Langsung ke konten utama

belum ada judul


Hidup baru terus melaju tanpa kamu ketahui. Memang benar ia kadang di atas dan kadang juga di bawah. Seperti dua roda sepeda kecil ini. Selagi kamu tidak berhenti mengayuhnya, ia akan berputar baik-baik saja. Kamu harus meletakan titik fokusmu pada beberapa bagian tubuh berbeda namun memiliki kesamaan visi supaya seimbang. Hidup adalah kamu tahu darimana kamu bisa menemukan sebuah arah yang akan kamu tuju sebagai pijakan dan bisa sepenuhnya mengendalikan dirimu ke arah itu. Aku tahu kapan seharusnya aku mengayuh rangkaian sepeda ini dan tahu kapan seharusnya berhenti. Ayahku yang mengajarinya. Bila hendak berhenti mengayuh, pastikan kedua kakimu siap menyeimbangkan beban sebelah kiri dan kanan tubuhmu, agar tak terjatuh. Sama seperti saat aku mengayuhnya, pastikan juga, isi kepala, mata, tangan dan kaki dalam satu sinergi.
“Brrruukkk”.
Suara keras seperti dua benda saling bertubrukan. Terdengar juga suara roda yang masih berputar.
“Aduuuuuhh”. Suara khas seorang perempuan merintih kesakitan.
Kadang karena entah angin mana yang memberi arah, kamu bisa kehilangan fokusmu pada sebuah arah yang ingin kamu tuju, padahal darimana datangnya angin itu, tidak kamu ketahui sama sekali lalu membuyarkan apa yang sedang menjadi arah fokusmu saat ini. Maaf bahasaku sedikit membingungkan tapi percayalah setiap manusia pasti mengalami juga.     
Hari ini adalah hari dimana seluruh mahasiswa baru akan menjalani program pengenalan kehidupan kampus. Program ini dipandu oleh kakak angkatan. Apa tujuan sebenarnya dari program ini, aku tidak begitu paham. Kalau memang sekedar cuma kenalan, apa benar harus butuh diprogram? Bukankah beberapa hari bahkan tahun yang akan datang para mahasiswa itu akan dengan sendirinya hidup dan mengenal satu sama lain selama mereka masih menjadi mahasiswa.
Selain itu, sebagai mahasiswa yang secara fisik telah berusia 17 lebih masihkah harus dikenalkan satu sama lain. Kalau boleh saran, agar terlihat sedikit intelek, lebih baik pengenalan itu dilakukan melalui tugas kampus dengan tanpa dibuat-buat. Atau bisa juga dilakukan dengan diskusi ringan membahas mata kuliah yang belum benar-benar dipahami. Atau hanya sekedar berbagi informasi tentang beasiswa bagi yang memiliki kemampuan lebih. Atau mungkin juga sambil berbagi informasi acara seminar yang akan dilenggarakan dalam waktu dekat di sekitar kampus, supaya nutrisi anak kos perantau dapat teratasi karena makanan gratis penuh gizi.
Mungkinkah ada maksud lain dari acara ini? Ah entahlah. Terlalu banyak bertanya membuat kepala ini jadi agak sembelit. Sebenarnya, acaranya sungguh membosankan. Terlalu protokoler. Tapi bagaimanapun, adik tingkat yang masih bereuforia karena kelulusan sekolah menengah dan juga lolos masuk perguruan tinggi tentu tidak begitu mempermasalahkan hal ini. Lagipula, ospek memiliki celah memori tersendiri di dunia perguruan tinggi.
Beberapa diantara mahasiswa baru malah menantikan program ini saat mereka mampu menembus perguruan tinggi yang mereka harapkan. Tapi pernahkan berpikir, entah apa maksud mengenali kehidupan kampus saat para mahasiswa baru itu dipaksa mempermalukan diri sendiri, selama seminggu diminta berdandan dengan kostum ala badut, menggunakan topi kerucut aneh, menamai diri mereka sesuai merk makanan dengan mengalungkannya di dada, beralaskan sepatu yang dibungkus plastik kresek aneka warna, mengenakan rompi yang juga terbuat dari plastik kresek, dan lebih parah lagi, memoles hitam belang loreng bagian wajah memakai arang atau pantat wajan yang belum dicuci layaknya seorang prajurit. Tiba pada bagian yang mengenaskan sekali, adalah saat di kampus, mereka berjalan seperti bebek bodoh bergerombol mengikuti setiap perintah yang diberikan oleh kakak tingkat.  
