Kenapa pagi itu kamu harus meneleponku.
Di Mumbai, masih setengah lima pagi. Di Surabaya sudah pukul enam. Aku baru
bangun. Setelah membuka bungkusan selimut, kuambil sebuah gelas berisi air
mineral. Keteguk beberapa kali. Kerongkonganku yang kering mendadak dibanjiri
sebuah aliran benda cair yang sejuk. Kutaruh kembali gelas itu di meja. Kuambil
telepon genggam yang dari semalaman kubiarkan dayanya diisi. Setelah menggeser
layarnya ke bagian atas, kutekan ikon pesawat bergambar biru. Tidak beberapa
lama setelah itu, beberapa pesan pendek, surat milis dan layanan iklan
bermunculan di jendela layar lima inci yang sedang kugenggam. Kubuka ikon pesan
yang masuk, kulihat ada nama ibuku, jadi kukira pagi itu pesan penting darinya.
Namun ketika kubuka, pesan itu hanya berisi pertanyaan seputar kabar. Kubalas bahwa
aku baik-baik saja sembari diselipi ikon senyum dan gambar hati supaya tidak
membuatnya khawatir. Masih ada pesan di kotak masuk. Tapi semuanya tidak
menarik perhatianku, mereka kubiarkan saja. Karena sudah pasti isinya mencari
dimana keberadaanku dan menanyakan hal-hal yang sedang tidak ingin kukerjakan. Namun
di ikon panggilan, ada 18 pemberitahuan. Jemari jempolku dengan reflek
penasaran menekan ikon tersebut. Disana tertulis beberapa nama rekan kerjaku,
tiga nomor tidak kukenal dan nomor telepon seseorang cukup kukenal. Seseorang yang
dulu sekali pernah ada di sebuah bagian cerita hidupku. Pada masanya. Dan mengapa
nomornya masih kusimpan, karena aku pecundang yang tidak berani kehilangan dia
sekalipun ia yang pergi meninggalkanku. Hanya saja, aku terlalu takut untuk
menghubunginya kembali setelah selama bertahun-tahun kami berpisah. Satu dua
kabar tentangnya hanya datang dari kawan baikku yang tinggal satu kota
dengannya. Ia mengabariku secuil informasi meski aku tak berharap ia menjadi
mata-mata bagiku. Beruntung, aku punya seorang karib yang sangat peduli padaku.
Kenapa pagi itu kamu harus meneleponku.
Ia meninggalkan enam pemberitahuan panggilan tak terjawab. Semalam kami
memang mengobrol lewat sambungan telepon. Kami berbincang banyak. Ia menanyakan
kabarku yang sudah lama tak terdengar olehnya. Begitu juga aku. Awalnya aku hanya
ingin basa-basi biasa saja tanpa perlu menanyakan hal-hal lain. Dan itu
berjalan sesuai rencanaku. Aku berhasil menahan diri untuk tidak mencari tahu
lagi apa yang sedang ia kerjakan atau lakukan sekarang, kecuali seputar
kuliahnya. Aku bertanya sudah sampai mana risetnya, bagaimana rasanya penelitian
di lapangan, hingga bagaimana dosen-dosen di kampusnya sekarang. Tidak lebih. Kami
tertawa ketika ia menceritakan beberapa dosen yang kelakuannya mirip
dosen-dosen di kampus lama kami. Ia membandingkan makanan di kantin dan
menu-menunya. Ia menggambarkan suasana dan koleksi buku di perpustakaannya. Ya kami
dulu satu kampus. Begitulah singkat cerita bagaimana kami bisa saling mengenal.
Aku juga sempat bertanya hal-hal bodoh kepadanya terkait indeks prestasi,
apakah kalau kita masuk ke program magister, indeks prestasinya melanjutkan apa
yang sudah didapat saat menempuh sarjana. Ia cuma menjawab, kamu masih seperti
dulu ya, sok bodoh padahal sudah tahu jawabannya. Aku berkilah aku memang bodoh
di tengah pembicaraan itu. Ia terus bertanya bagaimana ceritanya aku bisa
sampai ke India. Kujawab seadanya, karena bukan Jepang atau Korea. Baginya, itu
jawaban yang menyebalkan. Ia terus menanyaiku tentang keberadaanku. Akhirnya kujawab
sedikit kebih banyak kalau aku sedang malas bekerja, jadi aku berlibur ke
negeri Bolliwood. Kalimatku ini cukup untuk meredam keingintahuannya. Tapi karena
ia puas mengetahui alasanku sedang berlibur, ia justru menanyaiku hal-hal lain.
