Ibuku penganut agama yang taat. Ia tidak pernah terlambat untuk
melakukan ibadah. Jika dalam sehari waktu beribadah jumlahnya 17 kali, ibu
tidak akan melewatkan salah satunya. Di dalam kepercayaan ibu, ia tidak
diperkenankan memelihara hewan selain babi. Begitulah hukum yang telah
diterapkan oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Alasannya sederhana, babi
lebih laku dan mahal daripada hewan lain. Oleh karena itu seluruh warga di
kampung beternak babi. Kandang-kandang babi dapat dengan mudah dijumpai di
setiap halaman rumah warga. Dan di kampung, anjing adalah hewan yang menjadi
pantangan bagi siapapun.
"Anjing itu kotor"
"Anjing itu selalu berliur dan itu tidak baik untuk dijadikan
peliharaan."
"Anjing itu najis."
"Bla.. blaaa bla..."
Suara masyarakat seolah mereka adalah nabi yang dapat menentukan
nasib manusia lainnya. Ibuku tinggal di kampung. Ia menetap disini setelah
kakek ditugaskan menjadi misonaris di dusun pantai yang berbukit ini. Suasana
ayem dan tenang jelas terasa di berbagai sudut. Ayahku meninggal beberapa tahun
lalu karena serangan jantung.
Kapan hari, ibu pernah bilang, "Kalau anjing itu memang kotor
kenapa kita harus menjauhinya, bukankah tuhan sudah menyediakan cara untuk
membersihkannya. Dasar manusia, sukanya membuat sulit hidup mereka sendiri."
Suatu hari, dalam perjalanan pulang dari pasar, ibu melihat seekor
anjing liar yang masih kecil dan kakinya pincang di dekat saluran air. Ibu
memungutnya dan membawanya pulang. Sesampai di rumah, ibu memberinya
pertolongan pertama. Awalnya si anjing merontah kesakitan saat ibu membersihkan
lukanya dengan cairan alkohol, lalu ibu membungkusnya dengan kain perban.
Selang beberapa waktu, si anjing mulai tenang. Ibu lalu merawatnya. Setiap hari
ia memberi pakan anjing mungil itu. Anjing itu pun menjadi kawan baru ibu. Kemana
ibu pergi ia selalu mengikuti. Hari demi hari, si anjing menjadi sangat dekat
ibu. Hingga mata para tetangga mulai dipenuhi tatapan kebencian. Mereka seolah
menganggap ibu telah melakukan sebuah kesalahan fatal dan dosa besar yang tak
termaafkan.
Ibu tak pernah menganggap tuduhan
orang dengan berbalik membenci mereka. Ibu tetap menjadi ibuku yang sering
berbagi lauk makan kepada tetangga terdekatnya. Ibu selalu menjadi ibuku yang
taat menjalankan perintah tuhanNya. Ibuku juga tetap menjadi seorang ibu yang
bertanggung jawab pada ketiga anaknya.
Ibuku pekerja keras. Setelah ayah
meninggalkan kami, ibu bekerja serabutan apa saja, mulai dari pekerjaan rumah
tangga hingga bercocok tanam di sawah. Aku pernah meminta ibu untuk
beristirahat saja di rumah, namun ibu menolak. Ibu sadar ia masih butuh banyak
biaya untuk pendidikan ketiga anaknya. Aku sebagai anak tertua kadang membantu
ibu pergi ke sawah menggarap padi milik saudagar kampung.
Dengan ibu memelihara seekor
anjing di rumahnya, ibu mulai mendapat perlakuan tidak adil dari warga sekitar.
Saaat ibu pergi ke warung untuk membeli beras, sang pedagang menolak permintaan
ibu. Entah apa alasannya. Tapi, lagi-lagi ibu tidak ambil hati kepada pemilik
warung tersebut.
Sudah hampir setahun ibu
membesarkan anjing malang yang ia temukan di pasar. Ibu mengambil langkah yang
begitu berani, pikirku. Namun ibu pernah bilang, kalau memang ada seseorang
yang membutuhkan bantuan kita, kita harus menolongnya, sekalipun seekor anjing.
