Langsung ke konten utama

Masayu

Daun-daun pohon angsana dan trembesi berguguran terkapar di atas tanah. Di musim kemarau tahun ini hasil panen padi tak begitu bagus. Tidak sedikit petani merugi. Imbasnya harga bahan pokok di pasar meroket. Masayu, ibu-ibu hampir separuh abad, mengumpulkan dahan dan ranting kayu yang merapuh jatuh di pekarangan seorang pemuka agama sebagai bahan bakar tungkunya. Di dusun yang masih cukup sulit diakses dari dunia luar, warga yang tinggal di desa Pangiri hanya mengandalkan hasil ladang, sawah dan laut.
Masayu seorang janda beranak tiga. Dia bekerja sebagai buruh untuk mencukupi kebutuhan sekolah menengah dua putra dan satu putrinya. Pekerjaan serabut tidak bisa mengurangi semangatnya agar tetap hidup dan berjuang. Keadaan telah memaksanya, atau dia yang memaksa keadaanya menjadi sedemikian rupa. Lelaki cintanya meninggal karena terkena gigitan dan bisa ular laut.
Udara sekarat panas siang hari dibalas habis oleh dingin kering di malam hari. Masayu ialah seorang yang taat menjalankan perintah tuhan. Cap miskin yang disandangnya tidak menyurutkan kepercayaannya pada sang kuasa. Keyakinan hati bukan hanya milik mereka yang kaya, begitu terus dia percaya. Kedua putranya sering membantu mendapatkan pemasukan supaya dapur keluarga tetap mengepul. Inong, seorang putranya, sering pergi ke laut memancing cumi untuk dijual. Dan Wira, selalu berjualan gorengan saat hendak pergi ke sekolah dan menitipkannya di warung-warung tetangganya. Shinta yang membantu menyiapkan bahan dan bumbu kudapan berminyak tersebut.
Desa Pangiri terletak jauh dibalik bukit dan hutan sengon. Dari pusat kota, diperlukan hampir tigaperempat hari untuk menjangkaunya dengan kendaraan roda empat. Kampung ini seperti dusun terpencil dan berada di negara lain. Karena keindahan alamnya, sesekali turis mancanegara mengunjungi tempat ini ditemani pemandu lokal yang bergaya lebih necis daripada kliennya. Di kampung ini pula, populasi anjing liar lumayan mudah untuk ditemui hampir di setiap sudut jalan dan gang. Tak terurus dan kotor bau lendir menjijikan.
Masayu sudah menjadi penganut yang taat semenjak dia masih belia. Almarhum ayahnya selalu mengantar gadis Ayu itu ke langgar persembahyangan setempat. Hampir tidak pernah dia terlambat atau melewati sekali saja setiap jam ibadah. Jika sehari jumlah angka ibadah sebanyak 17 kali, dia tidak akan ketinggalan salah satunya. Hal ini yang membuat ketiga buah hatinya mencontoh perempuan berambut panjang dan hitam lurus itu.
Terdapat sebuah larangan bagi warga yang memeluk kepercayaan langgar akan mendapat bencana sebagai balasannya. Berdasar pada kitab suci, larangan yang dimaksud ialah setiap warga hanya diperkenankan untuk memelihara hewan selain anjing. Hewan yang khas dengan gonggongannya itu dianggap sebagai pembawa nasib buruk bagi siapapun di kampung. Alhasil dilarang lah seluruh penghuni dusun kecil itu. Dan nasib sial itu akan dialami oleh seluruh warga meski hanya seorang saja yang melakukannya.
Pak Dongki, pemilik ruko terbesar di pasar, adalah orang yang paling memiliki kuasa untuk menjaga dan mengawasi dalil tersebut. “Kalau saja dalam tahun ini ada seorang warga yang melanggar dan membiarkan seekor anjing memasuki rumahnya, desa kita akan tertimpa musibah besar.” gumamnya. Itu karena kakek moyangnya adalah baginda pembawa ajaran tuhan dari negeri seberang. Dia selalu mengawasi gerak-gerik warga dengan mengunjungi satu-persatu layaknya petugas keamanan. Dia berbadan tambun berambut ikal gelombang yang disisir ke kiri. Dia memiliki wajah kebangsaan asing warisan genetik ayahnya sehingga bila bertemu di tempat luar, dia akan lebih mudah dikenali diantara warga lainnya. Kulitnya seperti sehabis terbakar matahari tengah hari dan hanya menyisakan dua bola matanya yang masih berwarna cerah. Apalagi, kain putih-putih seperti daster selalu dia kenakan kemana pun, termasuk saat mengelola lapaknya di pasar membuatnya lebih mudah lagi untuk ditemukan diantara kerumunan warga.