Hal yang sedang tidak ingin kubahas. Tak terasa, obrolan kami menyentuh tengah
malam, alasan mengantuk ternyata cukup ampuh untuk mengakhiri sambungan telepon
dari seseorang yang sudah lama tak berkabar itu. Namun, ia menahanku. Ia masih
memintaku menemaninya berbincang-bincang lebih banyak lagi. Katanya ia sedang
bosan dan butuh teman cerita. Kusarankan ia untuk menelepon teman-temannya,
lagian aneh sekali, sudah kama kami tak saling berkomunikasi lalu tiba-tiba ia
nongol mendadak di suatu malam saat aku sedang berada di kota penghasil film
drama pesaing negeri Paman Sam. Kujelaskan, aku butuh istirahat, besok aku
harus pergi ke beberapa tempat pagi-pagi sekali. Ia tidak mau memahaminya. Sayangnya
lagi, keegoisannya selalu saja membuatku iba. Mungkin akibat dulu aku terlalu
memanjakkannya. Begitulah akhirnya aku sulit lepas. Aku terjebak dengan obrolan
yang membuat kepalaku cukup pusing malam itu. Aku ingin bicara banyak
dengannya, tentu. Tapi momennya tidak tepat. Suara televisi yang dipasung di dinding
menemaniku sepanjang obrolan. Lampu kota terpancar menerobos kaca jendela
sebelah kananku menyerupai bintik-bintik bintang yang jatuh dan tercecer di
jalanan. Aku berada di lantai duabelas. Obrolannya kuhiraukan dengan cara
pura-pura tidur. Begitulah ia kemudian mematikan sambungan telepon setelah sekian
lama penantian. Dengan begitu aku bisa terbebas dari komunikasi yang sedang tidak
kuinginkan. Sebenarnya aku bisa saja mematikan sepihak saluran darinya. Tapi kupikir
itu terlalu jahat. Aku tak ingin menyakitinya. Lagi. Jadi ya, cara itu adalah
yang terbaik. Begitu ia memutuskan saluran telepon, kutekan tombol pesawat
ketika kugeser bagian layar ke atas. Daya gawaiku sangat mengenaskan, sudah
berada di garis merah, jadi kuputuskan untuk mengisinya. Setelah itu barulah
kubungkus diriku dengan selimut. Kumatikan televisi dan semua sumber cahaya di
ruangan itu. Lampu-lampu kecil di luar jendela terlihat semakin terang. Pemandangan
utara kota Andheri saat malam cukup menenangkan, meski kadang masih terdengar suara
bising kendaraan berlalu lalang.
Kenapa pagi itu kamu harus meneleponku.
Di Mumbai, masih setengah lima pagi. Di Surabaya sudah pukul enam. Aku baru
bangun. Kulakukan aktifitas-aktifitas kecil yang sudah menjadi kebiasaanku. Lalu
entah mengapa, setelah mengabari ibu, aku tanpa sengaja menekan tombol tepat di
nomornya. Padahal niatku hanya ingin melihat foto profilnya yang tengah
tersenyum, kuperbesar tampilannya. Sial. Belum penuh nyawaku terkumpul, aku telat
sadar malah menekan tombol yang salah dan malah meneleponnya. Padahal semalam
sudah susah payah kucoba untuk menghindarinya. Rencananya kumatikan mendadak
panggilan itu, namun entah mengapa, ada sesuatu yang menahan ibu jariku untuk
tidak melakukan tindakan konyol itu. Tidak selang lama, ia menerima
panggilanku. Kudengar suaranya menangis begitu suara pertama meluncur dari
bibirnya. Guntur menggelegar. Aku paling tidak bisa menghadapi seorang perempuan
yang sedang menangis. Karena hal itu hanya akan membuatku bisa salah langkah. Jadi
kuputuskan untuk berdiam diri tanpa menanyakan apa yang sedang terjadi atau
kenapa ia menangis. Pagi itu cerah, matahari mulai nampak dari kaca jendela tapi
seolah mendung menggantung didalam lorong kepalaku.
Parahnya lagi, ia memintaku mengganti saluran telepon dengan mode video call. Aku belum mandi, aku takut
wajahku yang belum mandi dan semrawut ini justru malah akan membuatmu semakin
menangis histeris, kubilang padanya. Ada suara tertawa kecil yang kudengar
darinya. Kamu bisa saja menghiburku katanya. Ayolah, ia terus merayuku dan
mengancam akan semakin keras menangis jika tidak melakukan apa yang diinginkannya.
