Dari sepasang jendela dengan tirai putih bersih terlihat di dalam ruangan itu
hanya ada dua orang. Hari itu masih siang.
“Ki, ada yang pengen kenalan sama kamu tuh.” Suara Agnes dari jarak delapan
langkah.
Aku merapikan alat foto, tidak mempedulikan perkataan tentang seorang temanku
itu. Aku masih sibuk sendiri meletakan satu persatu kamera dan lensa ke dalam
sebuah ransel.
“Ki, kamu kok diem bae.”
Saat tangannya meraih sisa lensa yang belum dimasukkan, aku melemparkan
tatapan sinis ke arah Agnes.
“Ayolah Nes, kan sudah kubilang, aku lagi fokus ke kerjaan nih, abis ini
kan masih ada sesi dengan klien lain. Aku sudah tahu maksudmu akan kemana Nes.”
Agnes. Cewek yang selalu ada saat kubutuhkan. Tubuhnya tidak begitu tinggi
untuk ukuran cewe, punya mata sipit, kalau ngomong suka nyerocos, rewelnya bukan
main, bisa tidur dimana aja kalau lagi kecapean. Kelebihannya, doyan makan tapi
gak gemuk-gemuk, suka jalan kemana aja, tipe fighter, masih single, baru
aja putus si lebih tepatnya. Kekurangannya,
cerewet, cerewet dan cerewet, titik.
Agnes seorang maku-up artist dan bisa
dibilang ia adalah bos di kantorku. Ia
punya banyak klien. Jadwalnya satu minggu, bisa tujuh hari siaga kerja tanpa
libur. Punya banyak rekanan. Dan... meski tomboy, tapi asiknya bukan kepalang,
ngga ada laawan deh, cuma ya kudu sabar aja pas dia lagi ngomel-ngomel tentang
sesuatu.
“Ya plis, Ki. Kali ini aja, buat terakhir kalinya. Abis itu udah deh ga
kukenalin sama siapa-siapa lagi. Dia teman lamaku dulu waktu SMA.”
“Ah ntar aja lah Nes. Gue lagi males ah gitu-gituan.”
“Gitu-gituan apasih Ki? Kok kamu mesum sih jadinya?”
“Loh yang mesum kan persepsimu, Nes.”
“Yaudah ayo lah ngopi aja biar fresh nih
kepala. Anaknya mumpung lagi free
sore ini, Ki. Kamu tuh gimana sih. Nanti urusan sama klien bisa kuminta Angga
deh yang urus. Dia bisa back up kamu
kok. Atau abis ini aja sekalian makan.”
“Kok kamu maksa gini sih Nes.” Sambil merapikan tripod kamera dan memasukan
ke dalam tas ransel. Aku berdiri, meraih tas dan mengenakannya di punggung,
juga menjinjing tas berisi lampu pencahayaan. Aku lalu bergegas pergi ke luar
meninggalkan Agnes.
Cerita dari Agnes
Itulah Mungki. Cowok berkulit cerah, tinggi dan berwajah oriental.
Tipe-tipe kesukaan cewe K-Poppers lah. Sayang, mukanya lagi suka murung
akhir-akhir ini. Banyak klien yang komplain padaku. Awalnya kukira, memang
hanya kendala teknis saja. Namun, dari hari ke hari kok makin banyak saja yang
mengirim testimoni kurang enak tentangnya. Hal inilah yang kemudian membuatku
penasaran apa yang sedang terjadi padanya, apa ada hal buruk yang merubah
sikapnya belakangan ini. Aku temannya sejak sekolah menengah pertama, jadi
mudah untuk mengetahui kenapa ia begitu demikian belakangan. Mungki orangnya
dingin. Bukan pura-pura dingin, tapi memang begitulah selama ini aku
mengenalnya. Ia tipikal pemuda yang cukup dewasa, lebih ke sok dewasa sih,
selalu menyimpan masalah apa saja sendirian seolah ia bisa menyelesaikannya
tanpa perlu orang lain. Paling tidak itulah yang kukenal dari Mungki selama
berteman dengannya sejauh ini. Terlepas dari obrolan santai dengannya, ia
lelaki yang sangat menghargai perempuan dan tidak munafik. Ketika membahas
kelamin ya tanpa disensor-sensor, meski kadang jorok, tapi apa yang ia
bicarakan ada benarnya. Kalau saat ngobrol dengan kawan-kawan tongkrongannya
yang tidak seberapa itu, Mungki termasuk orang yang berada di tengah-tengah dua
kutub. Ia tidak banyak bicara pada orang yang tidak begitu ia kenal, mungkin
ini yang kemudian pada lihat Mungki sebagai individu yang dingin, padahal saat
ketemu klien ya beda lagi. Nah, yang paling parah dari Mungki ialah, ia jarang
mandi.
