| Sunarih (60), penenun kain Gedogan, pic by @callme_ron_ |
Indramayu, sebuah kota di pesisir utara Jawa yang terkenal sebagai
penghasil buah mangga. Tapi tunggu dulu, selain mangga, kota yang biasa disebut
Dermayu oleh warganya ini, juga memiliki ciri khas lainnya, yaitu Tenun
Gedogan. Namun sayang, dari berbagai pemberitaan tentang kain ini, tidak ada
satupun informasi yang menggembirakan. Salah satu media nasional menulis sebuah
ringkasan tentang kain ini bahwa keberadaannya sudah hampir punah. Hal yang
sama juga ditemukan pada artikel-artikel di media lokal. Oleh sebab itu, beberapa
pemuda berinisiatif untuk menggelar sebuah acara untuk mengampanyekan busana ini
dengan cara yang santai dan ringan. Begitulah kemudian Cletak-Cletuk diadakan, juga menjadi sebuah kegiatan yang didasari
dengan penuh kesadaran dalam rangka melestarikan busana tradisional oleh
beberapa pemuda Juntikebon, kecamatan Juntinyuat, Indramayu.
“Supaya tidak terkesan formal dan kaku. Dan memang tujuannya juga supaya
bisa menarik muda-mudi ikut berpartisipasi.” kata Alif, salah satu panitia
penyelenggara.
Kain Gedogan merupakan kain tradisional yang sangat ramah lingkungan. Dalam
menghadapi pemanasan global yang semakin hari semakin memburuk dan produksi
kain konvensional yang bertendensi merusak lingkungan, maka dengan memakai kain
ini, bisa digunakan sebagai salah satu media alternatif dalam mengurangi efek
jangka panjang dari gejala alam tersebut. Pada jaman dahulu kain ini digunakan
sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan pada sang illahi. Motifnya yang tidak
jauh-jauh dari hasil bumi setempat, digunakan sebagai tameng pengusir roh jahat.
Buah, pepohonan dan hewan merupakan corak yang terdapat di tenun Gedogan ini.
“Dahulu, warna kain ini dibuat dari air rebusan dedaunan dan pohon.” Kata Supali
Kasim, budayawan setempat.
Acara ini digagas dengan format diskusi dan pelatihan dasar. Berisi beberapa
sesi dengan pembicara utamanya merupakan pelaku langsung dari produsen kain
tenun Gedogan, event yang diselenggarakan ba’da Ashar (07/09) ini dibuka dengan
tarian tradisional.
“Sebagai bentuk apresiasi pada acara utama, pengisi acara juga kami
usahakan tidak jauh-jauh dari yang tradisional” imbuh Alif.
Sayangnya, pemberitaan di media benar adanya. Ketika kami bertemu dengan
salah satu penenun di sela acara, Ibu Sunari, ia mengatakan bahwa jumlah
penenun sampai hari ini hanya tinggal empat orang saja, sangat bisa dihitung
dengan menggunakan jari tangan. Lamanya proses pembuatan, kelangkaan alat dan
keuntungan (secara ekonomi) yang tidak begitu besar, membuat beberapa orang di
kampungnya lebih memilih jenis pekerjaan lain. Kalau bukan karena kesadaran mempertahankan
“warisan” kemampuan langkanya (sekarang ini) yang ia dapat sejak kecil, Ibu Sunarih
mungkin sudah meninggalkan kegiatan menenun ini.
| pic by @callme_ron_ |
“Mungkin karena prosesnya lama dan butuh kesabaran tingkat tinggi, jadi
banyak yang tidak kuat, apalagi hasilnya tidak seberapa kalau ngomongin soal
untung (secara ekonomi), saya bertahan karena saya masih mampu, alatnya ada dan
orang yang pesan (kain tenun) juga kadang masih ada.” Kata Sunarih sambil
memperagakan gerak arah alat tenun.
Kain tenun Gedogan bisa dijumpai di beberapa kota selain Indramayu. Namun secara
motif, kain disini memang akan nampak berbeda dengan daerah lain. Hal ini
didasari oleh penghayatan sang penenun terhadap lingkungan sekitar. Hubungan manusia
dan alam sekelilingnya di tiap tempat berbeda-beda, begitu juga tumbuhan dan
makhluk hidupnya. Alat yang digunakan untuk menenun pun tidak begitu berbeda
jauh dengan alat tenun yang ada di daerah lain. Lagi-lagi, yang membedakan
adalah nilai estetis dari corak sosio-kultur masing-masing daerah yang
tergambar di kain tenunnya.
“Tenun Gedogan Junti memiliki nilai estetika tersendiri, meski pun alat dan
bahannya hampir sama dan bisa dijumpai di kota lain, misalnya di Jawa Timur. Terlepas
dari penamaannya yang diciptakan oleh pemerintah bukan dari pengrajinnya
sendiri, kain ini tetap istimewa untuk dikenakan di berbagai acara.” Ucap
Supali Kasim, budayawan setempat.
Acara yang digelar diperbatasan desa Juntikebon-Dadap ini terasa sejuk
karena berdekatan dengan pantai utara. Hembusan semilir angin membuat obrolan
di tiap diskusi menjadi mengalir lepas. Kafekita
menjadi venue acara juga menyediakan ruangan terbuka yang cukup luas
sehingga saat Ibu Sunarih mulai mempraktekkan proses pembuatan kain tenun, para
peserta bisa melihatnya dari dekat tanpa banyak kendala.
“Acara Cletak-Cletuk diadakan bertujuan bukan hanya untuk memamerkan keberadaan tenun
gedogan dan pengrajinnya yang tinggal sedikit, tapi juga mengajak siapapun, (khususnya)
muda-mudi supaya tergerak ikut melestarikan tenun ini bukan hanya sebagai
pembeli dan pemakai, tapi juga tergerak ikut memproduksinya sendiri. Harapannya
acara ini terus ada dan mengajak siapa saja, tidak harus orang Indramayu.” imbuh
Alif di akhir acara.
Komentar
Posting Komentar