Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Siang di Mumbai

Sial. Gara-gara tidak ada suara pengumuman aku jadi tertinggal jadwal penerbangan ke New Delhi sore ini. Bandara macam apa ini, kumaki dalam hati. Belum lagi, banyak petugas yang kurang mampu berkomunikasi bahasa Inggris. Sial. Aku terjebak dalam peristiwa menyebalkan. Bandar udara dengan pengumuman senyap tanpa pengeras suara sedang orang-orang didalamnya riuh dalam percakapan masing, ada yang berbicara dengan nada keras seperti sedang menumpahkan amarah, ada yang duduk dalam diam termangu menanti jadwal, ada yang ribut membicarakan pertandingan softball . Aku terjebak di Mumbai, sore itu. Seminggu di New Delhi, untuk persinggahan kedua kali ke India, aku sungguh berlatih arti sabar dengan kerasnya. Suara bising klakson mobil yang tiada henti siang-malam-sore-pagi, panas neraka jahanam di luar ruangan dan makanan yang kelewat pedas yang membuat perut gampang panas dalam. Belum lagi, tidak ada minimarket ala barat di negeri ini. November tahun lalu, aku datang ke Mumbai untuk per...

Yang Terlewatkan

Menemukan jam tangan seseorang di sebuah tempat yang tali pengaitnya terputus tak akan membuat waktumu yang hilang ataupun hal-hal yang ternyata kau harapkan akan kembali. Waktu merupakan sebuah remot kontrol yang tak mau diatur dan bergerak maju sesukanya sendiri, kita lah yang harusnya mengatur kendali atas diri kita sendiri untuk tindakan dan sikap apa yang harusnya diperbuat. Waktu selalu tersedia secara gratis bagi siapapun, tapi ia nampak akan sangat mahal jika kita membuangnya sia-sia tanpa menghasilkan makna apa-apa. Sejauh ini belum ada seorang ilmuwan pun yang mampu memutar balik waktu meski hanya untuk satu detik ke belakang. Dunia memang semakin canggih, tapi waktu jauh lebih canggih lagi. Kita hanya bisa mempelajari kejadian atau rentetan peristiwa masa lalu lewat arsip atau benda-benda yang memang mewakili waktu dimana ia hidup dulu, sekalipun benda itu benda mati atau dari cerita di teks orang-orang yang tinggal di masa waktu yang kunjung. Setiap orang memiliki wak...

Secangkir

Ada hal unik yang pernah terjadi sekali saat saya masih berusia sekitar 3-5 tahunan. Saya tidak bisa mengingat angka berapa pastinya. Kejadian itu adalah saat saya sedang panas dingin demam tinggi. Dari sore hari, Ibu terlihat sibuk meracik ramuan jamu untuk menurunkan suhu badan saya. Di dalam gelas kaca seukuran cangkir, ibu membuatkan saya campuran merah telur ayam kampung, obat peredam sakit kepala dengan minuman bersoda bening secukupnya. Cara ini ia lakukan supaya kondisi bisa lebih baik dan saya tidak merasa kepahitan saat meneguknya. Dibalik selimut sarung tebal yang kucel, untuk beberapa jam saya sempat membaik. Tubuh saya mengeluarkan keringat dan kepala terasa agak ringan. Waktu itu cuaca sedang tidak bersahabat. Setelah Isya, hujan turun lebat disertai angin kencang. Petir juga ikut bergemuruh berkumandang. Rumah petak kami yang beratapkan asbes mengalami kebocoran akibat tertimpa ranting-ranting pohon yang patah dan jatuh tepat diatasnya. Ranting-ranting itu meninggalk...

Pembicaraan

“Hei, kenapa kita masih saling berhubungan seperti ini, bagaimana bila suamimu tahu?” “Lalu kamu sendiri? Bagaimana kalau istrimu tahu?” “Kapan aku pernah bilang aku sudah punya istri? Sudah kubilang, hidupku yang sial ini tak pantas mendapatkan hati seorang perempuan mana pun.” “Tapi kamu sudah mengambil hatiku. Berani-beraninya kamu tinggalkan aku begitu saja waktu itu.” Hening “Bisa bantu aku kasih pengertian kenapa?” “Hei, suamimu menunggumu di rumah. Sebaiknya kita sudahi pertemuan ini. Sebaiknya kembali lah saja ke rumah. Atau bagaimana kalau aku saja yang pulang?” “Tidak baik meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban. Tunggu dulu, jangan kabur lagi. Seenaknya saja kamu ini. Apa kau memang sepecundang itu?” Kembali Hening Lelaki yang duduk saling berhadapan dengan seorang perempuan itu menyesap cairan yang tertuang di sebuah cangkir yang sedari tadi luput dan tak digubris. Siang itu lengang. Pengunjung restoran bisa dihitung dengan jari. Selain belum masuk jam makan siang, sebuah wab...

Arah

Baiklah. Sebernarnya aku tidak sedang baik-baik saja. Aku Mungki Rangkuti, usia 27 tahun, belum tahu kapan akan menikah. Aku ngga tahu harus dimulai darimana dan akan dibawa kemana. Jadi daripada kupaksa harus begini begitu, maka biar saja cerita ini mengalir seperti air, entah itu di got, saluran bawah tanah, sungai atau ke muara sekalian. Aku ngga bisa bedain rasa antara I feel so insecure atau I feel so lonely . Yang jelas aku ada diantara tengah-tengah keduanya. Yang jelas aku hanya lelaki biasa yang juga sebenarnya punya cerita biasa saja. Yang jelas sekarang adalah masa-masa dimana aku kadang merasa tidak begitu nyaman dengan keadaan sekitar, terutama diriku sendiri. Aku lelaki biasa kurang kerjaan yang di tahun serba modern dan canggih ini masih saja sering menulis igauan semacam diary di blog jadul seperti lelaki melankoli. Entahlah dunia akan menertawakan kegiatanku ini atau tidak, aku tidak peduli. Sudah kubilang di awal, aku sendiri sedang tidak baik-baik saja. Untuk ap...