
Waktu itu akhir Januari
2013, saat pemasukan daftar jadwal kuliah semester empat hampir menjelang pada
hari akhir, langit kota ini lagi sering-seringnya menurunkan hujan. Apalagi di
daerah pegunungan dan berbukit seperti kota penghasil tembakau di ujung timur
Jawa ini, udara jadi terasa basah dan lembab. Bulan dimana matahari sedang
bermalas-malasan di atas empuknya awan mendung. Libur panjang natal dan tahun
baru segera berakhir. Rutinitas sebagai mahasiswa akan segera kembali menjadi
siklus yang membosankan.
Sebagai mahasiswa yang
mendapat bantuan beasiswa dari pemerintah, saya harus berpikir dan belajar
duakali lebih banyak dari mahasiswa liannya. Sebenarnya saya juga bukan pelajar
yang pintar-pintar amat saat menjadi pelajar sekolah menengah, paling mentok
saya pernah mendapat peringkat tujuh di kelas. Saya hanya beruntung. Tidak
bermaksud merendahkan, tetapi teman sekelas saya yang mendapat peringkat
pertama hanya rela melajutkan studi ke perguruan tinggi swasta, yang biasa
saja, tempat belajar bisa dimana saja bukan? Saya mendapat beasiswa setelah
guru bimbingan konseling memberi saya masukan untuk melajutkan pendidikan ke
perguruan tinggi. Saat itu saya tidak langsung mengiyakan. Butuh beberapa waktu
sampai saya memberi jawaban untuk menyetujuinya. Di sekolah menengah, guru yang
saya maksud sering dipanggil Bunda Ririn.
Awal saat melakukan
pendaftaran ulang, saya hanya bermodalkan kenekatan dan beberapa lembar uang
merah cepean, dan satu ransel kecil berisi pakaian ganti. Saya menggunakan jasa
kereta api yang saat itu masih menerapkan penjualan tiket tanpa nomor duduk
untuk menuju kota yang sama sekali tidak saya ketahui seluk beluknya. Telepon
genggam dengan sistem android di hari-hari itu masih dalam riset dan
pengembangan. Informasi yang bisa digali hanya bisa didapat menggunakan
warung-warung internet. Saya membuat catatan pada buku saku tentang jadwal
transit kereta dan kereta lanjutan apa lagi yang harus saya gunakan untuk
perjalanan kemudian. Maklum, untuk menjangkau kota ini, saya harus duakali
menunggang ular besi.
Beruntung, sudah ada
kakak kelas yang lebih dulu melanjutkan pendidikan disana jadi saya bisa
sedikit berbincang-bincang dan bertanya nama kereta dan tempat transit yang
harus saya tuju. Berbekal pesan singkat sebagai panduan, saya memberanikan diri
menempuh perjalanan ini. Jujur, selama perjalanan, tidak ada rasa antusias atau
semangat yang menjadikan saya harus “banget” mengejar beasiswa ini, ya
biasa-biasa saja pokoknya. Apalagi saat di gerbong kereta, dari Cirebon sampai
Lamongan saya harus berdiri mondar-mandir mencari-cari tempat duduk yang
kosong, dan baru mendapatkannya saat kereta tiba di Stasiun Sepanjang. Berkali-kali
menghibur diri dengan melakukan basa-basi bersama sesama penumpang, ujungnya
sama, nihil. Mereka sibuk dengan kelelahan mereka sendiri.
Berkali-kali saya
bersenggolan dengan penumpang lain, pedagang asongan hingga petugas kereta yang
entah saat itu sedang bertugas apa. Saya sempat bisa merasakan duduk, diantara
sambungan kereta yang juga penuh sesak dengan penumpang yang menunggu kereta
tiba di stasiun berikut yang ditujunya.
Tiba di Surabaya pagi
hari sekitar pukul lima atau enam, di stasiun Wonokromo. Sambil menunggu kereta
berikutnya, saya mondar-mandir sekitar stasiun. Sekitar pukul delapan, nyanyian
keroncong menyambut kedatangan penumpang kereta-kereta lain disaat perut saya
juga mulai keroncongan. Saya harus menunggu beberapa jam lagi sampai jadwal
kereta menuju ke kota tembakau singgah.
