Langsung ke konten utama

Sejenak Beranjak

 

Sesal selalu ada di belakang setiap peristiwa, terutama yang mengecewakan. Hal itu menunjukan segala sesuatu tidak akan mungkin berjalan dengan mulus. Apapun itu. Hampir segalanya. Direncanakan atau tidak. Untuk sesuatu yang indah, seseorang selalu berharap agar bisa mengulangnya, hingga berkali-kali membiarkan dirinya terjebak di momen itu tanpa ingin beranjak. Namun, hal perih, hal perih lah yang membuat seseorang bisa belajar, paling tidak ada sesuatu yang harus diperbaiki supaya tidak melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Hal perih membuat seseorang berpikir menggunakan logika sekaligus perasaannya disaat bersamaan.

Sudah beberapa bulan aku pindah ke pulau Dewata. Aku berharap hidupku lebih baik di tempat ini. Setelah kenyataan pahit yang terjadi beberapa waktu lalu, aku memberanikan diri untuk meninggalkan apa saja yang ada di Jawa. Awalnya aku berencana hanya tiga bulan saja, namun rencana manusia bisa berubah kapan saja. Itu lah yang terjadi padaku. Bali benar-benar membantu pengobatan jiwaku setelah orang yang sudah kuperjuangkan malah lebih memilih menikah dengan lelaki lain, dengan alasan yang tidak jelas, padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjaganya sejauh ini. Untunglah, aku menemukan Bali, yang merupakan tempat terbaik untuk mengisolasi diri, pikirku. Aku bertaruh segala hal ketika hari pertama menginjakkan kaki disini. Aku hanya punya beberapa teman dan aku tidak begitu akrab dengan mereka. Aku pikir ini akan menjadi masalah ketika aku meminta bantuan mereka suatu saat. Aku takut merepotkan mereka, pikirku. Jadi sebisaku, aku tangani sendiri lebih dulu apa-apa yang kupikir masih bisa kukerjakan sendiri. Dan kalau aku mengajak mereka untuk bertemu, ya paling berbagi gelas anggur merah atau sekadar ngopi supaya kami bisa akrab dan lebih terbuka lagi untuk hal-hal lain, meskipun kuakui waktu itu adalah saat-saat sulit untuk memulai kembali membangun relasi. Entah itu pertemanan, kolega kerja maupun jalinan hati dengan lawan jenis. Tapi entah kenapa juga, tetap kucoba. Dan dengan sendirinya aku bisa mengatasi hal sederhana yang rumit itu. Di luar dugaan, relasiku selama di Bali dalam beberapa bulan melonjak pesat, yang mana berarti aku merasa terbantu. Aku mendapat pekerjaan dari rekomendasi antar teman, dari mulut ke mulut. Dan itu jauh lebih ampuh, sungguh. Belum lagi relasi yang kudapat tidak main-main, kebanyakan dari luar negara. Nope, It does not mean I am admitting all bule is great. I am not that inferior. Tapi percayalah, aku menemui rekanan yang sangat peduli terhadap deatil pekerjaan dan tetek bengek yang sebenarnya sepele. Dari situlah aku mulai belajar lagi beradaptasi dengan iklim kerja yang baru.

Sore ini aku pergi ke sebuah kedai kopi untuk menemui salah seorang rekanan. Ia memintaku tiba disana pukul empat. Jalanan di jam-jam segitu sudah pasti memadat. Jangan salah, Bali juga bisa macet, karena wisatawan bukan pekerja kantoran. Kuusahakan pergi menuju kesana satu jam lebih awal, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Aku tidak ingin terlambat. Semenjak pindah ke Bali, aku memiliki rekanan dari berbagai negara. Dari mereka, aku mulai belajar menghargai waktu. Tepat waktu menjadi hal paling penting yang benar-benar harus kumiliki untuk bertahan hidup di pulau Dewata ini. Sebelumnya aku juga sudah terbiasa tepat waktu saat belum pindah kesini, jadi cukup membantu kebiasaan baik ini terus terjadi. Angin tenggara berhembus cukup kencang. Sejuk terasa menembus kemejaku. Menerobos jalanan menggunakan motor bebek tua kadang membuat sengatan terik matahari memanggang kulit legamku. 

