Langsung ke konten utama

Ngubud Ubud

ID Card & Booklet

Bulan Mei, saya menyelesaikan seminar tugas akhir. Di bulan Agustus di tahun yang sama, semester berikutnya akhirnya saya baru bisa benar-benar menyelesaikan dengan pasti sidang tugas akhir. Meski masih ada beberapa revisi minor di beberapa halaman. Saya harus membaca novel yang sedang saya teliti dua tigakali bolak balik bahkan sudah dimulai setahun sebelumnya. Kata seorang teman, saya terlalu ngoyoh. Masa bodoh, saya punya target dalam hati bergumam. Ditambah dengan teori yang merupakan masih dalam kategori “baru” di kampus. Untuk mencari referensinya lumayan bikin kepala pening. Beruntung, dosen pembimbing saya saat itu berbagi beberapa koleksi buku pribadinya. Terbantulah diri ini.
September, seorang teman sekampus yang biasa ngopi bareng berbagi informasi tentang acara tahunan tentang penulis dan pembaca yang diadakan di Bali. Kebetulan salah satu narasumber di acara tersebut adala seorang penulis yang menuangkan idenya sebagai buku yang saya jadikan objek penelitian. Kesempatan! Ketemu sama penulis buku yang saya garap sebagai bahan baku skripsi. Gimana ya reaksinya kalau kuberi satu bundel skripsi yang sudah layak, minimal masuk ke rak buku perpustakaan. Ah tulisan saya yang terlalu sederhana membuat saya sempat mengurungkan niat ini.
Lagi-lagi, masa bodohlah. Mau dibaca kek, mau ngga. Yang penting saya sudah memberanikan diri untuk mengapresiasi karya orang lain. Saya memasukkan rencana ini sebagai salah satu agenda bila di bulan Oktober nanti ketemu sama belio.
Bertemu orang ini bukanlah perkara mudah. Rencana awal saya akan melakukannya dengan cara backpacker. Perhitungan ongkos dan moda transportasi yang akan saya gunakan sudah tercatat rapih dalam buku saku. Beruntungnya, di bulan September kerja sampingan sebagai freelance di EO lagi lumayan banyak, jadi saya bisa menabung.
Berdasarkan pengalaman ke Lombok, saya jadi sedikit tahu informasi harga akomodasi dan tiket penyebrangan ke arah Bali. Seperti biasa kalau kemana-mana menikmati perjalanan sendirian ala backpackeran, atau minimal berdua lah. Waktu itu masih ada kereta sore seharga Rp.8.000 dari Jember ke Banyuwangi, kereta Pandanwangi. Kemudian disambung nyebrang ke Ketapang-Gilimanuk Rp.6.000 naik feri. Dan menggunakan bus sampai terminal Ubung, Denpasar yang sekarang di pindah ke Terminal Batu Bulan.
Namun rencana diatas urung dilakukan, soalnya, lagi-lagi, saya mendapat sedikit keberuntungan. Salah satu teman kakak angkatan saya itu akan mengadakan studi banding fakultas sebelah ke pulau Dewata, dan dia merupakan ownernya. Saya ditawari bergabung dengannya selama perjalanan dengan satu syarat. Apa syarat itu? Selama perjalanan saya diminta menjadi tim dokumentasi, seperti biasa yang saya lakukan saat bekerja di EO. Begitu saya mengiyakannya, dia meminta saya untuk berkoordinasi dengan rekan-rekannya. Selama dua minggu sebelum keberangkatan, saya masih mendapat bantuan pemasukan dari acara-acara yang diadakan di dalam kota.
Di hari H, keberangkatan dilakukan malam hari. Perjalanan akan berlangsung selama tiga hari. Acara yang akan saya kunjungi diagendakan di hari kedua dimana saya bisa bertemu dengan si narasumber. Saya masih sempat menikmati beberapa kunjungan ke beberapa titik di Bali, seperti desa adat Panglipuran dan danau Beratan Bedugul.
