Aku tahu aku lelah. Badanku lelah. Jiwaku lelah. Kurebahkan jasad hidup
mungil sial ini ke sebuah kasur tanpa dipan. Kuraih remot pesawat telivisi,
kutekan sebuah tombol berisi nomor secara acak. Kotak tabung berukuran duapuluh
satu inci yang disokong lemari kecil menyala. Suara pembawa acara membawakan
kabar berita dari suatu kota, tentang pemerkosaan dan perampokan sebuah rumah.
Sebenarnya aku tidak begitu memperhatikan narasi dan isi yang dibawakan oleh
tim redaksi. Aku terlampau lelah bahkan hanya untuk memperhatikan sekelilingku
sendiri. Kunyalakan pesawat telivisi sebetulnya berharap agar apa yang
kurasakan saat ini tidak benar-benar hampa. Kuanggap suara dari kotak tabung
itu sebagai teman dari keheningan dan kesepian yang ada. Tapi justru malah
makin terasa sepi dan asing aku dibuatnya. Kepalaku berpikir tentang apa saja,
tak terkendali. Bahkan aku sendiri tak tahu sedang memikirkan apa. Kulihat
langit-langit ruangan, beberapa bercak rembesan hujan sialan membentuk sebuah
bekas pudar diantara warna putih terang, seperti tumpahan kopi di kain.
Beberapa hari terakhir cuaca suka berubah seenaknya. Kadang pagi panas,
siang mendadak hujan deras. Atau waktu sore matahari menjatuhkan sinar tuanya,
pas malam petir mengamuk sejadi-jadinya. Aku tidak begitu peduli dengan semua
itu. Yang kutahu beberapa hari terakhir cuaca di dalam tubuhku sedang tidak
baik-baik saja. Aku tahu betul itu. Rasa malas datang bagai badai celaka yang
tak bisa dibendung. Rasa bingung yang tidak tertolong menghantui setiap
tindakan teledorku. Beberapa klien pergi meninggalkanku. Aku merasa lelah.
Lelah badanku. Lelah jiwaku. Tapi semua rutinitasku masih bisa kukerjakan
seperti biasa. Aku ingin istirahat. Maksudku, jiwaku ingin aku meluangkan waktu
untuk beristirahat.
Tubuhku terkulai terbaring di kasur. Rasanya lemas sekali seperti di bagian
perut ada memar besar sehabis ditendang sepatu but dengan mocong berselimut
besi oleh petugas sipir yang berhasil menangkap maling atau seorang penjahat
perang. Bukan di perut, di dada dan di kepala lebih tepatnya. Aku tidak mengerti
kenapa ini tiba-tiba terjadi. Hal menyebalkan ini cukup memeras seluruh
energiku. Aku masih mendengar suara dari tabung televisi cembung di hadapanku.
Berita lainnya terdengar tidak kalah menyedihkan dari berita sebelumnya.
Lagi-lagi, aku hanya mendengarnya sebagai angin lalu. Aku tidak benar-benar ada
di dalam ruangan kamar pengab hari itu. Aku berada dimana-mana. Tapi aku tidak
tahu sedang berada dimana tepatnya, yang kulihat semua belukar semrawut.
Mendung menggelantung di luar sana, di langit. Bisa kurasakan lewat angin galak
yang masuk lewat lubang ventilasi di atas kusen pintu, dan jendela. Angin yang
cukup sejuk, tapi bikin seluruh indera perasaku menggigil termasuk perasaanku.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku? Apa aku terjangkit sebuah virus?
Apakah aku sedang sakit? Pertanyaan-pertanyaan itu berlalu begitu saja tanpa
ada jawaban, menguar bersama angin galak yang numpang lewat. Aku kembali
menggigil. Kutarik sebuah selimut berwarna biru tua. Setelah beberapa jeda
iklan bajingan, perempuan muda pembawa berita mengakhiri segmen terakhir dengan
sebuah berita, lagi-lagi berita menyedihkan, seekor badak yang melahirkan di
sebuah kebun binatang dan bukan di habitat tempat asalnya. Aku mendekap kedua
tanganku di bagian dada. Seluruh tubuh masih terasa menggigil. Kupikir aku
telah bekerja melampaui kemampuanku. Aku kelelahan, pikirku dan sekarang
terserang panas dingin demam sialan. Lebih sial lagi tak ada siapa-siapa yang
bisa membantuku saat ini. Sebuah pemberitahuan pesan singkat masuk ke layar gawai
yang kuletakkan di meja. Tidak kupedulikan. Layar di tabung televisi sudah
berganti dengan sebuah acara sinetron jaman dulu. Juga tidak kupedulikan, hanya
saja suaranya kali ini cukup mengganggu. Kucoba mencari remot televisi sialan
itu, aku terbangun terpaksa dan mencari-cari di sekitar selimut. Tapi belum
kutemukan, sial. Kupikir tadi kuletakkan disana. Nafas di hidungku seperti
mengeluarkan semburan api, dapat kurasakan laknat panasnya menyiksa.