Sepanjang jalan, banyak turis mancanegara berlenggok berjalan kaki di lajur trotoar. Salah seorang menyalipku dengan bringas menggunakan motor dua tak, disampingnya ada sebuah papan seluncur yang ditaruh di samping jok dengan plat yang sudah di modif. Tapi hal ini sudah terbiasa terjadi padaku. Ya, tidak sedikit memang turis asing berlagak songong disini. Mentang-mentang kulit dan badan mereka lebih besar, penduduk lokal secara tidak langsung diintimidasi. Tapi tidak semua ya. Aku tidak mau membuat generalisir tentang mereka disini. 

Aku tiba di kedai yang bernuansa pantai di suku asing nan jauh. Beberapa pohon diikat dengan kain kotak-kotak hitam putih seperti medan laga bidak catur, anyaman bambu di setiap sisi, daun kelapa kering yang ditata sedemikian rupa menyerupai sebuah suku pedalaman hingga panggung kecil di bagian tengah dibuat dengan desain sederhana sehingga penampil dan penonton bisa berbaur saat pertunjukan berlangsung. Setelah memarkir sepeda motor, aku menghampiri meja bartender dan memesan sebotol bir. Tidak buruk mengawali sore dengan bir dingin. Karena sering ke tempat ini, beberapa orang karyawan mengenaliku. Salah seorang biduan yang biasa manggung disini pun kadang suka menghabiskan malam denganku sambil ngobrol ngalor-ngidul hingga kedai tutup. Meskipun kedai kopi, di tempat ini juga menyediakan beberapa macam jenis minuman alkohol kadar rendah. Tempatnya lumayan asik, tidak begitu ramai di jam-jam petang seperti ini lah yang membuat aku selalu menghabiskan waktu disini. Tempatnya yang nyaman, bisa membantuku menyelesaikan beberapa kerjaan. 

Belum jam empat betul, ia sudah tiba. Orang yang kumaksud, ia perempuan berdarah Australia. Sudah beberapa bulan tinggal disini. Aku mengenalnya saat seorang teman mengisi acara sebuah pesta ulang tahun. Ia berjalan berlagak mirip model dengan tubuh jangkung dan kurusnya, melihat tempatku berada. Ia melambaikan tangan ke arahku dan berjalan menghampiriku. Aku berdiri dari kursi setelah meletakan botol bir yang baru saja kuteguk lalu kami berpelukan. Cipka-cipiki, salam selamat datang.Hei, apa kabar, katanya padaku. Sambil melihat penampilanku, ia terheran-heran. Aku baik-baik saja, kataku, kamu terlihat luar biasa hari ini, begitu imbuhku. Kamu berlebihan, katanya. Lalu kupesankan sebuah minuman untuknya tanpa menawarinya terlebih dahulu. Ia terlihat kaget, tenang saja aku tak memberi campuran racun atau apapun di dalamnya, kilahku. Ia mengucapkan terima kasih, dengan nada datar. Mari duduk, ajakku. Jujur, ia terlihat begitu menakjubkan sore itu. Ia mengenakan blazer abu gelap dengan setelan dress satin warna krim. Rambut pirangnya panjang menjuntai ke bagian leher. Payudaranya yang seukuran buah jeruk tidak sengaja mencuri perhatianku, tapi tidak begitu lama. Aku memandang wajahnya yang tirus dengan hidung super mancung, beberapa totol gelap samar-samar singgah di kedua bagian pipi dekat hidungnya. 

Kami saling bertatap muka, mata. Aku memulai pembicaraan dengan menanyakan pekerjaan yang ia janjikan untukku. Sebelum memberi tahu apa yang akan menjadi kesibukanku seminggu, atau sebulan kedepan, ia menyodorkan sebuah piringan hitam sebuah band legendaris Inggris dari dalam saku tas jinjing belanjaannya. Wao keren, pujiku. Ia mendapatkannya dari seorang pedagang di sebuah toko di pasar loak, katanya. Kamu sangat beruntung, ucapku. Ya sangat, aku senang sekali bisa mendapatkannya disini, di sebuah gang kecil di rak toko loak yang kukira hanya berisi baut bekas dan patung-patung batu, katanya. Barulah beberapa bulan kemudian betul-betul aku kenal dengannya, aku jadi sedikit tahu kalau band itu memang merupakan grup musik kesukaannya. 