Hari ini adalah hari dimana cuaca tidak begitu baik bagi kesehatan tubuh. Hujan selalu turun setiap setelah matahari melewati ubun-ubun. Kadang lebih awal. Kadang hanya gerimis kecil, sampai seharian. Siang dan malam. Angin berhembus lebih kencang dari biasanya. Daun pohon trembesi tua berserakan memenuhi taman buatan halaman depan bangunan kampus yang juga sudah usang. Konon usia pohon ini sudah ratusan tahun. Di beberapa bagian batang besarnya, anggrek dan beberapa tumbuhan parasit seperti benalu dan lumut tumbuh subur. Di bagian sudut lain, ada pohon sengon, mahoni, pinus dan cemara tumbuh berderet. Di taman artifisial ini juga terdapat sejumlah jenis bunga yang rimbun mewarnai. Sungguh kampus yang hijau dengan padu padan meja-kursi kayu berbentuk oval melankolis, cocok untuk bersantai. Aroma teduh jelas terasa hingga pangkal kerongkongan.
Hari ini adalah hari dimana telepon seluler dengan kemampuan android mulai merangkak ke tangga eksistensinya dan perlahan menggeser aktualisasi si berri hitam. Beberapa mahasiswa tingkat akhir terlihat sibuk dan serius dengan gawai mereka seperti sedang menyelesaikan tugas akhir, padahal di layar monitor terpampang karakter tiga dimensi permainan adu strategi, atau juga ada yang sedang membuka situs dewasa asal negeri Sakura sambil kedua telinganya disumpal alat pendengar dan teman yang lainnya saling berebut dengar.
Di meja-kursi lain, beberapa mahasiswi duduk berkumpul layaknya sedang berdikusi tentang rencana melancarkan perang dunia kesembilan menggempur negara antah berantah yang fasis dan tiran, padahal kenyataannya saling membicarakan idola populer baru mereka asal Korea. Gadis-gadis lugu itu tak beda dengan orang sedang keracunan keong mas rebus, teriak-teriak seperti setan kesurupan.
Di dalam ceritaku, di dunia ini hanya ada dua jenis gadis yang mampu mengguncang pandangan dunia. Yang pertama ialah yang memiliki bentuk visual menawan dan mampu menjerat mata jejaka. Dan orang itu dia. Dia adalah Nancy Margaretha. Di kampus, mahasiswi tingkat akhir dari jurusan Sastra Inggris dengan segudang pujian dari para lelaki bahkan dosen di kampus. Salah satu alasan mahasiswa ingin menjadi pendamping di acara pengenalan kampus juga adalah dia. Dasar lelaki, selalu terjerembab dalam pandangan visual. Menyebalkan. Bukankah Adam sudah pernah mengalaminya saat dia memakan buah menggiurkan yang ternyata membuatnya terdampar di bumi dan menjadi manusia biasa selamanya. Ya memang sih bukan sepenuhnya atas kehendak si Adam, disana ada campur tangan bibitan setan.
Nancy adalah mahasiswi yang berasal dari Jakarta dan memiliki saudara yang tinggal di Jember. Gaya berpakaiannya yang enak dilihat memang menjadi pusat perhatian bagi siapapun dalam radius 2500 sentimeter kuadrat. Rambutnya yang hitam lurut diikat kuncir. Matanya yang dilindungi optik bening dengan bingkai coklat kayu oak membuat setiap inci tatapannya tambah bertambah delapanpuluh persen lebih menawan. Percayalah, kalau di dalam serial televesi Betty, la fea, wanita berkacamata hanya yang selalu merendahkan kemampuannya sendiri hanya karena bentuk fisiknya, dia tidak. Maksudku, Nancy tidak. Ibarat koin, dia adalah sisi lain wajah koin itu. Kalau membicarakan kemampuannya, tidak ada satu pun yang kurang. Selain secara fisik dia telah dianugrahi tuhan dengan kondisi yang lelaki mana tidak tergoda, dia juga memiliki kemampuan kognitif yang luar biasa tajam.
