“Lalu Raeng, masih berapa banyak lagi tempat yang akan
kamu datangi? Sebarapa banyak juga hati gadis desa seperti diriku yang akan
kamu tinggalkan kemudian?”
“Ini bukan tentang itu, Kumala.” Nada resah menyambar
keluar dari bibir seorang pemuda paruh baya yang sedang duduk disamping si gadis
desa.
“Lalu tentang apa lagi Raeng?” sergah si gadis yang
mengenakan kain sebagai pakaian penutup tubuhnya mulai dari kedua buah dadanya
hingga separuh betis mungilnya.
“Ini tentang..”
“Kamu sudah pergi dariku berbulan-bulan lamanya tanpa
berkabar, Raeng.” Kalimatnya menyergap suara si pemuda. Kali ini raut kecewa
membuncah dari wajah gadis berkulit kuning langsat yang sedari tadi menahan
marahnya.
“Sudah berapa puluh anak gadis di luar sana kau setubuhi
lagi?”
“Biar sahaya memperjelas keadaan kepadamu dahulu,
Kumala.” Suara si pemuda mencoba meyakinkan.
“Kamu sudah pergi meninggalkanku
berbulan-bulan-bertahun-tahun tanpa berkabar. Sekalipun. Sekalipun, Raeng!”
serak suara gadis itu jelas menuduh dan menghakimi si pemuda.
Malam yang sepi di pelataran sebuah balai bambu di tengah
dusun menjadi semakin hening dan mencekam. Semua orang sudah pergi meninggalkan
dusun. Mereka semua mengungsi ke pulau Kadoyo, sebuah pulau yang masih aman
untuk berlindung dari serangan peperangan antara kedua kerajaan saudara sedarah
di daratan Bentang yang semakin hari semakin membesar. Api memberangus
hutan-hutan di barat daya. Asap mengepul memenuhi langit dan menjadikannya
hitam pekat. Di daerah pinggiran istana, suara jerit tangis anak-anak kecil
terdengar dari lubang bilik kedai-kedai yang ditinggalkan tuannya.
“Kini kamu kembali secara tiba-tiba. Kembali menjelma
sosok yang selama ini sahaya rindukan sangat. Kembali mendadak menebar benih ke
dalam hati sahaya yang sempat menjadi ladang yang mengering. Ya, ibarat ladang
kering hati sahaya, Raeng. Kamu tahu rasanya bukan? Perempuan yang lama
ditinggal buaiannya.”
Pemuda itu masih
diam.
“Dahulu juga
awalnya ladang ini tandus dan kering, tak ada sudi yang merawat. Ia juga dahulu
hanya dipenuhi tumbuhan liar. Tak kenal musim. Tak kenal bulan. Lalu pada suatu
waktu, kamu datang, Raeng. Lalu ladang itu kamu rawat. Kamu sirami dengan air
matamu itu, Raeng. Hingga-hingga disana tanpa sadar sahaya pula telah menanam
benih yang kemudian tumbuh oleh sebab rajinnya kamu sudi singgah. Welas asih
itu terus saja tumbuh. Sahaya tidak bisa membendungnya. Sahaya tidak berdaya
oleh kisah-kisahmu, Raeng. Ladang itu menjadi subur, Raeng.”
Pemuda itu terus saja diam.
“Hingga-hingga, pada suatu hari yang lain. Kamu pergi meninggalkan
sahaya, Raeng. Seorang diri. Seminggu sahaya menunggu. Tak ada satu pun kabar.
Dua minggu sahaya masih menunggu. Jua tidak ada secuil pun kabar. Tiga minggu,
Raeng, sahaya terus menunggu. Tidak ada berita tentangmu samasekali, Raeng.”
Lelaki itu menghela nafas panjang seolah dadanya telah
terhimpit tembok runtuh diserbu serdadu musuh.
