Langsung ke konten utama

Siapa Dia


Tak ada yang salah denganku. Semuanya baik-baik saja. Paling tidak itulah yang kurasakan sejauh ini. Tapi entah kenapa, beberapa hari ini tidak sedikit kawanku yang mendadak jadi cerewet. Mereka mengomentari sikapku dengan begitu aneh. Keadaanku ya selalu seperti ini, pikirku. Sudah seperti biasanya. Tapi di mata mereka, ada sesuatu yang perlu dirubah, katanya.
Hari ini sudah seminggu seorang perempuan pergi dan memutuskan hubungan denganku. Ia perempuan baik. Hei, tunggu, ia bukan pacarku. Kami tidak pernah mengklaim diri memiliki hubungan sespesial itu. Kami berbicara, berbagi cerita tentang orang yang kami suka dan tidak. Sesekali di akhir pekan, kami pergi ke bioskop bersama dan menikmati santap malam seadanya di warung lesehan di trotoar jalan kota. Kami juga sering pergi ke perpustakaan berdua. Kami merasa nyaman satu sama lain. Paling tidak itulah yang kurasakan. Cukup egois memang, tanpa menanyakan apa yang ia juga rasakan terhadapku. Tapi sejauh aku bisa melihatnya tersenyum dan tertawa, aku juga ikut senang dibuatnya. Kutafsirkan bahwa tidak ada yang salah atau keliru perlakuanku padanya. Ia teman sekelasku. Tapi bukan satu angkatan. Ia satu tingkat di bawahku. Karena aku memang bukan tipe mahasiswa berotak encer, beberapa mata kuliah harus kuulang berkali-kali.
Aku seorang mahasiswa yang kurang pandai mencerna isi tiap mata kuliah yang diterangkan oleh sang pengampu. Dosen-dosenku banyak lulusan luar, tentu bukan salah mereka kalau aku gagal memahami cara mereka mengajar. Terlebih aku juga tidak menyukai suasana di ruangan kelas. Aku lebih memilih menghabiskan waktu membaca berbagai novel maupun buku teori di taman kampus atau tempat yang bisa memberi peningkat daya imajinasiku sambil menyendiri. Aku sering membolos beberapa mata kuliah yang memang kurasa tata cara pengajaran yang diberikan oleh dosenku itu menyebalkan. Cara mereka kuno. Di kelas hanya menerangkan sesuatu yang tidak kumengerti dengan menggunakan kolom-kolom pada layar proyektor ditambah tidak diberi ruang untuk berdiskusi. Ketika sesekali kucoba menanyakan sebuah teori yang ia jelaskan, aku malah kena marah dan diminta untuk meniggalkan ruangan. Dan aku menuruti kemauannya dengan senang hati, meskipun agak jengkel juga, saat itu seisi kelas memperhatikanku dengan tidak biasa.
Karena hal itulah, dosen pembimbing akademik memanggilku untuk bertemu di ruangannya. Lagi-lagi aku menurut saja. Dalam kasus ini, aku beruntung, ternyata dosen pembimbingku tidak menyalahkan tindakanku, terlebih ia malah memberi apresiasi dan dukungan padaku. Itulah mengapa aku menaruh hormat paling tinggi diatas semua dosen lain dikampus padanya. Ia seorang perempuan. Ibu dari dua anak. Suaminya meninggal karena kecelakaan. Hal ini kuketahui karena kami sering saling menanyakan hal sedikit pribadi saat ia memberiku arahan akademis tiap semester, ia yang memulai lebih dulu menanyakan keadaan orang tuaku, seingatku dulu di awal masuk kuliah. Ia dosen yang cerdas dan berpikiran terbuka. Dan karena beberapa nilaiku anjlok di bawah rata-rata, ia memintaku untuk mengulangnya. Tentu aku mengikuti sarannya. Dan berkat konsultasi ini, aku bertemu dengannya. Dengan ia, perempuan yang sudah sedikit kuceritakan di awal.
