahan seksual selalu nampak di tiap pembawaanya. Wajahnya yang tirus sedikit Arab memiliki kesan sensual khas tersendiri. Ia tidak begitu populer dan terkesan biasa saja di sekolah. Maka dari itu, Jati bisa mendapatkan hatinya dengan mudah tanpa saingan berarti.
Bagi Rifki, mana mungkin ia ceritakan kegilaan si sepupu pada ibunya, Rifki menyadari, kalau ia sendiri yang mengalami, pasti bakal kena malu habis-habisan. Jadi, lebih baik ia biarkan waktu yang menjawabnya dengan tetap menjaga rahasia kotor sepupunya itu.
Jati masih saja mendengkur mendekap bantal guling yang juga dibungkus kain senada dengan kasur, mengabaikan kehadiran Rifki. Atau Jati benar-benar tidak menyadari kehadiran sepupunya. Rifki iseng menutup wajahnya dengan bantal segiempat lain. Barulah sesaat kemudian Jati yang mulai sesak nafas termegap-megap, dengan lagak orang siuman terjaga dan menyadari kehadiran Rifki.
“Jadi mancing di laut tidak hari ini?” tanya Rifki.
Jadi, tapi nanti sorean saja lah, ikan juga masih pada tidur hari begini mah, begitu balas Jati dengan nada malas. Kemudian Rifki mengambil kaset pita di meja dan memasukannya ke tape recorder Panasonic, ketika menekan tombol segitiga posisi miring ke kanan di tengah, diantara tombol lain, lagu Asal British milik Jamrud sudah sampai di bagian Reff menggema.
Biar ortumu seneng..
Paklemu seneng..
Budemu seneng...
Mbahmu juga seneng...
*

Beberapa bulan sebelumnya, Rifki mulai dekat dengan teman sekelasnya. Atau lebih tepatnya didekati. Ia seorang gadis manis berambut pendek dengan bentuk poni yang juga manis. Saat itu Rifki sedang memiliki hubungan dengan Santi. Sebenarnya, Rifki sudah lama didekati, namun ia dasarnya memang kurang peka saja bahwa sedang diperhatikan oleh teman sekelasnya itu. Ia menganggap segala sesuatu yang dilakukan gadis itu biasa-biasa saja. Dan memang biasa-biasa saja baginya.
Kejadian itu baru benar-benar disadari saat suatu tengah siang di jam istirahat, sebelum keluar ruangan kelas, Rena si gadis berponi membawakan sekotak nasi bekal lengkap dengan lauk pauk dan berhenti di meja ketiga, pas di tengah-tengah, sebelah kiri ruangan tempat Rifki berada, dekat jendela. Ia duduk di kursi di depan Rifki yang ditinggalkan teman sekelasnya yang lain keluar kelas. Sebagai anak tengil, tentu ia sangat menyukai perlakuan gadis itu padanya meski ia sendiri bingung untuk apa ia harus repot-repot melakukannya. Ia terus bertanya sebab musabab tindakan gadis sekelasnya itu. Gadis itu cuma bisa mengelak dan menjawab sebagai bentuk syukuran kakaknya yang sehari sebelumnya merayakan upacara nuju bulan kandungannya. Tidak masuk akal, pikir Rifki. Ia merasa tidak mengenal dekat Rena, selain teman sekelas saat kelas satu dan kelas tiga dan meski satu kelas, Rifki hanya ingat, pernah sekali meminjam buku Rena yang berisi pekerjaan rumah mata pelajaran Sosiologi lau ia menyalin semua jawaban ke buku miliknya. Kepala Rifki kemudian menyembulkan sebuah pertanyaan lagi, kenapa cuma ia yang mendapat nasi berkat itu, yang lain kok tidak. Sesaat berlalu, pertanyaan itu menguap di atas kepalanya seiring kebetulan perutnya pun mulai protes minta diisi sesuatu. Karena hanya kamu yang kelihatannya sangat lapar di kelas ini, dalih Rena. Rifki tertawa ringan mengetahui alasan yang jelas dibuat-buat Rena tapi tebakan gadis ini tepat juga, pikirnya. Dipaksa begitu, Rifki akhirnya meletakan kotak itu sesuai dengan jangkauan tangan.
