![]() |
| ID Card & Booklet |
Bulan Mei, saya menyelesaikan seminar tugas akhir. Di
bulan Agustus di tahun yang sama, semester berikutnya akhirnya saya baru bisa
benar-benar menyelesaikan dengan pasti sidang tugas akhir. Meski masih ada
beberapa revisi minor di beberapa halaman. Saya harus membaca novel yang sedang
saya teliti dua tigakali bolak balik bahkan sudah dimulai setahun sebelumnya.
Kata seorang teman, saya terlalu ngoyoh. Masa bodoh, saya punya target dalam
hati bergumam. Ditambah dengan teori yang merupakan masih dalam kategori “baru”
di kampus. Untuk mencari referensinya lumayan bikin kepala pening. Beruntung,
dosen pembimbing saya saat itu berbagi beberapa koleksi buku pribadinya.
Terbantulah diri ini.
September, seorang teman sekampus yang biasa ngopi bareng berbagi informasi tentang acara
tahunan tentang penulis dan pembaca yang diadakan di Bali. Kebetulan salah satu
narasumber di acara tersebut adala seorang penulis yang menuangkan idenya
sebagai buku yang saya jadikan objek penelitian. Kesempatan! Ketemu sama
penulis buku yang saya garap sebagai bahan baku skripsi. Gimana ya reaksinya
kalau kuberi satu bundel skripsi yang sudah layak, minimal masuk ke rak buku
perpustakaan. Ah tulisan saya yang terlalu sederhana membuat saya sempat mengurungkan
niat ini.
Lagi-lagi, masa bodohlah. Mau dibaca kek, mau ngga. Yang
penting saya sudah memberanikan diri untuk mengapresiasi karya orang lain. Saya
memasukkan rencana ini sebagai salah satu agenda bila di bulan Oktober nanti
ketemu sama belio.
Bertemu orang ini bukanlah perkara mudah. Rencana awal
saya akan melakukannya dengan cara backpacker. Perhitungan ongkos dan moda
transportasi yang akan saya gunakan sudah tercatat rapih dalam buku saku.
Beruntungnya, di bulan September kerja sampingan sebagai freelance di EO
lagi lumayan banyak, jadi saya bisa menabung.
Berdasarkan pengalaman ke
Lombok, saya jadi sedikit tahu informasi harga akomodasi dan tiket penyebrangan
ke arah Bali. Seperti biasa kalau kemana-mana menikmati perjalanan sendirian
ala backpackeran, atau minimal berdua lah. Waktu itu masih ada kereta sore seharga Rp.8.000 dari Jember ke Banyuwangi, kereta Pandanwangi. Kemudian disambung nyebrang ke Ketapang-Gilimanuk
Rp.6.000 naik feri. Dan
menggunakan bus sampai terminal Ubung, Denpasar yang sekarang di pindah ke
Terminal Batu Bulan.
Namun rencana diatas urung dilakukan, soalnya, lagi-lagi,
saya mendapat sedikit keberuntungan. Salah satu teman kakak angkatan saya itu
akan mengadakan studi banding fakultas sebelah ke pulau Dewata, dan dia
merupakan ownernya. Saya ditawari bergabung dengannya selama perjalanan
dengan satu syarat. Apa syarat itu? Selama perjalanan saya diminta menjadi tim
dokumentasi, seperti biasa yang saya lakukan saat bekerja di EO. Begitu saya
mengiyakannya, dia meminta saya untuk berkoordinasi dengan rekan-rekannya.
Selama dua minggu sebelum keberangkatan, saya masih mendapat bantuan pemasukan
dari acara-acara yang diadakan di dalam kota.
Di hari H, keberangkatan dilakukan malam hari. Perjalanan
akan berlangsung selama tiga hari. Acara yang akan saya kunjungi diagendakan di
hari kedua dimana saya bisa bertemu dengan si narasumber. Saya masih sempat
menikmati beberapa kunjungan ke beberapa titik di Bali, seperti desa adat
Panglipuran dan danau Beratan Bedugul.