Jember adalah nama kota
yang saya tuju. Beberapa kali berseluncur di mesin pencari gugel, yang saya
temukan selalu bahasan tentang tembakau. Begitu juga dengan lambang kampus yang
akan menjadi tempat saya menimba ilmu. Warna dan gambar identik dengan daun
tembakau. Singkat cerita, saya melakukan daftar ulang keesokan harinya setelah
menumpang istirahat di tempat kos kakak kelas saya yang mengambil jurusan
Teknik Elektro. Tiba di kota ini sore hari, saya juga sempat diajak keliling
kampus dan mampir di masjid utamanya saat sore menjelang pukul setengah lima.
Sebagai orang yang tinggal di pantai, kesan pertama yang saya dapatkan tentang
kota ini adalah suhu udaranya yang lumayan dingin meskipun lama kelamaan juga
bisa beradaptasi.
***
Masa-masa yang paling
tidak bisa dilupakan saat saya tinggal dan numpang hidup di kota penghasil
tembakau ini adalah saat dimana waktu saya bergabung dengan sebuah perusahaan
kecil yang melayani jasa pembuatan acara. Istilah bekennya ialah Event
Organizer. Entah saya harus mengatakannya sebagai mahasiswa magang
atau memang bekerja sebagai profesional, jelasnya saya awal masuk ke perusahaan
yang masih memiliki sertifikasi hukum sebagai CV ini saya tidak mengerti
apa-apa. Awal saya masuk ke tempat ini juga sedikit aneh.
Tempo hari saya bilang
ke teman sekelas yang setingkat lebih tua, untuk memberi saya informasi
pekerjaan sekitar kampus. Selang beberapa waktu, saya dihubungi untuk bekerja
di sebuah warung kopi mirip kafe atau sebaliknya. Saya diminta ke lokasi
sesegera mungkin. Berhubung siang itu masih ada jadwal kuliah, saya putuskan
agak sore untuk menemui orang yang dimaksud.
Dengan percaya diri dan
sedikit memasang muka tebal, seusai mata kuliah terakhir hari itu, sekitar
pukul dua lebih seperempat, saya meminjam sepeda motor teman satu hobi untuk
menuju ke warung kopi tersebut. Di depan kedai alakadarnya yang dibalut kelir
garis hijau muda dan putih di sepanjang dinding itu terpampang jelas wajah
ikonik kartun seorang lelaki menjelang separuh abad dengan senyuman khas. Kedai
itu bernama Warung
Kopi Cak Wang. Ya, warna dominan di warung ini warna alami. Garis hijau
dan warna dasar putih hanya sebagai pemanis saja.
![]() |
| Bareng Mas Rachmat |
Di jam-jam seperti ini,
ternyata banyak mahasiswa yang menghabiskan waktu meneguk secangkir kopi atau
teh bersama kawan-kawan mereka sambil berbincang sore, atau menikmati jaringan
nirkabel gratis menelusuri dunia maya. Setelah memarkirkan kuda besi yang saya
tumpangi, saya langsung menuju ke kasir dan menanyakan keberadaan orang yang
akan saya temui.
Sayang, saya harus
menunggu untuk beberapa saat karena belio sedang ada kesibukan dan akhirnya
dipertemukan dengan orang lain, yang bukan lain adalah adik kandung sang
juragan warung. Ia lelaki dengan gaya khas dan lumayan nyentrik. Namanya Dimas.
Kami berkenalan dan sempat ngobrol beberapa hal yang sama sekali belum saya
pahami, apalagi dengan bahasa walikan khas kota Malang. Hari itu di pertengahan
bulan Februari.
Dimas juga kemudian
mengenalkan saya pada Mas Hasyim dan Mas Hajar yang duduk di kursi sebelahnya.