Dia memiliki sudut pandang tentang masa depan yang visioner. Cara berpikirnya sangat presisi, tepat dan cepat. Tak heran jika dia mendapat beasiswa dari beberapa perusahaan sekaligus secara bersamaan. Dia juga pernah menjadi juara pertama saat mewakili universitas dalam lomba debat tingkat ASEAN. Prestasi yang sungguh mengagumkan. Bagian ini yang membuatku sedikit iri dan sedikit termotivasi. Sedikit loh ya, selebihnya aku tetap ingin tetap menjadi diriku sendiri yang mempunyai pendirian.
Sebagai kakak tingkat, dia pantas menjadi panutan bagi mahasiswa lainnya. Tidak aneh saat hari pengenalan kampus, namanya selalu disebut dan dielu-elukan. Entah itu kakak pendamping maupun dosen tak pernah ketinggalan menyelipkan namanya dalam setiap sesi. Lama-lama bosan juga mendengarkan rangkaian huruf itu diulang-ulang, N-A-N-C-Y. Ya Nancy lagi, Nancy lagi. Oh tidak, ini hegemoni yang tidak baik. Tidak masalah kalau memang dia dijadikan bahan dorongan agar mahasiswa lain terutama yang baru menginjakkan kaki di perguruan tinggi dapat berpikir terbuka dan bergerak maju sebagai stimulan. Namun ini akan menjadi masalah serius bila seorang seperti Nancy hanya dibuat seperti manekin dan dipajang etalasi toko agar orang bisa melihat, memuja dan berharap bisa membelinya. Sungguh tak berharga.
Ocehan yang berulangkali terus disebut itu membuat kepalaku sedikit pusing. Tadi pagi saat hendak berangkat ke kampus, Ibu memasakan aku roti lapis panggang isi telor ceplok setengah matang, daun seledri dan sedikit keju. Dia ingin aku membawanya sebagai bekal. Ibu membungkusnya dalam kotak makan dialasi selembar daun selada agar roti isinya terjaga dengan baik. Itu karena jam masuk ke kampus saat masa-masa pengenalan kampus pagi sekali. Lebih awal dari ibu-ibu yang hendak pergi ke pasar untuk membeli bahan pangan. Sayangnya karena terlalu terburu-buru, yang ikut bersama ke kampus sebagai bekal hanya sebotol teh dengan gula sedang yang kubuat sendiri.
“Dah, Ma. Aku berangkat”. Ucapku begitu semangat sambil mengayuh sepeda dan menggunakan pakaian aneh di pagi buta. Ibu masih sibuk di dapur saat aku hendak pamit dan mencium tangannya.
Duh. Betapa cerobohnya si, pikirku. Di kampus memang terdapat sebuah kantin yang menyediakan berbagai makanan. Dalam obrolan orang-orang kelaparan yang terjebak dalam ruang aula yang mebosankan, kata beberapa teman baruku, masakan disana tidak terlalu mengecewakan. Seorang teman yang sudah mengenal beberapa kakak tingkat bilang, itu bisa dilihat dari kuantitas pengunjungnnya setiap hari. Apalagi berbagai hal bisa dilakukan mahasiswa di tempat yang dilengkapi deretan meja besar dan kursi panjang itu. 
Disana, banyak mahasiswa yang selalu bergerombol duduk sambil menikmati secangkir kopi, memaksimalkan fungsi jaringan nirkabel gratis fasilitas kampus, membicarakan pertandingan bola semalam, atau perbincangan nasional yang sedang hangat. Namun aku tidak tertarik sedikitpun. Tempatnya terlalu ramai dan itu yang membuatku agak terganggu saat makan. Kalaupun suatu saat aku harus kesana, paling banter hanya pergi membeli kudapan bungkusan. Lagian, memang betul jumlah pengunjung disana selalu ramai, tapi bukan berarti karena makanannya enak. Bagaimana bisa sepi bila warung yang juga milik penjaga kampus itu tidak mempunyai saingan. Tidak ada pilihan lain bagi mahasiswa untuk nongkrong selain disana.
Hari pertama pengenalan kampus, aku datang terlambat. Bagiku, hari ini adalah awal yang buruk. Menjadi pusat perhatian karena aib sungguh hal hina tak termaafkan. Dan gadis kedua di dalam ceritaku sendiri yang dimaksud ialah seperti aku, ya setelah Nancy. Nasib malang, aku harus berjalan seperti seekor angsa di hari pertama kuliah sebagai hukuman. Berjalan aneh dan menggunakan pakaian aneh di kampus yang manusianya juga aneh.