Jadi, sebulanan lalu aku mendapatkan pesanan dari klien melalui kotak milis
kantorku. Kami mengatur jadwal untuk bertemu dan membahas konsep pernikahan
yang diinginkannya. Ya, aku selain menjadi seorang make up artist, aku juga bertugas sebagi konsultan pernikahan. Aku
bertemu dengan si klien di sebuah kafe. Pertama, kutemui seorang lelaki yang
duduk di bangku tengah. Ia mengenalkan namanya, begitu juga aku. Tanpa
basa-basi panjang, kami langsung saling bertukar pendapat tentang
penyelenggaraan pernikahan. Aku menyalakan Mac,
menyodorkan beberapa template dan
konsep padanya melalui lembar demi lembar PowerPoint.
Ia memilah-milah. Pelayan datang menghampiri, kami memesan minuman. Kupesan
jus melon, ia memesan secangkir kopi espresso Toraja, kalau tidak salah. Kami
melanjutkan pembahasan tentang konsep simple
wedding. Kafe siang itu masih sepi. Udaranya sejuk. Beberapa sudut
diterangi lampu kecil seperti yang biasa dijumpai di pohon natal. Pesanan kami
tidak lama datang. Minum dulu, katanya. Kulakukan permintaanya. Ia juga meneguk
secangkir kopi di hadapannya. Sebelum pelayan meninggalkan kami, kupesan lagi
sebotol air mineral.
“Aku suka beberapa konsep ini. Tapi keputusan akhir nanti ada di tangan
calon istriku, mba.” Ia sudah menunjuk dan memilih satu konsep garden party pada lembar kerja yang
kupersiapkan.
“Oh iya, tidak apa-apa Pak. Yang jelas, nanti tim saya pastikan siap
mengkondisikan.”
“Sebentar lagi dia sampai kok.”
“Oh iya Pak, siap.” Aku cukup terkejut mendengarnya. Ia kira semua
keputusan sudah ada di pihak si laki-laki. Ternyata orang ini cukup demokrasi
juga, pikirku. Tapi kenapa mereka tidak barengan, pikiran ini menyerbuku, ah
paling si perempuan masih sibuk mengurus pekerjaanya.
“Ini sudah satu paket sama katering, fotografer dan lain-lainnya kan mba,
ya?” imbuhnya sambil masih menatap ke layar Mac.
“Oh iya Pak, sudah tentu.” Tiba-tiba sengatan es menyentuh kulitku dan
grogi memberikan serangan mendadak. Mungkin ini karena suasana kafe yang terbuka
dan dekat sekali dengan bukit serta pegunungan di sekitar yang sejuk. Tidak
lama, mendung menggantung merubah langit biru menjadi sedikit kelabu, di tempat
agak jauh terlihat langit putih sendu terhampar.
Si calon lelaki membuka ponsel di mejanya. Aku cuma diam, sempat sesekali
melihat ke arah wajahnya yang cemas lalu kupalingkan ke hal lain di
belakangnya, sebuah lukisan abstrak yang tergantung di dinding. Kurasa beberapa
pesan singkat juga singgah di ponselku, tapi disaat seperti ini aku jarang
menyentuh gawai kecuali hanya saat ada panggilan masuk saja baru kuraih dari
dalam tas. Lelaki di hadapanku sudah selesai dengan ponselnya dan meletakan
benda canggih itu di meja. Setelah itu, kami lebih banyak terdiam beberapa
saat, tanpa terlibat dialog pembicaraan topik lain. Ada rasa kurang nyaman yang
kurasakan, seperti canggung terhadap sesuatu, ingin kumengajaknya ke
pembicaraan konsep pernikahan lagi tapi rasanya sudah selesai dibahas semua.
Jadi kuurungkan niatku. Inginku bergegas pergi namun ia masih menunggu si calon
perempuan. Situasi ini sungguh seperti jebakan waktu. Tidak biasanya ini
terjadi, biasanya juga tidak ada kendala berarti apalagi sampai mengalami hal
barusan ini. Disaat kami terdiam, ia kemudian memecah suasana, setelah melihat
di kejauhan kehadiran seseorang yang hampir masuk ke dalam kafe.