Kami satu kelas. Aku mendapatkan nilai D di mata kuliah ini. Jadi aku menempuh ulang saat pemasukan data daftar mata kuliah yang akan kutemouh di semester baru. Aku sempat bingung untuk menempuh kelas yang mana. Ada empat kelas, A, B, C dan D. Aku berharap bisa menemukan salah seorang seangkatanku yang mengulang juga. Tidak lucu harus terjebak dengan adik angkatan yang satu pun tidak kukenal. Ya, aku sangat tidak populer di kampus. Aku hanya memiliki beberapa teman. Aku bukan orang yang pandai bergaul. Dan ya, temanku hanya beberapa. Bisa dihitung jari. Teman dalam artian, aku tidak hanya mengenal nama mereka saja. Kalau teman yang hanya kenal nama, satu angkatanku bisa kuhapal semua deretan nama mereka, sayangnya aku tidak memiliki banyak waktu untuk melakukannya. Jadi, ya tetap beberapa itu saja yang bisa kubilang sebagai temanku. Aku lebih mudah mengingat wajah, jadi cara inilah yang kupakai untuk mengetahui ia teman seangkatanku atau bukan. Aku bingung saat mulai memasukan ID ke situs kampus, kelas mana yang akan kupilih. Aku mencoba menghubungi temanku yang beberapa itu lewat pesan singkat. Pesan itu berisi pertanyaan, adakah salah satu dari mereka yang mengalami hal yang sama denganku. Pesanku terkirim. Tidak ada yang membalas. Kutunggu sekian menit. Hampir seperempat jam, belum juga ada yang membalas. Hari sudah sore. Aku menumpang sambungan internet di sebuah warung kopi yang mulai ramai. Situasi ini menggangguku. Berhubung warung itu milik temanku di tempat kerja, aku sering menghabiskan waktu disana. Hanya saja sang pemilik sedang ada urusan keluar kota. Jadi, aku tidak memiliki teman bicara sore itu, selain laptop dan secangkir kopi dengan kudapan kue kering berisi coklat dan kacang. Karena keadaan begitulah kemudian akhirnya aku memutuskan untuk memilih kolom C di situs kampus. Dengan pertimbangan, kelas itu menjelang sore hari. Kuliah pagi adalah hal yang paling kubenci setelah dosen kolot saat menjadi mahasiswa.
Siang itu, baru hampir kuhabiskan secangkir kopi di kantin kampus disaat bersamaan bel tanda jam kuliah berikutnya dimulai. Hasilnya, kopi itu kutelantarkan saja di meja, menyisakan beberapa kali lagi sesapan. Hal ini karena kudengar dari temanku, dosen di mata kuliah yang kutempuh sekarang sangat serius dalam mempermasalahkan waktu. Jadi aku tidak ingin terlambat di hari pertama kelas. Aku bergegas ke ruangan lantai atas. Hari pertama kujalani dengan aman. Ternyata cara pengajarannya juga asik. Akhirnya aku rajin mengikuti tiap mata kuliahnya. Sayangnya, di mata kuliah ini, hanya aku sendiri di angkatanku yang mengulang. Sialnya lagi, populasi di dalam kelas sungguh mengerikan. Jumlah perempuan secara kuantitas sungguh unggul mendominasi. Hingga suatu hari, saat aku mengalami hampir telat masuk kelas kalau tidak tidak berlari tiga langkah lebih cepat dari sang dosen, aku tidak diperbolehkan masuk ke ruangan. Karena tergesa-gesa inilah, siang itu begitu masuk ruangan, aku mencari kursi kosong sedapatnya. Kursi itu terletak di baris ketiga. Sebelah kursiku, sudah ada seseorang yang menempatinya. Awalnya aku tidak begitu memperhatikan kehadirannya. Aku mengeluarkan alat tulis dan buku materi dari dalam tas harian.
Kelas selesai dan semua berjalan normal. Setelah sesi diskusi berakhir tepat beberapa menit sebelum bel berbunyi, sang dosen meminta seluruh mahasiswa di ruangan untuk mempelajari materi beberapa minggu sebelumnya, karena minggu depan akan diadakan ujian harian. Keadaan masih normal. Aku paham betul apa yang baru saja didiskusikan oleh rekan satu ruanganku dan penjelasan ujian dari dosenku ini. Sampai suatu ketika, entah di menit ke berapa di jam empat sore itu, saat sesi kuliah benar-benar berakhir, ia, perempuan yang duduk di sebelahku mengalihkan perhatianku. Awalnya ia bertanya soal catatan, apakah aku menulis tiap materi mata kuliah ini dari awal atau tidak. Aku keceplosan menjawab iya. Karena memang begitu adanya. dosen ini telah membuatku sedikit lebih rajin untuk membuat catatan mata kuliahnya. Dan si perempuan bilang, catatan punyanya tidak lengkap dan memintaku untuk meminjaminya. Jujur ini perbuatan yang tidak kusuka dalam deretan kesekian saat kuliah, meminjamkan buku catatan. Tindakan yang juga hampir tidak pernah kulakukan dari semester awal aku memulai kuliah di universitas ini. Tapi aku lagi butuh buat mempelajarinya ulang, kataku padanya. Ia memaksaku dan berjanji untuk mengembalikannya keesokan harinya.