Ah, sudahlah daripada terlalu lama memikirkan kenapa, tanpa ambil pusing, Rifki bertekad bulat menandaskan isi kotak di hadapannya. Ketika membuka kotak, nampaklah kurang lebih ada nasi kuning, ayam goreng yang sudah disuwir-suwir lembut, tempe oreg berbentuk kubus mungil tak beraturan, telur dadar isi cabe yang diiris kecil, dua irisan mentimun segar seukuran sedikit lebih besar dari kelopak mata dan beberapa butir kacang goreng. Semua tandas dalam waktu singkat. Rena cuma melongo melihat Rifki yang tanpa mencuci tangan terlebih dahulu menyantap habis dengan lahap makanan yang ia bawa dari rumah. Apalagi saat Rifki bilang makanannya lezat sekali, ia grogi, seluruh badannya mendadak terasa dingin dan pipinya yang cerah pun memerah. Namun Rifki tak menyadari perubahan biologis yang dialami tubuh Rena. Ia terlalu puas menelan semua kenikmatan yang baru saja disantapnya tanpa memperhatikan gadis di depannya. Rena begitu puas memandangi Rifki saat memasukan satu persatu makanan ke dalam mulutnya menggunakan tangan telanjang yang sengaja dibentuk menyerupai moncong ayam. Rena sudah menawarinya untuk menggunakan sendok, namun ditolak. Lebih bergizi bila pakai tangan kosong, saking semangatnya Rifki segera melahap sentuhan pertamanya sembari memberi alasan anehnya. Akhirnya si gadis hanya memperhatikan. Rena mendengarkan dengan seksama suara renyah saat gigi-gigi Rifki meremukan irisan mentimun dan kacang dalam kunyahannya sambil matanya terus menatap pipi Rifki yang menggelembung karena dipenuhi makanan. Lelaki itu mirip bocah Afrika yang sudah lama tidak mendapat asupan makan.
“Kalau kamu suka, nanti aku bawakan lagi khusus buatmu. Gratis.” Tanpa sadar Rena melontarkan ucapannya pada teman lelaki sekelasnya itu.
Di kelas hanya tersisa beberapa murid, yang lain sudah terbirit-birit menuju kantin. Hanya ada dua siswi yang kelihatannya sedang sibuk mengerjakan pekerjaan rumah mata pelajaran yang akan berlangsung setelah jam istirahat. Jam istirahat baru berlalu beberapa menit. Siang itu langit berwarna biru dan sangat cerah, bahkan awan putih tak satu pun nampak. Angin utara dari laut Jawa menyejukan ruangan kelas sambil meniup-niup ringan melalui lubang ventilasi dan jendela yang terbuka. Atap sekolahan yang berwarna merah hati kelihatan kering mengkerut dan mulai pudar seperti jemuran ikan asin jambal di dekat pelabuhan. Beberapa siswa dengan sengit bermain sepak bola di lapangan tengah, beberapa duduk di selasar. Rifki benar-benar kelihatan seperti serigala kelaparan, di kotak itu hanya tersisa minyak goreng yang menempel di tiap sudut. Tidak ada satu bulir nasi pun tersisa.
“Tidak apa-apa aku harus menunggu kakakmu nuju bulan lagi untuk menikmati nasi kuning selezat ini. Kalau tidak merepotkanmu, aku akan senang sekali dibawakan sekotak lagi. Tiga kotak juga mungkin muat mengisi perutku.”
Rena hanya tersipu mendengar pujian Rifki yang terlontar dikala kunyahan terakhir di mulutnya hampir habis. Kemudian belum sempat berkata-kata lagi, Rena ditinggal oleh Rifki yang dipanggil Jati dari arah daun pintu kelas. Selain mendapat perlakuan istimewa (menurutnya) atas makanan yang dibawanya, Rena juga mendapat ucapan terima kasih dari lelaki yang diam-diam ia suka itu. Sayang, karena terlampau bahagia, ia tak menyadari telah ditinggalkan begitu saja. Rifki sempat menoleh ke arah Rena yang masih duduk dan tak sengaja melihat keindahan tengkuk di bagian tubuh gadis baik itu dengan memberi seutas senyum simpul di mukanya, tidak menyadari satu butir nasi menempel di bagian dagunya.

