Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Mungki ketemu Gerry

Sepulang dari Delhi aku tinggal beberapa bulan di Surabaya. Aku tahu kota ini bukan kota yang terlalu baik untuk menemukan ketenangan, kalau “kedamean” mungkin iya bisa ketemu disini. Tapi berhubung ada kontrak kerja dengan rekan lamaku jaman kuliah, akhirnya kuputuskan untuk mencoba bertahan disana. Panas di kota ini tidak jauh dari Jakarta dan Bali, namun biaya hidupnya sedikit lebih terjangkau bagi perantau yang gaya hidupnya serba ngirit sepertiku ini. Oya, sepulang dari India, aku mendapat sedikit perubahan cara berpikir, terutama yang berkaitan dengan ingatan dan masa lalu. Aku sudah bisa menerima segala kegetiran yang pernah terjadi di jok belakang kendaraan yang tak pernah bisa berhenti bernama waktu. Kupikir, kebebasan absolut itu ada, ternyata keliru. Perjalanan selama di negeri Gandhi atas saran seorang ahli yoga di Bali telah membuatku sedikit mengerti bahwa segala sesuatu saling terkait, tidak ada yang benar-benar memiliki prinsip bebas. Misalnya, saat perutku lapar, m...

Mungki

Dari sepasang jendela dengan tirai putih bersih terlihat di dalam ruangan itu hanya ada dua orang. Hari itu masih siang. “Ki, ada yang pengen kenalan sama kamu tuh.” Suara Agnes dari jarak delapan langkah. Aku merapikan alat foto, tidak mempedulikan perkataan tentang seorang temanku itu. Aku masih sibuk sendiri meletakan satu persatu kamera dan lensa ke dalam sebuah ransel. “Ki, kamu kok diem bae.” Saat tangannya meraih sisa lensa yang belum dimasukkan, aku melemparkan tatapan sinis ke arah Agnes. “Ayolah Nes, kan sudah kubilang, aku lagi fokus ke kerjaan nih, abis ini kan masih ada sesi dengan klien lain. Aku sudah tahu maksudmu akan kemana Nes.” Agnes. Cewek yang selalu ada saat kubutuhkan. Tubuhnya tidak begitu tinggi untuk ukuran cewe, punya mata sipit, kalau ngomong suka nyerocos, rewelnya bukan main, bisa tidur dimana aja kalau lagi kecapean. Kelebihannya, doyan makan tapi gak gemuk-gemuk, suka jalan kemana aja, tipe fighter, masih single, baru aja putus si lebih ...

Layangan

Kalau bisa, aku ingin tetap menjadi anak kecil di badan anak kecil. Menikmati dunia bermain tanpa batas. Tanpa ada tuntutan ini itu. Hal terbesar yang menjadi masalah adalah ketika mendapat pekerjaan rumah dari sekolah. Beruntungnya, ibuku selalu membantu menyelesaikannya, aku tahu ini curang, tapi kadang kalau ibu tidak mengetahui apa isi materi pelajaran yang telah menyesuaikan jaman, aku jadi kelabakan. Maklum, di negara ini, kurikulum pendidikannya selalu berganti, tidak pernah memiliki konsistensi. Jadi tidak aneh, kalau kurang jelas kemana arah negara ini akan berdiri. Aku bisa pergi keluar rumah tanpa takut kulitku gosong disengat panas matahari. Aku bisa mengisengi teman sepermainanku sampai menangis dan sebal padaku, tapi besoknya kita bermain bersama lagi. Aku bisa pergi ke kali dan berenang disana tanpa takut terserang penyakit. Aku bisa menghabiskan waktuku untuk bermain-main. Meski saat hari menjelang sore, ibuku selalu khawatir. Aku selalu pulang larut. Hanya untuk mand...

Cletak-Cletuk Tenun Punah, Siapa Yang Salah?

Sunarih (60), penenun kain Gedogan, pic by @callme_ron_ Indramayu, sebuah kota di pesisir utara Jawa yang terkenal sebagai penghasil buah mangga. Tapi tunggu dulu, selain mangga, kota yang biasa disebut Dermayu oleh warganya ini, juga memiliki ciri khas lainnya, yaitu Tenun Gedogan. Namun sayang, dari berbagai pemberitaan tentang kain ini, tidak ada satupun informasi yang menggembirakan. Salah satu media nasional menulis sebuah ringkasan tentang kain ini bahwa keberadaannya sudah hampir punah. Hal yang sama juga ditemukan pada artikel-artikel di media lokal. Oleh sebab itu, beberapa pemuda berinisiatif untuk menggelar sebuah acara untuk mengampanyekan busana ini dengan cara yang santai dan ringan. Begitulah kemudian Cletak-Cletuk diadakan, juga menjadi sebuah kegiatan yang didasari dengan penuh kesadaran dalam rangka melestarikan busana tradisional oleh beberapa pemuda Juntikebon, kecamatan Juntinyuat, Indramayu. “Supaya tidak terkesan formal dan kaku. Dan memang tujuannya ...

Siapa Dia

Tak ada yang salah denganku. Semuanya baik-baik saja. Paling tidak itulah yang kurasakan sejauh ini. Tapi entah kenapa, beberapa hari ini tidak sedikit kawanku yang mendadak jadi cerewet. Mereka mengomentari sikapku dengan begitu aneh. Keadaanku ya selalu seperti ini, pikirku. Sudah seperti biasanya. Tapi di mata mereka, ada sesuatu yang perlu dirubah, katanya. Hari ini sudah seminggu seorang perempuan pergi dan memutuskan hubungan denganku. Ia perempuan baik. Hei, tunggu, ia bukan pacarku. Kami tidak pernah mengklaim diri memiliki hubungan sespesial itu. Kami berbicara, berbagi cerita tentang orang yang kami suka dan tidak. Sesekali di akhir pekan, kami pergi ke bioskop bersama dan menikmati santap malam seadanya di warung lesehan di trotoar jalan kota. Kami juga sering pergi ke perpustakaan berdua. Kami merasa nyaman satu sama lain. Paling tidak itulah yang kurasakan. Cukup egois memang, tanpa menanyakan apa yang ia juga rasakan terhadapku. Tapi sejauh aku bisa melihatnya terse...

Kamu Kenapa

Kenapa pagi itu kamu harus meneleponku. Di Mumbai, masih setengah lima pagi. Di Surabaya sudah pukul enam. Aku baru bangun. Setelah membuka bungkusan selimut, kuambil sebuah gelas berisi air mineral. Keteguk beberapa kali. Kerongkonganku yang kering mendadak dibanjiri sebuah aliran benda cair yang sejuk. Kutaruh kembali gelas itu di meja. Kuambil telepon genggam yang dari semalaman kubiarkan dayanya diisi. Setelah menggeser layarnya ke bagian atas, kutekan ikon pesawat bergambar biru. Tidak beberapa lama setelah itu, beberapa pesan pendek, surat milis dan layanan iklan bermunculan di jendela layar lima inci yang sedang kugenggam. Kubuka ikon pesan yang masuk, kulihat ada nama ibuku, jadi kukira pagi itu pesan penting darinya. Namun ketika kubuka, pesan itu hanya berisi pertanyaan seputar kabar. Kubalas bahwa aku baik-baik saja sembari diselipi ikon senyum dan gambar hati supaya tidak membuatnya khawatir. Masih ada pesan di kotak masuk. Tapi semuanya tidak menarik perhatianku, merek...