Sore itu kupinjami buku catatanku padanya, pada akhirnya. Ia bahkan juga berjanji mentraktirku seporsi makan siang di kantin sebagai gantinya. Tapi aku tidak begitu mempedulikannya. Aku menyerahkan buku itu tidak lebih hanya karena aku kasihan padanya dan kupikir ia orang yang bisa kupercaya. Sudah itu saja. Ia senang dan wajahnya mengeluarkan ekspesi layaknya anak kecil yang baru saja diberi mainan, seutas senyuman terlukis jelas beberapa detik di wajahnya. Ia berterima kasih dan pamit meninggalkanku. Esok harinya, sesuai dengan jam yang ia janjikan, aku pergi ke kantin. Aku duduk di bangku taman setelah memesan secangkir kopi favoritku. Sepuluh menit berlalu, ia belum juga muncul. Hari begitu cerah. Saking cerahnya, tidak ada satupun awan menggantung di langit di awal Agustus ini. Duapuluh menit berlalu. Belum juga kunjung. Hingga, jam kuliahku sore ini hampir saja dimulai ia belum juga terlihat batang hidungnya. Kopi di cangkir hanya tinggal ampas. Beberapa mahasiswa berlalu lalang di kantin, juga beberapa dosen. Dedaunan pohon angsana tua bergelatakan di pelataran taman sekitar kantin. Aku akhirnya memilih pergi ke ruang kelasku.
Hari menjelang malam, sebuah pesan pendek masuk di ponselku. Nomor baru, tidak kukenal. Tapi dari isi pesan itu, bisa kuketahui kalau itu pesan darinya. Ia meminta maaf tidak bisa menemuiku siang tadi, katanya. Aku tidak menjawabnya. Aku malah lebih memilih pergi keluar kamar kos dan mengajak beberapa teman kos untuk mencari makanan. Rembulan di langit timur sudah separuh muncul. Warnanya pucat tapi tetap terang di malam yang gelap. Udara di kota ini selalu dingin ketika hari beranjak petang karena letak geografisnya terletak diantara beberapa pegunungan. Dan aku masih belum bisa beradaptasi dengan suhu sialan ini. Kupakai jaketku dan menunggangi motor bebek tua seorang diri ke arah warung makan langganan di dekat kampus, karena teman-teman kosku tidak ada satupun yang sedang kelaparan sepertiku. Aku berada disana cukup lama. Karena aku cukup akrab dengan si pemilik warung, kadang kami sering menghabiskan waktu main catur bersama sambil ngopi sampai larut. Begitu juga malam itu. Kebetulan makanan di warung sudah hampir habis, jadi si pemilik ada waktu untuk bersantai. Di tengah langkah bidakku, ponsel di saku jaketku berbunyi. Dari nomor yang tidak kukenal. Tapi aku masih ingat tiga digit nomor paling belakangnya, itu nomernya. Sekali kuabaikan, sampai si bapak pemilik warung penasaran itu telepon dari siapa, kok tidak diangkat mas, katanya. Belum kering, jawabku. Lah memang jemuran mas, sambil tertawa si bapak menimpali guyonan recehku disaat yang sama aku masih fokus dengan langkah bidakku berikutnya. Waktu aku menemukan celah yang tepat untuk mengalahkan si bapak dalam satu langkah, ponselku berbunyi lagi. Kali ini kuangkat. Betul saja, suara seorang perempuan terdengar dari sambungan seberang. Ia mengucapkan halo kemudian diikuti sebuah salam keagamaan. Aku membalas sekenanya dan masih terus memperhatikan langkah bidak. Sebenarnya aku tidak ingin menyalahkan dia, tapi karena dia adalah satu-satunya alasan yang ada, aku lupa dan salah langkah sehingga justru si bapak lah yang mengalahkanku dalam satu langkah di pertandingan catur malam itu. Aku kehilangan fokus begitu mendengar suaranya. Dan aku mengakui kekalahanku kepada si bapak dengan agak jengkel karena si perempuan. Kudengar ia meminta maaf tapi aku hanya diam saja. Kemudian ia menanyakan keberadaanku sedang dimana. Kubilang aku sedang sibuk mengurusi perang. Ia malah cekikikan. Aku semakin jengkel dan tidak sengaja mengucapkan dimana posisiku saat itu. Tidak panjang lebar, ia bilang akan menyusulku lalu mematikan saluran telepon tanpa pamit dulu.