Lelaki yang pertama khas dengan jambang lebat dan mengaku pernah gondrong, sama
seperti saya saat itu. Dan yang kedua, memiliki bobot badan yang lumayan besar
bahkan saat mengendarai Honda Tiger 2000, si kuda besi terlihat seperti motor
bebek. Pertemuan singkat saya dengan kedua orang itu hanya berlangsung kurang
lebih lima belas menitan. Setelah bercanda ringan, karena mereka masih ada
kesibukan yang harus diselesaikan, mereka pamitan.
“Oh kamu Suhron, ya?”
“Iya mas.”
“Sekelas ambe Icha
kuliahmu?”
“Iya mas.”
“Jadi kamu mau dadi pelayan ndek
kene?”
“Iya mas.”
Waktu itu agak bingung
mau bahas apa sebagai bahan pembicaraan. Posisi saya yang kurang paham situasi
membuat suasana agak sedikit canggung. Setelah diberi beberapa pertanyaan
layaknya seorang tahanan yang sedang diinterogasi, saya meminta izin untuk
memesan secangkir kopi ke meja kasir. Saya memesan secangkir Arabika lokal.
Ketika saya hendak membayar tagihan, lelaki yang bertugas sebagai kasir menolak
pembayaran saya.
“Ndak usah mas.” Katanya
“Loh kok bisa? Saya kan beli mas.” Sergah
saya.
“Wis ditraktir ning bos iku mas.” Sambil
melihat ke arah bangku dimana saya duduk.
Waduh rezeki, dalam hati
kecil dan jiwa anak kos berbisik. Tidak panjang lebar, saya ucapkan terima
kasih ke lelaki yang mengenakan baju polo berwarna hijau itu. Saya kembali ke
bangku dan melanjutkan obrolan bersama Dimas. Lalu lalang jalan Mastrip sore
itu terpantau lumayan ramai lancar. Cuaca cukup cerah. Pengunjung warung kopi
semakin sore semakin bertambah. Jumlah bangku yang tersedia satu persatu
ditunggangi tuannya. Seorang lelaki dengan topi mirip tentara Jepang
mengamankan zona parkiran dengan sebuah bendera merah kecil di tangannya. Sore
itu juga sedang ada musik akustikan di tengah ruangan dengan sebidang panggung
secukupnya.
| Event di Sultan Palace Pub |
Beberapa saat kemudian,
secangkir kopi yang saya pesan tiba dengan satu cangkir kecil berisi gula
kristal. Saya mulai menyukai kopi semenjak saya masih berumur 10 tahun. Waktu
itu saya sedang demam tinggi dan bapak saya menyarankan untuk meminum kopi
pahit, yaitu kopi hitam yang diseduh tanpa gula.
Dan benar saja, seketika
badan saya mulai berkeringat dan detak jantung serasa berpacu sedikit lebih
cepat. Entah kandungan zat kimia apa yang telah membuatnya demikian. Saya
menyukai kopi dari rasa pahitnya itu, pahit yang khas. Pahit di kopi bagi lidah
saya bikin ketagihan. Bapak sempat melarang ketika mengetahui saya sering
membuat kopi. Katanya, tidak baik kalau dikonsumsi terus menerus buat anak
kecil. Intinya, saya harus menunggu hingga dewasa secara umur untuk menikmati
secangkir kopi.
“Sudah, minta bikin susu
saja sama ibumu sana biar gemukan badanmu itu.” Ucap
Bapak dengan jelas waktu itu.
Beberapa saat setelah
saya teringat kenangan masa lalu, seorang dengan perawakan tinggi lumayan dan
memiliki kulit terbakar matahari bergabung di bangku kami. Dimas membicarakan
sesuatu dengannya menggunakan bahasa walikan Malang. Saya tidak cukup mengerti
satu persatu baris kalimat yang mereka bicarakan. Namun, satu dua yang saya
pahami, Dimas juga menjelaskan tentang saya. Kehadiran saya terabaikan untuk
sekian detik. Sialnya, saya tidak begitu cepat belajar bahasa orang lain di
tanah perantauan. Di bangku yang menghadap ke barat ini, saya dengan tidak
sengaja memperhatikan pengunjung yang mondar-mandir keluar masuk warung. Merasa
diabaikan, saya melihat layar telepon genggam, jam menunjukkan angka empat
lebih tujuh menit.
