“Jangan pernah berpikir kalau di warung kopi ini seperti kafe atau
kedai lainnya di dalam film roman yang menyajikan drama melankoli. Hal-hal
seperti itu kurang laku disini.” Ucapnya agak ketus sambil entah sedang sibuk
membuat apa di sebelah kabinet kecil.
“Tidak. Kamu yang berpikir
begitu.” Balasku.
“Baguslah.
Sekarang minumlah ini. Paling tidak tubuhmu akan merasa lebih baik dan tidak
kedinginan.”
Masih
saja ketus.
“Alkohol?”
Aku penasaran.
“Totally
not. Coba saja.” Kali ini dia meyakinkanku dengan penuh kesungguhan.
Aku
coba mendekatkan bibirku ke dalam cangkir kecil bermotif bunga yang sudah
kuraih saat ia mengulurkan tangannya.
Aku
memandang wajahnya dengan penuh fokus disaat yang bersamaan. Nanar cahaya lampu
nampak sedikit lebih terang. Suara gemericik hujan menjadi lebih halus seperti
sebuah melodi simfoni.
“Hmmm.
Entah bagaimana harus mengatakannya. Aku tidak begitu mengerti tentang kopi.
Tapi yang ini, rasanya sungguh. Kali ini aku tidak dapat menemukan kata yang
tepat untuk mendeskripsikannya. Bagaimana kamu bisa membuat yang seperti ini?”.
“Kau
tahu. Ini kopi Dewi Bulan."
"Hmmm..."
sekenanya aku berceletuk.
"Mengapa
kunamai demikian, alasannya ringan, ini adalah kopi yang cukup diandalkan bagi peminumnya
untuk beradaptasi dengan suhu udara minim khas malam pegunungan. Sama
seperti rembulan, jika ia hadir, maka tak ada mendung dan hujan yang
mendinginkan semesta seperti sekarang ini. Rasa hangat yang didapat mampu
meredam dingin."
"Kopi
kan emang enaknya dinikmati saat masih panas?"
"Yapp
betul. Setiap kopi pada dasarnya lebih nikmat disesap perlahan saat dalam
keadaan masih panas. Rasa asli dari biji sangrai yang telah remuk lalu disulut
panasnya air akan meronta-ronta seketika bersinggungan dengan dinding bibir
hingga ke ujung terdepan lidahmu.” Dia mulai mengoceh.
“Nama
kopinya aneh. Terlalu roman. Pasti kopi ini tidak begitu laris disini.” Dengan
sinis aku coba menyinggung pernyataan awal yang dia sendiri buat.
“Betul
sekali. Dan kopi ini memang bukan untuk dijual. Jadi tak mungkin laris. Lagian
aku nggak pernah menawarkannya ke orang lain. Hanya dalam keadaan tertentu dan
orang-orang tertentu saja yang bisa menikmatinya.”
“Hmm.
Baiklah. Begitu ya. Lumayan juga kopi buatanmu, tidak mengecewakan.”
Aku
merasa sedikit tersanjung ketika dia mengucapkan deretan kalimat yang terakhir
barusan. Dia mengucapkannya dengan tegas. Hujan sudah mulai reda. Hari
berlanjut semakin malam. Hari itu tidak banyak pelanggan di kafe tempat dia
bekerja. Sehingga banyak waktu yang dia gunakan untuk meladeni percakapan
kecilku.
**
Kedai
kopi itu bukan milikku. Aku hanya bekerja sebagai pelayan disana, awalnya.
Menjadi pelayan tidak buruk, kan? Lalu, aku memaksa seorang temanku yang juga bekerja
disana untuk mengajariku cara meracik kopi saat setelah kedai tutup. Aku pikir
meracik kopi itu pekerjaan yang sangat mudah. Untuk membuat kopi, yang ada di
kepalaku saat itu, biasanya hanya menyiapkan air panas, gelas, sendok, gula dan
bubuk kopi saja, tanpa peduli berapa suhu air yang depierlukan, perbandingan
kopi dan gula, cara meramu biji kopi hingga menjadi bubuk. Aku begitu buta akan
semua proses itu.Hingga suatu waktu, aku menantang teman kerjaku untuk membuat
kopi yang paling sering dipesan oleh pelanggan. Aku terlalu bersemangat.
