Tak ada yang salah denganku. Semuanya baik-baik saja. Paling tidak itulah
yang kurasakan sejauh ini. Tapi entah kenapa, beberapa hari ini tidak sedikit
kawanku yang mendadak jadi cerewet. Mereka mengomentari sikapku dengan begitu
aneh. Keadaanku ya selalu seperti ini, pikirku. Sudah seperti biasanya. Tapi di
mata mereka, ada sesuatu yang perlu dirubah, katanya.
Hari ini sudah seminggu seorang perempuan pergi dan memutuskan hubungan
denganku. Ia perempuan baik. Hei, tunggu, ia bukan pacarku. Kami tidak pernah
mengklaim diri memiliki hubungan sespesial itu. Kami berbicara, berbagi cerita
tentang orang yang kami suka dan tidak. Sesekali di akhir pekan, kami pergi ke
bioskop bersama dan menikmati santap malam seadanya di warung lesehan di
trotoar jalan kota. Kami juga sering pergi ke perpustakaan berdua. Kami merasa
nyaman satu sama lain. Paling tidak itulah yang kurasakan. Cukup egois memang,
tanpa menanyakan apa yang ia juga rasakan terhadapku. Tapi sejauh aku bisa
melihatnya tersenyum dan tertawa, aku juga ikut senang dibuatnya. Kutafsirkan
bahwa tidak ada yang salah atau keliru perlakuanku padanya. Ia teman sekelasku.
Tapi bukan satu angkatan. Ia satu tingkat di bawahku. Karena aku memang bukan
tipe mahasiswa berotak encer, beberapa mata kuliah harus kuulang berkali-kali.
Aku seorang mahasiswa yang kurang pandai mencerna isi tiap mata kuliah yang
diterangkan oleh sang pengampu. Dosen-dosenku banyak lulusan luar, tentu bukan
salah mereka kalau aku gagal memahami cara mereka mengajar. Terlebih aku juga
tidak menyukai suasana di ruangan kelas. Aku lebih memilih menghabiskan waktu
membaca berbagai novel maupun buku teori di taman kampus atau tempat yang bisa
memberi peningkat daya imajinasiku sambil menyendiri. Aku sering membolos
beberapa mata kuliah yang memang kurasa tata cara pengajaran yang diberikan
oleh dosenku itu menyebalkan. Cara mereka kuno. Di kelas hanya menerangkan
sesuatu yang tidak kumengerti dengan menggunakan kolom-kolom pada layar
proyektor ditambah tidak diberi ruang untuk berdiskusi. Ketika sesekali kucoba
menanyakan sebuah teori yang ia jelaskan, aku malah kena marah dan diminta
untuk meniggalkan ruangan. Dan aku menuruti kemauannya dengan senang hati,
meskipun agak jengkel juga, saat itu seisi kelas memperhatikanku dengan tidak
biasa.
Karena hal itulah, dosen pembimbing akademik memanggilku untuk bertemu di
ruangannya. Lagi-lagi aku menurut saja. Dalam kasus ini, aku beruntung,
ternyata dosen pembimbingku tidak menyalahkan tindakanku, terlebih ia malah
memberi apresiasi dan dukungan padaku. Itulah mengapa aku menaruh hormat paling
tinggi diatas semua dosen lain dikampus padanya. Ia seorang perempuan. Ibu dari
dua anak. Suaminya meninggal karena kecelakaan. Hal ini kuketahui karena kami
sering saling menanyakan hal sedikit pribadi saat ia memberiku arahan akademis
tiap semester, ia yang memulai lebih dulu menanyakan keadaan orang tuaku,
seingatku dulu di awal masuk kuliah. Ia dosen yang cerdas dan berpikiran
terbuka. Dan karena beberapa nilaiku anjlok di bawah rata-rata, ia memintaku
untuk mengulangnya. Tentu aku mengikuti sarannya. Dan berkat konsultasi ini,
aku bertemu dengannya. Dengan ia, perempuan yang sudah sedikit kuceritakan di
awal.
Kami satu kelas. Aku mendapatkan nilai D di mata kuliah ini. Jadi aku
menempuh ulang saat pemasukan data daftar mata kuliah yang akan kutemouh di
semester baru. Aku sempat bingung untuk menempuh kelas yang mana. Ada empat
kelas, A, B, C dan D. Aku berharap bisa menemukan salah seorang seangkatanku
yang mengulang juga. Tidak lucu harus terjebak dengan adik angkatan yang satu
pun tidak kukenal. Ya, aku sangat tidak populer di kampus. Aku hanya memiliki
beberapa teman. Aku bukan orang yang pandai bergaul. Dan ya, temanku hanya
beberapa. Bisa dihitung jari. Teman dalam artian, aku tidak hanya mengenal nama
mereka saja. Kalau teman yang hanya kenal nama, satu angkatanku bisa kuhapal
semua deretan nama mereka, sayangnya aku tidak memiliki banyak waktu untuk melakukannya.