Suatu pagi, Masayu pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Tidak sampai satu jam, dia sudah mendapatkan semua yang ada di daftar pembeliannya. Dia menenteng tas anyaman berwarna biru telor asin yang berisi barang belanjaan, satu ikat daun kangkung, beberapa ons ikan asin giligan, satu iris terasi dan sejumlah bawang di pagi hari yang cerah di penuhi burung-burung pipit memungut biji-biji yang tercercer di jalanan.
Di tengah perjalanan munuju rumah, tanpa sengaja, Masayu menemukan seekor anjing kecil yang berjan pincang. Di kaki bagian belakang, anjing mungil itu masih mengucur darah segar. Merasa kasihan, ibu tiga anak ini langsung memungutnya. Sambil menenteng tas rajut di tangan kiri, dia menggendong anjing yang sedang tak berdaya itu tanpa pikir panjang. Angin kemarau semilir berhembus.
Tidak cukup lama, karena dekat dengan lapak-lapak pasar, perjalanan Masayu tidak memakan begitu banyak tenaga. Tiba di pelataran rumah, meski apa adanya, bangunan bertembok sulaman bambu itu memiliki pekarangan yang lumayan luas. Beberapa pohon mangga berukuran besar tumbuh meneduhkan. Terutama saat musim kemarau panjang, pohon-pohon raksasa ini cukup membuat nyaman sang empunya rumah.  Masayu meninggalkan anjing malang itu di depan daun pintu, langkahnya seperti orang yang sedang terburu-buru mengejar angkutan kota terakhir di sore hari. Dia bergegas berjalan menuju dapur melewati ruang tengah yang dipenuhi cahaya matahari yang menerobos masuk melalui genteng yang bocor. Menaruh tas bawaanya sekenanya di sekitar meja kayu jati yang mulai keropos di makan rayap.
Masayu mengambil kain bekas bersih yang tergeletak di dekat jendela. Kemudian menuangkan air panas di sebuah mangkuk, lalu menambahnya dengan air dingin. Masayu beberapa kali memastikan air di mangkuk sudah cukup hangat. Dia kembali menutup wadah banyunya. Dan menaruh kembali tremos air di dekat tungku yang penuh dengan abu kayu. Alas di rumah yang hampir masih terbuat dari kayu ini dilapisi separuh tanah separuh batu bata yang disusun rapih.
Beruntung sang anjing masih tengkurup tak berdaya berada di depan rumah. Masayu pun melanjutkan pertolongannya. Dia membasuh luka di paha anjing berkulit hitam itu. Dia mengoles lap basah dengan air hangat ke sekitar luka, si anjing sempat meronta dan menggonggong pendek. Perlahan bercak darah di tubuh si anjing mulai hilang. Setelah bangun dari duduk bersila, Masayu kemudian membawanya ke dalam rumah, dan membalut perban di kaki si anjing menggunakan kain putih.
Ibu dengan mata seperti rembulan di akhir tanggal ini akhirnya memutuskan untuk memelihara si anjing sampai benar-benar pulih. Ketika ketiga buah hatinya pulang sekolah, mereka terkaget-kaget. Di kampung yang juga mayoritas sampingan warganya beternak babi ini, anjing adalah hewan kelas bawah yang tidak memiliki harga jual dan tidak patut untuk dipelihara.
Awalnya ketiga anak Masayu agak kurang setuju ketika ibu mereka memutuskan untuk merawat anjing malang itu di dalam rumah. Namun, berhari-hari telah berlalu, akhirnya mereka malah ikut memberi pakan si anjing mungil yang sudah mulai pulih itu. Di ajaran mereka, anjing merupakan hewan yang berliur kotor, najis dan hal-hal buruk lainnya, termasuk nasib baik dan jelek.