*

Di kantin, Jati memiliki ruangan rahasia. Sama seperti angakatan-angkatan tua sebelumnya, anak kelas tiga memiliki tempat khusus sebagai markas saat jam istirahat. Ruangan itu sebenarnya masih bagian dari kantin dan lebih pantas disebut gudang daripada markas. Guru-guru di sekolah juga mengetahui keberadaan ruangan yang terletak di bagian belakang kantin ini. Ruangan berukuran empat kali empat itu pun bisa dikunjungi siapa saja termasuk adik angkatan bukan cuma Jati dan Rifki, hanya adik kelas merasa takut bila berkumpul bersama siswa kelas tiga. Ketika kedua saudara sepupu itu sampai disana, benar saja, sudah banyak siswa lain, tentunya teman seangkatan mereka dan beberapa adik kelas yang mempunyai nyali lebih (calon penerus pembangkang tentunya), namun berbeda-beda jurusan. Jati langsung saja mengeluarkan sebatang Ardath dari saku celananya dan meminjam korek ke salah satu siswa. Rifki tidak merokok alhasil ia hanya menenggak es limun di gelas yang ia beli di kantin bagian depan.
“Gimana Ton?” ucap Jati singkat ke salah seorang siswa yang sedang menyantap makan siang mi pangsit yang hampir habis di mangkuk ayam jago.
Tidak lama, setelah benar-benar menandaskan isi mangkuk, siswa bernama Toni berambut jabrik menyerahkan dua lembar uang lima ratusan bergambar orang utan berwarna hijau muda ke Jati. Rifki tahu Jati menang taruhan. Ia juga mendapat jatah dari pertandingan antara AS Roma melawan Fiorentina yang berlangsung Minggu malam itu. Gol tunggal yang dicetak si gondrong Batistuta kemarin malam membuat uang jajan saudara sepupu bertambah.
“Minggu depan kita coba lagi, okey?” Jati menawarkan taruhan kembali kepada Toni.
Toni sudah tentu menerima tawaran Jati, keduanya memiliki gengsi yang tinggi dalam bisnis mingguan ini. Kegiatan taruhan selalu dilakukan tiap akhir pekan. Itu karena pertandingan sepak bola jarang terjadi di hari kerja.
Kedua saudara sepupu ini terkenal dengan reputasi paling tinggi dalam hal taruhan di seluruh penjuru sekolah. Mereka piawai dalam meletakan posisi, sekalipun memegang tim rendahan. Tawar menawar yang mereka lakukan juga cukup lihai sehingga lawan taruhan dibuat takluk sudah sejak bernegosiasi. Sedikit trik kotor mereka ialah, ketika mendapat tim lemah, mereka akan meminta angka voor lebih tinggi diluar pasaran, begitu pula ketika mereka mendapat tim kuat, jika berani memberi angka voor, angka itu bisa dipastikan juga lebih kecil daripada yang ditawarkan oleh khalayak judi lainnya.
Meskipun trik ini sudah jelas-jelas tidak berimbang, faktanya masih banyak saja yang mau mengambil resikonya. Hasilnya sudah jelas siapa pemenangnya. Dalam taruhan, tidak peduli skor tim yang dipilih di lapangan asli kalah pun, selagi bisa menghasilkan uang, tim itu dianggapnya memenangkan pertandingan. Penjaga gerbang dan salah seorang pegawai administrasi di sekolah bahkan sudah mengakui kemampuan si saudara sepupu dalam hal judi ini. Masing-masing petugas sekolah tersebut pernah kalah taruhan dan dibuat kapok karena kehilangan sepuluhribu Rupiah tiga kali berturut-turut selama tiga minggu di tiga pertandingan yang berbeda. Di tahun-tahun krisis ekonomi negara yang baru melakukan reformasi, nilai lembar bergambar Tjut Njak Dien merupakan jumlah yang besar.
Jati dan Rifki melakukan kompromi guna mengelabui lawan taruhannya. Jadi bila Jati dalam posisi ngevoor, maka Rifki akan diandaikan sebagai pihak yang divoor. Siasat playing victim ini tanpa disadari membuat keduanya mengumpulkan banyak pundi-pundi kepeng dari teman satu sekolahnya dan mempertahankan reputasinya hingga mereka lulus.
