Kalau bisa, aku ingin tetap menjadi anak kecil di badan anak kecil.
Menikmati dunia bermain tanpa batas. Tanpa ada tuntutan ini itu. Hal terbesar
yang menjadi masalah adalah ketika mendapat pekerjaan rumah dari sekolah.
Beruntungnya, ibuku selalu membantu menyelesaikannya, aku tahu ini curang, tapi
kadang kalau ibu tidak mengetahui apa isi materi pelajaran yang telah
menyesuaikan jaman, aku jadi kelabakan. Maklum, di negara ini, kurikulum
pendidikannya selalu berganti, tidak pernah memiliki konsistensi. Jadi tidak
aneh, kalau kurang jelas kemana arah negara ini akan berdiri. Aku bisa pergi
keluar rumah tanpa takut kulitku gosong disengat panas matahari. Aku bisa
mengisengi teman sepermainanku sampai menangis dan sebal padaku, tapi besoknya
kita bermain bersama lagi. Aku bisa pergi ke kali dan berenang disana tanpa
takut terserang penyakit. Aku bisa menghabiskan waktuku untuk bermain-main.
Meski saat hari menjelang sore, ibuku selalu khawatir. Aku selalu pulang larut.
Hanya untuk mandi, makan dan mengaji dan bermain, baru pulang lagi saat
benar-benar lelah. Ibu tidak begitu mencemaskanku karena aku bermain hanya di
dekat rumah saja ketika malam. Ibuku pintar membaca kitab, jadi ia tidak perlu
repot-repot menitipkanku di sekolah agama. Kadang malah teman satu kelasku yang
datang ke rumah dan minta diajari ngaji oleh ibuku. Setiap sehabis maghrib,
setengah jam untuk anak-anak belajar, setelah itu anak-anak diberikan waktu
bermain, lagi.
Bapakku nelayan. Ia hanya ada di rumah ketika hari menjelang sore hingga
malam. Ia bukan orang yang pandai, tetapi di perahu, ia jadi juru mudinya.
Ayahku bukan orang hebat. Ia biasa-biasa saja. Ia memiliki kulit gelap,
kebiasaan di tengah laut, badan kekar dan rambut cepak. Tangannya kasar, tapi
ia suka memberi ketika ada pengemis yang singgah di rumah. Kadang, di sore hari
bapak suka mengerjakan sesuatu dari kayu sisa pembuatan perahu yang ia ambil
dari rumah majikannya. Kayu-kayu itu ia potong-potong ke beberapa bagian,
kemudian ia susun menjadi rak, meja juga lemari, semua untuk pemakaian pribadi.
Kalau sore-sore seperti itu tiba, aku sering bermain dengannya. Aku membantu
memegang kayu saat bapak sudah mulai memaku satu persatu susunan kayu. Kadang
ia menyuruhku pergi ke toko untuk membeli paku, berbagai ukuran juga lem dan grendel
daun pintu.
Disaat seperti itu, ibu di dapur menyiapkan makan malam. Bapak sering
pulang membawa satu kantung kresek besar berisi ikan, kepiting dan cumi, kadang
udang. Lauk yang diberikan laut kepada keluargaku tidak kurang, meski saat
cuaca sedang buruk. Bapakku tahu kordinat dimana ikan target berada, oleh
karena itu ia sering mendapat hasil tangkapan lebih banyak dari nelayan lain. Itulah
kenapa, majikannya pun kagum dan memberi tempat tersendiri bagi bapak. Dari
kelas tiga sekolah dasar, aku selalu ikut membantu bapak. Bagiku, palu, tatah,
golok dan segala macam alat pertukangan merupakan alat bermain yang
mengasyikan. Tapi bapak selalu memarahiku ketika kuajak beberapa teman untuk
bermain dengan alat-alat itu. Kata bapak, itu bukan untuk bermain anak kecil.
Jadi sejak hari itu, teman-temanku pada meriang sendiri ketika mengajakku
bermain dan disaat yang sama aku sedang membantu bapakku.
Keluargaku sangat sederhana. Kami tinggal di pesisir. Tetangga yang keras. Pegawai
desa yang culas. Cuaca selalu panas. Begitulah sedikit tentang gambaran di
desaku. Sawah masih terhampar luas, tapi tak ada satu pun milik keluargaku.
Dari dulu, bapak memang lebih suka memilih bekerja di laut tenimbang di sawah.