Dari jendela di setiap sisi, kami dapat melihat para pelancong dari negeri jauh berlalu lalang menenteng beban di raut wajah mereka masing-masing. Ia selalu antusias ketika membahas musik. Aku tidak tahu banyak, jadi aku lebih banyak mengalihkan pembicaraan ke topik lainnya, malah lebih sering bertanya berbagai hal tentangnya. Kemudian ia menjelaskannya satu persatu. Obrolan tentang seniman suara selalu hadir saat kami bertemu. Itu karena toko loak yang baru saja ia singgahi ialah tempat rekomendasi dariku. Jadilah ia sangat berterima kasih akan hal itu padaku. Padahal bukan hal besar bagiku, dulu di Jakarta juga masih bisa menemukan toko-toko yang menjual barang jadul itu. Tapi karena ia pernah bilang, setelah kunjungan pertamanya, ia merasa telah menemukan sebuah sumber harta karun pribadi yang sangat rahasia, aku jadi aku mengerti kenapa efeknya bisa sereaksi itu padaku. Minuman yang kupesan untuknya tiba, sang pelayan kenal denganku dan menyapaku sambil meletakan pesanan di meja sisinya. Ketika si pelayan pergi, ia menanyakan jenis minuman yang ada di depannya. Tetesan air surga, kubilang. Ia tidak percaya. Mengira aku hanya mengada-ada. Coba saja cicipi terlebih dahulu, kamu tidak akan menemukannya di tempat lain, tawarku. Padahal hanya secangkir tequila biasa dengan irisan lemon. Tapi ini caraku membuat lawan bicaraku agar sedikit tersanjung. Aku mau kamu dulu yang coba, katanya. Ia takut aku menaruh zat-zat aneh di dalam cangkir itu. Akhirnya aku mengalah dan mencicipinya, padahal sudah sering kuteguk minuman ini. 

Kami berkenalan setahun yang lalu. Di sebuah pantai, aku sedang menghadiri acara kawanku. Karibku itu seorang musisi, gitaris sekaligus bernyanyi, duo folk. Aku sangat menikmati alunan musik yang mereka mainkan. Disaat sesi itu berakhir, kami menenggak minuman penghangat dingin malam bersama. Diisi suara musik elektronik dari musisi berikutnya, aku dan kawanku hanyut menikmati sajian di meja, juga musiknya. Karena ia sudah lama tinggal disini, sudah banyak yang mengenalnya, waktu itu aku baru beberapa bulan pindah ke Bali. Ia juga tidak pelit berbagi waktu mengenalkanku kepada beberapa temannya. Begitulah akhirnya aku bertemu dengan Amber si pirang ini. Ketika semua sajian tandas, gadis Ausii ini lah yang menyandingkan satu sesi sajian lagi untuk kami, hal itu karena ternyata ia sahabat dari sang empu acara. Aku sudah cukup tinggi saat ia menyodorkan tangannya ke arahku, seingatku ia baru saja memberi ucapan selamat kepada teman musisiku itu kemudian menuju ke arahku, setelah temanku mengenalkan namaku padanya sambil mengarahkan lengannya ke arahku. Aku sebenarnya tidak dapat mengingatnya dengan jelas saat momen cepat itu terjadi, aku sudah terlalu tinggi, yang jelas ia kemudian duduk disampingku dan kami bicara banyak hal ngalor-ngidul. Setelah kuraih tangannya untuk bersalaman, ia mendekat dan kami saling beradu sisi wajah dan pelukan kecil, salam akrab yang biasa dilakukan oleh orang-orang dari (katanya)barat sana. Salam ini akan terasa kikuk begitu dilakukan oleh seseorang yang baru pertama kali tinggal dan menetap di Bali kemudian bertemu tamu-tamu bule friendly