Februari, bulan yang
memperkenalkan saya dengan seorang bos kharismatik sebuah perusahaan. Dia
seorang kepala namun tidak menunjukan diri kalau dia adalah kepala. Maksud
saya, dia seorang yang down to earth. Seorang
yang melayani bukan ingin dilayani. Bahkan dari segi tampilan luar, dia hanya
terlihat seperti orang biasa kebanyakan. Namun, dari segi pemikiran, belio
orang yang mumpuni dan mau berbagi sambil mengajari orang yang bahkan belum
bisa sama sekali menjadi berani untuk bisa.
Februari, bulan yang
menambah satu lagi pengalaman mahal dan tak tergantikan. Pengalaman yang tidak
dapat dipelajari di ruang kelas manapun. Orang mungkin mudah untuk melihat
keburukan orang lain dan bahkan dengan bangga mempertontonkan keburukan orang
lain itu kepada orang yang lain lagi. Akan tetapi, mereka lupa satu hal, mereka
lupa kalau mereka sendiri sebenarnya tidak begitu elok. Pelajaran ini saya
dapati ketika seorang yang selalu dengan penampilan luar biasa saja tetapi
memiliki banyak nilai bagus yang ia bagikan cuma-cuma tanpa menggunakan satupun
bahasa menggurui. Nilai yang bukan diukur dengan angka.
Bagi beberapa orang,
angka satu bisa menjadi angka yang paling tinggi dan sangat ingin untuk
meraihnya, namun bagi sebagian lainnya, angka satu adalah angka yang paling
rendah. Pelajaran itu adalah menempatkan sudut pandang. Kita bisa saja
menghakimi dandanan seorang pemulung yang kotor dan bau, tapi tidakkah kita
melihatnya dari sudut pandang yang lain? Bahwa pemulung adalah orang yang
bahkan secara tidak langsung telah membantu membersihkan lingkungan sekeliling
kita yang bahkan kita sendiri tidak begitu memperhatikannya dan hanya berlaku
apatis. Kita marah kepada kepala daerah yang tidak menaikkan upah minimun
tetapi kita membuang sampah sembarangan.
Sore itu, Dimas
mengenalkan saya dengan kakak kandungnya. Orang yang mengenakan kaos oblong
berwarna hitam polos itu bernama Mas Rachmat Hidayatullah. Ya nama ini selalu
saya ingat, karena beliau mengajari saya sesuatu yang berharga tentang menjadi
seorang yang berguna. Saya tahu dia tidak begitu sempurna. Namun paling tidak,
dia orang yang tulus dan tidak berpura-pura dalam bertindak. Selain para dosen
di kampus, dia adalah guru dan pembimbing saya selama masa-masa menjadi anak
perantauan.
Masih sore itu, setelah
berbincang dengan Mas Rachmat, saya dengan resmi ditolak sebagai karyawan
warung kopi (mungkin waktu itu gara-gara saya dateng kesorean ya, jadi udah ga
awan lagi). Hal itu disebabkan oleh jadwal kuliah saya yang sedang
padat-padatnya. Mas Rachmat memaklumi dan meminta saya untuk tetap fokus pada
pendidikan formal. Saya meminta mengulangi pencocokan jadwal kuliah dan jadwal
kerja, hasilnya tetap tidak bisa. Karena kalau pun bisa, karyawan lain akan
merasa dianaktirikan. Itu tidak baik tentunya bagi perkembangan dan suasana
kerja ke depannya. Namun dengan bijak, lelaki yang juga satu almamater, meminta
saya untuk kembali menemuinya petang ini. Saya hanya mengiyakan tanpa
basa-basi. Kemudian saya berpamitan, kepada tiga orang yang sebangku. Di saat
obrolan saya dengan mas Rachmat dan Dimas, ada seseorang dengan tubuh kurang
tinggi, berjambang tebal, berkulit putih menghampiri kami.
