Langsung ke konten utama

Masa SamaSama




Waktu itu akhir Januari 2013, saat pemasukan daftar jadwal kuliah semester empat hampir menjelang pada hari akhir, langit kota ini lagi sering-seringnya menurunkan hujan. Apalagi di daerah pegunungan dan berbukit seperti kota penghasil tembakau di ujung timur Jawa ini, udara jadi terasa basah dan lembab. Bulan dimana matahari sedang bermalas-malasan di atas empuknya awan mendung. Libur panjang natal dan tahun baru segera berakhir. Rutinitas sebagai mahasiswa akan segera kembali menjadi siklus yang membosankan.
Sebagai mahasiswa yang mendapat bantuan beasiswa dari pemerintah, saya harus berpikir dan belajar duakali lebih banyak dari mahasiswa liannya. Sebenarnya saya juga bukan pelajar yang pintar-pintar amat saat menjadi pelajar sekolah menengah, paling mentok saya pernah mendapat peringkat tujuh di kelas. Saya hanya beruntung. Tidak bermaksud merendahkan, tetapi teman sekelas saya yang mendapat peringkat pertama hanya rela melajutkan studi ke perguruan tinggi swasta, yang biasa saja, tempat belajar bisa dimana saja bukan? Saya mendapat beasiswa setelah guru bimbingan konseling memberi saya masukan untuk melajutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Saat itu saya tidak langsung mengiyakan. Butuh beberapa waktu sampai saya memberi jawaban untuk menyetujuinya. Di sekolah menengah, guru yang saya maksud sering dipanggil Bunda Ririn.
Awal saat melakukan pendaftaran ulang, saya hanya bermodalkan kenekatan dan beberapa lembar uang merah cepean, dan satu ransel kecil berisi pakaian ganti. Saya menggunakan jasa kereta api yang saat itu masih menerapkan penjualan tiket tanpa nomor duduk untuk menuju kota yang sama sekali tidak saya ketahui seluk beluknya. Telepon genggam dengan sistem android di hari-hari itu masih dalam riset dan pengembangan. Informasi yang bisa digali hanya bisa didapat menggunakan warung-warung internet. Saya membuat catatan pada buku saku tentang jadwal transit kereta dan kereta lanjutan apa lagi yang harus saya gunakan untuk perjalanan kemudian. Maklum, untuk menjangkau kota ini, saya harus duakali menunggang ular besi.
Beruntung, sudah ada kakak kelas yang lebih dulu melanjutkan pendidikan disana jadi saya bisa sedikit berbincang-bincang dan bertanya nama kereta dan tempat transit yang harus saya tuju. Berbekal pesan singkat sebagai panduan, saya memberanikan diri menempuh perjalanan ini. Jujur, selama perjalanan, tidak ada rasa antusias atau semangat yang menjadikan saya harus “banget” mengejar beasiswa ini, ya biasa-biasa saja pokoknya. Apalagi saat di gerbong kereta, dari Cirebon sampai Lamongan saya harus berdiri mondar-mandir mencari-cari tempat duduk yang kosong, dan baru mendapatkannya saat kereta tiba di Stasiun Sepanjang. Berkali-kali menghibur diri dengan melakukan basa-basi bersama sesama penumpang, ujungnya sama, nihil. Mereka sibuk dengan kelelahan mereka sendiri.
Berkali-kali saya bersenggolan dengan penumpang lain, pedagang asongan hingga petugas kereta yang entah saat itu sedang bertugas apa. Saya sempat bisa merasakan duduk, diantara sambungan kereta yang juga penuh sesak dengan penumpang yang menunggu kereta tiba di stasiun berikut yang ditujunya.
Tiba di Surabaya pagi hari sekitar pukul lima atau enam, di stasiun Wonokromo. Sambil menunggu kereta berikutnya, saya mondar-mandir sekitar stasiun. Sekitar pukul delapan, nyanyian keroncong menyambut kedatangan penumpang kereta-kereta lain disaat perut saya juga mulai keroncongan. Saya harus menunggu beberapa jam lagi sampai jadwal kereta menuju ke kota tembakau singgah.
Jember adalah nama kota yang saya tuju. Beberapa kali berseluncur di mesin pencari gugel, yang saya temukan selalu bahasan tentang tembakau. Begitu juga dengan lambang kampus yang akan menjadi tempat saya menimba ilmu. Warna dan gambar identik dengan daun tembakau. Singkat cerita, saya melakukan daftar ulang keesokan harinya setelah menumpang istirahat di tempat kos kakak kelas saya yang mengambil jurusan Teknik Elektro. Tiba di kota ini sore hari, saya juga sempat diajak keliling kampus dan mampir di masjid utamanya saat sore menjelang pukul setengah lima. Sebagai orang yang tinggal di pantai, kesan pertama yang saya dapatkan tentang kota ini adalah suhu udaranya yang lumayan dingin meskipun lama kelamaan juga bisa beradaptasi.