Sepulang dari desa adat itulah, di hari kedua, saya
meminta untuk meninggalkan rombongan bus untuk sehari penuh di pertigaan Patung
Bayi, Gianyar. Saya diturunkan di perempatan dekat toko souvenir. Lalu
melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sambil menggendong ransel berukuran
sedang dan menunggu transportasi umum yang bisa saya tumpangi. Saya jalan kaki
hampir setengah jam dan belum satu pun kendaraan umum yang lewat ke arah lokasi
acara. Teman kampus saya, Agung, yang menjadi salah satu sukarelawan di acara
tersebut mengirim pesan ke kotak masuk menanyakan posisi saya sudah sampai
mana. Saya yang kurang kurang tahu lokasi, ya bilang saja sudah dekat. Setengah
jam kemudian, masih saja saya masih belum menemukan satu pun transportasi umum.
Hari sudah tigaperempat lewat. Suhu udara di daerah yang
saya lalui cukup panas, beruntung hembusan angin hari itu cukup membantu
menyeimbangkan suhu tubuh. Satu jam lebih, saya putuskan berhenti di sebuah
warung untuk mengisi perut dan bertanya kepada sang empunya warung. Ayam goreng
dan sambal Bali menemani obrolan saya dengan si ibu. Belio menjelaskan bahwa
daerah sekitar sini tidak ada transportasi umum yang bisa membawa saya ke
daerah Taman Baca, Ubud. Sial. Sial. Sial.
Setelah melahap habis yang tersaji di sebuah piring dan
menandaskan segelas teh hangat, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan
kaki, lagi. Berkali-kali saya berpapasan dengan wisatawan mancanegara. Yang
lelaki hanya menggunakan celana kolor dan baju singlet dan yang perempuan
kebanyakan lebih terbuka lagi. Well, yah ini Bali. Bagi anda yang isi kepalanya
penuh dengan debu, bisa berbuat yang tidak-tidak. Salah seorang bule malah
sempat menanyakan sebuah alamat kepada saya, sialnya bule itu, saya tidak
mengetahui alamat yang dia tanyakan, dan saya memintanya untuk bertanya ke kios
yang ada di seberang jalan. Dia pun beranjak pergi memakluminya.
Tidak sadar sudah tiga jam saya berjalan kaki, Agung
kembali menanyakan keberadaan saya untuk memastikan dia bisa menjemput saya
untuk tinggal di tempat kontrakannya. Sepanjang perjalanan, banyak toko
souvenir yang memajang kayu ukiran di etalase mereka. Ukiran-ukiran tersebut
hanya di cat plistur, sehingga warna asli kayu lah yang menonjol. Tibalah saya
di sebuah perempatan dengan patung besar sebuah tokoh pewayangan yang sedang
berdiri gagah di atas kereta kencana sambil memecut kudanya. Banyak petugas
polisi yang sedang melakukakan tugas pokoknya, menertibkan yang tidak tertib.
Saya membuka ponsel dan melihat peta om gugel dengan format jpg. Tempat tujuan
yang saya maksud terlihat sangat dekat di layar ponsel mini samsul. Selama menempuh perjalanan dari pertigaan Patung Bayi,
Gianyar sebenarnya bisa ditempuh dengan naik ojek pangkalan dengan membayar
Rp.15.000.
Gobloknya saya saat itu, saya mengira venue acara tidak
begitu jauh, jadi apa salahnya kalau harus berjalan kaki. Sialnya rencana itu
tidak berjalan lancar dan saya harus menempuh jarak hingga kurang lebih 11 Km
(seperti saat mendaki gunung, di setiap langkah saya tersugesti bahwa jaraknya
sudah dekat). Beberapa kali mampir di warung untuk membeli air mineral dan secangkir
kopi. Waktu tempuh kira-kira kurang lebih tiga jam setengah melewati Jln. Raya
Mas, Jln. Pengasekan dan Jln. Raya Ubud. Sempat cuci mata di daerah sekitar
Monkey Forest. Istirahat di lapangan sepak bola Ubud. Lalu melajutkan
perjalanan melalui gang kecil menuju Jln. Arjuna. Hingga sampailah di Jln. Raya
Sanggingan, tempat acara festival berlangsung.