Sepulang dari desa adat itulah, di hari kedua, saya meminta untuk meninggalkan rombongan bus untuk sehari penuh di pertigaan Patung Bayi, Gianyar. Saya diturunkan di perempatan dekat toko souvenir. Lalu melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sambil menggendong ransel berukuran sedang dan menunggu transportasi umum yang bisa saya tumpangi. Saya jalan kaki hampir setengah jam dan belum satu pun kendaraan umum yang lewat ke arah lokasi acara. Teman kampus saya, Agung, yang menjadi salah satu sukarelawan di acara tersebut mengirim pesan ke kotak masuk menanyakan posisi saya sudah sampai mana. Saya yang kurang kurang tahu lokasi, ya bilang saja sudah dekat. Setengah jam kemudian, masih saja saya masih belum menemukan satu pun transportasi umum.
Hari sudah tigaperempat lewat. Suhu udara di daerah yang saya lalui cukup panas, beruntung hembusan angin hari itu cukup membantu menyeimbangkan suhu tubuh. Satu jam lebih, saya putuskan berhenti di sebuah warung untuk mengisi perut dan bertanya kepada sang empunya warung. Ayam goreng dan sambal Bali menemani obrolan saya dengan si ibu. Belio menjelaskan bahwa daerah sekitar sini tidak ada transportasi umum yang bisa membawa saya ke daerah Taman Baca, Ubud. Sial. Sial. Sial.
Setelah melahap habis yang tersaji di sebuah piring dan menandaskan segelas teh hangat, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, lagi. Berkali-kali saya berpapasan dengan wisatawan mancanegara. Yang lelaki hanya menggunakan celana kolor dan baju singlet dan yang perempuan kebanyakan lebih terbuka lagi. Well, yah ini Bali. Bagi anda yang isi kepalanya penuh dengan debu, bisa berbuat yang tidak-tidak. Salah seorang bule malah sempat menanyakan sebuah alamat kepada saya, sialnya bule itu, saya tidak mengetahui alamat yang dia tanyakan, dan saya memintanya untuk bertanya ke kios yang ada di seberang jalan. Dia pun beranjak pergi memakluminya.
Tidak sadar sudah tiga jam saya berjalan kaki, Agung kembali menanyakan keberadaan saya untuk memastikan dia bisa menjemput saya untuk tinggal di tempat kontrakannya. Sepanjang perjalanan, banyak toko souvenir yang memajang kayu ukiran di etalase mereka. Ukiran-ukiran tersebut hanya di cat plistur, sehingga warna asli kayu lah yang menonjol. Tibalah saya di sebuah perempatan dengan patung besar sebuah tokoh pewayangan yang sedang berdiri gagah di atas kereta kencana sambil memecut kudanya. Banyak petugas polisi yang sedang melakukakan tugas pokoknya, menertibkan yang tidak tertib. Saya membuka ponsel dan melihat peta om gugel dengan format jpg. Tempat tujuan yang saya maksud terlihat sangat dekat di layar ponsel mini samsul.  Selama menempuh perjalanan dari pertigaan Patung Bayi, Gianyar sebenarnya bisa ditempuh dengan naik ojek pangkalan dengan membayar Rp.15.000.
Gobloknya saya saat itu, saya mengira venue acara tidak begitu jauh, jadi apa salahnya kalau harus berjalan kaki. Sialnya rencana itu tidak berjalan lancar dan saya harus menempuh jarak hingga kurang lebih 11 Km (seperti saat mendaki gunung, di setiap langkah saya tersugesti bahwa jaraknya sudah dekat). Beberapa kali mampir di warung untuk membeli air mineral dan secangkir kopi. Waktu tempuh kira-kira kurang lebih tiga jam setengah melewati Jln. Raya Mas, Jln. Pengasekan dan Jln. Raya Ubud. Sempat cuci mata di daerah sekitar Monkey Forest. Istirahat di lapangan sepak bola Ubud. Lalu melajutkan perjalanan melalui gang kecil menuju Jln. Arjuna. Hingga sampailah di Jln. Raya Sanggingan, tempat acara festival berlangsung.