***

Masa-masa yang paling tidak bisa dilupakan saat saya tinggal dan numpang hidup di kota penghasil tembakau ini adalah saat dimana waktu saya bergabung dengan sebuah perusahaan kecil yang melayani jasa pembuatan acara. Istilah bekennya ialah Event Organizer. Entah saya harus mengatakannya sebagai mahasiswa magang atau memang bekerja sebagai profesional, jelasnya saya awal masuk ke perusahaan yang masih memiliki sertifikasi hukum sebagai CV ini saya tidak mengerti apa-apa. Awal saya masuk ke tempat ini juga sedikit aneh.
Tempo hari saya bilang ke teman sekelas yang setingkat lebih tua, untuk memberi saya informasi pekerjaan sekitar kampus. Selang beberapa waktu, saya dihubungi untuk bekerja di sebuah warung kopi mirip kafe atau sebaliknya. Saya diminta ke lokasi sesegera mungkin. Berhubung siang itu masih ada jadwal kuliah, saya putuskan agak sore untuk menemui orang yang dimaksud.
Dengan percaya diri dan sedikit memasang muka tebal, seusai mata kuliah terakhir hari itu, sekitar pukul dua lebih seperempat, saya meminjam sepeda motor teman satu hobi untuk menuju ke warung kopi tersebut. Di depan kedai alakadarnya yang dibalut kelir garis hijau muda dan putih di sepanjang dinding itu terpampang jelas wajah ikonik kartun seorang lelaki menjelang separuh abad dengan senyuman khas. Kedai itu bernama Warung Kopi Cak Wang. Ya, warna dominan di warung ini warna alami. Garis hijau dan warna dasar putih hanya sebagai pemanis saja.
Bareng Mas Rachmat