Tambah bulat saja ya kamu, ketika kuturuti kemauannya dan ia melihat wajahku
yang nongol pertama di layar. Ia masih menyembunyikan wajahnya dan hanya
memperlihatkan langit-langit rumah. Aku sedang mengambil headset katanya. Dan itu benar, selang sebentar ia meletakan alat
bantu dengar itu di kedua sisi telinganya sambil menghadap layar. Tangisan yang
kudengar sebelumnya baru betul-betul kupercayai sebuah tangisan saat melihat
wajahnya yang begitu kusut. Ia terlihat sudah menangis semalaman. Matanya sembab
dan masih ada air mata merembes disana, walaupun aku kaget dibuatnya ketika
kami saling tatap ia memberiku seutas senyum. Sebuah senyum mematikan di pagi
hari. Sebuah senyum yang sudah lama tidak kulihat. Sebuah senyuman yang ingatannya
mengendap jauh di palung memori. Sebuah senyum yang tidak pernah berubah
keindahannya semenjak pertama kali dulu aku melihatnya. Senyuman abadi. Ia nampak
puas melihat keadaanku yang masih acak-acakan. Aku jadi ingat dulu waktu kami
masih bersama, menyambut pagi satu kamar dengannya dan ia ada disisiku,
memperhatikanku. Pagi paling nyaman yang dapat kuingat sejauh ini, bahkan aroma
tubuhnya masih jelas dapat kuingat sampai detik ini juga. Kau baik-baik saja,
kataku. Ia menganggukan kepalanya. Aku baru tahu kalau menangis di pagi hari
bisa membuat seorang perempuan terlihat secantik itu, pikirku. Kalimat yang
niatnya urung kuucapkan itu justru meluncur deras begitu saja. Ia malah
menangis lebih keras. Sial. Kesalahan berikutnya, pikirku. Beginilah aku, tidak
suka berpikir panjang kadang. Segala sesuatu yang meluncur di pikiran kadang
seenaknya sendiri keluar tanpa berpikir duakali. Kamu masih begitu juga ya,
katanya lagi. Aku yang bodoh kenapa dulu aku meninggalkanmu, lanjutnya. Pagi itu,
aku tidak tahu ingin membahas obrolan macam apa dengannya. Tapi aku senang
melihat wajahnya saat ini. Wajah yang awalnya hanya ingin kulihat di foto
profilnya kini malah ada di sambungan telepon secara langsung. Perut tiba-tiba
terasa kenyang ketika kupandangi terus raut mukanya. Kamu masih sendiri,
tanyanya. Iya aku sendirian saja ke India, jawabku. Bukan. Bukan itu maksudku,
ucapnya sedikit gemas. Kamu sudah punya pacar lagi sekarang, ia berterus
terang. Pacarmu bagaimana, tanyaku sambil menghindar dari pertanyaan yang
enggan kujawab itu. Aku baru saja putus dengan pacarku kemarin malam, ngakunya.
Oh, hanya itu saja yang keluar dari mulutku. Oh. Sudah tidak ada kalimat lain. Kami
berdua terdiam. Tapi masih saling pandang. Rambut panjangku berantakan, begitu
juga rambutnya. Kuambil lagi sebuah gelas berisi air mineral di meja, lalu
meneguk isinya dan kembali menatap layar gawai. Pantas saja kamu tambah berisi
sekarang, gaya hidupmu sudah berubah ya, katanya. Ah tidak, aku ya begini saja
dari dulu, kopi di kamar sudah kuhabiskan semalam, jadi aku harus turun ke
restoran untuk membuat secangkir yang lain, sedikit kujelaskan padanya. Kau sendiri
bagaimana semalam? Mimpi buruk ya sampai menangis begitu, lagi-lagi aku keceplosan
bertanya sesuatu yang seharusnya tidak kutanyakan. Kamu masih perhatian sama
aku sih, jleb, kalimat darinya itu memukul keras ulu hatiku. Kami kembali
terdiam. Agak lama dari sebelumnya. Di layar gawai, kami masih saling tatap. Wajahku
datar pun begitu wajahnya.
Kapan kamu pulang, tanyanya. Mungkin sehari lagi, mungkin dua hari lagi,
mungkin juga satu minggu lagi dan kalau betah aku bisa disini selama beberapa
bulan, jawabku ketus. Kamu nggak kangen aku, sergahnya. Aku tidak menjawab. Kembali
hening. Tidak terasa penghitung waktu telepon sudah menuju angka 65 dalam
menit. Matahari sudah meninggi, cahayanya memasuki ruangan yang tirai-tirai
jendela kubiarkan terbuka dari semalaman.
Hei, kenapa kamu meneleponku pagi ini?
Dan suara tangis dari seberang saluran semakin menjadi-jadi. Ia juga
mengucapkan sederet kalimat. Kalimat yang tidak sempat kudengar dengan jelas,
sinyal penghubung sepertinya sedang dalam gelombang yang tidak bagus. Sambungan
telepon pun terputus ketika kulihat ia melambaikan tangan ke arahku. Kutinggalkan
telepon genggamku di kasur. Pagi itu, aku bergegas ke kamar kecil, membasuh
mukaku dan menggosok gigi lalu pergi ke lantai dasar untuk menikmati santap
pagi dengan menu asli suku Maharashtri.
Kenapa pagi ini kamu harus meneleponku.
Komentar
Posting Komentar