Diskusi "Beta Maluku: Cahaya dari Timur"
Acara pertama yang  saya saksikan adalah nonton dan bedah film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku yang diisi langsung oleh sang sutradara, Glenn Fredly. Acara sore itu, free entry, gratis. Setelah itu musik perlawanan dari Roby "Navicula" tentang masa depan petani yang diusir dari ladang sendiri dan tidak ketinggalan juga tentang alam. Bahkan kampanye penolakan reklamasi pun tidak ketinggalan lantang disuarakan.  Sesudah acara selesai, sebenarnya saya akan (numpang) nginep di penginapan seorang teman yang kebetulan sedang bertugas juga sebagai relawan di acara Ubud Writers and Readers Festival, Agung.
Sesi Akustik Robi "Navicula" yang juga menyuarakan gerakan Bali Tolak Reklamasi
Namun sayang, terlalu rentan kena tambahan biaya dan sang pemilik juga bakal cuap-cuap akhirnya saya memilih menyusuri jalan sekitaran museum Blanco dan berharap menemukan penginapan lainnya sesuai. Hari sudah hampir petang, dan saya belum menemukan satu pun penginapan murah yang kosong. Menyusuri jembatan kayu sekitar Ubud. Memandang restoran mewah ala Eropa yang bikin perut kelabakan. Jalan naik-menurun dikelilingi pohon-pohon rimbun. Jalanan remang. Ubud sepi. Kalaupun ramai, hanya dipenuhi oleh bule-bule yang sedang butuh ketenangan batin. Tidak seperti Kuta maupun Legian. Disini lebih menenangkan. Ya agak mirip-miriplah sama cerita di Eat, Pray & Love.
Sambil ngobrol ini itu bareng Agung, menenteng ransel berisikan beberapa buku, baju ganti, kamera SLR dan satu botol air mineral ukuran sedang, secara tak sengaja pikiran saya melintas pada sebuah gedung di pinggir jalan. Tanpa dinyana, sama sekali tidak direncanakan, saya menemukan tempat yang masih layak untuk jadi tempat tidur semalam selama disini. Yang ga niat, jadinya niat banget deh akhirnya menjadi gembel semalaman. Setelah duakali memutar jalan dari arah venue acara ke Jln. Arjuna hingga ke arah venue lagi, dan akhirnya balik lagi. Memastikan benar-benar tidak ada penginapan yang sesuai budget. Alhasil, bangunan belum jadi ini pun jadi persinggahan yang tepat untuk istirahat semalam saya. Ya sambil ngobrol sebentar lalu Agung kembali ke penginapan, saya sibuk mengatur posisi dan tempat untuk berbaring yang tepat agar tidur menjadi nyenyak. Akhirnya saya putuskan untuk membuka kantong tidur kepompong sejajar dengan saka bangunan agar terhindar dari terang cahaya lampu penerangan jalan. beberapa menit berlalu. Saya pun akhirnya terlelap dengan ransel sebagai bantalan. Pagi tiba. Tidak kerasa. Agung sudah sigap di depan gerbang bangunan restoran belum jadi itu dengan satu bungkus nasi kuning, empat roti rasa durian dan satu botol air mineral ukuran besar. Agung memastikan saya dalam keadaan baik-baik saja.
“Tenang ae Gung, aku iki wis biasa turu nang gunung. Rasah khawatir.” Saya mencoba meyakinkan mahasiswa pertelivisian ini.
“Ancen edan tenan kon, Ron.” Nada khas Agung menimpali.
“Cuma nek umah suwung iki sek pertama kali.”