“Itu calon istriku datang.” tunjuk si klien sang calon penganten ke arah
pintu masuk. Ketika kulihat ke arah sana, wajahnya belum kelihatan hanya dres
krem dengan tali dan bagian punggungnya yang mulus dibiarkan terbuka, begitu
daun pintu kembali tertutup, barulah si pemilik wajah dari perempuan yang baru
saja masuk dan memperlihatkan wajahnya. Aku mendadak gelagapan, dibuat kaget
bukan kepalang. Aku ternyata mengenal si perempuan, dengan baik malah. Tapi
reaksi si perempuan yang juga mengenalku hanya datar saja seolah kami hanya
teman biasa. Lalu ia menghampiri si calon laki, menyalaminya dengan cium pipi
kanan cium pipi kiri agak manja. Kemudian ia menyalamiku, juga.
“Hi, Nes. Apa kabar?” begitu kalimat pembuka yang ia lontarkan ke arahku.
Aku diam semakin gelagapan. Tapi aku berhasil menutupi wajah kagetnya dan
bereaksi biasa saja pula. Mengendalikan sikap disaat seperti ini sungguh sangat
menyulitkan, tapi kucoba sebisaku semampuku.
“Kabar baik, Put.” Ucapku dengan tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Putri. Yang kutahu, sejauh ini ia adalah masih pacar Mungki. Bahkan
beberapa hari yang lalu, kami sempat menghabiskan waktu makan malam bersama
dengan akrab. Ia menghibur hari patah hatiku malam itu. Ia juga begitu hangat
dan mesra pada Mungki malam itu. Tak mungkin dalam beberapa hari ini terjadi
sebuah kejadian yang tiba-tiba memisahkan mereka. Aku yakin itu dengan betul. Dan
hari ini, Putri merencanakan sebuah pernikahan bersama orang lain dan orang itu
bukan Mungki. Menggunakan jasa WOku
lagi. Kesaksian macam apa ini. Aku ingin segera menghubungi Mungki saat itu
juga. Tapi aku tidak bisa, kalaupun bisa pun tak ada gunanya. Secara
profesional, kemudian aku masih harus melanjutkan presentasi konsep sekali lagi
kepada klien-klienku yang salah satunya merupakan pacar atau mantan pacar dari
temanku sendiri. Meski agak berat menerima kenyataan ini, aku melanjutkan
lembar demi lembar konsep yang sudah kuringkas dan sederhanakan di Mac. Hingga sore hari tiba, sesi
berakhir dengan satu pilihan yang telah disepakati bersama antara Putri dan si
calon laki. Aku bergegas pulang, tidak ke rumah, tapi ke kantor.
“Sampai ketemu di pertemuan berikutnya, untuk penandatangan DPnya ya.” Begitu kalimat terakhir yang kuucapkan
pada sepasang kekasih di kafe sore itu.
Jalanan sore sedang padat-padatnya. Suara bising klakson saling susul satu
sama lain tapi kendaraan sang empu tidak bergerak kemana-mana. Mungki ada
dikantor saat aku tiba. Namun aku tidak langsung membahas kejadian yang baru
saja terjadi padanya. Aku lebih memilih menjelaskan bahwa klienku telah
menyetujui salah satu konsep tanpa memberi tahu nama si klien. Lebih jauh lagi,
aku hanya menjelaskan pilihan konsep itu dan lokasi hari H. Mungki tidak
bereaksi banyak. Begitulah ia, meski pun jadwal motretnya padat, ia tidak
terlihat begitu tertekan. Ia datar tapi dingin. Kupikir aku takut kalau kuceritakan
kejadian itu sekarang, saat ini bukan waktu yang tepat. Mungki adalah tipe
orang pendiam, jadi pikirku pendekatannya akan berbeda dengan tipe orang yang
selau tampil riang dan lebih terbuka. Meski sudah sering kesana-kemari bersama,
untuk urusan hati, aku tetap tidak bisa bicara segampang membuat obrolan
tentang kelakuan klien saat dihadapan Mungki. Aku masih bisa menahan untuk
tidak terlalu frontal membahas kehidupan pribadi, terutama soal hati dengannya,
kalau bukan ia lebih dulu yang memulai. Karena yang kutahu, selama ini, baru
bersama Putri lah kisah asmara Mungki yang kelihatannya paling membahagiakan
dan sedikit drama terjadi.
Tapi
akhirnya kusadari juga kenapa akhir-akhir ini beberapa klien komplain tentang
kinerja Mungki. Apa berarti Mungki juga sebenarnya sudah mengetahui hubungan
Putri bersama lelaki lain, pikirku. Atau mereka memang sudah resmi tidak
pacaran. Sore itu, kuputuskan untuk tetap tidak membahas siapa klien yang sudah
deal dengan WOku. Akhirnya, aku berencana mencari pengganti Mungki sebagai
fotografer, buat jaga-jaga kalau sampai dia kenapa-kenapa mendekati hari H.
Komentar
Posting Komentar