Di jam-jam seperti ini, ternyata banyak mahasiswa yang menghabiskan waktu meneguk secangkir kopi atau teh bersama kawan-kawan mereka sambil berbincang sore, atau menikmati jaringan nirkabel gratis menelusuri dunia maya. Setelah memarkirkan kuda besi yang saya tumpangi, saya langsung menuju ke kasir dan menanyakan keberadaan orang yang akan saya temui.
Sayang, saya harus menunggu untuk beberapa saat karena belio sedang ada kesibukan dan akhirnya dipertemukan dengan orang lain, yang bukan lain adalah adik kandung sang juragan warung. Ia lelaki dengan gaya khas dan lumayan nyentrik. Namanya Dimas. Kami berkenalan dan sempat ngobrol beberapa hal yang sama sekali belum saya pahami, apalagi dengan bahasa walikan khas kota Malang. Hari itu di pertengahan bulan Februari.
Dimas juga kemudian mengenalkan saya pada Mas Hasyim dan Mas Hajar yang duduk di kursi sebelahnya. Lelaki yang pertama khas dengan jambang lebat dan mengaku pernah gondrong, sama seperti saya saat itu. Dan yang kedua, memiliki bobot badan yang lumayan besar bahkan saat mengendarai Honda Tiger 2000, si kuda besi terlihat seperti motor bebek. Pertemuan singkat saya dengan kedua orang itu hanya berlangsung kurang lebih lima belas menitan. Setelah bercanda ringan, karena mereka masih ada kesibukan yang harus diselesaikan, mereka pamitan.
“Oh kamu Suhron, ya?”
“Iya mas.”
“Sekelas ambe  Icha kuliahmu?”
“Iya mas.”
“Jadi kamu mau dadi pelayan ndek kene?”
“Iya mas.”
Waktu itu agak bingung mau bahas apa sebagai bahan pembicaraan. Posisi saya yang kurang paham situasi membuat suasana agak sedikit canggung. Setelah diberi beberapa pertanyaan layaknya seorang tahanan yang sedang diinterogasi, saya meminta izin untuk memesan secangkir kopi ke meja kasir. Saya memesan secangkir Arabika lokal. Ketika saya hendak membayar tagihan, lelaki yang bertugas sebagai kasir menolak pembayaran saya.
“Ndak usah mas.” Katanya
“Loh kok bisa? Saya kan beli mas.” Sergah saya.
“Wis ditraktir ning bos iku mas.” Sambil melihat ke arah bangku dimana saya duduk.
Waduh rezeki, dalam hati kecil dan jiwa anak kos berbisik. Tidak panjang lebar, saya ucapkan terima kasih ke lelaki yang mengenakan baju polo berwarna hijau itu. Saya kembali ke bangku dan melanjutkan obrolan bersama Dimas. Lalu lalang jalan Mastrip sore itu terpantau lumayan ramai lancar. Cuaca cukup cerah. Pengunjung warung kopi semakin sore semakin bertambah. Jumlah bangku yang tersedia satu persatu ditunggangi tuannya. Seorang lelaki dengan topi mirip tentara Jepang mengamankan zona parkiran dengan sebuah bendera merah kecil di tangannya. Sore itu juga sedang ada musik akustikan di tengah ruangan dengan sebidang panggung secukupnya.
Event di Sultan Palace Pub
Beberapa saat kemudian, secangkir kopi yang saya pesan tiba dengan satu cangkir kecil berisi gula kristal. Saya mulai menyukai kopi semenjak saya masih berumur 10 tahun. Waktu itu saya sedang demam tinggi dan bapak saya menyarankan untuk meminum kopi pahit, yaitu kopi hitam yang diseduh tanpa gula.
Dan benar saja, seketika badan saya mulai berkeringat dan detak jantung serasa berpacu sedikit lebih cepat. Entah kandungan zat kimia apa yang telah membuatnya demikian. Saya menyukai kopi dari rasa pahitnya itu, pahit yang khas. Pahit di kopi bagi lidah saya bikin ketagihan. Bapak sempat melarang ketika mengetahui saya sering membuat kopi. Katanya, tidak baik kalau dikonsumsi terus menerus buat anak kecil. Intinya, saya harus menunggu hingga dewasa secara umur untuk menikmati secangkir kopi.
“Sudah, minta bikin susu saja sama ibumu sana biar gemukan badanmu itu.” Ucap Bapak dengan jelas waktu itu.
Beberapa saat setelah saya teringat kenangan masa lalu, seorang dengan perawakan tinggi lumayan dan memiliki kulit terbakar matahari bergabung di bangku kami. Dimas membicarakan sesuatu dengannya menggunakan bahasa walikan Malang. Saya tidak cukup mengerti satu persatu baris kalimat yang mereka bicarakan. Namun, satu dua yang saya pahami, Dimas juga menjelaskan tentang saya. Kehadiran saya terabaikan untuk sekian detik. Sialnya, saya tidak begitu cepat belajar bahasa orang lain di tanah perantauan. Di bangku yang menghadap ke barat ini, saya dengan tidak sengaja memperhatikan pengunjung yang mondar-mandir keluar masuk warung. Merasa diabaikan, saya melihat layar telepon genggam, jam menunjukkan angka empat lebih tujuh menit.