Ia mengucapkan sesuatu. Hanya saja, suara musik yang berdendang terlalu keras membuat telingaku tidak jelas mendengar apa yang ia katakan. Aku hanya menganggukkan kepala dan memcoba mempertahankan gelas di tangan kanan yang masih terisi cairan berwarna ungu kelam. Dan terus menganggukan kepala begitu deretan kalimat lain keluar dari bibirnya. Pura-pura mengerti saja tiap apapun yang ia katakan. Ia teriak sesekali berharap mengalahkan suara musik. Lagi-lagi tak begitu kudengar. Kepalaku terasa ringan. Kami masih bersinggungan. Ia meletakan moncong mulutnya di dekat daun telingaku, seperti adegan berbisik, tapi ia tetap berteriak waktu itu. Saat inilah ia tiba-tiba duduk disampingku. Adegan ini terjadi di sebuah sofa tua berwarna merah marun, aku ingat betul untuk bagian ini. Barulah bisa kudengar apa yang ia katakan. Juga aroma tubuhnya yang seharum paduan lemon dan vanila tak sengaja kuhirup begitu segar, secuil merebak ketika tubuh kami saling berdekatan. Kujawab namaku, nama panggilanku lebih tepatnya, juga agak teriak. Supaya ia bisa mendengarku. Saat itulah kejadian pertama kalinya bisa kurasakan betapa hangat payudara seukuran jeruk didadanya yang dibungkus bra bikini menyentuh lenganku secara tidak sengaja.

Belum jam empat betul, ia sudah tiba. Orang yang kumaksud, ia perempuan berdarah Australia, pengakuannya si masih memiliki silsilah Aborigin. Entah benar atau tidak, aku tidak mau terlalu ambil pusing memikirkan hal itu. Sudah beberapa bulan ia tinggal disini. Matahari sudah mulai terbenam di barat langit. Kulihat redup cahayanya terjatuh di jalanan, banyak orang berlalu lalang. Setelah membahas musik kesukaannya, ia memberiku beberapa lembar kertas di dalam sebuah map. Ini yang harus kamu pelajari dalam beberapa hari ini, semuanya sudah terangkum disini, katanya. Kalau kamu bisa menyelesaikannya lebih cepat, itu lebih baik, lanjutnya. Dan jika ada yang perlu kamu tanyakan, kamu punya kontakku, tegasnya. Tanganku terasa ringan dan tak memiliki beban ketika kutarik sekumpulan dokumen di depannya, lembar demi lembar kubuka sekilas. Sebuah sketsa acak sebuah desain bahan percetakan dengan latar alam dibubuhi tulisan, lebih tepatnya puisi. Ia menjelaskan, kalau aku harus mendapatkan gambar seperti sudut yang ia maksud. Kliennya adalah sebuah agensi majalah dari tempat asalnya. Ia juga memintaku mengajaknya turut serta dalam tiap sesi pengambilan gambar. Bukan sebagai model, melainkan hanya ingin menghabiskan waktu sambil keliling Bali, bersamaku, alasannya biar ia bisa ikut juga mengarahkan ke sudut mana bidikan lensa nantinya di fokuskan. Begitulah awal kami menjalin hubungan ke arah lebih jauh. Kami mulai sering meluangkan waktu bersama. Kami mengobrol lebih banyak. Kami meluangkan makan malam lebih sering berdua. Dan ya, akhirnya kami menjalin sebuah hubungan tidak biasa, diluar pertemanan.

Aku tidak menyesal telah bertemu dengannya. Dengan pernyataan ini, bukan berarti aku tidak bahagia selama menjalani hari-hari dengannya. Ia baik, mandiri dan memiliki sebuah senyuman yang mampu mengubah hidupku dalam sekejap. kalau boleh jujur, ia adalah salah satu orang mampu membuatku melupakan cerita kelam selama tinggal di Jakarta beberapa bulan lalu. Aku juga akhirnya cukup berterima kasih padanya karena telah sudi untuk tinggal dalam satu rumah kontrakan selama ini. Ia tidak banyak mengeluh tentang hal itu. Ia paham sekali aku tidak memiliki garis keluarga yang baik-baik saja dan ia menerimaku dengan tangan terbuka betapapun kelamnya masa laluku. Kami tinggal satu kamar. Ia ceritakan semua luar dalam dirinya. Aku senang mendengarnya. Tak ada rahasia diantara kami, dari kulit ke kulit, hingga dari hati ke hati. Kami bertukar pikiran tentang segala hal, makanan kesukaan misalnya. Dari yang paling ia sukai sampai yang paling ia benci, bahkan hal ini telah mengubah pandanganku tentang dapur, yang biasanya hanya kugunakan membuat kopi dan paling banter mi instan, kini dengan susah payah aku belajar mencoba membuat menu kesukaannya tanpa ia minta. Aku melakukannya tanpa alasan  dan dimulai saat sepulang dari pasar membeli persediaan bulanan. Ya, kami bertukar pikiran secara betulan, beberapa hal yang tidak kusuka, ia tidak lakukan atau berikan pun sebaliknya. Bukankah begitulah harusnya sebuah hubungan agar tetap sehat. Ia memelukku dengan hangat di pagi hari yang dingin. Kami pergi ke dapur dan memasak sarapan untuk berdua. Kami pergi keluar untuk menggelapkan kulit ke pantai  atau hanya sekedar menikmati sebotol bir. Kadang kucuri-curi kesempatan mendekapnya dari belakang saat ia sedang menikmati pemandangan di depannya yang terhampar luas, diam-diam kutahu ternyata ia menyukai adegan ini. 