Begitu kutemukan batang remot yang kucari, langsung kumatikan tabung tivi
yang menyala. Aku meraih leptopku dari dalam tas di dekat meja kecil. Masih
kuabaikan gawai dan beberapa pesannya. Aku kembali dalam posisi rebahan saat
menyalakan leptopku. Selimut membungkus hingga kedua pahaku, diatasnya
kuletakan leptop menyala, kubuka beberapa file
dan memastikan beberapa proyek telah rampung sebagai mana mestinya. Kubuka
kotak milis, kupilih tulisan “pesan terkirim”, kupastikan lagi semua yang ada disana
sekali lagi. Benar, semua baik-baik saja. Pesan milis balasan dari kotak milis
pun tak ada yang menunjukan kinerjaku memburuk. Tidak ada yang salah dengan
hasil kerjaku. Aku harusnya tak merasakan sakit separah ini hanya karena
menyelesaikan sesuatu yang sudah biasa kuselesaikan, segila apa pun porsirnya. Aku
pernah demam tapi tidak separah ini. aku pernah sakit lain yang mengganggu
keseharianku, juga tak separah ini.
Aku pikir ada hal lain yang membuatku berantakan seperti sekarang. Kuraih
segelas air di meja. Kuteguk tanpa sampai tandas dan kembali meletakkan di
meja. Sebuah pesan lain masuk di gawaiku. Ada sebuah nama seorang perempuan
nampak di layar. Perempuan itu kukenal dengan baik. Perempuan yang kukenal
sudah lama. Baru kusadari semuanya. Rentetan kejadian yang telah terjadi
beberapa hari terakhir, telah membawaku pada hari ini. Hari dimana seorang
perempuan yang sudah kukenal lama dan dengan baik membawakanku sebuah pesan,
pesan berisi seutas badai celaka.
Baru kusadari, ternyata selama ini telah banyak hal yang terbuang sia-sia.
Ternyata tidak sedikit yang sudah kuhabiskan tanpa ada guna. Bukan bermaksud
menghitung-hitung. Seperti ingatan di kepala, aku tidak dapat menghitungnya
satu per satu dan entah ada berapa banyak ingatan tentang “kita” yang ada
disana. Ingatan-ingatan itu juga tanpa perlu susah payah kuingat, melintas
dengan kecepatan tertinggi bahkan melampaui kecepatan cahaya di semesta ini. Kau
pikir cuma kamu yang ingin “kita” pergi ke jenjang yang lebih serius? Kau pikir
kamu bos diantara hubungan yang selama ini “kita” jaga sehingga seenaknya
sendiri menentukan keputusan?
Baiklah. Pertama, ya kamu bisa sebut aku lelaki payah, menyedihkan dan
mungkin perlu dikasihani olehmu. Tapi ingat, kau pernah ada disana bersama
orang yang kamu maksud, diantara “kita” itu, untuk saling mempercayai satu sama
lain. Kamu pernah hidup bersama orang yang kamu bilang payah itu. Aku tahu kamu
pasti lelah, tapi kenapa kamu tidak pernah bilang baik-baik padaku. Aku tahu
kamu lelah, tapi apakah pergi meninggalkanku begitu saja seperti ini adalah
cara paling baik? Ya, mungkin itu baik, bagimu. Apa kamu tidak pernah berpikir
tentang perasaanku? Halah lelaki macam apa aku sampai sini masih bicara
perasaan, saat orang yang sudah susah payah ia perjuangkan datang membawa kabar
bahwa ia akan dinikahi oleh lelaki lain kemudian pergi berlalu begitu saja
meninggalkanku. Kenapa kamu menundukan kepala dan menyembunyikan wajahmu lalu
pergi seenaknya saja sehabis kalimat terakhir itu tanpa lebih dulu menjawab
pertanyaanku atau mendengar penjelasanku dulu? Aku percaya kamu, bahkan sampai
detik ini. Kamu juga percaya aku, hingga beberapa ribu detik lalu. Kedua,
mungkin kamu adalah, menurut ibumu,
orang yang pantas untuk meninggalkan aku ditengah persimpangan yang
sedang kuperjuangkan sejauh ini. Aku juga ingin membawamu ke tempat “serius”
itu, bukan berarti aku tidak serius sekarang, tapi aku juga butuh waktu. Tapi
baiklah, semua hanya sia-sia, percuma saja apa yang aku lakukan sekarang.
Aku lelah. Aku tahu aku lelah. Badanku lelah. Jiwaku lelah. Aku hanya perlu
waktu untuk beristirahat. Jadi kamu, pergilah sesukamu bila itu terbaik buatmu.
Aku tak akan mengejar apa yang memang sudah seharusnya dan sepantasnya bukan
buatku. Terima kasih atas cara kepergianmu ini. Aku tahu aku melelahkan, tapi
kenapa kamu tidak bilang. Kita perlu bicara. Aku tahu aku masih payah dan kamu,
kamu berhak meninggalkanku. Tapi tidak dengan cara yang seperti ini. Kamu perlu
bicara denganku, begitu juga aku. Aku takkan mencoba menahan pilihanmu lebih
lama lagi, tapi kumohon bicara padaku.
Sial. Aku terkapar di kasur nestapa tanpa dipan ini sambil mengigau
mengharapkan seseorang yang tidak lagi patut diharapkan. Padahal sudah kutelan
beberapa pil supaya pikiranku bisa sedikit saja lebih tenang lagi.
Komentar
Posting Komentar