Ah pagi yang indah. Seorang warga negara asing sedang melakukan lari pagi ringan. Seorang lagi warga negara asing mengontel sepeda dengan keranjang di depannya, dengan semangat meskipun untuk seukuran umurnya, hampir 60an mungkin. Seorang warga negara asing lagi, berjalan biasa melewati perbincangan pagi kita di badan trotoar jalan disaat saya tengah menyantap sajian yang disuguhi oleh Agung. Dia cerita, kalau semalam dia tidak bisa tertidur pulas. Karena memikirkan saya yang tidak-tidak, was-was, katanya. Maklum disini banyak anjing liar. Tapi selagi kita tak menggoda untuk bermain-main semua akanaman pada waktunya. Santap pagi selesai.
Akhirnya kita melanjutkan perjalanan menuju venue acara. Agung sempat kembali ke penginapan mengambil dompet yang kutitipkan ternyata ketinggalan di kamarnya. Setibanya di venue, langsung saja menuju loket dan hanya mendapat beberapa informasi acara. Ternyata loket masih belum dibuka. Masih dalam persiapan. Saya ke toilet. Sekedar cuci muka dan setor jatah. Padahal ingin mandi. Agung tiba dengan bus carter khusus acara tersebut. Agung langsung bergabung dengan timnya di Taman Baca. Selagi saya masih menunggu loket dibuka. pukul 10 pagi waktu setempat, loket akhirnya memulai aktifitasnya. Saya membeli tiket khusus sehari saja seharga Rp. 50.000 dengan syarat kartu mahasiswa dan kartu identitas, padahal waktu itu sudah selesai sidang skripsi dan revisi. Haha. Dan saya berhasil mengelabui panitia.
Eka Kurniawan & Agung
Acara pertama yang bisa dinikmati dari konsep seperti di Frankfurt, Jerman ini tersedia di berbagai tempat. Audien berhak menentukan sendiri tempat yang ingin ia nikmati. Saya memilih acara yang diisi oleh Raditya Dika dan Eka Kurniawan penulis "Cinta Itu Luka" sebagai narasumber di Neka Art Museum. Berhubung Agung sedang tidak memilki agenda tugas, dia bergabung bersama saya hingga sesi tanya jawab selesai, karena acara setelah itu di isi oleh Seno Gumira Ajidarma lumayan menarik perhatian. Dia membahas tentang extremis dan karya sastra sebagai bentuk konstruksi kepentingan sebuah pihak. Saya mengenal lelaki berambut panjang ini saat duduk di bangku sekolah menengah. Itu pun karena saya mengambil jurusan bahasa dan sastra. Cerpen-cerpen dari lelaki yang rambutnya mulai banyak yang memutih ini kemudian mengajak saya berkenalan dengan karya-karyanya yang lain. Beruntung, seorang guru sastra Indonesia saat itu sudi berbagi dan meminjamkan koleksinya.
Memasuki pukul 13, saya memilih istirahat sambil menikmati satu kotak makanan para relawan. Mereka ternyata lebih memilih membeli makanan di restoran. Begitu cerita Agung. Tentunya bagi relawan asing yang kurang begitu hobi makan nasi. Padahal menu yang disajikan sangat istimewa. Ayam goreng, daging stik, telur asin, sayur, capcay, dan sambel khas Bali tidak lupa kerupuk ikan. Ya tuhan, nikmat mana lagi yang kau dustakan. Makanan gratis. Anak kos perantaun ketemu makanan gratis ala-ala restoran, sama dengan seorang lelaki kasmaran ketemu sama gadis impian. Cocok lah.
Oya saya makan di ruang Green Room di Taman Baca, jadi maklum saat menikmati hidangan tidak sedikit penulis-penulis besar bersliweran kesana kemari. Beberapa media nasional juga tidak kalah eksis mewawancarai sang kuasa pemilik ide-ide pena ini. Memasuki pukul 14, saya dan Agung menyempatkan diri untuk menikmati diskusi tentang krisis identitas yang dibahas oleh Ayu Utami. Sesi ini digelar di restoran Inka, restoran yang langsung bersinggungan dengan pemandangan hijau ala alam raya khas Campuhan, sawah dan bukit yang langsung terhubung dengan birunya warna langit. Udara pun sejuk tanpa perlu repot menambah pendingin ruangan. Saat setelah selesai acara, ketika menuju jalan keluar, saya dan Agung bertemu dengan sahabatnya Soe Hok Gie, Aristides Katoppo.