Masyarakat di dusun ini sudah layaknya seorang nabi ketika membicarakan tentang anjing. Mereka seperti fasih sekali setiap dalil anakan, dalil dasar hingga dalil paling mutakhir tentang kehewanan menurut kitab suci. Suatu waktu, ibu Inong pernah bilang “anjing memang haram, tapi kita tidak mengkonsumsinya kan, nak?”. Dan kalau pun najis, bukankah tuhan sudah memberikan beberapa cara solusi kepada sebagai jalan keluar kita untuk menghilangkan hal yang dianggap negatif tersebut, dia menambahkan. Bukankah tuhan telah mempermudah kita? Kalau kena najis, ya sudah tinggal ikuti cara membersihkannya saja seperti yang ditulis kitab, selesai bukan masalahnya? Ketiga buah hatinya terasa tercerahkan setelah mendengar langsung ucapan itu dari bibir yang tanpa harus bergincu dulu sudah memancarkan warna merah muda agak pucat menggairahkan.
Benar saja, sudah hampir beberapa bulan ibu Wira memelihara hewan berkaki empat itu. Warga yang telah mengetahui kabar tentang peliharaan Masayu, merasa geram namun tidak berani ngomong langsung kepada yang bersangkutan. Kabar ini berseliweran diantara ibu-ibu di pasar. Tidak sedikit yang kesal tidak jelas dan mengeluarkan serapahnya. Dan lainnya saling menimpali bersambungan. Masayu yang sudah mendengar kabar tersebut hanya diam saja dan tidak memberikan banyak respon atas tanggapan warga kepadanya. Sekali duakali dia mendapatkan tatapan sinis dari pedagang ketika pergi ke pasar. Bahkan saat menuju ke lapak milik Pak Dongki, janda kembang soka ini malah ditolak mentah-mentah. Dia hanya diperkenankan membeli di toko paling lengkap di pasar itu bila telah membuang anjing itu ke tengah bukit di barat kampung.
“Yasudah tidak apa-apa, Pak. Saya tidak jadi beli saja.” ucapnya polos.
Berani betul perempuan ini, pikir sang pelapak. Tidak ambil hati, Masayu hanya pergi berlalu mengabaikan lelaki jangkung itu. Tidak ambil pusing, dia pikir masih ada ubi siap panen di pekarangan rumahnya yang bisa dia masak selain beras yang tidak jadi dia dapatkan di toko putra pemuka agama tersebut.
Saat tiba di rumah, perempuan yang memiliki tangan besi ini berjalan kaki menuju halaman belakangan dan memotong beberapa pohon ubi boled. Dia memisahkan batang dan daunnya, lalu mengangkat akar yang sudah siap rebus itu dengan tenaga seorang perempuan tidak biasa. Hanya butuh sepuluh detikan saja untuk menarik keluar akar-akar yang telah tertancap beberapa bulan di bawah tanah bagi Masayu.
Beberapa daun singkong itu dia masak sendiri. Sebagian lainnya dia jual ke tetangga. Dia membuat tumis sambal hijau daun singkong dan rebusan akar padatnya dicampur dengan irisan bawang merah yang masih tersisa bekas bumbu masakan hari sebelumnya. Ketiga buah hati Masayu tiba di rumah tidak lama setelah olahan-olahannya masak. Hidangan alakadarnya itu tersaji masih hangat di meja yang salah satu kakiknya diganjal batu bata. Wajah-wajah beringas sehabis menelan bangku sekolah pun tak peduli dengan makanan apa yang ada dihadapannya. Masakan Masayu siang itu memang beraroma nikmat sekali. Siapa saja yang sempat mencium dan menikmatinya pasti akan ketagihan, apalagi saat perut sedang kosong.
Saat jam makan bersama ala keluarga proletar ini berlangsung, sang ibu bercerita, mengapa mereka tidak pernah bisa membeli sepotong daging babi pun selama umur hidup, semenjak ayah mereka masih ada. Bukan karena tidak mampu, melainkan Masayu dan Bagor, berkomitmen untuk tidak menyempatkan diri untuk membeli daging hewan ternak itu. Konsistensi yang aneh bagi warga di daerah ini dimana warga lain menganggap babi sebagai makanan mewah.
Babi adalah hewan ternak yang bernilai jual paling mahal. Babi mudah gemuk akibat pola makannya yang gila-gilaan. Hewan dengan khas hidung rata ini memiliki kebiasaan sangat buruk. Disaat sang majikannya telat memberi pakan dan si babi sedang kelaparan, dia bisa melumat sisa kotorannya sendiri tanpa basa-basi. Ketiga jagoan Masayu pun agak mual ketika mendengar penjelasan tentang hewan yang suka berkubang ini. Ya, meski kampung ini penghasil babi terbaik dan terbanyak di seluruh negeri, Inong merasa bangga dirinya belum pernah sekali pun mencicipi hasil olahan babi dalam bentuk apapun. Begitu juga Wira dan Shinta.