| Diskusi "Beta Maluku: Cahaya dari Timur" |
Acara pertama yang saya saksikan adalah nonton dan bedah
film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku yang diisi langsung oleh sang sutradara,
Glenn Fredly. Acara sore itu, free entry, gratis. Setelah itu musik perlawanan dari Roby
"Navicula" tentang masa
depan petani yang
diusir dari ladang sendiri dan tidak ketinggalan juga tentang alam. Bahkan kampanye penolakan reklamasi pun tidak ketinggalan lantang disuarakan. Sesudah acara selesai, sebenarnya saya akan
(numpang) nginep di penginapan seorang teman yang kebetulan sedang bertugas juga sebagai relawan
di acara Ubud Writers and Readers Festival, Agung.
| Sesi Akustik Robi "Navicula" yang juga menyuarakan gerakan Bali Tolak Reklamasi |
Namun sayang, terlalu rentan kena tambahan biaya dan sang pemilik juga
bakal cuap-cuap akhirnya saya memilih menyusuri jalan sekitaran museum Blanco
dan berharap menemukan penginapan lainnya sesuai. Hari sudah hampir
petang, dan saya belum menemukan satu pun penginapan murah yang kosong. Menyusuri jembatan kayu sekitar Ubud. Memandang restoran mewah ala Eropa yang bikin perut kelabakan. Jalan naik-menurun dikelilingi pohon-pohon
rimbun. Jalanan remang. Ubud sepi. Kalaupun ramai,
hanya dipenuhi oleh bule-bule yang sedang butuh ketenangan batin. Tidak seperti Kuta maupun Legian. Disini lebih
menenangkan. Ya agak mirip-miriplah sama cerita di Eat, Pray & Love.
Sambil ngobrol ini itu bareng Agung, menenteng ransel berisikan
beberapa buku, baju
ganti, kamera SLR dan satu botol air mineral ukuran sedang, secara tak sengaja
pikiran saya melintas
pada sebuah gedung di pinggir jalan. Tanpa
dinyana, sama sekali tidak direncanakan, saya menemukan tempat yang masih layak
untuk jadi tempat tidur semalam selama disini. Yang ga niat, jadinya niat
banget deh akhirnya menjadi gembel semalaman. Setelah duakali memutar jalan dari arah venue acara ke
Jln. Arjuna hingga ke arah venue lagi, dan akhirnya balik lagi. Memastikan benar-benar tidak ada penginapan yang sesuai budget.
Alhasil, bangunan belum jadi ini pun jadi persinggahan yang tepat untuk
istirahat semalam saya. Ya sambil ngobrol sebentar lalu Agung kembali ke
penginapan, saya sibuk mengatur posisi dan tempat untuk berbaring yang tepat
agar tidur menjadi nyenyak. Akhirnya saya putuskan untuk membuka kantong tidur
kepompong sejajar dengan saka bangunan agar terhindar dari terang cahaya lampu
penerangan jalan. beberapa menit berlalu. Saya pun akhirnya terlelap dengan
ransel sebagai bantalan. Pagi
tiba. Tidak kerasa. Agung
sudah sigap di depan gerbang bangunan restoran belum jadi itu dengan satu
bungkus nasi kuning, empat roti rasa durian dan satu botol air mineral ukuran
besar. Agung memastikan saya dalam keadaan baik-baik saja.
“Tenang ae Gung, aku iki wis biasa turu nang gunung.
Rasah khawatir.” Saya
mencoba meyakinkan mahasiswa pertelivisian ini.
“Ancen edan tenan kon, Ron.” Nada khas Agung menimpali.
“Cuma nek umah suwung iki sek pertama kali.”