Awalnya saya sempat salah orang karena kurang-ketidaktahuan terhadap orang yang bernama Aristides tersebut. Maklum dalam filmnya yang menceritakan perjalanan liku seorang demonstran itu, perannya tidak begitu mencolok. Agung terus mengingatkan. Meski dengan sedikit malu, akhirnya saya memberanikan diri membuntuti orang itu. Dia bersama seorang yang lebih muda berjalan menuju lokasi venue berikutnya. Disaat perjalanan itulah saya memberanikan diri untuk memintanya berswafoto bersama. Sebenarnya ini adalah hal memalukan bagi saya meminta swafoto hanya untuk eksistensi. Tapi ya sudahlah, kesempatan tidak datang duakali. Parahnya, yang saya ajak foto adalah lelaki yang masih muda, dan itu bukan Tides, melainkan penulis lain. HAHAHA. Gobloknya nggak ketulungan saya ini. Saya sempat tertawa dalam hati menggoblokan diri sendiri. Agung lagi-lagi mengingatkan. Saya kemudian berbincang sebentar dengan Agung. Berhubung dia masih ada agenda di venue sekitar Taman Baca, ia bergegas berlalu. Dan saya mencoba menikmati acara lainnya.
Sedang saya, kembali ke Neka Art Museum untuk menunggu acara yang menjadi tujuan utama pribadi. Escaping Home. Tema utama acara sore itu merupakan acara yang saya nanti-nanti. Anchee Min yang didaulat sebagai pembicara merupakan seorang penulis tentang Tiongkok dan kekentalannya pada era Mao, adalah juga penulis novel yang saya jadikan bahan obyek skripsi saya. Setelah menunggu kurang lebih 45 menit, Anchee Min muncul di gerbang pura museum dengan memakai kaos warna merah muda dan tas hitam harian.
Awalnya saya masih tak percaya kalau itu adalah Min. Nampak sangat berbeda dengan apa yang di publikasikan di laman utama website dari acara tersebut. Bila di halaman website Min digambarkan dengan pakaian merah khas yang merepresentasikan budaya Tiongkok, kali ini di saat di depan dia hanya berpakaian ala kadarnya bahkan hanya seperti pelancong atau pengunjung saja. Untunglah saya bertemu dengan salah salah satu penggemarnya juga. Dia memastikan bahwa itu adalah Anchee Min. Dan ya saya pun akhirnya mengakui analisanya. Min langsung menuju Green Room venue acara tersebut, saya dan salah satu penggemarnya pun ikut menyusul ke belakang ruangan tersebut. Akhirnya ya benar dia adalah Anchee Min. Senang. Tak percaya. Dan entahlah apa rasanya waktu itu. Sulit menemukan kata-kata untuk mengungkapkannya. Tidak ketinggalan buku versi bahasa Indonesia milik Feny pun jadi sasaran berikutnya untuk ditandatangani olehnya.
Anchee Min dan suaya
Saya meluangkan waktu untuk mengikuti sesi yang belio isi. Dan saat itu Min membahas tentang krisis identitas orang-orang khususnya di Asia-Pasifik, sebagai subjek utamanya. Tentang orang-orang Asia dengan keAsiannya yang perlahan pudar oleh perkembangan budaya barat (Eropa dan USA). Teknologi yang memudahkan jangkauan komunitas harusnya dimaknai sebagai penghargaan diri kepada budaya dan bangsa sendiri, bukan malah memalingkan wajah dengan budaya nenek moyang. Begitu kurang lebih apa yang ingin disampaikan oleh Min kepada audien sore itu.