Seminggu sekali kami pergi ke pasar loak, mencari barang yang ia perlu dapatkan. Ketika kubeli sebuah kalung berbahan kayu dan memasangnya diam-diam saat ia terlelap, ia langsung menghujaniku dengan kecupan dan pelukan erat sampai susah bernafas aku dibuatnya. Begitu ia melepaskan genggamannya, aku melihat wajahnya yang begitu sumringah, bibirnya mengeluarkan sunggingan senyum yang begitu indah. Ah sial, kenapa semua momen itu begitu jelas terekam di kepalaku. Kami pergi ke bar-bar saat malam kami tidak ada kesibukan, menemui beberapa kawan kami masing-masing. Ia mengenalkanku pada teman-temannya, begitupula aku. Kami pulang sama-sama mabuk kadang, bahkan pernah sampai menginap di bar, untunglah tempat itu milik teman sendiri. Hal paling diingat yang pernah terjadi diantara kami adalah ketika kami hendak pergi ke sebuah pantai di selatan Bali, meskipun agak lama tinggal disini, aku tidak begitu paham letak tempat-tempat bagus. Aku hanya mendengar nama tempat itu. Suatu hari ia mengajakku kesana, tentu disaat aku sedang tidak memiliki pekerjaan untuk diselesaikan. Aku setuju. 

Bermodalkan peta digital, kami melenggang ke tempat tujuan. Ia jadi navigatorku dari jok belakang. Saat masih di ruas kota, kami tidak menemui kendala apapun. Perjalanan sangat terbantu oleh aplikasi canggih ini, aku sangat berterima kasih pada sisapapun yang telah bersusah payah membuat peta ini. Kami melintasi beberapa perempatan, masuk ke gang kecil, rumah warga hingga jalanan sepi. Nah saat jalanan mulai lengang barulah kami menemui kendala. Penyedia jasa seluler kami kurang menjangkau daerah ini, alhasil akses sinyal menjadi buruk. Si peta mulai ngadat dan tidak menunjukan kordinat yang pasti. Kami sempat nyasar masuk ke lajur jalan yang salah. Sehingga kami menemui jalan buntu berupa bukit terjal dipenuhi rumput ilalang yang menutupi jalan yang langsung menghampar laut. Untung kendaraanku bukan kendaraan yang bisa diajak kebut-kebutan, kami selamat dari musibah yang hampir merenggut. Kami beristirahat disana. Ia turun dari boncengan dan setelahnya kuparkir sepeda motor bututku. Ia duduk di rerumputan ilalang yang coklat meranggas beberapa meter dari sepeda motorku. Aku menghampirinya. Ia membuka tas dan mengambil dua botol air minum. Lebih baik kita tenangkan diri dulu, katanya. Baiklah, balasku. Kami membicarakan hal-hal yang baru saja terjadi. Kita tidak berargumen terkait masalah ini. 