“Hingga-hingga, Raeng. Hari berganti minggu. Minggu
berganti bulan. Bulan berganti tahun. Akhirnya hati sahaya ternyata bisa lelah
jua menunggumu. Pikiran sahaya lebih-lebih hampir tidak ingat lagi tentangmu,
Raeng. Sepertinya kamu sudah tidak akan kembali pada sahaya gadis desa yang
bodoh ini. Berpuluh-puluh purnama terlihat pucat saat kamu tidak disini, Raeng.
Berpuluh-puluh kemarau memasung panas di tempat ini, Raeng. Hingga-hingga, meranggaslah
semua yang telah tumbuh subur itu. Hingga-hingga, matilah semua yang sudah
hidup itu. Dan di ladang itu kemudian banyak yang sekarat.”
“Mengapa kamu tidak sekalian saja membiarkan sahaya
berterbangan seperti angin tak bertuan itu, Kumala?” kali ini si pemuda
menimpali segala keresahan si gadis desa dengan rambut panjang yang dibiarkan
terurai disampingnya. Buah dadanya matang sedang dipandang, seirama kulitnya
yang kuning langsat cerah mendekati buah bengkoang.
“Mudah sekali bibirmu berbicara semikian, Raeng? Betulkah
kata-kata itu berbicara dari dalam hatimu?” suara si gadis semakin keras
menunjukan betapa semakin geramnya ia kepada sosok pemuda disampingnya.
“Kalau memang hati sahaya berkata demikian, apa pula
hendak kamu harap padanya, Arum Kumala?” suaranya tidak kalah keras dari suara
sebelumnya.
“Berharap? Bukankah kamu dahulu yang berharap pada sahaya,
Raeng?”
“Sahaya tahu sahaya hanya pembawa pesan. Pesuruh abdi
dalam. Mengabarkan berita milik seorang pembesar kepada pembesar lainnya. Dari
sebuah bilik ke bilik lainnya. Dari sebuah tembok ke tembok lainnya. Dari
belantara ke belantara lainnya. Dari jurang ke jurang lainnya. Dari pelana
perang ke pelana lainnya. Berganti tuan berganti hujan. Tiga gulden aku terima
sebagai upah. Tidak peduli rimba sahaya lewati, Kumala.”
“Sahaya tidak perlu tahu siapa kamu sekarang, Raeng.
Sahaya hanya ingin dengar mengapa pula dahulu kamu pergi. Sudah itu saja,
Raeng. Selebihnya kamu boleh pergi lagi. Kemana kamu suka. Kemana hendak
meraja.”
“Bila beruntung, Arum Kumala. Sahaya bisa mampir ke dusun
kecil di balik bukit. Dusun tempat kamu hidup ini.”
“Lalu sampai kapan kamu akan seperti ini, Raeng? Sampai
kah pada hari selir dan dayang menjadi ratu semalammu? Sampai kah pada hari
puteri raja terlelap di pangkuanmu?”
“Kamu terlalu melankoli, Kumala. Sahaya mungkin pergi
dari sebuah pulau ke pulau lainnya. Dari sebuah gunung ke gunung lainnya. Dari
laut ke laut lainnya. Tapi kamu harus ingat satu hal, Kumala.”
“Kamu pergi sesukamu sekehendakmu, Raeng. Kamu pergi
seenaknya saja dariku, Raeng. Kamu pikir sahaya ini dipan rumah singgah
murahan?”
“Dengar dulu, Kumala..”
“Dengar apa lagi, Raeng? Bukan kah kamu dulu pergi tanpa
bersuara. Sekarang kamu minta sahaya mendengarmu, mendengar apa?.. Mendengar
langkah kakimu mengendap-endap pergi meninggalkanku lagi?”
“Baiklah, Kumala. Bila begitu, sahaya hanya ingin kamu
ingat satu hal saja dari sahaya.”
“Ingat apalagi, Raeng? Kepalaku sudah tidak memiliki
ingatan, bagaimana sahaya harus mengingatnya kemudian?”
“Kamu tidak perlu bersusah payah untuk mengingatnya,
Kumala. Satu hal itu tidak akan memberatkanmu. Apalagi menyulitkanmu.”