Ah pagi yang indah. Seorang warga negara asing sedang
melakukan lari pagi ringan. Seorang lagi warga negara asing mengontel sepeda
dengan keranjang di depannya, dengan
semangat meskipun untuk seukuran umurnya, hampir 60an mungkin. Seorang warga
negara asing lagi, berjalan biasa melewati perbincangan pagi kita di badan trotoar jalan disaat
saya tengah menyantap sajian yang disuguhi oleh Agung. Dia cerita, kalau
semalam dia tidak bisa tertidur pulas. Karena memikirkan saya yang tidak-tidak, was-was,
katanya. Maklum disini banyak anjing liar. Tapi selagi kita tak menggoda untuk
bermain-main semua
akanaman pada waktunya. Santap pagi selesai.
Akhirnya kita melanjutkan perjalanan menuju venue acara.
Agung sempat kembali ke penginapan mengambil dompet yang kutitipkan ternyata ketinggalan
di kamarnya. Setibanya di venue, langsung saja menuju loket dan hanya mendapat beberapa informasi acara. Ternyata loket masih
belum dibuka. Masih dalam persiapan. Saya ke toilet. Sekedar cuci muka dan setor
jatah. Padahal ingin mandi. Agung tiba dengan bus carter khusus acara tersebut.
Agung langsung bergabung dengan timnya di Taman Baca. Selagi saya masih menunggu
loket dibuka. pukul 10 pagi waktu setempat, loket akhirnya memulai aktifitasnya. Saya membeli tiket khusus sehari
saja seharga Rp. 50.000 dengan syarat kartu mahasiswa dan kartu identitas,
padahal waktu itu sudah selesai sidang skripsi dan revisi. Haha. Dan saya berhasil mengelabui panitia.
| Eka Kurniawan & Agung |
Acara pertama yang bisa dinikmati dari konsep seperti di Frankfurt, Jerman ini tersedia di berbagai tempat. Audien berhak menentukan sendiri tempat yang ingin ia
nikmati. Saya memilih acara yang diisi oleh Raditya Dika dan Eka Kurniawan
penulis "Cinta Itu Luka" sebagai narasumber di Neka Art Museum.
Berhubung Agung sedang tidak memilki agenda tugas, dia bergabung bersama saya
hingga sesi tanya jawab selesai, karena acara setelah itu di isi oleh Seno
Gumira Ajidarma lumayan menarik perhatian. Dia membahas tentang extremis dan
karya sastra sebagai bentuk konstruksi kepentingan sebuah pihak. Saya mengenal lelaki berambut panjang ini saat duduk di
bangku sekolah menengah. Itu pun karena saya mengambil jurusan bahasa dan sastra.
Cerpen-cerpen dari lelaki yang rambutnya mulai banyak yang memutih ini kemudian
mengajak saya berkenalan dengan karya-karyanya yang lain. Beruntung, seorang
guru sastra Indonesia saat itu sudi berbagi dan meminjamkan koleksinya.
Memasuki pukul 13, saya memilih istirahat sambil
menikmati satu kotak makanan para relawan. Mereka ternyata lebih memilih membeli makanan di restoran. Begitu cerita Agung. Tentunya bagi relawan asing yang kurang begitu hobi makan nasi. Padahal
menu yang disajikan sangat istimewa. Ayam goreng, daging stik, telur asin,
sayur, capcay, dan sambel khas Bali tidak lupa kerupuk ikan. Ya tuhan, nikmat
mana lagi yang kau dustakan. Makanan gratis. Anak kos perantaun ketemu makanan gratis ala-ala
restoran, sama dengan seorang lelaki kasmaran ketemu sama gadis impian. Cocok
lah.
Oya saya makan di ruang Green
Room di Taman Baca, jadi maklum saat menikmati hidangan tidak sedikit
penulis-penulis besar bersliweran
kesana kemari. Beberapa media nasional juga tidak kalah eksis mewawancarai sang kuasa pemilik ide-ide pena ini. Memasuki pukul 14, saya dan Agung menyempatkan diri untuk menikmati
diskusi tentang krisis identitas yang
dibahas oleh Ayu Utami. Sesi ini digelar di restoran Inka, restoran yang langsung
bersinggungan dengan pemandangan hijau ala alam raya khas Campuhan, sawah dan bukit yang
langsung terhubung dengan birunya warna langit. Udara pun sejuk tanpa perlu repot menambah
pendingin ruangan. Saat setelah selesai acara, ketika menuju
jalan keluar, saya dan Agung bertemu dengan sahabatnya Soe Hok Gie, Aristides
Katoppo.