Jadi, ya tetap beberapa itu saja yang bisa kubilang sebagai temanku. Aku lebih
mudah mengingat wajah, jadi cara inilah yang kupakai untuk mengetahui ia teman
seangkatanku atau bukan. Aku bingung saat mulai memasukan ID ke situs kampus,
kelas mana yang akan kupilih. Aku mencoba menghubungi temanku yang beberapa itu
lewat pesan singkat. Pesan itu berisi pertanyaan, adakah salah satu dari mereka
yang mengalami hal yang sama denganku. Pesanku terkirim. Tidak ada yang
membalas. Kutunggu sekian menit. Hampir seperempat jam, belum juga ada yang
membalas. Hari sudah sore. Aku menumpang sambungan internet di sebuah warung
kopi yang mulai ramai. Situasi ini menggangguku. Berhubung warung itu milik
temanku di tempat kerja, aku sering menghabiskan waktu disana. Hanya saja sang
pemilik sedang ada urusan keluar kota. Jadi, aku tidak memiliki teman bicara
sore itu, selain laptop dan secangkir kopi dengan kudapan kue kering berisi
coklat dan kacang. Karena keadaan begitulah kemudian akhirnya aku memutuskan
untuk memilih kolom C di situs kampus. Dengan pertimbangan, kelas itu menjelang
sore hari. Kuliah pagi adalah hal yang paling kubenci setelah dosen kolot saat
menjadi mahasiswa.
Siang itu, baru hampir kuhabiskan secangkir kopi di kantin kampus disaat
bersamaan bel tanda jam kuliah berikutnya dimulai. Hasilnya, kopi itu
kutelantarkan saja di meja, menyisakan beberapa kali lagi sesapan. Hal ini
karena kudengar dari temanku, dosen di mata kuliah yang kutempuh sekarang
sangat serius dalam mempermasalahkan waktu. Jadi aku tidak ingin terlambat di
hari pertama kelas. Aku bergegas ke ruangan lantai atas. Hari pertama kujalani
dengan aman. Ternyata cara pengajarannya juga asik. Akhirnya aku rajin
mengikuti tiap mata kuliahnya. Sayangnya, di mata kuliah ini, hanya aku sendiri
di angkatanku yang mengulang. Sialnya lagi, populasi di dalam kelas sungguh
mengerikan. Jumlah perempuan secara kuantitas sungguh unggul mendominasi.
Hingga suatu hari, saat aku mengalami hampir telat masuk kelas kalau tidak
tidak berlari tiga langkah lebih cepat dari sang dosen, aku tidak diperbolehkan
masuk ke ruangan. Karena tergesa-gesa inilah, siang itu begitu masuk ruangan,
aku mencari kursi kosong sedapatnya. Kursi itu terletak di baris ketiga.
Sebelah kursiku, sudah ada seseorang yang menempatinya. Awalnya aku tidak
begitu memperhatikan kehadirannya. Aku mengeluarkan alat tulis dan buku materi
dari dalam tas harian.
Kelas selesai dan semua berjalan normal. Setelah sesi diskusi berakhir
tepat beberapa menit sebelum bel berbunyi, sang dosen meminta seluruh mahasiswa
di ruangan untuk mempelajari materi beberapa minggu sebelumnya, karena minggu
depan akan diadakan ujian harian. Keadaan masih normal. Aku paham betul apa
yang baru saja didiskusikan oleh rekan satu ruanganku dan penjelasan ujian dari
dosenku ini. Sampai suatu ketika, entah di menit ke berapa di jam empat sore
itu, saat sesi kuliah benar-benar berakhir, ia, perempuan yang duduk di
sebelahku mengalihkan perhatianku. Awalnya ia bertanya soal catatan, apakah aku
menulis tiap materi mata kuliah ini dari awal atau tidak. Aku keceplosan
menjawab iya. Karena memang begitu adanya. dosen ini telah membuatku sedikit
lebih rajin untuk membuat catatan mata kuliahnya. Dan si perempuan bilang, catatan
punyanya tidak lengkap dan memintaku untuk meminjaminya. Jujur ini perbuatan
yang tidak kusuka dalam deretan kesekian saat kuliah, meminjamkan buku catatan.