Februari, bulan yang memperkenalkan saya dengan seorang bos kharismatik sebuah perusahaan. Dia seorang kepala namun tidak menunjukan diri kalau dia adalah kepala. Maksud saya, dia seorang yang down to earth. Seorang yang melayani bukan ingin dilayani. Bahkan dari segi tampilan luar, dia hanya terlihat seperti orang biasa kebanyakan. Namun, dari segi pemikiran, belio orang yang mumpuni dan mau berbagi sambil mengajari orang yang bahkan belum bisa sama sekali menjadi berani untuk bisa.
Februari, bulan yang menambah satu lagi pengalaman mahal dan tak tergantikan. Pengalaman yang tidak dapat dipelajari di ruang kelas manapun. Orang mungkin mudah untuk melihat keburukan orang lain dan bahkan dengan bangga mempertontonkan keburukan orang lain itu kepada orang yang lain lagi. Akan tetapi, mereka lupa satu hal, mereka lupa kalau mereka sendiri sebenarnya tidak begitu elok. Pelajaran ini saya dapati ketika seorang yang selalu dengan penampilan luar biasa saja tetapi memiliki banyak nilai bagus yang ia bagikan cuma-cuma tanpa menggunakan satupun bahasa menggurui. Nilai yang bukan diukur dengan angka.
Bagi beberapa orang, angka satu bisa menjadi angka yang paling tinggi dan sangat ingin untuk meraihnya, namun bagi sebagian lainnya, angka satu adalah angka yang paling rendah. Pelajaran itu adalah menempatkan sudut pandang. Kita bisa saja menghakimi dandanan seorang pemulung yang kotor dan bau, tapi tidakkah kita melihatnya dari sudut pandang yang lain? Bahwa pemulung adalah orang yang bahkan secara tidak langsung telah membantu membersihkan lingkungan sekeliling kita yang bahkan kita sendiri tidak begitu memperhatikannya dan hanya berlaku apatis. Kita marah kepada kepala daerah yang tidak menaikkan upah minimun tetapi kita membuang sampah sembarangan.
Sore itu, Dimas mengenalkan saya dengan kakak kandungnya. Orang yang mengenakan kaos oblong berwarna hitam polos itu bernama Mas Rachmat Hidayatullah. Ya nama ini selalu saya ingat, karena beliau mengajari saya sesuatu yang berharga tentang menjadi seorang yang berguna. Saya tahu dia tidak begitu sempurna. Namun paling tidak, dia orang yang tulus dan tidak berpura-pura dalam bertindak. Selain para dosen di kampus, dia adalah guru dan pembimbing saya selama masa-masa menjadi anak perantauan.         
Masih sore itu, setelah berbincang dengan Mas Rachmat, saya dengan resmi ditolak sebagai karyawan warung kopi (mungkin waktu itu gara-gara saya dateng kesorean ya, jadi udah ga awan lagi). Hal itu disebabkan oleh jadwal kuliah saya yang sedang padat-padatnya. Mas Rachmat memaklumi dan meminta saya untuk tetap fokus pada pendidikan formal. Saya meminta mengulangi pencocokan jadwal kuliah dan jadwal kerja, hasilnya tetap tidak bisa. Karena kalau pun bisa, karyawan lain akan merasa dianaktirikan. Itu tidak baik tentunya bagi perkembangan dan suasana kerja ke depannya. Namun dengan bijak, lelaki yang juga satu almamater, meminta saya untuk kembali menemuinya petang ini. Saya hanya mengiyakan tanpa basa-basi. Kemudian saya berpamitan, kepada tiga orang yang sebangku. Di saat obrolan saya dengan mas Rachmat dan Dimas, ada seseorang dengan tubuh kurang tinggi, berjambang tebal, berkulit putih menghampiri kami.
Petang setelah Maghrib, saya meluncur ke warung kopi lagi. Sedikit gerimis, jalanan jadi basah. Lalu lalang masih ramai. Sesampainya di warung kopi, lebih ramai lagi. Hampir tidak ada bangku yang kosong. Beruntung, mas Rachmat masih di bangku yang sama. Sialnya, bangku itu terisi penuh oleh rekan-rekannya. Saya menghampiri mereka. Saya belum mengenal semua orang disana. Pertama, saya menghampiri orang yang membuat janji dengan saya dan menyalaminya.
Kemudian, saya menyalami satu persatu orang yang ada disana. Sambil mengenalkan diri, saya mencoba mengingat nama-nama orang itu. Ada Ongot, yang kemudian saya mengenalnya sebagai seorang TL dan driver, kerjaanya hampir selalu dengan SPG. Ada Andik, pria yang hobi jual beli di kaskus, pengurus perizinan. Ada Gaga, penanggung jawab panggung dan tetekbengeknya. Ada Nanang, kalau tidak salah dia adalah agensi SPG lokal. Ada Mas Hasyim juga, dia kemudian saya kenal sebagai seorang yang mengurusi laporan. Dan dua orang perempuan bergincu merah nyala yang karena sedikit grogi saya jadi lupa namanya.
Tidak lama beberapa saat setelah perkenalan, mas Rachmat mengajak saya untuk ikut ke kantornya. Saya tidak tahu maksudnya kantor apa. Lagi-lagi saya hanya dengan mudah menyiyakannya. Mas Rachmat mematikan laptop dan memasukannya ke dalam sebuah tas punggung berwarna abu misti. Belio meneguk secangkir kopi yang tersisa sebelum lekas pergi. Waktu itu, Mas Rachmat, Andik dan saya yang meninggalkan bangku di pojok depan sebelah selatan.

