Langsung ke konten utama

Bangsa Ular


Kenapa kitab-kitab yang katanya suci itu selalu menggambarkan makhluk seperti kami sebagai penggoda dan perusak kehidupan. Bukankah yang merusak itu sebenarnya malah mereka yang melemparkan ujung jari telunjuknya ke arah muka bangsa kami. Mereka lah manusia, umat yang dianggap tersuci di dunia, oh maaf terkuat. Makhluk penakluk segala makhluk, pemakan apasaja. Bukankah yang saling menggoda itu diri mereka sendiri, itu yang jelas-jelas umat manusia lakukan ditanya ke hewan manapun juga, apalagi kalau sudah berhadapan dengan lawan jenisnya sendiri. Hanya karena bentuk kelamin kotor si pejantan mereka itu menyerupai bentuk tubuh bangsa kami kebanyakan, bangsa kami yang selalu dianggap buruk dan dianggap menjadi biang segala kekacauan di seluruh negri, hingga kami harus menerima perlakuan terpojok oleh semesta dan seluruh isinya. Lalu mengapa kekesalan itu dilemparkan ke bangsa ular dan mereka ingin terlihat selalu bersih. Mengapa kami selalu menjadi kambinghitam atas perbuatan keji mereka dalam penghancuran habitat alam semesta dan bukan menjaganya. Sebagai karnivora, kami hanya ingin menjalani hidup sebagaimana mestinya dengan tenang, misalnya pergi berburu tikus di parit atau ladang secukupnya di malam hari tanpa terganggu. Kami sadar diri akan hal ini. Hewan lain bahkan ada yang sangat susah sekali bereproduksi, itulah kenapa kami menjaga standar makan agar tidak berlebih.
Kami tidak mempunyai tangan dan kaki, itu benar, maka kami membangun rumah dengan membentur-benturkan tubuh dan kadang mengeruk tanah menggunakan wajah kami satu-satunya ini dalam pergalian lubang liang. Kami juga bekerja sendiri-sendiri dalam membangun rumah, tidak butuh tukang, kuli atau mandor sekalipun, berbeda jauh dengan manusia. Bentuk lidah kami juga berbeda dengan makhluk manusia, jadi mana mungkin susah payah merebut makanan mereka, kecuali mereka yang merebutnya, itu mungkin. Dengan lidah berbeda juga, mana mungkin kami memiliki bahasa yang sama digunakan oleh manusia kemudian dengan kemampuan itu kami menggoda mereka. Sekalipun otak manusia lebih besar dari kebanyakan bangsa kami, manusia juga tak akan bisa menggerakan lidah mereka untuk mempelajari dan berbicara bahasa kami. Paling mutakhir mereka berdesis menirukan bagaimana bangsa kami bicara satu sama lain, tapi desisan itu kosong tak bermakna tak berarti dan lagi lagi mereka mengklaim diri seenaknya bisa bicara menggunakan bahasa kami. Diantara kami memang ada yang mengandung bisa beracun untuk menangkap dan melemahkan buruan atau kadang bahkan kalau terdesak kami membunuh manusia yang menyerang kami secara mendadak dan membabi buta membuat kami panik tingkat tinggi, itu juga hal satu lain yang benar. Beberapa diantara kami menggunakan pelukan erat gunamelumpuhkan santapan untuk dihabiskan beberapa bulan, itu juga benar. Lebih dari hal diatas, kami tidak bisa apa-apa. Kelebihan lain kami hanyalah mengganti kulit dalam skala periode tertentu. Jelas itu tidak ada hubungannya dengan apa yang dikatakan kitab suci yang ditulis oleh para nabi itu tentang bagaimana katanya kami adalah makhluk yang menyebabkan keturunan Adam dan Hawa menjalani kutukan di bumi sampai kiamat nanti. Berita itu terus berlanjut begitu saja seperti serangan wabah di hari pertama musim tanam hingga ke jutaan keturunan Adam lahir di bumi, dan terus saja menyalahkan kami dengan mengait-ngaitkannya dengan perihal buah terlarang. Memangnya surga itu betulan ada? Dan bangsa kami benar-benar termasuk makhluk yang berasal dari sana? Itulah yang umat makhluk kami pernah dan selalu keluhkan kepada Sang Pencipta. Tapi Dia diam saja. Membiarkan kami menjalani hidup sebagai binatang yang disebut manusia, binatang melata. Padahal sudah kami katakan juga, kami tidak bicara bahasa mereka sedikit pun, pula sebaliknya, jadi mana mungkin mereka tahu kalau kami lata? Manusia memang makhluk aneh. Sukanya melabeli sesuatu sesuai kehendak mereka dan menganggap kebenaran hanya milik sudut pandangnya semata. Ditambah lagi mengira kami menggoda kakek moyang mereka untuk memakan buah terlarang. Ini jelas-jelas tidak masuk akal, bagi bangsa kami sendiri yang entah apakah masih punya akal atau tidak. Padahal jelas bangsa kami bernai bertaruh dengan makhluk manapun, tidak ada satu pun bangsa ular makan buah bahkan di kolong terjauh sudut semesta ini. Bagaimana kami bisa meyakinkan Adam bahwa buah itu enak padahal kami sendiri mencicipipun tidak pernah. Dan mungkin buah-buah itu terlarang bagi kami, bukannya bagi manusia. Kami makan burung, kodok, ikan, serangga dan beberapa hewan yang ukurannya sedikit lebih besar daripada bangsa kami. Sedang manusia memakan hewan, tumbuhan, sayuran bahkan mungkin kotoran mereka sendiri, menyalahakan kami penyebab kutukan itu terjadi. Itu lah riwayat yang tertulis di kitab kami yang entah hilang kemana rupanya, tapi mengendap abadi dalam pikiran bangsa kami bahkan sebelum generasi berikut terlahir. Anak-anak kami sudah lebih tahu lebih dulu sejarah manusia sebelum mereka menjadi bayi-bayi mungil. Itulah kehebatan bangsa kami yang selalu kami banggakan.