Sebagai manusia yang hidup di kampung, Jati dan Rifki, yang meskipun berasal dari keluarga sederhana, memiliki selera hiburan yang hampir sama. Hal ini bisa jadi karena keterkaitan mereka satu sama lain, yakni genetis mereka yang berasal dari satu darah keluarga dan tumbuh besar selalu bersama sejak kecil. Patokan gaya hidup mereka didapat dari majalah bulanan yang dibelinya di kota. Mereka juga pasti menghabiskan uang hasil taruhannya untuk hura-hura, menraktir pasangan masing-masing, misalnya dengan pergi ke bioskop di kota sebelah, makan-makan di restoran cepat saji, atau hanya sekadar membeli boneka dan menghabiskan sisanya untuk menggasak kaset pita band cadas di toko musik yang belum mereka miliki.
Di dunia akademis, mereka berdua merupakan murid yang payah. Di tiap ujian caturwulan, hanya mampu mendapat nilai pas-pasan. Tidak ada prestasi yang bisa dikenang selain menjadi tukang totoan. Meski di koran-koran kata reformasi terus menjalar selama dua tahun belakangan ini, nyatanya di kampung tetap sama saja, tanpa ada perubahan berarti apapun. Jalanan masih dipenuhi kerikil, hiburan mewah hanya layar tancep yang diadakan beberapa bulan sekali, beberapa kali peristiwa bom terjadi di ibukota, begitulah gambaran reformasi yang ada di kepala Jati dan Rifki saat itu.
Tahun 2004, ketika Rifki hendak berlibur ke Bali, ia mendapatkan perlakuan yang begitu ketat saat memasuki pelabuhan Gilimanuk, menjengkelkan dan sebagai warga negara, ia dicurigai oleh aparat kepemerintahnya sendiri. Hal ini berkaitan dengan peristiwa Bom Bali yang dilakukan oleh orang-orang idiot berseragam jubah agama dua tahun sebelumnya. Kejadian itu tidak hanya meledakan gedung dan manusia disekitarnya, tapi juga kemanusiaan seluruh dunia.

*

Jati, putra tunggal Imah, merupakan anak laki-laki yang sedang tumbuh melalui masa-masa remaja di sekolah. Semua tingkah polahnya nakal, badung dan kadang kelewat batas. Namun, ketika ia sedang bersama ibunya, bocah ini terlihat seperti kucing peliharaan yang manja pada sang majikan. Terlihat manis dan lugu. Jati pandai menempatkan diri untuk hal ini. Ayahnya, Handoko, seorang pekerja proyek yang jarang berada di rumah membuat Jati selalu menjaga ibunya.
Saat sudah terjaga, Jati menuju dapur, mengambil segelar air di gentong kecil lalu menuangkan ke gelas bening. Sambil meneguk air di genggaman tangannya, ia memperhatikan ibunya yang sedang mengipas-ipas tungku pembakaran. Rifki di kamar Jati membuka halaman komik Dragon Ball sambil masih mendengarkan suara musik yang menghentak keras dari tape recorder, lagu lain milik Jamrud.
“Biar reang Ma yang ngurus perapian.”
Jati terdorong untuk membantu ibunya. Asap putih mengepul dari ruang dapur yang terletak di bagian belakang rumah ini menerobos ke segala arah, ke atap dan ke halaman belakang melalui celah-celah bilik bambu anyaman. Ia menambahkan jumlah ranting kayu ke dalam terowongan tungku yang dipenuhi abu sambil tangan kirinya menutupi hidung supaya tidak menghisap gumpalan asap. Imah merampungkan irisan wortel yang kemudian ia tuang ke dalam panci di atas tungku. Air di dalam panci alumunium yang pantatnya hitam itu sudah hampir mendidih. Begitu penutupnya dibuka, uapnya menyembur seperti ledakan lava gunung berapi.
Di waktu-waktu inilah Imah secara spontan merasa kembali ke masa lalunya. Ia termenung dalam lamunan. Terlintas bayangan kakak laki-laki Imah di potret kenangan yang ada di kepalanya. Benaknya di penuhi ingatan hari-hari kelam bulan Mei beberapa tahun silam saat ia masih lah seorang gadis. Ramid, kakak Imah, merupakan satu-satunya saudara lelaki yang ia miliki. Imah tiga bersaudara. Ia anak bungsu dari seorang tersohor di kampung. Ayahnya merupakan seorang mubalig alim dan terkenal dengan reputasi baik hingga ke beberapa kampung. Ramid kecil tumbuh menjadi anak kesayangan ayahnya. Jahar yang sudah bergelar haji, bangga memiliki penerus lelaki di keluarganya.