Setelah hampir satu jam, sesi Min berakhir. Agung pun menghampiri venue dimana saya bisa bertemu dengan pengarang buku yang saya buat sebagai objek riset skripsi. Agung kembali mengajak saya menikmati santap malam di sore hari. Jam makan kami sedikit mirip bule. Namun masih dengan menu utama nasi kotak. Belum sempat kosong benar, perut ini sudah terisi kembali. Nikmat betul memang. Setelah makan sambil ngobrol-ngobrol pengalaman konyol seharian ini, saya menanyakan kendaraan yang bisa menghantar saya ke tempat rekan-rekan yang sedang menjalani studi banding menginap. Untuk transportasi umum, Agung tidak menemukan satu pun. Kemudian satu solusi muncul saat Agung menawarkan saya menggunakan ojek onlen (ocol). Transportasi umum juga sih ujung-ujungnya, cuma kemasannya agak ekslusif dengan menggunakan teknologi pintar.
Ponsel saya yang masih kurang mumpuni, alhasil Agung lah yang memesankan saya satu bangku kosong sebuah kuda besi ocol. Beberapa menit, sang pengemudi tiba di muka menghampiri saya. Saat itu kami makan malam di teras dekat booth penjualan pernak-pernik aksesoris acara. Jadi mudah sekali untuk ditemukan. Saya pamit ke Agung dan tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya.
“Suwun Gung, Sampe ketemu nang kampus.”
Kami menyusuri pertigaan museum Blanco yang terkenal itu. Melewati beberapa pohon yang menyerupai goa lalu persawahan dan pura batu mulia. Selama perjalanan, saya mengajak sang juru mudi berbincang-bincang tentang Bali. Entah kadang ada beberapa kalimat yang tidak saya mengerti, namun karena logat Bali yang khas membuat saya tetap melanjutkan perbincangan. Udara sore mulai dingin. Saya tiba di terminal shuttle bus Sarbagita yang akan saya naiki menuju hotel di sekitar Denpasar. Perjalanan dari Ubud ke Denpasar waktu itu memakan waktu hampir tiga jam. Ini karena faktor kemacetan dan transit bus yag masih agak nakal. Ya, untuk soal harga, kendaraan ini sangat bersahabat. Cuma Rp. 3500, dan saya tiba di sebuah perempatan yang tidak jauh dari hotel rombongan.
Saya tiba di hotel sekitar pukul 18.40an. Berhubung rekan-rekan yang sedang studi banding belum sampai, saya menunggu di minimarket depan hotel sambil menikmati satu botol kopi kemasan dan keripik jagung. Saat tengah duduk di bangku gazebo, seorang menghampiri saya dan mengajak ngobrol. Dia memperkenalkan diri, saya juga kemudian. Ternyata di tengah obrolan dia mengaku sebagai salah satu anggota kepolisian yang sedang bertugas. Melihat penampilan saya dengan ransel dan sedikit berantakan, adalah alasannya menghampiri saya, sempat dicurai yang tidak-tidak wkwkwk. Namun karena saya memang tidak bermaksud apa-apa, setelah memberi kartu identitas kepadanya, saya malah diajak berbincang obrolan ringan, juga ngopi di kafe yang letaknya tidak jauh dari hotel. Namun saya menolak dengan alasan sedang menunggu rekan-rekan, dia pun akhirnya memutuskan kembali ke pekerjaannya.
penyakit narsisus
Saya menginap di hotel setelah beberapa rombongan bus terparkir di depan muka hotel, bergabung bersama tim travel kembali. Saya masih beberapa hari di Bali setelahnya untuk mendokumentasikan rombongan mahasiswa yang sedang studi banding ini ke beberapa tempat tersisa. Setiap perjalanan pasti menguras tenaga, namun gunakan tenaga itu untuk hal-hal yang positif saja.
Tour studi banding selesai. Acara penulis dan pembaca buku di Ubud juga selesai.     

Saya bertemu dengan Agung kembali di kampus, sambil ngopi pagi di kantin baru.




Jember, 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...