Apakah dengan cara ini mengubah cara berpikirku menghadapi dunia? Sialnya lagi, hanya aku seorang yang datang terlambat diantara ratusan mahasiswa baru itu. Keren bukan? Aku pantas menerimanya. Sebelumnya aku menabrak seorang pemuda yang sedang menurunkan sayuran dari sebuah mobil bak terbuka hingga membuatnya sedikit lebam di bagian lengan. Dia sempat menolongku namun aku yang sedang terburu-buru meninggalkannya begitu saja sambil mengucap maaf. Sawi, kol dan tomat berserakan di jalan. Oh tuhan, bukan aku tak bertanggung jawab, tapi kau tahu aku sedang dalam keadaan darurat kan? Tapi tenang saja, aku masih ingat wajah pemuda itu, jadi kalau aku melewati jalan yang sama aku akan mampir dan membayar hutangku kepadanya, sungguh. Atau aku akan dihantui rasa bersalah tersu menerus.
“Krryuuuukk...” suara perut kelaparan.
Aduh apalagi ini. Hari menjelang siang. Dan benar saja, setelah panas yang tak terkira jahanam, kini suhu udara mendadak menjadi kelabu sendu penuh mendung menggelantung. Jam istirahat masih beberapa menit lagi. Di tengah ceramah dosen lintas fakultas, kombinasi kepala pusing dan perut belum terisi membuatku memberanikan diri meminta izin pada pendamping yang sedang berdiri di luar kelas untuk istirahat lebih dulu di ruang kesehatan. Namun izin itu tak kunjung aku dapatkan. Alasan si pendamping, “waktu istirahat kan sudah sebentar lagi, jadi bertahanlah, jangan lembek begitu, jadi mahasiswa kok lemah, bagaimana bisa kamu jadi agen perubahan nanti” katanya bijak menghina.
Ya sudah apalah. Aku harus kembali ke dalam ruangan, duduk bersama teman sebangku yang sepertinya juga sedang tidak dalam keadaan prima dan menuruti kata seniorku tadi meski berjalan agak sedikit mulai sempoyongan. Aduh, padahal sendiku terasa ngilu dan gemetar.
“Brukkk”.

**

Hari ini hari sialku. Bangun agak sedikit kesiangan tidak seperti biasanya lalu ada seorang gadis dengan pakaian aneh menabrakku menggunakan sepeda kayuh pabrikan Jepang. Alhasil, satu boks sayuran milik Bibi Irana tergeletak tidak layak jual. Bukan masalah ruginya, lebih kepada, sayang sekali sayur-sayur mungil itu tak dapat diolah lagi. Tapi aku tetap memungutnya supaya jalanan tetap bersih dan nyaman bagi orang lain.
Bibi Irana ialah orang yang baik. Semenjak awal merantau, kurang lebih setahun yang lalu, saat sedang mencari sebuah tempat untuk menginap sejenis kos-kosan, Bibi Irana lah yang menawariku untuk tinggal di rumahnya. Ia sudah menikah. Suaminya juga orang baik. Namanya Paman Ikwan. Setelah kurang lebih duapuluh tahun mereka menikah, mereka belum juga dikarunia buah hati. Namun hal itu tidak membuat mereka menjadi kecil hati.
Mereka membuka kedai sayuran di depan rumah. Kegiatan dagang ini sudah mereka lakukan sejak awal menikah. Sebagai bentuk kesadaran diri, aku selalu sempat membantunya setiap pagi dan sore ketika sedang tidak ada jadwal kuliah. Letak rumahnya yang tidak jauh dari lingkungan kampus membuatku tidak begitu mengkhawatirkan jam kuliah. Aku bisa datang ke kampus limabelas menit sebelum jam kuliah dimulai tanpa terlambat dengan jalan kaki.
Aku bangun pagi-pagi setiap hari, tanpa libur. Di hari minggu, bibi dan paman selalu rajin beribadah pergi ke gereja. Di waktu-waktu seperti itu, kadang aku dan keponakannya bertugas mengurus sayuran. Rumah adik paman hanya berjarak empat rumah. Itulah yang membuat keponakannya sering datang membantu. Dia memang ringan tangan.