Setiap musim panen tiba, hanya ibu yang pergi keluar rumah membawa arit dan
segala tetek bengek alat panen. Bapak hanya kebagian mengangkut gabah hasilnya
saja. Bagian merajah dan menjemur padi, semua dilakukan ibu. Aku suka ikut ibu
ke sawah dan bertemu dengan temanku disana, tentu saat sepulang sekolah. Ibu
hanya ikut memanen padi di dekat rumah saja, jadi begitu kukelilingi beberapa
kotak saja, aku bisa menemukan ibuku dimana dengan mudah. Karena gatal, aku
jarang membantu ibu, lebih sering merepotkannya dengan meminta jajan dan minta
menyuapiku makan. Ibu selalu menuruti kemauanku. Ibu dan aku kemudian duduk di
bawah sebuah pohon angsana besar, ia membuka bekal, lalu menyantapnya
bersamaku. Tidak hanya berdua, kadang para tetangga ibu ada disana bersama anak
mereka yang seumuran denganku juga.
Setelah makan selesai, ibu memberiku beberapa peser uang receh. Uang itu
kubelikan batang pohon bambu yang nantinya kugunakan untuk membuat rusuk
layang-layang. Kayu yang kudapat dari
uang beberapa peser itu tidak begitu banyak, hanya cukup untuk membuat empat
buah layang-layang. Bambunya pun bukan bambu utuh, melainkan sisa tukang
membuat pagar. Tapi itu bukan masalah besar, belajar dari bapak, aku akhirnya
bisa membuat layang-layangku sendiri. Bukan layang-layang yang model persegi
panjang, tapi layang-layang berupa burung. Ya, di kampungku banyak orang
membuat layang-layang mereka sendiri dengan model dan bentuk yang mereka ingin.
Aku hanya bisa membuat layang-layang menyerupai burung. Aku bisa
menyelesaikannya hanya dalam waktu tiga hari saja. Kalau bapak sedang di rumah,
bisa selesai lebih cepat. Ia suka membuatkanku mainan. Dari mobil-mobilan,
perahu hingga layang-layang. Untuk menerbangkan layang-layang yang ukurannya
hampir seukuran badanku, aku kadang mengajak pamanku. Aku meminta bantuannya
untuk mengemudikan kendali begitu layang-layang itu kuhempaskan ke atas. Kalu
aku yang memegang benangnya, bisa-bisa aku terpental tertarik oleh tekanan kuat
si layang-layang. Pamanku juga kebetulan suka dengan kegiatan yang kulakukan.
Ia paman yang baik, sering membantu ibu dan aku ketika bapak belum pulang.
Sekarang sudah beda. Aku tumbuh besar. Aku lulus dari sekolah dasar
beberapa tahun lalu. Masuk ke sekolah menengah pertama. Kemudian lulus juga.
Masuk ke sekolah menengah atas. Juga kemudian lulus, dengan mengalami persoalan
yang mulai agak rumit dan sebenarnya ingin kulewati begitu saja. Aku hanya
ingin menangis seperti pada saat benang layang-layangku putus diterpa angin
kencang dan saat pulang ke rumah, ibu dan bapakku berusaha menenangkanku dengan
memelukku juga mengelus bagian kepalaku.
Masalah selalu dinamis. Yang terjadi padaku, belum tentu terjadi pada orang
lain dengan persis. Kasusnya mungkin sama, namun efek dan cara menyelesaikan yang
dihasilkan dari setiap kejadian terhadap orang berbeda-beda. Begitulah yang
terjadi padaku. Saat di bangku sekolah menengah ke atas lah pertama kali aku
mulai menyukai lawan jenisku. Mungkin agak terlambat bagi sebagian orang, tapi
ya tahun-tahun itu adalah awal masa pubertasku. Aku memberanikan diri
mendekatinya. Karena tidak satu kelas, aku pertama-tama mencoba menggali
informasi tentangnya lebih dulu. Aku bertanya ke beberapa temanku yang sekelas
dengannya, walaupun jujur saat itu rasanya malu sekali. Namun kusogok mulut
mereka yang mudah bocor itu dengan semangkuk mi di kantin, lalu satu persatu
informasi kudapat. Kebetulan, temanku ini ternyata orang baik dan punya akal
yang tokcer. Ia mengenalkanku padanya sambil pura-pura mengambil buku yang
kupinjam. Ia mengajak taksiranku, kemudian saat menyerahkan buku akal-akalan
itu, temanku mengenalkanku padanya. Aku mengenalkan diri, ia juga. Kami
bersalaman. Kata temanku, saat itu mukaku merah sekali, meski kulit wajahku
agak gelap, ia bisa melihatnya. Begitu juga gadis yang kutaksir. Adegan itu tak
berlangsung lama. Hanya saja ingatannya tak mudah untuk melupakannya. Hari itu
sungguh hari paling menggembirakan.