Tanpa
mengetahui prosedur yang sewajarnya, aku memperlakukan biji-biji kopi yang
telah disangrai dengan cara yang sangat kasar. Aku tidak memperhatikan tekstur
seharusnya saat biji-biji itu diproses menjadi bubuk. Aku memperlakukannya
dengan cara yang sama saat aku membuat secangkir kopi kemasan plastik. Dan
benar saja, hasil yang didapat dari rasa kopi yang kubuat sangat tidak sesuai
dengan yang diharapkan. Ternyata aku salah. Aku sangat menyepelekannya.
Berulangkali aku mencoba meniru apa yang telah temanku buat, tapi hasilnya
tetap tidak sama. Aku merasa sedikit aneh. Padahal biji kopi yang kita gunakan
itu sama. Tapi, kata temanku, meracik kopi bukan dari bijinya yang sama atau
tidak saja. Ada faktor-faktor lain yang membuat kopi menciptakan rasa dan aroma
nikmat.
Kau
boleh mengganggap biji kopi sebagai temanmu atau musuhmu sekaligus. Jika kamu
perlakukan dia dengan baik, maka rasa, aroma dan kesan setelah menyesapnya akan
memberikanmu pengalaman diluar ekspektasi. Menyesap kopi bukan hanya soal rasa
dan aroma. Namun ada yang lebih penting daripada keduanya, yaitu aftertaste, momen
yang diciptakan oleh sentuhan setelah kamu menyesapnya.
Tentang
karakter dan jenis-jenis kopi, sudah banyak orang hebat diluar sana yang
menjelaskan bahwa Espresso memiliki rasa A dan yang lainnya memilih B dan C.
Beberapa diantara mereka mungkin hanya sekadar hobi, enthusiast bahkan
peneliti, profesional tester,
cupping master. Terdapat sekian ribu varian penyajian kopi di seluruh
belahan bumi, dan kamu tidak wajib mengetahui semuanya. Setiap kopi memiliki
cita rasa dan karsa tersendiri. Secara garis besar, kopi hanya terbagi dari
empat jenis, Arabica, Robusta, Ekselso dan Liberika.
Entahlah,
kalau diminta menjelaskan satu persatu, aku akan memilih melambaikan tangan
saja. Aku tidak paham semua istilah tentang perkopian, tapi yang jelas aku
telah menyukainya sejak pertama kali aku bekerja disini.
Hingga
suatu hari, aku memberanikan diri untuk mengajak seorang teman perempuanku
mampir ke tempat kerjaku. Tentu disaat bukan jam kerjaku. Aku menggunakan jam
pribadiku untuk dihabiskan bersamanya. Jujur, aku tak pernah seberani ini. Aku
sering ngobrol dengan teman kampusku di warung kopi ini, sejenis dan lawan
jenis tanpa ada masalah. Namun kali ini aku menemukan sedikit ketakutan dan
rasa khawatir yang aneh.
Kemudian,
aku tetap memberanikan diri. aku menjemput dia di rumahnya menggunakan sepeda
motor bebek tua punya teman satu kosanku. Ditengah perjalanan, sore itu hujan
mendadak turun cukup deras. Memang mendung sudah terlihat menggelantung
beberapa saat sebelumnya, tapi aku tak begitu memperhatikannya. Aku membawa dia
menepi ke sebuah halte bis dan bernaung disana untuk beberapa saat menunggu
hujan reda. Sore itu manusia sedang berlalu lalang seperti semut sedang mencari
makanan.
"Kita
disini dulu ya?" tawarku.
Dia
hanya membalas dengan sebuah senyum simpul. Ini pertama kali aku begitu
memperhatikan wajah tirusnya dengan sungguh-sungguh. Maksudku, aku tak pernah
menatap seseorang seperti ini sebelumnya. Aku pernah sekian kali bertatap muka
dengan berbagai orang. Namun baru kali ini, bukan tatapan yang biasa aku
berikan kepada orang-orang itu. Ini adalah tatapan dimana aku merasa hujan
turun dengan sangat lamban dan aku bisa melihat setiap tetsnya yang jatuh ke
tanah. Ini adalah momen dimana semua suara kendaraan yang melintas di jalan
menjadi begitu hening.
Aku
melepaskan jaketku dan mengenakannya di pundaknya. Hujan masih belum mau
berhenti saat kilauan pendar merkuri yang bergelantung di tiang-tiang menyala
nanar.
Jember, 2015
Komentar
Posting Komentar