Tindakan yang juga hampir tidak pernah kulakukan dari semester awal aku memulai
kuliah di universitas ini. Tapi aku lagi butuh buat mempelajarinya ulang,
kataku padanya. Ia memaksaku dan berjanji untuk mengembalikannya keesokan
harinya.
Sore itu kupinjami buku catatanku padanya, pada akhirnya. Ia bahkan juga
berjanji mentraktirku seporsi makan siang di kantin sebagai gantinya. Tapi aku
tidak begitu mempedulikannya. Aku menyerahkan buku itu tidak lebih hanya karena
aku kasihan padanya dan kupikir ia orang yang bisa kupercaya. Sudah itu saja. Ia
senang dan wajahnya mengeluarkan ekspesi layaknya anak kecil yang baru saja diberi
mainan, seutas senyuman terlukis jelas beberapa detik di wajahnya. Ia berterima
kasih dan pamit meninggalkanku. Esok harinya, sesuai dengan jam yang ia
janjikan, aku pergi ke kantin. Aku duduk di bangku taman setelah memesan
secangkir kopi favoritku. Sepuluh menit berlalu, ia belum juga muncul. Hari
begitu cerah. Saking cerahnya, tidak ada satupun awan menggantung di langit di
awal Agustus ini. Duapuluh menit berlalu. Belum juga kunjung. Hingga, jam
kuliahku sore ini hampir saja dimulai ia belum juga terlihat batang hidungnya. Kopi
di cangkir hanya tinggal ampas. Beberapa mahasiswa berlalu lalang di kantin,
juga beberapa dosen. Dedaunan pohon angsana tua bergelatakan di pelataran taman
sekitar kantin. Aku akhirnya memilih pergi ke ruang kelasku.
Hari menjelang malam, sebuah pesan pendek masuk di ponselku. Nomor baru,
tidak kukenal. Tapi dari isi pesan itu, bisa kuketahui kalau itu pesan darinya.
Ia meminta maaf tidak bisa menemuiku siang tadi, katanya. Aku tidak
menjawabnya. Aku malah lebih memilih pergi keluar kamar kos dan mengajak
beberapa teman kos untuk mencari makanan. Rembulan di langit timur sudah
separuh muncul. Warnanya pucat tapi tetap terang di malam yang gelap. Udara di
kota ini selalu dingin ketika hari beranjak petang karena letak geografisnya
terletak diantara beberapa pegunungan. Dan aku masih belum bisa beradaptasi
dengan suhu sialan ini. Kupakai jaketku dan menunggangi motor bebek tua seorang
diri ke arah warung makan langganan di dekat kampus, karena teman-teman kosku
tidak ada satupun yang sedang kelaparan sepertiku. Aku berada disana cukup
lama. Karena aku cukup akrab dengan si pemilik warung, kadang kami sering
menghabiskan waktu main catur bersama sambil ngopi sampai larut. Begitu juga
malam itu. Kebetulan makanan di warung sudah hampir habis, jadi si pemilik ada
waktu untuk bersantai. Di tengah langkah bidakku, ponsel di saku jaketku
berbunyi. Dari nomor yang tidak kukenal. Tapi aku masih ingat tiga digit nomor
paling belakangnya, itu nomernya. Sekali kuabaikan, sampai si bapak pemilik
warung penasaran itu telepon dari siapa, kok tidak diangkat mas, katanya. Belum
kering, jawabku. Lah memang jemuran mas, sambil tertawa si bapak menimpali
guyonan recehku disaat yang sama aku masih fokus dengan langkah bidakku
berikutnya. Waktu aku menemukan celah yang tepat untuk mengalahkan si bapak
dalam satu langkah, ponselku berbunyi lagi. Kali ini kuangkat. Betul saja,
suara seorang perempuan terdengar dari sambungan seberang. Ia mengucapkan halo
kemudian diikuti sebuah salam keagamaan. Aku membalas sekenanya dan masih terus
memperhatikan langkah bidak. Sebenarnya aku tidak ingin menyalahkan dia, tapi
karena dia adalah satu-satunya alasan yang ada, aku lupa dan salah langkah
sehingga justru si bapak lah yang mengalahkanku dalam satu langkah di
pertandingan catur malam itu. Aku kehilangan fokus begitu mendengar suaranya. Dan
aku mengakui kekalahanku kepada si bapak dengan agak jengkel karena si
perempuan. Kudengar ia meminta maaf tapi aku hanya diam saja. Kemudian ia
menanyakan keberadaanku sedang dimana. Kubilang aku sedang sibuk mengurusi
perang. Ia malah cekikikan. Aku semakin jengkel dan tidak sengaja mengucapkan
dimana posisiku saat itu. Tidak panjang lebar, ia bilang akan menyusulku lalu
mematikan saluran telepon tanpa pamit dulu.
