Langsung ke konten utama

Mungki ketemu Gerry


Sepulang dari Delhi aku tinggal beberapa bulan di Surabaya. Aku tahu kota ini bukan kota yang terlalu baik untuk menemukan ketenangan, kalau “kedamean” mungkin iya bisa ketemu disini. Tapi berhubung ada kontrak kerja dengan rekan lamaku jaman kuliah, akhirnya kuputuskan untuk mencoba bertahan disana. Panas di kota ini tidak jauh dari Jakarta dan Bali, namun biaya hidupnya sedikit lebih terjangkau bagi perantau yang gaya hidupnya serba ngirit sepertiku ini. Oya, sepulang dari India, aku mendapat sedikit perubahan cara berpikir, terutama yang berkaitan dengan ingatan dan masa lalu.
Aku sudah bisa menerima segala kegetiran yang pernah terjadi di jok belakang kendaraan yang tak pernah bisa berhenti bernama waktu. Kupikir, kebebasan absolut itu ada, ternyata keliru. Perjalanan selama di negeri Gandhi atas saran seorang ahli yoga di Bali telah membuatku sedikit mengerti bahwa segala sesuatu saling terkait, tidak ada yang benar-benar memiliki prinsip bebas. Misalnya, saat perutku lapar, meski pikiranku bisa menyangkalnya untuk beberapa saat, si perut tetap kudu diisi sesuatu yang dapat memuaskannya, barulah ketika sudah terisi pikiranku juga mulai fokus kembali untuk memikirkan yang sedang sepatutnya dipikirkan. Bisa sih memikirkan sesuatu pada saat perut kosong, tapi tetap perlu waktu, sebagi manusia biasa yang memiliki keinginan dan nafsu, ya kemauan perut kadang lebih dulu harus diprioritaskan, tapi ya secukupnya saja, tidak berlebihan. Yang terpenting adalah bagian bagaimana dan dengan apa kita mengisi perut kosong itu, bisa dengan nutrisi yang baik bisa juga dengan gizi yang tidak menyehatkan. Begitu juga saat pergi ke India, aku tidak bisa seenaknya pergi kesana tanpa ada dokumen resmi yang mewakiliku sebagai masyarakat global, aku perlu mengurus administrasi mulai dari identitas di pasport, tiket penerbangan, dokumen visa hingga dimana nantinya aku akan tinggal selama di Bollywood.
Dan yang utama untuk mengurus semua itu adalah uang. Hari-hari gini semua orang bergantung pada uang. Semua orang berburu uang untuk bertahan hidup, mungkin tidak bisa membeli segala hal, tapi segala hal perlu uang sekarang. Kebebasan absolut hanyalah bualan. Tidak ada itu. Ketika aku ingin sesuatu berjalan dengan baik, pasti butuh sesuatu yang harus direncanakan dengan baik pula. Memang, ada hal-hal yang diluar kemampuan manusia yang bisa terjadi tanpa bisa diduga. Atau, kesialan yang kita dapatkan dari ketidaksiapan orang lain menjalankan sesuatu juga bisa merubah rencana baik yang awalnya sudah kita susun secara rapih. Akan selalu ada faktor dari luar dan dalam yang saling berkaitan dan berbenturan. Jadi bagiku, kebebasan absolut itu hanyalah omong kosong. Entah bagaimana awalnya aku bisa berpikir seperti, hanya ingin saja untuk ditulis. Yang mesti dibebaskan adalah pemikiran, kita biasanya terlalu reaksioner terhadap sesuatu, akhirnya tanpa disadari hal ini memicu kita sebagai individu yang tertindas dan tidak bebas. Inilah yang ingin kupelajari dari diriku sendiri.
Aku tahu aku tetap bisa hidup dengan kemampuanku sendiri, tetapi sombong bila aku tidak membutuhkan orang lain di sekitarku. Agnes misalnya, tanpa dia, aku tidak bakalan kenal siapa-siapa sekarang. Ia punya banyak relasi dimana-mana, itupula lah yang kemudian membuatku mengambil pekerjaan di Surabaya ini. Aku hanya ingin merasakan suasana baru. Apa salahnya mencoba. Sudah hampir dua bulan tak terasa aku pindah ke kota pesisir utara Jawa Timur ini. Beberapa rekanku sudah sangat akrab denganku secara pribadi, hingga kami sering keluar menghabiskan waktu bersama seperti ngopi di kedai, futsal atau melakukan kegiatan outdoor kalau sempat. Namun, yang masih selalu rutin kukunjungi adalah seorang teman lama. Ia bekerja di sebuah leasing, tinggal di sebuah kontrakan, kos-kosan lebih tepatnya, di tengah kota. Aku lebih sering kesana saat malam, bukan untuk mesum ya, tapi ada sebuah warung makan yang menu rawonnya juara, sekalian menyambung komunikasi pertemanan kan tidak ada salahnya. Seperti malam ini, aku mampir kesana. Sore tadi hujan deras, jadi terdapat banyak genangan air di jalanan. Lampu kota yang nanar bikin sakit mata kalau dipandang lama-lama.