“Iya, Raeng. Sahaya paham. Sahaya hanyalah gadis dusun
dibalik bukit yang bodoh dan tidak pula bergincu.”
“Bukan begitu maksud sahaya, Kumala. Yang ingin sahaya
sampaikan kepadamu adalah kabar berita dari diriku sendiri. Milikku sendiri.
Bukan dari pembesar di dalam istana sana. Sahaya ikhlas tak mendapat seketip
pun upah sebagai bayaran. Dan kabar berita itu sudah sahaya kemas dengan sangat
baik berbulan-bulan-bertahun-tahun untuk kamu, Kumala. Sahaya bawa sendiri
melalui satu jurang ke jurang lainnya. Melewati satu gurun ke gurun lainnya.
Tanpa kenal musim. Kamu boleh tidak percaya, Kumala. Namun sungguh biar dulu
aku membuka hati sahaya agar pula kamu tahu isi pesan kabar berita itu.”
“Baik menurutmu. Lagi pula guna apa sahaya percaya pada
makhluk belum jelas sepertimu, Raeng? Sudahlah. Sudahi saja omong kosongmu.
Kalau kamu ingin merobek dadamu agar pula sahaya tahu apa isinya, percuma.
Paling-paling akan sahaya jual seluruh isi jeroanmu itu ke tukang ternak.”
“Baiklah, Kumala. Bila memang kamu tidak ingin mendengar
pesan dari sahaya sendiri. Batang-batang kayu yang gugur ini mungkin masih bisa
mendengarkannya buatmu. Lalu setelah kamu mendengarnya dari batang kayu malang
itu, kamu boleh membuangnya ke kali maupun parit, dan bila kamu ingin
menyimpannya, kamu boleh menyimpannya dimana saja. Di tungku di dapurmu pun tak
apa jika memang kamu ingin menaruhnya disana. Terserah kamu.”
“Kalau kamu tahu dirimu masih memiliki hati, sedari dulu
kamu seharusnya tidak berpergian kesana kemari meninggalkan sahaya sendiri
disini, Raeng.”
“Dengar, Kumala. Bila bagimu, mungkin, sahaya ini sudah
tidak memiliki hati. Dan sahaya akan mengerti betul itu mengapa oleh sebabnya.”
“Memang kamu sudah tidak punya, Raeng Kelintang!” nada
keras membentak keluar dari mulut si gadis dengan bahu bening.
“Baiklah, Kumala. Baiklah. Kali ini saja, tolonglah
dengarkan sahaya.”
“Cepat sekali kamu berubah menjadi tukang peminta-minta,
Raeng?”
“Sahaya sudah melalui banyak rimba, baru kali ini sahaya
tersesat di rimba sebenarnya, Kumala.”
“Sejak kapan kamu jadi pandai mendongeng, Raeng?”
“Sahaya sering melewati ribuan kali tepi jurang dengan
gagah berani, baru kali ini sahaya merasa sangat gemetaran seperti ingin mati
saat melewati tepi jurang betulan.”
“Kamu pengecut yang sombong, Raeng.”
“Sahaya sudah menyebrangi tujuh samudra tujuh lautan
menghadapi badai topan tanpa halangan, baru kali ini samudra yang satu ini
membuat sahaya gelimpungan sebelum layar terkembang.”
“Kamu semakin banyak meracau, Raeng. Kebanyakan minum arak
Nyik Sondang?”
“Tapi, Kumala. Sebagai prajurit yang setia pada tuannya,
baru kali ini sahaya dengan sangat gagah berani membangkang.”
“Siapa peduli?
“Baru kali ini, sahaya begitu merasa sebagai lelaki bebas
yang baru saja melepas diri sebagai tahanan.”
Kumala diam.
“Itu pun karena dia tidak tahu sahaya membangkang.”
Nadanya dipenuhi dengan tawa bangga yang mengenaskan.
Kumala diam.
“Itu pun karena awalnya sahaya patut di depannya, lalu
belingsatan di belakang.”
Kumala masih diam.