Ramid dibimbing sedari kecil untuk belajar ilmu agama. Ia menuruti semua perkataan orang tuanya. Melakukan ibadah limakali sehari. Membaca kitab suci utama, kitab kuning, hadis hingga tafsir imam besar secara rutin. Kemampuan religinya itu terus tumbuh dan berkembang seiring usianya beranjak remaja. Namun tidak bagi kedua adik perempuannya, Imah dan Iyah kurang begitu diperhatikan oleh ayahnya. Kedua putri Jahar itu hanya menghabiskan waktu lebih banyak di dapur bersama Nar, ibunda mereka, juga sudah bergelar haji. Usia Imah berjarak cukup jauh dengan kedua kakaknya. Saat kakak laki-lakinya beranjak dewasa, Imah baru berumur empat tahun. Ramid lebih tua tiga tahun dari Iyah, dan Iyah lebih tua empat tahun dari Imah. Jahar begitu memajakan putra semata wayangnya itu. Hal ini terjadi, karena anaknya sungguh penurut.
Di usia enambelas, barulah Ramid mulai terlihat membangkang. Hari itu Ramid sudah menjadi siswa sekolah menengah atas. Ia mempunyai banyak kawan. Siang di bulan Juni hari itu cuaca terlihat cerah dan tak nampak tanda akan turun hujan. Angin khas pantai utara Jawa membelai dedaunan pohon mangga di teras. Jalanan dipenuhi anak sekolah yang hendak pulang. Semuanya mengenakan seragam yang sama, puith abu-abu, haya tas yang mereka beli dengan model kesukaan masing-masing.
Ramid tiba di rumah dengan wajah masam, menjatuhkan sepeda kumbang berwarna hijau tai kebo di halaman, hingga sepeda itu terseok membentur tanah dan menimbulkan bunyi seonggok besi roboh. Ia juga tidak mengucapkan salam seperti biasanya. Jahar sedang duduk di kursi beranda menikmati teh tubruk di cangkir baja berwarna perak dibuat teraneh-aneh oleh anak lelakinya.
“Kenapa Nang? Kok mukanya kusut gitu. Jadi orang tuh, salam dulu kalau masuk rumah.”
Ramid tidak menggubris ucapan ayahnya. Ia melepas sepatu  dan alasnya kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Selesai mengganti pakaian, terdengar suara bising mesin di  beranda. Rumah Jahar yang berbentuk limasan khas Jawa, cukup besar dan memiliki halaman luas, muat untuk diparkir tiga sampai empat mobil. Jahar tukang sewa sawah dan mendapat keuntungan tinggi dari usahanya sehingga ia bisa membeli sebidang tanah di pinggir jalan bekas Noni Belanda yang mahal ini. Aroma bangunan pun terkesan sangat klasik dengan tiang saka yang masih menggunakan kayu jati tebal. Lantainya masih meggunakan jenis tekel. Temboknya menggunakan anyaman bambu yang diplistur cairan kapur supaya solid, membuatnya terlihat sebagai salah satu yang paling mewah di jamannya. Perabot di dalam rumah juga bukan barang-barang murah. Di ruang tengah, begitu tamu masuk, ia akan melihat tiga sofa empuk berwarna merah gelap tersusun rapi membentuk huruf U  menyesuaikan cat rumah yang hanya di plistur polos, sebuah meja tidak terlalu kecil cukup untuk menyajikan kudapan tamu terbuat dari marmer asli, juga lemari mulai dari yang berukuran kecil hingga besar berjejer ditata dengan baik oleh sang empunya. Selera estetika orang kampung yang tinggi di jaman itu.
Suara mesin itu berhenti dan berganti dengan suara seorang bocah lelaki. Tidak lama setelah itu Jahar memanggil putranya. Di luar ada temanmu, katanya kepada Ramid. Kedua remaja itu pun bergegas meninggalkan rumah Jahar dengan serta membawa suara bising dari knalpot Yamaha L2 Super bermesin dua tak dan tangki berwarna paduan merah dan perak.