Sesuatu yang terus diulang-ulang, pernyataan kitab konyol itu akhirnya dipercayai dan diakui. Buku itu dikhususkan menjadi sesuatu jalan hidup bagi manusia saja, tidak dengan hewan dan makhluk lain. Kitab yang katanya suci itu terus diwariskan dari generasi ke generasi tanpa peduli bagaimana menjalani hidup sebagai bangsa ular seperti kami. Manusia sungguh egois. Karena kebodohan kami tidak bisa menggunakan bahasa manusia, kebohongan yang terus berulang itu dianggapnya sebagai kebenaran. Melaju tanpa halangan, pernyataan yang mencederai kehidupan dunia ular itu juga menjadi kutukan lain yang menyiksa alur hidup bangsa kami. Itulah kenapa beberapa diantara kami ada yang hanya akan keluar liang pada hari telah menjelang malam. Itu sungguh menyakitkan bangsa kami, bangsa ular, kami terusik di bumi yang sama-sama dipijak. Manusia bisa hidup dimanapun mereka sukai di seluruh sudut semesta ini tanpa banyak khawatir. Sedang bangsa kami menjalani hidup dalam kutukan kami sendiri dengan hanya disediakan liang bahkan sebelum menemui kematian. Kami bahkan telanjang sepanjang hari, tanpa kain woll atau beludru mahal. Yang ada malah kulit bangsa kami diiris tipis-tipis kemudian barulah dijadikan pakaian dan aksesoris oleh manusia-manusia suci yang hidup bebas berlenggak di atas tanah itu menjangkau langit. Apa karena tubuh manusia tumbuh ke atas dan lebih dekat dengan angkasa jadi sang pencipta lebih mendengarkan ocehan mereka. Entahlah. Daripada bangsa kami terlalu berharap sesuatu akan hal ini, lebih baik hidup menjalani siklus kami sendiri. Lagipula harapan tidak pernah benar-benar ada di dalam kehidupan kecil kami. Kakek nenek moyang kami lebih suka mengembara menyelami samudra, ke gurun pasir atau ke tempat baru sekalipun bisa membunuhnya dengan mudah daripada mnembuang tenaga untuk percaya hal-hal mistis.
Sudah sedikit dijelaskan tadi, beberapa bangsa ular hanya bisa keluar dan menjalani hidup di malam hari. Ini sungguh tidak adil. Kadang kami berpikir apakah tuhan benar benar ada dan telah menciptakan jagat raya, termasuk sekelompok kecil bangsa kami ini. Kalau memang benar, Dia ada, apakah bangsa kami juga harus mempercayainya? Menyembahnya? Bagaimana harus beribadah menghormatinya? Pertanyaan  itu muncul begitu saja di kepala beberapa anak bangsa kami. Para sesepuh tentunya bingung menjawab satu persatu pertanyaan aneh muda-mudi ini. Tetua bisa menceritakan kisah seribu satu malam itu dengan pengalamannya, bukan dari kitab suci seperti bangsa manusia. Jadi itulah yang kami percaya, dan semua kisah yang ada di kitab suci bisa dipastikan seribu persen kebalikan dari yang nenek moyang kami alami.
Surga kami juga berbeda dengan manusia yang terletak dipenuhi taman dan aliran sungai itu. Bangsa ular sudah lebih dulu tahu surga macam apa yang berada disana. Jadi bangsa kami menetapkan surga kami sendiri. Kalian manusia tidak perlu tahu seperti apa, bagaimana dan dimana letak surga kami, kami takut kalian juga akan mengambilnya dan membuat kisah aneh yang lain terhadap bangsa kami. Satu cerita saja sudah membuat bangsa ular nelangsa tiada akhir, apalagi ditambah satu lagi. Kami sudah cukup beruntung manusia tidak makan serangga dan kodok, itu cukup menenangkan cadangan sumber pangan bangsa kecil ini. Meski ada juga beberapa hewan yang manusia makan seperti makanan kami. Yang jelas dunia kami tidak memiliki satu pun nabi. Kalau ada yang menganggap dirinya nabi, berarti menganggap kami semua nabi, begitulah keadilan ditegakkan di dunia ular.
Ketika manusia merasakan panas matahari menyentuh kulit, kami juga merasakan. Jadi bangsa kami percaya bahwa manusia juga suatu saat kelak bisa merasakan betapa nelangsa bangsa kami dituduh menggoda kakek moyang manusia memakan buah terlarang dan mengetahui kebenaran sebenarnya agar bangsa kami bisa hidup dan mati di liang kami dengan tenang untuk selamanya hingga kiamat tidak membuatkan sebuah penyesalan di hari penimbangan nanti. Mungkin saat itu sungguh-sungguh terjadi menjadi kenyataan, bangsa kami, bangsa ular yang dihinakan ini sudi melumpuhkan serta membakar seekor sapi untuk santap malam umat manusia. Alternatif lainnya jika hal-hal semacam itu tetaplah harapan bagi kami hingga mati, kami akan menuntut si penulis kitab suci bahkan Adam atau Hawa tidak peduli harus menerobos surga atau neraka mereka, bila terbukti mereka bersekongkol membuat skenario cerita itu tidak segan-segan kami akan menghabisi mereka sehabis-habisnya dengan melumat mereka layaknya cengkraman lubang neraka penuh pijar api paling jahanam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...