Gerry teman lama, gamer orikintil, hobi jomblo yang selalu sok tahu saat membahas apasaja terutama tentang lawan jenis. Oya, namanya seperti cemilan ya. Biar laki-laki, aku dan Gerry dan beberapa teman dekatku yang lain, sudah sering bertukar cerita perihal asmara mulai dari yang paling galau hingga yang paling konyol, misalnya, saat Gerry baru pertama kali berani nembak cewe saat sudah masuk semester empat perkuliahan, untung waktu itu ia diterima walapun hanya bertahan beberapa bulan karena alasannya berbeda keyakinan. Aku dan teman-teman lain selalu kepingkal-pingkal mengingat kejadian ini, bagaimana tidak, waktu itu Gerry nembak si doi di sebuah kafe dengan meminta bantuan kami, teman-temannya, dasar si Gerry, pengalaman pertama memang kadang menyebalkan, saat tengah duduk berhadap-hadapan dengan doi, Gerry malah buka kertas isi contekan buat nembak dan matanya Gerry tertunduk ke catatan kecil itu tanpa memandangi mata si doi. Doi sebenarnya tahu, makanya habis itu si Gerry diterima, lebih kepada merasa kasihan dan memang Gerry punya tampang yang cukup lumayan buat diajak kondangan. Jadilah mereka jadian dengan cara aneh itu. Itulah kenapa aku malam ini juga kebelet main ke tempatnya. Aku ingin cerita terbaru dari kehidupannya. Aku sendiri ingin cerita sedikit tentang seorang perempuan yang saat ini sedang dekat denganku, lebih tepatnya terlalu agresif mendekatiku. Perempuan rekan satu kantor beda divisi yang kutemui saat rapat target bulanan. Ia sedang ditugaskan di kantor cabang di luar kota beberapa hari.
Aku yang sedang mencoba membuka hati pada siapa saja, akhirnya ya membalas pesan-pesan “pribadi” darinya, meskipun dari awal modusnya adalah obrolan pekerjaan. Namanya Siska, tubuhnya semampai dan mengundang birahi lelaki mendadak berontak saat melihat bentuk tubuhnya. Ya tidak munafik, aku juga merasakannya. Kuceritakan ke Gerry berharap dapat titik terang kalau aku tidak cuma nafsu sama Siska, tapi juga benar-benar butuh keberadaanya, karena beberapa hari ini ngga ketemu dia rasanya ada yang terganggu. Aku bawa martabak terang bulan dan beberapa gorengan ke tempat Gerry, kami sama-sama bukan perokok biasanya dirokok eh, jadi ya larinya ke ngemil kudapan.
“Eh liat nih Ger, baru aja diomongin, Siska ngewhatsapp nih. Ngomong kangen sembarang malah.
“Kontol. Siska ga kangen kamu itu Ki. Siska kangen kontolmu itu paling. Itu jawaban paling tepat yang kupunya saat ini buatmu. Makanya jarak begitu mengganggu hubungan kalian, ayo ngaku?”
“Ngawur.”
“Atau kontolmu sing kangen sama memeknya Siska nih sebenarnya.”
“Ngomongmu kok kelamin terus si Ger? Kepalamu sudah pindah ke bawah apa?”
“Kayak baru kenal aku kemaren sore aja kamu Ki.. Kamu ini laki-laki, lah Siska perempuan, kalau kangen ya obatnya ketemu, yakin pas ketemu cuma ngobrol saja? Yakin ndak gesek-gesekan anggota badan? Jaremu mau, Siska sudah berani maen ke kosanmu.”
“Yo ndak lah Ger, aku sayang sama Siska. Ndak berani aku gitu-gituan.”
“Loh, tapi tetep aja pas jalan bareng kalian ambil kesempatan pegang-pegangan tangan kan?”
“Loh kalau itu kan ya wajar Ger.”
“Lah memang sejak kapan tangan bukan jadi bagian anggota fisik Ger? Aku kan tadi nyebutnya gesek-gesekkan anggota badan, memang di pikiranmu apa toh? Kelamin juga kan mikirmu?”
“Ya persepsimu di awal nggiringnya gitu kok.”
“Nggiring sudah keluar dari Nidji, Ki. Saiki awakmu ki jane kate lapo toh? Ngegalau ngene tok? Piye kate maju bangsa ini lek rumangsamu ngene ki, Ki? Isin, awakmu saiki nang kota pahlawan loh, mosok ngegalau.”
“Woohh ndak jelas kok gowo-gowo Giring sama pahlawan si Ger. Lain crito lek iku. Nguawur awakmu.”
“Yo awakmu juga ndak jelas Ki. Ngene wis, Siska kan pulkam cuma dua-tiga hari, yaopo lek kamarmu tak sewo Ki?”
“Eh jangan macem-macem kamu Ger, nanti kamerku mambu amis lendirmu pisan, ndak wis ndak seru ah.”
 “Loh kan kelamin terus pikiranmu, ndasmu wis pindah tah?”
“Ya mau dipake apalagi lek ndak ngunu, kosanmu kan ndak bebas kayak punyaku.”
“Gimana mau bebas lah wong dekat sama tempat ibadah umat Ki. Jadi gini, temenku besok kan mau main kesini, lah lek kutampung di kosanku ndak muat kayaknya, ya apa kalau kubawa ke tempatmu yang rada elit itu?”
“Wani pirooo?”
“Udah hajar dulu ini giliranmu Ki.” Gerry menyodorkan satu sloki berisi cairan bening berwarna kuning keorenan mirip air seni dari sebuah botol dengan tempelan warna hitam, kedua bola matanya terlihat bengkak seperti habis dihantam bogem.
Aku meraih sloki dari tangan Gerry, kemudian meneguknya dengan satu kali tenggak, suara tegukan di tenggorokan jelas terdengar saat mataku terpejam dan bagian baguku kelojotan secara bersamaan. Malam itu kami berdua menghabiskan satu botol wiski berdua. Kami menikmati pertemuan karib yang telah lama tak bertemu itu sampai tidak sadarkan diri dan tertidur sembarang. Muka Gerry tidur diatas potongan terang bulan yang tersisa. Dan aku terkapar entah sejak kapan. Obrolan kami yang terakhir tak pernah kami ingat bahkan hingga pagi menjelang. Kami merasa kepala kami dipenuhi sesuatu saat bangun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...