Hembusan angin terasa sejuk menerpa kami. Aku melihat rambutnya yang dikebas-kebas angin saat ia meneguk isi dalam botol. Ada apa, katanya. Nope, kataku. Kamu bohong, katanya. Hmmm... ya aku baru saja berbohong dan kamu mengetahuinya, aku mengaku. Lalu ada apa denganmu, apa yang terjadi, tanyanya penasaran. Ada bidadari di hadapanku dan aku melihatnya dengan nyata, awalnya aku tak mempercayainya, tapi lihatlah dia disini sekarang, kubilang. Apakah selalu begitu orang sini merayu turis dari jauh, katanya. Ayolah sayang, tadi kau bilang ingin aku jujur, setelah aku mengatakan hal sebenarnya kau malah begitu, balasku. Ia hanya tersenyum padaku sambil mendekatkan wajahnya padaku, sambil saling bertatap mata. Kami duduk berdampingan, aku memegangi pundaknya, ia merangkul pinggangku, angin terus berhembus kencang, wajah kami berhadapan untuk beberapa saat, tidak banyak yang dibicarakan. Kami benar-benar menikmati hari itu. Rambut pirangnya terus berurai tak beraturan dihempas angin dari laut lepas, tanganku tanpa kendali mencoba merapikannya, kemudian wajahnya mendekat ke arah wajahku, bibir kami bertemu, kami berciuman di hari menjelang sore waktu itu, di sebuah bukit terjal tempat kami tersesat. Meski angin berhembus sedikit kencang, sore itu kami merasa hangat sekali.

Tak terasa hari mulai bertambah gelap. Setelah menghabiskan sisa obrolan dan menikmati pemandangan, kami memilih untuk berencana pulang dan membatalkan diri pergi ke pantai yang kami maksud dan menggantinya di hari lain. Tanpa sadar, pemandangan di tempat ini juga menakjubkan, itulah yang ada di pikiran kami saat itu. Kami sudah puas menikmati waktu bersama di tempat asing ini, setidaknya ia dan aku baru pertama kali kesini, juga menjadi orang asing, yang tersesat. Kami menyukainya. Kami pulang menggunakan daya ingat kami masing-masing untuk memilih arah mana saat kami menemui sebuah perempatan jalan. Saat kami meninggalkan bukit itu, angin makin kencang berhembus, matahari terlihat bulat penuh seperti merah telur asin di ujung barat menenggelamkan diri dari pandangan. Di perjalanan, ia mengajakku mampir di restoran milik temannya. Ia lapar, katanya. Aku sepakat. Benar saja, ketika kami sampai disana, ia melahap seporsi besar berisi berbagai makanan tradisional yang dipenuhi berbagai macam jenis sayuran. Obrolan tentang kami tersesat ia ceritakan pada teman-temannya, kami malah mendapat pujian dan diminta mengantar mereka kesana menjadi pemandu di suatu hari. Perut kami begitu kenyang. Kurasa bukan hanya perutku saja, ada hal yang hari itu terasa kenyang dan terisi penuh, kasih sayang mungkin hal langka yang jarang kumiliki. Itulah kenapa hari itu adalah hari yang paling kuingat sepanjang hidupku bersamanya, bahkan bagi orang terdekat kami. Tidak terlalu kocak memang, tapi buat kami, menertawakan ketotolan kami merupakan sebuah hal indah yang harus dirayakan dengan penuh tawa.

Ia bekerja sebagai penulis lepas. Ia menggarap ide-ide cerita untuk sebuah pemasaran suatu produk. Ia sangat tertarik dengan Bali dan orang-orangnya yang tetap membumi meskipun banyak asing mengunjungi pulau ini, pengakuannya padaku di suatu waktu. Itulah mengapa akhirnya ia memilih pulau ini sebagai rumah kedua tenimbang menyebutnya sebagai tempat untuk berwisata. Ia bekerja secara online, jadi sejauh ini ia tidak menemui banyak kendala saat berkomunikasi dengan berbagai kliennya dari mancanegara yang terhubung melalui kotak surel. Isi kepalanya selalu dipenuhi ide-ide segar setiap harinya. Ia bisa menulis dua hingga empat pesanan artikel untuk kliennya masing-masing sekitar seribuan kata tanpa banyak revisi dalam sehari. Aku belajar banyak darinya untuk mempergunakan waktu sebaik mungkin, untuk menjadi pribadi yang disiplin dan bukan pemalas sialan. Dan aku menghargai kerja kerasnya dengan tidak menuntut macam-macam padanya. Kubiarkan ia memiliki waktunya sendiri dalam beberapa kasus dan ketika mengerjakan sesuatu, begitupula ia padaku. Aku juga belajar darinya tentang bagaimana menerjemahkan maksud dan gagasan mentah klien secara presisi dan padat tanpa basa basi. 