Petang setelah Maghrib,
saya meluncur ke warung kopi lagi. Sedikit gerimis, jalanan jadi basah. Lalu
lalang masih ramai. Sesampainya di warung kopi, lebih ramai lagi. Hampir tidak
ada bangku yang kosong. Beruntung, mas Rachmat masih di bangku yang sama. Sialnya,
bangku itu terisi penuh oleh rekan-rekannya. Saya menghampiri mereka. Saya
belum mengenal semua orang disana. Pertama, saya menghampiri orang yang membuat
janji dengan saya dan menyalaminya.
Kemudian, saya menyalami
satu persatu orang yang ada disana. Sambil mengenalkan diri, saya mencoba
mengingat nama-nama orang itu. Ada Ongot, yang kemudian saya mengenalnya
sebagai seorang TL dan driver, kerjaanya hampir selalu dengan SPG. Ada Andik,
pria yang hobi jual beli di kaskus, pengurus perizinan. Ada Gaga, penanggung
jawab panggung dan tetekbengeknya. Ada Nanang, kalau tidak salah dia adalah
agensi SPG lokal. Ada Mas Hasyim juga, dia kemudian saya kenal sebagai seorang
yang mengurusi laporan. Dan dua orang perempuan bergincu merah nyala yang
karena sedikit grogi saya jadi lupa namanya.
Tidak lama beberapa saat
setelah perkenalan, mas Rachmat mengajak saya untuk ikut ke kantornya. Saya
tidak tahu maksudnya kantor apa. Lagi-lagi saya hanya dengan mudah
menyiyakannya. Mas Rachmat mematikan laptop dan memasukannya ke dalam sebuah
tas punggung berwarna abu misti. Belio meneguk secangkir kopi yang tersisa
sebelum lekas pergi. Waktu itu, Mas Rachmat, Andik dan saya yang meninggalkan
bangku di pojok depan sebelah selatan.
***
Banyak sekali suka duka
bekerja menjadi seorang crew. Tidak
jarang, tidur di kolong panggung, kehujanan, kena komplain vendor, penonton
ricuh dengan penonton lain, hingga beberapa crew yang
malah menjadi korban hantaman saat melerai, lembur dikantor sampe molor di meja
kerja mantengin kibord sama monitor, ketemu artis dangdut yang kalau rias
make-up butuh waktu tiga hari padahal manggungnya cuma 15 menit sudah gitu
rewelnya minta ditampol, sound system error kejebak hujan, mobil produksi mogok
kadang kena tilang karena muatan berlebihan, dipalakin preman setempat, jagain
SPG yang digodain bapak-bapak, perizinan ngegantung gara-gara duit jajan buat anggota
berseragam coklat kurang.

Pernah juga kena muntahan mbak-mbak mabok saat acara di diskotek, garap konsep panggung terbaru semaleman non-stop begadang, lighting mati dadakan, diketawain temen-temen sekantor gara-gara ngga rokok padahal vendor utama dari perusahaan besar produksi rokok, panas-panasan diminta memasang baliho dan disuruh jadi pemanjat tiang listrik sama pohon karena memiliki postur badan paling tinggi padahal ya ngga tinggi-tinggi amat, desain PVC deadline tiga hari berturut-turut, ngurutin foto dari tanggal berapa sampe tanggal berapa buat laporan digital dan arsip kantor, bantu bikin laporan biar semua orang di tim bisa claiming fee, ngambil produk vendor ke gudang di hari libur dan tanggal merah, briefing di tengah lapangan pas jam duabelas siang, pagi-pagi harus pasang dan ambil dokumentasi pamflet di tembok-tembok kota, ngarahin penonton di pintu masuk lalu ngecek ID mereka satu persatu. berhari-hari dilalaui. Berminggu-minggu dilewati.