***

Banyak sekali suka duka bekerja menjadi seorang crew. Tidak jarang, tidur di kolong panggung, kehujanan, kena komplain vendor, penonton ricuh dengan penonton lain, hingga beberapa crew yang malah menjadi korban hantaman saat melerai, lembur dikantor sampe molor di meja kerja mantengin kibord sama monitor, ketemu artis dangdut yang kalau rias make-up butuh waktu tiga hari padahal manggungnya cuma 15 menit sudah gitu rewelnya minta ditampol, sound system error kejebak hujan, mobil produksi mogok kadang kena tilang karena muatan berlebihan, dipalakin preman setempat, jagain SPG yang digodain bapak-bapak, perizinan ngegantung gara-gara duit jajan buat anggota berseragam coklat kurang. 


Pernah juga kena muntahan mbak-mbak mabok saat acara di diskotek, garap konsep panggung terbaru semaleman non-stop begadang, lighting mati dadakan, diketawain temen-temen sekantor gara-gara ngga rokok padahal vendor utama dari perusahaan besar produksi rokok, panas-panasan diminta memasang baliho dan disuruh jadi pemanjat tiang listrik sama pohon karena memiliki postur badan paling tinggi padahal ya ngga tinggi-tinggi amat, desain PVC deadline tiga hari berturut-turut, ngurutin foto dari tanggal berapa sampe tanggal berapa buat laporan digital dan arsip kantor, bantu bikin laporan biar semua orang di tim bisa claiming fee, ngambil produk vendor ke gudang di hari libur dan tanggal merah, briefing di tengah lapangan pas jam duabelas siang, pagi-pagi harus pasang dan ambil dokumentasi pamflet di tembok-tembok kota, ngarahin penonton di pintu masuk lalu ngecek ID mereka satu persatu. berhari-hari dilalaui. Berminggu-minggu dilewati. 
Keluarga. Saudara. Teman. Kawan. Sahabat. Kakak. Ngga terasa kenal kalian sudah hampir empat tahun ya. Awalnya cuma berharap bisa kerja jadi pelayan di warung kopi, eh malah diajaknya ngikut Event Organizer jadi tukang, crew dan apalah menyebutnya. Yang pasti tidak ada duanya. Apalagi selama kuliah, bukanlah hal mudah mengatur jadwal prioritas. Untungnya kebanyakan jadwal event ada di weekend. Mungkin pengalaman organisasi kampus sangat kurang. Tapi disini saya diajarkan bukan hanya berorganisasi, namun juga "memiliki" keluarga. Sebagai orang baru saya haru beradaptasi dengan arus yang ada.
Pernah saya alami, baru saja satu minggu kerja, sudah di uji dalam hal kepercayaan. Saya di utus untuk membawa uang sebesar 60 juta rupiah (bukan jumlah yang sedikit nih) dan menyerahkannya ke vendor dalam sebuah tas (bisa aja tim sudah siapin begal jadi-jadian buat uji nyali). Seluruh badan saya langsung bergetar ngga nyaman hingga keringat dingin bercucuran. Gimana ngga, it was an extreme surprise. Awal di tempat ini saya hanya jadi tukang. Tukang pasang backdrop panggung, rigging dan angkat-angkat barang lainnya kebutuhan acara. Kerja fisik, notabene keja kasar dan melelahkan. Saya bisa saja kabur dengan uang segitu dan berfoya-foya (untuk sementara). Kemana saja. Tanpa harus bersusah payah bekerja. Sayangnya saya hanya memilih tidak melakukan itu. Karena saya tahu hidup itu kedepan. Bukan kebelakang. Saya masih kuliah. Apa kabar orang tua saya jika saya lakukan hal demikian.