Awalnya saya sempat salah orang karena kurang-ketidaktahuan terhadap orang yang bernama
Aristides tersebut. Maklum dalam filmnya yang menceritakan perjalanan liku seorang
demonstran itu, perannya tidak begitu mencolok. Agung terus mengingatkan. Meski dengan sedikit malu, akhirnya saya memberanikan diri membuntuti orang itu.
Dia bersama seorang yang lebih muda berjalan menuju lokasi venue berikutnya.
Disaat perjalanan itulah saya memberanikan diri untuk memintanya berswafoto bersama.
Sebenarnya ini adalah hal memalukan bagi saya meminta swafoto hanya untuk
eksistensi. Tapi ya sudahlah, kesempatan tidak datang duakali. Parahnya, yang
saya ajak foto adalah lelaki yang masih muda, dan itu bukan Tides, melainkan
penulis lain. HAHAHA. Gobloknya nggak ketulungan saya ini. Saya sempat tertawa dalam hati menggoblokan diri sendiri. Agung
lagi-lagi mengingatkan. Saya kemudian berbincang sebentar dengan Agung.
Berhubung dia masih ada agenda di venue sekitar Taman Baca, ia bergegas
berlalu. Dan saya mencoba menikmati acara lainnya.
Sedang saya,
kembali ke Neka Art Museum untuk menunggu acara yang menjadi tujuan utama
pribadi. Escaping Home. Tema
utama acara sore itu merupakan
acara yang saya nanti-nanti. Anchee Min yang didaulat sebagai
pembicara merupakan seorang penulis tentang Tiongkok dan
kekentalannya pada era Mao, adalah
juga penulis novel yang saya jadikan bahan obyek skripsi saya. Setelah menunggu
kurang lebih 45 menit, Anchee Min muncul di gerbang pura museum dengan memakai
kaos warna merah muda dan tas hitam harian.
Awalnya saya masih tak percaya kalau itu adalah Min. Nampak sangat berbeda
dengan apa yang di publikasikan di laman utama website dari acara tersebut.
Bila di halaman website Min digambarkan
dengan pakaian merah khas yang
merepresentasikan budaya Tiongkok,
kali ini di saat di depan dia hanya berpakaian ala kadarnya bahkan hanya
seperti pelancong atau pengunjung saja. Untunglah saya bertemu dengan salah salah satu
penggemarnya juga. Dia memastikan bahwa itu adalah Anchee Min. Dan ya saya pun
akhirnya mengakui analisanya. Min langsung menuju Green Room venue acara
tersebut, saya dan salah satu penggemarnya pun ikut menyusul ke belakang ruangan
tersebut. Akhirnya ya benar dia adalah Anchee Min. Senang. Tak percaya. Dan
entahlah apa rasanya waktu itu. Sulit menemukan kata-kata untuk
mengungkapkannya. Tidak ketinggalan buku versi bahasa Indonesia milik Feny pun
jadi sasaran berikutnya untuk ditandatangani olehnya.
| Anchee Min dan suaya |
Saya meluangkan waktu untuk mengikuti sesi yang belio isi. Dan saat itu
Min membahas tentang krisis identitas orang-orang khususnya di Asia-Pasifik, sebagai subjek utamanya. Tentang orang-orang Asia dengan
keAsiannya yang perlahan pudar oleh perkembangan budaya barat (Eropa dan USA).
Teknologi yang memudahkan jangkauan komunitas harusnya dimaknai sebagai
penghargaan diri kepada budaya dan bangsa sendiri, bukan malah memalingkan
wajah dengan budaya nenek moyang. Begitu kurang lebih apa yang ingin
disampaikan oleh Min kepada audien sore itu.