Pertandingan catur sesi dua sudah berjalan beberapa puluh menit. Dan benar saja, ia datang menemuiku di warung makan itu. Si bapak langsung saja meledek dan menganggap si perempuan ialah pacarku, pacar yang lain. Kala itu juga aku baru menyadari kalau ia memiliki paras yang bisa menahan detak waktu untuk beberapa  saat berselang saatb memperhatikannya. Ia pusat perhatian semesta, ternyata batinku. Aku kaget, kali ini ia menepati janjinya yang baru saja ia ucapkan saat berada di sambungan telepon. Bukan janji sih. Dia bilang akan datang, dan dia datang. Entahlah apa itu juga merupakan sebuah janji. Aku malas membahasnya, terlalu rumit. Aku menanyainya sudah makan atau belum, dengan santainya. Dan ia hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Akhirnya kuminta si bapak untuk membuatkannya sepiring menu kesukaanku, tanpa berpikir panjang apakah ia akan menyukainya atau tidak. Setelah bapak itu menuju bagian dalam warung, ia duduk dua langkah di bangku yang sama denganku, tanpa pamit terlebih dahulu. Ya tuhan, ini anak, batinku. Ia menyodorkan buku catatanku dalam genggamannya dan kembali mengucapkan maaf.
Aku menyukai makanan yang kamu pesankan untukku malam itu, begitu pesan singkat dalam kotak masuk di ponselku. Karena tahu itu darinya, aku lagi-lagi mengabaikannya. Aku juga suka ngobrol sama kamu, pesan lain masuk, dari nomor yang sama. Tidak juga kubalas. Kutaruh ponselku di meja belajar. Aku sedang sibuk mengotak-atik pengaturan kamera baruku. Di waktu yang sama, ponselku berbunyi. Dari layarnya yang menyala, bisa kutebak itu darinya. Juga kuabaikan saja. Mainan baruku lebih menarik minatku malam itu. Apalagi, dua hari yang akan datang adalah debutku bekerja di bidang pendokumentasian cahaya panggung sebuah perusahaan penyedia jasa perhelatan. Tentu aku ingin mempelajari lebih dalam peralatanku dahulu. Panggilan pertama berakhir tanpa kuangkat. Setelah beberapa kali mengambil gambar di kamar, menguji kecerahan cahaya, cekrek cekrek, lalu melihat hasilnya di layar, ponselku kembali menerima panggilan masuk. Dari nomor yang sama. Tanpa berpikir panjang, aku mengangkatnya, tapi tidak mengucap sepatah kata apapun. Hallo, apakabar, katanya. Belum kujawab, ia kembali bertanya, kamu lagi sibuk ya. Lagi perang lagi ya, ia membredel. Iya aku sedang sibuk, ada perang lain lagi. Oh, maaf kalau aku mengganggu, yasudah silakan lanjutkan dulu urusanmu, ucapnya dengan nada tak berdosa. Sudah begitu saja, ucapku jengkel. Kalau kamu lagi sibuk, aku tidak mau menjadi pengganggu, katanya. Ya sudah tidak usah repot-reoot meneleponku lagi, ya. Sambungan terputus. Aku tidak tahu apa ia mendengar kalimat terakhir yang kuucapkan atau tidak. Kulanjutkan membuka menu-menu yang ada di kamera dan kembali menaruh ponselku di meja.