Pernah juga kena muntahan mbak-mbak mabok saat acara di diskotek, garap konsep panggung terbaru semaleman non-stop begadang, lighting mati dadakan, diketawain temen-temen sekantor gara-gara ngga rokok padahal vendor utama dari perusahaan besar produksi rokok, panas-panasan diminta memasang baliho dan disuruh jadi pemanjat tiang listrik sama pohon karena memiliki postur badan paling tinggi padahal ya ngga tinggi-tinggi amat, desain PVC deadline tiga hari berturut-turut, ngurutin foto dari tanggal berapa sampe tanggal berapa buat laporan digital dan arsip kantor, bantu bikin laporan biar semua orang di tim bisa claiming fee, ngambil produk vendor ke gudang di hari libur dan tanggal merah, briefing di tengah lapangan pas jam duabelas siang, pagi-pagi harus pasang dan ambil dokumentasi pamflet di tembok-tembok kota, ngarahin penonton di pintu masuk lalu ngecek ID mereka satu persatu. berhari-hari dilalaui. Berminggu-minggu dilewati.
Keluarga. Saudara.
Teman. Kawan. Sahabat. Kakak. Ngga terasa kenal kalian sudah hampir empat tahun
ya. Awalnya cuma berharap bisa kerja jadi pelayan di warung kopi, eh malah
diajaknya ngikut Event Organizer jadi tukang, crew dan apalah menyebutnya. Yang
pasti tidak ada duanya. Apalagi selama kuliah, bukanlah hal mudah mengatur
jadwal prioritas. Untungnya kebanyakan jadwal event ada di weekend. Mungkin
pengalaman organisasi kampus sangat kurang. Tapi disini saya diajarkan bukan
hanya berorganisasi, namun juga "memiliki" keluarga. Sebagai orang
baru saya haru beradaptasi dengan arus yang ada.
Pernah saya alami, baru
saja satu minggu kerja, sudah di uji dalam hal kepercayaan. Saya di utus untuk
membawa uang sebesar 60 juta rupiah (bukan jumlah yang sedikit nih) dan
menyerahkannya ke vendor dalam sebuah tas (bisa aja tim sudah siapin begal jadi-jadian buat uji
nyali). Seluruh badan saya langsung bergetar ngga nyaman hingga keringat dingin
bercucuran. Gimana ngga, it was an extreme surprise.
Awal di tempat ini saya hanya jadi tukang. Tukang pasang backdrop panggung,
rigging dan angkat-angkat barang lainnya kebutuhan acara. Kerja fisik, notabene
keja kasar dan melelahkan. Saya bisa saja kabur dengan uang segitu dan
berfoya-foya (untuk sementara). Kemana saja. Tanpa harus bersusah payah
bekerja. Sayangnya saya hanya memilih tidak melakukan itu. Karena saya tahu
hidup itu kedepan. Bukan kebelakang. Saya masih kuliah. Apa kabar orang tua
saya jika saya lakukan hal demikian.
***
Di bagian melankoli
ala-ala drama di tengah lelah, saya menemukan beberapa kalimat yang mengucur
bersama keringat di ujung malam. Terkesan sedikit kemayu, tetapi inspirasi
sungguh sayang untuk dibuang. Jadi saya mencoba menghubungkannya satu persatu
sehingga agak mending untuk dibaca dan tidak begitu menyakitkan mata saat
dieja. Ide-ide absurb ini muncul ketika romantika hening dan dingin bersatu
menjadi bisu yang meyakinkan. Deretan kalimat, frase, puisi atau apa lah entah
saya tidak bisa memebri penjelasan yang jelas. Yang pasti, susunan kalimat itu
saya bikin menggunakan telepon seluler berbasis simbian (jadul). Bisa mulai diresapi
setelah tanda titik baris ini. “Badanku yang kemana-mana adalah hasil dari
hati yang terpenjara sekian lama entah berapa waktu lagi yang dibutuhkan untuk
sampai pada ujung pembebebasannya. Jiwaku terpasung dalam keadaan yang tak
pernah jelas dimana ia berada.
Rindu pada kehampaan.