Beberapa minggu setelah itu, kami jadian. Beberapa orang menyebutnya cinta
monyet. Bagiku, cinta pertama. Di dua tahun sisa sekolah, aku selalu meluangkan
waktu bersamanya. Pergi ke perpustakaan, makan di kantin, main di pantai, pergi
ke tontonan wayang, ke pasar malam hingga menjenguk teman sakit bersama. Ibu
tahu putranya sedang remaja, jadi ketika kuajak ia main ke rumah, ibu mengerti
dan bilang, yang penting jangan yang aneh-aneh ya nak. Begitulah ibuku. Bapakku
si tidak begitu peduli. Jadi ia dan aku sering ke rumahku, sehabis pulang
sekolah, menikmati jajanan yang dibuat sendiri oleh tangan ibuku.
Adegan layang-layang putus yang diterpa angin kemudian membuatku menangis
sudah lama kutinggalkan. Itu aku beberapa tahun yang lalu. Ketika aku masih
suka berenang di kali di depan rumah seorang alim. Ketika panas yang memanggang kulit bukanlah
masalah besar bagiku. Ketika bau badan tak menjadi pusing pikiranku. Itu aku
beberapa tahun yang lalu, batinku. Hari ini aku menangis lagi, padahal aku
lulus dari sekolah menengah. Bukan. Bukan menangis terharu. Aku menangis sedih.
Jujur, ini kejadian memalukan yang lain yang berani aku ceritakan disini, aku
menangis karena seorang perempuan. Awalnya tidak kuceritakan hal ini pada orang
tuaku. Mereka hanya tahu, akhir-akhir ini wajahku terlihat murung. Sudah tidak
lebih dari itu. Tapi begitu aku bicara dengan ibu di suatu sore, ia paham betul
apa yang sedang kurasakan. Tapi ia pergi jauh ma, kubilang. Kalau ada jodoh dan
ia rezekimu, sejauh apapun ia sekarang pergi, pasti kalian akan berjumpa lagi, kamu
jangan cengeng, kata ibu sambil memelukku yang duduk di sisi sebelah kiriku.
Bapakku yang sedang sibuk menghaluskan kayu lemarai, tertawa mendengar hal itu.
Bagiku ini adalah masalah besar. Kenapa aku tidak bisa membiarkannya pergi
seperti aku dulu membiarkan layang-layang putus diterpa angin. Aku hanya ingin
menangis dan ketika hari esok datang, bapakku membuatkanku layang-layang baru
untukku. Tapi hal ini tidak terjadi ketika yang pergi adalah ia, bukan
layang-layang. Perasaanku padanya, begitu juga ia, tidak bisa untuk tertaut
jarak.
Sampai di suatu titik, dimana aku ingin sekali kembali ke masa kecilku. Aku
benci beranjak dewasa. Aku benci menyudahi permainan-permainan kecilku dulu lalu
mengubahnya menjadi permainan yang justru bisa menyakiti perasaan orang lain
kapan saja. Meninggalkan masa kanak-kanak yang menyenangkan. Aku tidak ingin
menyakiti siapapun. Aku berusaha, namun selalu datang penyesalan di akhir. Perasaan
satu-satunya yang kupunya adalah kasih sayang kepada orang tuaku. Hanya itulah
yang benar-benar tulus, sejauh ini. Karena begitu kutaruh sebongkah pada orang
lain, meski awalnya indah, begitu ia pergi, aku merasa aku sedang berada di
tengah gurun saat musim kemarau. Sebenarnya ia yang pergi, tapi rasanya aku
yang meninggalkannya. Jarak meisahkan kita. Tanpa kabar.
Aku benci dengan rindu. Kini ia menguasai segalanya di hidupku. Ia yang
mempermainanku. Menguasai seluruh pikiran. Terdengar sangat berlebihan mungkin.
Tapi bagiku, bisa jadi karena ia adalah orang lain yang pertama yang beraninya kuberi
segenggam jantungku, aku jadi lelaki melankoli yang tertelan perbudakan drama asmara
bias tak jelas. Kalau bisa, aku ingin tetap menjadi anak kecil di badan anak
kecil. Mengenalnya telah membuatku jadi sedikit lemah. Ia pergi, sempat pamit,
namun tidak ada pernyatan putus diantara kami, hanya saja untuk selang waktu
yang belum kami tahu, ia tak berkabar. Tak berkabar. Aku lupa menanyakan dimana
ia akan tinggal. Ia tahu alamat rumahku. Jadi percuma kalau kutulis seribu
surat pun. Aku tak tahu harus akan mengirimnya kemana. Sial. Aku mencoba menunggu
seutas kabar darinya. Tapi tak ada. Sia-sia. Kejadian ini bukan seperti senja
yang pergi ke ufuk barat lalu esok kembali tak peduli dengan cuaca apa. Hanya
satu yang kuingin, kalau bisa, aku ingin tetap menjadi anak kecil di badan anak
kecil. Dan tak apa tak sempat mengenalnya juga. Aku ingin terus bermain
layang-layang. Aku yakin aku tak akan menyesalinya.
Komentar
Posting Komentar