Tidak sadar, keesokan harinya aku memiliki jadwal kuliah satu kelas dengannya. Dengan si perempuan yang belum kutahu siapa namanya. Dan aku juga tidak ingin tahu tentangnya. Namun, setelah beberapa kejadian yang terjadi karena ulahnya, aku jadi mulai berpikir tentangnya.  Ada yang salah, batinku. Hari itu ia tidak masuk kuliah. Dan hal ini tiba-tiba semakin membuat keingintahuanku bertambah padanya. Suasana kuliah berjalan normal seperti biasanya, diskusi yang menggairahkan, koreksi yang mencerahkan dan pengumuman terbaru untuk ujian pekan depan. Dari  kejadian sebelumnya, aku akhirnya secara tidak sadar mulai mempedulikannya. Seusai jam kuliah aku berniat menghubnginya. Namun kuurungkan. Aku nada janji dengan seorang kawan di kantin kampus siang itu. Dan ia menepatinya dengan berada disana lebih dulu beberapa menit dari waktu yang telah ditentukan. Ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Sebuah novel yang kupesan akhirnya kulihat juga sampulnya dengan mata kepalaku sendiri. Bukan buku langka, hanya saja stok di toko buku kota ini sudah habis, jadi harus menunggu kiriman berikutnya atau membelinya di luar kota, begitulah aku kemudian meminta bantuan seorang teman yang pulang kampung ke kota besar berharap kesempatan disana ia bisa mendapatkannya lebih mudah. Dan benar saja, ia membawakan titipanku, aku memberinya satu lembar uang pecahan paling tinggi dan ia memberi kembalian. Lalu kupesan dua cangkir kopi kepada seorang pelayan di kantin.
Hari sudah larut, aku sudah cukup lelah hari ini setelah sesi sore aku ada kesibukan mengambil gambar model hijab untuk keperluan teman dagang onlenan. Setelah menyelesaikan beberapa penyuntingan, aku mengirim berkas foto-foto itu melalui situs berbagi guna menjaga kualitas gambar. Aku belum sempat membuka novel yang baru saja kudapat tadi siang. Fisikku cukup kelelahan karena memotret ratusan gambar di ruang terbuka dengan udara cukup panas. Setelah mematikannya, aku menaruh laptopku di meja belajar, merebahkan diri dan meraih ponselku yang kutaruh disamping laptop. Kubuka kunci layar, puluhan pesan masuk muncul pada kolom pemberitahuan tapi aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku memandang kosong layar gawaiku. Bohlam lampu di langit-langit kosan memandangiku. Tidak begitu lama. Aku membuka ikon kotak pesan masuk dan disana ada puluhan pesan baru berderet. Tidak satupun menarik perhatianku. Aku mengabaikan semuanya. Setelah itu, entah angin apa yang telah membelokan arah jariku, aku membuka ikon panggilan tak terjawab. Juga ada beberapa panggilan yang telah kulewatkan hari itu. Lagi-lagi, aku mengabaikan semua nama yang kukenal. Aku menarik layar hingga deretan nomor itu menuju kebawah. Panggilan beberapa hari yang lalu. Nomornya berada disana. Di deretan panggilan beberapa hari yang lalu. Masih belum kusimpan. Aku juga belum tahu siapa namanya, jadi akan kusimpan dengan huruf-huruf apa nanti. Aku mendadak berpikir tentangnya, lagi. Siapa kah ia. Kemanakah kah tadi ia tidak masuk kuliah. Hal-hal sederhana itu mulai membuat isi kepalaku rumit. Mengapa aku jadi bertanya-tanya. Disaat itu tidak kusadari aku melamun dan tidak mengetahui bahwa salah satu jari jemariku telah menekan nomor ponselnya tanpa disengaja. Sambungan sedang dalam proses. Dan aku masih belum menyadarinya. Selang beberapa detik, suara perempuan itu terdengar dari seberang saluran telepon. Aku terkejut tapi aku menyukainya. Dan aku mulai berbincang dengannya sambil rebahan, sedikit santai tenimbang panggilan-panggilan sebelumnya. Karena terlalu menyilaukan, bohlam lampu di langit-langit kosan yang terus saja memandangiku, kupadamkan. Ruangan gelap, hanya ada pantulan cahaya dari ruang sebelah melalui lubang angin dan jendela. Keadaan menjadi lebih baik. Obrolan kami juga semakin membaik.
Malam itulah, akhirnya aku tahu siapa nama aslinya dan bahkan sempat menjadi awal dari sebaris cerita ini. Kami memiliki kedekatan satu sama lain selama beberapa bulan setelahnya. Tapi aku tidak menyadari ada sesuatu yang ia harapkan dariku. Hingga kejadian ia pergi pun aku masih tidak bisa berbuat apa-apa. Dan begitulah kemudian teman-temanku menjadi gusar tak jelas padaku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...