Jatuh pada kekosongan. Segala yang kulihat hanya hitam tak ada satupun
benderang. Jeruji-jeruji itu mengurungku hingga kedasar ketiadaan. Rasa sakit
sudah jadi makanan keseharian. Garis horison membelah semesta menjadi kepingan
debu-debu tak bertuan. Dan tidak ada orang lain menyaksikan. Mereka hanya
menertawai tanpa mau tahu sedikit sebab alasan. Sampai aku sendiripun
menertawai ketelanjanganku. Berapa kali aku sudah menjadi seperti demikian.
Tidak ada jumlah yang pantas untuk diperhitungkan. Tuhan tahu aku lelah. Tetapi
dia juga tidak mau tahu apa yang kurasa. Dia bilang berserahlah kepadaku. Aku
pun berlutut. Namun saat kutengah bersujud, dia malah bilang "Aku tak bisa
mengubahmu apa-apa kalau bukan kau sendiri yang merubahnya. Lalu kutegakkan
kepala. Berdiri kesetanan.
Kemudian tersadar. Lalu
apa masih harus aku percaya pada kehadirannya. Jika memang perkataannya
demikian, bukankah Tuhan hanya sebuah hanyalan? Dimana yang katanya dia ada
dimana-mana itu? Sebenar-benarnya tak ada dimana-mana. Dia yang maha segalanya
tetap saja hanya diam. Apalagi dia melanjutkan, tak ada "cobaan" yang
tidak mampu kau selesaikan hey manusia. Kau bercanda terus tuhan! Lalu untuk
apa aku berserah menengadah pada sesuatu yang tidak pernah berhenti
mengabaikan? Mengapa hanya dia yang menikmati cumbuannya sedang aku tidak. Aku
terluka diperkosa olehnya. Dia hanya menikmatinya.
Melanjutkan setiap sentuh yang membuatku malah semakin perih tak tertahankan. Surga dan neraka? Hanya bualan. Jika memang kau ada, aku hanya ingin sekali saja melihat rupamu. Dan berhentilah ada di hidupku. Ambil saja nyawa ini. Sudah tidak berharga lagi ia bersemayam pada jasad yang mengenaskan ini.
Kasihan dia. Selalu
menerima pesakitan yang tiada henti. Kasihan dia lelah belum berbuat apa-apa.
Ketika rumah tempatku lahir sudah tak mampu lagi memberikan hidup, lalu kemana
aku harus pulang. Jika sudah tak ada lagi seorang pun atau sesuatu apa-apa lagi
yang masih dapat memberikan sedikit saja alasan pijar harapan untuk hidup, mati
mungkin layak jadi pilihan. ”
Lalu, maaf ini keluar
dari sajak-sajakan diatas. Terkait dengan perasaan. Saya sempat menaruh
perasaan dengan seorang yang juga bekerja keras untuk kehidupannya. Dia pintar
pun anggun dengan parasnya. Sebuah kombinasi variabel yang tidak rumit
dijabarkan untuk mata pemuda sekarang. Berambut lurus dan berkulit kuning
langsat. Boleh dikatakan sedikit memiliki wajah Tionghoa dengan mata sipit yang
khas. Perawakan sedang. Dan beruntungnya, perasaan itu berbalas dengan baik.
Kami satu kampus, namun
berbeda jurusan. Di tempat kerja pun, meski di berbeda agen, kami sering satu
event. Kami bersama menjalani waktu, saat itu. Orang menyebutnya kencan,
padahal kami masih berteman. Saya memberanikan diri untuk bla.. bla.. blaa..
Puji tuhan, berbalas jawaban indah. Kami melalui hari-hari bersama, secara
fisik dan batin, juga perasaan. Kami menjalani sedikit cekcok dan kembali ke
satu sama lain. Kami sadar kami butuh sandaran. Atau mungkin saya yang lebih
butuh, kalau memang harus berkata jujur.
Saya menyukai pola
pikirnya yang belum begitu cukup matang, nakal dan futuristik. Komunikasi
sungguh baik dan tetap mengatur kadar keposesifan kami masing-masing. Kami
sama-sama memiliki rekanan, di kampus dan di tempat kerja. Dan yah, ada hal
yang lebih realistis baginya yang menggoyahkan komunikasi kami pelan-pelan.