*

Beberapa Minggu terkahir kelakuan Ramid mulai berubah. Perlahan-lahan hingga ke titik yang paling drastis. Cara berbicara Ramid mulai keras dan kaku ketika semua kumpul keluarga menikmati santap malam. Diperhatikan oleh Nar, ia tidak lagi melakukan ibadah limakali sehari. Begitu sesekali ditegur dan diberi nasihat ringan, ia malah acuh saja. Belakangan sering kelihatan lebih banyak diam, mengabaikan kehadiran orang-orang yang ada di rumah. Ia kelihatan layaknya remaja yang sedang ngambek dan merengek meminta dibelikan sesuatu, tapi rengekan itu tak bersuara dan belum ada tanda-tanda minta dibelikan sesuatu. Meski ia tetap berangkat ke sekolah dan berkumpul dengan kawan-kawannya, tingkah polahnya tetap saja seperti menunjukan sisi lain seorang Ramid yang sudah lama tersembunyi ketika sedang berada di rumah.
Sore itu, badha Ashar, Ramid tengah duduk di kursi yang biasa menjadi tempat santai Jahar sepulang dari sawah. Ia ditemani gorengan pisang kepok yang dibuat Nar dan Iyah. Pisangnya sendiri masih sangat segar, didapat dari tegalan sawah sewaan Jahar, jadi rasanya manis dan pulen. Namun, bukannya sedang melahap gorengan, di antara jari telunjuk dan jari tengah Ramid mengapit sebatang Marlboro tinggal separuh sambil duduk dengan kaki menyilang. Melihat putranya merokok, Jahar langsung menghajar wajah Ramid dengan kibasan telapak tangan kanannya yang keras karena sering digunakan menggenggam gagang cangkul saat bertani tepat di pipi sebelah kiri. Hebatnya, Ramid diam saja mendapat tamparan telak seperti itu, seolah tidak pernah terjadi apa-apa, tidak merasakan betapa sakitnya. Ia malah menghisap batang rokok putih itu dalam-dalam sekali nafas hingga tinggal batang filter yang tersisa lalu membuang puntungnya di halaman. Asap keluar dari hidung dan mulut Ramid, di saat yang sama ia bergegas masuk ke dalam kamarnya. Hal itu ia lakukan dengan begitu tenang layaknya seorang petinju yang sedang memprovokasi amarah musuh di atas ring tinju, sengaja mengintimidasi dengan ejekan tanpa kata. Ia sedikit memincingkan mata kemudian menghilang di balik pintu.
Ramid tahu Jahar marah besar padanya. Hanya saja, sore itu ia tidak ingin meladeni Jahar yang sedang berapi-api melihat tingkah anak lelakinya beranjak remaja. Jahar sendiri perokok aktif, bila sedang menikmati teh tubruk, pipa hisap, satu kresek tembakau linting atau sigaret jambu bol tidak pernah ketinggalan. Dan sekarang saat menyaksikan adegan isap tembakau putranya sendiri, hal itu terasa seperti pukulan keras sekeras palu godam menghantam ubun-ubun di kepala Jahar. Itulah mengapa ia secara kilat memberi respon anak itu kepretan. Jahar tidak begitu menyadari dan tanpa sengaja mengibas tangan di muka putranya. Segala sesuatunya terasa ringan, Jahar menyesal dan yang ia rasakan kejadian sesaat itu hanyalah seperti ada benda gaib kuat semacam magnet menarik gravitasi lengannya untuk melakukan tamparan keras dan akurat itu. Akurasi seperti pemain bisbol memukul bola sebesar genggaman tangan hingga homerun.
Berbeda dengan Jahar, Nar memiliki watak yang, bila Ramid kutub selatan, maka Nar yang jadi kutub utara dalam hal mengurus anak, kurang lebihitulah gambaran mereka. Bila Jahar selalu memanjakan anak-anaknya terutama Ramid, Nar selalu mendidik mereka dengan cara yang agak keras. Supaya bisa mandiri kalau sudah waktunya, begitu yang ada di pikiran Nar. Untuk membeli keperluan sekolah saja, ia mengajari anak-anaknya untuk bekerja membantu orang tua dulu bila sisa uang sakunya belum cukup, baru ketika diberi upah, upah itu bisa digunakan untuk memenuhi keperluan pribadi apa saja, kata Nar kepada semua buah hatinya. Dua putrinya berhasil mengikuti metode didikan Nar, namun tidak dengan Ramid.
Ramid, kalau sudah ingin memiliki barang yang ia inginkan, betapa susahnya barang itu didapatkan, ia harus mendapatkannya, bagaimanapun caranya. Yang penting, bila ia ingin langit menurunkan salju, ya harus semesta harus menuruti kemauannya menurunkan salju tepat dihadapannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...