Hari ini aku ada jadwal kuliah tepat setelah jam makan siang. Seusai membantu menyelesaikan semua pekerjaan paman dan bibi. Aku memutuskan datang ke kampus lebih awal. Bibi selalu memasakan sesuatu untuk kumakan di kampus. Makanannya kebanyakan terbuat dari sayur-sayuran. Makanan bibi tidak pernah tidak enak, dan yang terpenting menyehatkan. Aku juga tidak pernah malu membawa bekal meski sudah menjadi mahasiswa.
Aku dengar, diluar sana ada banyak sekali mahasiswa perantauan yang asupan gizinya kurang terpenuhi akibat jatah bulanan yang sering terlambat. Aku bersyukur aku tidak sempat mengalami hal-hal seperti itu. Aku mendapat beasiswa pendidikan dari pemerintah, yang berarti aku juga mendapat intensif bulanan selama empat tahun. Tapi tenang, itu tidak membuat kepalaku membesar. Aku malah harus berjuang lebih keras agar bisa menyelesaikannya dengan baik. Kamu kira orang yang mendapat suntikan dana seperti ini bisa santai-santai saja karena otaknya dianggap encer secara harfiah.
Tidak! Kamu salah besar. Mendapat beasiswa berarti cara berpikir dan kerjamu harus meningkat dua tigakali lebih banyak daripada biasanya. Kamu harus siap menghabiskan energimu tujuhkali lebih banyak daripada mahasiswa reguler.
Aku tidak punya banyak teman di kampus. Kuakui, aku bukan orang yang pandai bergaul. Hal semcam ini bukan keahlian utamaku. Tapi aku kenal beberapa dari mereka yang seangkatan denganku, termasuk beberapa teman sekelasku. Lagian aku tidak punya cukup banyak waktu untuk menghabiskan obrolan tentang hal-hal yang belum tentu aku juga akan tertarik.    
“Brukkk”.
Kudengar suara benda terjatuh sesaat setelah aku melewati lobi kampus.
Oh bukan. Itu suara seseorang terjatuh. Tidak jauh dari daun pintu aula kampus. Aku bergegas membantunya. Seseorang tidak sadarkan diri. Beberapa mahasiswa lain yang menggunakan jas kebesaran dan mengalungi kartu identitas datang ikut membantu. Aku dan satu orang lagi mengangkat tubuh perempuan berambut hitam panjang yang baru saja terjatuh tak sadarkan diri menuju ruang kesehatan.
“Ini kesalahanku. Tadi saat dia meminta izin untuk pergi ruang kesehatan, aku melarangnya. Jadi merepotkan begini.” Ucap pemuda seangkatanku yang mengenakan jas berwarna biru dongker di sebelahku setelah kami berdua membaringkan tubuh perempuan pingsan itu.
 “Aku seharusnya membiarkannya kesini sebelum ini terjadi.” Terlihat sedikit penyesalan di dalam ucapannya.
Kukira pemuda ini sedikit melankoli. Mungkin, sehari-hari dia terlalu banyak menonton drama sinetron atau FTV. Dia panik dan tanpa tahu harus berbuat apa. Kuambilkan minyak angin di kotak pertolongan pertama dan memberikan padanya.
“Buka saja tutupnya, lalu oleskan di sekitar dahi. Aku tidak begitu paham tentang medis, tapi kurasa cara ini dapat sedikit membantu.”
Untuk beberapa saat setelah memberi pertolongan pertama pada perempuan yang masih terbaring belum sadarkan diri. Si pemuda kemudian hendak pamit untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai pendampign yang bertugas membagikan konsumsi kepada peserta pengenalan kampus.
Jam istirahat menjelang.
Bodohnya aku hanya meng”iya”kan saja permintaan si pemuda tanpa basa basi. Padahal, kelasku dimulai sesaat setelah jam istirahat. Sekarang aku malah tertimpa tanggung jawab yang seharusnya bukan aku yang memikulnya. Oh baiklah. Terasa sedikit gerah, ventilasi udara di ruang kesehatan sedang kurang bagus, jadi kunyalakan kipas angin. Untunglah kampus ini masih memiliki ruang kesehatan sehingga mahasiswa yang sedang dalam keadaan kurang fit bisa berkunjung kesini. Meski pelayanan tempat ini masih kurang maksimal. Kehadiran penjaga tempat ini mirip jelangkung, datang tak diundang pulang cepat sekali menghilang.
