Langsung ke konten utama

Tak Tahu Siapa


Aku tak pernah tahu, dan sebenarnya tak ingin mengetahuinya. Entahlah apa yang terjadi sore itu aku tidak begitu ingat. Hujan baru saja reda. Masih ada sisa-sisa cahaya matahari senja yang tercecer tepat di genangan air di sepanjang jalan. Aku mulai bergegas melanjutkan perjalananku pulang mengayuh sepeda tua buatan londo warisan kakek, melewati bayangan gedung-gedung tinggi terlaknat yang menjulang. Kadang, aku harus bersusah payah menuntun sepedaku melewati jembatan gantung yang sudah berkarat dan usang. Kalau tidak, aku harus menunggu hingga berjam-jam hanya untuk bisa menyebrang. Ya, beginilah hidup di kota metropolitan yang katanya banyak uang, tapi ternyata malah bikin bimbang. Ditambah lagi dengannya. Dengan kehadirannya. Aku tidak mengenal siapa dia. Aku tidak pernah tahu apa-apa tentangnya. Tiba-tiba saja dia datang. Bagai guntur tertinggal badai yang sudah jauh melewati tengah samudra. Menggelegar jagat ketika mendung tak lagi terlihat. Rasanya aku seperti maling yang tertangkap basah, kepergok sedang beraksi tulah, tertangkap tangan mencuri pandangnya. Padahal dia yang memandangiku sedari tadi. Mengikutiku seperti mata-mata polisi. Aku saja yang tak menyadarinya. Terlalu sibuk memikirkan jemuran baju dan celana dan kemeja dan lain-lainnya di rumah dan beberapa lembar kerja yang digunakan sebagai laporan kepada kantor sama sekali belum aku cetak. Aku terlambat menyadarinya. Aku menatapnya, lurus ke arah kedua bola matanya. Rambut hitam panjang yang menjuntai jatuh dilehernya tidak mampu menutupi kecantikannya. Tapi, disekitar lengan baju sebelah kiri ada bercak darah yang masih basah. Dikeningnya juga ada keringat ketakutan yang mengalir pasti tapi tak begitu deras.
Aku benar-benar tak mengenalnya. Sungguh, sumpah kesamber kompor meleduk tukang cilok pun aku sangat rela. Namun, aku merasa tiba-tiba kasihan padanya. Dia berbagi senyum padaku. Aku mendekatinya. Dia berharap sesuatu dariku. Dia berharap aku mengajaknya berbicara. Aku rasa dia ingin mengajakku berinteraksi atau semacamnya. Dalam diam dia mengirimkan sinyal lewat tatapan matanya ke arahku. Terlalu percaya diri, kukira aku merasa dia menyukaiku. Sempat terbersit, kupikir dia berharap aku mengajaknya membonceng jok belakang sepedaku atau semacamnya. Aku tak tahu betul apa yang dia minta. Yang kutahu, sorot mata mungilnya seolah berkata memohon-mohon. Seketika, aku menawarkan sesuatu padanya, sebungkus kecil permen di salah satu saku tas punggung. Menanyai siapa namanya. Kita tak saling kenal. Dia gugup dan agak mendadak ketakutan. Aku mencoba menenangkannya. Tubuh bocahnya bergetar. Kedua tanganku menyentuh dan memegangi pundaknya. Badanku sedikit membungkuk, dengkul kakiku menyentuh tanah. Tatapannya semakin memelas sambil menaruh wajah tertunduk. Dia bilang, "Paman, ibu jahat. Kinar dipukuli ibu. Padahal Kinar cuma minta dibelikan buku tulis yang baru..." Aku diam dibungkam langit petang yang sudah tak lagi berwarna kebiruan. Aku, seperti sedang ditusuk busur karat beracun pelan-pelan, lemas. Tidak tahu apa yang akan kulakukan berikutnya. Pikiran di kepalaku mendadak hilang entah kemana. Malam sepertinya lebih cepat ingin lekas datang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...