Darinya juga, aku mulai berani menghadapi dunia. Ia menyodorkan portofolioku pada seorang temannya dan memberi kontakku pada mereka. Itulah hari dimana aku mulai berani menerima pesanan dari orang asing luar negara. Yang selalu kuingat darinya adalah, waktu pertama kali aku mendapatkan bayaran berupa dollar, ia bilang padaku untuk mempergunakannya dengan bijak. Sesuatu yang tak pernah kudengar dari orang lain selain ibuku. Itulah salah satu mengapa aku bisa jatuh hati padanya.  

Sesal selalu ada di belakang setiap peristiwa, terutama yang mengecewakan. Hal itu menunjukan segala sesuatu tidak akan mungkin berjalan dengan mulus. Apapun itu. Hampir segalanya. Direncanakan atau tidak. Untuk sesuatu yang indah, seseorang selalu berharap agar bisa mengulangnya, hingga berkali-kali membiarkan dirinya terjebak di momen itu tanpa ingin beranjak. Namun, hal perih, hal perih lah yang membuat seseorang bisa belajar, paling tidak ada sesuatu yang harus diperbaiki supaya tidak melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Hal perih membuat seseorang berpikir menggunakan logika sekaligus perasaannya disaat bersamaan. 

Hari-hari indah kami berakhir di suatu malam. Malam itu, ia memiliki sebuah janji dengan seorang temannya. Karena kami sering berpergian bersama saat menghadiri acara seorang kawan, ia memintaku mengantarnya kesana. Namun berhubung aku masih harus bertemu dengan seorang klien di jam-jam yang ia maksud, aku memintanya pergi lebih dulu, biar nanti kususul dan pulang bersama. Ia menyetujui dan memakluminya. Ia sungguh pengertian dan tidak banyak drama memang. Ia menghormati pekerjaanku tanpa kecurigaan apapun. Ia selalu berpikir positif padaku. Dan memang aku masih ada kesibukan dari sore harinya hari itu. Begitu juga ketika dia meiliki kesibukannya sendiri, entah itu terkait dengan pekerjaannya maupun ketika dia ada pertemuan dengan teman senegaranya, aku takkan banyak ikut campur kalau bukan diminta olehnya.

Hari-hari indah kami berakhir di suatu malam. Belum lama aku berbincang dengan seorang klien di sebuah kafe, sebuah tanda panggilan masuk muncul di layar telepon seluler yang kuletakan di samping laptopku. Aku berhenti menerangkan gagasanku pada klienku dan meminta izin untuk menerima panggilan itu, mereka memberi izin. Aku tahu tindakan ini tidak sopan, tapi berhubung nomor yang tertera tidak ada di kontakku, kupikir panggilan itu sangat penting. Ya semua panggilan memang penting, bagiku. Dari nomor yang kukenal atau tidak. Karena dari semua panggilan masuk, aku tidak mengalami hal-hal buruk dari nomor baru, seperti tindakan teror ataupun sejenisnya. Di layar tertera nomor telepon lokal. Aku keluar dari kafe itu, begitu kuterima panggilan itu, terdengar seorang perempuan dari seberang memperkenalkan diri, kemudian ia memberi tahuku sebuah kabar. Ia mengaku dari sebuah rumah sakit dan Amber sedang berada disana. Pesan dalam obrolan itu sangat singkat. Kututup panggilan telepon, dengan sangat terburu, aku bergegas meraih kunci di saku dan menuju sepeda motor bututku, tanpa peduli rekanan kerja. Tanpa peduli tas dan segala isinya yang kutinggalkan begitu saja disana.

Ia terbaring disana, di sebuah ruangan. Seluruh jagat mendadak menjadi sunyi. Kemudian tanpa kusadari kehadiran seorang lelaki paruh baya, ialah seorang dokter yang tiba-tiba mengeluarkan suara dengan nada penuh sesal disampingku dan sepertinya juga sedang menjelaskan sesuatu, tapi tak ada satu kalimat pun terdengar darinya kecuali nada penyesalannya diawal kedatangannya tadi. 