Aku bisa saja meninggalkannya sendirian. Tapi jika sesuatu terjadi padanya aku juga yang kena. Sial. Kuambil sebuah kursi dan menghabiskan waktu menunggu seseorang yang belum aku kenal siuman. Kegiatan yang membosankan.
Beberapa menit kemudian, aku menghampiri dipan berwarna putih itu berharap dia sudah tersadar. Masih belum juga, batinku. Tanpa sengaja aku mulai memerhatikan perpaduan bedak hitam di wajahnya, loreng-loreng seperti harimau Sumatra, memakai rompi yang terbuat dari plastik kresek. Lucu sekali, pikirku.  Tawaku terlontar tanpa kendali, tapi aku menahan volume suaraku, dan berhasil. Aku cekikikan ibarat mode getar telepon seluler. Kelucuan itu tidak bertahan lama. Aku sadar menertawai orang itu tindakan tidak baik.
Aku kembali menghampiri kursi lipat baja ringan yang dibalut kulit sintetis hitam agak jauh dari dipan. Jam istirahat sudah hampir habis. Duh, dosen mata kuliah Stylistic tidak bisa diajak dinegosiasi soal waktu. Terlambat ya terlambat. Kamu harus menunggu jadwal kuliah berikutnya. Dengan porsi tugas dua kali lebih banyak daripada yang hadir.
Perutku belum terasa lapar, tapi entah tanpa sengaja aku mengambil kotak bekal di dalam tas lalu membukanya. Aroma sambal kacang menyeruak sedap. Irisan tomat, mentimun dan telor ceplok setengah matang tersaji rapih sedikit nasi yang dipisah bersebelahan. Di dalam kotak nasi, ruang sisi kiri berisi lauk dan sisi lainnya untuk nasi.

 **

“Krryuuuukk...” suara perut kelaparan dan diselingi suara dipan tua reot bergerak.
Aku mencium aroma sambal kacang yang sepertinya enak sekali dilahap dengan sayur rebus.
“Suara apa itu? Sudah sadar ya? Syukurlah.” Suara seorang lelaki.
“Aduuuh kepalaku sakit sekali.” Kalimat ini terlontar tanpa kendali dari mulutku sambil memegangi perutku.
Lelaki itu mendekat dan menghampiriku. Aku masih terbaring di kasur serba putih dan tidak empuk ini. Payah. Aku sedikit mengenal wajahnya ketika dia begitu dekat dari jangkauanku.
“Kamu nggak apa-apa?” ucapnya sambil membawa segelas air.

Dia mengerti kalau aku sedang kehausan. Aku melihat dia mulai menjulurkan seperempat tangannya dan seolah akan memberi gelas itu pada genggaman tanganku. Ah tidak. Ternyata dia meminum air di dalam gelas itu untuk dirinya sendiri.
“Aku lapar.” Ucapku lemas seperti zombie kesiangan.
Di luar ruangan, beberapa mahasiswa saling berjubel lalu lalang. Diantara mereka ada yang sedang terburu-buru memasuki kelas paling memacu adrenalin. Kelas itu tidak lain tidak bukan kelas Pak Albert. Dosen yang terkenal sangat; “sangat baik”. Bahkan bagi aku yang masih baru hari pertama kuliah, masih masuk ke ruang pengenalan kampus, aku sudah pernah mendengar beberapa kisah mahasiswa yang menempuh kelasnya. Ditingkat dosen, beliaulah dosen yang memiliki urutan ketenaran tertinggi sekampus. Dosen yang paling mudah untuk diingat padahal kamu tidak ingin mengingatnya sama sekali. Beliau juga sungguh sulit untuk dilupakan.
“Baiklah, sebantar kuambilkan bekalku dulu.” Kata lelaki yang mungkin juga mahasiswa di kampus ini.
Tidak berapa lama, dia membawakan aku sekotak kecil masih tertutup rapat. Kotak itu tidak berwarna, tapi cukup transparan, sehingga aku dapat melihat isinya. Beberapa mirip dedaunan berwarna hijau, irisan tomat dan nasi seukuran sekepal tangan, aku pikir. Aku tidak bisa mengalihkan perhatianku dari kotak kecil berisi energi itu.
“Kamu boleh memakannya. Aku ada kelas, jadi pergi dulu.”