“Itu pun sahaya lakukan di belakang tuan pembesar tanpa
sepengetahuan beliau yang agung itu, Kumala.”
Kumala terus saja diam.
“Baru kali ini sahaya ingin sekali tidak menghamba pada
titah pembesar sahaya.”
Kumala masih saja diam.
“Baru kali ini sahaya ingin menjadi sahaya sebagaimana
semestinya. Meski kepala hamba akan jadi landasan sebilah pedang ataupun
serbuananak panah dari busur anak pangeran.”
Kumala masih terus saja tetap diam.
“Baru kali ini sahaya ingin tidak lagi memberitakan kabar
dari sebuah pulau ke pulau seberang, dari sebuah bukit ke bukit seberang.”
Tangan si pemuda itu terlihat kesal dan geram sambil meremas secarik kertas
yang sedari tadi ia kepal.
Kumala masih saja diam.
“Baru kali ini sahaya ingin tidak lagi mengabarkan berita
pembesar dari belantara ke belantara lainnya, dari lutan ke lautan lainnya.”
Kumala memperhatikan gerik wajah paruh baya lelaki
disampingnya yang semakin lama semakin terlihat marah. Kumala masih diam.
“Baru kali ini, Kumala. Sahaya ingin sekali mengabarkan
berita sahaya sendiri. Memberitakan kabar sahaya sendiri.”
Kumala diam kebingunggan.
“Baru kali ini, Kumala.”
Kumala menganggukan kepala, tetapi tetap tak bersuara.
“Kumala, sudikah kamu mendengar kabar itu?”
Kumala diam.
“Dengar baik-baik, Kumala.” Suara lelaki itu terdengar
sangat rapuh.
“Sahaya dengar kamu, Raeng.” Gadis itu membalas iba.
“Kumala, sahaya menyesal sungguh telah meninggalkan kamu
seorang diri dalam kesepian. Asal kamu tahu saja, sahaya pun tiada berbahagia
diluar sana tanpamu.”
“Kini Raeng sudah bersama sahaya lagi.”
“Kumala, sahaya menderita sungguh telah menelantarkanmu
dalam kesendirian panjang ini.”
“Raeng, kini Raeng sudah bersama sahaya kembali. Raeng
tidak usah lah risau pun resah berlebihan.” Suara gadis itu menjadi sangat
teduh di telinga si pemuda.
“Kumala..” suara si pemuda terhenyak berhenti terbentur
oleh sesuatu yang sedang ada di kepalanya.
“Iya, Raeng.. Kumala disini.”
“Izinkan sahaya menghamba pada kamu, Kumala.”
Kumala tidak berkata-kata, namun matanya mulai
berkaca-kaca.
Suara langkah kuda terdengar semakin mendekat.
Beberapa orang berteriak kencang.
“Penyusup!”
Orang lainnya tidak kalah ketinggalan. “Kejar dan bunuh.
Penyusup!!”
Jari Kumala mulai mengusap air mata yang membasahi kedua
pipinya.
“Izinkan sahaya kembali bersamamu, Kumala.”
Kumala meraih bahu si pemuda dan langsung memeluknya. Tanpa
sadar darah mengalir di punggung si pemuda. Beberapa anak panah telah menancap
kencang di punggung si pemuda. Adegan menyedihkan itu berakhir penuh haru. Beberapa
prajurit mengacungkan tombak ke arah sejoli dalam pelukan. Air mata tumpah ruah
di mata Kumala, sedang darah membanjiri tubuh Raeng hingga terasa ke jemari
Kumala saat mendekapnya mungkin untuk yang terakhir kalinya. Di tangan Raeng,
secarik daun lontar kering namun segar tertanda
Raden Gusti Panembah berisikan buah kalimat singkat dalam bahasa yang mudah
dipahami oleh orang-orang Kadoyo:
“Mari sudahi perang ini, Kanda Raden Gusti Toeluh nun bijak, ajari adinda
menjadi saudaramu sebagaimana mestinya pinta ayahanda kita.”
Komentar
Posting Komentar