Amber sudah pergi padahal malam belum tua benar. Kuhubungi orang tuanya, panggilan baru diangkat setelah beberapa kali percobaan. Dengan penuh sesal, kuceritakan semuanya, lalu mereka bergegas melakukan sesuatu yang seharusnya mereka lakukan, tentu dengan rasa kehilangan yang mendalam. Dua hari kemudian aku bertemu orangtuanya setelah semua urusan administrasi selesai. Ayahnya berterima kasih padaku dan teman-teman yang hadir disana saat itu, padahal aku sangat menyesal malam itu aku tidak bisa menemaninya. Kami dipenuhi rasa haru. Siang hari itu cerah, tapi rasanya ada badai yang bergejolak di dalam tubuhku. Sehingga segala sesuatu yang kurasakan sedang tidak baik-baik saja. 

Sebulan setelah kepergian Amber, aku mengambil kelas Yoga rutin di daerah Ubud. Dua minggu setelah itu ia memutuskan untuk pergi ke India atas saran gurunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melamun

"Gimana harimu hari ini?" "Hmmm.. Baik" "Walaupun banyak hal tidak baik juga ya?" "Haha.. ya namanya hidup jadi manusia, coba jadi alien." "Pasti keliling tata surya melulu ya?" "Ya kalo tipe aliennya kaya kamu yang suka menyesatkan diri di antah brantah mah mungkin iya." "Eh.. tapi menurut alien, manusia itu alien juga ga ya?" "Hmmm.. mungkin aja." "Apa mereka juga belajar dan bikin riset tentang manusia atau planet lain gitu ga ya?" "Ah jauh banget si bahasannya, lagi males ah bahas yang dalamdalam." "Haha.. iya juga ya." "Terus gimana tadi jadi ketemu ama yang beli laptopmu?" "Jadi dong, sayang banget aslinya ama tuh barang. Tapi gimana lagi." "Yaudah lah ikhlasin aja. Lagian kamu juga buat kebutuhanmu sendiri." "Iya iya, kamu tuh cowo tapi cerewet juga ya." "Ah? Apaan?" "Ya barusan si tuh, ngeselin tau." "Kamu...

Sepucuk Bara buat Meilan

Untukmu yang manis, Meilan. Bersama surat ini aku titipkan rindu yang sebenarnya tak pantas ditulis dengan tetesan tinta pada selembar kertas kemudian dikirim melalui kotak pos menuju alamat rumahmu. Bukan hatimu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku merindu padamu, bukan pada seonggok kotak pos di depan halaman rumahmu itu. Apa kabar kau disana? Tentu baik saja, bukan? Benar katamu, rumah adalah tempat yang nyaman untuk bertahan dari segala jenis ancaman. Aku mungkin terlambat menyesal. Atau mungkin benar kata orang, menyesal selalu datang belakangan. Aku berjalan meninggalkan tempat yang kata orang-orang adalah tempat paling nyaman di dunia ini. Menurutku tidak. Setiap kali aku mencoba bertahan disana, semakin sakit seluruh isi kepalaku memikirnya, semakin pula pedih hati yang kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan segala yang ada dan mencoba melupakannya perlahan-lahan dengan langkah baru ke depan. Aku mencoba tidak lagi pada keadaan sebelum hari ini...

Bincang Singkat

           Bandung, 28 Agustus 2012, kediaman orang tua Nilam, di hari yang sedikit mendung dan gerimis tipis turun dari langit, aku dihadiahi buku catatan harian berwarna biru tua dan sepucuk surat putih pucat tertera nama lengkapku disana. ***           "Dulu, pemuda-pemudi ibu pertiwi menggenggam bambu runcing penuh darah perlawanan terhadap penjajah terlihat sangat gagah. Bahkan aku pun sampai mengidolakan mereka layaknya pahlawan dalam film rekaan. Aku terperanjat ingin hidup di masa mereka itu. Karena sekarang, saat aku, sebagai pemuda yang menggenggam senapan sekalipun, harus merasa malu. Musuh yang kulawan adalah saudara sebangsa setanah airku sendiri, saudara yang malah rela menjual diri menjadi budak dengan bangga dan terlalu berani." Tegas ucap Nilam padaku.             Dia adalah seorang gadis ...