***

Di bagian melankoli ala-ala drama di tengah lelah, saya menemukan beberapa kalimat yang mengucur bersama keringat di ujung malam. Terkesan sedikit kemayu, tetapi inspirasi sungguh sayang untuk dibuang. Jadi saya mencoba menghubungkannya satu persatu sehingga agak mending untuk dibaca dan tidak begitu menyakitkan mata saat dieja. Ide-ide absurb ini muncul ketika romantika hening dan dingin bersatu menjadi bisu yang meyakinkan. Deretan kalimat, frase, puisi atau apa lah entah saya tidak bisa memebri penjelasan yang jelas. Yang pasti, susunan kalimat itu saya bikin menggunakan telepon seluler berbasis simbian (jadul). Bisa mulai diresapi setelah tanda titik baris ini. “Badanku yang kemana-mana adalah hasil dari hati yang terpenjara sekian lama entah berapa waktu lagi yang dibutuhkan untuk sampai pada ujung pembebebasannya. Jiwaku terpasung dalam keadaan yang tak pernah jelas dimana ia berada.
Rindu pada kehampaan. Jatuh pada kekosongan. Segala yang kulihat hanya hitam tak ada satupun benderang. Jeruji-jeruji itu mengurungku hingga kedasar ketiadaan. Rasa sakit sudah jadi makanan keseharian. Garis horison membelah semesta menjadi kepingan debu-debu tak bertuan. Dan tidak ada orang lain menyaksikan. Mereka hanya menertawai tanpa mau tahu sedikit sebab alasan. Sampai aku sendiripun menertawai ketelanjanganku. Berapa kali aku sudah menjadi seperti demikian. Tidak ada jumlah yang pantas untuk diperhitungkan. Tuhan tahu aku lelah. Tetapi dia juga tidak mau tahu apa yang kurasa. Dia bilang berserahlah kepadaku. Aku pun berlutut. Namun saat kutengah bersujud, dia malah bilang "Aku tak bisa mengubahmu apa-apa kalau bukan kau sendiri yang merubahnya. Lalu kutegakkan kepala. Berdiri kesetanan.
Kemudian tersadar. Lalu apa masih harus aku percaya pada kehadirannya. Jika memang perkataannya demikian, bukankah Tuhan hanya sebuah hanyalan? Dimana yang katanya dia ada dimana-mana itu? Sebenar-benarnya tak ada dimana-mana. Dia yang maha segalanya tetap saja hanya diam. Apalagi dia melanjutkan, tak ada "cobaan" yang tidak mampu kau selesaikan hey manusia. Kau bercanda terus tuhan! Lalu untuk apa aku berserah menengadah pada sesuatu yang tidak pernah berhenti mengabaikan? Mengapa hanya dia yang menikmati cumbuannya sedang aku tidak. Aku terluka diperkosa olehnya. Dia hanya menikmatinya.

Melanjutkan setiap sentuh yang membuatku malah semakin perih tak tertahankan. Surga dan neraka? Hanya bualan. Jika memang kau ada, aku hanya ingin sekali saja melihat rupamu. Dan berhentilah ada di hidupku. Ambil saja nyawa ini. Sudah tidak berharga lagi ia bersemayam pada jasad yang mengenaskan ini.
Kasihan dia. Selalu menerima pesakitan yang tiada henti. Kasihan dia lelah belum berbuat apa-apa. Ketika rumah tempatku lahir sudah tak mampu lagi memberikan hidup, lalu kemana aku harus pulang. Jika sudah tak ada lagi seorang pun atau sesuatu apa-apa lagi yang masih dapat memberikan sedikit saja alasan pijar harapan untuk hidup, mati mungkin layak jadi pilihan.