Setelah hampir satu jam, sesi Min berakhir. Agung pun
menghampiri venue dimana saya bisa bertemu dengan pengarang buku yang saya buat
sebagai objek riset skripsi. Agung kembali mengajak saya menikmati santap malam
di sore hari. Jam makan kami sedikit mirip bule. Namun masih dengan menu utama nasi kotak. Belum
sempat kosong benar, perut ini sudah terisi kembali. Nikmat betul memang.
Setelah makan sambil ngobrol-ngobrol pengalaman konyol seharian ini, saya
menanyakan kendaraan yang bisa menghantar saya ke tempat rekan-rekan yang
sedang menjalani studi banding menginap. Untuk transportasi umum, Agung tidak
menemukan satu pun. Kemudian satu solusi muncul saat Agung menawarkan saya
menggunakan ojek onlen (ocol). Transportasi umum juga sih ujung-ujungnya, cuma kemasannya agak ekslusif dengan menggunakan teknologi pintar.
Ponsel saya yang masih kurang mumpuni, alhasil Agung lah
yang memesankan saya satu bangku kosong sebuah kuda besi ocol. Beberapa menit,
sang pengemudi tiba di muka menghampiri saya. Saat itu kami makan malam di
teras dekat booth penjualan pernak-pernik aksesoris acara. Jadi mudah
sekali untuk ditemukan. Saya pamit ke Agung dan tidak lupa mengucapkan banyak
terima kasih atas bantuannya.
“Suwun Gung, Sampe ketemu nang kampus.”
Kami menyusuri pertigaan museum Blanco yang terkenal itu.
Melewati beberapa pohon yang menyerupai goa lalu persawahan dan pura batu
mulia. Selama perjalanan, saya mengajak sang juru mudi berbincang-bincang
tentang Bali. Entah kadang ada beberapa kalimat yang tidak saya mengerti, namun
karena logat Bali yang khas membuat saya tetap melanjutkan perbincangan. Udara
sore mulai dingin. Saya tiba di terminal shuttle bus Sarbagita yang akan saya naiki menuju hotel di sekitar
Denpasar. Perjalanan dari Ubud ke Denpasar waktu itu memakan waktu hampir tiga
jam. Ini karena faktor kemacetan dan transit bus yag masih agak nakal. Ya,
untuk soal harga, kendaraan ini sangat bersahabat. Cuma Rp. 3500, dan saya tiba di sebuah perempatan yang tidak jauh dari hotel rombongan.
Saya tiba di hotel sekitar pukul 18.40an. Berhubung
rekan-rekan yang sedang studi banding belum sampai, saya menunggu di minimarket
depan hotel sambil menikmati satu botol kopi kemasan dan keripik jagung. Saat
tengah duduk di bangku gazebo, seorang menghampiri saya dan mengajak ngobrol.
Dia memperkenalkan diri, saya juga kemudian. Ternyata di tengah obrolan dia
mengaku sebagai salah satu anggota kepolisian yang sedang bertugas. Melihat
penampilan saya dengan ransel dan sedikit berantakan, adalah alasannya menghampiri
saya, sempat dicurai yang tidak-tidak wkwkwk. Namun karena saya memang tidak bermaksud apa-apa, setelah memberi kartu
identitas kepadanya, saya malah diajak berbincang obrolan ringan, juga ngopi di
kafe yang letaknya tidak jauh dari hotel. Namun saya menolak dengan alasan
sedang menunggu rekan-rekan, dia pun akhirnya memutuskan kembali ke
pekerjaannya.
| penyakit narsisus |
Saya menginap di hotel setelah beberapa rombongan bus
terparkir di depan muka hotel, bergabung bersama tim travel kembali. Saya masih
beberapa hari di Bali setelahnya untuk mendokumentasikan rombongan mahasiswa
yang sedang studi banding ini ke beberapa tempat tersisa. Setiap perjalanan
pasti menguras tenaga, namun gunakan tenaga itu untuk hal-hal yang positif
saja.
Tour studi banding selesai. Acara penulis dan pembaca buku di Ubud juga selesai.
Saya bertemu dengan Agung kembali di kampus, sambil ngopi
pagi di kantin baru.
Jember, 2015

Komentar
Posting Komentar