Dia menyelesaikan kalimat pamitnya setelah meletakan kotak nasi miliknya diatas tanganku. Dipenuhi rasa semangat baru, aku beranjak di atas kasur yang semula dalam keadaan mode tidur menjadi mode duduk. Aku tak memperhatikan dia saat pergi. Tapi, wajah mahasiswa barusan tidak asing dan aku berpikir aku pernah melihatnya di suatu tempat. Tanpa pikir panjang, aku melahap seisi kotak makan.
“Hmmm.. Perut kalau lagi lapar diisi apa saja, pasti enak.”
Terima kasih tuhan perutku tertolong, tidak lagi kosong. Jarum kecil jam di dinding menunjuk angka satu. Siang itu setelah menghabiskan makanan, aku jadi malas bergerak, dan kuputuskan untuk tetap di ruangan ini.  
Di luar ruangan, gerimis mulai saling berjatuhan.

**
Ah beruntungnya aku, meski sudah lebih lima menit dari jadwal, Pak Albert belum juga terlihat batang hidungnya. Biasanya beliau malah sudah berada di kelas lima menit sebelum bel tanda masuk berbunyi. Jujur saja, bagiku, mungkin juga bagi mahasiswa lainnya, terjatuh dari tebing jurang terasa lebih baik daripada harus terlambat memasuki kelas Pak Albert.
Ketika kamu nekad memasuki kelas Pak Albert dalam keadaan terlambat, kamu akan diinterogasi layaknya seorang yang tertuduh jaringan teroris internasional. Pernah ada mahasiswa pandai di kelas, namun datang tidak tepat waktu. Tak pelak, langsung saja Pak Albert membredelnya dengan sejumlah pertanyaan yang menghabiskan waktu hampir setengah jam.
Jenis pertanyaan yang beliau ajukan mulai dari hal ringan sampai serius yang kadang membuat mahasiswa jadi malas untuk datang terlambat. Beliau layaknya agen FBI yang sedang diutus ke negara dunia ketiga. Jika kamu tidak memberi jawaban di tiap pertanyaan, maka kamu harus siap dipersilahkan meninggalkan ruang kelas dan berduka rela menulis essay dengan tiga materi berbeda lalu diserahkan pada kelas berikutnya.
Sudah lebih duapuluh menit, dan beliau masih juga belum hadir. Salah seorang perwakilan kelas yang rajin menghampiri ruang dosen, namun dia tidak menjumpai Pak Albert di ruangannya. Perwakilan kelas itu kembali dengan hasil nihil. Bila tak ada dosen, ruang kelas menjadi riuh.  Bukan hal aneh, kelas lainnya juga begitu.
Di luar ruangan, gerimis mulai saling berjatuhan.

**

Kelas dibubarkan setelah Pak Albert memberi kabar melalui pegawai administrasi kampus. Namun belum benar-benar bubar. Ada informasi yang kata petugas tersebut perlu disampaikan. Seisi kelas menjadi riuh dan kebahagiaan menbuncah diantara wajah mahasiswa-mahasiswa malas. Air muka mereka seperti orang yang tidak memiliki beban tanggungan. Ada yang bersorak “Horeeee...”, ada pula yang berteriak “Merdeekkaa”.   
Namun kabar gembira itu tak berlangsung lama. Ya begitulah kabar kabur. Ada yang baik, ada yang buruk. Untuk kabar yang kedua, belum sampai tuntas diumumkan, wajah kecut cemberut setiap mahasiswa mencucu tak terbendung. Setiap mahasiswa sudah hapal bila beliau meninggalkan kelasnya, berarti beliau juga meninggalkan tugas untuk mahasiswanya yang budiman. Benar saja, pegawai administrasi memberi tahu kalau Pak Albert sedang menjadi dosen tamu di luar kota, maka dari itu mahasiswa kelasnya hari ini, tidak diwajibkan untuk mengerjakan materi dan soal bab Transitivity namun pertemuan minggu depan seluruh pertanyaan harus sudah dijawab dengan tulisan tangan pada kertas folio bergaris. Intinya sama, tugas harus dikerjakan, dengan bahasa tidak wajib agar mahasiswa sedikit terhibur, sayangnya tidak lucu sama sekali.
Seluruh mahasiswa akhirnya meninggalkan ruang kelas.



Jember, 2015




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...