Ini adalah pelajaran berharga yang kudapat dari ibu. Ibu tidak peduli dengan
akibat yang akan dia dapatkan dari lingkungannya tinggal. Apalagi, dulu ayahnya
adalah seorang pendakwah garda depan.
Babi adalah binatang yang cepat
sekali gemuk. Hal itu disebabkan oleh pola makannya yang sangat mudah, bahkan
ia akan memakan kotorannya sendiri bila sang majikan telat memberi makanan
segar kepadanya. Kebiasaan jorok inilah yang menyebabkan babi sangat tidak baik
untuk dikonsumsi. Lebih parah lagi, saluran kantung kemih babi yang tidak
berfungsi dengan baik, menyebabkan hewan yang hobi berkubang di lumpur ini
ditumbuhi parasit berbahaya seperti cacing pita. Babi juga hewan paling malas
diantara hewan lainnya, apalagi saat perutnya sudah terisi penuh makanan.
Sejak kecil, ibu selalu melarang
kami memakan babi dengan cara masak apapun karena alasan diatas. Alasan ibu
sangat masuk akal bagi kami bertiga sebagai anaknya. Kami pun mendengarkan
perkataan ibu dengan baik. Hingga menjelang dewasa, meskipun kampung kami penghasil
babi paling banyak di kota ini, sekali pun kami belum pernah mencicipi olahan
babi dalam bentuk apapaun. Kami bersyukur memiliki ibu yang peduli pada
kesehatan kami.
Selama seminggu terakhir, anjing
yang ibu asuh sejak kecil menggonggong tak henti-henti setiap malam. Setiap
keesokan paginya, ibu didatangi petugas sipil desa dan diinterogasi dengan
beberapa pertanyaan. Aku tidak sempat mendengar setiap pertanyaan karena keburu
berangkat sekolah. Begitu juga kedua adikku. Ternyata ada desas-desus, saat
malam, saat anjing peliharaan ibu menggonggong dengan keras, ada rumah yang
kemalingan. Oleh karena itu, ibuku tertuduh telah melakukan tindakan aliran
hitam untuk mengambil harta warga yang kemalingan. Sejak awal ibu merawat
anjing yang belum berbulu lebat seperti sekarang ini, ibu sudah tertuduh yang
tidak-tidak dan dianggap telah menjadi penganut yang sesat.
Ibuku memang tidak hidup mewah,
tapi itu tidak membuatnya kehilangan akal untuk tetap bertahan mencukupi
kebutuhan ketiga anaknya.
Hingga pada suatu malam, beberapa
orang yang berjaga-jaga, mendengar gonggongan anjing ibu, menghampiri rumah ibu
dan mengawasinya seolah akan terjadi sesuatu yang diluar pikiran mereka. Aku
terbangun ketika mendengar beberapa orang berbicara sambil berbisik. Aku melihat
ibu tertidur pulas di dipan bersama adik perempuanku. Dan aku mendengar anjing
yang ibu pelihara menggonggong dengan sangat keras di saat yang sama. Aku
mengintip keluar dari lubang jendela dan mencuri dengar dari pembicaraan
mereka. Ada sekitar empat orang yang berdiri di pinggir jalan. Dua diantaranya
membawa lampu sorot ukuran genggaman tangan.
Di rumah pedagang sembako yang
tempo hari menolak permintaan ibu, terdengar suara jendela yang dipaksa dibuka.
Suara kerumunan babi yang lelap tertidur pulas di kandang membuat pecahan kaca
saat terjatuh jelas terdengar. Namun suara anjing milik ibu masih nyaring lebih
jelas terdengar. Si juragan lanang akhirnya terbangun oleh suara bising yang
ditimbulkan oleh anjing pincang yang sudah sembuh karena dirawat dengan baik
oleh ibu. Si juragan keluar dari kamarnya dan terkejut karena telah memergoki
seseorang sedang menggondol barang-barang miliknya.
Esok harinya, setiap halaman
rumah warga termasuk tempat ibadah utama memiliki seekor anjing.
Ubud, Oktober 2015
Komentar
Posting Komentar