Lalu, maaf ini keluar dari sajak-sajakan diatas. Terkait dengan perasaan. Saya sempat menaruh perasaan dengan seorang yang juga bekerja keras untuk kehidupannya. Dia pintar pun anggun dengan parasnya. Sebuah kombinasi variabel yang tidak rumit dijabarkan untuk mata pemuda sekarang. Berambut lurus dan berkulit kuning langsat. Boleh dikatakan sedikit memiliki wajah Tionghoa dengan mata sipit yang khas. Perawakan sedang. Dan beruntungnya, perasaan itu berbalas dengan baik.
Kami satu kampus, namun berbeda jurusan. Di tempat kerja pun, meski di berbeda agen, kami sering satu event. Kami bersama menjalani waktu, saat itu. Orang menyebutnya kencan, padahal kami masih berteman. Saya memberanikan diri untuk bla.. bla.. blaa.. Puji tuhan, berbalas jawaban indah. Kami melalui hari-hari bersama, secara fisik dan batin, juga perasaan. Kami menjalani sedikit cekcok dan kembali ke satu sama lain. Kami sadar kami butuh sandaran. Atau mungkin saya yang lebih butuh, kalau memang harus berkata jujur.
Saya menyukai pola pikirnya yang belum begitu cukup matang, nakal dan futuristik. Komunikasi sungguh baik dan tetap mengatur kadar keposesifan kami masing-masing. Kami sama-sama memiliki rekanan, di kampus dan di tempat kerja. Dan yah, ada hal yang lebih realistis baginya yang menggoyahkan komunikasi kami pelan-pelan. Tiba di suatu hari, kami memutuskan untuk berpisah. Meski pada akhirnya kami memang harus berpisah setelah mencoba bertahan beberapa saat dengan perasaan bersalah dipaksakan. Dan hal-hal sendu itu mampu membuat kepala saya bercucuran kalimat perpisahan sok roman, sesudahnya. Seperti berikut, kurang lebih;
Cepat sekali ya waktu berlalu. Maaf, sepanjang hidup, aku belum sedikitpun pernah dipercaya untuk memiliki sebuah hati, bahkan untuk jiwaku sendiri. Mungkin karena sudah terbiasa kehilangan lalu membuatku seperti sekarang ini. Mungkin juga sudah terbiasa menikmati sepi menghabiskan sunyi sendirian tanpa ada siapa-siapa sudi temani hingga berkawan biar hanya sekedar mengisi basa-basi garing nan ringan.

Maaf, bila rusuk ini begitu mudah mematahkan aliran perasaanmu. Wajar bila selalu sering bisanya hanya mengabaikan senyum maupun tangismu, mengabaikan sekelilingku sekelilingmu, nona. Mengabaikan orang-orang di sekitarku sekitarmu. Maka aku pergi. Semoga ini tak melukaimu lebih dalam lagi. Jalanmu masih panjang. Begitu pula jalanku. Sebelum aku benar-benar pergi. Jika kamu kesal dan sangat ingin teriak, aku masih punya telinga untuk mendengar. Jika kamu bersedih dan sangat butuh menangis, menangislah! Tanganku masih sudi mengusap air matamu. Jika kamu lelah, tenanglah, aku masih punya bahu biar kamu bisa bersandar. Jika kamu marah, silahkan, aku siap kamu apakan. Jika kamu merasa takut, aku masih punya tubuh untuk kamu peluk.
Namun ingat baik-baik, jika masih yakin kita akan menuju ke satu titik arah tujuan, kenapa kamu harus menyerah begitu saja melalui semua keadaan? Bukankah kelak kan berujung sama. Bukankah kamu seorang luar biasa. Bukankah kamu menakjubkan. Bukan memuji. Tapi itu kamu, yang kukenal. Aku yakin dunia kan takluk hanya dengan satu lekuk senyummu itu, nona. Meski aku sendiri belum cukup mampu merasakannya. Mungkin aku masih terlalu mati rasa. Baiklah. Selamat tinggal, puan. Berjumpa lagi nanti di lain kesempatan. Kemudian jangan lupa mengajakku bermain ke kebun dan tamanmu. Oya, ajari juga aku cara menyiram dan memupuk bunga serta buah dengan bijak, kelak. Beberapa hal, aku butuh belajar darimu langsung.

***

Sedikit curcol saja, sebelum bergabung bersama Mas Fikar, Gaga, Banser, Dimas, Nanda, Andik dan lain-lain di EO, saya sempat pernah akan mengikuti organisasi seni intra kampus. Dan saat sedang tahap perekrutan, saya mendapat sebuah peran teater yang terpaksa harus saya tinggalkan. Sebenarnya masih ingin belajar teater sampai sekarang, cuman waktu dan rasa malas yang lebih banyak menyelimuti keinginan, jadi apalah daya. Soal bayaran atau gaji atau fee selama saya bergabung menjadi bagian dari tim keluarga perantauan ini, saya sangat puas. Yang jelas, pengalamannya money can’t buy, dan tahu cara berrelasi. Sebenarnya saya juga ingin bercerita lebih banyak lagi lebih detail lagi. Namun ingatan saya belum sampai pada kemampuan sempurna. Jadi mungkin akan bertahap untuk mencoba mengingat satu persatu adegan-adegan yang pernah saya lalui. 


Ini di tahun 2014 saat acara 3030 (Three)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...