Pertandingan catur sesi dua sudah berjalan beberapa puluh menit. Dan benar
saja, ia datang menemuiku di warung makan itu. Si bapak langsung saja meledek
dan menganggap si perempuan ialah pacarku, pacar yang lain. Kala itu juga aku
baru menyadari kalau ia memiliki paras yang bisa menahan detak waktu untuk
beberapa saat berselang saatb
memperhatikannya. Ia pusat perhatian semesta, ternyata batinku. Aku kaget, kali
ini ia menepati janjinya yang baru saja ia ucapkan saat berada di sambungan
telepon. Bukan janji sih. Dia bilang akan datang, dan dia datang. Entahlah apa
itu juga merupakan sebuah janji. Aku malas membahasnya, terlalu rumit. Aku
menanyainya sudah makan atau belum, dengan santainya. Dan ia hanya menjawab
dengan menggelengkan kepalanya. Akhirnya kuminta si bapak untuk membuatkannya
sepiring menu kesukaanku, tanpa berpikir panjang apakah ia akan menyukainya
atau tidak. Setelah bapak itu menuju bagian dalam warung, ia duduk dua langkah
di bangku yang sama denganku, tanpa pamit terlebih dahulu. Ya tuhan, ini anak,
batinku. Ia menyodorkan buku catatanku dalam genggamannya dan kembali mengucapkan
maaf.
Aku menyukai makanan yang kamu pesankan untukku malam itu, begitu pesan
singkat dalam kotak masuk di ponselku. Karena tahu itu darinya, aku lagi-lagi
mengabaikannya. Aku juga suka ngobrol sama kamu, pesan lain masuk, dari nomor
yang sama. Tidak juga kubalas. Kutaruh ponselku di meja belajar. Aku sedang
sibuk mengotak-atik pengaturan kamera baruku. Di waktu yang sama, ponselku
berbunyi. Dari layarnya yang menyala, bisa kutebak itu darinya. Juga kuabaikan
saja. Mainan baruku lebih menarik minatku malam itu. Apalagi, dua hari yang
akan datang adalah debutku bekerja di bidang pendokumentasian cahaya panggung
sebuah perusahaan penyedia jasa perhelatan. Tentu aku ingin mempelajari lebih
dalam peralatanku dahulu. Panggilan pertama berakhir tanpa kuangkat. Setelah
beberapa kali mengambil gambar di kamar, menguji kecerahan cahaya, cekrek cekrek, lalu melihat hasilnya di
layar, ponselku kembali menerima panggilan masuk. Dari nomor yang sama. Tanpa
berpikir panjang, aku mengangkatnya, tapi tidak mengucap sepatah kata apapun. Hallo,
apakabar, katanya. Belum kujawab, ia kembali bertanya, kamu lagi sibuk ya. Lagi
perang lagi ya, ia membredel. Iya aku sedang sibuk, ada perang lain lagi. Oh,
maaf kalau aku mengganggu, yasudah silakan lanjutkan dulu urusanmu, ucapnya
dengan nada tak berdosa. Sudah begitu saja, ucapku jengkel. Kalau kamu lagi
sibuk, aku tidak mau menjadi pengganggu, katanya. Ya sudah tidak usah
repot-reoot meneleponku lagi, ya. Sambungan terputus. Aku tidak tahu apa ia
mendengar kalimat terakhir yang kuucapkan atau tidak. Kulanjutkan membuka
menu-menu yang ada di kamera dan kembali menaruh ponselku di meja.