Tiba di suatu hari, kami memutuskan untuk berpisah. Meski pada akhirnya kami
memang harus berpisah setelah mencoba bertahan beberapa saat dengan perasaan
bersalah dipaksakan. Dan hal-hal sendu itu mampu membuat kepala saya bercucuran
kalimat perpisahan sok roman, sesudahnya. Seperti berikut, kurang lebih;
“Cepat sekali ya
waktu berlalu. Maaf, sepanjang hidup, aku belum sedikitpun pernah dipercaya
untuk memiliki sebuah hati, bahkan untuk jiwaku sendiri. Mungkin karena sudah
terbiasa kehilangan lalu membuatku seperti sekarang ini. Mungkin juga sudah
terbiasa menikmati sepi menghabiskan sunyi sendirian tanpa ada siapa-siapa sudi
temani hingga berkawan biar hanya sekedar mengisi basa-basi garing nan ringan.
Maaf, bila rusuk ini
begitu mudah mematahkan aliran perasaanmu. Wajar bila selalu sering bisanya
hanya mengabaikan senyum maupun tangismu, mengabaikan sekelilingku
sekelilingmu, nona. Mengabaikan orang-orang di sekitarku sekitarmu. Maka aku
pergi. Semoga ini tak melukaimu lebih dalam lagi. Jalanmu masih panjang. Begitu
pula jalanku. Sebelum aku benar-benar pergi. Jika kamu kesal dan sangat ingin
teriak, aku masih punya telinga untuk mendengar. Jika kamu bersedih dan sangat
butuh menangis, menangislah! Tanganku masih sudi mengusap air matamu. Jika kamu
lelah, tenanglah, aku masih punya bahu biar kamu bisa bersandar. Jika kamu
marah, silahkan, aku siap kamu apakan. Jika kamu merasa takut, aku masih punya
tubuh untuk kamu peluk.
Namun ingat baik-baik,
jika masih yakin kita akan menuju ke satu titik arah tujuan, kenapa kamu harus
menyerah begitu saja melalui semua keadaan? Bukankah
kelak kan berujung sama. Bukankah kamu seorang luar biasa. Bukankah kamu
menakjubkan. Bukan memuji. Tapi itu kamu, yang kukenal. Aku yakin dunia kan
takluk hanya dengan satu lekuk senyummu itu, nona. Meski aku sendiri belum
cukup mampu merasakannya. Mungkin aku masih terlalu mati rasa. Baiklah. Selamat
tinggal, puan. Berjumpa lagi nanti di lain kesempatan. Kemudian jangan lupa
mengajakku bermain ke kebun dan tamanmu. Oya, ajari juga aku cara menyiram dan
memupuk bunga serta buah dengan bijak, kelak. Beberapa hal, aku butuh belajar
darimu langsung. ”
***
Sedikit curcol saja,
sebelum bergabung bersama Mas Fikar, Gaga, Banser, Dimas, Nanda, Andik dan
lain-lain di EO, saya sempat pernah akan mengikuti organisasi seni intra
kampus. Dan saat sedang tahap perekrutan, saya mendapat sebuah peran teater
yang terpaksa harus saya tinggalkan. Sebenarnya masih ingin belajar teater
sampai sekarang, cuman waktu dan rasa malas yang lebih banyak menyelimuti
keinginan, jadi apalah daya. Soal bayaran atau gaji atau fee selama saya
bergabung menjadi bagian dari tim keluarga perantauan ini, saya sangat puas.
Yang jelas, pengalamannya money can’t buy, dan
tahu cara berrelasi. Sebenarnya saya juga ingin bercerita
lebih banyak lagi lebih detail lagi. Namun ingatan saya belum sampai pada
kemampuan sempurna. Jadi mungkin akan bertahap untuk mencoba mengingat satu
persatu adegan-adegan yang pernah saya lalui.

Komentar
Posting Komentar