Tekanan datang dari para tetangga. Namun mereka kurang berani berterus terang dan hanya menyampaikannya ke Pak Dongki yang telah dianggap memiliki derajat sebagai pamong desa yang bisa merangkul warganya. Tetap saja usaha warga tidak begitu ditanggapi serius. Penduduk kampung akhirnya turun tangan. Orang tua Shinta semakin mendapat ancaman dari warga ketika sekitar hampir satu minggu terakhir si anjing yang mereka pelihara menggonggong di tengah malam. Entah dengan dasar alasan apa sejauh ini para warga telah memberikan keringanan dan membiarkan salah seorang warga di kampung untuk memiliki seekor anjing di rumahnya.
Rupanya desas-desus tersebut telah memberi kesan di mata warga bahwa keluarga yang tinggal di pinggir jalan utama namun agak jauh dari tetangga ini sedang menjalani ritual setan. Beberapa warga kemudian saling melempar kecurigaan. Janda tiga anak ini dianggap sedang melakukan ritual gelap memuja setan, dengan anjing sebagai syaratnya.
Masayu, meski hidup dalam keadaan yang kurang terpenuhi, dia masih memiliki akal sehat. Jadi bukanlah seorang Masayu bila hendak memuja selain tuhannya untuk meminta yang tidak-tidak. Sekalipun dalam keadaan perut benar-benar kosong, dia tidak pernah memperlihatkan kecemasan akan hari esok kepada buah hatinya. Dia yakin akan tetap bisa menghadapinya.
Hingga pada suatu malam, di titik kekesalan warga paling tinggi, beberapa orang mengawasi rumah yang hanya diterangi oleh lampu minyak. Dan ya, tepat saat tengah malam tiba, si anjing tak henti-hentinya menggonggong. Darmin, Mukaim dan satu orang liannya berjalan pelan-pelan mengamati keadaan. Masayu masih tertidur di dipan kayu bersama sang putri semata wayangnya, namun dia sadar ada beberapa orang yang sedang berada di luar rumahnya. Apalagi suara gonggongan anjing yang semakin keras. Berharap tidak membangunkan putrinya, Masayu bangkit dengan sangat hati-hati.
Masayu melihat orang-orang itu berbicara sambil berbisik dari lubang dinding yang bolong-bolong. Suaranya seperti angin kentut yang ditahan-tahan tapi keluar juga akhirnya. Si janda mencoba mencuri dengar namun tak dapat satu pun informasi yang dia ingin.
Di rumah Pak Dongki, meski sudah bertembok batu dan semen, jendela mereka masih terbuat dari kayu. Seseorang sedang berusaha mencoba membuka engsel jendela itu dengan paksa. Kerumunan babi yang di pelihara Pak Dongki, membuat suara congkelan pria yang wajahnya ditutupi kain itu tungkul mengasah otak mengulir baut. Namun suara anjing milik janda dekat lapaknya cukup nyaring terdengar hingga ke dalam kamar mahalnya. Dan benar saja, tidak lama kemudian, karena suara anjing menggonggong semakin jelas terdengar, membangunkan lelap sang majikan lanang. Istri pak Dongki, yang sudah pergi haji, masih kebluk tidur keturon di dipan per.
Karena merasa terganggu, Pak Dongki memperbaiki posisi sarung, bangun dan bergegas meninggalkan kamarnya. Belum sampai di pintu keluar, di ruang tengah, Pak Dongki menemukan seseorang sedang mengobrak-abrik rumahnya. Seketika, lelaki berkumis tebal itupun langsung panik teriak. Beberapa warga yang sedang mengamati rumah janda beranak tiga dan tidak jauh dari rumah juragan lapak di pasar langsung menghampiri. Malam itu cukup cerah menuju pukul satu dini hari. Rembulan tinggal separuh nanar menyala di langit barat. Bintang-bintang bergaris terhampar di sepanjang langit timur-selatan.

Di sore hari berikutnya, amis samudra Hindia bertaburan memenuhi daratan sekitar tempat pelelangan ikan sedang matahari menuju rumahnya yang kuning karatan. Beberapa hari setelah kejadian kemalingan pak Dongki, hampir setiap rumah warga memiliki anjing sebagai peliharaan. Tidak kelewatan, termasuk salah satu tempat ibadah terbesar di kampung terpencil ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...