Tidak sadar, keesokan harinya aku memiliki jadwal kuliah satu kelas
dengannya. Dengan si perempuan yang belum kutahu siapa namanya. Dan aku juga
tidak ingin tahu tentangnya. Namun, setelah beberapa kejadian yang terjadi
karena ulahnya, aku jadi mulai berpikir tentangnya. Ada yang salah, batinku. Hari itu ia tidak
masuk kuliah. Dan hal ini tiba-tiba semakin membuat keingintahuanku bertambah
padanya. Suasana kuliah berjalan normal seperti biasanya, diskusi yang
menggairahkan, koreksi yang mencerahkan dan pengumuman terbaru untuk ujian
pekan depan. Dari kejadian sebelumnya,
aku akhirnya secara tidak sadar mulai mempedulikannya. Seusai jam kuliah aku berniat
menghubnginya. Namun kuurungkan. Aku nada janji dengan seorang kawan di kantin
kampus siang itu. Dan ia menepatinya dengan berada disana lebih dulu beberapa
menit dari waktu yang telah ditentukan. Ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam
tasnya. Sebuah novel yang kupesan akhirnya kulihat juga sampulnya dengan mata
kepalaku sendiri. Bukan buku langka, hanya saja stok di toko buku kota ini
sudah habis, jadi harus menunggu kiriman berikutnya atau membelinya di luar
kota, begitulah aku kemudian meminta bantuan seorang teman yang pulang kampung
ke kota besar berharap kesempatan disana ia bisa mendapatkannya lebih mudah.
Dan benar saja, ia membawakan titipanku, aku memberinya satu lembar uang
pecahan paling tinggi dan ia memberi kembalian. Lalu kupesan dua cangkir kopi
kepada seorang pelayan di kantin.
Hari sudah larut, aku sudah cukup lelah hari ini setelah sesi sore aku ada
kesibukan mengambil gambar model hijab untuk keperluan teman dagang onlenan. Setelah menyelesaikan beberapa
penyuntingan, aku mengirim berkas foto-foto itu melalui situs berbagi guna
menjaga kualitas gambar. Aku belum sempat membuka novel yang baru saja kudapat
tadi siang. Fisikku cukup kelelahan karena memotret ratusan gambar di ruang
terbuka dengan udara cukup panas. Setelah mematikannya, aku menaruh laptopku di
meja belajar, merebahkan diri dan meraih ponselku yang kutaruh disamping
laptop. Kubuka kunci layar, puluhan pesan masuk muncul pada kolom pemberitahuan
tapi aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku memandang kosong layar gawaiku. Bohlam
lampu di langit-langit kosan memandangiku. Tidak begitu lama. Aku membuka ikon
kotak pesan masuk dan disana ada puluhan pesan baru berderet. Tidak satupun
menarik perhatianku. Aku mengabaikan semuanya. Setelah itu, entah angin apa
yang telah membelokan arah jariku, aku membuka ikon panggilan tak terjawab.
Juga ada beberapa panggilan yang telah kulewatkan hari itu. Lagi-lagi, aku
mengabaikan semua nama yang kukenal. Aku menarik layar hingga deretan nomor itu
menuju kebawah. Panggilan beberapa hari yang lalu. Nomornya berada disana. Di
deretan panggilan beberapa hari yang lalu. Masih belum kusimpan. Aku juga belum
tahu siapa namanya, jadi akan kusimpan dengan huruf-huruf apa nanti. Aku
mendadak berpikir tentangnya, lagi. Siapa kah ia. Kemanakah kah tadi ia tidak
masuk kuliah. Hal-hal sederhana itu mulai membuat isi kepalaku rumit. Mengapa
aku jadi bertanya-tanya. Disaat itu tidak kusadari aku melamun dan tidak
mengetahui bahwa salah satu jari jemariku telah menekan nomor ponselnya tanpa
disengaja. Sambungan sedang dalam proses. Dan aku masih belum menyadarinya. Selang
beberapa detik, suara perempuan itu terdengar dari seberang saluran telepon.
Aku terkejut tapi aku menyukainya. Dan aku mulai berbincang dengannya sambil
rebahan, sedikit santai tenimbang panggilan-panggilan sebelumnya. Karena
terlalu menyilaukan, bohlam lampu di langit-langit kosan yang terus saja memandangiku,
kupadamkan. Ruangan gelap, hanya ada pantulan cahaya dari ruang sebelah melalui
lubang angin dan jendela. Keadaan menjadi lebih baik. Obrolan kami juga semakin
membaik.
Malam itulah, akhirnya aku tahu siapa nama aslinya dan bahkan sempat menjadi
awal dari sebaris cerita ini. Kami memiliki kedekatan satu sama lain selama
beberapa bulan setelahnya. Tapi aku tidak menyadari ada sesuatu yang ia
harapkan dariku. Hingga kejadian ia pergi pun aku masih tidak bisa berbuat
apa-apa. Dan begitulah kemudian teman-temanku menjadi gusar tak jelas padaku.
Komentar
Posting Komentar